Demikian pula dengan adanya Tarekat Naqsyabansiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di pondok pesantren Ahlus Sofa wal Wafa Sidoarjo Jawa timur. Hasil yang ditemukan di dalam penelitian ini pertama adalah ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Ponpes ASW tercermin pada tujuh wasiat ayahanda guru, janji murid, janji salik, serta panca salik. Ketiga, Respon jama‟ah terhadap tarekat Naqsyabandiyah kholidiyah mujaddidiyah di ponpes ASW aspek yang membuat jama‟ah tertarik karena penokohan (modeling), motivasi dari ajaran tasawuf yang terdapat pada reboan Agung, strategi dakwah akulturasi seni budaya dan teknologi.
Kata kunci: Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah, Ahlus Shofa wal Wafa, Reboan Agung, Dakwah bil Hal.
Ta Marbutah
Syaddah (Tasydid)
Kata Sandang
Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa Hamzah ditransliterasikan dengan apostrof, namun itu hanya terletak di tengah dan di akhir kata. Apabila terletak di awal kata maka tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berupa huruf alif.
Huruf Kapital
Penulisan Kata
Alhamdulillah, dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat dan karunia daya upacaya dalam setiap cita oleh manusia. Imam Iqbal, S.Fil.I, M.S.I., Sekertaris Prodi Magister (S2) Aqidah dan Filsafat Islam Roni Ismail, S.Th.I, M.S.I., Ibu Sri Wahyu Kothiastuti selaku TU Prodi Magister AFI para pengajar Program Studi Magister (S2) Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan seluruh staf yang telah memberikan pelayanan terbaik selama proses studi. Beliau merupakan Kaprodi Magister (S2) Aqidah dan Filsafat Islam, sosok inspiratif bagi kehidupan akademik penulis sepak terjang dan dedikasi akademis nya telah menjadi role.
Terimakasih tak bertepi juga penulis sampaikan kepada keluarga besar penulis, khususnya orang tua (H. Husnin dan Hj. Suhartini), seluruh keluarga besar penulis terutama saudara kandung penulis; kak wahid, kak halim, kak hambali, kak farida yang telah hadir sebagai pelita hidup penulis, yang tidak sekedar mendo‟akan kehidupan terbaik bagi penulis tetapi juga mendukung.
Latar Belakang Masalah
Dengan demikian, mendekatkan diri kepada Tuhan atau yang disebut dengan istilah ma‟rifat diperlukan adanya media berupa tarekat yang berbasis syari‟at. Syari‟at adalah perkataanku, tarekat adalah perbuatanku dan hakekat atau ma‟rifat adalah pengalaman batinku”.2. Secara jelasnya tarekat merupakan jalan sufi yang diproklamirkan sebagai media yang dapat menuntun seseorang menuju jalan kesufian untuk mendekatkan diri dengan Tuhan-Nya.
Demikian dengan tarekat yang akan peneliti kaji, yaitu tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di pondok pesantren Ahlus Shofa wal Wafa. Ditinjau dari historisnya, tarekat Naqsyabandiyah dipelopori oleh Muhammad bin Muhammad Baha‟ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi lahir pada tahun 1318 M-1389 di Qashrul Arifah, Bukhara.5 Nama tarekat ini dinisbatkan dari nama pendirinya, yakni Naqsyabandi, kemudian terdapat perubahan nama sesuai dengan priode dan silsilah. Adapun secara ontologi, tarekat Naqsyabandiyah adalah tarekat yang pendirinya senantiasa berdzikir mengingat Allah, sehingga lafadz Allah terukir dengan melekat dalam qalbunya.
Ungkapan Syekh Ahmad Katib bin Abdul Latif yang dikutip oleh Fuad, menyatakan tarekat Naqsyabandiyah merupakan tarekat Nabi yang diajarkan kepada melalui Syekh Bahauddin, kemudian diamalkan oleh murid-muridnya. Kemudian manusia harus mengetahui peraturan amalan yang berhubungan dengan syar‟at atau ibadat, disebutnya sebagai ilmu fikih. Setelah itu, manusia mempelajari ilmu untuk membersihkan hati dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dinamakan dengan ilmu Tasawuf.9.
