UJIAN MID SEMESTER
HUKUM KONTRAK INTERNASIONAL
Nama : Vinska Agitha Hasibuan NIM : 227011158
Jawaban:
1. a. Badan-badan tersebut adalah:
- World Trade Organization (WTO)
- The International Institute for The Unification Of Private Law (UNIDROIT)
- The United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL)
- The International Chamber Of Commerce (ICC).
b. Sifat keberlakuan dari seluruh Konvensi dalam penerapannya untuk perjanjian di Indonesia:
- World Trade Organization (WTO)
Tujuan WTO adalah unifikasi hukum, selain itu juga berupaya mendorong harmonisasi, standar-standar teknis bagi perdagangan internasional. Bidang pengaturan WTO meliputi sektor perdagangan, jasa, penanaman modal, hingga kekayaan intelektual menjadi bidang cakupan pengaturan (perjanjian) WTO.
- The International Institute for The Unification Of Private Law (UNIDROIT)
Tujuan utama adalah melakukan kajian untuk modernisasi, mengharmonisasi, dan mengkoordinasikan hukum privat, khususnya
hukum komersial (dagang) diantara negara atau sekelompok negara.
Yang terpenting dari UNIDROIT adalah mempersiapkan harmonisasi aturan-aturan hukum privat.
- The United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL)
Tujuan utamanya adalah mengurangi perbedaan-perbedaan hukum diantara negara-negara anggota yang dapat menjadi rintangan perdagangan internasional. UNCITRAL berupaya untuk membuat produk dan instrumen hukum yang modern yang dapat memberi kebutuhan hukum untuk memperlancar perdagangan internasional.
- The International Chamber Of Commerce (ICC)
Sebagai badan dalam membuat kebijakan-kebijakan atau aturan-aturan yang dapat memfasilitasi perdagangan internasional. Kebijakan yang ditempuh ICC adalah memberikan aturan-aturan dan standar-standar di bidang hukum perdagangan internasional.
2. a. Hal perjanjian jual beli barang (Sales of Goods)
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kontrak-kontrak Jual Beli Barang Internasional/The United Nations Convention on Contracts for the
International Sale of Goods (“CISG”).
b. Hal pengangkutan (Carrier) Konvensi Motreal 1999.
c. Hal pembayaran yang menggunakan Letter of Credit
UCP 600 (Uniform Customs and Practice for Documentary Credit).
d. Pengaturan mengenai konvensi asing, misalnya:
Convention on International Sales of Goods (CISG) dalam kaitannya dengan penerapan Lex Specialis bila para pihak menyatakan
menggunakan ataupun tidak menggunakan konvensi tersebut dalam perjanjiannya melibatkan sistem hukum yang berbeda.
- The United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods (“CISG”).
Pasal 11 CISG menetapkan bahwa sebuah kontrak jual-beli tidak perlu dibuat dan atau dibuktikan keberadaannya secara tertulis, dan tidak harus memenuhi persyaratan apapun tentang bentuknya. Keberadaan kontrak jual-beli dapat dibuktikan melalui alat bukti apapun, termasuk kesaksian. Sejalan dengan prinsip yang terkandung pada Pasal 11, Pasal 29 CISG menetapkan bahwa perubahan terhadap isi persyaratannya atau pengakhiran terhadap berlakunya sebuah kontrak jual-beli dapat dilakukan hanya dengan kesepakatan para pihak (by the mere agreement of the parties). Dalam hal sebuah kontrak tertulis berisi ketentuan yang menetapkan bahwa perubahan kontrak atau pengakhiran kontrak harus dilakukan secara tertulis, maka keharusan itulah yang mengikat para pihak.
- Konvensi Motreal 1999
Terdapat beberapa aturan penting dari Konvensi Montreal 1999, salah satunya Penumpang memiliki hak untuk memilih hukum nasional mereka dalam mengajukan klaim. Pasal 33 Konvensi Montreal 1999 memungkinkan penumpang untuk mengajukan gugatan terhadap maskapai penerbangan berdasarkan status kependudukan mereka.
Sebagai contoh, jika terjadi kerugian pada penerbangan dari Jakarta ke Singapura dengan maskapai penerbangan Indonesia dan ada Warga Negara Amerika Serikat yang menjadi korban, maka orang tersebut dapat menggugat maskapai penerbangan di pengadilan Amerika Serikat.
