Pendahuluan
Latar Belakang
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, proporsi anak di bawah umur yang menderita gizi buruk dan gizi buruk (berdasarkan standar WHO). Berdasarkan Laporan Program Gizi Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013, jumlah gizi buruk sebanyak 23 kasus, gizi buruk sebanyak 981 kasus.
Identifikasi Masalah
Untuk Kecamatan Buke, laporan gizi FIII dari Puskesmas Andoolo bulan September 2014 mencatat balita usia 6 sd 59 bulan sebanyak 1.076 balita, dengan gizi kurang sebanyak 5 balita dan gizi buruk 1 balita, berdasarkan BB/TB.9. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti dampak pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap status gizi balita.
Batasan Masalah
Batasan Penelitian
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Tinjauan Pustaka
- Status Gizi
- Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
- Pemberian Makanan Tambahan
- Kerangka Teori
Menurut WHO (1990), indeks status gizi merupakan gabungan dua parameter antropometri yang digunakan untuk menilai status gizi. Klasifikasi status gizi berdasarkan antropometri memerlukan nilai ambang batas (cut-off point) berdasarkan standar acuan tertentu.
Kerangka Konsep Dan Definisi Operasional
- Kerangka Konsep
- Variabel Penelitian
- Definisi Operasional
- Hipotesis
Berdasarkan Tabel 5.18, proporsi status gizi baik pada balita dengan riwayat imunisasi dasar lengkap lebih tinggi yaitu 86. 54 Tabel 5.21 Rangkuman hasil analisis bivariat pengaruh pemberian gizi tambahan terhadap status gizi pada balita.
Metodologi Penelitian
Jenis Penelitian
Berdasarkan tabel 5.17, proporsi status gizi baik pada balita yang mempunyai riwayat BBLR lebih besar yaitu 83,3% dibandingkan dengan balita yang mempunyai riwayat tidak BBLR yaitu 80,7. Hasil yang diperoleh berdasarkan tabulasi silang yaitu dari 93 orang yang mempunyai riwayat imunisasi lengkap, 80 orang (86%) mempunyai status gizi baik sedangkan 13 orang (14). pemberian makanan tambahan) terhadap status gizi balita yang dilakukan di wilayah Kerja Puskesmas Utama Andoolo Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan.
Status gizi berdasarkan berat badan menurut umur (WW/U) Dari 100 bayi, status gizi kurang sebanyak 19 orang (19%), status gizi baik sebanyak 81 orang (81 orang), kemudian dari 84 orang mempunyai riwayat pemberian ASI Eksklusif. , status gizi baik sebanyak 77 orang dan status gizi buruk sebanyak 7 orang. Dan dari 16 orang yang sebelumnya tidak mendapatkan ASI Eksklusif, terdapat 4 orang dengan status gizi baik dan 12 orang dengan gizi buruk. status.
Ada hubungan yang relatif signifikan antara pemberian makanan tambahan secara teratur dan status gizi. Gambaran status gizi balita gizi buruk setelah mendapat makanan tambahan di Puskesmas Medan Mandala tahun 2009. Tujuan untuk mengetahui “Pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap status gizi balita umur 6 – 59 bulan di wilayah wilayah kerja Puskesmas Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan November – Desember 2014”.
Lokasi & Waktu Penelitian
Populasi Dan Sampel
Populasinya adalah seluruh balita umur 6–59 bulan yang mendapat makanan pendamping ASI (PMT) di wilayah kerja Puskesmas Andoolo Utama, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data September 2014, terdapat 1.076 balita usia 6 hingga 59 bulan di wilayah kerja utama Puskesmas Andoolo di Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Teknik Pengambilan Sampel
Jenis Data
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Etika Penelitian
Hasil yang diperoleh berdasarkan tabulasi silang yaitu dari 84 orang yang mendapat ASI Eksklusif, 77 orang (91,7%) mempunyai status gizi baik dan 7 orang (8,3%) mempunyai status gizi buruk. Berdasarkan Tabel 5.6, persentase status gizi baik pada bayi dengan riwayat pemberian ASI eksklusif lebih besar yaitu 91,7% dibandingkan status gizi baik pada bayi dengan riwayat pemberian ASI tidak eksklusif yaitu 25. Hasil yang diperoleh berdasarkan Berdasarkan tabulasi silang, yaitu dari 88 orang non BBLR, 71 orang (80,7%) mempunyai status gizi baik dan 17 orang (19,3%) mempunyai status gizi buruk.
