ANALISIS CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI SAHAM
(Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia PeriodeAgustus 2016- Juli 2018) Alecia Ferrari (20141111108)1
ABSTRACT
The purpose of this research is to describe the application of CAPM (Capital Asset Pricing Model) in the selection of stocks to make investments. Investment in capital market generally has a higher return compared to investing in financial market. Sometimes investors get difficulty to determine which stocks is worthy to buy. This research describe the application of CAPM by grouping efficient and inefficient banking sector stocks based on the Capital Asset Pricing Model (CAPM) method.
The method being used in this research is Capital Asset Pricing Model (CAPM) which is to see the relevant returns and risks, and to find an the expected return on the asset if the capital market is equal. Sampling method that is used is purposive sampling method and obtained 40 companies.The population of this study is the banking sector company listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) August 2016-July 2018.
The results of the CAPM model, it is found that there are 31 efficient stocks out of 40 stocks in the banking sector. Efficient stocks means the actual return is higher than the expected return. It shows that there are 31 banking stocks with a positive average rate of return and 9 banking stocks with a negative average rate of return. There are 40 stocks with positive expected returns. With the highest rate of return is 0.0115 or 1.15% that's stocks name is Bank Mitraniaga Tbk (NAGA). Bank Mitra Niaga Tbk (NAGA) stocks have a positive expected rate of return because NAGA stocks have the highest beta.
Keywords: CAPM, Beta, Expected Return
PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
Investasi merupakan salah satu wadah yang banyak diminati oleh masyarakat untuk mendapatkan dana di masa yang akan mendatang. Investasi yang berkembang pesat tidak terlepas dari risiko, oleh karena itu calon investor harus mampu memperdalam wawasan, menggali informasi ataupun melihat investasi yang akan menguntungkan di kemudian hari. Kegiatan investasi dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu investasi dalam bentuk aset riil (real assets) dan investasi dalam bentuk surat berharga/sekuritas (financial assets). Investasi aset riil adalah investasi dalam bentuk aktiva berwujud fisik, sementara investasi finansial adalah investasi dalam bentuk surat berharga/
sekuritas yang dilakukan di pasar uang dan di pasar modal. Pengertian pasar modal adalah pasar untuk sekuritas jangka panjang seperti obligasi dan saham (Jones, 2014). Pasar modal merupakan salah satu investasi yang banyak diminati oleh masyarakat dan memiliki peran besar bagi perekonomian Indonesia. Dengan adanya pasar modal, perusahaan yang membutuhkan modal untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya dapat memperoleh dana melalui penjualan instrumen efek yang dikeluarkannya, sedangkan bagi para investor yang mempunyai kelebihan dana dapat berinvestasi di suatu perusahaan tersebut untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu instrumen efek yang paling diminati di pasar modal adalah saham. Investor yang rasional akan memilih saham yang efisien untuk meminimumkan risiko investasi, oleh karena itu para investor melakukan diversifikasi investasi dengan cara pembentukan portofolio saham. Investor terkadang kesulitan menentukan saham mana yang akan
1 Alecia Ferrari, lulusan dari STIE Indonesia Banking School, email [email protected]
menghasilkan return yang besar dengan risiko yang kecil. Dalam memprediksi return dan risiko saham investor dapat menggunakan metode CAPM (Capital Aset Pricing Model). Metode CAPM menjelaskan model yang menghubungkan tingkat return harapan dari suatu aset berisiko dengan risiko dari aset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang (Tandelilin, 2010). CAPM dapat membantu para investor untuk menentukan tingkat expected return dalam investasi berisiko. CAPM dapat menghitung risiko dalam suatu portofolio (Sekarwati & Margasari, 2015). CAPM mempunyai 2 keunnggulan utama untuk menghitung biaya modal perusahaan yang berkaitan dengan saham (Keown et al, 2014).
1. Modelnya sederhana dan mudah dimengerti dan diimplementasikan. Variabel model sudah tersedia dari sumber publik.
2. Kedua, karena model tidak bergantung pada dividen atau asumsi apapun tentang pertumbuhan dalam dividen.
Informasi mengenai kinerja pasar saham dapat dilihat di Bursa Efek Indonesia. Saham-saham yang tercatat di BEI terbagi menjadi sembilan sektor. Penelitian ini dilakukan pada salah satu sektor keuangan, dimana didalamnya terdapat sektor perbankan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2016 - Juli 2018. Penelitian ini dimulai pada bulan Agustus 2016 dikarenakan terdapat perubahan BI Rate menjadi BI 7 Day Repo Rate pada saat periode penelitian. Berbagai kalangan menilai prospek saham sektor perbankan 2018 akan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Semenjak bulan Juli 2016 hingga Juli 2018, sektor perbankan merupakan sektor yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.
Sumber: (IDX,olahan penulis)
Gambar 1
Kapitalisasi Pasar Agustus 2016-Juli 2018
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa kapitalisasi pasar sektor perbankan merupakan kapitalisasi pasar terbesar di sektor keuangan. Sektor keuangan pun merupakan kapitalisasi pasar yang paling besar dikarenakan sektor perbankan merupakan penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sektor perbankan merupakan salah satu sektor yang sangat vital bagi suatu negara.
Di sanalah jantung perekonomian suatu negara berada. Banyak sekali sumber dana bank yang dihimpun dari masyarakat luas. Sumber dana tersebut kemudian digunakan untuk pengembangan dunia usaha lewat kredit atau pinjaman.
0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000
Ags-16 Nov-16 Feb-18 Mei-17 Ags-17 Nov-18 Feb-18 Mei-17 Sektor Keuangan Sektor Perbankan Sektor Consumer Goods
RUMUSAN MASALAH
1. Berapakah besar return dan risiko masing masing saham sektor perbankan ?
2. Berapakah besar tingkat pengembalian yang diharapkan dari masing-masing saham sektor perbankan ?
3. Bagaimana pengelompokan dan penilaian saham-saham sektor perbankan yang efisien dan tidak efisien berdasarkan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) ?
