TRANSFORMASI MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT LUBUK ULANG ALING TENGAH SANGIR BATANG HARI : DARI PETANI KARET KE
TAMBANG EMAS TAHUN 2006-2013
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)
Renita Muslim NIM : 11020122
PROGRAM PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
PENDAHULUAN
Lubuk Ulang Aling Tengah adalah suatu Daerah atau Nagari di Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan. Daerah ini terletak di sepanjang aliran Sungai Batanghari, Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya masyarakat Lubuk Ulang-Aling Tengah bergerak disektor pertanian khususnya karet. Bertani karet untuk memenuhi kebutuhan sehari hari sudah diwariskan turun temurun dari nenek moyang mereka sejak masa lalu.
Dari data tahun 1990 menunjukan bahwasanya mayoritas penduduk di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah memiliki mata pencaharian sebagai petani karet yaitu sebanyak 70 persen masyarakat di Kanagarian tersebut menjadi petani karet. Besarnya peran karet dalam perekonomian mendorong masyarakat untuk lebih memanfaatkan hasil dari keret tersebut. Jika dilihat dari luas perkebunan karet di Lubuk Ulang Aling Tengah memiliki luas lahan yang lebih di banding daerah-daerah lain di Kabupaten Solok Selatan.1
Karet yang ditanam di daerah Lubuk Ulang Aling Tengah adalah jenis karet kampung , yang diperoleh dari pembibitan tradisional yaitu, dari buah karet, Buah tersebut dikumpulkan disuatu tempat yang lebih dikenal dengan tampek anak gatah. Bibit dari buah karet tersebut baru bisa diperoleh yaitu kurang lebih sekitar 30 hari, barulah bibit-bibit tersebut ditanam di area perkebunan yang disebut masyarakat sekitar yaitu di Ladang.2
Area perkebunan yang ditanami karet terlebih dahulu dibersihkan dari tumbuhan- tumbuhan lain dengan cara pembakaran. Setelah area ladang yang akan ditanami bersih barulah dilakukan penanaman dengan jarak satu kali satu meter, Agar batang karet yang akan tumbuh tidak berdempet-dempetan dan supaya karet tersebut cepat tumbuh menjadi besar, karena yang ditanam baru bisa disadap atau diambil hasilnya yaitu setelah tujuh tahun waktu yang relatif lama.
Meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat hasil dari pertanian karet tidak lagi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah hasil yang didapat dari bertani karet relatif sedikit sementara kebutuhan hidup meningkat, sedangkan harga karet tidak stabil banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi oleh petani karet, masalah tersebut antara lain waktu yang dibutuhkan relatif lama untuk memperoleh hasil, dan harga karet yang tidak stabil ditambah lagi kendalanya saat hari hujan petani tidak akan bisa melakukan penyadapan.
1 Data diperoleh dari Kantor Kecamatan Sangir Batang Hari
2 Wawancara dengan Iwan salah satu petani karet yang berusia 47 tahun di Jorong Tanah Galo di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah 19/08/2015
Jumlah penduduk di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah berjumlah 1.630 jiwa, terdiri dari 822 jiwa perempuan dan 808laki-laki.
Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan yang terletak di sepanjang Sungai Batanghari memberi jalan bagi masyarakat setempat untuk melakukan transformasi dari petani karet menjadi penambang emas, karena hasil yang diperoleh dari menambang emas lebih menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dibanding dengan hasil petani karet. Keunggulan penambangan emas antara lain waktu yang relatif singkat untuk memperoleh hasil, harga emas yang stabil dan tidak ada pengaruh terhadap cuaca.3
Penambangan merupakan proses pengambilan material dari dalam bumi, sedangkan tambang adalah tempat terjadinya kegiatan penambangan. Kemudian usaha pertambanagan merupakan kegiatan untuk mengoptimalkan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam bahan galian yang terdapat di dalam bumi Indonesia. Di dalam pasal 14 Undang-undang No. 11 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan ditentukan jenis-jenis usaha pertambangan. Adapun usaha pertambangan tekait bahan-bahan galian dibedakan menjadi enam macam yaitu pertama penyelidikan umum merupakan usaha menyelidiki secara geologi umum atau fisika di daratan, perairan dan dari udara dengan maksud untuk membuat peta geologi atau menetapkan tanda- tanda adanya bahan galian pada umumnya. Kedua Eksplorasi merupakan segala penyelidikan geologi untuk menetapkan adanya sifat letakan bahan galian. Ketiga Eksploitasi yaitu usaha dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya. Keempat pengolahan dan pemurnian merupakan pengerjaan untuk mempertinggi bahan galian serta untuk memanfaatkan dan memperoleh unsur-unsur yang terdapat pada bahan galian. Kelima Pengangkutan yaitu usaha pemindahan bahan galian dan hasil pengolahan dan pemurnian bahan galian dari daerah eksploitasi. Keenam penjualan merupakan kegiatan usaha penjualan bahan galian. 4
Dari enam usaha pertambangan terkait bahan-bahan galian menurut pasal 14 Undang- undang no 11 tahun 1976 yang paling dekat kaitannya dengan penelitian ini yaitu yang ketiga eksploitasi merupakan usaha dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya.
