• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemah Rauda al-Talibin al-Ghazali

N/A
N/A
Lalu Jumardi

Academic year: 2024

Membagikan "Terjemah Rauda al-Talibin al-Ghazali"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

Bagian pertama tentang landasan agama, bagian kedua tentang makna adab, bagian ketiga tentang makna suluk dan tasawuf, bagian keempat tentang wushul dan wishal, bagian kelima tentang makna tauhid dan makrifat, bagian keempat tentang makna tauhid dan makrifat. bagian keenam adalah ruh, akal, hati dan ruh, bagian ketujuh makna cinta (mahabbah), bagian kedelapan bermakna kedamaian dengan Allah SWT: bagian kesembilan bermakna rasa malu (haya”) dan muragabah, bagian kesepuluh bermakna gurb (kedekatan). Selain itu, kitab ini juga membahas berbagai aspek lainnya, seperti: bagian kesebelas, keagungan ilmu dan kewajiban mencarinya, bagian kedua belas, makna Asmaul Husna, bagian ketiga belas, beriman dan berpegang teguh pada hakikat. iman, bagian keempat belas, sifat-sifat Allah SWT.

Bagian Pertama: Fondasi Agama

Bagian Kedua: Adab

Oleh karena itu, siapapun yang tidak memiliki adab, maka dia tidak memiliki syariat, keimanan, dan tauhid. Siapapun yang tidak berperilaku baik saat berada di karpet kehormatan akan dikembalikan ke gerbang istana.

Bagian Ketiga: Makna Suluk dan Tasawuf

Sahl bin 'Abdullah berkata: 'Seorang sufi adalah orang yang hatinya bersih dari noda dan penuh pikiran. Selain itu Ja'far al-Khaladi berkata: “Saya bertanya kepada Abu Oasim al-Junaid: “Apakah ada perbedaan antara keikhlasan dan kejujuran?” Beliau menjawab, “Benar, kejujuran adalah landasan dan yang pertama, sedangkan keikhlasan adalah cabang berikutnya.” Lalu dia berkata, “Ada perbedaan antara keduanya.

Bagian Keempat: Makna Wushul dan Wishal

Ats-Tsauri berkata: “Ittishal adalah terbukanya hati dan menyaksikan rahasia Ilahi dalam keadaan takut (dzuhul).” Barangsiapa yang mencapai kejernihan keyakinan melalui persepsi (dzaug) dan cinta (vajd) berarti ia berada pada taraf wushul.

Bagian Kelima: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)

TUHAN MENGAMBIL KEPUTUSAN SESUAI DENGAN KEBUTUHAN HIKMAT, DAN SESUATU YANG LAHIR BERDASARKAN HIKMAT, TIDAK ADA YANG BISA MENGUBAHNYA.” Dzun Nun berkata: “Hakikat makrifat adalah melihat Allah di waktu Asrar, karena datangnya cahaya-cahaya halus.” Itu sebabnya mereka bernyanyi.

Bagian Keenam: Makna Nafsu, Ruh, Hafi,

Itu adalah salah satu dari dua nama al-galb, sebagaimana dimaksud dalam firman Allah swt., “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Dan yang mendapat cahaya adalah segala sesuatu yang mempunyai warna, bukan udara, karena ia tidak mempunyai Warna Semua itu adalah sifat-sifat Allah SWT yaitu: hidup, ilmu, tenaga, kemauan, pendengaran, penglihatan dan ucapan.

Bagian Kedelapan: Makna Kedamaian karena Allah swt

Jika hati bersih dari siapa pun selain Dia, maka Dia hadir bersama hamba, karena tidak ada selubung antara hamba dan Allah, selain diri-Nya dan sifat-sifat-Nya. Jika hamba itu mati karena dirinya dan sifat-sifat-Nya, dan mengetahui bahwa seluruh dunia ini ada karena kekuasaan Allah, maka dia mengetahui kedekatan Allah dalam wahyu (kasyf). 'Kekuasaan dan kedamaian bagi manusia' akan terlihat dengan menyaksikan kualitas keagungan dan keindahan.

