JURNAL SYAR’INSURANCE (SIJAS)
Vol. 9 No. 1 Januari - JuniISSN: 2460-5484
40
Copy right © 2022 author (s)
IMPLEMENTASI FATWA MUI TENTANG ASURANSI HAJI DI KEMENTRIAN AGAMA KOTA SERANG
Rustamunadi, Alaudin Khasan, dan Siti Nurasiah1*
1,2,3 Department of Sharia Insurance, Faculty of Islamic Economic and Businness.
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Article History:
Diterima Redaksi: 30-05-2023 Selesai Revisi: 01-06- 2023 Published: 05-06-2023 Keywords:
Implementasi Fatwa MUI, Asuransi Haji
*Corresponding Author:
[email protected] [email protected] [email protected]
Abstract: Hajj insurance is regulated in the provisions of fatwa no 39/DSN-MUI/X/2002, so in this fatwa it is explained that what is used is the tabbaru contract. The purpose of the tabbaru contract is to help fellow pilgrims as tabbaru givers with sharia insurance acting as the grant fund manager. In the provisions of the fatwa it is written that the sharia insurer has the right to receive a ujrah (fee) for the management of tabbaru funds, the amount of which is determined according to the principles of fairness and justice. This research will discuss the government's role in managing Hajj insurance and Hajj insurance procedures. This study used a qualitative approach which was developed using a descriptive method. The data used are primary data and secondary data.
Primary data obtained from interviews and observations. In the management of insurance for pilgrims created as a form of self- protection when performing the pilgrimage, because no one knows what will happen tomorrow. Starting from hajj savings, hajj insurance and preparing for health, especially the mind to perform the pilgrimage..
PENDAHULUAN
Perekonomian pada saat ini banyak Manusia sebagai mahluk ciptaan tuhan yang tidak akan terlepas dari resiko-resiko dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak memandang kasta kehidupan di dunia, seperti kecelakaan, kematian, maupun sakit semua itu dapat menimpa seorang manusia yang menjadi kerugian besar bagi yang mengalaminya.
Tidak hanya di Negara Indonesia saja yang bisa mengalami hal tersebut, dinegara Malaysia juga sama. Namun ada sedikit perbedaan antara Malaysia dan Indonesia. Para jamaah haji Indonesia mendapatkan program arbain yakni sholat 40 waktu berjamaah di masjid nabawi
madinah. Sedangkan Malaysia program ini sudah dihapuskan dengan alasan sunnah dan untuk efisiensi waktu, warga Indonesia juga lebih beruntung dari Malaysia karena masa tunggu haji paling lama 43 tahun untuk kuota 100 persen atau 86 tahun untuk kuota 50 persen. Dan ada aturan body mass index (BMI) dihitung 40 keatas tidak diperbolehkan berangkat. 35-40 bagi calon jamaah haji bagi punya penyakit bawaan seperti kencing manis, dan darah tinggi yang tidak terkontrol juga tidak diperkenankan berangkat karena meminimalisir terjadinya resiko yang tidak diinginkan.
Setiap resiko yang dihadapi akan memiliki resikonya sendiri maka setiap
41 resiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak akan menimbulkan kerugian yang lebih besar.1
Resiko-resiko yang tidak diinginkan seperti yang telah disebutkan maka untuk mengurangi resiko tersebut diperlukan perusahaan asuransi yang mana perusahaan tersebut akan menanggung ketika resiko-resiko itu muncul dan menimpa hidup kita. Jauh sebelum adanya perusahaan asuransi muncul di dalam agama Islam Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an untuk hambanya melakukan upaya mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok maka konteksnya Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menabung dan berasuransi. Berasuransi merupakan salah satu untuk berjaga-jaga jika suatu saat musibah itu datang menimpa kita.
Asuransi dijelaskan secara bahasa berasal dari bahasa inggris yaitu insurance.