Kemudian dari 88 orang yang bukan BBLR, 71 orang berstatus gizi baik dan 17 orang berstatus gizi buruk. Hasil yang diperoleh berdasarkan tabulasi silang yaitu dari 93 orang yang memiliki riwayat imunisasi lengkap, 80 orang berstatus gizi baik dan 13 orang berstatus gizi buruk.
Hasil Penelitian
Deskripsi lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Andoolo Utama, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Puskesmas Andoolo Utama terletak di Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan dengan kondisi geografis sebagai berikut. Kecamatan Buke merupakan bagian dari Kabupaten Konawe Selatan yang terletak di sebelah barat Andoolo yang merupakan ibu kota Kabupaten Konawe Selatan.
Kecamatan Buke merupakan wilayah dataran rendah yang luasnya 185,59 km2 atau 4,11% dari luas dataran rendah Kabupaten Konawe Selatan. Wilayah kerja utama Puskesmas Andoolo meliputi 16 desa di Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan dengan data kependudukan sebagai berikut.
Analisis Univariat
Sampelnya adalah 27 balita dengan status gizi kurang (BB/TB Z-score) yang diambil di 6 desa.8.
Analisis Bivariat
Pembahasan
Karakteristik Individu
Menurut Istiono et al, usia dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi.23 Sebuah penelitian dari India menunjukkan bahwa semua jenis kelamin memiliki peluang yang sama untuk menjadi kurus dan pendek.24. Semua balita, baik laki-laki maupun perempuan, berpotensi memiliki status gizi buruk atau baik. Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, bukan sekedar bebas dari penyakit atau kecacatan pada segala aspek yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya.
Menurut Manuaba (1998), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang kesehatan reproduksi yang optimal, salah satunya adalah: Jangan hamil sebelum usia 20 tahun atau setelah usia 35 tahun. Pada sampel penelitian, usia ibu terbanyak adalah 20 – 35 tahun yaitu sebanyak 83 orang yang merupakan usia sehat reproduksi. Pendidikan ibu memegang peranan penting dalam menentukan status gizi anak karena berkaitan dengan kualitas pelayanan kesehatan dan makanan.
Berdasarkan hasil penelitian, ayah balita tersebut sebagian besar berprofesi sebagai petani yaitu sebanyak 64 orang. Sedangkan ibu balita mayoritas adalah ibu rumah tangga yaitu sebanyak 65 orang, dimana dapat dikatakan keluarga sampel mayoritas merupakan keluarga berpendapatan rendah. Namun sebagian besar ibu yang berstatus ibu rumah tangga akan mempunyai waktu lebih banyak untuk melayani anaknya.
Pemberian Makanan Tambahan
Hal ini menunjukkan bahwa 98 dari 100 orang menyatakan pemberian makanan tambahan oleh Puskesmas Andoolo baik dari tiga kategori yaitu kurang, sedang dan baik dari segi tampilan, porsi, penyajian dan variasi makanan. PMT. Makanan yang diberikan berupa kacang ijo untuk dimakan langsung, 5 bungkus sachet vitamin untuk dibawa pulang dan 1 porsi biskuit untuk balita dengan status gizi baik, sedangkan untuk balita dengan status gizi buruk kacang ijo dimakan setiap hari. spot, 15 bungkus vitamin bag dan 5 dosis biskuit untuk balita dengan status gizi baik. Namun, terdapat keluhan mengenai variasi makanan tambahan yang disediakan oleh pemerintah, yang diperkirakan akan terus ditingkatkan di masa mendatang.
Status Gizi
Hal ini menunjukkan bahwa persentase status gizi baik pada bayi yang mempunyai riwayat pemberian ASI eksklusif lebih besar yaitu 91,7% dibandingkan status gizi baik pada bayi yang mempunyai riwayat tidak mendapat ASI eksklusif. Dengan demikian, pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan secara proporsional antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, terdapat hubungan yang signifikan secara proporsional antara riwayat imunisasi awal lengkap dan status gizi anak kecil.
