TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM ILMU RESEP
PERCOBAAN 3 COMPOUNDING ERROR
NAMA : SINTIAWATI AJID NPM : 0941211028
KELOMPOK : 4 (EMPAT) KELAS : A
ASISTEN :ARFANI NURULADHA MESWARI, S.FARM
LABORATORIUM FARMASETIK DAN TEKNOLOGI SEDIAAN PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE
2025
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan peracikan obat?
Jawab:
Peracikan obat merupakan salah satu pekerjaan kefarmasian yang dapat dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang terdiri dari apoteker, sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi, dan asisten apoteker. Peracikan obat adalah penyediaan obat yang dibutuhkan oleh pasien secara
individu yang dibuat di apotek atau sarana kesehatan karena terbatasnya sediaan obat yang ada(Hepler,2017).
2. Apa saja parameter yang perlu diperhatikan dalam peracikan obat? Sebut dan jelaskan!
Jawab:
1. Identitas obat: mencakup nama obat yang digunakan, baik itu bahan aktif maupun bahan pembantu (eksipien). Identifikasi yang tepat sangat penting agar obat yang diberikan sesuai dengan yang dimaksud dan aman untuk digunakan.
2. Kualitas bahan baku: Bahan baku yang digunakan dalam peracikan obat harus memenuhi standar kualitas yang baik, termasuk kemurnian dan kestabilan.
Penggunaan bahan baku yang berkualitas buruk dapat menurunkan efektivitas dan keamanan obat.
3. Dosis: obat yang tepat sangat penting untuk memastikan efektivitas terapi. Dosis harus disesuaikan dengan usia, berat badan, kondisi medis, serta tingkat keparahan penyakit pasien. Overdosis atau dosis yang terlalu rendah bisa menyebabkan efek samping atau kegagalan pengobatan.
4. Bentuk sediaan obat: (seperti tablet, kapsul, salep, larutan, dll) perlu disesuaikan dengan cara penggunaan dan kebutuhan pasien. Misalnya, pasien yang sulit menelan pil lebih cocok dengan obat dalam bentuk cair atau sirup.
5. Kecocokan antara Bahan Baku dan Eksipien: Selain bahan aktif, obat juga mengandung eksipien yang berfungsi sebagai pengisi atau pengikat dalam sediaan obat. Kecocokan antara bahan aktif dan eksipien penting untuk mencegah interaksi yang tidak diinginkan yang dapat mengurangi efektivitas atau bahkan membahayakan pasien.
6. Stabilitas Obat: Peracikan obat harus memperhatikan stabilitas bahan yang digunakan, baik stabilitas kimia, fisik, maupun mikrobiologis. Obat yang tidak stabil dapat kehilangan efektivitas atau berpotensi berbahaya jika digunakan setelah waktu tertentu.
7. Interaksi Obat: Jika pasien sedang mengonsumsi obat lain, penting untuk memperhatikan kemungkinan interaksi antar obat yang dapat mengurangi efektivitas atau menyebabkan efek samping berbahaya. Pengawasan terhadap interaksi ini sangat penting dalam peracikan obat.
8. Metode Pembuatan: Prosedur pembuatan obat harus dilakukan dengan hati-hati, menjaga kebersihan, dan menggunakan teknik yang benar agar obat yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Keamanan dalam pembuatan obat perlu diperhatikan untuk menghindari kontaminasi atau kesalahan dalam peracikan.
9. Petunjuk Penggunaan: Petunjuk penggunaan obat yang jelas dan sesuai sangat penting agar pasien dapat menggunakan obat dengan cara yang benar, mengikuti dosis yang tepat, dan mengetahui cara penyimpanan obat yang baik.
10. Aspek Keamanan: Peracikan obat harus memperhatikan faktor keamanan, baik dari segi bahan yang digunakan, dosis, serta potensi efek samping. Keamanan bagi pasien harus menjadi prioritas utama dalam setiap peracikan obat (Reigh,2017).
3. Apa yang dimaksud dengan compounding error? serta jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya compounding error!
