• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRADISI ADAT 34 PROVINSI DI INDONESIA

N/A
N/A
kartini bangka

Academic year: 2024

Membagikan "TRADISI ADAT 34 PROVINSI DI INDONESIA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TRADISI ADAT

34 PROVINSI DI INDONESIA

D I S U S U N OLEH :

NADIRA ASSYIFA PUTRI

KELAS : V B

SD NEGERI 15 PARIT PADANG

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

(2)

1. NAGGROE ACEH DARUSSALAM

Upacara Peutron Tanoh (Turun Tanah)

Upacara turun tanah (peutron tanoh) diadakan setelah bayi berumur tujuh hari atau 2 tahun. Dalam jangka waktu yang cukup untuk mempersiapkannya, lebih-lebih anak pertama yang sering diadakan upacara cukup besar, dengan memotong kerbau atau lembu. Pada upacara ini bayi digendong oleh seseorang yang terpandang, baik perangai dan budi pekertinya. Orang yang menggendong memakai pakaian yang bagus-bagus. Waktu turun dari tangga ditundungi dengan sehelai kain yang dipegang oleh empat orang pada setiap sisi kain itu. Di atas kain tersebut dibelah kelapa agar bayi tadi tidak takut terhadap suara petir. Belahan kelapa dilempar dan sebelah lagi dilempar kepada wali karong. Salah seorang keluarga dengan bergegas menyapu tanah dan yang lain menampi beras bila bayi itu perempuan, sedangkan bila bayi itu laki-laki salah seorang keluarga tersebut mencangkul tanah, mencencang batang pisang atau batang tebu. Kemudian sejenak bayi itu dijejakkan di atas tanah dan akhirnya dibawa berkeliling rumah atau mesjid sampai bayi itu dibawa pulang kembali ke rumah.

2. SUMATERA UTARA

Martutu Aek, Tradisi Pembaptisan Batak Kuno

Martutu aek adalah pembaptisan, pada tradisi Batak kuno, dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang). Upacara ritual ini dimulai dengan doa yang disampaikan oleh Ulu Punguan kepada Mulajadi na Bolon. Kemudian sang Ulu Punguan membentangkan ulos ragi idup di atas pasir. Lalu Ulu Punguan meneteskan minyak kelapa ke dalam cawan yang telah berisi jeruk purut untuk memastikan bahwa tondi si bayi tersebut berada di dalam badan.

Setelah itu, bayi yang hendak diberi nama dimandikan di mata air. Ulu Punguan lalu menyapukan kunyit ke tubuh bayi dan menguras bayi tersebut degan jeruk purut. Setelah diuras, Ulu Punguan mengoleskan minyak kelapa ke dahi bayi. Lalu, Ulu Punguan mencabut pisau Solam Debata yang dibawanya untuk memberkati bayi tersebut. Dengan memohon kepada Mulajadi Na Bolon, Ulu Punguan menarikan kain putih agar kain putih tersebut diberkati oleh Mulajadi Na Bolon sebagai pembungkus bayi agar mereka di kemudian hari jauh dari marabahaya.

(3)

3. SUMATERA BARAT

Balimau

Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.

Latar belakang dari balimau adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Secara lahir, mensucikan diri adalah mandi yang bersih. Zaman dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tak ada sabun, wilayah yang kekurangan air, atau bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab yang lain. Saat itu pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.

4. RIAU

Upacara Bakar Tongkang

Ritual bakar tongkang yang diselenggarakan warga etnis tonghoa di Bagansiapiapi, Provinsi Riau, setiap bulan Juni, menurut warga disana memiliki makna tersendiri.

Para leluhur yang menemukan Bagansiapiapi bertekad untuk tidak kembali ketempat asal dengan membakar kapal tongkang yang mereka gunakan untuk tinggal selamanya di Bagansiapiapi.

Makna dari pembakaran kapal adalah upacara peringatan atas dewa laut Ki Ong Yan dan Tai Su Ong yang merupakan sumber dua sisi, antara baik dan buruk, suka dan duka, serta rejeki dan malapetaka.

