• Tidak ada hasil yang ditemukan

ToR Seminar Nasional FT Maleo

N/A
N/A
Seksi PTN Wilayah 1 Mataue

Academic year: 2024

Membagikan " ToR Seminar Nasional FT Maleo"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

FOREST PROGRAMME III SULAWESI

KERANGKA ACUAN KERJA

Seminar Nasional Maleo 2023

“Indonesia Bangga Memiliki Maleo”

Penyelenggara:

Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu

Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Palu – Sulawesi Tengah

(2)

1

1) PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Taman Nasional Lore Lindu seluas 215.733,7 hektar yang berada di Sulawesi Tengah, merupakan salah satu kawasan konservasi terluas di Pulau Sulawesi.

Secara umum, taman nasional ini memiliki visi untuk mewujudkan sistem penyangga kehidupan dan konservasi keanekaragaman hayati sebagai bagian dari ekosistem terrestrial Wallacea untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Fungsi taman nasional ini akan dipertahankan keberadaannya sebagai kawasan konservasi yang menyangga kehidupan segala makhluk hidup yang ada di dalam maupun di sekitar kawasan taman nasional, baik kehidupan manusia maupun flora dan fauna beserta alam lingkungannya, sebagai satu kesatuan ekosistem yang tidak dapat dipisahkan dalam pengelolaannya.

Burung maleo merupakan salah satu satwa penting dan kunci TN Lore Lindu. Satwa ini juga sebagai salah satu flagship dalam setiap aksi kampanye perlindungan kawasan TN Lore Lindu mapun konservasi keanekaragaman hayati, tidak saja untuk Lore Lindu dan Sulawesi, namun juga untuk Indonesia dan dunia.

Dalam pengelolaan kawasan, Balai Besar TN Lore Lindu didukung oleh berbagai mitra, salah satu Forest Programme III Sulawesi, yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Federal Jerman dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Program ini dilaksanakan selama delapan tahun dari 2017-2024. Salah satu kegiatan kunci dari Forest Programme III Sulawesi adalah peningkatan populasi jenis-jenis kunci kawasan TN Lore Lindu, salah satunya adalah maleo.

Pada 2020 dalam kegiatan Festival Maleo di Gorontalo, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mencanangkan 21 November sebagai Hari Maleo Sedunia. Hari ini dipilih sebagai momentum penyebarluasan upaya konservasi maleo kepada banyak pihak di seluruh Indonesia dan dunia.

Selain itu, pada 27 Januari 2022 juga, Menteri KLHK juga telah menetapkan Keputusan Nomor SK.76/MENLHK/SETJEN/KSA.2/l/2022 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo) Tahun 2020- 2030. Rencana aksi atau SRAK ini bertujuan untuk memberikan arahan kebijakan dan teknis, serta acuan bagi para pelaku pembangunan, penggiat konservasi, perguruan tinggi, lembaga penelitian, badan usaha, penyandang dana dan media

(3)

2

masa di tingkat daerah, nasional dan internasional, serta para pihak lainnya dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun ke depan.

Untuk itu, dalam upaya meningkatkan kesadartahuan masyarakat tentang maleo secara luas, baik dari tingkat pemerintah daerah, akademisi, pengelola kawasan konservasi, maupun masyarakat umum khususnya di Sulawesi Tengah, maka perlu diadakan kegiatan acara/event khusus terkait maleo. Untuk itulah, Balai Besar TN Lore Lindu dengan dukungan Forest Programme III Sulawesi akan diselenggarakan Seminar Nasional Maleo, pada November 2023 ini.

B. Tujuan

Tujuan umum dari kegiatan ini adalah meningkatnya dan tersebarnya informasi mengenai maleo baik secara akademis (hasil-hasil penelitian) maupun populer kepada para pihak di Indonesia serta terdapat pertukaran informasi, pengetahuan, dan pembelajaran dari seluruh lokasi-lokasi peneluran maleo yang dikelola secara intensif di seluruh Sulawesi.

(4)

3

2) KONSEP PENGELOLAAN MALEO DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU

A. Maleo di Indonesia

Maleo senkawor Macrocephalon maleo merupakan burung anggota suku Megapodiidae yang hanya tersebar di Sulawesi, Bangka, Lembeh, dan Buton.

