248
P- ISSN: 0216–7794 & E-ISSN: 2745–6447
Volume 21 Nomor 2 Juli 2023
KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM Ilham1, Kaharuddin2.
1,2,3 Institut Agama Islam (IAI Muhammadiyah Bima
Corresponding Author: Kaharuddin, E-mail: [email protected]
ARTICLE INFO Article history:
Received 28, Januari,
2023 Revised 10, Juli, 2023
ABSTRAK
Aspek yang mendukung pelaksanaan supervisi pendidikan Islam bagi supervisor adalah salah satunya berupaya memahami potensi yang dimiliki oleh manusia. Dalam Islam, potensi manusia dapat dikembangkan pada potensi akal, qolb, fitrah dan jasmani. Dalam pengajaran guru mengembangkan potensi tersebut agar manusia memiliki kecerdasan (psikis), perasaan (afektif) dan karakter yang baik yang mengarah pada indentitas keislaman. Peranan supervisi dalam pendidikan Islam adalah berusaha mengontrol dan mengawasi pengajaran yang dilakukan oleh guru agar tetap memberikan materi yang dibutuhkan oleh siswa.
Kata Kunci: Proses Supervisi, Pendidikan Islam
How to Cite :
DOI :
Journal Homepage :
This is an open acc ess article under the CC BY SA license :
PENDAHULUAN
P
Di penghujung abad kedua puluh dan memasuki milenium ketiga yang ditandai dengan era globalisasi, semua bangsa berusaha untuk meningkatkan sumber daya manusia.Termasuk sumber daya pendidikan. Pendidikan secara utuh dalam pelaksanaannya agar mengembangkan potensi manusia. Mengembangkan potensi manusia dalam pendidikan, khusus pendidikan Islam diarahkan agar manusia memiliki pengetahuan (kecerdasan), sikap (afektif), dan tingkah laku (psikomotorik) berdasarkan nilai keislaman.
Sejarah supervisi di negara maju seperti Amerika mula-mula supervisi di arahkan untuk memperbaiki pengajaran. Perbaikan pengajaran harus di mulai dengan pembinaan dan pengembangan kurikulum yang menjadi sumber materi sajian pelajaran. Kemudian sepervisi
249
diarahkan untuk mengembangkan sumberdaya manusia, yaitu guru. Jadi yang perlu ditingkatkat ialah potensi sumberdaya guru, baik yang bersifat personal maupun yang bersifat profesional.1
Fokus utama dalam bahasan uraian ini ialah sumber daya manusia, khusus ketenagaan pendidikan, antara lain; kepala madrasah, guru, siswa dan tenaga kependidikan sebagai sasaran supervisi. Kajian ini melihat berbagai usaha perbaikan dan peningkatan kualitas sumber daya kependidikan baik melalui lembaga pendidikan maupun melalui penataran pendidikan dan latihan. Semua usaha itu mengarah kepada pengadaan tenaga sumber daya tenaga kependidikan yang profesional. Salah satu Guru yang profesional memiliki ciri-ciri antara lain:
1. Memiliki kemampuan sebagai ahli (expert) dalam bidang mendidik dan mengajar.
2. Memiliki rasa kesejawatan (etika profesi), yaitu yaitu memiliki komitmen dan kepedulian kepada tugasnya.
3. Memiliki otonomi dan rasa tanggung jawab serta menghayati tugasnya sebagai suatu karier serta menjunjung tinggi kode etik jabatan guru.2
Dalam bukunya supervision of instruction-foundalation and dimension Swearingen sebagaimana dikutip oleh Sahertian mengungkapkan latar belakang perlunya supervisi terletak berakar mendalam dalam kebutuhan riil masyarakat. Ia menyebutkan sejumlah latar belakang sebagai berikut: latar belakang cultural, latar belakang fisolofis, latar belakang psikologis, latar belakang social, latar belakang sosiologis, latar belakang pertumbuhan jabatan.3
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa sumber daya manusia itu bertumbuh dan berkembang, maka berikut ini akan dijelaskan mengapa guru sebagai salah satu konponen sumberdaya pendidikan memerlukan bantuan supervisi. perlunya supervisi pengembangan sumber daya guru dapat dikaitkan dari dua sudut pandang. Pertumbuhan dari dalam diri guru itu sendiri. Dalam diri guru itu ada sesuatu kekuatan untuk berkembang suatu elan vital (tenaga hidup), Atau vitalitas hidup. 4 Dorongan asasi terungkap dalam daya berfikir abstrak, imajinatif dan kreatif, serta komitmen dan kepedulian. Kebanyakan dorongan ini sulit ditampakkan pada orang seseorang dalam memilih menjadi guru. Ini disebabkan daya tarik dari jabatan guru tidak menjanjikan suatu harapan yang menarik. Pertumbuhan yang di dorong karena faktor eksternal, yang kadang kala menjadi faktor pendorong, tapi seringkali menjadi kendala dalam melakuakan tugas didiknya. Sebenarnya perlunya bantuan supervisi penddikan itu berakar mendalam dalam kehidupan masyarakat. Berbagai kajian teoritis menunjukkan latar belakang perlunya supervisi itu.
PEMBAHASAN
1 Piet A. Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia,… h. 14
2 Ramayulis, Profesi & Etika Keguruan, (Jakarta, Kalam Mulia, 2013), h. 41
3 Piet A. Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber
Daya Manusia, (Jakarta, Rineka Cipta, 2000), h. 14
4 Ibid, h. 42
250
Supervisi pendidikan atau yang lebih dikenal dengan pengawasan pendidikan memiliki konsep dasar yang saling berhubungan dengan pendidikan. Dalam konsep dasar supervisi pendidikan dijelaskan beberapa dasar-dasar tentang konsep supervisi. Sementara proses pelaksanaan supervisi merupakan rangkaian yang dilaksanakan ketika supervisi dilaksanakan dan upaya yang dilakukan oleh supervisor dalam melihat dan membina seluruh proses pelaksanaan pendidikan.5
Dalam perkembangannya, supervisi pendidikan memberikan pengaruh yang baik pada perkembangan pendidikan khususnya di Indonesia, terutama pendidikan Islam sehingga tingkat profesionalisme guru dalam mengajar dilakukan dengan baik, baik pada madrasah maupun guru pendidikan agama pada madrasah.
Oleh karena itu, supervisi diperlukan dalam proses pendidikan berdasarkan dua hal penting. Pertama, perkembangan kurikulum yang merupakan gejala kemajuan pendidikan.
Perkembangan tersebut sering menimbulkan perubahan-perubahan struktur maupun fungsi kurikulum. Oleh karenanya pelaksnaan kurikulum memerlukan penyesuaian terus menerus dangan keadaaan nyata dilapangan. Kedua, pengembangan personel, pegawai, atau karyawan senantiasa merupakan upaya yang terus-menerus dalam suatu organisasi.6
Demikian halnya dengan pendidikan. Kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan memerlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Supervisi pendidikan berperan membantu untuk memberikan pembinaan kepada semua komponen pendidikan untuk memngembangkan proses pendidikan yang lebih baik dan upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui kegiatan supervisi.
Peranan Pupervisor dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Islam
Pelaksanaan supervisi pendidikan Islam dimaksudkan agar dalam proses kegiatan belajar dan mengajar dapat dijalankan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan memiliki hasil baik. jadi supervisi pendidikan Islam adalah usaha pembinaan tenaga kependidikan di lembaga pendidikan Islam secara islami menuju arah perbaikan situasi pendidikan Islam dengan cara memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan Islam serta profesionalisme tenaga kependidikan, khususnya pendidik Islam.7 Perbaikan tersebut selanjutnya memiliki proses-proses tertentu yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan supervisi pendidikan Islam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Mujamil Qomar 8 yang dapat dijabarkan secara rinci sebagai berikut:
Pertama, usaha pembinaan secara Islami. Aspek ini menghendaki adanya muatan- muatan nilai Islam dalam usaha membina pendidik Islam seperti penekanan pada penghargaan, kemaslahahatan, musyawarah, kualitas, penekanan pluralitas individu dan pemberdayaan sumber