Bagian Kesembilan: Makna Haya dan Muraqabah

Namun rasa malu yang istimewa adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Utsman bin “Affan ra., dia berkata: “Sesungguhnya aku mandi di rumah yang gelap, lalu sujud karena aku malu kepada Allah swt.” Diriwayatkan oleh Ahmad bin Saleh, dia berkata: “ Aku mendengar Muhammad bin Abdun berkata: “Aku mendengar Abu al-Abbas al-Mu’adh berkata: “Tuanku berkata kepadaku: Jagalah aku apa yang harus kuucapkan karena malu. dan kedamaian menyelimuti hati. Seorang bijak berkata: “Barangsiapa yang berbicara tentang rasa malu, namun dia tidak malu kepada Allah atas apa yang dia ucapkan, maka dia termasuk orang-orang yang menuju azab (Gmustadraj)” Dzun Nun berkata: “Malu adalah hadirnya rasa malu dalam diri seseorang. hati dengan kekaguman atas apa yang telah kamu lakukan terhadap Tuhanmu.” Ibnu Atha berkata: “Ilmu yang paling besar adalah kewibawaan dan rasa malu.”

Bagian Kesepuluh: Makna Kedekatan

Kemudian, masing-masing hamba akan kembali ke posisi dan magamnya masing-masing sambil mengucapkan: “Ya Allah Ya Rabb” dengan jiwa yang tenang, kembali ke mimpi magam dan posisinya. Selama seorang hamba dekat, maka dia tidak akan menjadi orang dekat kecuali dia melihat kedekatan karena kedekatan. Dzun Nun berkata: “Semakin dekat seseorang dengan Allah, maka dia akan semakin enggan.” Sahl berkata: “Di antara sifat-sifat kedekatan, bentuk yang paling rendah adalah rasa malu.” Nashr Abadi berkata,

Bagian Kesebelas: Kemuliaan Ilmu dan Kewajiban Mencarinya

Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama, agar ibadahmu menjadi sah dan benar, kedua, ilmu yang bermanfaat akan melahirkan rasa takut dan hormat kepada Allah di hati hamba. Kedua, ilmu sirri, yaitu ilmu yang berkaitan dengan hati dan peranannya, baik kewajiban maupun larangannya. Dengan cara ini Anda telah memenuhi semua yang Allah tuntut dari Anda sehingga Anda menjadi orang yang berpengetahuan dan beramal shaleh.

Bagian kedua Belas: Makna al-Asma’ al- Husna

Asma merujuk kepada Dzat yang disertai dengan penarikan diri (salab) dan sokongan (izhafah), seperti al-Malik dan al-'Aziz. Asma yang merujuk kepada pengertian perbuatan yang disertai dengan sandaran, seperti al-Majid, al-Karim dan al-Lathif. Tiada siapa yang berhak ketuhanan melainkan Dia yang mempunyai segala sifat yang telah kami sebutkan.

Bagian Ketiga Belas: Meyakini dan

Seperti yang kami katakan, kalimat alham, dulillah ini termasuk al-bagiyat ash-shalih kerana huruf alif dan lam (. ) dalam kalimat ini berfungsi untuk menghilangkan segala bentuk sanjungan dan pujian, sama ada kita sedar atau tidak. Tidak ada seorang pun yang keluar dari kepercayaan ini, bahkan para malaikat yang mendekati mereka atau para nabi yang diutus. Oleh itu, orang yang terhijab dari mengagungkan dan menerangi-Nya di dunia layak untuk terhijab dari kehormatan dan.

Berpegang “Teguh kepada Akidah yang Benar ”

Namun, Dia adalah Pencipta segala sesuatu, Yang Maha Esa, bergantung, beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, murni pergerakan, pergerakan, arah dan tempat. Sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, kedekatan dan kebersamaan-Nya tidak seperti kebersamaan dan kedekatan seorang manusia. Begitu juga orang yang menafsirkan "nuzul" menurut apa yang ditunjukkan oleh perkataan zahirnya iaitu gerak dan gerak, bererti dia juga berpegang kepada tajsim.

Bagian Keempat Belas: Penjelasan Sifat-sifat Allah swt

Muhaqqiq yang lain mengatakan bahwa ciri-ciri tersebut adalah hubungan dan ketergantungan pada hukum-hukum yang tetap tanpa adanya entitas yang menyertainya (al-a'yan). Artinya, sifat-sifat tersebut tidak mengandung entitas, dan tidak berada di luar makna Dzat.” Ulama ilmiah yang lain mengatakan: “Ketahuilah bahwa asma dan sifat-sifatnya merupakan perbandingan dan acuan yang merujuk pada satu bentuk (‘ain wahid) karena tak terhitung banyaknya sifat-sifat tersebut. entitas yang terkait dengan Dzat Suci, seperti yang diyakini oleh beberapa pemikir yang tidak mempercayainya.