LANDASAN TEORI
EFFICIENT MARKET HYPOTESIS
Hipotesis Pasar Efisien efisien menyatakan bahwa harga pasar sepenuhnya mencerminkan semua informasi yang tersedia dan cepat merespon pengumuman informasi baru (Keown et al., 2014).
Sedangkan pasar efisien menyatakan bahwa semua informasi penting mengenai suatu saham tercermin dalam harga saham itu (Eugene F, 2005).
Bentuk-bentuk Efisiensi Pasar
Hipotesis Pasar Efisien Bentuk Lemah (Weak Form).
Efisiensi ini menjelaskan bahwa harga saham telah mencerminkan semua informasi masa lalu yang tersedia di pasar seperti data harga, volume perdagangan, atau short interest. Data perdagangan masa lalu tersebut telah tersedia di pasar dan tidak membutuhkan biaya untuk mendapatkannya.
Semua investor akan berusaha mengambil keuntungan dengan cara membaca pola data dari data masa lalu jika data masa lalu tersebut mengandung sinyal yang dapat dipercaya mengenai hasil masa depan. Implikasinya adalah semua investor akan mengeksploitasi sinyal tersebut sehingga sinyal tersebut akan kehilangan nilainya dan akan segera tercermin dalam harga (Bodie et al, 2013).
Hipotesis Pasar Efisien Bentuk Setengah Kuat (Semi Strong Form)
Efisiensi ini menyatakan bahwa semua informasi yang tersedia di pasar termasuk informasi potensi pertumbuhan perusahaan harus telah tercermin di dalam harga saham seperti data lini produk, kualitas manajemen, komposisi laporan keuangan seperti neraca, paten, proyeksi laba, dan perlakuan akuntansi. Jadi, ketika seluruh informasi telah diketahui oleh para investor maka refleksinya sudah ada pada harga saham (Bodie et al, 2013).
Hipotesis Pasar Efisien Bentuk Kuat (Strong Form)
Efisiensi ini menjelaskan bahwa harga saham telah mencerminkan semua informasi yang relevan bagi perusahaan termasuk informasi yang hanya tersedia untuk pihak internal perusahaan (insider) sehingga walaupun pihak manajemen dan karyawan perusahaan mempunyai akses untuk mengetahui informasi sebelum informasi tersebut tersedia di pasar, hal itu tidak memungkinkan mereka untuk mengambil keuntungan dengan melakukan pricelimit. (Bodie et al, 2013).
CAPM (Capital Asset Pricing Model)
CAPM adalah model yang menghubungkan tingkat return harapan dari suatu aset berisiko dengan risiko dari aset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang (Tandelilin, 2010). CAPM adalah persamaan tingkat pengembalian yang diharapkan pada suatu saham dengan tingkat bebas risiko ditambah premi risiko untuk risiko sistematis saham (Keown et al, 2014).
Persamaan CAPM E(𝑅𝑖) = 𝑅𝑓 + [ E (𝑅𝑚 ) - 𝑅𝑓] 𝐵𝑖
Sumber : (Tandelilin, 2010)
E(𝑅
𝑖) = Tingkat pengembalian yang diharapkan terhadap sekuritas i.
E (𝑅
𝑚) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar.
Rf = Rata-rata return bunga investasi bebas resiko.
βi = Ukuran risiko saham ke-i.
BETA
Beta adalah ukuran risiko yang relevan yang tidak dapat diversifikasi dalam portofolio (Jones, 2014).
Beta menjadi ukuran yang harus dipertimbangkan investor dalam proses keputusan manajemen portofolio. Arti dari besarnya risiko sistematis suatu saham tertentu menurut (Jones, 2014) sebagai berikut:
1. Beta < 0 yaitu negatif, artinya saham-saham yang berperilaku khusus dan bertentangan dengan pasar modal. Pada saat pasar naik, saham-saham jenis ini justru bergerak turun, dan sebaliknya pada saat pasar bergerak turun, saham-saham ini justru bergerak naik.
2. Beta = 1, artinya setiap satu persen perubahan return pasar maka return saham atau portofolio juga akan berubah sama besarnya mengikuti return pasar.
3. Saham yang mempunyai nilai beta > 1 dikatakan memiliki risiko yang lebih besar dari tingkat risiko rata-rata pasar.
4. Saham yang mempunyai mempunyai nila beta < 1 dikatakan sebagai saham yang memiliki risiko dibawah rata-rata pasar.
Sumber: (Bodie et al, 2013) Return Saham
Tingkat pengembalian merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinteraksi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko terhadap investasi yang dilakukannya (Tandelilin, 2010).
Sumber: (Tandelilin, 2010) Return Market
Tingkat pengembalian pasar merupakan pengembalian yang diperoleh investor dari investasi pada saham-saham yang tercermin dari perubahan indeks harga untuk periode tertentu (Suad, 2015).
Sumber: (Jogiyanto, 2013) Risk Free Rate
Tingkat Pengembalian Bebas Risikomenjelaskan tingkat pengembalian bebas risiko merupakan ukuran tingkat pengembalian minimum pada saat risiko beta (βi ) bernilai nol. Tingkat pengembalian bebas risiko diwakili oleh BI 7 Days Repo Rate yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Sumber : (Jogiyanto, 2013)
βi = 𝑐𝑜𝑣(𝑟𝑣𝑎𝑟(𝑟𝑖,𝑟𝑚)
𝑚 )
Return Saham =
𝑃𝑡− 𝑃𝑡−1𝑃𝑡−1
Return Market = Indeks pasar t − Indeks Pasar t−1 Indeks Pasar t−1
Rf = ∑ Rf𝑁
PENELITIAN TERDAHULU
Tabel 1
Penelitian Terdahulu
No Judul Penilitian /
Peneliti Metode
Penelitian Sampel / Periode Hasil Research Gap
1 Analisis Metode Capital Asset Pricing Model Dalam Upaya Pengambilan Keputusan Terhadap Investasi
Saham 1.Rizky Nasuha 2.Moch.Dzulkirom (2013)
Menerapkan metode
rumus CAPM
Studi pada Saham-Saham
Perusahaan Sektor Properti dan Real Estate
di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2010 –
2012
Bahwa dari 19 perusahaan sampel penelitian, diperoleh 14
saham yang tergolong saham undervalued Sedangkan 5 saham tergolong saham yang
overvalued,
Peneliti sebelumnya menganalisis saham sektor
properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Periode 2010 – 2012
2 Penerapan Metode Capital Asset Pricing Model
Sebagai Pertimbangan
Dalam Pengambilan
Keputusan Investasi Saham.