(4)

5. KEPULAUAN RIAU

Upacara Basuh Lantai

Di kalangan orang Daik-Lingga ada sebuah upacara yang disebut sebagai

“basuh lantai”. Secara etimologis nama upacara ini terdiri atas dua kata, yaitu basuh yang berarti “mencuci atau membersihkan” dan lantai yang berarti “alas rumah atau lantai”. Jadi, secara keseluruhan basuh lantai berarti “membersihkan lantai”. Bisa jadi, ini ada kaitannya dengan keadaan yang sesungguhnya, yaitu membersihkan lantai dari percikan darah pada saat seseorang melahirkan, karena upacara ini sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup individu), khususnya yang berkenaan dengan kelahiran. Lepas dari itu, yang jelas orang Daik-Lingga mempercayai bahwa lantai ada penghuninya. Untuk itu, jika terkena darah, khususnya darah perempuan yang sedang melahirkan, lantai tersebut harus

“dibersihkan” dengan cara disiram dengan air, diminyaki, dibedaki, dan disisiri.

Pendek kata, diperlakukan bagaikan manusia. Jika tidak, makhluk halus yang menempati lantai akan mengganggu, tidak hanya orang yang membantu kelahiran (Mak Dukun atau Mak Bidan), melainkan juga ibu dan atau bayinya. Misalnya, bayi akan menangis secara terus-menerus atau sakit-sakitan. Agar ibu dan anak yang dilahirkan serta dukun selamat, maka perlu diadakan suatu upacara. Dan, upacara itu, sebagaimana telah disebutkan di atas, bernama “basuh lantai”. Tujuannya bukan semata-mata agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang menempati lantai, tetapi juga sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena proses kelahiran dapat berjalan lancar.

6. JAMBI

Upacara Lingkaran Hidup Manusia

Upacara Lingkaran Hidup Manusia: Upacara-upacara ini dilakukan sejak seseorang dilahirkan sampai meninggal, dengan artian untuk memperingati saat-saat seseorang individu memasuki suatu tingkatan sepanjang hidupnya.

Penyelenggaran upacara ini terutama pada masa kehamilan, kelahiran, dewasa, perkawinan, dan kematian.

(5)

7. SUMATERA SELATAN

Upacara Sedekah Rame

Sedekah Rame merupakan salah satu upacara tradisional suku Lahat yang menetap di daerah Sumatera Selatan. Disebut demikian, karena kegiatan dalam upacara itu diselenggarakan secara bersama-sama oleh masyarakat setempat, terutama bagi para anggotanya yang memiliki lahan persawahan. Nama upacara tersebut apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia umum sepadan dengan "Sedekah bersama-sama". Upacara ini utamanya diselenggarakan oleh para petani dalam rangka kegiatan pertanian, mulai dari penyiangan sawah, pembibitan, dan penanaman sampai panen. Upacara ini dilakukan di daerah Sumatera Selatan yang bernama Tanah Badahe Setueyang letaknya berada di tengah-tengah sawah dengan cara membakar menyan, membuat ritual kepada roh, dan menyalahkan api unggun. Maksud dan tujuan upacara ini ialah agar masyarakat memperoleh perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa atas tanaman yang mereka tanam. Upacara ini juga dilaksanakan dengan satu harapan agar para petani memperoleh hasil panen yang lebih baik dan lebih banyak. [1] Upacara ini merupakan ucapara yang sangat terkenal dikalangan petani, secara khusus di Sumatera Selatan

8. BANGKA BELITUNG

Perang Ketupat

Perang ketupat dDi Bangka Belitung, tepatnya di pulau Bangka sering disebut dengan ruah tempilang. Acara ini diselenggarakan setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Tempilang, Bangka Barat. Pada saat acara ini berlangsung, penduduk sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara ini akan membuka pintu rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka.