3Data diperoleh dari Kantor Camat Kecamatan Sangir Batang Hari pada tanggal 19/8/2015
4 Salim HS. Hukum Pertambangan Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Gafindo persada,2005),hal, 53-54
Kegiatan penambangan emas biasanya dilakukan dilokasi perbukitan atau daerah aliran sungai yang memungkinkan dilakukan pengambilan material sesuai dengan lokasi penambangan. Usaha penambangan emas ada yang di kelola oleh perusahaan, dan para masyarakat yang bekerja sebagai buruh perusahaan dengan sistem bagi hasil. Disamping itu juga ada yang melakukan kegiatan berdasarkan kekeluargaan, kegiatan ini dilakukan tanpa diatur perusahaan, biasanya disebut dengan penambangan rakyat ini dikelola oleh warga yang berada dekat lokasi penambangan.
Menurut Heilbroner, bahwa Sejarah perekonomian harus memusatkan perhatian pada persoalan pokok bagaimana manusia mempertahankan hidupnya dan bagaimana manusia mengatasi persoalan itu”. 5 Dapat disimpulkan bahwa penambangan emas merupakan suatu kegiatan dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam bagi pemenuhan kebutuhan hidup. Penambangan emas telah dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah akan kebutuhan kerja.
Tambang emas rakyat di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah mulai di buka tahun 2006. Pada masa itu mayoritas masyarakat menjalani hidup dengan mengandalkan bekerja sebagai petani khususnya petani karet. Semenjak diketahuinya bahwa diwilayah tersebut terdapat sumber daya alam berupa kandungan emas, maka sebagian masyarakat mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai buruh tambang di beberapa lokasi yang diduga banyak kandungan emasnya. Kegiatan penambangan emas ini dilakukan oleh masyarakat untuk tujuan mencari pengahasilan lain sebagai pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. 6
Munculnya penambangan emas di Lubuk Ulang Aling Tengah pada tahun 2006 telah memberikan harapan baru bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi, dan lari dari masalah-masalah yang dihadapi selama menjadi petani karet.
Penambangan emas ini diperkenalkan oleh Bapak Sawir umur 51 tahun pada tahun 2006 adalah salah seorang penduduk asli di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah yang pernah bekerja dipertambangan emas milik rakyat juga di daerah Jambi. Bapak Sawir memulai dengan cara menjehe atau mendulang (secara tradisional) cara ini dilakukan karena Bapak Sawir tidak memiliki modal yang cukup untuk membeli mesin dompeng dan mesin traktor yang biasa digunakan untuk
5Robert L Heilbroner. Terbentuknya Masyarakat Ekonomi. Jakarta: Bumi Aksara.1994, hal: 2
6 Wawancara dengan Santoso umur 51 tahun di Jorong Tanah Galo Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah pada tanggal 19/08/2015
melakukan penambangan emas. namun dengan hasil mendulang Bapak Sawir memperoleh hasil yang lumayan walaupun tidak sebanding dengan menggunakan mesin. Melihat hal ini salah seorang penduduk di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah (Muklis umur 57 tahun) yang memiliki modal cukup mendanai Bapak Sawir untuk membeli mesin tambang dan setelah memakai mesinhasil yang diperoleh Bapak Sawir sangat menjanjikan, hal inilah yang melatarbelakangi masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah berbondong bondong untuk melakukan penambangan emas dan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai petai karet.7
Transformasi terjadi di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah pada tahun 2006, dimana hasil dari karet tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat hal ini yang melatarbelakangi terjadinya transformasi di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah. Dan semenjak masyarakat telah beralih dari petani karet ke buruh tambang emas sudah banyak perubahan yang terjadi di lapisan masyarakat terutama pada kehidupan sosial ekonominya. Seiring dengan membaiknya kehidupan sosial ekonomi tersebut berpengaruh pula dengan gaya hidup seperti halnya lebih dari 2.502 atau 50 % rumah sudah beratap seng dan berdinding Beton, berlantai keramik dan dari segi pendidikan sudah banyak yang tamat SMP, SMA, dan sebagian kecil sudah ada yang menjadi pegawai negeri sipil.8
Penelitian ini sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut karena studi tentang transformasi dari petani karet ke tambang emas belum ada yang menulis tentang Transformasi di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah. Kedua apa yang melatarbelakangi penduduk Lubuk Ulang Aling Tengah melakukan transformasi dan ketiga apa perubahan yang terjadi setelah melakukan transformasi.