Sedangkan pada bayi dengan PMT tidak rutin namun mempunyai status gizi baik, hal ini mungkin disebabkan oleh tercukupinya asupan gizi harian dengan makanan seimbang dan cukup, riwayat pemberian ASI eksklusif dan riwayat dasar imunisasi. Pemberian makanan tambahan secara rutin setiap bulan pada balita usia 6 – 59 bulan dapat memberikan dampak positif terhadap status gizi anak kecil tersebut. Sebagian besar anakan yang mendapat PMT secara teratur memiliki status gizi yang baik dibandingkan dengan anakan yang mendapat PMT secara tidak teratur.
Oleh karena itu, balita yang mendapat PMT secara teratur mempunyai kemungkinan 17,333 kali lebih besar untuk mempunyai status gizi baik dibandingkan dengan bayi yang mendapat PMT tidak teratur. Faktor yang berhubungan dengan status gizi badut berdasarkan IMT menurut umur di wilayah kerja Puskesmas Pancoran. Hubungan berat badan lahir dan pelayanan KIA terhadap status gizi balita di Kecamatan Tamamaung Makassar.
Analisis Bivariat PMT dengan status gizi
Keterbatasan Penelitian
Kelemahan dalam penelitian ini adalah desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional yaitu seluruh variabel yang diteliti baik variabel terikat maupun variabel bebas dikumpulkan sekaligus, hal ini dikarenakan keterbatasan waktu, dana dan fasilitas. Selain itu penelitian ini juga menggunakan data sekunder yaitu KMS (Kartu Sehat), sehingga status gizi yang diperoleh hanya berdasarkan berat badan menurut umur.
Tinjauan KeIslaman
Allah memerintahkan orang-orang mukmin sebagaimana yang diperintahkan-Nya kepada para rasul, seperti firman-Nya dalam surat Al Mukminun ayat 52: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang soleh”. Tuhan. 68 juga berfirman dalam Surat Al Baqarah 172: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik-baik”. Kemudian Rasulullah s.a.w. menyebutkan tentang seseorang yang telah menempuh perjalanan yang jauh, rambutnya kusut masai dan mukanya kotor kerana debu, lalu dia menadahkan tangannya ke langit sambil berseru: "Ya Tuhanku, Tuhanku", sedangkan makanannya haram. . minumannya diharamkan, pakaiannya diharamkan, dan dia diberi makan dengan yang haram. Dihalalkan bagimu (ikan) yang tertangkap di laut dan makanan yang berasal dari laut” (QS Al Maidah: 94).
Menurut data UNICEF, anak balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia pada tahun 2011 berjumlah 40%, yang tidak hanya terjadi di perdesaan, namun juga terjadi di perkotaan.35. Dalam Islam, gizi buruk merupakan tanggung jawab negara karena merupakan kewajiban negara untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Ustadzah Ratna menjelaskan dalam seminar Hari Gizi, akar masalah gizi buruk adalah penerapan sistem kapitalis.
Langkah-langkah yang dilakukan Islam dalam mengatasi gizi buruk adalah dengan memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar gizi, ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi individu anggota masyarakat serta terwujudnya kemandirian pangan negara. Maka tidak heran jika Khalifah Umar sering melakukan sidak ke rumah-rumah penduduk untuk melihat keadaan umatnya. Perbuatan Khalifah Umar ini dapat dijadikan contoh oleh para pemimpin negeri ini, demi terciptanya masyarakat yang bergizi dan sehat lahir batin.
Kesimpulan dan Saran
RUU RI tentang Pemberian Nutrisi Tambahan dan Pemeriksaan Kesehatan Berkala pada Anak Usia 1 (Satu) Sampai dengan 12 (Dua Belas) Tahun. Gambaran pola pemberian makanan pendamping ASI serta tumbuh kembang anak usia 0-24 bulan di desa Labuhan Deli kecamatan Medan Marelan tahun 2004. Pengaruh pemberian makanan pendamping ASI lokal (Pmt) terhadap peningkatan status gizi (Bb/Tb Z-Score) pada balita gizi buruk dan berat badan kurang.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemenuhan Hak Reproduksi Dalam Keluarga Berencana Pada Pasangan Wanita Usia Subur Yang Bekerja Di Rumah Sakit Umum Materna Tahun 2013. Hubungan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif Dengan Statistik Gizi Bayi Usia 6 Sampai 12 Bulan Di Provinsi Nusa Tenggara Barat ( NTB ) Tahun 2007 .Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi Anda sebagai responden dengan ikut serta menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.