5 Daryanto, Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Madrasah, (Yogyakarta, Gava Media, 2013), h. 70.
6 H.M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta, Rineka Cipta, 2006), h. 174
7 Binti Maunah, Supervisi Pendidikan Islam: Teori dan Praktik, (Tulung Agung, STAIN Tulung Agung Press, 2008), h. 70
8Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, (Jakarta, Erlangga, 2008), h. 85
251
daya. Selanjutnya upaya pembinaan itu diupayakan bersandar pada pesan-pesan al-Qur’an dan hadits agar selalu dapat menjaga sifat keislaman (islami). Pengawasan secara islami menunjukan sikap inklusif, yang berarti kaidah-kaidah supervisi yang dirumuskan dalam supervisi pendidikan Islam bisa dipakai dalam supervisi pendidikan versi lainnya selama ada kesesuaian sifat dan misinya, dan sebaliknya kaidah-kaidah supervisi pendidikan pada umumnya bisa juga dipakai untuk melakukan supervisi pendidikan Islam selama sesuai dengan nilai-nilai Islam, realitas dan kultur yang dihadapi oleh pendidik dalam pendidikan Islam.
Kedua, terhadap tenaga kependidikan Islam di lembaga pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan objek dari supervisi ini secara khusus diarahkan kepada para pendidik yang ada dalam lembaga pendidikan Islam. Maka supervisi ini bisa menjabarkan supervisi yang ada di pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dan sebagainya. Jadi secara tidak langsung definisi ini bersifat eksklusif, yaitu tidak memasukkan lembaga pendidikan non Islam.
Ketiga, arah perbaikan situasi pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa yang diperbaiki tersebut adalah pendidikan Islam bukan hanya pendidikan agama Islam. Maka pendidik yang memegang atau mengampu mata pelajaran umum asalkan berada dalam lembaga pendidikan Islam dan melakukan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai keislaman, maka juga termasuk objek supervisi pendidikan Islam.
Keempat, dengan cara memberikan bantuan. Hal tersebut berarti perbaikan mutu atau kualitas pendidikan Islam dilakukan dengan cara memberikan bantuan kepada pendidik Islam yang mengalami masalah baik melalui mengikutkannya dalam kelompok maupun secara personal yang mampu memahami karakter kepribadian pendidik tersebut.
Kelima, untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan Islam serta profesionalisme pendidik Islam. Hal tersebut berarti orientasi supervisi pendidikan Islam sebenarnya adalah peningkatan mutu dan kualitas pendidikan Islam melalui peningkatan profesionalisme pendidik Islam. Tujuan ini merupakan arah dari semua kegiatan supervisi pendidikan Islam yang ada di lembaga pendidikan Islam.
Supervisi berfungsi membantu (assiting), memberi suport (supporting) dan mengajak mengikut sertakan (sharing). Dilihat dari fungsinya, tampak dengan jelas peranan supervision itu. Peran itu tampak dalam kinerja supervisior yang melaksanakan tugasnya. Mengenai peran supervisi dapat dikemukakan berbagai pendapat para ahli. Seorang supervisior dapat berperan sebagai:
1. Koordinator.
2. Konsultan
3. Pemimpin kelompok.
4. Evaluator.9
Peran sebagai koordinator, supervisor dapat mengkoordinasi program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru. sedangkan sebagai konsultan, supervisor dapat memberi bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok. Sebagai Pemimpin kelompok,
9 Moh. Rifai, Administrasi dan Supervisi Pendidikan I, (Bandung, Jemmars Bandung, 1982), h. 61
252
supervisor dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pengembangan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru-guru secara bersama. Sebagai pemimpin ia dapat mengembangkan ketrampilan dan kiat-kiat dalam bekerja untuk kelompok (working with the group) dan bekerja melalui kelompok (working trough the group). supervisor sebagai evaluator dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan. Ia juga belajar menatap dirinya sendiri. Ia dibantu dalam merefleksi dirinya, yaitu konsep dirinya (self concept), ide/cita-cita dirinya (self idea), realitas dirinya (self reality).