Insurance memiliki arti asuransi atau jaminan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia asuransi telah diadopsi kedalam kamus besar bahasa Indonesia dengan penadaan kata pertanggungan. Menurut wirjono asuransi adalah suatu persetujuan antara dua belah pihak yang menjamin dan berjanji pada pihak yang dijamin untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diterima oleh orang yang dijamin karena akibat dari peristiwa yang belum jelas.2
Dijelaskan oleh Muhamad Nejatullah Shidiqi bahwa asuransi merupakan suatu kebutuhan dasar bagi manusia karena kecelakaan dan konsekuensi finansialnya memerlukan santunan. Asuransi merupakan perusahaan penyantunan masalah-masalah
1 Muhamad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life And General) Konsep Dan Operasional, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004, Cet 1), Hlm 86
2 Zainudin Ali, Hukum Asuransi Syariah, (Jakara: Sinar Grafika, 2008,Cet 1), hlm 1.
universal, seperti kematian, cacat, kebakaran, banjir dan kecelakaan yang bersangkutan dengan transportasi serta kerugian finansial yang disebabkan oleh itu.3 Dalam kitab undang-undang hukum dagang (Wetboek Van Koophandle) pada pasal 246 secara umum yang dimaksud dengan asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian yang dengan perjanjian tersebut penanggung mengikatkan diri kepada seseorang tertanggung untuk memberikan pergantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan diharapkan yang mungkin dideritanya karena suatu peristwa yang tidak tertentu. Sebagai seorang muslim kita harus mengetahui apa arti dari asuransi konvensional maupun asuransi syariah dan harus pula sebagai seorang muslim kita lebih mengedepankan asuransi syariah. Karena dikhawatirkan dalam asuransi konvensional terdapat nilai-nilai yang kurang sesuai dengan syariat Islam. Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) asuransi sayariah adalah sebuah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset atau tabbaru yang mengembalikan pada pengembalian untuk mendapati resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan prinsip syariah.4
Banyak jenis dan macamnya produk-produk dari asuransi syariah salah satunya adalah asuransi jiwa dalam pelaksanaan ibadah haji yang biasa disebut dengan asuransi haji, dimana banyak jamaah haji yang sudah lanjut usia yang membutuhkan jaminan hidupnya.
Tidak sedikit para jamaah haji yang
3Muh. Nejatullah Shidiqqi, Asuransi Dalam Islam, (Bandung, Pustaka Bani Quraisy, Cet 1, 2005). hlm 2.
4Feri Ramdhani, Prospek dan Tantangan Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia, vol I, 2015
42 berguguran (meninggal) ketika pelaksanaan ibadah haji yang sering terjadi karena banyak faktor yang menjadikan banyaknya para jamaah haji yang meniggal saat pelaksanaan ibadah haji, faktor utamanya adalah banyaknya kegiatan ibadah haji yang menguras tenaga, rangkaian kegiatan haji baik yang berupa rukun maupun wajib haji seluruhnya dilakukan pada tempat-tempat yang telah ditetapkan oleh syariat agama antara lain miqat-miqat yang telah ditetapkan seperti Mekkah, Arafah, Mina dan Muzdalifah termasuk ziarah ke makam Nabi Muhamad SAW di Madinah.
Dimana ditempat tersebut berada diwilayah Saudi Arabia.5 Itu pula yang menjadi faktor kelelahan akibat banyaknya menguras tenaga dan banyak sekali para jamaah haji yang sudah lanjut usia. Maka oleh karena itu para jamaah harus mengikuti asuransi jiwa dalam pelaksanaan ibadah haji ini, agar ketika ada sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi saat kita sedang melaksanakan ibadah haji, seperti meninggal dunia salah satunya dan untuk para keluarga dirumah yang sedang menunggu tidak merasa kebingungan prihal finansial maupun pengurusan jenazahnya karena semuannya sudah diasuransikan melalui asuransi haji dan akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan yang menjadi penanggung jawab prihal asuransi tersebut.
Produk asuransi haji ini bisa kita temukan pada kementrian agama kota serang, yang mana asuransi haji menghadirkan perlindungan finansial terhadap jamaah para jamaahnya atas musibah yang dapat terjadi selama menjalankan ibadah haji. Asuransi haji telah diatur melaui fatwa Majelis Ulama
5A Chunaini Saleh, Penyelenggaraan Haji Era Reformasi Analisis Internal Kebijakan Publik Departemen Agama, (Ciputat: Pustaka Alvabet Anggota Ikapi, 2008), hlm 2.