Secara nasional, jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor:

7/1999 beserta perubahan lampirannya berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/ Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018. Satwa maleo memiliki posisi yang cukup penting di Provinsi Sulawesi Tengah karena satwa ini telah ditetapkan sebagi maskot Provinsi Sulwesi Tengah pada tanggal 24 Februari 1990 melalui Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah, No.188.44/1067/RO/BKLH.

Secara global, maleo senkawor masuk dalam Appendix I CITES yang melarang perdagangan internationalnya. Saat ini, maleo termasuk dalam kategori kritis (Critically Endangered – CR), satu langkah menuju kepunahan, menurut kriteria IUCN karena pengurangan populasi yang sangat cepat yang disimpulkan dari ditinggalkannya lebih dari dua pertiga tempat bersarang yang diketahui dan pengurangan cepat dalam jumlah yang mengunjungi situs aktif yang tersisa selama tiga generasi terakhir. Selain itu, hutan dataran rendah hilang dengan kecepatan sedang hingga cepat di seluruh wilayah tersebut. Populasi global diperkirakan 8.000 – 14.000 individu dewasa (IUCN 2022).

Distribusi satwa maleo senkawor mendiami habitat berupa hutan tropis Sulawesi dari permukaan laut sampai ketinggian 1.200 mdpl. Selain itu satwa ini juga kadangkala dijumpai di hutan sekunder, perkebunan kelapa, dan habitat buatan manusia lainnya, khususnya jika area tersebut menjadi jalan/koridor untuk mencapai lokasi- lokasi peneluran. Lokasi peneluran maleo berada di daerah berpasir di pantai atau daerah vulkanik dan juga di tanah yang mendapatkan panas vulkanik/geothermal baik di hutan primer dataran rendah maupun perbukitan.

B. Kondisi Maleo di TN Lore Lindu

Saat ini, di Sulawesi Tengah tercatat 54 lokasi peneluran maleo, dengan 26 lokasi berada dalam kawasan konservasi dan 28 sisanya di luar kawasan konservasi. Dari 54 lokasi ini juga, 38 tercatat di pantai dan 13 di inland atau daratan.

(5)

4

Di TN Lore Lindu, tercatat 10 lokasi peneluran maleo (BirdLife International 2001).

Namun sampai saat ini hanya tercatat sekitar enam lokasi yang dinilai masih aktif, yaitu Pakuli, Saluki, Hulu Rawa, Kadidia, Mangku dan Taveki. Dalam konteks pelestarian satwa maleo beberapa tahun terakhir, Balai Besar TNLL masih fokus pada area nesting ground di Saluki. Beberapa intervensi yang telah dilakukan adalah pembangunan fasilitas demplot fasilitas seperti penetasan semi-alami dan kandang pembesaran. Berdasarkan hasil monitoring, populasi kunjungan maleo di lokasi peneluran maleo di Saluki dalam lima tahun terakhir menunjukkan nilai yang relatif stabil pada kisaran 800 individu (BBTNLL 2019). Di sisi lain area nesting ground maleo yang lainnya juga dilakukan intervensi melalui kegiatan patroli atau pemantauan habitat.

Dalam mendukung pengelolaan, Balai Besar TN Lore Lindu juga pada 2022 telah menyusun dokumen Rencana Strategis Peningkatan Populasi Maleo Senkawor di Taman Nasional dan Lanskap Lore Lindu, 2023-2033. Diharapkan dokumen ini dapat menjadi acuan dan arah bagi Balai Besar TN Lore Lindu dan mitra-mitra dalam setiap kegiatan dan upaya konservasi maleo di TN Lore Lindi dan lanskap sekitarnya.

C. Rencana Tahapan Pengelolaan Maleo di TN Lore Lindu

Pengelolaan dan pengembangan lokasi peneluran maleo di dalam kawasan TN Lore Lindu bertujuan untuk peningkatan populasi satwa maleo, baik di dalam kawasan maupun sekitar TN Lore Lindu. Salah satu indikasi peningkatan populasi dapat dilihat dari intensitas kunjungan pasangan maleo di lokasi peneluran yang dipantau.