Adapun tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal Wafa mempunyai karakteristik yang berbeda dengan tarekat-tarekat lainnnya. Berdasarkan paparan di atas, menurut peneliti, tarekat Naqsyabandiyah khalidiyah mujaddidiyah di pondok pesantren Ahlus Shofa wal Wafa menarik untuk dikaji, sebab tarekat ini mempunyai karakteristik pada metode pengajarannya, dengan melalui syi‟ir-syi‟ir dalam perspektif tasawuf dan melalui kajian tasawuf.
Rumusan Masalah
Setiap syi‟ir dan kajian tasawuf yang dipimpin oleh mursyid, memberikan dampak signifikan kepada jama‟ah tarekat, mereka memberikan respon yang dibuktikan melalui tindakan sesuai yang diajarkan.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Kajian Pustaka
Penelitian ini titik tekannya yaitu melihat figur Syakh Hasan dalam perspektif tarekat dan gerakan sosial. Ia belajar tasawuf dan tarekat kepada Shaykh Achmad Chayyat yang merupakan ulama Makkah berkebangsaan Arab. Selain itu, sebagai figur sufi, ia termasuk sufi yang progresif, karena memberikan perjatian terhadap terhadap kehidupan sosial, bahkan politik.11.
Menurut penganut tarekat ini bahwa tarekat merupakan jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, khususnya untuk orangorang yang hampir lanjut usia. 10 Ova Siti Sofwatul Ummah, E, “Tarekat, kesalehan ritual, spiritual dan sosial: praktik Pengamalan Tarekat Syadziliyah di Banten” Jurnal al-A‟raf: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, Vol. Di dalam penelitian ini difokuskan untuk melihat karakteristik tarekat naqsabandiyah khoilidiyah yang dipimpin oleh Kadirun Yahya, karakteristiknya yaitu bersifat ilmiah.
Tarekat ini mengajarkan zikir yang meliputi empat tujuan, antara lain: yaitu agar seseorang melakukan upaya mengingat Allah, mengintip tajalli Allah, menghadapkan hati kepada Allah, dan menyaksikan tajalli Allah.13. Di dalam teks tersebut terdapat pejelasan mengenai polemik tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau yang disebabkan oleh faktor sosial, politik, ego sektoral, bukan disebabkan oleh ajaran dan pemahaman terhadap ajaran.14. 14 Syofyan Hadi, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Minangkabau: Tela‟ah Teks alManhal al-„Addh li-Dhikr al-Qalb, Jurnal Manassa Manuskrip, Vol.
Kerangka Teoritik
Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada orang yang belajar adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh yang diajar, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Mengetahui apakah respons yang ditunjukkan oleh yang diajar ini benar- benar sesuai dengan apa yang diharapkan.18.
Metode Penelitian
Penulis akan mengumpulkan data dari kitab, buku-buku, jurnal, literatur literatur, dan data-data lapangan yang mendukung penelitian terkait strategi penerapan tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa dan respon jama‟ah tarekat. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik, penulis mendeskripsikan, mengungkapkan dan menguraikan apa adanya secara mendalam19 mengenai strategi penerapan tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa, data-data pendukung seperti wawancara jama‟ah kemudian dianalisis secara kritis. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dan lapangan dengan objek materialnya adalah Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa, sedangkan obyek formalnya yaitu konsep tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah.
Adapun data Primer dalam penelitian ini bersumber langsung dari data data lapangan melalui wawancara langsung dengan informan, diantaranya Mursyid, Khalifah dan Jama‟ah tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal Wafa, kemudian bersumber dari buku-buku primer seperti: Jami‟iul ushul fi auliya‟ karya syaikh dhiyauddin Ahmad Mustafa al-Kamisykhanawi, kitab Tanwirul Qulub karya syaikh Amin kurdi, dimana kitab-kitab tersebut merupakan pedoman bagi tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah. Langkah awal yang dilakukan yaitu, penulis mengumpulkan bahan penelitian seperti halnya, observasi, wawancara, literatur-literatur yang berkaitan dengan strategi penerapan tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa,. Di dalam penelitian ini metode untuk menganalisis data yang dipakai adalah bersifat kualitatif dengan menggunakan penalaran deduktif dan induktif.