Indonesia (MUI) No 39/DSN- MUI/X/2002 tentang asuransi haji.
Dengan adanya asuransi haji jamaah haji memperoleh ketenangan selama menjalankan ibadah haji di tanah suci dan keluarga yang ditinggalkan terhindar dari bencana finansial bilamana musibah datang menghampiri.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 39/DSN-MUI/X/2002 tentang asuransi haji. Dalam fatwa ini menjelaskan bahwa yang digunakan dalam asuransi haji ini menggunakan akad tabbaru (hibah) yang bertujuan untuk saling tolong-menolong sesama jamaah haji sebagai pemberi tabbaru dengan asuransi syariah yang bertindak sebagai pengelola dana hibah. Kemudian ada juga didalam ketentuam khusus yang berbunyi bahwa asuransi syariah berhak memperoleh ujrah (free) atas pengelola dana tabbaru yang besar nya ditentukan sesuai dengan prinsip adil dan wajar.
Manajemen perlu diadakan untuk para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji tersebut, baik menejemen dari sudut pandang peran atau pelayanan, maupun konseling, bimbingan, dan lain sebagainya, diperlukan untuk menunaikan ibadah haji untuk mencapai hasil yang diinginkan. Semoga cita-cita para jamaah haji dalam menunaikan ibadah ini dapat terpenuhi secara utuh dan memuaskan, tanpa menejemen tersebut tujuan haji tidak dapat tecapai secara optimal, efektif dan efisien. Menurut definisi, pelayanan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan orang lain, yaitu kegiatan yang diberikan oleh suatu lembaga kepada pihak lain yang biasanya tidak terlihat dan tidak dapat memberikan hasil kepada pihak lain, dan bermaksudkan untuk membentu memberikan hasil kepada pihak lain.
Menejemen pelayanan haji adalah aplikasi menejemen yang memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah haji.
Kementrian agama kota serang yang bergerak dibidang ini, dan berusaha
43 memberikan pelayanan yang terbaik dalam melaksanakan perjalanan haji dan umrah di Kota Serang. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wuryaningsih D (2017) membahas pembiayaan ibadah haji pada lembaga keuangan syariah yang sama-sama diatur pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 39/DSN-MUI/X/2002.
Kemudian Erry F (2017) pada penelitiannya membahas tinjauan terhadapa tanggung jawab badan pengelola keuangan haji (BPKH) dalam melakukan penempatan dan investasi keuangan haji. Berdasarkan uraian diatas dalam penelitian ini akan membahas mengenai implementasi fatwa MUI tentang asuransi haji di Kementerian Agama Kota Serang.
LANDASAN TEORI Asuransi Syariah
Asuransi jika dilihat secara syariah pada hakikatnya adalah suatu bentuk kegiatan saling memikul risiko diantara sesama manusia sehingga antara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas risiko yang lainnya. saling pikul risko itu dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cara masinh-masing mengeluarkan dana ibadah (Tabarru’) yang ditunjukkan untuk menanggung risiko tersebut, dengan kata lain asuransi syariah adalah sistem dimana para peserta menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan utuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Asuransi Syariah asuransi ta’awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu, atas dasar prinsip syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta. dalam asuransi syariah tidak ada memakan harta manusia dengan batil(aklu amwalinnas bilbathil), karena apa yang telah diberikan adalah
semata-mata sedekah dari hasil harta yang dikumpulkan. selain itu keberadaan asurani syariah akan membawa kemajuan dan kesejahteraan pada perekonomian umat.
Asuransi secara syariah pada hakikatnya adalah kegiatan saling memikul resiko di antara sesama manusia sehingga antara yang satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya.