Tingkat kunjungan atau pemanfaatan area nesting ground oleh pasangan maleo ditentukan oleh beberapa faktor yaitu intesitas aktivitas manusia di area nesting ground, ketersediaan sumber panas (panas bumi maupun sinar matahari) di lubang penetasan, serta kondisi tutupan lahan di area nesting ground tersebut.

Upaya peningkatan populasi maleo di kawasan TN Lore Lindu memerlukan dukungan infrastruktur dan pengelolaan yang memadai, seperti bak penetasan semi alami, aktivitas pemeliharaan area nesting ground, serta mengamanan habitat, koridor, maupun home range maleo secara umum.

Untuk itu, tahapan strategi yang sedang dan akan dilaksanakan oleh Balai Besar TN Lore Lindu dalam upaya pengelolaan maleo ini adalah:

a. Strategi 1: Meningkatkan populasi dan perbaikan kualitas habitat serta koridor maleo

(6)

5

Strategi ini difokuskan pada pengelolaan habitat bertelur, pengendalian predator alami dan satwa introduksi serta pengawasan secara khusus di lokasi intensif pengelolaan.

● Target 1: Terkelolanya lokasi-lokasi peneluran yang berada di Kawasan TNLL

● Target 2: Terlindunginya lokasi-lokasi peneluran yang berada di Kawasan TNLL dari gangguan manusia.

● Target 3: Hatchery dikembangkan dan berfungsi optimal

● Target 4: Terjaganya hutan jelajah dan koridor Maleo Senkawor ke lokasi- lokasi peneluran

● Target 5: Sarana penunjang pengelolaan lokasi peneluran tersedia

b. Strategi 2: Meningkatkan peran pemerintah, masyarakat dan pihak lainnya dalam mendukung usaha pelestarian maleo secara lokal.

● Target 6: Terdapat dukungan masyarakat yang optimal

● Target 7: Terwujud kerjasama pengelolaan lokasi peneluran dengan masyarakat sekitar

c. Strategi 3: Penguatan sistem pengelolaan data dalam pemantauan populasi dan habitat maleo.

● Target 8: Tersedia data base dan data monitoring.

(7)

6

3) RENCANA TEKNIS KEGIATAN SEMINAR NASIONAL MALEO 2023

A. Nama

Seminar Nasional Maleo 2023

B. Durasi dan Waktu

Seluruh rangkaian penyelenggaraan Seminar Nasional Maleo 2023 ini akan dilaksanakan selama 2 (dua) hari pada November 2023.

C. Lokasi Kegiatan

Rangkaian kegiatan Seminar Nasional Maleo 2023 akan diadakan diselenggarakan di dua lokasi utama, yaitu:

● Kegiatan seminar di Kota Palu, Sulawesi Tengah

● Kegiatan kunjungan lapangan (field-trip) di lokasi peneluran maleo Saluki dan pusat informasi maleo di Kantor Bidang Wilayah I Saluki, semuanya berada di Desa Tuva, Kabupaten Sigi.

D. Ruang Lingkup Seminar Nasional Maleo 2023

Kegiatan seminar nasional ini akan terdiri dari 2 (dua) kegiatan utama, yaitu:

I. Seminar

● Tema Utama

Indonesia Bangga Memiliki Maleo

● Tujuan

- Menginformasikan kondisi maleo terkini di Sulawesi

- Memperoleh dukungan luas untuk pelestarian maleo di Indonesia

● Lokasi Seminar

Seminar akan diselenggarakan di Kota Palu

● Waktu Seminar

- Seminar akan diselenggarakan selama 1 (satu) hari penuh, pada 21 November 2023.

- Seminar diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan Hari Maleo Sedunia setiap 21 November.

(8)

7

● Metodologi

- Seminar akan diselenggarakan dalam 4 (empat) sesi, yaitu Sesi Keynote-speaking, Sesi 1, Sesi 2, dan Sesi 3.

- Setiap sesi akan memiliki sub-tema tersendiri.

