PENDAHULUAN
Fokus dan Pertanyaan Penelitian
Dampak fluktuasi harga karet tahun 1980 dan 2000 terhadap pendidikan formal anggota rumah tangga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok Kecamatan Bangkinang Barat Kabupaten Kampar. Hasil petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok per minggu dijual ke Toke Getah pada tahun 1980. Keluarga petani karet yang melanjutkan ke SMA di Desa Pulau Jambu Kuok pada tahun 1980.
Pendidikan formal anggota rumah tangga petani karet di desa Pulau Jambu Kuok ditinjau dari fluktuasi harga tahun 1980 dan 2000. Komunitas petani karet di desa Pulau Jambu Kuok merupakan bagian dari bangsa Indonesia dan merupakan aset pembangunan. Upaya kepala keluarga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok dapat meningkatkan pendapatan keluarga.
Tujuan Penulisan
Manfaat Penulisan
KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Pendidikan
20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang sejahtera. demokratis dan bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (Mulyasa, 2005: 7). Pendidikan belum menyentuh anak-anak di daerah yang sangat terpencil dan terpencil bahkan berpindah-pindah. Pembangunan pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, serta relevansi dan perubahan dalam kehidupan lokal, nasional, dan global.
Tujuan pembangunan pendidikan adalah untuk meningkatkan akses masyarakat dan mutu pendidikan yang ditandai dengan semakin tingginya tingkat pendidikan penduduk Indonesia, serta semakin relevannya pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan awal selama 9 tahun pertama sekolah bagi anak-anak yang dilanjutkan menjadi dasar pendidikan menengah. Selain pendidikan tersebut di atas, jenis pendidikan merupakan kelompok berdasarkan kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan.
Pendapatan Rumah Tangga Petani
Menurut Sadono Sukirno, dalam subsistem ekonomi tidak ada tabungan, artinya seluruh pendapatan sektor rumah tangga dibelanjakan. Dan apabila sektor korporat meningkatkan outputnya, pendapatan sektor produktif, dan seterusnya pendapatan sektor isi rumah, akan mengalami peningkatan yang sama dengan nilai output sektor korporat. Memandangkan sektor isi rumah tidak menyimpan, keluaran sektor isi rumah akan mengalami peningkatan bersamaan dengan peningkatan nilai jumlah keluaran.
Pendapatan yang rendah lebih banyak diserap untuk memenuhi kebutuhan sehingga tidak ada sisa pendapatan untuk ditabung atau untuk investasi, investasi yang rendah berarti ketidakmampuan petani untuk menghasilkan barang produksi sehingga kondisi kemiskinan yang permanen. Sedangkan bagi petani yang berpendapatan rendah, inovasi di bidang pertanian lebih rendah karena kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak lebih sedikit. Kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan memaksa para petani ini mengesampingkan kebutuhan primer lainnya, seperti kebutuhan akan pendidikan yang layak.
Petani dan Kemiskinan, Kaitannya Dengan Tingkat
Rita Hanafi mengatakan semakin tinggi tingkat pendapatan petani maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan mereka untuk berinovasi karena mudah bagi mereka untuk mendapatkan pelatihan atau pendidikan yang diperlukan untuk berinovasi. Sapja Anantayu menyatakan, sektor pertanian merupakan pemasok pangan penting untuk menjaga stabilitas nasional. Robert Redfield (1985:50) menyatakan bahwa kehidupan petani sebagai kalangan bawah yang mengelilingi komunitas pertanian yang mempelajarinya harus menggambarkan hubungan sosial masyarakat.
Ciri penting dari penelitian ini adalah bahwa kehidupan sosial ekonomi petani karet terfokus pada ketidakmampuan dan ketidakcukupan kekuatan ekonomi petani karet atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Sebaliknya jika masyarakat petani karet bergantung pada kondisi alam, mereka selalu bekerja hanya pada satu sumber pendapatan, mereka lebih pasif dan kurang inisiatif, akibatnya hidup tidak berubah dan sulit mencapai kesejahteraan. Seiring dengan itu, dinamika ekonomi petani karet yang berkaitan dengan mata pencahariannya akan mengalami pasang surut karena tergantung pasar, sehingga ketika harga karet murah maka masyarakat petani karet harus melakukan upaya tambahan agar petani karet masyarakat tidak identik dengan orang miskin.
Modal Manusia ( Human Capital )
Memang, Human Capital dapat membantu pengambil keputusan untuk fokus pada pengembangan manusia dengan fokus pada investasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas organisasi sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Pengelolaan SDM sebagai human capital menunjukkan bahwa pengembalian investasi non fisik jauh lebih tinggi dibandingkan investasi dalam bentuk pembangunan fisik. Pendidikan menurut Delors, (2000) merupakan alat penting untuk memelihara bentuk pembangunan manusia yang lebih dalam dan harmonis dan dengan demikian mengurangi kemiskinan, keterasingan, kebodohan, penindasan dan peperangan.
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa pendidikan yang diperoleh masyarakat dapat dijadikan sebagai investasi atau modal untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Manfaat non-finansial dari pendidikan meliputi kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan di masa pensiun, dan manfaat untuk hidup lebih lama melalui perbaikan gizi dan kesehatan. Murtiasih, 2010) Kedua, investasi di bidang pendidikan menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi daripada investasi fisik di bidang lain.
Penelitian Yang Relevan
Kelompok umum merupakan bagian terbesar petani karet dengan orientasi nilai budaya yang lebih berorientasi pada masa depan, dalam bekerja mereka cenderung hanya mengutamakan hasil yang dicapai dan mengabaikan kualitas kerja (work for a living), demi mengalahkan damai dengan alam. Dimana kelompok khusus dengan jumlah yang sedikit memiliki orientasi nilai budaya yang berorientasi pada masa depan, dalam bekerja mereka lebih mementingkan kualitas hasil kerja disamping hasil dan menguasai alam. Pengeluaran meningkat, diikuti dengan orientasi nilai budaya dalam tindakan produksi, mengakibatkan eksploitasi berlebihan terhadap pohon karet sehingga pendapatan meningkat.
