• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUNA RUNGU MAKALAH ND

N/A
N/A
NATALIUS DEDI

Academic year: 2024

Membagikan "TUNA RUNGU MAKALAH ND"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH ”TUNA RUNGU

DAN

TUNA GRAHITA”

Mata kuliah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan di SD dan Anak Berkebutuhan Khusus

Dosen Pengampu : Dyoty Auliya Vilda Ghasya, S.Pd, M.Pd

DISUSUN OLEH NATALIUS DEDI

NIM F1081211022

KELAS 3 A REGULER

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA TAHUN AJARAN 2022/2023

(2)

KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan Kesehatan jasmani maupun rohani serta memberikan Kesehatan akal dalam berpikir, sehingga saya bisa menyelesai makalah ini.

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi nilai tugas pada mata kuliah Bimbingan di SD dan Anak Berkebutuhan Khusus. Selain itu makalah ini juga dibuat untuk menambah wawasan kepada kita semua yang membaca.

Saya juga menyadari bahwa makalah masih banyak terdapat kekeliruan terutama dalam penulisannya. Maka dari itu saya harapkan kritik dan saran yang membangun guna untuk memperbaiki dan menyempurnakan makalah ini.

Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Pontianak, 28 Agustus 2022

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 2

BAB I PENDAHULUAN ... 3

A. LATAR BELAKANG ... 3

B. RUMUSAN MASALAH ... 3

C. TUJUAN ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 5

ANAK TUNA RUNGU...5

A. PENGERTIAN ANAK TUNA RUNGU ...5

B. KLASIFIKASI ANAK TUNA RUNGU...5

C. KARAKTERISTIK ANAK TUNA RUNGU ... 6

D. PENYEBAB TERJADINYA ANAK TUNA RUNGU...7

E. DAMPAK TUNA RUGU TERHADAP ANAK...8

F. INTERVENSI ATAU PENDIDIKAN BAGI ANAK TUNA RUNGU...8

G. MODEL PEMBELAJARAN FACE TO FACE BAGI ANAK TUNA RUNGU...9

ANAK TUNA GRAHITA...10

1. PENGERTIAN ANAK TUNA GRAHITA...10

2. KLASIFIKASI ANAK TUNA GRAHITA...10

3. ETIOLOGI ANAK TUNA GRAHITA...11

4. DEFISIT ANAK TUNA GRAHITA...12

5. DAMPAK TUNA GRAHITA TERHADAP ANAK...13

6. STRATEG PENYUSUN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK TUNA GRAHITA...14

7. JENIS TERAPI UNTUK ANAK TUNA GRAHITA...14

8. PERANAN BIMBINGAN KONSELING BAGI ANAK TUNA GRAHITA...16

BAB III PENUTUP ... 17

A. KESIMPULAN ... 17

(4)

B. SARAN ... ..17 DAFTAR PUSTAKA ... 18

(5)

BAB 1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Anak tuna rungu dan tuna grahita adalah anak yang mempunyai hambatan dalam pendengarannya, sehingga berdampak pada kognitif, interaksi sosial dan emosi anak terhadap lingkungannya. Sehingga dalam memberikan bantuan dan pendidikannya membutuhkan pelayanan yang khusus.

Jika anak tersebut tidak mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan hambatan dan potensinya maka anak tersebut tidak dapat hidup mandiri dan selalu bergantung pada orang lain.

Maka untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa faktor penyebab dan bagaimana karakteristik anak tersebut. Jika sudah diketahui faktor penyebab dan karakteristik anak

tersebut maka dapat dilakukan terapi dan layanan penidikan yang sesuai dengan anak tersebut dan dapat dilakukan pengembangan potensi atau bakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang dapat disusun dari latar belakang diatas yaitu:

Menjelaskan pengertian anak tuna rungu, klasifikasi anak tuna rungu, karakteristik anak tuna rungu, penyebab terjadinya anak tuna rungu, dampak tuna rungu terhadap anak, intervensi atau pendidikan bagi anak tuna rungu, model pelayanan pendidikan bagi anak tuna rungu, pengertian anak tuna grahita, klasifikasi anak tuna grahita, etiologi anak tuna grahita, defisit anak

(6)

tuna grahita, dampak tuna grahita terhadap anak, strategi penyusunan kurikulum pendidikan anak tuna grahita, jenis-jenis terapi untuk anak tuna grahita, peranan bimbingan konseling bagi anak tuna grahita