Perang ketupat adalah acara inti dari semua prosesi dari acara.Tujuan utama digelar perang ketupat sebagai kesejahteraan masyarakat. Semua orang-orang berkumpul di Pantai Tempilang, kemudian pada saat meriam dinyalakan bertanda acara dimulai. Orang-orang saling melempar ketupat ke setiap orang yang mereka temui. Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka. Banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini.

(6)

9. BENGKULU

TABOT

Upacara tradisional yang dinamakan dengan "Tabot" dan sering juga diucapkan dengan nama "Tabut", di lain dareah yaitu Sumatera Barat dikenal dengan nama "Tabui" adalah merupakan upacara berkabung Kaum Syi'ah. Karena upacara ini sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di sebagian masyarakat Kota Bengkulu, maka akhirnya dipandang sebagai upacara tradisional orang Bengkulu. Baik dari kalangan kaum Sipai maupun oleh seluruh masyarakat Melayu Bengkulu. Dengan demikian jadilah Upacara Tabot sebagai Upacara Tradisional dari suku Melayu Bengkulu.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, nama "Tabut" berasal dari kata Arab yaitu Tabut, yang secara harfiah berarti Kotak Kayu atau Peti. Konon menurut kepercayaan kaum Bani Israil pada waktu itu bahwa bila Tabut ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka, akan mendatangkan kebaikan bagi mereka.

Namun sebaliknya bila Tabut tersebut hilang maka akan dapat mendatangkan malapeta bagi mereka.

10. LAMPUNG

Cakak Pepadun

Pepadun adalah bangku atau singgasana kayu yang merupakan simbol status sosial tertentu dalam keluarga. Upacara ini dimulai dengan prosesi ngakuk maju (mengambil mempelai wanita), kemudian dilanjut dengan begawi turun diwai atau Cakak Pepadun. Memasuki tahapan utama yaitu Musyawara adat atau dikenal dengan istilah upacara Merwatin. Selanjutnya penyerahan siger (tempat sirih) yang berisi galang siri atau uang dilanjutkan dengan upacara pemotongan kerbau untuk menjamu para penyimbang.

Selanjutnya tabuhan alat musik khas Lampung disertai dengan tembakan mengiringi tahapan arak-arakan penyimbang dari pihak pria ketempat mempelai wanita. Pada tahapan ini kita dapat menikmati aksi kesenian pencaksilat. Pada tahapan ini masing-masing juru bicara berdialog dan menyerahkan barang bawaan dari pihak mempelai pria. Dilanjutkan dengan tahapan musek(menyuapi kedua mempelai), barulah Tari Cangget hingga Cakak Pepadun calon penyimbang didudukan di singga sana.

(7)

11. DKI JAKARTA

NGEDELENGIN

Proses ngedelengin diawali dengan kunjungan Mak Comblang menemui orang tua perempuan si gadis. Pembicaraannya tak to the point. Baru setelah menjurus tentang maksudnya, baru Mak Comblang meminta orang tua untuk memanggil si gadis. Setelah itu, barulah orang tua si gadis menceritakan kelebihan anaknya yang sudah bisa masak dan tamat ngaji. Di sini memperlihatkan orang Betawi mementingkan calon mantu yang taat akan agama. Peran Mak Comblang ini menjadi penting untuk mendapatkan mantu perempuan yang punya kualitas baik dari banyak sisi.

Dalam proses ngedelengin, biasanya Mak Comblang memberikan uang sembe yang dimasukin ke amplop buat si gadis. Biasanya yang medatangi si gadis bukan hanya satu Mak Comblang, bisa dua atau tiga. Di sini peran Mak Comblang penting buat memberi tahu kelebihan dari jejaka yang ingin mecari calon mantu. Pihak keluarga perempuan bisa memilih calon yang disukainya. Sementara bagi Mak Comblang yang ditolak mesti berlapang dada.

12. JAWA BARAT

NGALAKSA

Ngalaksa adalah salah satu upacara adat Sunda sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas kesuksesan dan keberhasilan panen yang diperoleh masyarakat.

Upacara adat Ngalaksa dilaksanakan pada setiap masa menjelang panen.

