• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas hujan terhadap waktu guncangan kapiler dan tinggi guncangan kapiler. Judul tugas akhir kami adalah “PENELITIAN PENGARUH INTENSITAS CURAH HUJAN TERHADAP WAKTU KEJUTAN KAPILER DI TANAH Gandum”. Oleh karena itu, penting untuk mengamati pengaruh intensitas hujan terhadap waktu kejut kapiler pada tanah granular.

Salah satu faktor yang penting untuk diteliti adalah “Investigasi Pengaruh Intensitas Curah Hujan Terhadap Waktu Kejut Kapiler Pada Tanah Granular Menggunakan Simulasi (Uji Laboratorium)”. Bagaimana intensitas curah hujan mempengaruhi waktu kejut kapiler di tanah granular segera setelah hujan dengan intensitas terkendali? Bagaimana pengaruh intensitas curah hujan terhadap tinggi guncangan kapiler pada tanah granular segera setelah hujan dengan intensitas terkendali?

Menentukan Pengaruh Intensitas Curah Hujan terhadap Waktu Kejut Kapiler pada Tanah Berbutir Segera Setelah Hujan dengan Intensitas Terkendali. Menentukan pengaruh intensitas curah hujan terhadap tinggi guncangan kapiler pada tanah granular segera setelah hujan dengan intensitas terkendali.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan penelitian

Manfaat Penelitian

Batasan Masalah

Sistematika penulis

TINJAUAN PUSTAKA

Tekanan Kapiler

Intensitas Curah Hujan

Analisa Hidrologi

Variabel Penelitian

  • Variabel Bebas (Independent Variable)
  • Variabel Terikat (Dependent Variable)

Matriks Penelitian Terdahulu

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat Penelitian

Variabel Penelitian

Definisi Operasional Variabel

Waktu kejutan kapiler (capillary shock time) adalah jangka waktu dimana muka airtanah mulai turun, mulai dari saat turunnya hujan secara terus-menerus sampai muka airtanah naik kembali, hingga kembali ke muka semula. Ketinggian guncangan kapiler merupakan penurunan muka air tanah yang turun dari muka air tanah awal sebelum turun hujan ke muka air tanah yang paling rendah sebelum muka air tanah naik kembali.

Rancangan Penelitian

  • Instrumen Penelitian
  • Prosedur Pengujian

Contoh tanah diambil pada lokasi yang sama di Sungai Jenelata, kemudian contoh tanah tersebut dikumpulkan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Muhammadiyah Makassar untuk dilakukan uji sifat-sifat tanah yang ditentukan dengan pengujian antara lain: analisis saringan, kemudian contoh tanah yang sesuai dijemur dan dijemur di bawah sinar matahari. . A : luas permukaan tanah 3. Driving test.. a) Tanah kering ditempatkan pada wadah tanah dengan ketebalan lapisan tanah 80 cm.

Gambar 3.7. Foto Alat Model
Gambar 3.7. Foto Alat Model

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisa Data

Bagan Alur Penelitian

Terlihat bahwa ketinggian muka air tanah setelah turun, kembali naik pada saat hujan hingga mencapai titik maksimum. Selanjutnya disajikan grafik tinggi jatuhnya muka air tanah dan waktu tumbukan kapiler dengan perbandingan beberapa intensitas curah hujan yang telah digunakan dengan menggunakan media jenis tanah granular. Dari Gambar 4.10 diatas terlihat muka airtanah pada menit pertama mengalami penurunan dari awalnya 10 cm menjadi 9,7 cm, pada menit ke 10 muka airtanah semakin menurun yaitu 8,0 cm, kemudian pada menit ke 20 mencapai 6,6 cm dan pada menit ke 20 tinggi muka airtanah menurun lagi yaitu 8,0 cm, kemudian pada menit ke 20 mencapai 6,6 cm dan pada menit ke-30 mencapai 5,2 cm, menit ke-40.

