• Tidak ada hasil yang ditemukan

UTS ETIKA Yoga Hayu Dwi Waskitho 2023H 426 (1)

N/A
N/A
kati pah

Academic year: 2024

Membagikan "UTS ETIKA Yoga Hayu Dwi Waskitho 2023H 426 (1)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Yoga Hayu Dwi Waskitho Kelas : 2023H

Nim : 426

1. Etika, norma, dan moral sering dikaitkan dengan perilaku manusia, namun ketiganya memiliki perbedaan yang cukup signifikan

Etika

Etika adalah kajian filosofis tentang baik dan buruk dalam tindakan manusia, mencari prinsip-prinsip universal untuk menilai tindakan. Etika menawarkan kerangka berpikir untuk mengevaluasi moralitas.

Contoh: Apakah berbohong selalu salah? Etika menganalisisnya melalui berbagai teori seperti utilitarianisme atau deontologi.

Norma

Norma adalah aturan yang disepakati oleh masyarakat untuk mengatur perilaku, baik formal (hukum) maupun informal (kebiasaan). Norma bertujuan menjaga keteraturan sosial.

Contoh: Mengantri dengan tertib atau memberi salam adalah norma sosial umum.

Moral

Moral merujuk pada keyakinan pribadi atau kelompok tentang benar-salah, dipengaruhi oleh budaya, agama, atau pengalaman. Moral lebih subjektif dan kontekstual dibandingkan etika.

Contoh: Dalam budaya tertentu, minum alkohol mungkin dianggap salah, sementara di budaya lain dianggap wajar.

Pentingnya Etika bagi Manusia:

1. Panduan Pengambilan Keputusan: Etika membantu kita mempertimbangkan konsekuensi tindakan, menawarkan prinsip untuk memilih secara bijak.

2. Menjaga Keharmonisan Sosial: Etika membantu menciptakan masyarakat yang adil dengan nilai-nilai seperti kejujuran dan keadilan.

3. Mengurangi Konflik: Etika memastikan tindakan kita tidak merugikan orang lain, sehingga mencegah konflik.

4. Pengembangan Karakter: Dengan etika, kita membangun integritas dan mendapatkan kepercayaan serta penghormatan dari orang lain.

5. Secara keseluruhan, etika penting untuk menciptakan kehidupan yang adil, harmonis, dan bermartabat bagi semua.

(2)

2. Dalam etika administrasi publik, terdapat empat prinsip utama yang menjadi panduan bagi birokrat: keadilan, kejujuran, kepentingan publik, dan profesionalitas.

1. Keadilan: Birokrat harus adil dan tidak memihak dalam pengambilan keputusan serta distribusi sumber daya, tanpa diskriminasi.

 Kritik: Praktiknya sering terhambat oleh nepotisme dan korupsi, di mana keputusan kerap menguntungkan kelompok tertentu saja, mengabaikan akses yang adil bagi masyarakat luas.

2. Kejujuran: Birokrat diharapkan jujur, transparan, dan tidak memanipulasi data atau keputusan untuk keuntungan pribadi.

 Kritik: Korupsi menjadi musuh utama prinsip ini. Suap dan penggelapan masih umum terjadi, terutama dalam tender proyek pemerintah.

3. Kepentingan Publik: Tindakan birokrasi harus selalu didasarkan pada kepentingan masyarakat luas, bukan untuk individu atau kelompok tertentu.

 Kritik: Banyak kebijakan yang lebih mengutamakan kepentingan politik atau elit tertentu, mengesampingkan kebutuhan masyarakat.

4. Profesionalitas: Birokrat harus kompeten, efisien, dan mengikuti standar etika tinggi.

 Kritik: Perekrutan yang sering didasarkan pada kedekatan politik, bukan merit, menyebabkan kurangnya profesionalitas dan buruknya kualitas pelayanan.

3. Transparansi adalah prinsip yang menekankan keterbukaan dalam

pengelolaan pemerintahan dan pelayanan publik. Artinya, informasi terkait kebijakan, anggaran, dan keputusan harus mudah diakses oleh

masyarakat. Namun, di Indonesia, prinsip ini masih menghadapi banyak kendala.

Contoh Kasus: Korupsi Dana Bansos COVID-19 (2020)

Salah satu kasus transparansi yang mencuat adalah penyelewengan dana bantuan sosial (bansos) COVID-19 oleh mantan Menteri Sosial, Juliari Batubara, pada tahun 2020. Dana yang seharusnya digunakan untuk membantu masyarakat terdampak pandemi justru disalahgunakan. Kasus ini terbongkar setelah Komisi

Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bukti suap dan manipulasi dalam proses pengadaan bansos.