Upacara tersebut terdiri dari tarian Rengkong yang diiringi dengan tarian tradisional Ngalaksa yang biasanya diadakan setiap bulan Juni. Upacara adat Ngalaksa adalah sejenis upacara membawa padi ke lumbung, rengkong adalah sebuah gandar untuk membawa beras yang berlubang. Di dalam tarian rengkong gandar dibawa oleh orang-orang sambil berjalan menari ke lumbung padi.

Saat orang-orang berjalan menuju lumbung padi, lubang yang ada di dalam gandar menghasilkan bunyi musik yang memiliki ritme yang sama dengan orang yang berjalan mengikuti upacara tersebut. Upacara adat Ngalaksa masih dijalankan oleh masyarakat Sunda di Rancakalong, Sumedang, dengan menggelar upacara adat ini selama satu minggu tanpa henti plus diiringi seni tradisional tarawangsa.

(8)

13. BANTEN

TURUN NYAMBUT

Upacara ini dilakukan untuk mengawali mempersiapkan lahan yang akan ditanami padi, membersihkan, mencangkul dan meratakan sawah hingga mempersiapkan bibit padi (tebar binih).

14. JAWA TENGAH

KENDUREN/SELAMETAN

Kenduren pada dasarnya adalah ritual selametan yakni berdoa bersama yang dihadiri para tetangga dan dipimpin oleh pemuka adat atau tokoh yang dituakan di satu lingkungan. Biasanya disajikan juga tumpeng lengkap dengan lauk pauknya yang nantinya akan dibagikan kepada yang hadir.

Dalam tradisi Jawa, Kenduren sendiri terdiri dari berbagai jenis. Kenduren Wetonan, Sabanan, Likuran, Badan, Ujar, dan Muludan.

Kendurenan Wetonan merupakan selametan yang dilakukan pada hari lahir. Hal in ini juga kerap dilakukan hampir setiap warga. Tidak semua anggota keluarga dilakukan tradisi Kenduren Weton saat ia merayakan hari lahir. Biasanya satu keluarga hanya merayakan satu kali wetonan yakni pada saat hari lahir anak tertua dalam keluarga tersebut.

(9)

15. DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SEKATEN

Sekaten atau upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad SAW yang diadakan pada setiap tanggal 5 bulan JawaMulud (Rabiul Awal tahun Hijriah) di Alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini

dahulu dipakai oleh SultanHamengkubuwana I, pendiri

keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.

16. JAWA TIMUR

UPACARA KASADA

Hari Raya Yadya Kasada adalah sebuah hari upacara sesembahan berupa persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Setiap bulan Kasada hari-14 dalam Penanggalan Jawa diadakan upacara sesembahan atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur, kisah Rara Anteng (Putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (Putra Brahmana) "asal mula suku Tengger di ambil dari nama belakang keduanya", pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, yang mempunyai arti

“Penguasa Tengger yang Budiman”. Mereka tidak di karunia anak sehingga mereka melakukan semedi atau bertapa kepada Sang Hyang Widhi, tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

(10)

17. BALI

NGABEN

Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Beberapa pengertian dari Ngaben, sebagai berikut : 1. Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). 2. Versi lain mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka. 3. Versi lain, Ngaben berasal dari nge - "abu" - in. Disandikan menjadi Ngaben, merupakan upacara pengembalian unsur tubuh kepada unsur alam.

18. NUSA TENGGARA TIMUR

REBA

Upacara Adat Reba merupakan upacara adat yang bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan rasa terima kasih terhadap jasa para leluhur. Upacara ini juga digunakan untuk mengevaluasi segala hal tentang kehidupan bermasyarakat pada tahun sebelumnya yang telah dijalani oleh masyarakat Ngada. Melalui upacara ini, keluarga dan masyarakat meminta petunjuk kepada tokoh agama dan tokoh adat untuk dapat menjalani hidup lebih baik pada tahun yang baru. Upacara ini diadakan setiap tahun baru, tepatnya di bulan Januari atau Februari.