Berdasarkan pandangan di atas, bahwa peranan supervisor yang hakiki ialah memberi support (supporting), membantu (assisting) dan mengikut sertakan (sharing). Peranan supervisor juga menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas, dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggungjawab. Suasana yang demikian hanya dapat terjadi bila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokratis atau laissez faire. Kebanyakan guru seolah-olah mengalami kelumpuhan tanpa inisiatif dan daya kreatif karena supervisor dalam meletakkan interaksi dan interelasi, yang bersifat mematikan kemungkinan-kemungkinan perkembangan.
Melihat konsep di atas, jika dihubungan dengan supervisi, maka supervisi pendidikan khususnya pendidikan Islam mempunyai peranan penting sebagai berikut:
1. Membimbing guru agar dapat memahami lebih jelas masalah atau persoalan-persoalan dan kebutuhan murid, serta membantu guru dalam mengatasi suatu persoalan.
2. Membantu guru dalam mengatasi kesukaran belajar.
3. Memberi bimbingan yang bijaksana terhadap guru baru dengan orientasi.
4. Membantu guru memperoleh kecakapan mengajar yang lebih baik dengan menggunakan berbagai metode mengajar yang sesuai dengan sifat materinya.
5. Membantu guru memperkaya pengalaman belajar, sehingga pengajaran dapat menggembirakan anak didik.
6. Membantu guru mengerti makna dari alat-alat pelayanan.
7. Membina moral kelompok, menumbuhkan moral yang tinggi dalam pelaksanaan tugas madrasah pada seluruh staf.
8. Memberi pelayanan kepada guru agar dapat menggunakan seluruh kemampuanya dalam melaksanakan tugas.
9. Memberikan pimpinan yang efektif dan demokratis.10
Oleh karena demikian, bahwa tingkat keberhasilan supervisor dalam melaksanakan tugasnya sebagai supervisor dapat memberikan dampak yang baik. hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Yudha M. Saputra dalam temuan penelitiannya bahwa secara umum bahwa model pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dikembangkan berhasil meningkatkan kinerja
10 Ametembun, N.A., Supervisi Pendidikan: Penuntun Bagi Para Penilik, Pengawas, Kepala Madrasah, dan Guru-Guru, (Bandung, Suri, 1981), h. 50
253
guru pendidikan jasmani. Model supervisi pembelajaran bermanfaat juga untuk meningkatkan hasil belajar siswa.11
Kepala Madrasah Sebagai Supervisor
Kepala madrasah sebagai supervisor mempunyai peran dan tanggung jawab memantau, membina, dan memperbaiki proses belajar mengajar di kelas atau di madrasah.
Supervisi sebagai upaya pemberian bantuan kepada guru untuk mewujudkan situasi belajar yang lebih baik. Tanggung jawab ini dikenal dan dikategorikan sebagai tanggung jawab supervisi.12 Sebagai unsur pimpinan dalam sistem organisasi madrasah, kepala madrasah berhadapan langsung dengan unsur pelaksana proses belajar mengajar, yaitu guru. Hal ini terkandung makna bahwa kepala madrasah sebagai supervisor mempunyai tugas membantu guru baik secara individual atau kelompok untuk memperbaiki pengajaran dan kurikulum, serta aspek pengembangan lainnya.