Batasan Dan Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang masalah diatas maka dapat diketahui bahwa pertanian karet merupakan mata pencaharian pokok Lubuk Ulang Aling Tengah selain bersawah. Pertanian karet tidak lagi memenuhi kebutuhan masyarakat seiring perkembangan zaman ditambah lagi kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Melatarbelakangi masyarakat setempat melakukan transformasi menjadi penambang emas di karenakan pertanian karet tidak menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
7 Wawancara dengan Bapak Sawir umur 49 tahun di Jorong Tanah Galo Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah pada tanggal (19/08/2015)
8 Wawancara dengan Bapak Henip (Kepala Jorong Tanah Galo ) umur 64 tahun pada tanggal 19/08/2014
Mengingat tulisan ini membahas tentang kehidupan petani Karet yang melakukan transformasi menjadi penambang emas di Kenagarian Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan yang batasan spatial penelitian ini adalah Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah, sedangkan batasan temporalnya penulis ambil dari tahun 2006-2013.
Tahun 2006 dijadikan sebagai awal penelitian dengan alasan, karena tahun 2006 ini mayarakat Lubuk Ulang Aling Tengah sudah mulai terjadi peristiwa transformasi mata pencaharian dari petani karet ke penambang emas dan tahun 2013 dijadikan batas akhir penelitian karena terkait batas waktu bagi perolehan data yang diperlukan.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana proses transformasi mata pencaharian dari petani karet ke tambang emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah?
2. Bagaimana perkembangan masyarakat setelah melakukan transformasi dari petani karet ke tambang emas di Kenagarian Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Solok selatan tahun 2006-2013?
Bahan Dan Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan sejarah, maka studi ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu kegiatan pengumpul data (heuristik) dilanjutkan dengan kritik sumber (pengujian), interpretasi data dan historiografi.
Tahap Pertama Pengumpulan data dari berbagai sumber yang berhubungan dengan objek penelitian ( Heuristik) Sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sumber Primer dan Skunder. Penelitian ini diperoleh melalui arsip yang ada di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Sangir Batanghari, Sumber Primer juga diperoleh melalui Wawancara dengan Toko Masyarakat setempat sebagai Wali Nagari, Petani, buruh tambang dan Masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah. Sementara Sumber Skunder sebagai data penunjang diperoleh dari data yang berkaitan dan penunjang penelitian ini seperti Riset perpustakaan ( UNAND, STKIP PGRI, FIS, UNP, dan ARSIP Daerah). Selain untuk mendapatkan data tersebut penulis terjun langsung kelapangan secara aktif.
Tahap Kedua adalah Kritik sumber terkait baik internal maupun eksternal yaitu melakukan pengujian terhadap keaslian dan kesahan data yang diperoleh diuji kebenaran melalui metode trigulasi data artinya pertanyaan yang sama diajukan ke informan yang berbeda, begitu juga dengan data yang ada dalam sumber skunder diuji kebenarannya meminta pendapat dari informan pertanyaan tersebut digunakan kembali dengan rentang waktu
yang berbeda untuk memperoleh data yang dipercayai.
Tahap ketiga yaitu analisis dan interpretasi data yang terkumpul, data-data yang diperoleh dilapangan, baik melalui studi kepustakaan maupun wawancara, dianalisa dan dirangkaikan berdasarkan sebab akibat serta dikelompokan sumber berdasarkan objek yang diteliti. Dalam memilah-milah data dan informasi yang diperoleh dilakukan analisa berdasarkan konsep-konsep dan teori, yang dikemukakan sebelumnya kemudian dilanjutkan dengan sintesis yang merangkai atau menghubungkan data dari informasi yang melibatkan interpretasi.
Tahap keempat adalah data dan konsep yang telah melalui tiga tahap diatas kemudian dipaparkan dalam bentuk sebuah tulisan (Historiografi)
Hasil Dan Penelitian
Pertanian merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk di Indonesia. Begitu juga dengan keadaan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani baik perladangan maupun sawah.
Kebutuhan hidup yang semakin meningkat membuat masyarakat mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sebelumnya pada umumnya bertani karet. Pada tahun 2006 mereka mulai melakukan perubahan dari petani karet ke tambang emas karena hasil dari pertanian karet tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakatyang semakin meningkat.9
Melihat kondisi yang dialami petani karet sangat banyak mendapatkan kendala, baik dari segi cuaca maupun harga karet yang tidak stabil.