1.I Putu Yadnya (2016)
Menerapkan metode
rumus CAPM
Saham perusahaan
sektor infrastruktur,
utilitas dan transportasi di
Bursa Efek Indonesia periode Agustus 2015 – Juli 2016
20 sampel saham perusahaan yang digunakan dalam penelitian, terdapat 15
saham perusahaan termasuk saham yang
undervalued.
Peneliti sebelumnya menganalisis saham perusahaan sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi di Bursa Efek Indonesia periode Agustus
2015 – Juli 2016
3 Analisis Capital Asset Pricing Model (CAPM) Terhadap Keputusan Investasi Saham
1.Aisyi Anggun Hidayati 2.Suhadak
(2012)
Menerapkan metode
rumus CAPM
Studi pada perusahaan
Sektor Perbankan di BEI
tahun 2009-2011
1. Perbedaan saham efisien dan saham tidak efisien dapat dilihat dari penggambaran Security
Market Line (SML).
Saham yang efisien terdapat diatas garis
SML.
Peneliti sebelumnya menganalisis saham sektor
perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode
2009 – 2011
4 An Empirical Test of the Validity of the
Capital Asset Pricing Mode
l
1.Melody Nyangara 2.Davis Nyangara
3.Godfrey Ndlovu(2015)
Menerapkan metode
rumus CAPM
31 saham yang terdaftar di ZSE periode Maret
2009 sampai dengan Februari
2014
Menggunakan cross- sectional telah menunjukkan bahwa beta adalah
signifikan faktor dalam menjelaskan rata-rata pengembalian saham
bulanan
Peneliti sebelumnya menganalisis pasar modal di
Zimbabwe Periode Maret 2009-Februari 2014.
5 Applicability of Capital Assets Pricing Model (CAPM) on Pakistan Stock
Markets 1.M. Rizwan Qamar (2014)
Menerapkan metode
rumus CAPM
10 perusahaan yang tampil dari 100 indeks KSE
dari tahun 2006 hingga 2010.
Tingkat pengembalian tahunan yang diharapkan dan aktual
berbeda antara perusahaan satu dengan perusahaan
lainnya.
Peneliti sebelumnya menganalisis pasar modal di Pakistan Periode 2006-2010
Sumber: Olahan Penulis
KERANGKA PEMIKIRAN
Sumber: Olahan Penulis
Gambar 2 Kerangka Pemikiran METODOLOGI PENELITIAN
POPULASI DAN SAMPEL
Populasi yang dijadikan objek pada penelitian ini merupakan perusahaan Sektor Perbankan periode Agustus 2016- Juli 2018. Tahap pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria yang dimaksud dalam pengambilan sampel yaitu sebagai berikut:
1. Perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode Agustus 2016- Juli 2018.
2. Perusahaan sektor perbankan yang tidak pernah delisting di Bursa Efek Indonesia selama periode Agustus 2016– Juli 2018.
Menghitung Tingkat Pengembalian Saham Individu
Menghitung Rata-Rata Tingkat Pengembalian Individu
Menghitung Tingkat Pengembalian Pasar
Menghitung Rata-Rata Tingkat Pengembalian Pasar
Menghitung Risiko Beta
Menghitung Tingkat Pengembalian Bebas Risiko
Menghitung Tingkat Pengembalian yang Diharapkan
Membandingkan Ri dengan E(𝑅𝑖)
Ri > E(𝑅𝑖)
Efisien Tidak Efisien
Ri < E(𝑅𝑖)
3. Perusahaan sektor perbankan yang memiliki perdagangan aktif di Bursa Efek Indonesia selama periode Agustus 2016- Juli 2018.
Berdasarkan kriteria sampel tersebut, maka jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 40 perusahaan dari 42 perusahaan sektor perbankan di BEI, berikut 40 perusahaan yang akan diteliti:
Tabel 2 Sampel Perusahaan
No Daftar Perusahaan Perbankan Kode Tanggal IPO 1 Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga Tbk AGRO 8 Agustus 2003
2 Bank Agris Tbk AGRS 22 Desember 2014
3 Bank Artos Indonesia Tbk ARTOS 12 Januari 2016
4 Bank Pan Indonesia Tbk PNBN 29 Desember 1982
5 Bank MNC Internasional Tbk BABP 15 Juli 2002
6 Bank Capital Indonesia Tbk BACA 8 Oktober 2007
7 Bank Central Asia Tbk BBCA 31 Mei 2000
8 Bank Harda Internasional Tbk BBHI 12 Agustus 2015
9 Bank Yudha Bhakti Tbk BBYB 13 Januari 2015
10 Bank Ganesha Tbk BGTG 12 Mei 2016
11 Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk SDRA 15 Desember 2006
12 Bank Bukopin Tbk BBKP 10 Juli 2006
13 Bank Mestika Dharma Tbk BBMD 8 Juli 2013
14 Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk BBNI 25 November 1996 15 Bank Nusantara Parahyangan Tbk BBNP 10 Januari 2001 16 Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk BBRI 10 November 2003 17 Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk BBTN 17 Desember 2009 18 Bank Danamon Indonesia Tbk BDMN 6 Desember 1989 19 Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk BEKS 13 Juli 2001
20 Bank Ina Perdana Tbk BINA 16 Januari 2014
21 Bank Jabar Banten Tbk BJBR 8 Juli 2010
22 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk BJTM 12 Juli 2012
23 Bank QNB Indonesia Tbk BKSW 21 November 2002
24 Bank Maspion Indonesia Tbk BMAS 11 Juli 2013 25 Bank Mandiri (Persero) Tbk BMRI 14 Juli 2003
26 Bank Bumi Arta Tbk BNBA 31 Desember 1999
27 Bank CIMB Niaga Tbk BNGA 29 November 1989
No Daftar Perusahaan Perbankan Kode Tanggal IPO 28 Bank Maybank Indonesia Tbk BNII 21 November 1989
29 Bank Permata Tbk BNLI 15 Januari 1990
30 Bank Sinar Mas Tbk BSIM 13 Desember 2010