Kepala madrasah sebagai supervisor amat berperan dalam menentukan pelaksanan supervisi di madrasah. Supervisi adalah suatu proses pembimbingan dari pihak atasan kepada guru-guru dan para personel madrasah lainnya yang langsung menangani belajar siswa, untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para siswa dapat belajar secara efektif sehingga prestasi belajar semakin meningkat. Melalui supervisi, diharapkan seorang guru dapat : (1) bekerja keras dan demokratis, (2) ramah dan suka mendengarkan orang lain, (3) sabar, (4) luas pandangan dan menaruh perhatian kepada orang lain, (5) penampilan pribadi yang menyenangkan dan sopan santun, (6) jujur, (7) suka humor, (8) kemampuan kerja yang baik dan konsisten, (9) menaruh perhatian pada problem siswa, (10) fleksibel dalam cara mengajar, (11) bisa menggunakan pujian dan mau memperbaiki, (12) pandai dalam mengajar pada bidang studi.13
Burhanuddin mengemukakan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah .dalam rangka mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar, secara rinci sebagai berikut:
a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar mengajar
b. Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif dimadrasah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan
c. Menjamin agar kegiatan madrasah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan memperoleh hasil optimal.
d. Menilai keberhasilan madrasah dalam pelaksanaan tugasnya
11Yuda M. Saputra, Model Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kinerja Guru di SMA Kota Malang, (Malang, Jurnal Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Vol. 17 no. 5 Tahun 2011, h. 20
12Sri Banun Muslim, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru, (Bandung, Alfabeta, 2009), h. 78.
13 Ibid, h. 79
254
e. Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kehilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi madrasah, sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.14
Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala madrasah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan.
Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di madrasah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.
Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala madrasah terhadap tenaga kependidikannya khususnya guru, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif. Salah satu supervisi akademik yang populer adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan.15
Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah. Kepala madrasah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan menyusun, dan melaksanakan program supervisi pendidikan, serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengembangan program supervisi untuk kegiatan ekstra kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laboratorium, dan ujian.
Kemampuan melaksanakan program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis, program supervisi nonklinis, dan program supervisi kegiatan ekstra kurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan, dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan madrasah.
Dalam pelaksanaannya, kepala madrasah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip: (1) pengamatan kelas, (2) melakukan pemantauan secara berkala (3) berpusat pada tenaga kependidikan (guru), (4) memberikan pembinaan.16
Sehubungan dengan supervisi, bahwa kegiatan utama di madrasah dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi madrasah bermuara pada pencapaian efesiensi dan efektifitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu peran dan tugas kepala madrasah adalah sebagai supervisor (melakukan pengawasan) yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan dalam hal ini adalah guru. Mulyasa mengatakan bahwa pengawasan merupakan upaya untuk mengamati
14Burhanuddin, “Konsep Dasar Supervisi Pendidikan”, dalam Burhanuddin et.al, Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional, (Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2007), h. 30.
15 Piet. A. Suhertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan; Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia,(Jakarta, Rineka Cipta, 2000), h. 19
16 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, (Jakarta, Rineka Cipta, 2004), h. 75
255
secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberikan penjelasan, petunujuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat, serta memperbaiki kesalahan.
Kepala madrasah sebagai supervisor dalam menjalankan tugasnya, dapat dilakukan secara efektif, antara lain; pertama, diskusi kelompok. Diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama guru-guru dan bisa juga melibatkan tenaga administrasi untuk memecahkan berbagai masalah di madrasah, dalam mencapai suatu keputusan. Kedua, kunjungan kelas. Kunjungan kelas dapat dilakukan oleh kepala madrasah sebagai salah satu teknik untuk mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung. Kunjungan kelas merupakan teknik yang sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi secara langsung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokoknya mengajar, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran, media yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran, keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, serta mengetahui secara langsung kemampuan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Ketiga, pembicaraan individual. Pembicaraan individual merupakan teknik bimbingan dan konseling yang dapat digunakan oleh kepala madrasah untuk memberikan konseling kepada guru, baik berkaitan dengan kegiatan pembelajaran maupun masalah yang menyangkut profesionalisme guru. Keempat, simulasi pembelajaran. Simulasi pembelajaran merupakan teknik supervisi berbentuk demonstrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala madrasah, sehingga guru dapat menganalisa penampilan yang diamatinya sebagai instropeksi diri, walaupun sebenarnya tidak ada cara mengajar yang paling baik.17
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Wasty Soemanto bahwa kepala madrasah sebagai supervisor meliputi:
a) Membimbing guru agar dapat memahami lebih jelas masalah atau persoalan-persoalan dan kebutuhan murid, serta membantu guru dalam mengatasi suatu persoalan.