(11)

19. NUSA TENGGARA BARAT

NENARIH ATAU BELATOAN

Merarik adalah bahasa sasak yang artinya menikah, di daerah lombok sendiri upacara pernikahan dilakukan dengan cara yang unik yaitu pertama mempelai perempuan akan diculik oleh si mempelai laki-laki dan di bawa kerumahnya, dimana hal ini sebelumnya sudah ada kesepakatan terlebih dahulu dengan orang tua mempelai perempuan.Singkat cerita setelah hal tersebut dilakukan maka besoknya akan dilakukan sebuah prosesi ijab kaboul untuk mengesahkan pernikahan dua pasangan tersebut.

20. KALIMANTAN BARAT

NGARAK PENGANTEN

Upacara perkawinan bagi masyarakat Melayu merupakan hal yang sangat sakral. Begitu sakral upacara ini sehingga merupakan bagian yang paling utama dalam ritus-ritus peralihan (rites of the passage). Masyarakat Melayu sebagai masyarakat berbudaya mengenal adat istiadat perkawinan yang dipatuhi dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan suatu perkawinan. Adat istiadat perkawianan dalam masyarakat Melayu berfungsi sebagai pedoman tingkah laku dalam melaksanakan upacara perkawinan.

Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan masyarakat Melayu yang sangat penting. Melalui perkawinan seseorang akan mengalami perubahan status dan dalam sistem kekerabatan, perkawinan seseorang juga akan mempengaruhi sifat hubungan kekeluargaan, bahkan dapat pula menggeser hak serta kewajiban untuk sementara anggota kerabat lainnya.

(12)

21. KALIMANTAN TENGAH

WADIAN

Wadian adalah salah satu upacara adat suku Dayak (Dusun, Maanyan, Lawangan, Bawo) yang menganut Kaharingan [1] di antaranya dalam rangka pengobatan terhadap orangsakit. Zaman dahulu kala, saat pengobatan medis tidak semaju sekarang, orang-orang Dayak memanfaatkan jasa wadian untuk mengobati sakit yang mereka derita. Lama atau tidaknya ritual pengobatan tergantung dari parah tidaknya penyakit yang diderita,Upacara Wadian dapat berlangsung selama 1 minggu lebih.Jenis wadian antara lain: Wadian Pangunraun (Pangunraun Jatuh,Pangunraun Jawa),Wadian Dapa,Wadian Tapu Unru, wadian dadas, wadian bawo, wadian bulat.

Dewasa ini, selain untuk pengobatan, wadian juga telah dikembangkan sedemikian rupa menjadi salah satu kesenian daerah yang dapat dinikmati sebagai sebuah atraksi kesenian yang sangat menarik. dan juga digunakan pada waktu upacara perkawinan yang biasa disebut wurung jue

22. KALIMANTAN SELATAN

ARUH BAHARIN

Aruh Baharin adalah upacara adat yang digelar oleh masyarakat Suku Dayak Dusun Halong yang berdomisili di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, setelah musim panen padi ladang (pahumaan) usai.[1] Dalam tradisi mereka, beras hasil panen (baras hanyar) belum boleh dimakan sebelum menggelar upacara Aruh Baharin.

[1] Biasanya, upacara adat ini dipusatkan di balai adat, rumah adat, atau di tempat-tempat khusus yang sengaja dibuat untuk keperluan upacara.

(13)

23. KALIMANTAN TIMUR

MAMANDA

Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip denganLenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar- komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.

Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).

Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.

24. KALIMANTAN UTARA

BUANG PANTANG

Buang Pantang di sini dimaksudkan sebagai membuang semua kesialan, keburukan atau hal-hal yang tidak diinginkan atau hal-hal yang tidak diharapkan dapat terjadi pada keluarga yang ditinggalkan. Setiap keluarga yang datang akan ikut dalam tarian, diiringi musik dan nyanyian. Selain pihak keluarga, para tamu undangan yang hadirpun, diperbolehkan ikut.

Salah satu jenis minuman yang tidak luput dari hidangan adalah pengasih.