31 Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk BTPN 12 Maret 2008 32 Bank Victoria International Tbk BVIC 30 Juni 1999
33 Bank Dinar Indonesia Tbk DNAR 11 Juli 2014
34 Bank Artha Graha International Tbk INPC 29 Agustus 1990 35 Bank Mayapada International Tbk MAYA 29 Agustus 1997 36 Bank China Construction Bank Ind. Tbk MCOR 3 Juli 2007
37 Bank Mega Tbk MEGA 17 April 2000
38 Bank Mitraniaga Tbk NAGA 9 Juli 2013
39 Bank OCBC NISP Tbk NISP 20 Oktober 1994
40 Bank Nationalnobu Tbk NOBU 20 Mei 2013
Sumber: Olahan Penulis
SUMBER DATA
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data bulanan perusahaan sektor perbankan yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia. Periode penelitian dimulai dari Agustus 2016- Juli 2018. Sumber data dapat diperoleh melalui website www.idx.co.id
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM) yaitu untuk melihat return dan risiko yang relevan, serta untuk mencari estimasi tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor (expected return) pada setiap aset apabila pasar modal dalam keadaan seimbang. Penelitian ini merupakan jenis data kuantitatif, yaitu data yang dapat diukur dengan menggunakan skala numerik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder harga saham perbankan penutupan (closing price) per bulan selama periode Agustus 2016 – Juli 2018, IHSG, dan BI Rate. Sumber penunjang lainnya berupa jurnal yang diperlukan, dan sumber-sumber lain yang dapat digunakan dalam penelitian ini. Rumus dari CAPM tersebut adalah sebagai berikut:
Persamaan CAPM: E(𝑅𝑖) = R f + [ E (𝑅𝑚 ) - 𝑅𝑓] 𝐵𝑖
Sumber:(Tandelilin, 2010)
E(𝑅𝑖) = Tingkat pengembalian yang diharapkan terhadap sekuritas i.
E(𝑅𝑚) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar.
Rf = Rata-rata return bunga investasi bebas resiko.
βi = Ukuran risiko saham ke-i.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
STATISTIK DESKRIPTIF
Tabel 3 Statistik Deskriptif
BI 7 Days Repo Rate
IHSG RI Beta CAPM
Mean 0,0465 5774,49 0,02126 0,8030 0,0056 Median 0,0475 5829,71 0,01475 0,8584 0,00485 Maximum 0,0525 6605,63 0,1286 3.9804 0,0115
Minimum 0,0425 5148,91 -0,0231 -2,0213 0,0001 Standar
Deviasi
0,003372 395,3531 0,029755 1,199805 0,002288
Observations 24 24 40 40 40
Sumber: Output Eviews Diolah, 2018
Pada bagian berikut penjelasan didasarkan dari data masing-masing variabel berdasarkan model yang telah diolah. Pembahasan terdiri atas nilai rata-rata (mean), standar deviasi, nilai maksimum (max), dan nilai minimum (min) masing-masing variabel.
Berdasarkan informasi yang digambarkan dalam tabel, dapat diuraikan mengenai penjelasan statistik deskriptif dari setiap variabel penelitian, yaitu:
1. BI 7-Day (Reverse) Repo Rate
Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan software Eviews 10, BI 7-Day (Reverse) Repo Rate memiliki rata-rata sebesar 0,0465 atau sebesar 4,65%.
Sedangkan nilai terendah adalah sebesar 0,0425 atau sebesar 4,25% hal itu terjadi pada bulan September 2017 sampai bulan April 2018 disebabkan karena inflasi pada bulan tersebut rendah (marketbisnis.com). Nilai tertinggi adalah sebesar 0,0525 atau sebesar 5,25% karena BI menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap perubahan kebijakan moneter sejumlah negara dan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. (BI.go.id).
2. IHSG
IHSG memiliki rata-rata sebesar 5774,49. Nilai terendah adalah sebesar 5148,91 terjadi pada bulan Oktober 2016 hal tersebut disebabkan karena adanya profit taking pada saat menantikan angka pertumbuhan ekonomi China. Sedangkan nilai tertinggi sebesar 6605,63 tertjadi pada bulan Januari 2018 disebabkan karena kondisi perekonomian Indonesia cenderung stabil dan stagnan sepanjang tahun 2017 (marketbisnis.com).
3. Tingkat Rata-rata Pengembalian Saham
Tingkat rata-rata pengembalian saham memiliki rata-rata sebesar 0,02126 atau sebesar 2,13%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat rata-rata pengembalian saham memberikan rata-rata keuntungan sebesar 2,13% selama periode tersebut. Nilai terendah tingkat pengembalian saham inividu sebesar -0,0231 atau sebesar -2,31% terdapat pada perusahaan Bank Maybank Indonesia Tbk. Sedangkan nilai tertinggi tingkat pengembalian saham individu sebesar 0,1286 atau sebesar 12,86% terdapat pada perusahaan Bank Ina
Perdana Tbk. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengembalian individu Bank Ina Perdana Tbk memberikan rata-rata keuntungan sebesar 12,86% selama periode Agustus 2016 – Juli 2018.
4. Beta
Beta memiliki rata-rata sebesar 0,8030. Nilai tertinggi beta adalah sebesar 3.9804 pada Bank Mitra Niaga (NAGA). Beta sebesar 3,9804 dapat diartikan apabila pasar sedang mengalami peningkatan atau penurunan sebesar 4%, maka saham NAGA akan mengalami peningkatan sebesar 3,9804 kali dari 4%, dan akan mengalami penurunan sebesar 3,9804 kali dari 4%. Nilai terendah beta adalah sebesar -2,0213 pada perusahaan Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB).