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari rumusan masalah di atas adalah :

Pembaca mampu menjelaskan pengertian anak tuna rungu, klasifikasi anak tuna rungu, karakteristik anak tuna rungu, penyebab terjadinya anak tuna rungu, dampak tuna rungu terhadap anak, intervensi atau pendidikan bagi anak tuna rungu, model pelayanan pendidikan bagi anak tuna rungu,

pengertian anak tuna grahita, klasifikasi anak tuna grahita, etiologi anak tuna grahita, defisit anak tuna grahita, dampak tuna grahita terhadap anak, strategi penyusunan kurikulum pendidikan anak tuna grahita, jenis-jenis terapi untuk anak tuna grahita, peranan bimbingan konseling bagi anak tuna grahita.

(7)

BAB II KAJIAN PUSTAKA ANAK TUNA RUNGU

A. Pengertian Tuna Rungu

Secara fiologis, struktur telinga manusia dibedakan menjadi dua bagian yaitu organ telinga yeng berfungsi sebagai penghantar dan penerima. Organ telinga yang berfungsi sebagai penghantar meliputi organ-organ bagian luar, tengah, dan sebagian organ telinga dalam. Sedangkan organ telinga yang berfungsi sebagai penerima meliputi sebagian telinga bagian dalam, serta saraf pendengaran yang berfungsi menyampaikan bunyi ke otak. Jadi, anak dikatakan tuna rungu apabila ada organ pendengaran yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Memahami hambatan pada anak sangat bermanfaat dalam proses penyembuhannya. Semakin orang tua memahami anak, semakin baik perkembangan anaknya. Seorang anak dikatakan tuna rungu apabila anak memiliki kelainan dalam menangkap sumber bunyi atau informasi yang disampaikan orang lain kepadanya, sehingga anak tidak bisa respon balik informasi. Oleh karena itu, anak tuna rungu kesulitan dalam hal bahasa dan komunikasi.

Pakar bidang medis mengkategorikan anak tuna rungu menjadi dua kelompok, yaitu hard of hearling (masih bisa mendengar) dan the deaf (tuli atau tidak dapat mendengar meski sudah mendapat alat bantu). Dengan demikian anak tuna rungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana anak mengalami gangguan dalam proses pendengaran. Ketidakdapatan mendengar tersebut karena adanya sebab-sebab tertentu

B. Klasifikasi Anak Tuna Rungu

Berdasarkan kriteria International Standard Organization (ISO), anak kehilangan pendengaran dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok tuli

(8)

(deafness) dan lemah pendengaran (hard of being).

Seseorang dikategorikan tuli jika kehilangan 70 dB atau lebih, sedangkan kategori lemah pendengaran apabila kehilangan kemampuan mendengar 35-69 dB. Pada kondisi kehilangan 35-69 dB anak masih dapat mengerti bahasa percakapan, akan tetapi tidak dapat mengikuti diskusi kelas tanpa menggunakan alat bantu dengar dan terapi bicara. Sedangkan untuk kategori tuli sangat sulit memahami pembicaraan meskipun dengan alat bantu dan mereka bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran dalam proses berkomunikasi.

Adapun klasifikasi anak tuna rungu menurut Sulthon berdasarkan tingkat gangguan pendengaran meliputi:

a. gangguan pendengaran sangat ringan yaitu 27-40 dB.

b. gangguan pendengaran ringan sekitar 41-55 dB.

c. gangguan pendengaran sedang 56-70 dB.

d. gangguan pendengaran berat antara 71-90 dB, dan

e. gangguan pendengaran ekstrim atau tuli yaitu apabila gangguannya lebih dari 91 dB. Dari penjelasan tentang klasifikasi anak tuna rungu di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa anak tuna rungu ada yang bersifat ringan, sedang dan berat. Anak dengan ketunarunguuan tingkat ringan (27 sampai 55 db) dan sedang (56-70 db) masih dapat mengikuti proses keguatan belajar mengajar dengan menggunakan alat bantu dan pengulangan kata. Sedangkan untuk anak dengan tingkat ketunaan berat (71db ke atas), mereka lebih mengandalkan indera penglihatan sebagai media komunikasi.

C. Karakteristik Anak Tuna Rungu

Adapun ciri-ciri anak tina rungu menurut Tri Gunardi meliputi:

a. Reflek anak dalam merespon suara sangat lambat.