b) Membantu guru dalam mengatasi kesukaran belajar.
c) Memberi bimbingan yang bijaksana terhadap guru baru dengan orientasi.
d) Membantu guru memperoleh kecakapan mengajar yang lebih baik dengan menggunakan berbagai metode mengajar yang sesuai dengan sifat materinya.
e) Membantu guru memperkaya pengalaman belajar, sehingga pengajaran dapat menggembirakan anak didik.
f) Membantu guru mengerti makna dari alat-alat pelayanan.
g) Membina moral kelompok, menumbuhkan moral yang tinggi dalam pelaksanaan tugas madrasah pada seluruh staf.
h) Memberi pelayanan kepada guru agar dapat menggunakan seluruh kemampuanya dalam melaksanakan tugas.
i) Memberikan pimpinan yang efektif dan demokratis.18
17 Ibid, h. 75
18 Wasty Soemanto Dkk, Kepemimpinan dan Supevisi Pendidikan, (Jakarta, Bina Aksara, 1984), h. 65.
256
Teknik Dan Strategi Komunikasi Efektif Dalam Supervisi Pendidikan Islam
Komunikasi merupakan aktifitas manusia yang sangat penting. Bukan hanya dalam kehidupan organisasi, namun dalam kehidupan manusia secara umum. Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam kehidupan seseorang. dimana semua orang berinteraksi dengan sesama dengan cara melakukan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana sampai yang kompleks, dan teknologi kini telah merubah cara manusia berkomunikasi secara drastis.19
Komunikasi efektif adalah keinginan semua orang dan untuk menghasilkan komunikasi efektif dibutuhkan teknik dan strategi komuniasi. Setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan dalam teknik dan strategi komunikasi efektif, yaitu:
a. Cara menyampaian pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Seorang komunikator dalam kapasitasnya sebagai supervisor harus memahami betul bagaimana teknik dan strategi menyampaikan pesan sehingga sampai dan berterima di hati komunikan atau orang yang diawasi. Selami kepribadian komunikan kita, terima komunikan kita sebagai pribadi yang utuh yang memiliki latar belakang budaya, agama, pendidikan dan lingkungan yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Dalam konteks kepengawasan, seorang supervisor idealnya memahami bahasa orang lain dalam berkomunikasi. Dengan memahami bahasa orang lain, sejatinya ia sudah berusaha untuk menghargai orang lain tapi memahami bahasa dalam hal ini tidak berarti harus memahami bahasa yang dipakai komunikan. Untuk memperjelas pesan yang hendak disampaikan dalam berkomunikasi, gunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami hindari penggunaan jargon-jargon atau istilah-istilah yang tidak dipahami komunikan, kalimat yang panjang apalagi bertele-tele sering mengaburkan makna.
b. Menciptakan Hubungan Baik
Komunikasi yang efektif juga bergantung pada kemampuan menciptakan hubungan baik. Supervisi hari ini tidak lagi menghadirkan sosok supervisor dalam paradigma lama (supervisor bertugas hanya menilai unjuk kerja guru atau hanya melakukan inspeksi) tapi hubungan antara supervisor dengan guru atau yang diawasi adalah sebagai mitra sejajar yang digawangi oleh fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran, yaitu membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan seperti yang dikemukakan oleh Franseth Jane dan Ayer. Ironis kalau masih ada supervisor yang berpikir hari ini hadir di lembaga pendidikan memosisikan sebagai sosok atasan yang menilai bawahannya atau hanya menentukan “benar-salah” saja tanpa melakukan pembinaan.
c. Mendengar Dengan Baik.