Hal ini menunjukkan bahwa pada intensitas curah hujan yang digunakan yaitu dengan intensitas curah hujan tinggi I2 diperoleh penurunan muka airtanah sebesar 6 cm, karena muka airtanah awal sebelum hujan adalah 10 cm, pada saat hujan masuk dan sebelum airtanah turun. Ketinggian air kembali naik pada menit ke 45, tinggi muka air tanah turun menjadi 4 cm, sehingga selisih tinggi muka air tanah sebelum dan saat hujan mencapai 6 cm. Dari Gambar 4.11 diatas terlihat muka airtanah pada menit pertama mengalami penurunan dari 10 cm menjadi 9,6 cm, pada menit ke 10 muka airtanah semakin menurun yaitu 7,5 cm, kemudian pada menit ke 20 mencapai 6,4 cm dan pada menit ke 37 . pada menit 4,2 cm, pada menit ke 38 wajah. Hal ini menunjukkan bahwa pada intensitas curah hujan yang digunakan yaitu dengan intensitas curah hujan tinggi I5 diperoleh penurunan muka airtanah sebesar 5,8 cm, karena muka airtanah awal sebelum hujan adalah 10 cm, pada saat turun hujan dan sebelum turunnya muka airtanah. naik kembali dalam waktu 37 menit, tinggi muka air tanah turun menjadi 4,2 cm sehingga selisih tinggi muka air tanah sebelum dan saat hujan mencapai 5,8 cm.

Dari gambar 4.12 diatas terlihat muka air tanah pada menit pertama mengalami penurunan dari awalnya 10 cm menjadi 9,4 cm, pada menit ke 10 muka air tanah semakin menurun yaitu 7,0 kemudian pada menit ke 20 mencapai 5,7 cm dan pada menit ke 32 menit mencapai 4,4 cm, pada menit ke 40 wajah. Hal ini menunjukkan bahwa pada intensitas curah hujan yang digunakan yaitu. I10 intensitas curah hujan tinggi, penurunan muka air tanah yang didapat mencapai 5,6 cm karena muka air tanah awal sebelum hujan adalah 10 cm, pada saat hujan turun dan sebelum muka air tanah naik lagi menjadi 32 menit, muka air tanah turun menjadi 4,4 cm sehingga selisih tinggi muka airtanah sebelum dan saat hujan mencapai 5,6 cm. Dari Gambar 4.13 diatas terlihat tinggi muka air tanah pada menit pertama menurun dari 10 cm menjadi 9,3 cm, pada menit ke-10 muka air tanah semakin menurun yaitu 7,1 cm, kemudian pada menit ke-20 mencapai 6,0 cm, pada menit ke-32 . menit.Ketinggian air tanah masing-masing meningkat.

Hal ini menunjukkan bahwa pada intensitas curah hujan yang digunakan yaitu intensitas curah hujan tinggi I25, diperoleh penurunan muka airtanah sebesar 4,8 cm karena muka airtanah awal sebelum hujan adalah 10 cm, pada saat hujan masuk dan sebelum muka airtanah naik kembali pada tahun Dalam waktu 30 menit, tinggi muka air tanah turun menjadi 5,2 cm sehingga selisih tinggi muka air tanah sebelum dan saat hujan mencapai 4,8 cm. Dari Gambar 4.14 diatas terlihat tinggi muka airtanah pada menit pertama menurun dari semula 10 cm menjadi 9,1 cm, pada menit ke-10 muka airtanah semakin menurun yaitu 7,2 cm, kemudian pada menit ke-27 mencapai 5,4 cm, pada menit ke-27 tinggi muka airtanah menurun lagi yaitu 7,2 cm, kemudian pada menit ke-27 mencapai 5,4 cm, pada menit menit ke 28. Ketinggian air bawah tanah mengalami kenaikan sebesar 6,0 cm, hingga menit ke 90, dari grafik di atas terlihat menit pertama. Hal ini menunjukkan bahwa pada intensitas curah hujan yang digunakan yaitu intensitas curah hujan tinggi I50 diperoleh penurunan muka air tanah sebesar 4,6 cm karena muka air tanah awal sebelum hujan adalah 10 cm, pada saat hujan masuk dan sebelum muka air tanah naik kembali. dalam waktu 27 menit, tinggi muka air tanah turun menjadi 5,4 cm sehingga selisih tinggi muka air tanah sebelum dan saat hujan mencapai 4,8 cm.