Bagian Kelima Belas: Hakikat Ikhlas dan Riya’ Hukum dan Pengaruhnya

Maka kewujudan asma dan alam sebagai entiti di luar Zat adalah sesuatu yang mustahil. Mengenai keikhlasan dalam mencari pahala, guru kami ada berkata: "Jika dengan melakukan ibadah batin menghendaki nikmat dunia dari Allah, itulah riya." Oleh itu, tidak salah jika kebanyakan ibadah batin mengandungi dua jenis keikhlasan, serta ibadah sunnah. Dan amal kebaikan yang diambil sebagai persiapan hanya mengandung keikhlasan dalam mencari pahala tanpa keikhlasan amal.

Bagian Keenam Belas: Sanggahan Pendapat tentang Dibolehkannya Dosa Kecil bagi Para

Atau tidak mengetahui perkara-perkara syariat yang diisytiharkan dan dilakukannya dari Allah dengan wahyu, tegas, rasional dan syar'i, atau perlindungannya daripada berdusta dan mengubah ucapannya sejak diutus dan diturunkan oleh Allah, sama ada disengajakan atau tidak. Semua ini untuk melupakan bahawa ia berguna sebagai ilmu hukum serta mengikutinya dalam semua perkara yang ditetapkannya. Bagi keistimewaannya, isteri-isteri yang ditinggalkannya dilarang sama sekali untuk berkahwin dengan orang lain.

Bagian Ketujuh Belas: Mengenali Macam- macam Bisikan, Memerangi Setan, serta

Jika bisikan itu berkaitan dengan prinsip dasar keimanan (ushul) dan amalan batin, maka itu berasal dari Allah SWT. Bisikan-bisikan kebaikan yang datang dari setan merupakan salah satu bentuk petunjuk (istidraj) kepada keburukan yang melampaui kebaikan itu sendiri. Dan jika kamu melihat dirimu bertolak belakang dengan semua ini, maka ketahuilah bahwa bisikan itu datangnya dari Allah atau dari malaikat.

Bagian Kedelapan Belas Dua Puluh Makna Bahaya Lidah

Dan tidak boleh mengutuk kecuali terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang menjauhkannya dari Allah. Atau bisa jadi dia mempercayai semua perkataannya hingga menjadi orang kaya dan munafik. Dalam arti tertentu saya mengatakan ini bukan untuk menyombongkan diri, seperti yang dilakukan orang yang memuji diri sendiri.

Bagian Kesembilan Belas: Perihal Perut dan Penjagaannya

Lalu bagaimana dengan orang yang tenggelam dalam lumpur haram dan subhat, kapan dia akan memohon untuk mengabdi kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya.” Memang hal itu tidak akan terjadi, (3) orang yang memakan makanan haram dan subhat terhalang. Pahami hukum makanan haram dan subhat serta pantangannya masing-masing, yaitu: segala sesuatu yang diyakini atau dicurigai kuat adalah milik orang lain dan dilarang menurut syariat, maka haram.

Bagian Kedua Puluh: Mengenai Rekayasa dan Tipu Daya Setan

Sekiranya terdapat halangan untuk melakukannya, atau jika ia ditinggalkan kerana takut kepada Allah, maka ia ditandakan sebagai jahat. Jika dua orang Muslim saling membunuh dengan pedang, maka pembunuh dan orang yang terbunuh akan masuk neraka." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ini untuk pembunuh, tetapi untuk yang terbunuh?" Nabi saw. ke atasnya Ini adalah hujah yang menyatakan bahawa orang yang dibunuh akan masuk neraka hanya kerana nafsu, walaupun dia dibunuh secara zalim.

Bagian Kedua Puluh Satu: Hak Allah swt

Maka dikhususkan untuk orang yang bertaqwa, seperti firman Allah swt., "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (AS. Ia juga untuk orang-orang yang bertaqwa, seperti firman Allah swt., “Allah pasti akan memperbaiki amalan kamu untuk kamu.” (AS. Ketahuilah, benteng untuk memutuskan angan-angan itu dengan serangan dan serangan itu. untuk mengingati.kedatangan kematian tanpa disedari atau secara tiba-tiba .

Bagian Kedua Puluh Dua: Hakikat Akhlak Baik dan Perangai Buruk

Batasan tawadhu' adalah mengendalikan berbagai keadaan dan pilihan agar tidak berlebihan dan lengah, tidak sombong dan hina. KETERBATASAN TAWADHU, ADALAH MENGENDALIKAN BERBAGAI KEADAAN DAN PILIHAN, AGAR TIDAK BERLEBIHAN DAN KASAR, SAMPAI TIDAK SANGAT SANGAT ATAU MENYELESAKAN.” Tuhan.