Sehingga menanggung resiko itu dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cara masing-masing mengeluarkan dana tabarru‟ yang ditunjukkan untuk menanggung resiko tersebut6. Menurut Robert I mehr, Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi resiko dengan menggabungkan sejumlah unit-unit yang berisiko agar kerugian individu secara kolektif dapat diprediksi. Kerugian yang dapat diprediksi tersebut kemudian dibagi dan didistribusikan secara proposional di antara semua unit-unit dalam gabungan
tersebut. Menurut Fatwa
DSN.No.21/DSN-MUI/X/2001 Asuransi Syariah (Ta’min, takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling dan tolong-menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk Aset dan/atau Tabarru’
yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.7
Asuransi Syariah terbagi dalam dua kelompok yaitu asuransi syariah keluarga (asuransi jiwa) dan asuransi umum syariah. Asuransi syariah keluarga (asuransi jiwa) merupakan bentuk asuransi yang memberikan perlindungan dalam menghadapi musibah kematian dan
6Abdullah Amrin, meraih berkah melalui asuransi syariah ditinjau dari perbandingan dengan asuransi konvensional(Jakarta : PT. alex media komputindo, 2011), 35
7 Abdullah Amrin, Asuransi Syariah,h. 35- 36
44 kecelakaan atas diri asuransi. Sedangkan asuransi umum syariah merupakan bentuk asuransi yang memberi perlindungan dalam menghadapi bencana atau kecelakaan harta milik peserta asuransi seperti rumah, kendaraan bermotor, dan bangunan pabrik.
Tinjauan Umum Ibadah Haji
Haji secara lughowi (etimologis) berasal dari bahasa Arab alhajj, berarti tujuan, maksud, dan menyengaja untuk perbuatan yang besar dan agung. Selain itu al-hajj berarti mengunjungi atau mendatangi.
Makna ini sejalan dengan aktivitas ibadah haji, dimana umat Islam dari berbagai negara mengunjungidan mendatangi Baitullah( Ka’bah ) pada musim haji karena tempat ini dianggap mulia dan agung. Makna haji secara istilah ( terminologis), adalah berkunjung ke Baitullah untuk melakukan beberapa amalan, antara lain: wukuf, tawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharapkan ridho-Nya. Haji merupakan rukun Islam kelima yang pelaksanaannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu antara tanggal 8 sampai 13 Dzulhijjah setiap tahun, Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa haji adalah untuk melakukan kewajiban ziarah ke Baitullah karena Allah.
Bahruddin, pengertian haji adalah sengaja berkunjung menziarahi ka’bah yang terletak di masjidil haram di makkah, dengan niat menunaikan ibadah haji yaitu rukun Islam yang kelima memenuhi perintah Allah. Menurut Sabiq, haji adalah perjalanan menuju makkah dengan tujuan untuk melaksanakan thawaf, sa’i, wukuf (bermalam) di Arofah dan beberapa ibadah yang lain sebagai bentuk pemenuhan atas perintah Allah SWT.
Dari beberapa pendapat yang ada tentang pengertian haji, dapat dipahami bahwa, ibadah haji adalah berkunjung ke Baitullah (ka’bah) untuk melakukan
beberapa amalan, antara lain: wukuf, tawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharapkan ridho-Nya. Haji merupakan rukun Islam kelima yang pelaksanaannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu antara tanggal 8 sampai dengan 13 Dzulhijjah setiap tahunnya.
Bahwa perjalanan haji mengandung resiko berupa kecelakaan dan kematian, dan untuk meringankan beban risiko tersebut perlu adanya asuransi”, merupakan salah satu pertimbangan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia untuk mengeluarkan Fatwa no:
39/DSNMUI/X/2002 tentang Asuransi haji. Akad asuransi haji adalah akad tabarru’ (hibah) yang bertujuan untuk menolong sesama jama’ah haji yang terkena musibah. Akad dilakukan antara jama’ah haji sebagai pemberi tabarru’
dengan asuransi syariah yang bertindak sebagai pengelola dana hibah. Asuransi ini sangat bermanfaat bagi jamaah haji maupun keluarga yang ditinggalkan.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ibadah haji memiliki dampak positif terhadap perekonomian. Haji telah membuka peluang bagiberbagai pihak yang terkait dengan perjalanan dan pelaksanaan haji maupun bagi masyarakat Makkah itu sendiri.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dikembangkan menggunakan metode deskriptif. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil wawancara dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dimana setelah pengumpulan data yang didapat dilapangan, seperti informasi yang didapat dari hasil wawancara, kemudian dokumentasi dan studi pustaka yang merujuk pada buku, jurnal, data-data dari media social, dan
45 lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya, tahap yang akan dikakukan dalam analisis data yaitu:
a. Editing
Tahap pertama dilakukan meneliti kembali data-data yang telah diperoleh terutama dari kelengkapannya, kejelasan makna, kesesuain serta kerelevansiannya dengan kelompok data yang lain dengan tujuan untuk memastikan data tersebut sudah mencukupi atau belum.