Minuman ini bisa memabukkan jika terlalu banyak diminum. Pengasih ini terbuat dari ubi kayu yang direbus kemudian dipotong-potong, dicampur dengan ragi kemudian di simpan di dalam tempayan (wadah yang biasa kita sebut guci). Ragi yang digunakan adalah ragi buatan sendiri, campuran dari bahan-bahan seperti beras, cabe rawit, daun pepaya (dan mungkin campuran bahan lainnya), ditumbuk halus, dijemur , diayak, sampai berjamur, lalu kemudian dicampurkan dengan bahan utama ubi kayu tadi. Setelah itu dimasukkan ke dalam tempayan, di diamkan selama beberapa minggu.

(14)

25. SULAWESI UTARA

MUPUK IM BENE

Sebenarnya upacara Mupuk Im Bene itu hakikatnya mirip dengan upacara syukuran selepas melaksanakan panen raya, seperti halnya yang lazim kita saksikan di pulau Jawa ketika menggelar acara mapag sri dan atau munjungan. Dan memang, esensi dari ritual ini sendiri adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala rizki yang mereka dapat, atau yang dalam bahasa setempat disebut dengan Pallen Pactio. Prosesi dari upacara adat ini adalah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut: Masyarakat yang hendak melaksanakan upacara Mupuk Im Bene ini membawa sekarung padi bersama beberapa hasil bumi lainnya ke suatu tempat dimana upacara ini akan dilakanakan (biasanya di lapangan atau gereja) untuk didoakan. Kemudian selepas acara mendoakan hasil bumi ini selesai maka dilanjutkan dengan makan-makan bersama aneka jenis makanan yang sebelumnya telah disiapkan oleh ibu-ibu tiap rumah.

26. SULAWESI BARAT

PADUNGKU

Padungku sebenarnya berasal dari bahasa Pamona yang berarti semua sudah rapi, sudah tertib,sudah tuntas. Hal ini disimbolkan dengan dua hal: pertama, padi sudah tersimpan di lumbung. Kedua, alat pembajak sudah dibersihkan dan ditempatkan di bawah rumah (kolong rumah). Ketika kedua hal tersebut sudah dilakukan oleh seluruh petani di satu desa maka diadakan pesta bersama yang disebut mo padungku. Dalam mo padungku, semua petani mengolah padi yang mereka panen dan simpan, terutama padi pertama yang dipanen dan disimpan di lumbung. Hasil olahan itu dimakan bersama-sama dengan seluruh warga desa melalui molimbu. Molimbu adalah kegiatan makan bersama dimana seluruh penduduk membawa makanan masing-masing dari rumah mereka dan saling membagikan makanan untuk dimakan bersama-sama di Lobo atau baruga desa (balai desa). Nasi bambu adalah nasi khas yang menjadi olahan wajib saat Padungku. Perayaan padungku sudah berlangsung di Poso sejak zaman dulu sebelum masyarakat belum mengenal agama. Nilai-nilai didalam padungku memiliki makna yang dalam saling berbagi tanpa mengenal suku dan agama.

(15)

27. SULAWESI TENGAH

RITUAL MORA’AKEKE

Mora’akeke merupakan ritual yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar meredupkan sinar matahari yang menyebabkan kemarau panjang sekaligus menambah deras air sungai Vuno yang mengering. Banyak persiapan dan perlengkapan yang dilakukan dalam ritual Mora’akeke. Mulai dari Topogimba, Menyembelih tiga ekor kambing, babi dan anjing, serta mempersiapkan Bayaha dan Vunja.

Topogimba ini merupakan dua orang penabuh gendang. Mereka diperlukan sebagai pertanda prosesi ritual Mora’akeke dimulai. Setelahnya, tiga ekor kambing akan disembelih di pinggir Sungai Vuno, para tetua adat akan menghanyutkan darah ketiga hewan tersebut sebgai persembahan untuk Nteka (penguasa sungai). Daging kambing yang disembelih tadi akan dimasak oleh warga sebagai rasa syukur atas terselenggaranya ritual adat ini.