Sehingga petani karet melakukan perubahan ke tambang emas. Proses dari petani karet ke tambang emas bermula dari tahun 2006, namun baru hanya sebagian kecil sebanyak 30 persen masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah yang melakukan perubahan ke tambang emas. Namun melihat hasil dari tambang emas yang menjanjikan memacu masyarakat untuk melakukan perubahan k tambang emas.
Diantara alasan-alasan masyarakat Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah memilih beralih ke tambang emas:
1. Adanya potensi emas yang banyak di daerah tersebut
2. Harga emas yang relatif tinggi
3. Penambangan emas tidak terlalu tergantung pada cuaca
4. Waktu yang relatif singkat untuk mendapatkan hasil
9Wawancara dengan Raisiah umur 61 tahun di Jorong Pulau Karam Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah pada tanggal 28/8/2015
5. Penambangan bisa dilakukan setiap saat Dengan pemikiran-pemikiran dan alasan tersebut 70 persen banyak masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah yang lebih memilih untuk tambang emas, walaupun ada 30 persen lagi sebagian kecil yang masih bertahan sebagai petani karet.
Pada tahun 2006 sudah sebagian besar petani karet di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah beralih ketambang emas, bahkan sampai sekarang perekonomian masyarakatLubuk Ulang Aling Tengah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, berbeda dengan masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah yang dahulunya sebagai petani karet yang kondisi ekonominya jauh lebih rendah dari sekarang.
kondisi perumahan di Kenagarian Lubuk Ulang aling tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan sebelum melakukan transformasi masih banyak rumah masyarakat yang tidak permanen 61, semi permanen 34 dan permanen berjumlah 17, jadi dapat kita simpulkan bahwa kehidupan masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah masih tergolong rendah, baik dari segi pendidikan maupun dari segi perekonomian.
Rendahnya perekonomian masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah sebelum adanya transformasi mata pencaharian tidak terlepas dari penghasilan atau pendapatan masyarakat setempat dari hasil pertanian karet.
pendapatan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan sebelum melakukan transformasi pendapatannya sangat rendah dan tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
Pada masa ini hanya sedikit dari masyarakat Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah yang mementingkan pendidikan. tingkat pendidikan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan masih tergolong rendah, hal ini tidak terlepas dari mata pencaharian masyarakat yang masih menjadi petani karet yang penghasilannya sebanyak Rp.
900.000 per/bulan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
1. Keberadaan Tambang emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah
Penambang emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah cukup mengalami perjuangan yang panjang, keinginan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi kenyataan semenjak adanya tambang emas. Namun perjalanan demi perjalanan tidak semulus yang diharapkan, sebelum dilakukan penambangan emas masyarakat mereka mendapatkan banyak kendala terutama dari pemerintahan karena penambangan emas di daerah
tersebut merupakan tambang liar yang tidak dapat ijin dari pemerintah.10
Penambangan yang berada antara perbatasan Dharmasraya dengan kabupaten solok selatan merupakan perbatasan antara kedua kabupaten tersebut, Dengan adanya penambangan emasi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah dilihat dari perkembangan sosial ekonomi masyarakat dari tahun ketahun. Perekonomian masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah sebelum adanya tambang emas adalah sebagai petani baik di sawah maupun diladang, pada saat itu kehidupan masyarakat bisa dikatakan belum sejahtera karena belum ada fasilitas yang membantu perekonomian masyarakat.
Perekonomian masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah setelah adanya penambangan emas sangat memberikan dampak yang besar dalam membantu kehidupan sosial ekonomi masyarakat, lahan sudah lama tidak diolah dijadikan masyarakat sebagai lahan yang produktif yang bisa menghasilkan emas, sehingga sangat membantu perekonomian masyarakat sekitar dengan perkembangan setiap tahunnya.
2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah Sebelum Adanya tambang emas
Masyarakat merupakan kehidupan bersama dalam peristiwa sosial sehari-hari, dalam kehidupan tersebut terjadilah hubungan sosial antara seorang individu dengan individu lain, kelompok individu dengan kelompok lainnya, dan kehidupan dinamis. Dalam kehidupan sosial tersebut ada tindakan individu terhadap kelompok yang dibalas oleh individu lain berkelanjutan.11
Secara umum tulisan ini termasuk kedalam sejarah sosial ekonomi. Sartono Kartodirjo dalam bukunya pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah menyebutkan bahwa sejarah sosial yang menjadikan masyarakat sebagai bahan kajian dengan permaslahan yang sangat kompleks, seperti kelas sosial, peristiwa sosial dan lain sebagainya.