b. Reduction
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya sangat banyak untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci, maka perlu dilakukannya analisis data dengan cara melalui reduksi data.
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang penting dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
c. Verifikasi
Verifikasi data adalah pembuktian kebenaran data untuk menjamin validasi data yang telah dikumpulkan.
Verifikasi ini dilakukan dengan cara menemui sumber data (informan) dan ditanggapi apakah data tersebut sesuai dengan yang diinformasikan atau tidak.
d. Conclusion
Pengambilan kesimpulan dari kata- kata yang diperoleh setelah dianalisis untuk memperoleh jawaban.
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru dengan memiliki banyak arti kata yang memudahkan dalam memahami.
HASIL DAN PEMBAHASAN
kementrian agama dalam penyelenggaraan ibadah haji memiliki tiga tugas utama yaitu : pembinaan, pelayanan, dan perlindungan. Salah satu
komponen tugas perlindungan haji adalah penyediaan asuransi jiwa, baik bagi Jemaah haji maupun petugas haji. Dan untuk penyediaan asuransi jiwa bagi Jemaah haji dan petugas haji sudah diatur dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 79 tahun 2012 tentang pelaksanaan undang-undang no 13 rahun 2008 tentang penyelenggaraan ibadah haji. Pasal 29 PP tersebut mengatur, bahwa asuransi Jemaah haji dibebankan dalam biaya penyelengaraan ibadah haji (BPIH).
Sedangkan untuk asuransi jiwa bagi petugas haji, disediakan oleh pemerintah.
Dalam pelaksaannya kementrian agama bekerja sama dengan perusahaan jasa asuransi syariah. Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1439H/2018M sesuai perjanjian kobtrak, penerima asuransi dikategorikan kedalam empat kelompok.
Pertama, Jemaah haji yang meninggal natural atau bukan diawali peristiwa kecelakaan. Kedua, Jemaah haji yang meninggal karena kecelakaan.
Ketiga, Jemaah haji yang mengalami cacat tetap total yaitu kehilangan sebagian anggota badan atau fungsi dari anggota badan untuk selamanya. Keempat, Jemaah haji yang mengalami cacat tetap sebagian saat menunaikan ibadah haji. Bagi Jemaah yang meninggal natural, mendapat asuransi sebesar Rp 18,5 juta sedangkan untuk Jemaah yang meninggal karena kecelakaan menerima asuransi sebesar Rp 37 juta, dan untuk Jemaah yang mengalami cacat tetap total mendapat santunan sebesar Rp 18,5 juta semengtara jamaah yang mengalami cacat tetap sebagian santunannya sebesar Rp 12,95 juta. 8
• Proses Pencairan Asuransi
Proses pengajuan klaim akan dilakukan kemenag. Dana asuransi atau santunan yang telah cair akan ditransfer
8 http://kemenagkotaserang.com/
diakses pada 20 februari,2023 jam 11.14
46 ke rekening jamaah atau rekening ahli waris. proses pencairan asuransi tidak rumit, alias sederhana. Bagi jemaah yang meninggal dunia di Indonesia (embarkasi), keluarga cukup mengirim persyaratan klaim ke Kemenag untuk diteruskan ke perusahaan asuransi.
Sedangkan bagi jemaah yang meninggal di Arab Saudi, persyaratan klaim langsung dilengkapi oleh Kemenag.