19N.A. Ametembun, Supervisi Pendidikan Penuntun Para Penilik Pengawas dan Guru- guru (Bandung, Suri, 2000), Edisi ke-5, h. 90
257
Untuk melahirkan komunikasi yang efektif, komunikator dalam perannya sebagai supervisor tidak mesti monoton menjadi pembicara tapi juga mesti memiliki teknik untuk menjadi pendengar yang baik untuk kelancaran komunikasinya.
d. Komunikasi terhadap pengawasa pengajaran
Kadar Nurjaman dan Khaerul Umam dalam bukunya Manajemen Personalia mengatakan komunikasi efektif dapat diartikan sebagai penerimaan pesan oleh komunikan atau receiver sesuai dengan pesan yang dikirim oleh sender atau komunikator, kemudian receiver atau komunikan memberikan respons yang positif sesuai dengan yang diharapkan.20 Oleh karena demikian bahwa dalam dunia pendidikan, dikenal kegiatan supervisi. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas supervisi terhadap pihak yang disupervisi.
Pelaksanaan supervisi tidak akan terlepas dengan kegiatan komunikasi. Sebab, hakikat supervisi adalah menciptakan kondisi belajar yang peserta didik ke arah yang lebih baik.
Kondisi belajar yang lebih baik dapat diciptakan
Apabila ada komunikasi antara supervisor dengan pihak yang disupervisi.
Tentu saja komunikasi yang dimaksud adalah bahwa komunikasi yang disampaikan oleh supervisor dapat dipahami dengan baik oleh pihak yang disupervisi, dan sebaliknya, informasi yang disampaikan oleh pihak yang disupervisi dapat dipahami oleh supervisor.
Dengan demikian, kondisi belajar yang diharapkan oleh kedua belah pihak (supervisor dan yang disupervisi) dapat terwujud. Namun demikian, keberhasilan tersebut sangat ditentukan oleh supervisor
Suksesnya komunikasi bagi pengawasan lembaga pendidikan berangkat dari lima prinsip dasar atau hukum komunikasi yang efektif (The Five Inevitable Laws of Effective Communication) meliputi Respect, Empathy, Audible, Clarity dan Humbledisingkat dengan REACH.21
Hukum Respect, yaitu sikap hormat dan menghargai lawan bicara. Seorang supervisor harus mengembangkan sikap ini sehingga terjadi saling respect karena pada prinsipnya manusia itu ingin dihargai dan dianggap penting. Jika ini terbangun maka kerjasama yang menghasilkan sinergi akan meningkatkan kualitas hubungan antar manusia.
Hukum Empathy, yaitu kemampuan seorang supervisor untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memudahkan penerima pesan menangkap dan menginterpretasikan pesan dan rasa empati merupakan sifat penuh perhatian.
Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan seorang supervisor untuk mendengar atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Supervisor dapat membangun keterbukaan dalam kesejajaran dan kepercayaan yang diperlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan pihak lembaga pendidikan.
20 Kadar Nurjaman, Manajemen Personalia, (Jakarta, Pustaka Setia, 2014), h. 70
21 Hendiyat Soetopo dan Wasti Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta Bumi Aksara,
1998), Cet Ke-2., h. 67
258
Hukum Audible, yaitu dapat didengar atau dapat dimengerti dengan baik.
Jika empathy seorang supervisor harus mendengar terlebih dahulu, maka audible pesan yang dikomunikasikan oleh supervisor dapat diterima oleh penerima pesan oleh guru secara khusus dan lembaga pendidikan umumnya.
Hukum Clarity, yaitu kejelasan dari pesan itu sendiri. Sejatinya supervisor yang profesional tidak menyampaikan pesan yang dapat menimbulkan interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Untuk itu supervisor sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang jelas atau menggunakan istilah-istilah yang familiar, hindari penggunaan istilah-istilah yang tidak populer di kalangan guru khususnya dan umumnya lembaga pendidikan.
Hukum Humble, yaitu sikap rendah hati. Sikap rendah hati yang ditampilkan seorang supervisor tidak membuat dirinya jatuh atau menurunkan kewibawaannya di hadapan komunikan, bahkan sebaliknya dia semakin terhormat dan secara otomatis ini dapat memuluskan tugas-tugas kepengawasannya di lembaga pendidikan.