Perekonomian masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling sebelum adanya tambang emas adalah bekerja sebagai petani. Pada saat itu kehidupan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah bisa dikatakan belum sejahtera karena belum ada fasilitas yang bisa membantu perekonomian masyarakat.
Ditinjau dari pengakuan ibu Sulias salah seorang penduduk di Kenagarian Lubuk Ulang
10Wawancara dengan Karim umur 58 tahun di Jorong Pulau Karam Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah pada tanggal 28/8/2015
11Pusat Pengembangan Penataran Guru IPS dan PMP. 1996.Sosiologi
Aling Tengah yang ikut bekerja ditambang emas, sebelum adanya tambang emas ibu Sulias berpenghasilan 65 ribu perhari sebulan mencapai 1.850.000 belum cukup mengidupi keluarganya apalagi suaminya sebagai petani. Setelah adanya tambang emas penghasilannya bertambah mencapai
±1000.000 perbulan yang dikumpulkan dari penghasilan dengan suaminya. Dengan penghasilan tersebut ibu Sulias sudah bisa membeli motordan bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.12
Selain itu ada juga Ibu Ida , sebelum penambangan emas Ibu Ida bekerja sebagai petani karet bersama suaminya, mereka menggarap lahannya yang dijadikan sebagai perkebunan, dengan bertani mereka menghidupi keluarganya, namun setelah adanya penambangan, bapak bekerja sebagai penambang dan ibu bekerja pendulang, hal tersebut menjadikan perekonomian ibu Ida menjadi lebih baik.13
3. Perkembangan Sosial Ekonomi Masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah setelah adanya tambang emas
Pada tahun 2006 di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah mulai dilakukan kegiatan penambangan emas. Sejak adanya penambangan emas kehidupan sosial ekonomi masyarakat meningkat ke arah yang lebih baik. Perekonomian masyarakat setelah adanya tambang emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah memberikan dampak yang besar dalam membantu kehidupan masyarakat. Sejak adanya Penambangan masyarakat mulai berjualan di warung atau toko yang menjual berbagai macam kebutuhan, masyarakat mulai mengenal usaha sewa menyewa rumah atau kontrakan, mendirikan bangunan untuk unit usaha, baik dari unit usaha besar sampai usaha kecil.
Kawasan penambangan emas yang sebelumnya adalah pertanian karet yang membentang luas disepanjang Aliran Sungai di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah. dengan mata pencaharian masyarakat bertumpu pada sektor pertanian. Di mulainya Penambangan mengakibatkan sebagian besar masyarakat beralih pekerjaan dari petani karet ke tambang emas, daerah ini yang dulunya merupakan jalan setapak dan tidak ada lampu penerangan jalan, setelah adanya penambangan emas maka dilakukan pembangunan terhadap lingkungan fisik, akses jalan menjadi lebih baik dan lancar disertai dengan adanya lampu penerangan jalan, penduduk semakin ramai, sehingga kehidupan masyarakat
12 Wawancara dengan ibu Sulias umur 41 tahun, di Lubuk Ulang Aling Tengah, tanggal 23 Juni 2015
13 Wawancara dengan ibu Ida umur 61 tahun, di Lubuk Ulang Aing Tengah, tanggal 23 Juni 2015
disekitar Penambangan emas menjadi lebih ramai dari sebelumnya.
lihat bahwa dari tahun ketahun lahan pertamabangan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan mengalami peningkatan luas lahan dari tahun ke tahun dari tahun2006 yang hanya 45ha hingga mencapai 110ha pada tahun 2013.
Diantara masyarakat yang melakukan transformasi tambang emas adalah bapak jupri.
Bapak jupri mengubah lahan kebun karetnya menjdi lokasi untuk penambangan emas., Bapak Jupri ini membuka usaha ini untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Hal serupa juga di alami Bapak Ilyas salah seorang petani karetyang melakukan transformasi ke tambang emas. Ia melakukan penambangan mulai tahun 2006, sebelumnya Bapak Ilyas bekerjadi sebagai petani karet. Dari hasil jualan yang didapat, bisa menunjang kehidupan perekonomian keluarga. Dari hasil penambangan Bapak Ilyas memperoleh hasil mencapai 1.500.000 perhari.