Setelah berkas dinyatakan lengkap oleh perusahaan asuransi maka santunan akan segera ditransfer dan diinformasikan kepada keluarga. Bila Jemaah haji meninggal dunia di Indonesia, ahli waris harus melampirkan persyaratan berupa Surat Pengantar Pengajuan Klaim (SPPK), Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA) dan Surat Keterangan Kematian.
Lampirkan juga resume medis, berita acara pemeriksaan kecelakaan dari kepolisian (bila meninggal dunia karena kecelakaan), foto copy identitas ahli waris, print out data base Siskohat, Surat Keterangan Ahli Waris, Surat kuasa dari ahli waris. Khusus bagi Jemaah haji yang meninggal dunia di dalam pesawat, kata Yanis, akan menerima santunan extra cover, selain asuransi jiwa. Ahli waris jemaah wafat akan menerima dana extra cover sebesar Rp125 juta dari maskapai penerbangan. Asuransi ini berlaku sejak jemaah keluar dari rumah untuk berangkat haji dan sampai kembali lagi ke rumah usai menunaikan ibadah haji. Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2018, terdapat 457 jemaah yang berhak menerima asuransi. Salah satu dari mereka adalah jemaah cacat tetap sebagian. Dari jumlah tersebut, jemaah haji reguler yang meninggal natural di Arab Saudi mencapai 392 orang, meninggal karena kecelakaan 1 orang, dan 38 orang meninggal di Indonesia.
Sedangkan jemaah haji khusus yang meninggal dunia sebanyak 25 orang.
Selanjutnya, Asuransi haji merupakan bentuk perlindungan finansial
terhadap jamaah calon haji atas risiko yang mungkin terjadi. Umumnya asuransi haji sudah termasuk dalam komponen biaya perjalanan haji yang dibayarkan ke kementerian agama. Artinya besaran biaya yang dibayarkan untuk naik haji sudah termasuk biaya asuransi di dalamnya. Asuransi haji menjadi faktor penunjang risiko jamaah calon haji ketika menghadapi kematian. Dengan adanya asuransi, mereka setidaknya bisa mewariskan sesuatu untuk keluarga yang ditinggalkan.
KESIMPULAN
The Berdasarkan hasil analisis penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa pengaturan pelaksanaan asuransi untuk jamaah calon haji adalah asuransi haji merupakan perlindungan finansial terhadap jamaah calon haji atas musibah yang dapat terjadi selama menjalankan ibadah haji. Asuransi untuk jamaah haji sebagaian dikelola langsung dari kementerian agama kota serang yang didalamnya sudah di jelaskan beberapa pengaturan tentang adanya asuransi untuk jamaah haji.
Sistem pelaksanaan asuransi untuk jamaah haji adalah Sistem pengelolaan asuransi untuk jamaah haji diharuskan harus sesuai dengan syariat Islam. Seperti penyelenggaraan asuransi yang digunakan dalam haji yaitu berupa asuransi syariah dan bukan asuransi konvensional, karena hal itu dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, maka asuransi yang digunakan harus sesuai dengan syariah, sistem pelaksanaan asuransi untuk jamaah calon haji sudah sesuai dengan syariat islam seperti akad, syarat- syarat, sistem pelaksanaan asuransi untuk Jamaah calon haji sudah sesuai dengan syariat islam jika di lihat dari akad, syarat- syaratnya. Sistem pelaksanaan asuransi untuk Jamaah calon haji tidak ada sosialisasi dari kementerian yang mengatur semua proses asuransi kepada
47 jamaah dan kelurga jamaah disitulah alasan kenapa jamaah calon haji tidak mengetahui tentang adanya asuransi untuk Jamaah calon haji, bagaimana sistem pelaksanaanya meskipun jamaah adalah pengguna asuransi yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA
A.Chunaini Saleh, Penyelenggaraan Haji Era Reformasi Analisis Internal Kebijakan Publik Departemen Agama, Ciputat: Pustaka Alvabet Anggota Ikapi, 2008.