PENUTUP
Peranan supervisor bagiamana menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas, dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggungjawab. Suasana yang demikian hanya dapat terjadi bila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokratis. Kebanyakan guru seolah-olah mengalami kelumpuhan tanpa inisiatif dan daya kreatif karena supervisor dalam meletakkan interaksi dan interelasi, yang bersifat mematikan kemungkinan-kemungkinan perkembangan.
Kepala sekolah sebagai supervisor mempunyai peran dan tanggung jawab memantau, membina, dan memperbaiki proses belajar mengajar di kelas atau di sekolah. Supervisi sebagai upaya pemberian bantuan kepada guru untuk mewujudkan situasi belajar yang lebih baik.
Tanggung jawab ini dikenal dan dikategorikan sebagai tanggung jawab supervisi. Sebagai unsur pimpinan dalam sistem organisasi persekolahan, kepala sekolah berhadapan langsung dengan unsur pelaksana proses belajar mengajar, yaitu guru. Hal ini terkandung makna bahwa kepala sekolah sebagai supervisor mempunyai tugas membantu guru baik secara individual atau kelompok untuk memperbaiki pengajaran dan kurikulum, serta aspek pengembangan lainnya.
Dalam dunia pendidikan, dikenal kegiatan supervisi. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas supervisi terhadap pihak yang disupervisi. Pelaksanaan supervisi tidak akan terlepas dengan kegiatan komunikasi. Sebab, hakikat supervisi adalah menciptakan kondisi belajar yang peserta didik ke arah yang lebih baik. Kondisi belajar yang lebih baik dapat diciptakan apabila ada komunikasi antara supervisor dengan pihak yang disupervisi.
Tentu saja komunikasi yang dimaksud adalah bahwa komunikasi yang disampaikan oleh supervisor dapat dipahami dengan baik oleh pihak yang disupervisi, dan sebaliknya, informasi yang disampaikan oleh pihak yang disupervisi dapat dipahami oleh supervisor. Dengan demikian, kondisi belajar yang diharapkan oleh kedua belah pihak (supervisor dan yang disupervisi) dapat terwujud. Namun demikian, keberhasilan tersebut sangat ditentukan oleh supervisor.
259 DAFTAR PUSTAKA
A. Sahertian, Piet, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta, Rineka Cipta, 2000)
Ametembun, N.A., Supervisi Pendidikan: Penuntun Bagi Para Penilik, Pengawas, Kepala Madrasah, dan Guru-Guru, (Bandung, Suri, 1981)
Burhanuddin, “Konsep Dasar Supervisi Pendidikan”, dalam Burhanuddin et.al, Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional, (Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2007),
Daryanto, Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Madrasah, (Yogyakarta, Gava Media, 2013) H.M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta, Rineka Cipta, 2006).
Hendiyat Soetopo dan Wasti Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta Bumi Aksara, 1998), Cet Ke-2.
Maunah, Binti, Supervisi Pendidikan Islam: Teori dan Praktik, (Tulung Agung, STAIN Tulung Agung Press, 2008)
Moh. Rifai, Administrasi dan Supervisi Pendidikan I, (Bandung, Jemmars Bandung, 1982) Muslim, Sri Banun, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru, (Bandung, Alfabeta, 2009)
Nurjaman, Kadar, Manajemen Personalia, (Jakarta, Pustaka Setia, 2014)
Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, (Jakarta, Erlangga, 2008)
Ramayulis, Profesi & Etika Keguruan, (Jakarta, Kalam Mulia, 2013)
Soemanto, Wasty Dkk, Kepemimpinan dan Supevisi Pendidikan, (Jakarta, Bina Aksara, 1984) Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, (Jakarta, Rineka Cipta, 2004).
Yuda M. Saputra, Model Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kinerja Guru di SMA Kota Malang, (Malang, Jurnal Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Vol.
17 no. 5 Tahun 2011