Jawab:
Compounding error (kesalahan dalam peracikan obat) merujuk pada kesalahan yang terjadi selama proses peracikan obat, yang dapat memengaruhi kualitas, efektivitas, atau keamanan obat yang diracik. Kesalahan ini bisa terjadi dalam berbagai tahap peracikan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga metode pembuatan dan pengemasan (Jhonson,2016).
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya compounding error antara lain:
Kesalahan Pengukuran: Tidak akurat dalam menimbang bahan aktif atau eksipien.
Kualitas Bahan Baku: Penggunaan bahan yang tidak sesuai standar.
Kesalahan Formulasi: Pemilihan bahan atau bentuk sediaan yang salah.
Interaksi Bahan: Reaksi tak diinginkan antara bahan baku atau eksipien.
Prosedur Pembuatan: Teknik pembuatan yang tidak tepat atau tidak steril.
Alat Rusak: Penggunaan alat yang tidak terkalibrasi atau rusak.
Penyimpanan Tidak Tepat: Obat disimpan pada kondisi yang salah.
Kurangnya Pengetahuan: Keterampilan atau pelatihan yang kurang pada tenaga medis (Suryawati,2017).
4. Jelaskan bagaimana peran farmasis dalam mengatasi kejadian compounding error!
Jawab:
Farmasis memainkan peran penting dalam mengatasi compounding error dengan memastikan bahan baku yang digunakan berkualitas baik dan sesuai standar. Mereka harus mengukur bahan aktif dan eksipien dengan akurat menggunakan alat yang terkalibrasi dengan benar. Selain itu, farmasis memilih formulasi dan sediaan obat yang tepat sesuai dengan kebutuhan pasien, mempertimbangkan faktor medis dan kemampuan pasien dalam mengonsumsi obat. Selama proses peracikan, farmasis mengawasi agar prosedur pembuatan dilakukan dengan benar, serta memeriksa potensi interaksi antara bahan obat yang digunakan. Farmasis juga memberikan instruksi penggunaan obat yang jelas kepada pasien dan memantau efek samping atau masalah yang muncul untuk memastikan obat yang diracik aman dan efektif (Hepler,2017).
5. Sebutkan regulasi di Indonesia yang mengatur tentang peracikan obat! Serta sebutkan sarana prasarana ruang peracikan di apotek sesuai regulasi atau standar yang berlaku!
Jawab :
Regulasi yang mengatur peracikan obat di Indonesia antara lain:
1. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
3. Peraturan BPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
Sarana dan prasarana ruang peracikan di apotek sesuai regulasi adalah:
1. Ruang terpisah: untuk peracikan obat.
2. Ventilasi yang baik: untuk sirkulasi udara.
3. Kebersihan dan sterilisasi: ruang dan peralatan.
4. Meja peracikan: yang bersih dan cukup luas.
5. Peralatan terstandarisasi: dan terkalibrasi.
6. Penyimpanan obat: yang sesuai ketentuan suhu dan kelembapan.
7. Pencahayaan yang cukup: di ruang peracikan.
Daftar pustaka
American Society of Health-System Pharmacists (ASHP). (2015). ASHP Guidelines on the Role of the Pharmacist in the Medication-Use Process. American Society of Health- System Pharmacists.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (2018). Peraturan Kepala BPOM Republik Indonesia No. 31 Tahun 2018 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). (2015). Pedoman Praktik Apoteker di Apotek.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan No.
72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Hepler, C. D., & Strand, L. M. (2017). Opportunities and responsibilities in pharmaceutical care. American Journal of Hospital Pharmacy, 47(3), 533- 543.
Johnson, M., & Miller, J. (2016). Pharmaceutical Compounding: A Guide for the Pharmacist. Pharmacy Practice, 15(2), 107-112.
Reig, M., & de la Torre, A. (2017). Pharmaceutical Compounding and its Role in the Healthcare System. Pharmaceutical Sciences & Research, 1(4), 25-32.
Suryawati, S., & Fadli, M. (2017). Kesalahan dalam Peracikan Obat: Penyebab dan Dampaknya dalam Pelayanan Kefarmasian. Jurnal Farmasi Indonesia, 28(1), 11-17.