Abdu Aziz L, Ibadah Haji Dalam Sorotan Publik,( Jakarta:Media Madina2007), Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah dalam Perspektif kewenangan Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012),
Abdullah Amir, asuransi syariah:
keberadaan dan kelebihannya di tengah asuransi konvensional, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2006),
Abdullah Amrin, meraih berkah melalui asuransi syariah ditinjau dari perbandingan dengan asuransi konvensional(Jakarta : PT. alex media komputindo, 2011),
Abdullah Amrin, Meraih Berkah Melalui Asuransi Syariah Ditinjau dari Perbandingan dengan Asuransi Konvensional (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011),
Ahmad Rodoni, Asuransi Dan Penggadaian Syarah,(Jakarta: Mitra Wacana Media, 2015),
AM. Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam Suatu Tinjauan Analisis Historis, Teoritis
& Praktis (Jakarta: Kencana, 2004), Drs. A rasyid Muhammad, tata cara
manfaat asuransi jiwa, (yayasan ruhama Jakarta).
Kun & Syahrida Solehah, asuransi syariah,(Yogyakarta :parama
publishing, 2016).
Mardani, Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, Bandung: PT. Refika Aditama, 2011.
Mulhadi, Dasar-Dasar Hukum Asuransi, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2017),
Nurul Ichsan Hasan, Pengantar Asuransi Syariah, (Jakarta: Gaung Persada Press Group, 2014).
Tuti Rastuti, Aspek Hukum Perjanjian Asuransi, (Yogyakarta : medpress digital, 2016),
Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al- Qur’an Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan Terjemahnya, (Depok:
SABIQ, 2009).
Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al- Qur’an Departemen Agama RI, (Depok: SABIQ, 2009).
Erry fitriya primadhany. Jurnal Tinjauan terhadap tanggung jawab badan pengelola keuangan haji ( BPKH) dalam melakukan penempatan dan investasi keuangan haji. Tahun 2017.
http://ejournal.uin.malang.ac.id Feri Ramdhani, Prospek dan Tantangan
Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia, vol I, 2015
Muhamad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and general) konsep dan operasional, Jakarta: gema insani press, 2004, Cet. 1.
Muhammad Fadhiel Junery, “Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Iqtishaduna (Ekonomi kita), STIE Bengkalis
Muhammad Ladzi, “Mengurangi Persoalan Manajemen Adminitrasi Publik Dalam Pelaksanaan Ibadah Haji”, vol. 2, ( Surabaya:
Widyaiswaramadya Balai Diklat Keagamaan), Di Akses Pada 14 Agustus 2019).
Muhammad Ladzi, “Mengurangi Persoalan Manajemen Adminitrasi Publik Dalam Pelaksanaan Ibadah Haji”, vol. 2, ( Surabaya:
48 Widyaiswaramadya Balai Diklat Keagamaan), Di Akses Pada 14 Agustus 2019)
Polis Asuransi Takaful Keluarga, Produk Takafulink Salam. Pasal 1, BAB 1.
Wuryaningsih dwi lestari. Jurnal Pembiyaan ibadah haji pada lembaga keuangan syariah tahun 2017. http:// journal. unimma.ac.id Https://Detiknews. Jemaah Dan Petugas
Haji Disediakan Asuransi Jiwa. Rabu Diakses 23 februari ,2023,16:59 WIB
https://goo.gl/gl20g3, cermati.com asuransi haji , produk perlindungan diri saat ibadah diakses. 20 april, 2023 jam :11:14
Https://Goog.Gl/Y9l3yi-Cermati.Com Asuransi Haji, Produk Perlindungan Diri Saat Ibadah,11 januari , 09:30 WIB
https://IHRAM.CO.ID ,Serang, Diakses Pada 28, Januari, 2019, 07:53 WIB Https://M.Merdeka.Com/Peristiwa/Keme
nag-Siapkan-Asuransi -Untuk Jamaah Dan Petugas Haji.Html, 11 februari, 09:30
https://www.finansialku.com/mengenal- asuransi-haji-untuk-perlindungan- diri-saat-naik-haji/ diakses tgl 18 februari 2023 jam 12.28
https://www.jmasyariah.com/ diakses tanggal 18 februari 2023 jam 13.44 Sunarjo, Al-Qur’an dan Terjemahan,
Jakarta: Departemen Agama RI, 1971.
Https://Tafakul Keluarga Syariah Life Insurance.Com