5. CAPM
CAPM memiliki rata-rata sebesar 0,0056. Nilai terendah Tingkat Pengembalian yang diharapkan terendah adalah sebesar 0,0001atau sebesar 0,001% terdapat pada perusahaan Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB), dan nilai tertinggi tingkat pengembalian yang diharapkan adalah sebesar 0,0115 atau sebesar 1,15% terdapat pada perusahaan Bank Mitra Niaga (NAGA). Hal ini dapat diartikan bahwa investor mengharapkan tingkat keuntungan sebesar 1,15% pada perusahaan Bank Mitra Niaga (NAGA) dan mengharapkan tingkat keuntungan sebesar 0,001% pada perusahaan Bank Yudha Bhakti (BBYB).
Hasil Analisis Return Saham Individu
Tingkat pengembalian saham individu merupakan salah satu pertimbangan investor dalam melakukan investasi. Perhitungan tingkat pengembalian individu saham pada penelitian ini menggunakan closing price bulanan. Hasil perhitungan tingkat pengembalian saham individu dari 40 saham perbankan yang dijadikan sampel penelitian yaitu:
Tabel 4
Tingkat Pengembalian Rata-rata Saham Periode Agustus 2016- Juli 2018
No Daftar Perusahaan Kode Ri
1 Bank Ina Perdana Tbk BINA 0.1286
2 Bank Agris Tbk AGRS 0.1086
3 Bank Harda Internasional Tbk BBHI 0.059
4 Bank Yudha Bhakti Tbk BBYB 0.0492
5 Bank Mayapada International Tbk MAYA 0.0464
6 Bank Mitraniaga Tbk NAGA 0.046
7 Bank Victoria International Tbk BVIC 0.0439
8 Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk BEKS 0.0399
9 Bank Jabar Banten Tbk BJBR 0.0393
10 Bank Nationalnobu Tbk NOBU 0.034
11 Bank Danamon Indonesia Tbk BDMN 0.0325
12 Bank Dinar Indonesia Tbk DNAR 0.0313
13 Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk BTPN 0.0265
14 Bank Central Asia Tbk BBCA 0.022
15 Bank Mega Tbk MEGA 0.0206
No Daftar Perusahaan Kode Ri
16 Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga Tbk AGRO 0.0205
17 Bank OCBC NISP Tbk NISP 0.0191
18 Bank Capital Indonesia Tbk BACA 0.019
19 Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk BBNI 0.0168
20 Bank Bumi Arta Tbk BNBA 0.0156
21 Bank China Construction Bank Ind. Tbk MCOR 0.0141
22 Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk BBRI 0.0139
23 Bank Mandiri (Persero) Tbk BMRI 0.013
24 Bank Ganesha Tbk BGTG 0.0125
25 Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk BBTN 0.0121
26 Bank Arto Indonesia Tbk ARTO 0.0113
27 Bank Nusantara Parahyangan Tbk BBNP 0.0102
28 Bank Maspion Indonesia Tbk BMAS 0.0089
29 Bank CIMB Niaga Tbk BNGA 0.0087
30 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk BJTM 0.0076
31 Bank Pan Indonesia Tbk PNBN 0.0059
32 Bank Artha Graha International Tbk INPC -0.0009
33 Bank Mestika Dharma Tbk BBMD -0.0021
34 Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk SDRA -0.0057
35 Bank Permata Tbk BNLI -0.006
36 Bank Sinar Mas Tbk BSIM -0.0096
37 Bank Bukopin Tbk BBKP -0.0103
38 Bank QNB Indonesia Tbk BKSW -0.0136
39 Bank MNC Internasional Tbk BABP -0.0153
40 Bank Maybank Indonesia Tbk BNII -0.0231
Sumber: Olahan Penulis
Dari tabel 4 terdapat 31 saham perbankan dengan tingkat pengembalian rata-rata positif.
Saham yang mempunyai tingkat pengembalian rata-rata positif menunjukkan bahwa saham tersebut memberikan keuntungan bagi investor selama periode penelitian. Tingkat rata-rata pengembalian saham individu tertinggi adalah saham Bank Ina Perdana Tbk yaitu sebesar 0,1286 atau sebesar 12,86%. Rata-rata tingkat pengembalian sebesar 12,86% menyatakan bahwa, sebesar 12,86% tingkat pengembalian yang didapatkan selama investor berinvestasi pada periode tersebut. Terdapat 9 saham dengan tingkat pengembalian rata-rata negatif. Tingkat rata-rata pengembalian saham individu terendah adalah saham Bank Maybank Indonesia Tbk yaitu sebesar -0,0231 atau sebesar -2,31%.
Saham dengan tingkat pengembalian negatif merupakan saham yang tidak mendatangkan keuntungan atau manfaat bagi investor selama periode penelitian.
Hasil Analisis Risiko Sistematis Masing-masing saham individu.
Beta merupakan ukuran risiko yang relevan yang tidak dapat diversifikasi dalam portofolio. Beta menjadi ukuran yang harus dipertimbangkan investor dalam proses keputusan manajemen portofolio.