(9)

b. Anak tidak mampu memfokuskan diri dengan lawan bicara c. Sering meminta pengulangan intruksi.

d. Pada saat diajak bicara anak sering mengerutkan dahinya.

e. Sering salah ucap dalam menjawab pertanyaan.

f. Anak sering mengalami masalah telinga, sakit tenggorokan dan demam. g.

Anak sama sekali tidak mampu mendengar suara.

D. Penyebab Terjadinya Anak Tuna Rungu

Secara umum faktor penyebab ketuna runguan anak seperti faktor

ketunaan pada umumnya yaitu prenatal, natal, dan post natal. Adapun menurut Jati Rinakri Atmaja, penyebab terjadinya tuna rungu dipengaruhi oleh dua tipe, yaitu tipe konduktif dan tipe sensorineural.

1) Tipe konduktif yaitu kerusakan yang terjadi pada telinga luar dan telinga bagian dalam. Adapun kerusakan pada telinga bagian luar disebabkan oleh tidak terbentuknya lubang telinga dan terjadinya peradangan pada lubang telinga bagian luar. Kemudian kerusakan yang terjadi pada telinga tengah disebabkan oleh adanya benturan yang keras pada telinga, infeksi, tulang pendengaran tidak berbentuk, otosclerosis (terjadi pertumbuhan tulang pada kaki tulang stapes), dan kerusakan pada saluran penghubung rongga telinga dengan rongga mulut.

2) Tipesensorineural meliputi faktor genetik (kerturunan) dan faktor non genetik yang disebabkan oleh penyakit rubella, ketidak sesuaian darah ibu dangan anak, meningitis (radang sepalput otak), dan trauma.

(10)

E. Dampak Tuna Rungu Terhadap Anak

Anak yang mengalami kelainan pendengaran akan menanggung konsekuansi yang sangat kompleks, terutama masalah kejiwaannya. Tuna rungu sering merasa terguncang jiwanya karena tidak mampu mengontrol lingkungan. Serta penderita juga akan mengalami hambatan dalam perkembangannya terutama dalam aspek bahasa, kecerdasan dan penyesuaian sosial.

Hal ini sesuai dengan pendapat Bapak Sulthon dalam Modul pendidikan anak berkebutuhan khusus, bahwa: “Karena ketunarunguan seseorang maka mereka miskin dalam berbahasa, sehingga komunikasi mereka juga terhambat.

Hambatan dalam berkomukasi ini berdampak pada perkembangan psikologinya sehingga tuna rungu mudah tersinggung, kurang peka terhadap orang lain, tidak memiliki konsep hubungan atau memahami perasaan, dan mudah marah”.

Melihat uraian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa dengan adanya ketuna runguan pada seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki hambatan belajar dalam mendengar, berbicara dan minimnya kosa kata bahasa.

Sehingga ini berdampak pada psikologi tuna rungu yang mengharuskan mereka tidak mampu mengetahui perasaan orang dan mudah emosi.

F. Intervensi atau Pendidikan Bagi Anak Tuna Rungu

Anak yang mengalami gangguan pendengaran, pastinya memiliki

hambatan dalam hal belajar. Oleh karena itu sebagai guru yang menangani anak tuna rungu harus mampu mengetahui karakteristik anak didiknya.

Adapun media pembelajaran yang cocok digunakan anak tuna rungu adalah media audio visual yang meliputi: stimulasi visual,cermin artikulasi (melihat dan mengontrol gerakan dari organ artikulasi anak), menggunakan benda asli atau tiruan, media gambar, tulisan, speech trainer, alat musik, tape

(11)

penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa layanan pendidikan yang digunakan guru untuk anak tuna rungu adalah pelatihan berbicara dan

pemanfaatan sisasisa pendengaran melalui alat-alat bantu yang menghasilkan bunyi.

G. Model Pembelajaran Face to Face Bagi Anak Tuna Rungu

Menurut Depdiknas, karakteristik model pembelajaran face to face

meliputi: Pertama, bersifat transformasi dan mengajarkan keterampilan secara langsung. Kedua, berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan di capai, dalam hal ini adalah peningkatan kemampuan berkomunikasi anak tuna rungu.

Ketiga, memiliki materi dan penilaian belajar yang terstruktur, dan yang ke- empat adalah menciptakan lingkungan yang mendukung keberhasilan pembelajaran.