Pengaruh hujan terhadap perubahan elevasi muka airtanah pada model unit resapan dengan media tanah berpasir. 2013, Pengaruh Hujan Terhadap Perubahan Ketinggian Air Tanah Pada Model Unit Resapan Dengan Media Tanah Berpasir, Jurnal Ilmiah Semesta Teknika Vol. Darwis dkk, 2014 Pengaruh jumlah lubang bambu sebagai alat pelengkap terhadap durasi guncangan kapiler dan waktu pemulihan tinggi muka airtanah pada periode awal musim hujan.

Tabel 4.6. Hasil Pengujian Analisa Saringan Pasir Sedang (medium sand).
Tabel 4.6. Hasil Pengujian Analisa Saringan Pasir Sedang (medium sand).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Perhitungan Intensitas Curah Hujan

Hasil Pengamatan Waktu Kejut Kapiler

Dari tabel 4.7 diatas terlihat bahwa tinggi muka air tanah atau yang disebut aksi kapiler akan menurun pada awal hujan dan ketika air hujan yang diinfiltrasi masuk ke dalam tanah hingga mencapai batas tekanan kapiler maka tinggi muka air tanah akan naik hingga mencapai batas tekanan kapiler. mencapai titik maksimum. Berdasarkan gambar 4.15 diatas penurunan muka air tanah intensitas curah hujan I2 terjadi pada menit pertama sampai menit ke 45, untuk intensitas hujan I5 terjadi pada menit pertama sampai menit ke 37, intensitas Curah Hujan I10 terjadi pada menit ke menit pertama 32, untuk Intensitas Curah Hujan I25 terjadi pada menit pertama sampai menit ke 30 dan untuk Intensitas Curah Hujan I50 penurunan muka air tanah terjadi pada menit pertama sampai dengan menit ke 27. Dari gambar 4.16 diatas maka diperlukan intensitas waktu kejut kapiler maka curah hujan I2 adalah 45 menit. , untuk I5 waktu yang dibutuhkan adalah 37 menit, untuk I10 membutuhkan waktu 32 menit, untuk I25 selama 30 menit dan untuk I50 waktu langkah kapiler adalah 37 menit.

Berdasarkan Gambar 4.17 diatas, tinggi tumbukan kapiler untuk intensitas hujan I2 adalah 5 cm, intensitas hujan I5 dengan tinggi pertambahan 5,8 cm, untuk I10 tinggi jatuhnya airtanah 5,6 cm, I25 dengan tinggi pertambahan 4,8 cm dan untuk I50 tinggi jatuhnya air tanah adalah 5,6 cm. tinggi langkah kapiler adalah 4,6 cm.

Gambar 4.10. Grafik Ketinggian Kejut Kapiler Dan Waktu Kejut Kapiler Pada  Intensitas Curah Hujan I 2
Gambar 4.10. Grafik Ketinggian Kejut Kapiler Dan Waktu Kejut Kapiler Pada Intensitas Curah Hujan I 2

Pembahasan

  • Waktu kejut kapiler
  • Tinggi kejut kapiler

PENUTUP

Saran

Dalam pengambilan dan pembacaan data guncangan kapiler perlu diperhatikan dengan baik terutama ketinggian turunnya muka airtanah, karena biasanya tangki pengamatan diisi dengan material rembesan dari tangki tanah, sehingga pembacaan tinggi muka airtanah pada tangki pengamatan tidak jelas. Darwis dkk. Tahun 2017 dan 2018. Pemodelan pembentukan sumur resapan untuk pemulihan air tanah dan pencegahan intrusi air laut ke dalam lapisan tanah pada lahan pertanian tanaman sekunder di wilayah pesisir kabupaten Takalar. Darwis, (2017a). Teknologi konservasi air tanah dangkal berbasis potensi lokal dengan bambu sebagai alat pendukung laporan penelitian unggulan perguruan tinggi (POPT), Oktober 2017.

Gambar

Tabel 2.1 Pembagian Jenis Tanah Berdasarkan Ukuran Butir
Tabel 2.2. Klasifikasi tanah sistem AASHTO
Gambar 2.2. Diagram Kapasitas air tanah (Davie T.2008)
Tabel 2.4 Kenaikan Kapiler Untuk Beberapa Jenis Tanah  No  Jenis Tanah  Deskripsi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Syarat Pendaftaran Mendaftar langsung ke panitia lelang Kalender, Agenda dan Marketing Tools PT EDI Indonesia, dengan mengirimkan dokumen vendor pada database vendor PT EDI Indonesia