Dibawah ini tedapat tabel risiko sistematis dari masing-masing saham, yaitu:
Tabel 5 Risiko Sistematis
Sumber: Olahan Penulis
No Daftar Perusahaan Kode β
1 Bank Mitraniaga Tbk NAGA 3.9804
2 Bank Ganesha Tbk BGTG 2.5627
3 Bank Harda Internasional Tbk BBHI 2.3017
4 Bank Bukopin Tbk BBKP 2.2204
5 Bank CIMB Niaga Tbk BNGA 2.0366
6 Bank Danamon Indonesia Tbk BDMN 2.0278 7 Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk BBNI 2.0093
8 Bank Agris Tbk AGRS 1.9615
9 Bank Jabar Banten Tbk BJBR 1.8236
10 Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk BBRI 1.6564 11 Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk BBTN 1.5532 12 Bank Mandiri (Persero) Tbk BMRI 1.3732
13 Bank Pan Indonesia Tbk PNBN 1.2961
14 Bank Mega Tbk MEGA 1.2273
15 Bank Central Asia Tbk BBCA 1.1858
16 Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk BTPN 1.1316 17 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk BJTM 0.8396 18 Bank China Construction Bank Ind. Tbk MCOR 0.8299
19 Bank QNB Indonesia Tbk BKSW 0.7878
20 Bank OCBC NISP Tbk NISP 0.7875
21 Bank Sinar Mas Tbk BSIM 0.7620
22 Bank Nationalnobu Tbk NOBU 0.7323
23 Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk SDRA 0.6056
24 Bank Bumi Arta Tbk BNBA 0.5570
25 Bank Arto Indonesia Tbk ARTO 0.5412
26 Bank Mestika Dharma Tbk BBMD 0.4038
27 Bank Maspion Indonesia Tbk BMAS 0.3424 28 Bank Maybank Indonesia Tbk BNII 0.3254 29 Bank Nusantara Parahyangan Tbk BBNP 0.3095 30 Bank Victoria International Tbk BVIC 0.2833
31 Bank Permata Tbk BNLI 0.2759
32 Bank Ina Perdana Tbk BINA 0.1789
33 Bank Capital Indonesia Tbk BACA -0.0175 34 Bank MNC Internasional Tbk BABP -0.0546 35 Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk BEKS -0.1237 36 Bank Mayapada International Tbk MAYA -0.2513 37 Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga Tbk AGRO -0.5778 38 Bank Artha Graha International Tbk INPC -1.8266 39 Bank Dinar Indonesia Tbk DNAR -1.9275
40 Bank Yudha Bhakti Tbk BBYB -2.0123
Berdasarkan tabel 5, terdapat 16 saham yang memiliki β >1. Beta tertinggi terdapat pada saham Bank Mitra Niaga (NAGA), yaitu sebesar 3,9804. Saham yang memiliki beta yang lebih dari 1, hal ini menunjukkan bahwa saham ini merupakan saham yang agresif. Berdasarkan tabel 5, terdapat 16 saham yang memiliki β < 1. Beta yang bernilai positif dan bernilai kurang dari 1 dapat diartikan bahwa pasar (IHSG) naik, maka saham tersebut pun akan ikut naik tetapi kenaikannya selalu lebih rendah daripada kenaikan pasar. Terdapat 8 saham yang memiliki β < 0. Beta terendah sebesar -2,0123 yaitu pada perusahaan Bank Yudha Bhakti Tbk. Saham yang memiliki beta yang negatif dan bernilai kurang dari 1, pergerakannya akan berlawanan dengan pasar dimana jika pasar (IHSG) naik, maka saham akan turun lebih rendah dari persentase naiknya pasar sedangkan jika pasar sedang turun, maka saham akan naik tetapi kenaikannya tidak lebih tinggi dari penurunan pasar. Sedangkan untuk saham yang memiliki beta negatif lebih dari 1, pergerakannya akan berlawanan dengan pasar dimana jika harga IHSG naik, maka saham akan turun lebih tinggi dari presentase naiknya pasar.
Hasil Analisis Tingkat Pengembalian Yang Diharapkan [𝐄(𝑹𝒊)]
Tingkat pengembalian yang diharapkan adalah seberapa besar keuntungan yang diharapkan oleh investor dari investasi saham yang dilakukan. Dibawah ini terdapat tabel tingkat pengembalian yang diharapkan :
Tabel 6
Tingkat Pengembalian yang Diharapkan
No Kode Rf β E(Rm) E(Rm)- Rf β * (E(Rm)-Rf) E (𝑹𝒊) 1 NAGA 0.0039 3.9804 0.0058 0.0019 0.0076 0.0115 2 BGTG 0.0039 2.5627 0.0058 0.0019 0.0049 0.0088 3 BBHI 0.0039 2.3017 0.0058 0.0019 0.0044 0.0083 4 BBKP 0.0039 2.2204 0.0058 0.0019 0.0042 0.0081 5 BNGA 0.0039 2.0366 0.0058 0.0019 0.0039 0.0078 6 BDMN 0.0039 2.0278 0.0058 0.0019 0.0039 0.0078 7 INPC 0.0039 -1.8266 0.0058 0.0019 -0.0035 0.0004 8 AGRS 0.0039 1.9615 0.0058 0.0019 0.0037 0.0076 9 BJBR 0.0039 1.8236 0.0058 0.0019 0.0035 0.0074 10 BBRI 0.0039 1.6564 0.0058 0.0019 0.0031 0.0070 11 BBTN 0.0039 1.5532 0.0058 0.0019 0.0030 0.0069 12 BMRI 0.0039 1.3732 0.0058 0.0019 0.0026 0.0065 13 PNBN 0.0039 1.2961 0.0058 0.0019 0.0025 0.0064 14 MEGA 0.0039 1.2273 0.0058 0.0019 0.0023 0.0062 15 BBCA 0.0039 1.1858 0.0058 0.0019 0.0023 0.0062 16 BTPN 0.0039 1.1316 0.0058 0.0019 0.0022 0.0061 17 BJTM 0.0039 0.8396 0.0058 0.0019 0.0016 0.0055 18 MCOR 0.0039 0.8299 0.0058 0.0019 0.0016 0.0055 19 BKSW 0.0039 0.7878 0.0058 0.0019 0.0015 0.0054 20 NISP 0.0039 0.7875 0.0058 0.0019 0.0015 0.0054 21 BSIM 0.0039 0.7620 0.0058 0.0019 0.0014 0.0053 22 NOBU 0.0039 0.7323 0.0058 0.0019 0.0014 0.0053 23 SDRA 0.0039 0.6056 0.0058 0.0019 0.0012 0.0051
No Kode Rf β E(Rm) E(Rm)- Rf β * (E(Rm)-Rf) E (𝑹𝒊) 24 BNBA 0.0039 0.5570 0.0058 0.0019 0.0011 0.0050 25 ARTO 0.0039 0.5412 0.0058 0.0019 0.0010 0.0049 26 BBMD 0.0039 0.4038 0.0058 0.0019 0.0008 0.0047 27 BMAS 0.0039 0.3424 0.0058 0.0019 0.0007 0.0046 28 BNII 0.0039 0.3254 0.0058 0.0019 0.0006 0.0045 29 BBNP 0.0039 0.3095 0.0058 0.0019 0.0006 0.0045 30 BVIC 0.0039 0.2833 0.0058 0.0019 0.0005 0.0044 31 BNLI 0.0039 0.2759 0.0058 0.0019 0.0005 0.0044 32 BINA 0.0039 0.1789 0.0058 0.0019 0.0003 0.0042 33 BACA 0.0039 -0.0175 0.0058 0.0019 0.0000 0.0039 34 BABP 0.0039 -0.0546 0.0058 0.0019 -0.0001 0.0038 35 BEKS 0.0039 -0.1237 0.0058 0.0019 -0.0002 0.0037 36 MAYA 0.0039 -0.2513 0.0058 0.0019 -0.0005 0.0034 37 AGRO 0.0039 -0.5777 0.0058 0.0019 -0.0011 0.0028 39 DNAR 0.0039 -1.9275 0.0058 0.0019 -0.0037 0.0002 40 BBYB 0.0039 -2.0123 0.0058 0.0019 -0.0038 0.0001
Jumlah 0.2170
Rata-rata 0.0054
Sumber: Olahan Penulis
Terdapat 40 saham dengan tingkat pengembalian yang diharapkan positif. Dengan tingkat pengembalian tertinggi adalah sebesar 0,0115 atau sebesar 1,15% yaitu pada saham Bank Mitraniaga Tbk (NAGA). Saham Bank Mitra Niaga Tbk (NAGA) memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan positif karena saham NAGA memiliki beta yang paling tinggi. Sedangkan tingkat pengembalian terendah adalah sebesar 0,0001 atau sebesar 0,01 % yaitu pada saham Bank Yudha Bhakti (BBYB). Hal itu sesuai dengan metode CAPM, karena dalam metode CAPM hubungan antara keuntungan yang diharapkan dan risiko dari investasi mempunyai hubungan yang searah positif dan berbanding lurus.