Tahapan pembelajaran model face to face terdiri dari:

1) Orientasi, yaitu proses mengenalkan peserta didik dengan materi yang akan dipelajari. 2) Presentasi, yaitu proses menyajikan atau menyampaikan materi dengan memberikan konsep atau keterampilan pada peserta didik secara langsung.

3) Latihan terstruktur, yaitu kegiatan memantau peserta didik untuk melakukan latihan-latihan soal atau praktek. Dalam hal ini, terjadi kegiatan umpan balik antara pendidik dengan peserta didik melalui tanya jawab untuk mengkaitan materi dan mengoreksi pemahaman peserta didik yang masih kurang tepat.

4) Latihan terbimbing, yaitu proses memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih atau mempersilahkan peserta didik melakukan praktek yang di awasi dan di nilai oleh guru.

5) Latihan mandiri, dimana peserta didik mengerjakan tugas sendiri setelah menguasai konsep atau keterampilan tertentu

(12)

ANAK TUNA GRAHITA

1. Pengertian Anak Tuna Grahita

Tunagrahita adalah suatu kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan inteligensi dan ketidakcakapan dalam komunikasi sosial. Anak berkebutuhan khusus ini juga sering dikenal dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya. Akibatnya anak berkebutuhan khusus tunagrahita ini sukar untuk mengikuti pendidikan di sekolah biasa.

Istilah anak berkelainan mental subnormal dalam beberapa referensi disebut pula dengan terbelakang mental, lemah ingatan, mental subnormal, tunagrahita. Semua makna dari istilahtersebut sama,yakni menunjuk padaseseorang yang memiliki kecerdasan mental di bawah normal. Seseorang dikatakan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita,jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal) sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya (Bratanata,1979).

2. Klasifikasi Anak Tuna Grahita

a. Anak tunagrahita mampu didik IQ 68-52 adalah anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti pada program sekolah biasa,tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal. Kemampuan yang dapat dikembangkan pada anak tunagrahita mampu didik, antara lain:(1) membaca, menulis, mengeja, dan berhitung;(2) menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain;(3) Keterampilan yang sederhana untuk kepentingan kerja di kemudian hari. Kesimpulannya, anak tunagrahita mampu didik secara minimal dalam bidang-bidang akademis, sosial, dan pekerjaan.

b. Anak tunagrahita mampu latih IQ 51-36 adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sedemikian rendahnya sehingga tidak mungkin untuk mengikuti program yang diperuntukkan bagi anak tunagrahita mampu didik.

Oleh karena itu,beberapa kemampuan anak tunagrahita mampu latih yang perlu diberdayakan, yaitu (1) belajar mengurus diri sendiri, misalnya makan, pakaian,tidur atau mandi sendiri, (2) belajar menyesuaikan di lingkungan rumah atau sekitarnya,(3) mempelajari kegunaan ekonomi dii rumah di

(13)

tunagrahita mampu latih berarti anak tunagrahita hanya dapat dilatih untuk mengurus diri sendiri melalui aktivitas kehidupan sehari-hari, serta melakukan fungsi sosial kemasyarakatan menurut kemampuannya.

c. Anak tunagrahita mampu rawat IQ 39-25 adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sangat rendah sehingga ia tidak mampu mengurus diri sendiri atau sosialisasi.Untuk mengurus kebutuhan diri sendiri sangat membutuhkan orang lain. A child who is an idiotic so low intellectually that he does not learn to talk and usually does learn to take care of his bodily need (Kirk & Johnson, 1951). Dengan kata lain, anak tunagrahita mampu rawat adalah anak tunagrahita yang membutuhkan perawatan sepenuhnya sepanjang hidupnya, karena ia tidak mampu terus hidup tanpa bantuan orang lain (Patton, 1991).

3. Etiologi Anak Tuna Grahita

Pemahaman etiologi anak tunagrahita diharapkan dapat berguna dan dapat membantu para pendidik dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak tunagrahita seperti yang dikemukakan oleh smith (1998), sebagai berikut.

a. PENYEBAB GENETIK DAN KROMOSOM

Ketunagrahitaan yang disebabkan oleh faktor genetik yang dikenal dengan phenylketonuria. Hal ini merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh gen orang tua mengalami kurangnya produksi enzim yang memproses protein dalam tubuh sehingga terjadinya penumpukan asam yang disebut asam phenylpyruvic. Penumpukanini menyebabkan kerusakan otak.

Selain itu, mengakibatkan timbulnya penyakit Tay-Sachs,yaitu adanya gen yang terpendam yang diwariskan oleh orang tua yang membawa gen ini.