Kritik atas Transparansi di Kasus Ini:

 Kurangnya Pengawasan dan Keterbukaan: Masyarakat tidak mendapatkan akses yang cukup mengenai bagaimana dana bansos didistribusikan.

Minimnya keterbukaan membuat pengawasan independen sulit dilakukan, sehingga pelanggaran terjadi tanpa deteksi dini.

 Transparansi yang Terbatas pada Laporan: Meski ada laporan resmi,

informasi yang dipublikasikan sering kali hanya formalitas. Tidak ada rincian yang memadai mengenai aliran dana, sehingga masyarakat sulit melacak adanya penyimpangan.

(3)

 Tekanan Politik dan Birokrasi: Transparansi sering terhambat oleh tekanan politik dan kepentingan birokrasi. Informasi penting kerap disembunyikan oleh pejabat yang punya pengaruh, seperti dalam kasus bansos ini, demi melindungi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Kesimpulan:

Praktik transparansi di Indonesia masih jauh dari ideal. Kasus korupsi bansos COVID-19 memperlihatkan bahwa tanpa pengawasan yang ketat dan akses yang jelas terhadap informasi publik, penyalahgunaan kekuasaan tetap bisa terjadi, bahkan dalam situasi darurat. Diperlukan mekanisme keterbukaan yang lebih tegas dan sistem pengawasan publik yang lebih efektif untuk memastikan transparansi yang tepat.

4. a. Review Brutal Food Vlogger

Link: https://food.detik.com/info-kuliner/d-7569837/ramai-review-brutal-food- vlogger-diblokir-umkm-berakhir-minta-maaf

Secara etika, seorang food vlogger memang berhak memberikan review jujur.

Namun, penyampaian kritik yang "brutal" tanpa memperhitungkan dampaknya bisa merugikan usaha kecil (UMKM) secara tidak proporsional. Etika profesional bekerja agar kritik diberikan dengan cara yang adil dan tidak merendahkan usaha orang lain. Fokusnya harus pada kualitas produk, bukan menghancurkan reputasi bisnis kecil.

Di sisi lain, UMKM juga perlu menanggapi kritik dengan kepala dingin dan terbuka, bukan memblokir atau merespons dengan emosi. Keduanya memiliki tanggung jawab untuk menjaga interaksi yang konstruktif dan saling menghargai.

b. Tunjangan Perumahan Anggota DPR-RI

Link: https://tirto.id/tunjangan-rumah-anggota-dpr-saat-rakyat-sulit-dapat-hunian- layak-g4v1

Tunjangan besar bagi anggota DPR di tengah kesulitan masyarakat untuk memiliki hunian layak menimbulkan pertanyaan etis. Dalam situasi ini, etika keadilan sosial mengharuskan wakil rakyat mengutamakan kepentingan publik, terutama mereka yang paling membutuhkan. Memberi tunjangan besar kepada diri sendiri ketika rakyat berjuang untuk kebutuhan dasar melanggar prinsip keadilan.

Anggota DPR punya tanggung jawab moral untuk menunjukkan solidaritas dengan rakyat. Bukannya menikmati fasilitas mewah, mereka seharusnya memprioritaskan kebijakan yang membantu rakyat yang sedang kesulitan.

c. Hakim Mogok Kerja

Link: https://www.detik.com/sulsel/makassar/d-7575533/hakim-pn-makassar- mogok-kerja-5-hari-100-agenda-sidang-tertunda

(4)

Aksi mogok kerja oleh hakim yang menyebabkan tertundanya lebih dari 100 agenda sidang menimbulkan masalah etika dalam pelayanan publik. Hakim bertanggung jawab untuk memastikan keadilan bisa diakses oleh masyarakat.

Mogok kerja yang mengganggu akses keadilan jelas melanggar prinsip integritas profesi.

Namun, bila mogok ini bertujuan menuntut kondisi kerja yang lebih baik atau mengungkap masalah internal yang mengganggu kinerja pengadilan, mogok bisa dipandang sebagai bentuk protes yang sah. Meski begitu, tetap harus ada

pertimbangan agar dampaknya tidak merugikan masyarakat yang menunggu keadilan.

Dalam ketiga kasus ini, etika menggarisbawahi pentingnya kepatutan,

keseimbangan, dan tanggung jawab sosial. Semua pihak harus bertindak dengan mempertimbangkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan menjunjung tinggi prinsip keadilan.

Referensi

Dokumen terkait