Bagian Kedua Puluh Tiga: Makna Pikiran, Pendahuluan, dan Turunannya

Ini disebut juga dengan mengingat (tadzakur), yang berkaitan dengan akad, perkataan, serta melakukan dan meninggalkan perbuatan. Oleh karena itu, pencapaian makrifat ketiga yang dituju oleh kedua makrifat tersebut disebut berpikir (tafakkur). Ketiga, pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan panca indera, seperti mulut, kelamin, perut, pendengaran, dan penglihatan.

Bagian Kedua Puluh Empat: Makna Tobat dan Buahnya: Lari, Kembali, dan Rendah

Bagian Kedua Puluh Lima : Sabar dan Buahnya: Riyadhah dan Tahdzib

Bagian Kedua Puluh Enam: Khauf dan Turunannya

Adapun hakikat isyfag yaitu kesatuan dan keseimbangan antara khauf dan raja', hakikat khusyuk artinya ketenangan dan ketenangan hati dan anggota tubuh, karena hati melihat sesuatu yang besar atau menakutkan dalam kenyataan.

Bagian Kedua Puluh Tujuh : Raja” dan Raghbah, Basih sebagai Buahnya

Bagian Kedua Puluh Delapan: Kefakiran beserta Variannya

Bagian Kedua Puluh Sembilan: Zuhud dan Mendahulukan Orang Lain

Zuhud ini dimaksudkan untuk diri sendiri, dan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah karena berkaitan dengan keagungan dan kesempurnaan. Dahulunya zuhud yang diperuntukkan bagi orang lain selain diri sendiri dengan memusatkan hati pada makrifat ini. Sementara itu, taraf asketisme wajib yang ditujukan kepada orang lain selain diri sendiri adalah dengan mendorong seseorang untuk berkonsentrasi pada waktu-waktu wajibnya.

Bagian Ketiga Puluh: Muhasabah dan Manfaatnya: I’tisham dan Istiqamah

Bagian Ketiga Puluh Satu: Syukur dan

Kebahagiaan sebagai Ahwal dan Hikmah seb agai Amalannya

Oleh karena itu, yang tumbuh dari ilmu tersebut adalah kegembiraan dan kebahagiaan yang disebabkan oleh nikmat Allah SWT. Jadi, seseorang yang berlatar belakang moderat, sehingga mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, berarti ia adalah orang yang bijaksana. Sebab hikmah (hikmah) sama dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, baik ilmu maupun amal.

Bagian Ketiga Puluh Dua: Tawakal dan Adabnya

Bagian Ketiga Puluh Tiga : Macam-macam Niat: Qashd, Azm, dan Iradah

Bagian Ketiga Puluh Empat : Kejujuran dan Tanda-fandanya

Jadi semua orang yang jujur ​​itu ikhlas, tapi tidak semua orang yang ikhlas itu jujur. Sebab ia menyaksikan ketunggalan Tuhan dalam menciptakan segala wujud dan kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Bagian Ketiga Puluh Lima : Ridha”

Al-Fudhayl ​​berkata: “Rida artinya jika seseorang tidak mengharapkan sesuatu diluar kedudukannya.” Ibnu Samuni berkata: “Ridha kepada Allah adalah ridha kepada-Nya dan kepada-Nya.” Ridha kepada-Nya sebagai Pelaras dan Pemilih, ridha kepada-Nya sebagai Pembagi dan Pemberi, dan ridha kepada-Nya sebagai Tuhan dan Tuan. Salah satu laporan mengatakan: “Orang beriman adalah cermin bagi orang beriman.” Sebab, ketika muncul perpecahan di antara mereka, mereka akan menghindarinya karena.

Bagian Ketiga Puluh Enam : Larangan Bergunjing

Dia juga berkata, "Di manakah solatku, puasaku dan ketaatanku?" Lalu dijawab, "Hilanglah perbuatanmu kerana kamu menggunjing orang lain." Maka dikatakan: "Barangsiapa menggunjing orang lain, maka separuh dosanya akan diampuni." Daripada al-Junaid ra. berkata dia, "Saya berada di Bagdad, tempat saya boleh menunggu jenazah, yang saya akan berdoa." Saya memberi salam kepadanya dan dia menjawab, "Halo Abu Oasim, adakah anda ingin mengulanginya lagi?" Saya menjawab, "Tidak."