28. SULAWESI TENGGARA

MONAHU NDAU

Monahu Ndau, adalah sebuah prosesi ritual adat yang kini kembali dibangkitkan di Kolaka setelah hilang beberapa tahun terakhir. Terbukti saat digelar di pusat wisata permandian air panas, Mangolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara, prosesi ini dipadati ratusan pengunjung dari berbagai wilayah.

Monahu Ndau ini ada sejak zaman nenek moyang, tetapi seiring perkembangan zaman, ritual ini pun seakan dilupakan. Padahal ritual Monahu Ndau sendiri memiliki makna yang luar biasa, yaitu rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat.

(16)

29. SULAWESI SELATAN

ACCERA KALOMPONG

Accera Kalompoang merupakan upacara adat untuk membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Gowa yang tersimpan di Museum Balla Lompoa. Inti dari upacara ini adalah allangiri kalompoang, yaitu pembersihan dan penimbangan salokoa (mahkota) yang dibuat pada abad ke- 14. Mahkota ini pertama kali dipakai oleh Raja Gowa, I Tumanurunga, yang kemudian disimbolkan dalam pelantikan Raja- Raja Gowa berikutnya. Adapun benda-benda kerajaan yang dibersihkan di antaranya: tombak rotan berambut ekor kuda (panyanggaya barangan), parang besi tua (lasippo), keris emas yang memakai permata (tatarapang), senjata sakti sebagai atribut raja yang berkuasa (sudanga), gelang emas berkepala naga (ponto janga-jangaya), kalung kebesaran (kolara), anting-anting emas murni (bangkarak ta‘roe), dan kancing emas (kancing gaukang). Selain benda-benda pusaka tersebut, juga ada beberapa benda impor yang tersimpan di Museum Balla Lompoa turut dibersihkan, seperti: kalung dari Kerajaan Zulu, Filipina, pada abad XVI; tiga tombak emas; parang panjang (berang manurung); penning emas murni pemberian Kerajaan Inggris pada tahun 1814 M.; dan medali emas pemberian Belanda.

30. GORONTALO

MOMUHUTO

Dalam sekian banyak upacara adat, salah satu di an- taranya adalah pohutu (upacara negeri). Pohutu merupakan upacara resmi, resmi dalam pengertian bahwa pelaksanaan harus berdasarkan pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh adat itu sendiri. Salah satu puhutu yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Gorontalo adalah upacara adat MOME’ATI (membe’at) yaitu perjanjian/ikrar, dengan inti pengucapan kalimat syahadat, melak- sanakan Rukun Islam, Rukun Iman secara utuh, sebagai seorang muslim perempuan yang mulai timbul tanda kedewasaannya (Haid) atau dalam istilah Gorontalo disebut TADULAHU.

(17)

31. MALUKU

ACARA OBOR PATTIMURA

Setiap tanggal 15 Mei, di Maluku pemerintah bersama rakyat setempat melakukan prosesi adat dan kebangsaan dalam memperingati hari Pattimura. Yang paling terkenal adalah lari obor dari Pulau Saparua menyebrangi lautan menuju Pulau Ambon, untuk selanjutnya diarak-arak sepanjang 25 kilometer menuju kota Ambon.

Prosesi ini diawali dengan pembakaran api obor secara alam di puncak Gunung Saniri di Pulau Saparua. Gunung Saniri adalah salah satu ritus sejarah perjuangan Pattimura karena di tempat itulah, awal dari perang rakyat Maluku melawan Belanda tahun 1817.

32. MALUKU UTARA

KOLOLI KIE

Menurut bahasa setempat, Kololi Kie memiliki arti “keliling gunung”. Jadi, upacara adat ini merupakan ritual mengelilingi sebuah gunung di Pulau Ternate, yaitu Gunung Gamalama. Gunung Gamalama merupakan gunung aktif dengan ketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut (dpl) yang menjadi ikon pulau penghasil cengkeh ini.