Selanjutnya faktor kromosom adalah Down's syndrome yang disebabkan oleh adanya kromosom ekstra karena kerusakan atas adanya perpindahan. Hal ini terjadi pada kromosom No. 21 sehingga terjadi 3 ekor yang disebut Trysomi.

b. PENYEBAB PADA PRAKELAHIRAN

Penyebab pada Prakelahiran terjadi ketika pembuahan. Hal yang paling berbahaya adalah adanya penyakit Rubela (campak jerman) pada janin. Selain itu, adanya infeksi penyakit Sifilis.

Dalam hal lain yang juga dapat menyebabkan kerusakan otak adalah racun dari alkohol dan obat-obatan ilegal yang digunakan oleh wanita hamil. Racun tersebut dapat mengganggu perkembangan janin sehingga menimbulkan sebuah masalah ketunagrahitaan yang akan terjadi pada anak-anak

(14)

keturunannya tersebut.

c. PENYEBAB PADA SAAT KELAHIRAN

Penyebab ketunagrahitaan pada saat kelahiran adalah kelahiran Prematur, adanya masalah proses kelahiran seperti kekurangan oksigen,kelahiran yang dibantu dengan alat-alat kedokteran berisiko terhadap anak yang akan menimbulkan trauma pada kepala. Terjadinya kelahiran prematur yang tidak atau kurang mendapatkan Perawatan dengan baik.

4. Defisit Anak Tuna Grahita

Anak berkebutuhan khusus dalam hal ini, yaitu defisit anak tunagrahita mencakup beberapa area utama, sebagai berikut.

a. Atensi (perhatian) sangat diperlukan dalam proses belajar.Seseorang harus dapat memusatkan perhatian sebelum ia mempelajari sesuatu.

Anak tunagrahita sering memusatkan perhatian pada benda yang salah, serta sulit mengalokasikan perhatian secara tepat.

b. Daya Ingat.Kebanyakan dari mereka yang menderita keterbelakangan mental mengalami kesulitan dalam mengingat informasi. Sering kali masalah ingatan yang dialami adalah yang berkaitan dengan working memory, yaitu kemampuan menyimpan informasi tertentu dalam pikiran sementara melakukan tugas kognitif lain.

c. Perkembangan Bahasa. Secara umum, anak tunagrahita mengikuti tahap-tahap perkembangan bahasa yang sama dengan anak normal, tetapi perkembangan bahasa mereka biasanya terlambat muncul, lambat mengalami kemajuan, dan berakhir pada tingkat perkembangan yang lebih rendah.

d. Mereka juga mengalami masalah dalam memahami dan menghasilkan bahasa. Perkembangan bahasa Self-regulation,yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur tingkah lakunya sendiri.Jadi, bila seseorang diberikan ssejumlah daftar kata-kata yang perlu diingat,kebanyakan orang akan engulanginya dengan cara menghafal dan menyimpannya dalam ingatan. Keadaan ini menunjukkan bahwa merekasecara aktif mengatur tingkah laku mereka untuk menentukan strategi apa yang akan digunakan.

e. Perkembangan sosial. Anak tunagrahita cenderung sulit mendapat

(15)

hal.Pertama,bahwa mulai usia prasekolah mereka tidak tahu bagaimana memulai interaksi sosial dengan orang lain. Kedua, bahkan mereka tidak sedang berusaha untuk berinteraksi dengan orang lain, mungkin menampilkan tingkah laku yang menjauh dari teman-temannya.

f. Motivasi. Jika anak cacat mental selalu mengalami kegagalan, maka dapat berisiko untuk mengembangkan kondisi learned helplessness, di mana munculnya perasaan bahwa seberapa besar pun usaha mereka, pasti akan menunjukkan kegagalan. Akhirnya cenderung mudah putus asa ketika dihadapkan pada tugas yang menantang.

g. Prestasi Akademik. Performa anak-anak cacat mental yang pada semua area kemampuan akademisnya berada di bawah rata-rata mereka yang seusia dengannya. Cenderung menjadi underachiever dalam kaitannya dengan harapan-harapan yang didasarkan pada tingkat kecerdasannya.

5. Dampak Tuna Grahita Terhadap Anak

a. DAMPAK TERHADAP KEMAMPUAN AKADEMIK

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, terlebih kapasitasnya mengenai hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) daripada dengan pengertian. Dengan membuat kesalahan yang sama, mereka cenderung menghindar dari perbuatan berpikir.