- Setiap sesi, pembicara akan menyampaikan paparan dalam bentuk panel yang dipandu oleh seorang moderator.

- Para pembicara akan menyampaikan paparan dalam bentuk oral dan/atau slide show dan/atau film, dengan durasi paparan 10 – 30 menit (tergantung pembicara dan sesi)

● Keynote-speaker dan tema bahasan

- Pembicara: Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies Genetik – Kementerian LHK Jakarta

- Tema bahasan: Kebijakan Pengelolaan Maleo (Macrocephalon maleo) di Indonesia dalam Implementasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Maleo Nasional.

- Moderator: Dr. Ir. Titik Wurdiningsih, M.Si. (Kepala Balai Besar TN Lore Lindu)

● Pembicara dan sub-tema bahasan

Sub-Tema 1: Kebijakan dan peran akademisi dalam konservasi maleo di Indonesia

Moderator: Wantoko, S.Hut.T (Kepala Bidang Teknis Konservasi – BBTNLL) Pembicara dan judul makalah:

1) Kondisi populasi maleo di Indonesia

Pembicara: Dr. Pramana Yudha (Universitas Atmajaya Yogyakarta)

2) Peran para akademisi dalam mendukung penelitian maleo Pembicara: Hadijah Azis Karim, S.Hut., M.Sc.

Sub-Tema 2: Kondisi maleo terkini di Sulawesi

Moderator: Assistant of Chief Technical Advisor - Forest Programme III Sulawesi

Pembicara dan judul makalah:

1) Upaya konservasi maleo di Sulawesi Utara dan Gorontalo Pembicara: Alfons Patandung (Wildlife Conservation Society – IP, Sulawesi)

(9)

8

2) Upaya konservasi maleo di Sulawesi Tengah

Pembicara: Dr. Ir. Sri Ningsih Mallombasang, M.P (Akademisi Universitas Tadulako)

3) Upaya konservasi maleo di Sulawesi Tenggara

Pembicara: Ali Bahri, S.Sos., M.Si. (Kepala Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai)

Sub-Tema 3: Budaya dan tantangan pelestarian maleo di Sulawesi Moderator: Zarlif

Pembicara dan judul makalah:

1) Adaptasi kearifan lokal dalam mendukung pelestarian maleo Pembicara: Kiplan Yasong (Masyarakat Toli-Toli)

2) Adaptasi kearifan lokal dalam mendukung pelestarian maleo Pembicara: Jafar (Masyarakat Towuti, Sulawesi Selatan)

● Peserta

Undangan peserta sebanyak 30 orang, yang berasal dari:

- Project Executing Agency – FP III Sulawesi, Bogor (2 orang) - Balai Besar TN Lore Lindu, Palu (5)

- Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Makassar (1) - Balai KSDA Sulawesi Utara, Manado (1)

- Balai KSDA Sulawesi Tengah, Palu (1) - Balai KSDA Sulawesi Tenggara, Kendari (1) - Balai TN Bogani Nani Wartabone, Kotamobagu (1) - Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, Palu (1) - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Sigi (1)

- Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Palu (1) - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah,

Palu (1)

- Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sigi, Sigi (1) - Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, IPB

University (1)

- Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1) - Universitas Hasanuddin, Makassar (1) - Universitas Sam Ratulangi, Manado (1) - Universitas Tadulako, Palu (1)

- Universitas Sulawesi Barat (1)

(10)

9

- Perkumpulan Burung Indonesia, Bogor (1) - Aliansi Konservasi Tompotika, Luwuk (1)

- Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) Pakuli Utara, Sigi (1) - Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) Kadidia, Sigi (1) - Kelompok Cakar Maleo, Sigi (1)

- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu (1)

- Sulawesi Community Foundation (SCF) Kota Palu (1)

● Akomodasi Peserta

Penyelenggara Seminar, Balai Besar TN Lore Lindu melalui FP III Sulawesi akan menyediakan akomodasi (penginapan) untuk seluruh peserta/

undangan, kecuali:

- PEA Forest Programme III Sulawesi

- Peserta/undangan yang berasal dari Kota Palu - Direktorat / Unit Pelaksana Teknis Lingkup KLHK