Bagian Ketiga Puluh Tujuh : Makna Futuwwah (Kedermawanan)

Futuvvaya orang yang makrifat dengan apa yang dia tahu, sedangkan futuvavaya kecuali orang yang makrifat dengan tradisi dan adat istiadatnya. Juga, tergesa-gesa memberi sebelum anda diminta, mengharapkan tiada balasan untuk apa yang diberikan, cepat memberi dan menganggap hadiah itu kecil dan menutupnya. Kemurahan jiwa dengan apa yang ada di tangan manusia lebih besar daripada kedermawanannya dan memberi dan berkelakuan murah hati.

Bagian Ketiga Puluh Delapan : Perihal Akhlak Mulia

Akhlak mulia yang diamalkan orang-orang di surga antara lain perkataan yang lembut diikuti dengan perbuatan yang mulia dan membalas orang yang berbuat baik melebihi kebaikan yang dilakukannya. Orang yang berakhlak mulia berarti telah mendorongmu untuk memintanya dan selalu meminta maaf, berbeda dengan orang yang suka mengumpat yang selalu sombong pada dirinya sendiri. Ia selalu melupakan kesalahan saudara-saudaranya, bergegas memenuhi keinginan mereka dan mengabdikan dunia untuk orang-orang yang membutuhkan.

Bagian Ketiga Puluh Sembilan: Qana’ah

Maksudnya, maafkan mereka yang menganiaya anda dan berikan kepada mereka yang tidak mahu memberi anda, berhubung semula dengan mereka yang memutuskan hubungan dengan anda, abaikan mereka yang mengabaikan anda: berbuat baik kepada mereka yang menganiaya anda. Jadilah orang yang bersyukur, anda mesti menjadi orang Islam yang paling bersyukur dan kurangkan ketawa, kerana terlalu banyak ketawa membunuh hati anda." Seorang ulama berkata, "Balaslah orang yang tamak kepada kamu dengan sikap tamak, sebagaimana kamu membalas dendam terhadap musuh kamu dengan gishash." Ada juga yang berkata: “Siapa yang letih mata melihat apa yang ada di tangan orang, biarlah ianya berkekalan.

Bagian Keempat Puluh: Tentang Peminta- minta

Jika sesiapa tahu apa yang ada dalam perbuatan mengemis, tiada siapa yang akan melakukannya. Sebaliknya, jika orang tahu hak seorang pengemis, mereka tidak akan pernah menolaknya. Tidak ada yang meminta seseorang untuk hajat, dikabulkan atau tidak, kecuali martabatnya telah jatuh selama empat puluh hari.

Bagian Keempat Puluh Satu: Kasih Sayang terhadap Makhluk Allah

Bagian Keempat Puluh Dua : Penjelasan Perihal Bahaya Dosa

Bagian Keempat Puluh tiga: Shalat Ahlul Qurb

Referensi

Dokumen terkait

Yang kedua; dzikir dapat menjadi terapi gangguan jiwa dalam perspektif Imam Al-Ghazali apabila berdzikir/mengingat Allah, mengingat segala kebesaran-Nya, rahmat-Nya,

Berbeda dengan sikap yang diperlihatkan Al-Ghazali di kitabnya yang lain, sikap Al- Ghazali di dalam kitab ini lebih apresiatif dan bisa memahami cetusan-cetusan syatahât yang

Berbeda dengan sikap yang diperlihatkan Al-Ghazali di kitabnya yang lain, sikap Al- Ghazali di dalam kitab ini lebih apresiatif dan bisa memahami cetusan-cetusan syatahât yang

Selain itu juga, al-Ghazali menguraikan ada lima sebab cinta dapat tumbuh dan hadir di dalam diri seseorang yaitu: pertama manusia mencintai wujud (hidup)-nya

Data primer yang digunakan penelitian ini merupakan dua narasumber beserta karya kitab yang di buat oleh dua narasumber yaitu Ahmad Ghazali dengan karya kitab Anfa’u

Kemudian epistemologi Al-Ghazali tentang ilmu laduni dalam kitab Risalah Al-Laduniyyah ini, bagian pertama membahas ilmu syar’i yang mengkaji dalil-dalil syar’i yang bersumber

Sedangkan perhitungan ra ṣ d al-qiblat dapat dilihat pada bab metode perhitungan arah kiblat Ahmad Ghazali dalam kitab Anfa’ al-Wasîlah6. 36 Kitab Anfa’

Busyairi Madjidi, Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim (Yogyakarta: Al-Amin.. Menguasai ilmu bagi Al-Ghazali adalah sebagai medium untuk taqarrub kepada Allah dimana tak