- UCP 600 (Uniform Customs and Practice for Documentary Credit) UCP adalah seperangkat ketentuan internasional mengenai prosedur pembayaran Documentary Credit yang penggunaannya didasarkan pada kesepakatan para pihak. Sebagai suatu ketentuan internasional keberlakuan UCP bersifat Lex Specialis Derogat Lex Generalis yaitu suatu ketentuan khusus berupa unifikasi kebiasaan-kebiasaan internasional mengenai Documentary Credit yang menggantikan ketentuan umum yaitu kebiasaan (custom) internasional mengenai Documentary Credit. Subjek berlakunya UCP adalah para pihak di dalam Documentary Credit yang menundukkan diri kepada UCP 600, sesuai ketentuan Artikel 1 UCP 600, apabila para pihak menginginkan agar Documentary Credit mereka tunduk kepada UCP 600 maka harus dicantumkan klausul pernyataan tunduk kepada UCP600, yaitu berupa pernyataan “this credit is subject to Uniform Customsand Practice for Documentary Credit, 2007 Revision, ICC Publication No. 600 (UCP 600)”. UCP hanya berlaku sepanjang para pihak menyatakan dengan tegas menundukkan diri kepada UCP.
3. a. Pactum Decompromittendo, yaitu Perjanjian Arbitrase yang dibuat sebelum timbulnya sengketa berupa Klausula Arbitrase yang tercantum dalam perjanjian pokok. Dan Acta Kompromis, yaitu Perjanjian Arbitrase yang dibuat setelah timbulnya sengketa berupa perjanjian tersendiri (bukan berupa amendment ataupun addendum perjanjian pokok).
b. Untuk melindungi para pihak yang merasa dirugikan atau tidak puas dengan putusan arbitrase, UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU AAPS) memberikan kewenangan kepada pengadilan untuk membatalkan putusan arbitrase manakala terdapat alasan-alasan yang dapat dibenarkan menurut undang-
undang. Sebagaimana diatur dalam Pasal 70 UU AAPS menyatakan:
"Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut: a. Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu; b. Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau c. Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa". Adapun Penjelasan Pasal 70 UU AAPS menyatakan:
"....Alasan-alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan. Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan-alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti, maka putusan pengadilan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan".
4. a. ICSID merupakan sebuah organisasi yang lahir dari Konvensi
Washington 1965, yang memilki tujuan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi dunia melalui arus investasi dan perdagangan internasional yang lebih besar, dan menumbuhkan iklim saling mempercayai antara negara (host state) dengan investor dalam meningkatkan arus penanaman modal. Dalam berbagai hal ICSID dapat dikatakan merupakan suatu organisasi yang unik dibidang alternative penyelesaian sengketa internasional, karena organisasi ini dibentuk untuk memenuhi kebutuhan tertentu pada masyarakat ekonomi global. Tujuan utama ICSID adalah menyediakan fasilitas untuk konsiliasi dan arbitrase sengketa investasi asing. Dua macam penyelesaian sengketa dalam ICSID adalah melalui konsiliasi dan arbitrase, di mana masing-masing mempunyai ketua atau dewan.
b. Putusan arbitrase asing dapat langsung didaftarkan permohonan eksekusi, sebagaimana tertuang dalam Pasal 67 ayat (1) UU 30/1999 atau UU Arbitrase dan Pasal 5 ayat (1) PERMA 1/1990. Hal ini dikarenakan Indonesia telah meratifikasi Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958, dan keterangan mengenai ratifikasi tersebut tercantum dalam Keppres 34/1981. Namun, perlu digaris bawahi bahwa nominasi pembentukan regulasi tersebut diberi beberapa batasan selayaknya untuk tetap menjaga konstitusi di Indonesia. Mengutip pada Pasal 66 UU Arbitase, putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia, apabila memenuhi syarat-syarat. Secara prosedural, putusan eksekusi asing harus melewati beberapa proses untuk selanjutnya dapat diakui keabsahannya, sebagaimana diatur dalam Pasal 66 UU Arbitrase. Namun, apabila putusan arbitrase asing tersebut menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa, maka eksekuatur hanya dapat dikeluarkan oleh Mahkamah Agung untuk selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan negeri Jakarta Pusat untuk di eksekusi.
c. Indonesia telah meratifikasi Washington Convention 1965 melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1968. Pasal 25 dari konvensi yang diratifikasi mengatur tentang yurisdiksi lembaga arbitrase International Centre for The Settlement of Investment Dispute (ICSID), di antaranya adalah untuk menyelesaikan sengketa penanaman modal antara para negara peserta (dan warga negara dari negara peserta). Beberapa Bilateral Investment Treaties (BIT) yang disepakati menunjuk lembaga arbitrase ICSID sebagai lembaga penyelesaian sengketa apabila terjadi permasalahan.
5. Notaris berperan untuk mengesahkan kontrak yang telah disepakati oleh para pihak. Notaris internasional dapat menjadi penengah terhadap sengketa yang terjadi didalam kontrak.