Dapat disimpulkan bahwa saham sektor perbankan memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan positif pada periode tersebut.
Pengelompokan Saham-saham Efisien dan Keputusan Investasi
Saham yang efisien adalah saham-saham dengan tingkat pengembalian individu lebih besar dari tingkat pengembalian yang diharapkan [(Ri) > E(Ri)]. Sedangkan keadaan saham tidak efisien menunjukkan bahwa tingkat pengembalian individu (Ri) lebih kecil daripada tingkat pengembalian yang diharapkan [(E(Ri)].
Tabel 7
Daftar Saham Efisien
No Nama Perusahaan Kode Ri E (𝑹𝒊)
1 Bank Ina Perdana Tbk BINA 0.1286 0.0042
2 Bank Agris Tbk AGRS 0.1086 0.0076
3 Bank Harda Internasional Tbk BBHI 0.059 0.0083
4 Bank Yudha Bhakti Tbk BBYB 0.0492 0.0001
5 Bank Mayapada International Tbk MAYA 0.0464 0.0034
No Nama Perusahaan Kode Ri E (𝑹𝒊)
6 Bank Mitraniaga Tbk NAGA 0.046 0.0115
7 Bank Victoria International Tbk BVIC 0.0439 0.0044 8 Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk BEKS 0.0399 0.0037
9 Bank Jabar Banten Tbk BJBR 0.0393 0.0074
10 Bank Nationalnobu Tbk NOBU 0.034 0.0053
11 Bank Danamon Indonesia Tbk BDMN 0.0325 0.0078
12 Bank Dinar Indonesia Tbk DNAR 0.0313 0.0002
13 Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk BTPN 0.0265 0.0061
14 Bank Central Asia Tbk BBCA 0.022 0.0062
15 Bank Mega Tbk MEGA 0.0206 0.0062
16 Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga Tbk AGRO 0.0205 0.0028
17 Bank OCBC NISP Tbk NISP 0.0191 0.0054
18 Bank Capital Indonesia Tbk BACA 0.019 0.0039
19 Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk BBNI 0.0168 0.0077
20 Bank Bumi Arta Tbk BNBA 0.0156 0.005
21 Bank China Construction Bank Ind. Tbk MCOR 0.0141 0.0055 22 Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk BBRI 0.0139 0.007
23 Bank Mandiri (Persero) Tbk BMRI 0.013 0.0065
24 Bank Ganesha Tbk BGTG 0.0125 0.0088
25 Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk BBTN 0.0121 0.0069
26 Bank Arto Indonesia Tbk ARTO 0.0113 0.0049
27 Bank Nusantara Parahyangan Tbk BBNP 0.0102 0.0045 28 Bank Maspion Indonesia Tbk BMAS 0.0089 0.0046
29 Bank CIMB Niaga Tbk BNGA 0.0087 0.0078
30 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk BJTM 0.0076 0.0055
31 Bank Pan Indonesia Tbk PNBN 0.0059 0.0064
Sumber: Olahan Penulis
Berdadarkan tabel 7 terdapat 31 saham efisien dari 40 sampel penelitian saham sektor perbankan.
Saham peringkat satu, saham Bank Ina Perdana (BINA) memiliki selisih Ri dan E(Ri) paling besar yaitu sebesar 0,1244 atau sebesar 12,44%. Artinya, saham milik Bank Ina Perdana mampu memberikan keuntungan sesungguhnya senilai 12,44% dari return yang diharapkan oleh investor. Kriteria dalam menentukan keputusan investasi yaitu memilih saham efisien, saham-saham yang mempunyai return individu lebih besar dari tingkat pengembalian yang diharapkan (Ri > E(Ri). Keputusan investasi untuk saham efisien / good yaitu mempertimbangkan untuk membeli saham-saham tersebut.