Untuk lebih jelasnya pendapatan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan yang melakukan transformasi dapat kita lihat dari tabel pendapatan masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah setelah melakukan Transformasi. pendapatan masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah pasca melakukan transformasi meningkat dari tahun ke tahun yaitu tahun 2006 pendapatan rata-rata perbulan mencapai 2.000.000 pada tahun 2007 pendapatan rata-rata 4.000.000.
pada tahun 2008 pendapatan rata-rata perbulan mencapai 6.000.000, pada tahun 2009 tingkat pendapatan rata-rata perbulan mencapai 7.000.000, pada tahun 2010 mencapai 8.000.000, pada tahun 2011 mencapai 9.000.000, pada tahun 2012 mencapai 9.000.000 dan pada tahun 2013 mencapai 10.000.000
A. Perkembangan Masyarakarat Setelah Melakukan Transformasi Dari Petani Karet ke Tambang Emas.
Pada tahun 2006 sampai 2013 bahkan sampai saat ini penambang emas sudah menjadi pekerjaan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang semakin meningkat dan penambangan emas sudah mampu mengubah perekonomian masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah, hal ini dapat dilihat dari segi sosial , ekomoni, pendidikan dan bahkan juga dari segi agama.
Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah tahun 2013, boleh dikatakan sudah menjadi Kenagarian yang sudah berkembang dalam berbagai bidang, seperti di bidang pendidikan mereka sudah maju dibanding pada masa bertani karet sekarang anak-anak mereka sudah banyak
tamat sekolah bahkan sudah banyak yang menjadi sarjana, sedangkan dilihat dari sosial ekonomi masyarakat juga sudah jauh lebih maju, ini dapat dilihat dari segi pembangunan fisik mereka sudah bisa membangun rumah permanen, sedangkan materi lainnya mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup juga, bisa membeli barang-barang mewah seperti : televisi, kulkas, sepeda motor dan malahan sudah ada yang punya mobil
Bentuk –bentuk perkembangan dari pertambangan emas itu sendiri
Terbentuknya lapangan pekerjaan bagi masyarakat baik didaerah Lubuk Ulang Aling Tengah sendiri maupun dari luar Lubuk Ulang Aling Tengah itu sendiri Dilakukan pengolahan lahan sampai daerah perbukitan
Pertambangan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah memberikan daya tarik tersendiri yaitu hasil dari pertambangan yang relatif banyak dan jarang para penambang atau pengelola tidak mendapatkan hasil, seperti yang dikatakan oleh Dahnel (32 tahun) seorang pengelola tambang emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah yang berasal dari jorong Rantau Limau kapeh.
Perkembangan perumahan masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan setelah melakukan transformasi mata pencaharian. Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan melakukan transformasi kondisi perumahan masyarakat semakin meningkat ke arah yang lebih baik dibandingkan dari sebelumnya menjadi petani karet.
Interaksi yang terjadi dengan penduduk asli relatif lancar. Pada umumnya penduduk pendatang bisa berkomunikasi dengan lancar dengan penduduk asli dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya, secara bertahap penduduk pendatang kemudian juga berusaha mempelajari bahasa setempat sehingga mereka lebih mudah berinteraksi dengan penduduk asli.
Disisi lain, ketidaktahuan penduduk pendatang tentang budaya dan adat istiadat penduduk asli menjadi penghambat interaksi antar keduanya. Penduduk pendatang pada awalnya tidak mengetahui hal-hal yang dilarang atau tidak bisa dilakukan penduduk asli. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan panggilan "den, kau dan ang" dalam penduduk asli merupakan panggilan yang kasar. Karena ketidaktahuan penduduk pendatang, terkadang mereka juga menggunakan sebutan tersebut kepada penduduk asli atau berbicara sesama penduduk pendatang.
Hal ini kemudian menjadi salah satu pemicu terciptanya hubungan yang kurang harmonis.
Setelah penduduk pendatang menetap cukup lama,
dan mengerti kebiasaan dan budaya penduduk asli, hal ini kemudian mulai berkurang.
Interaksi lain yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah antara penduduk pendatang dengan penduduk asli adalah dalam hal perkawinan. Penduduk pendatang yang telah cukup lama menetap di Kenagarian Lubuk Ulang Aling tidak jarang kemudian mereka menikah dengan penduduk asli Lubuk Ulang Aling Tengah.
Perkawinan campuran antara penduduk pendatang dengan penduduk asli sudah umum terjadi di Kenagarian Luuk Ulang Aling Tengah, hal ini didukung oleh kesamaan agama di antara keduanya. Masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah tidak mengharuskan anak-anak mereka menikah dengan sesama orang Minang, hal ini dikarenakan pola pikir masyarakat yang sudah berubah dan lebih terbuka terhadap perubahan.14
B. Permasalahan yang timbul akibat penambangan emas
1. Kerusakan Lingkungan akibat penambangan emas liar (PETI)
Pola pertambangan emas yang berlangsung sejak lama tentunya berdampak langsung ke masyarakat baik itu dirasakan langsung maupun tidak langsung, masyrakat tentunya tidak menginkan hal yang merugikan itu terjadi, secara tidak langsung mereka tau akan kerusakan yang ditimbulkan, tapi faktor ekonomi yang menjadikannya mereka mau tidak mau melakkan hal tersebut. Hal yang demikian pernah mendapat protes dari lembaga penyelamat lingkungan yang menyuarakan tentang dampak yang ditimbulkan dari adanya penambangan ema liar tersebut, dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang dampak yang ditimbulkan baik itu jangka pendek maupun dalamjangka panjang.