● Tata Waktu Tentative Acara Waktu Durasi

(menit) Kegiatan / Tema Paparan Pembicara dan Moderator 08.30-09.00 30’ Registrasi peserta Panitia

09.00-09.30 30’ Pembukaan:

- Pengantar - Laporan panitia

- Sambutan Direktur KKHSG sekaligus membuka acara - Doa

- MC - BBTNLL

- Direktorat KKHSG

- Panitia 09.30-09.45 15’ Break

09.45-10.30 45’ Keynote-speaking

Tema bahasan: Kebijakan

Pengelolaan Maleo (Macrocephalon maleo) di Indonesia dalam

Implementasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Maleo Nasional.

Pembicara: Direktorat KKHSG – KLHK Jakarta

Moderator: Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu 10.30-12.00 90’ Sesi 1

Sub-Tema: Kebijakan dan peran akademisi dalam konservasi maleo di Indonesia

Pembicara 1: Dosen Universitas Atmajaya Yogyakarta

(11)

10

Waktu Durasi

(menit) Kegiatan / Tema Paparan Pembicara dan Moderator 1) Kondisi populasi maleo di

Indonesia

2) Peran para akademisi dalam mendukung penelitian maleo

Pembicara 2: Peneliti Program Doktoral Universitas Gadjah Mada

Moderator: BBTN Lore Lindu

12.00-13.00 60’ Ishoma Panitia

13.00-14.30 90’ Sesi 2

Sub-Tema: Kondisi maleo terkini di Sulawesi

1) Upaya konservasi maleo di Sulawesi Utara dan Gorontalo 2) Upaya konservasi maleo di

Sulawesi Tengah

3) Upaya konservasi maleo di Sulawesi Tenggara

Pembicara 1: Wildlife Conservation Society – IP, Sulawesi.

Pembicara 2:

Akademisi Universitas Tadulako

Pembicara 3:

Balai Taman Nasional Rawa Aopa

Watumohai

Moderator: ACTA – FP III Sulawesi 14.30-16.00 90’ Sesi 3

Sub-Tema: Budaya dan tantangan pelestarian maleo di Sulawesi

1) Adaptasi kearifan lokal di Toli-Toli dalam mendukung pelestarian maleo

2) Adaptasi kearifan lokal di Towuti dalam mendukung pelestarian maleo

Pembicara 1:

Masyarakat Toli-Toli Pembicara 2:

Masyarakat Towuti Moderator: Djambata

16.00-16.30 30’ Break Panitia

16.30-16.45 15’ Pembacaan kesimpulan Panitia

16.45-17.00 15’ Penutupan MC

(12)

11

● Publikasi dan Sertifikat

Publikasi kegiatan akan disebarluaskan melalui:

- Website dan media sosial Balai Besar TN Lore Lindu - Website dan media sosial Forest Programme III Sulawesi

Balai Besar TN Lore Lindu juga akan menyebarkan press-release perihal kegiatan seminar untuk para jurnalis serta untuk konten berita pada website BBTNLL, FP III Sulawesi, dan KLHK.

Seminar juga akan dapat diakses secara online melalui media:

- Zoom-meeting (tautan akan disediakan penyelenggara)

- Youtube BBTNLL online (tautan akan disediakan penyelenggara) Panitia penyelenggara akan menyediakan sertifikat untuk para pembicara, moderator, dan peserta (online dan offline)

II. Kunjungan Lapangan (Field-trip)

● Tujuan

- Mengenalkan pengelolaan maleo oleh BBTNLL yang berada di salah satu lokasi peneluran maleo TNLL (Saluki)

- Memperoleh masukan untuk pengelolaan yang lebih baik terhadap lokasi-lokasi peneluran maleo yang ada di TNLL.

● Lokasi kunjungan lapangan

Kunjungan lapangan akan dilakukan di dua lokasi, yaitu:

- Lokasi peneluruan (nesting ground) maleo Saluki, Resort Simoro, Bidang Wilayah I BBTNLL (Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi).

- Pusat informasi maleo di kantor Bidang Pengelolaan Wilayah I BBTNLL (Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi).