Menurut situs bkpmd.malutprov.go.id, Upacara Adat Kololi Kie biasanya diadakan apabila terdapat gejala alam yang menandai bakal meletusnya Gunung Gamalama, yang dapat mengganggu ketenangan masyarakat Ternate. Namun pada perkembangannya, selain untuk menghormati keberadaan Gunung Gamalama, upacara adat ini juga menjadi ritual pihak kesultanan dalam menghormati leluhur- leluhur mereka.

Ancaman yang ditimbulkan oleh sebuah gunung terkadang dapat melahirkan satu tradisi yang khas. Menurut Andaya (dalam Reid, 1993: 28-29), di beberapa kawasan di Asia Tenggara, termasuk di daerah Maluku Utara, gunung dianggap sebagai representasi penguasa alam. Oleh sebab itu, keberadaan gunung selalu dihormati dengan cara melakukan ritual tertentu. Sebuah gunung dianggap mewakili sosok yang mengagumkan sekaligus mengancam, sehingga diperlukan upacara penghormatan supaya keberadaannya menjamin ketentraman, keamanan, dan keberadaan masyarakat di sekitarnya. Dalam perspektif ini, Upacara Kololi Kie merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat Ternate dari berbagai ancaman bencana.

(18)

33. PAPUA

TARIAN PERANG

Tari Perang dulu sering dilakukan oleh masyarakat Papua sebelum mereka menuju medan perang. Namun kini Tari Perang lebih difungsikan sebagai tarian penyambutan maupun tari pertunjukan. Tarian ini dimaknai sebagai penghormatan kepada para pahlawan dan para leluhur yang sudah berjuang serta mempertahankan tanah air mereka. Selain itu apabila dilihat dari segi pertunjukannya, Tari Perang ini juga menggambarkan keberanian, kegagahan dan jiwa kepahlawanan masyarakat Papua.

34. PAPUA BARAT

BAKAR BATU

Tradisi Bakar Batu merupakan salah satu tradisi penting di Papua yang berupa ritual memasak bersama-sama warga 1 kampung yang bertujuan untuk bersyukur, bersilaturahim (mengumpulkan sanak saudara dan kerabat, menyambut kebahagiaan (kelahiran, perkawinan adat, penobatan kepala suku), atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang. Tradisi Bakar Batu umumnya dilakukan oleh suku pedalaman/pegunungan, seperti di Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Dekai,Yahukimo dll.

Disebut Bakar Batu karena benar-benar batu dibakar hingga panas membara, kemudian ditumpuk di atas makanan yang akan dimasak. Namun di masing-masing tempat/suku, disebut dengan berbagai nama, misalnya Gapiia (Paniai), Kit Oba Isogoa (Wamena), atau Barapen (Jayawijaya).

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat adat Bajo di kawasan pesisir Pulau Bungin, Nusa Tenggara Barat memiliki kearifan lokal dimana setiap pemuda yang hendak menikah diharuskan menyediakan

Hasil penelitian ini didapati jawaban bahwa Hak waris anak menurut hukum adat sasak di desa penujak Kecematan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah Provinsi

IDENTIFIKASI POTENSI GEOHERITAGE DI BAGIAN SELATAN PULAU LOMBOK SEBAGAI CALON GEOSITE UNESCO GLOBAL GEOPARK PADA KAWASAN GEOPARK RINJANI LOMBOK PROVINSI NUSA

Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Dewan Perwakilan

Kesimpulan dari penelitian Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah pemerintah

Lokasi Pantai Senggigi yaitu terletak di Senggigi, kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan potensi daya tarik utama yaitu Pantai yang

Silahkan hubungi DM sesuai KAB/KOTA N o Jabatan Provinsi Kabupaten/Kota Nama Gender HP 1DM Kankemenag NUSA TENGGARA BARAT KAB.. LOMBOK BARAT Topik Sarimawanto,

Provinsi Nusa Tenggara Barat NTB Ibukota : Mataram Rumah Adat : Rumah dalam Loka Samawa dan rumah Bale Pakaian Adat : Pakaian Adat Suku Bima Tarian Tradisional : Tari Mpaa Lenggogo,