Adapun penalaran induktif yaitu penalaran yang bertolak dari data yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.20. Setelah itu, menggunakan metode verstehen untuk dapat memahami makna yang terkandung dalam strategi penerapan tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa. Selanjutnya menggunakan pendekatan psikologis untuk mengetahui aspek perilaku dari respon jama‟aah dan juga pendekatan filosofis, pendekatan ini digunakan untuk menjalaskan inti, hakekat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik penerapan tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa.
Data tentang strategi penerapan tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa yang sudah terkumpul kemudian diolah melalui tahap pemeriksaan (editing) untuk memilih data mana yang sesuai dengan masalah yang akan diteliti yaitu yang berkaitan dengan penelitian ini. Setelah semua data tersebut terkumpul, maka peneliti akan melakukan pengecekan kembali atau disebut (verifying) untuk menguji validitas data yang diperoleh.
Sistematika Pembahasan
Temuan-temuan ini yaitu: terkait strategi penerapan ketarekatan dan respon jama‟ah ASW, meliputi: strategi penerapan ketarekatan, media dakwah, motivasi dan respon jama‟ah tarekat, peran ASW dalam memotivasi jama‟ah, kondisi sosial keagamaan masyarakat, aspek perilaku keagamaan jama‟ah, dan bentuk respon jama‟ah ASW.
KESIMPULAN
Kedua, karena Motivasi dari ajaran tasawuf yang terdapat pada reboan Agung, bagi jama‟ah ngaji reboan angung adalah ngaji kehidupan, ngaji ilmu laku dimana mampu menstimulus jama‟ah menjadi pribadi yang terdepan dalam ilmu terpuji dalam laku, menisbatkan setiap kesalahan pada diri sendiri sehingga terus bermuhasabah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian dampak yang dirasakan oleh jama‟ah berfariasi; ada yang merasa lebih tenang, sabar, dan terbimbing, lebih khusyu‟ dalam beribadah, lebih ber-empati kepada sesama, 5 S kiri (su‟udzon, sambat, susah, sedih, stress) menjadi 5 S kanan (Sabar, syukur, sopan, santun, sumringah).
SARAN
Akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan penelitian kecil ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak langkah kekasih-kekasih Allah dan mendatangkan maslahat bagi para murid yang sedang meniti jalan menuju Allah dan Rasul-Nya. Strategi Dakwah pada Pengikut Tarekat Khalidiyah wa Naqsyabandiyah di Masjid Kwanaran Kudus, Jurnal Ilmu Dakwah.Vol. Peran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyyah Syekh Abdul Wahab Rokan (dalam Dakwah dan Pendidikan Islam di Riau dan Sumut)”.
Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Minangkabau: Tela‟ah Teks alManhal al-„Addh li-Dhikr al-Qalb. Dzikrullah Membeningkan Hati, Menghampiri Ilahi, dalam Komaruddin SF (ed) “dzikr Sufi”, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2000. Pengembangan Strategi Dakwah Melalui Media Internet”, Jurnal Al-Irsyad Al-Nafs: Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam.
Tasawuf Nafas Dakwah Gus Nizam, As-Shofa, tp, t.th.. Melacak Peran Tarekat dalam Perkembangan Dakwah Islamiyah)”, Jurnal, at-Taqaddum, Vol.6, No. Wawancara dengan Mohammad Nizam Ash Shofa pengasuh ponpes Ahlus-Shofa wal wafa, di Sidoarjo tanggal 18 Mei 2016. Wawancara dengan Abdul Wahab Machfudz, Khalifah (Wakil Guz Nizam) di Ponpes Ahlus-Shofa Wal Wafa Sidoarjo tanggal 18 Mei 2016.
Identitas Diri
Riwayat Pendidikan 1. Pendidikan Formal
The Spiritual Meaning Of Suluk In Syi‟ir Tanpa Waton, Teosofia: Indonesian Journal Of Islamic Mysticism, Vol.7, No. Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Mujaddidiyah Di Pondok Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa (Ajaran dan Strategi Penerapan Prespektif Behaviorisme)(2021).
Data Prestasi
Pengalaman Mengajar
Pengalaman Organisasi