Penelitian ini membahas tentang pendidikan anggota rumah tangga petani karet dalam kaitannya dengan fluktuasi harga sejak tahun 1980 dan setelah tahun 2000 di Desa Pulau Jambu Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar. Kajian ini lebih fokus pada tingkat pendidikan anggota rumah tangga petani karet di Desa Pulau Jambu Kenegarian Kuok yang masih tergolong rendah dari aspek kemiskinan dan pendidikan. Namun pada tahun 2000 kehidupan petani karet telah berubah, daya beli masyarakat meningkat dan aspek pendidikan juga meningkat, umumnya mereka telah mengenyam pendidikan tinggi.
Kerangka Pemikiran
Pendidikan dalam rumah tangga anggota masyarakat Indonesia harus dibudayakan bagi setiap orang, ditanamkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar dapat mempertahankan dan meningkatkan kehidupannya untuk kehidupan yang lebih baik. Realitas yang terlihat saat ini memang berbeda, dimana pendidikan anggota rumah tangga pada masyarakat petani pedesaan seperti di Desa Pulau Jambu Kuok, Kecamatan Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar sepintas sangat tidak baik. Masyarakat petani Desa Pulau Jambu Kuok selalu hidup dari hasil hutan seperti penyadapan karet, ladang berpindah, berburu, mencari ikan di sungai, bagian dari sistem irigasi sawah padi, mengingat keadaan hutan saat ini, banyak di antaranya. berubah fungsi, gaya hidup ini sulit dipertahankan, jika dipertahankan harus diperbaiki dan diubah dengan menggunakan teknologi tepat guna, salah satunya dengan membudayakan pendidikan dan melakukan perubahan.
Dengan meningkatkan pendidikan khususnya pendidikan bagi anggota rumah tangga petani karet, Desa Pulau Jambu Kuok Kecamatan Bangkinang Barat Kabupaten Kampar akan memiliki arti penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk melaksanakan program-program kesejahteraan.
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Desa Pulau Jambu Kuok menjadi lokasi penelitian mengingat sebagian besar masyarakat di desa ini bermata pencaharian sebagai petani karet, semuanya miskin dan banyak kendala bagi kepala keluarga petani karet untuk melanjutkan pendidikan formal anaknya.
Informan Penelitian
Sejak tahun 1980, masyarakat petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok terpuruk akibat rendahnya harga getah karet pada saat itu. Pendidikan formal anggota keluarga petani karet tahun 1980 dan bertani untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anggota keluarganya. Dengan demikian menurut pengamatan peneliti dampak fluktuasi harga karet terhadap pendidikan anggota keluarga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok dapat diturunkan dari data siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok per minggu dijual ke Toke Getah pada tahun 2000. Berikut gambaran anak petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok yang masuk SMPN 2 Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Anggota keluarga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok semakin bersemangat untuk mendapatkan sepeda motor agar lebih mudah menjangkau mereka.
Padahal, setiap rumah tangga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok memiliki dua hingga tiga sepeda motor, yang berdampak negatif terhadap perkembangan pendidikan masyarakat. Pada awal tahun 2000, hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan ekonomi petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok mulai membaik. Setiap anggota komunitas rumah tangga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok tidak berhak meninggalkan keluarga atau kelompoknya begitu saja tanpa memberikan kebutuhan pokok dan rasa aman.
Kerjasama dilakukan dengan keterbukaan antar sesama anggota komunitas rumah tangga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok untuk memudahkan tercapainya suatu tujuan. Berdasarkan uraian di atas diketahui motivasi dalam melaksanakan pendidikan bagi masyarakat petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok adalah sebagai berikut. Hal ini pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang maju bagi anggota rumah tangga petani karet.
Petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok, menyadari pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
- Wawancara
- Observasi
- Studi Dokumentasi
Teknik Menjamin Keabsahaan Data
Teknik Analisa Data
- Reduksi Data
- Penyajian Data
- Menarik Kesimpulan
Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah anak yang tamat pendidikan SD setingkat SMP/MTs masih rendah karena kondisi pendapatan kepala keluarga petani karet di Desa Pulau Jambu Kuok yang masih rendah. Pendidikan formal anggota keluarga petani karet dan perkebunan pasca tahun 2000 untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anggota keluarganya. Pernyataan ini didukung oleh data dari kerabat petani karet yang melanjutkan studinya pada tahun 2000-an.
Pada tahun 2000, sebanyak 10 (sepuluh) orang anggota rumah tangga karet telah mengenyam pendidikan tinggi. Memasuki tahun 2000-an, menurut pengamatan peneliti di tiga dusun di Desa Pulau Jambu Kuok, beberapa anggota rumah tangga karet berhasil meningkatkan pendidikan para anggota rumah tangga. Terutama bagi para orang tua masyarakat karet di Desa Pulau Jambu Kuok yang tidak mampu membiayai sekolah anaknya, sehingga pikirannya masih tertuju pada pekerjaan yang langsung menghasilkan uang.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada tahun 1980 masyarakat petani karet belum menyadari pentingnya pendidikan bagi anggota rumah tangga. Pendidikan masyarakat bagi anggota rumah tangga petani karet di Kabupaten Kampar Provinsi Riau merupakan fenomena sosial yang mulai merebak. Terkesan, pada tahun 1980 anggota rumah tangga petani karet tidak bisa menyelesaikan pendidikannya karena kekurangan biaya.