● Waktu kunjungan lapangan

Kunjungan lapangan merupakan bagian dalam kegiatan Seminar Nasional Maleo 2023 yang diselenggarakan di Palu. Kunjungan lapangan akan diselenggarakan selama 1 (satu) hari penuh, pada 22 November 2023, sehari setelah kegiatan Seminar Nasional tersebut. Tata waktu kegiatan akan dirinci pada sub-bagian tersendiri.

● Metodologi

Kunjungan lapangan akan dilakukan melalui beberapa rangkaian kegiatan.

Kunjungan pertama adalah menuju lokasi peneluran maleo. Ketika di lokasi peneluran, kegiatan dilakukan dengan beberapa metode berikut:

(13)

12

- Paparan (kondisi dan prosedur yang ditetapkan di lokasi peneluran) - Menyaksikan proses (penggalian telur maleo, pemindahan dan

penanaman kembali telur maleo di dalam hatchery)

- Praktek (pelepasliaran anak maleo sesuai prosedur yang tepat; jika ada dan memungkinkan serta dilakukan secara terbatas)

- Diskusi.

Kunjungan kedua adalah meninjau pusat informasi maleo di Kantor Bidang Pengelolaan Wilayah I Saluki. Ketika di pusat informasi, kegiatan dilakukan dengan beberapa metode berikut:

- Paparan (fungsi, perkembangan, dan manfaat ruang informasi maleo) - Demo (beberapa fungsi yang ada di ruang informasi)

- Diskusi

● Peserta

Peserta seminar nasional yang akan mengikuti kunjungan lapangan pada tanggal 22 November 2023 sebanyak 16 orang undangan, yaitu yang berasal dari:

1. Direktorat KKHSG, Jakarta (1 orang)

2. Project Executing Agency – FP III Sulawesi, Bogor (2)

3. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (1) 4. Badan Riset dan Inovasi Nasional (1)

5. Balai TN Rawa Aopa Watumohai, Kendari (1)

6. Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Palu (1) 7. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sigi, Sigi (1) 8. IPB University, Bogor (1)

9. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1) 10. Universitas Hasanuddin, Makassar (1) 11. Universitas Sam Ratulangi, Manado (1)

12. Peneliti Program Doktoral Universitas Gadjah Mada (1) 13. Universitas Tadulako, Palu (1)

14. Wildlife Conservation Society – IP Sulawesi, Manado (1) 15. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu (1)

Kunjungan akan difasilitasi oleh tim BBTNLL (14 orang)

Peserta diharapkan mengenakan pakaian dan sepatu yang sesuai untuk kegiatan kunjungan lapangan.

● Akomodasi Peserta

(14)

13

Penyelenggara Kunjungan Lapangan, Balai Besar TN Lore Lindu melalui FP III Sulawesi akan menyediakan sarana transportasi menuju lokasi kunjungan lapangan.

● Tata Waktu Tentative Acara

Waktu Durasi

(menit) Kegiatan Lokasi Penanggung

Jawab 06.30-07.00 30’ Persiapan keberangkatan Hotel Panitia 07.00-08.30 90’ Perjalanan Palu ke Kantor

Bidang I Saluki (mobil)

Palu – Tuva Panitia

08.30-09.00 30’ Perjalanan Kantor Bidang I ke NG Saluki (motor ojek dan jalan kaki)

Kantor Bidang I – NG Saluki

Panitia

09.00-11.30 180’ Peninjauan pondok kerja dan lokasi peneluran maleo Saluki

NG Saluki Fasilitator:

- Kepala Balai Besar TNL

- Kepala Bidang I - PEH 11.30-12.00 30’ Perjalanan kembali dari

NG Saluki ke kantor Bidang I

NG Saluki – Kantor Bidang I

Panitia

12.00-13.00 60’ Peresmian Pusat Informasi Maleo Saluki

Kantor Bidang I - Kepala Bidang I - Panitia/MC

13.00-14.00 60’ Ishoma Kantor Bidang I Panitia

14.00-16.00 120’ Perjalanan kembali ke Palu

Tuva - Palu Panitia

Referensi

Dokumen terkait