PENDAHULUAN
Latar Belakang
Media pembelajaran di sekolah dasar harus menarik dan menyenangkan karena sifat siswa sekolah dasar yang lebih suka bermain daripada belajar. Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu dengan mencoba meningkatkan hasil belajar melalui penggunaan media pembelajaran audiovisual bagi siswa di SDN 65 Seluma. Video animasi pembelajaran powtoon adalah video animasi kartun yang dapat diisi dengan topik dan dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk sekolah dasar karena sifatnya yang menarik dan terkesan menyenangkan serta cocok untuk anak sekolah dasar.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan menyusun skripsi dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Menggunakan Media Pembelajaran Powtoon Audio-Visual Bagi Siswa SDN 65 Seluma”.
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar melalui penerapan media pembelajaran audio visual powtoon pada mata pelajaran IPA kelas V B SDN 65 seluma. Manfaat penelitian ini bagi guru adalah: menyediakan data bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media audio visual powtoon untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah: (1) memberikan data positif terkait penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah, (2) menambah khazanah aplikasi media audio visual Powtoon yang dapat diterapkan pada mata pelajaran apapun di sekolah dasar, (3) sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. d) Manfaat bagi peneliti.
Penggunaan media audio visual powtoon yang efektif dapat memudahkan siswa dalam memahami materi dan meningkatkan keinginan siswa untuk belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Sistematika Penulisan
Manfaat bagi siswa adalah: (1) Meningkatkan pemahaman siswa terhadap proses pembelajaran (2) siswa merasa ada peningkatan kualitas proses pembelajaran, minimal dengan PTK siswa akan aktif, interaktif, kreatif, efektif dan pembelajaran yang menyenangkan, (3) siswa akan mendapatkan peningkatan kualitas hasil belajar, (4) siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, definisi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. Akan dibahas kajian teoritis terkait upaya guru, pengajaran, pembelajaran, peragaan media audiovisual, hasil belajar, kajian hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.
Ini terdiri dari deskripsi wilayah penelitian, penyajian data penelitian dari pra-siklus hingga siklus aktual operasi dan pembahasan hasil penelitian.
LANDASAN TEORI
- Kajian Teori
- Hakikat Upaya Guru
- Hakikat Belajar dan Pembelajaran
- Media Audio Visual Powtoon
- Hubungan Media Pembelajaran dengan hasil belajar
- Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
- Kerangka Berfikir
- Hipotesis Tindakan
Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu dalam proses belajar mengajar. Powtoon Audio Visual Media adalah sebuah aplikasi yang digunakan menggunakan Internet untuk membuat presentasi atau video animasi kartun dengan cara yang sangat sederhana. Pembelajaran dengan menggunakan media audio visual Powtoon adalah suatu cara pembelajaran dengan menggunakan media yang mengandung unsur suara dan gambar, yang dalam proses penyerapan materinya melibatkan indera penglihatan dan pendengaran.
Berikut beberapa gambar slide media pembelajaran audio visual powtoon yang akan ditampilkan dalam proses pembelajaran. Dale berpendapat bahwa materi audiovisual dapat menawarkan banyak manfaat selama guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Arianti Puspa, 2013 Skripsi Berjudul ''Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Media Audio Visual Power Point Dalam Pembelajaran IPA Di Kelas VII A SMP Muhammadiyah 2 Kadungora Kabupaten Garut''.
Jadi judul diatas memiliki kesamaan penggunaan media pembelajaran audiovisual dan perbedaannya yaitu: judul diatas menggunakan media audiovisual power point, sedangkan yang terbaru menggunakan media audiovisual power point. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa media audio visual sangat layak digunakan sebagai media pembelajaran terutama dengan menggunakan media audio visual berbasis power point yang lebih lengkap dibandingkan dengan media audio visual berbasis power point. Dinda Dwi Sarah, skripsi tahun 2015 berjudul “Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran Audiovisual Powtoon Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Mathla'ul Anwar”.
Dalam dunia pendidikan, media audiovisual Powtoon sudah tidak asing lagi digunakan pada saat proses belajar mengajar. Guru yang bijak pasti menyadari bahwa kebosanan dan kejenuhan siswa adalah akibat dari penjelasan guru yang membingungkan, tidak ada keahlian khusus dalam pembuatan media, misalnya hal ini dapat diatasi seperti penggunaan media powtoon audio visual yang sesuai dengan materi pembelajaran di kelas. sekolah dasar, khususnya pada mata pelajaran IPA. Dengan menggunakan media audio visual powtoon akan meningkatkan semangat belajar siswa karena media ini sangat menghibur karena media ini menggunakan animasi yang sangat menarik yang sangat cocok digunakan untuk pembelajaran di SD/MI.
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Dalam upaya meningkatkan hasil belajar melalui penerapan media pembelajaran audio visual powtoon bagi siswa di SDN 65 Seluma akan meningkat.
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Tempat dan Waktu penelitian
- Subjek Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Definisi Operasional Variabel
- Sumber Data
- Tekhnik Pengumpulan Data
- Indikator Kerja
- Prosedur Penelitian
- Tekhnik Analisa data
Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan pendekatan yang dilakukan secara sistematis, dimulai dari permasalahan. Lembar tes berfungsi sebagai alat uji yang digunakan pada akhir kegiatan untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar siswa. a) Uji daya pembeda. Dokumentasi merupakan hal yang perlu dilakukan dalam penelitian, dokumentasi adalah mendapatkan data yang diperoleh melalui dokumen.