Dampak yang paling nampak dengan adanya penambangan emas ilegal ini yakni dengan berkurangnya kualitas air sungai yang sudah mulai tercemar limbah mercuri dari pelarutan emas tersebut, menurut dinkes kabapaten Solok Selatan, bahwasanya air sungai yang ada di sepanjang aktivitas penambangan emas liar ini sudah tidaklayak untuk dikomsumsi, karena sudah tercear logam berat, hal ini akan berdampak patal bagi kesehatan masyarakat yang menyebabkan kematian jika dikonsumsi secara terus menerus, tentunya dengan adanya masalah penemaran tersebut membuat masyarakat sadar akan bahaya yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan emas ini.
Aktivitas penambangan emas ini selain merusak lingkungan seperti pencemaran air sungai, juga berdampak pada di babatnya hutan-hutan yang ada di areal perkebunan karet, ini tentunya
14Wawancara dengan bapak Safrial , di Lubuk Ulang Aling Tengah tanggal 20 Juni 2015
berdampak miris, mengingat perkebunan karet pernah menjadi andalan masyarakat dalam kehidupan perekonomiannya, akan tetapi akibat dari kemilaunya emas, membuat petani yang memiliki lahan perkebunan rela menyulapnya dengan lahan untuk di jadikan lahan penambangan, tentunya ini tidak bertahan lama, mengingat emas sebagai barang yang tidak di perbaharui akan habis tak kala tempat yang di tambangnya juga berkurang jumlah dengan hasil yang didapat sebelumnya, ini yang sangat merugikan anak cucu kedepannya, ini dikarenakan lahan bekas penambangannya sudah mengalami kerusakan berat, banyak lobang-lobang galian yang sudah tidak bisa ditanami dengan karet ataupun pohon-pohon komoditi lainnya.dan ph dari tanah juga sudah berkurang.15
2. Kebijakan Pemerintah terhadap penambangan
Bupati Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), Muzni Zakaria mengatakan aktivitas penambangan emas ilegal di daerah itu sudah sangat meresahkan bahkan badan jalan yang sedang dikerjakan dikeruk dengan ekskavator oleh para penambang."Sesuai temuan wakil bupati saat pengawasan proyak Senin menemukan lima titik badan jalan yang dikeruk oleh ekskavator penambang emas liar dan jumlahnya juga sangat banyak," katanya di Padang Aro, Selasa (30/9).
Badan jalan yang digali oleh pelaku penambangan emas ilegal tersebut yaitu di Nagari Lubuak Ulang Aling Induk dan Lubuak Ulang Aling Tengah. Ia menyebutkan jalan tersebut baru dibuka oleh pemerintah daerah setempat yang nantinya langsung tembus ke Kabupaten Dharmasraya. Ia mengatakan aktivitas penambangan emas liar di Solok Selatan memang belum semuanya bisa diselesaikan dan pemerintah daerah sudah mengupayakan pengurusan izinnya hingga ke kementerian tetapi birokrasi sangat sulit."Kami sudah mengupayakan perizinan tambang seperti tambang rakyat tetapi tergenjal di pusat karena birokrasi di sana sulitnya minta ampun," katanya.Ia berharap pihak Kepolisian selaku penegak hukum segera melakukan penindakan supaya aktivitas pertambangan emas tanpa izin ini bisa diberantas secepat mungkin. Wakil Bupati (Wabup) Solok Selatan, Abdul Rahman menyebutkan bahwa di lokasi Muaro Batang Sangir tersebut jumlah ekskavatornya sangat banyak. "Kalau puluhan itu masih sedikit yang saya lihat ini jumlahnya ratusan," katanya. Bahkan karena emosinya, katanya, ada operator ekskavator yang tidak mau berhenti. Dia bahkan mengaku mengajak berkelahi si operator ekskavator tetapi tidak berani. "Karena ada operator yang tidak mau berhenti saya ajak dia berkelahi," katanya. Ia menjelaskan sebelumnya lokasi pertambangan emas tanpa izin tersebut
15 Pengamatan peneliti di Lapangan di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah 29/8/2015
masih terisolasi dan sekarang dengan sudah adanya jalan bisa diakses dengan cepat dengan terang- terangan pelaku penambangan ilegal bekerja.16 KESIMPULKAN
Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Solok Selatan. Sama halnya dengan kehidupan pedesaan umumnya, mayoritas penduduk Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah memiliki mata pencaharian sebagai petani, hal ini didorong oleh keadaan geografis daerah ini berupa dataran yang luas dan didukung oleh ketersediaan sumber air. Kondisi ini menyebabkan pertanian menjadi salah satu tumpuan ekonomi sebagian besar masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah.