Mereka mengalami kesulitan memusatkan perhatian, dan lapang minatnya sedikit. Mereka juga cenderung cepat lupa, sulit untuk membuat kreasi baru, serta rentang perhatiannya pendek.

b. DAMPAK SOSIAL DAN EMOSIONAL

Dampak sosial emosional anak tunagrahita dapat berasal dari ketidakmampuannya dalam menerima dan melaksanakan norma sosial dan pandangan masyarakat yang masih menyamakan keberadaan anak tunagrahita dengan anggota masyarakat lainnya atau masyarakat masih menganggap bahwa anak tunagrahita tidak dapat berbuat sesuatu karena ketunagrahitaannya.

(16)

6. Strategi Penyusunan Kurikulum Pendidikan Anak Tuna Grahita

Strategi penyusunan kurikulum pendidikan anak tunagrahita adalah sebagai berikut.

A. Bagi Anak Tunagrahita Ringan

a. Pada dasarnya isi kurikulumnya (kuantitatif) sama dengan anak- anak normal. Namun, secara kualitatif sedikit lebih rendah daripada anak-anak normal.

b. Dapat ditambah dengan berbagai latihan keterampilan.

B. Bagi Anak Tunagrahita Menengah

A. Isi kurikulum baik kuantitas dan kualitasnya lebih rendah daripada anak-anak normal.

B. Bobot latihan keterampilan disarankan lebih banyak.

C. Bagi Anak Tunagrahita Berat

a. Orientasi isi pengajaran pada lingkungan di dekatnya.

b. Penekanan pada latihan keterampilan, seperti:

1) latihan gerakan tertentu;

2) latihan mengenal warna;

3) latihan mengenal bunyi;

4) latihan mengurus diri;

5) latihan membuat mainan dan sebagainya.

7. Jenis-Jenis Terapi Untuk Anak Tuna Grahita A. FISIOTERAPI

Fisioterapi adalah suatu terapi awal yang diperlukan oleh anak tu nagrahita karena tunagrahita terlahir dengan tonus yang lemah. Te rapi awal ini berguna untuk menguatkan otot-otot mereka sehingga ke lemahannya dapat diatasi dengan latihan-latihan penguatan otot.

B. TERAPI WICARA

Terapi wicara adalah suatu terapi yang diperlukan untuk anak tu nagrahita atau anak bermasalah dengan keterlambatan bicara. Deteksi dini diperlukan untuk mengetahui seawal mungkin gangguan ke mampuan berkomunikasi, sebagai dasar untuk memberikan pe layanan terapi wicara.

(17)

Terapi ini diberikan untuk dasar anak dalam halkemandirian, kognitif/pemahaman, dan kemampuan sensorik dan motoriknya.

Kemandirian diberikan karena pada dasarnya anak "bermasalah"

bergantung.pada orang lain atau bahkan terlalu acuh sehingga beraktivitas tanpa komunikasi dan mempedulikan orang lain.Terapini membantu anak mengembangkan kekuatan dan.koordinasi, dengan atau tanpa menggunakan alat.

D. TERAPI REMEDIAL

Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan akademis skill, jadi bahan-bahan dari sekolah bisa dijadikan acuan program.

E. TERAPI KOGNITIF

Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan kognitif dan perceptual, misalnya anak yang tidak bisa berkonsentrasi, anak yang mengalami gangguan pemahaman, dan lain-lain.

F. TERAPI SENSORI INTEGRASI

Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan pengintegrasian sensori, misalnya sensori visual, sensori taktil, sensori pendengaran, sensori keseimbangan, pengintegrasian antara otak kanan dan otak kiri, dan lain-lain.

Anak diajarkan berperilaku umum dengan pemberian sistem reward dan punishment. Bila anak melakukan apa yang diperintahkan dengan benar,maka

diberikan pujian.Sebaliknya anak dapat hukuman jika anak melakukan hal yang tidak benar.Dengan perintah sederhana dan yang mudah dimengerti anak.

G. TERAPI SNOEZELEN

Snoezelen adalah suatu aktivitas terapi yang dilakukan untuk memengaruhi CNS melalui pemberian stimulasi pada sistem sensori primer, seperti visual, auditori, taktil. Taste, dan smell serta sistem sensori internal, seperti vestibular dan proprioceptive dengan tujuan untuk mencapai relaksasi dan atau aktivitas. Snoezelen merupakan metode terapi multisensoris. Terapi ini diberikan pada anak yang mengalami gangguan perkembangan motorik,

(18)

misalnya anak yang mengalami keterlambatan berjalan.