Tabel 8
Daftar Saham Tidak Efisien
No Nama Perusahaan Kode Ri E (𝑹𝒊)
1 Bank Artha Graha International Tbk INPC -0.0009 0.0004
No Nama Perusahaan Kode Ri E (𝑹𝒊)
2 Bank Mestika Dharma Tbk BBMD -0.0021 0.0047
3 Bank Permata Tbk BNLI -0.006 0.0044
4 Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk SDRA -0.0057 0.0051
5 Bank Sinar Mas Tbk BSIM -0.0096 0.0053
6 Bank Bukopin Tbk BBKP -0.0103 0.0081
7 Bank QNB Indonesia Tbk BKSW -0.0136 0.0054
8 Bank MNC Internasional Tbk BABP -0.0153 0.0038 9 Bank Maybank Indonesia Tbk BNII -0.0231 0.0045 Sumber: Olahan Penulis
Berdasarkan tabel, terdapat 9 saham yang tidak efisien, keputusan investasi yang dilakukan terhadap saham-saham tidak efisien / not good yaitu mempertimbangkan untuk menjual saham-saham tersebut.
Implikasi Manajerial
Dalam metode CAPM hubungan antara keuntungan yang diharapkan dan risiko dari investasi mempunyai hubungan yang searah positif dan berbanding lurus. Hal ini dimaksudkan bahwa semakin besar keuntungan yang diharapkan makan semakin besar pula risiko yang ditanggungnya, begitu pula sebaliknya. Begitu pula dalam penelitian ini, beta tertinggi terdapat pada saham Bank Mitra Niaga (NAGA), yaitu sebesar 3.9804, mempunyai hubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan pada saham Bank Mitra Niaga (NAGA) yaitu sebesar 0,0115 atau sebesar 1,15%.
Perusahaan tersebut merupakan tingkat pengembalian saham yang tertinggi. Sebaliknya beta terendah terdapat pada saham perusahaan Bank Yudha Bhakti Tbk yaitu sebesar -2,0213, dan tingkat pengembalian yang diharapkan perusahaan tersebut adalah tingkat pengembalian yang diharapkan terendah yaitu sebesar 0,0001.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saham sektor perbankan memiliki saham yang efisien, karena rata-rata tingkat pengembalian (actual return) lebih tinggi dibandingkan dengan pengembalian yang diharapkan (expected return). Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian, yaitu terdapat 31 saham efisien dari 40 saham sektor perbankan.
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan diatas yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 31 saham perbankan dengan tingkat pengembalian rata-rata positif dan 9 saham perbankan dengan tingkat pengembalian rata-rata negatif.
2. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 16 saham yang memiliki β > 1, 16 saham yang memiliki β < 1, dan terdapat 8 saham yang memiliki β < 0. Rata-rata risiko sistematis saham perbankan sebesar 0.8030, sehingga secara umum 40 saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian memiliki risiko sistematis yang tidak terlalu tinggi.
3. Berdasarkan penelitian terdapat 40 saham dengan tingkat pengembalian yang diharapkan positif. Dengan tingkat pengembalian tertinggi adalah sebesar 0,0115 atau sebesar 1,15% yaitu pada saham Bank Mitraniaga Tbk (NAGA). Sedangkan tingkat pengembalian terendah adalah sebesar 0,0001 atau sebesar 0,01 % yaitu pada saham Bank Yudha Bhakti (BBYB).
4. Terdapat 31 saham yang termasuk dalam kategori saham efisien dan 9 saham perusahaan yang termasuk dalam kategori saham tidak efisien dari 40 saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian. Saham Efisien adalah dimana tingkat pengembalian saham (Ri) lebih besar daripada tingkat pengembalian yang diharapkan E(Ri).
KETERBATASAN PENELITIAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka keterbatasan dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian hanya menggunakan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Agar penelitian Capital Asset Pricing Model dapat tercermin dengan baik, objek penelitian dapat ditambahkan dengan sektor lain, seperti sektor keuangan lainnya selain perbankan.
2. Penelitian hanya menggunakan metode CAPM dalam menghitung risiko dan return saham. Oleh karena itu, bagi para peneliti selanjutnya agar dapat menggunakan metode perluasan CAPM.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan diatas, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1. Bagi Investor
(i) Apabila investor tertarik untuk menginvestasikan modalnya pada saham perbankan, sebaiknya investor memilih saham-saham yang mempunyai tingkat pengembalian rata-rata saham individu positif dan termasuk saham yang efisien.
(ii) Investor sebaiknya tidak melakukan investasi pada saham-saham yang memiliki tingkat pengembalian rata-rata saham individu negatif dan saham tidak efisien karena tingkat pengembalian lebih kecil daripada tingkat pengembalian yang diharapkan.
(iii) Bagi para investor yang memiliki sifat menyukai risiko (risk taker) maka sebaiknya memilih saham yang memiliki beta lebih dari satu.
(iv) Para investor yang cenderung menghindari risiko sebaiknya memilih saham yang memiliki beta kurang dari satu.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian terhadap pengembangan CAPM, seperti CCAPM (Consumption Capital Asset Pricing Model), LCAPM (Liquidity Adjusted Capital Asset Pricing Model), dsb. Dengan CAPM menjadi dasar konseptual untuk pengembangan CAPM tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. (2013). Investments (Asia Global Edition). Mc-Graw-Hill Companies.
Eugene F, B. (2005). Financial Management Theory and Practice. South-Western Cengage Learning : Singapore., 2005.
Hidayati, AA., & Suhadak (2012). Analisis Capital Asset Pricing Model (CAPM) Terhadap Keputusan Investasi Saham.
Keown, Martin, & Petty. (2014). Foundations of Finance the Logic and Practice of Financial Management. Jones, C. P. (2014). Investments Principles and Concepts. Wiley : Asia
Jogiyanto. (2013). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE.
Nasuha, R., & Dzulkirom, M. (2013). Analisis Metode Capital Asset Pricing Model Dalam Upaya Pengambilan Keputusan Terhadap Investasi Saham.
Qamar, M. Rizwan. (2014) Applicability of Capital Assets Pricing Model (CAPM) on Pakistan Stock Markets.
Shaikh, S. A. (2013). Testing Capital Asset Pricing Model on KSE Stocks. Journal of Managerial Sciences.
Sekarwati, H., & Margasari, N. (2015). Penggunaan Capital Asset Pricing Model Dalam Menentukan Keputusan Investasi Saham.
Tandelilin, E. (2010). Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Kanisius. Yogyakarta.
Yadnya, I. P. (2016). Penerapan Metode Capital Asset Pricing Model Sebagai Pertimbangan Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Saham,