Keadaan tersebut mulai berubah setelah sekelompok masyarakat mencoba peruntungan khususnya di sektor pertambangan tersebut diantaranya beralihnya mata pencaharian penduduk yang sebelumnya bergerak dibidang pertanian ke bidang selain sektor pertambangan.
Beberapa pembangunan yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah juga memicu munculnya beberapa unit usaha yang telah membantu terciptanya lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat, seperti munculnya usaha tambang rakyat. Transformasi mata pencaharian di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah.
Perubahan sosial merupakan gejala umum yang terjadi disetiap masyarakat, begitupun perubahan sosial yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah yang telah telah terlihat pada rentang waktu tahun 2006 hingga tahun 2013.
Transformasi mata pencaharian masyarakat Lubuk Ulang Aling Tengah sejak tahun 2006 telah menjadikan daerah ini semakin tumbuh dan berkembang, baik dari segi kemajemukan penduduk, penambahan sarana dan prasarana pendukung, dan lain sebagainya.
Kedatangan penduduk dari luar daerahjuga memberikan perubahan dalam kehidupan masyarakat, seperti mulai munculnya interaksi baru dalam dalam kehidupan masyarakat yang terwujud dalam bentuk perkawinan campuran antara penduduk asli dengan penduduk pendatang.
Selain itu, penduduk pendatang ini juga berperan dalam perubahan kehidupan sosial budaya sebagian masyarakat. Kebudayaan baru yang dibawa oleh penduduk pendatang secara perlahan mulai bercampur dengan kebudayaan lama masyarakat.
A. Saran
Saran penulis agar skripsi ini dapat memberikan pandangan, begitu besarnya dampak yang ditimbulkan dari Transformasi mata
16 Republika.Co.Id, Padang Aro --
pencaharian terhadap masyarakat Kenagarian Lubuk Ulang Aling Tengah. Adapun dampak yang
ditimbulkan adalah dibukanya lapangan pekerjaan bagi penduduk asli maupun masyarakat pendatang khususnya di sektor pertambangan.
Dapat memberikan informasi dan masukan kepada parapembaca yang berkaitan dengan masalah yang serupa yang mengkaji tentang perubahan sejarah sosial ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA A. Arsip
Bappeda (BadanPerencanaan Pembangunan) Data Nagari Lubuk Ulang Aling Tengah, Kabupaten Solok Selatan tahun 2013
Kantor Kecamatan Sangir Batang Hari
Kantor Wali Lubuk Ulang Aling Tengah Berupa Buku Putih Program Pembangunan dan Pendidikan Di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Tengah Kecamatan Sangir Batang Hari
B. Buku – Buku
Bahren. T. Sugihen. 1997. Sosiologi Pedesaan Suatu Pengantar. Jakarta: Pt Grafindo Persada
Erik.R.Worf. 1989. Petani Suatu Tinjauan Antropologis.Jakarta: Raja Walu Perss.
Kuntowijoyo,Metodologi Sejarah (Yogyakarta:
Tiara Wacana,1994)
Loekman Soetrisno.2000. Paradikma Baru Pembangunan, Sebuah Tinjauan Sosiologi. Yogyakarta: Kanisus
Meztika Zed Dan Emizal Amri. 1994.Sejarah Sosial Ekonomi. Jurusan Pendidikan Sejarah Fips Ikip Padang.
Robert L Heilbroner. Terbentuknya Masyarakat Ekonomi. Jakarta: Bumi Aksara.1994 Salim HS. Hukum Pertambangan Indonesia,
(Jakarta: PT. Raja Gafindo persada,2005 Worf. 1984. Penggolakan Petani Dan Perubahan
Sosial Jakarta: Raja Wali.
C. Skripsi
Ade Irawan Putra, Transformasi Mata Pencaharian Masyarakat Dari Petani Sawah Ke Petani Sawit Di Jorong Lubuk Aur Kecamatan Sitiung Kabupaten Dharmasraya. Skripsi. (Padang : FIS UNP, 2009)
Soedjito S, Transformasi masyarakat dari agraris ke Industri. Skripsi. (Padang : FIS UNP, 2012)
Tania Murray,Transformasi Pertanian Dengan Membudidayakan Karet.Skripsi.
(Padang : FIS UNP, 2010 )