Setelah melakukan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan penelitian hingga diberikan tindakan pada Siklus 1 dan Siklus II diperoleh hasil tes yang digunakan untuk mengetahui persentase ketuntasan belajar siswa, dianalisis dengan. Langkah awal dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pra siklus yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 September 2019. Dengan menggunakan media ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada siswa terhadap materi yang diajarkan.
Hasil observasi yang dilakukan peneliti dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pada siklus I dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan siswa, dari data observasi yang dilakukan peneliti diperoleh rata-rata nilai 3,3 dengan kriteria cukup. Pada siklus II dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan siswa, dari data observasi yang dilakukan peneliti diperoleh rata-rata nilai 4,1 dengan kriteria baik.
Media audiovisual Powtoon mendorong kesiapan siswa untuk belajar dan memudahkan siswa dalam memahami isi. Hal ini terbukti dari hasil penelitian siklus I hingga siklus II sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Ibu Susti Suryani, S.Pd selaku Kepala Sekolah SDN 65 Seluma mengenai profil umum SDN 65 Seluma adalah sebagai berikut. Untuk mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar yang baik, maka harus didukung oleh berbagai komponen, antara lain guru dan tenaga administrasi. Pada hari Senin dan Kamis, proses belajar mengajar berakhir pada pukul 12.00 WIB, kemudian pada hari jumat kursus belajar mengajar berakhir pukul 10.45 WIB, dan proses belajar mengajar pada hari Sabtu berakhir pukul 12.00 WIB.
Fasilitas dan Perabot Penunjang Pembelajaran di SDN 65 Seluma Untuk mendukung proses pembelajaran, fasilitas dan perabot yang ditawarkan di SDN 65 Seluma adalah sebagai berikut.
Hasil Penelitian
Peneliti masih mengajar dengan menggunakan metode ceramah dan siswa hanya mendengarkan materi yang diajarkan oleh peneliti. Berdasarkan tabel di atas ternyata terdapat 12 siswa yang tuntas dalam proses pembelajaran dan 14 siswa yang tidak tuntas. Oleh karena itu perlu adanya sarana untuk mendorong minat siswa terhadap materi yang diajarkan, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan media dalam proses pembelajaran.
Setelah RPP yang disusun untuk pembelajaran selesai, tindakan selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran dengan mengacu pada media yang telah disediakan. Pada siklus ini, guru dan peneliti mencatat setiap perilaku siswa yang terjadi selama proses pembelajaran yang berhubungan dengan . menggunakan media audiovisual Powtoon dari awal hingga pembelajaran ditutup. Namun pada tahap ini masih ada beberapa siswa yang belum memahami materi yang diajarkan oleh peneliti. hal ini terlihat dari hasil jawaban siswa terhadap pertanyaan yang peneliti cantumkan pada lembar evaluasi.
Di akhir proses belajar mengajar, siswa diberikan tes dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah diselesaikan. Bagi siswa yang mendapat nilai dinyatakan tuntas, sebaliknya jika siswa mendapat nilai maka siswa dinyatakan tidak tuntas. Dari tabel di atas diketahui pada Siklus I terdapat 17 siswa yang menuntaskan pelajaran dan 9 siswa yang tidak menuntaskan pelajaran.
Maka beberapa hal yang akan dilakukan peneliti pada siklus berikutnya adalah sebagai berikut. Bagi siswa yang mendapat nilai dinyatakan tuntas, sebaliknya jika siswa mendapat nilai maka siswa dinyatakan tidak tuntas. Dari tabel di atas diketahui pada siklus II terdapat 22 siswa yang menuntaskan pelajaran dan 4 siswa yang tidak menuntaskan pelajaran.
Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran pada siklus II menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II secara umum berjalan sesuai rencana.
Pembahasan
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan media audiovisual dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti melakukan analisis terhadap perhatian siswa saat mengikuti proses pembelajaran dan hasil belajar yang diperoleh dari hasil penelitian dan pengumpulan data. Media audiovisual yang powerful ini cukup efektif dalam meningkatkan perhatian siswa selama proses pembelajaran.
Media audio visual Powtoon juga efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA, hasil belajar. Hasil belajar siswa dari observasi siklus I dan siklus II mengalami peningkatan, sehingga dengan menggunakan media audio visual siswa dapat lebih memahami materi dalam proses pembelajaran. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa persentase ketuntasan belajar siswa pada pra siklus sebesar 46,1%, selanjutnya pada siklus I dengan penerapan media audio visual powtoon dalam proses pembelajaran persentase hasil belajar siswa ditingkatkan. menjadi 65,4%, dan pada siklus II persentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 88,5.
Grafik persentase ketuntasan belajar siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada grafik berikut. Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa peningkatan hasil belajar telah memenuhi syarat minimal, dengan keterangan tersebut membuktikan bahwa nilai PTK 88,5% lebih tinggi dari nilai raport 75%. Berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan media pembelajaran Powtoon Audio Visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penggunaan media pembelajaran Audiovisual Powtoon dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V B. Pada siklus II hasil belajar siswa meningkat yaitu dengan total nilai rata-rata siswa sebesar 76,9% dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 88,5%. .
PENUTUP
Kesimpulan
Hal ini terlihat dari hasil penelitian pada Siklus I yang mencapai nilai rata-rata siswa sebesar 72,3 dengan persentase ketuntasan siswa sebesar 65,4%. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pada siklus II proses pembelajaran dikatakan tuntas karena siswa kelas V B SDN 65 Seluma secara klasikal telah mencapai ketuntasan lebih dari standar minimal yaitu 85%.
Saran