8. Peranan Bimbingan Konseling Bagi Anak Tuna Grahita BIMBINGAN DAN KONSELING SEBAGAI LAYANAN

Bimbingan dan konseling sebagai layanan sedikitnya memerlukan 4 pendekatan (pendekatan krisis, remedial, pencegahan, dan perkembangan).

Pendekatan perkembangan dipandang sebagai pendekatan yang komprehensif sehingga disebut pendekatan komprehensif. Sebagai layanan yang memiliki pendekatan komprehensif, maka ada beberapa komponen di dalamnya, yaitu asumsi dasar dan ke butuhan dasar, teori bimbingan perkembangan, kurikulum dan tujuan bimbingan perkembangan, prinsip-prinsip bimbingan perkembangan, program bimbingan dan konseling, serta kebutuhan acuan yuridis dan model nasional untuk memperoleh standar layanan juga untuk melindungi layanan bimbingan dan konseling sebagai profesi.

Sebagai profesi (konselor), maka dibutuhkan aturan-aturan dan pe natalaksanaan layanan agar tidak tumpang tindih dengan profesi lain terutama dengan profesi guru. Untuk itu perlu adanya penataan pe ndidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling da lam jalur pendidikan

formal.Kebutuhan konselor di sekolah luar biasa (SLB) idealnya adalah ada di setiap SLB. Namun, minimalnya ada satu konselor dalam satu gugus SLB.

Keberadaan konselor diharapkan mampu mengatasi permasalahan di luar kemampuan dan kewenangan guru, misalnya melakukan layanan bimbingan dan korseling kepada orang tua ABK.

(19)

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN

Anak tuna rungu dan tuna grahita adalah anak yang mempunyai hambatan dalam pendengarannya, sehingga berdampak pada kognitif, interaksi sosial dan emosi anak terhadap lingkungannya. Sehingga dalam memberikan bantuan dan pendidikannya membutuhkan pelayanan yang khusus.

Maka untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa faktor penyebab dan bagaimana karakteristik anak tersebut. Jika sudah diketahui faktor penyebab dan karakteristik anak

tersebut maka dapat dilakukan terapi dan layanan penidikan yang sesuai dengan anak tersebut dan dapat dilakukan pengembangan potensi atau bakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

B. SARAN

Adapun saran yang ingin saya sampaikan adalah kita harus terbuka dan saling menghargai bahwa semua orang berhak menndapatkan atau memperoleh pendidikan tidak terkecuali untuk siapapun termasuk mereka yang memiliki kekurangan dalam aspek fisik maupun mental yang bisa dikategorikan tidak sama dengan orang normal yang memiliki fisik serta mental yang sehat.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Atmaja, JR. 2017. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan pembuatan prototipe pengenalan abjad jari untuk tuna rungu berbasis ATmega 32 adalah untuk membuat suatu alat yang bisa membantu tuna rungu dalam mempelajari

Anak tuna rungu wicara merupakan bagian yang sangat erat hubungannya dengan layanan pendidikan. Usaha peningkatan pelayanan pendidikan bagi anak tuna rungu wicara telah

Untuk itu skripsi ini penulis beri judul Pelaksanaan Bimbingan Dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Tuna Rungu Di Panti Sosial Bina Rungu Wicara Melati Bambu

Penelitian ini dilakukan pada Siswa Tuna Rungu di SMALB-B Pembina Tingkat Nasional Lawang dengan tujuan: (1) untuk mengetahui tingkat syukur pada siswa tuna

Skripsi ini berjudul “Efektivitas Program Pelatihan Keterampilan Bagi Penyandang Cacat Tuna Rungu Wicara di UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan Lansia Pematang

Tidak hanya untuk memberi gambaran strategi coping pada penyesuaian diri yang dilakukan oleh siswa tuna rungu, tetapi juga untuk menjelaskan faktor internal dan

Dalam buku Wasita (2012: 12) menyebutkan bahwa pendidikan bagi anak tuna rungu telah dirintis di Indonesia sejak didirikannya lembaga untuk anak tuna rungu oleh seorang

Apakah ibu pernah mendapatkan keluhan dari orang tua anak tuna rungu wicara mengenai sistem pelayanan yang di berikan di UPTD Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan