Selain itu, Kementerian Dalam Negeri juga banyak mencabut peraturan daerah mengenai retribusi dan pajak daerah yang dinilai melanggar peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pengawasan terhadap peraturan daerah diperlukan untuk menjaga konsistensi antara peraturan di tingkat daerah dengan peraturan yang berlaku di tingkat nasional. Perundang-undangan tersebut mengatur dua mekanisme pengujian atau pengawasan terhadap peraturan daerah, yaitu pengujian eksekutif dan pengujian materiil.
Upaya perbaikan mekanisme pengkajian peraturan daerah antara lain: merevisi peraturan terkait pengawasan peraturan daerah di bidang eksekutif, mensinergikan kegiatan atau program pada satuan kerja kementerian yang mempunyai yurisdiksi terhadap peraturan daerah, dan memperbaiki struktur organisasi di tingkat daerah (provinsi). tingkat. menjalankan perannya dalam pengawasan peraturan daerah.
Pengantar
Permasalahan yang timbul dari peraturan daerah memerlukan upaya perbaikan mekanisme peninjauan peraturan daerah yang diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Penelitian di bidang ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang reaksi masyarakat lokal terhadap mekanisme peninjauan peraturan daerah yang cenderung terpusat. Identifikasi permasalahan diuraikan pada bagian ini, termasuk identifikasi pihak-pihak yang terkait dengan topik kajian peraturan daerah.
Bagian terakhir atau ketiga memuat rekomendasi upaya penyempurnaan pengkajian peraturan daerah, berdasarkan temuan dan analisis yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Kerangka Teori Pengawasan Peraturan Daerah
Dimana dalam pengawasan preventif ini suatu Peraturan Daerah yang dibuat hanya dapat berlaku apabila telah terlebih dahulu disahkan oleh instansi yang mempunyai kewenangan untuk mengesahkannya7. Pada prinsipnya model pengawasan preventif ini hanya dilakukan terhadap Peraturan Daerah yang mengatur sejumlah materi tertentu yang sebelumnya telah ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Berbeda dengan model pengawasan preventif, pengawasan represif dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu penghentian sementara berlakunya suatu peraturan daerah atau pembatalan suatu peraturan daerah.
Model pengendalian yang represif ini dapat dilakukan terhadap setiap peraturan daerah yang kami yakini bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau bertentangan dengan kepentingan umum.
Dua Model Pengawasan Peraturan Daerah
Menteri Dalam Negeri mengusulkan pembatalan kepada ketua apabila hasil klarifikasi menunjukkan bahwa peraturan daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur mengusulkan pembatalan kepada Menteri Dalam Negeri apabila berdasarkan hasil klarifikasi peraturan daerah dinyatakan bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Laporan Kajian Pelaksanaan Pengawasan Ketentuan Daerah oleh Pemerintah dan Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Mahkamah Agung RI - 2011.
Gubernur dan DPRD melakukan perbaikan apabila hasil evaluasi menunjukkan bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Bupati/walikota melaksanakan perbaikan apabila hasil evaluasi menunjukkan bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Laporan kajian pelaksanaan pengendalian peraturan daerah oleh pemerintah dan Mahkamah Agung Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Indonesia - 2011.
Identifikasi Permasalahan Pengawasan Perda
Peningkatan drastis ini disebabkan oleh pembatalan peraturan daerah yang merupakan salah satu tujuan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono periode 2009-2010. Laporan Investigasi Pelaksanaan Pengawasan Peraturan Daerah oleh Pemerintah dan Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Mahkamah Agung RI - 2011 Data lain yang menarik untuk diketahui mengenai pembatalan peraturan daerah adalah jenis peraturan daerah yang dibatalkan. Pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan terdapat 121 jenis peraturan daerah yang dibatalkan Kementerian Dalam Negeri pada periode tersebut.
Apalagi, Perda yang dibatalkan juga bukan Perda yang dibuat pada tahun yang sama atau mendekati tahun terbitnya Keputusan Menteri Dalam Negeri. Misalnya, pada tahun 2009 peraturan daerah yang dibatalkan oleh Kementerian Dalam Negeri juga termasuk peraturan daerah yang diterbitkan pada tahun 1990. Hasil penelusuran jenis-jenis peraturan daerah juga menunjukkan bahwa peraturan daerah tersebut dibatalkan oleh Kementerian Dalam Negeri hingga saat ini. itu adalah peraturan daerah yang berkaitan dengan keuangan daerah.
Kategori kedua terdiri dari peraturan daerah yang dibuat untuk menciptakan pajak dan retribusi baru yang tidak ada dalam undang-undang baru. Jumlah Perda yang dicabut cukup banyak, sehingga jika pelaksanaan pencabutan Perda dilakukan oleh Presiden, maka tugas tersebut dinilai terlalu memberatkan. Keengganan pemerintah daerah untuk menyampaikan peraturan daerah kepada pemerintah pusat disebabkan karena tidak adanya sanksi bagi daerah yang tidak menyampaikannya, dan upaya untuk mencegahnya. pencabutan peraturan yang dibuat34.
Banyaknya peraturan daerah yang dibatalkan Kementerian Dalam Negeri setiap tahunnya tidak bisa dibandingkan dengan banyaknya peraturan daerah yang diuji oleh Mahkamah Agung melalui mekanisme judicial review. Koordinasi Penelitian dan Advokasi Komnas HAM dengan Kementerian Dalam Negeri terkait peraturan daerah yang melanggar HAM.
Analisis dan Temuan dalam Executive Review
Keputusan pembatalan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan Presiden paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan pembatalan Perda yang disampaikan kepada Presiden melalui pembuatan Perpres menimbulkan permasalahan baru terkait dengan rutinitas kerja Presiden untuk membatalkan Perda. Sedangkan kewenangan evaluasi dan pembatalan peraturan provinsi terhadap empat jenis peraturan daerah tersebut berada pada Menteri Dalam Negeri.
Laporan Kajian Pelaksanaan Pengawasan Peraturan Daerah oleh Pemerintah dan Mahkamah Agung Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Indonesia Peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh pemerintah. (3) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan Presiden paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pembatalan peraturan daerah selama ini menjadi kewenangan Menteri Dalam Negeri dengan menggunakan Keputusan Menteri Dalam Negeri. Ketentuan yang menyatakan pembatalan peraturan daerah merupakan kewenangan pemerintah juga terdapat dalam Undang-Undang 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Pengaturan dalam PP ini mulai membedakan pengawasan peraturan daerah terhadap APBD, pajak daerah, tugas daerah, dan penataan ruang dengan peraturan daerah di luar keempat jenis peraturan daerah tersebut. Pengawasan dan pembatalan peraturan anggaran daerah, pajak daerah, retribusi daerah, dan penataan ruang dilakukan secara bertahap oleh gubernur untuk peraturan kabupaten/kota dan menteri dalam negeri untuk peraturan provinsi. Sedangkan pembatalan peraturan daerah dengan peraturan presiden tetap diatur, namun terbatas pada peraturan daerah di luar keempat jenis peraturan daerah tersebut.
Hingga saat ini, pencabutan peraturan daerah di bidang APBD, pajak daerah, retribusi daerah, dan penataan ruang telah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri melalui penerbitan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Namun data penarikan skema daerah menunjukkan penarikan tersebut tidak terjadi dalam jangka waktu yang ditentukan dalam skema perundang-undangan.
Analisis dan Temuan Dalam Judicial Review Perda
Sementara itu, Mahkamah Agung juga menjalankan kewenangannya untuk mengadili keberatan pemerintah daerah terhadap pencabutan peraturan daerah yang dilakukan pemerintah dan permohonan peninjauan kembali peraturan daerah. Apabila uji materi yang diajukan masyarakat terlebih dahulu membatalkan Perda tersebut, maka tidak diperlukan keputusan administratif. 1/2004 terjadi pembahasan mengenai batas waktu pengajuan peninjauan kembali dan pembahasan tersebut menetapkan jangka waktu 180 hari semata-mata berdasarkan pertimbangan bahwa jangka waktu tersebut seharusnya lebih lama dibandingkan dengan perselisihan mengenai dewan negara yang ada pengajuannya. batas 90 hari.
57 Pembatasan sosialisasi ini tentunya berdampak pada pelaksanaan hak masyarakat untuk mengajukan peninjauan kembali, dan hal ini harus menjadi salah satu pertimbangan dalam perumusan jangka waktu yang tepat untuk membatasi permohonan peninjauan kembali. Berdasarkan pengalaman tergugat yang disampaikan dalam diskusi58, hakim pada akhirnya menolak permohonan peninjauan kembali karena batas waktu yang ditentukan telah habis. Pembatasan waktu pengajuan peninjauan kembali diperlukan untuk menciptakan kepastian hukum mengenai status peraturan perundang-undangan.
Menurut sebuah sumber, jangka waktu yang masuk akal untuk mengajukan peninjauan kembali adalah setidaknya satu tahun. Oleh karena itu, untuk menjamin hak masyarakat dalam mengajukan pengujian peraturan daerah, maka perlu dilakukan penambahan jangka waktu pemaparan yang ditetapkan dalam Perma No. 1/2004 mengatur bahwa proses pemeriksaan atau putusan atas permohonan peninjauan kembali dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, tergantung keadaannya.
Penelitian di Makassar menunjukkan bahwa masyarakat masih menganggap proses pengajuan peninjauan kembali membutuhkan biaya yang besar. Objek perkara yang diujikan adalah menyangkut kepentingan umum, bukan hanya kepentingan pemohon saja.
Perkembangan Regulasi Terkait Perda
Laporan Kajian Pelaksanaan Pengawasan Peraturan Daerah oleh Pemerintah dan Mahkamah Agung Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Indonesia - Peraturan perundang-undangan tahun 2011 hanya menyebutkan peraturan daerah.69 Rincian peraturan daerah diatur pada alinea berikutnya, yang meliputi peraturan daerah provinsi . peraturan daerah kabupaten/kota dan peraturan desa.70 Ketentuan Posisi peraturan daerah kabupaten/kota yang baru, yang secara tegas berada pada hierarki peraturan perundang-undangan di bawah peraturan provinsi, akan berdampak pada hubungan hukum keduanya. Mendagri menyatakan, ketentuan susunan hierarki kedua Perda ini juga akan dimasukkan dalam revisi UU Nomor. Misalnya, jika terdapat tumpang tindih antara kedua Perda tersebut atau terdapat perbedaan materi pengaturan antar Perda. peraturan daerah kabupaten/kota dan peraturan provinsi.
Upaya pengaturan hierarki peraturan daerah antara kabupaten/kota dan provinsi sebenarnya sejalan dengan konsep pengawasan peraturan daerah yang diatur secara bertahap atau berjenjang. Penataan untuk memperkuat kedudukan peraturan daerah provinsi dalam hierarki peraturan perundang-undangan ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengontrol atau mengawasi pembentukan peraturan daerah di kabupaten/kota. Di sisi lain, peran tersebut harus dilihat sebagai momentum optimalisasi mekanisme pengawasan multi level yang melibatkan pemerintah provinsi dalam pengawasan peraturan daerah kabupaten/kota agar dapat berfungsi secara efektif.
Pencabutan Perda hanya bisa dilakukan melalui mekanisme judicial review oleh Mahkamah Agung 72 Dalam rapat dengar pendapat dengan Pansus Revisi UU Nomor 10 Tahun 2004 tanggal 27 Januari 2011, PSHK juga menyatakan perlunya melakukan upaya mengoptimalkan pelaksanaan kewenangan pengujian peraturan daerah di Mahkamah Agung. 10/2004, namun terdapat gambaran dukungan dari anggota DPR untuk memperkuat peran Mahkamah Agung dalam pelaksanaan penyidikan peraturan daerah.
32/2004 merupakan peluang untuk menata kembali mekanisme pengawasan peraturan daerah, baik melalui executive review maupun judicial review. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mendorong atau mengadvokasi perbaikan kebijakan dalam mekanisme review peraturan daerah, baik di bidang eksekutif maupun judicial review.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Mekanisme peninjauan kembali peraturan daerah juga harus memperhatikan keterbatasan-keterbatasan sehingga peran pengawasan tidak terkesan mengganggu proses legislasi di daerah. Kedua sistem peninjauan peraturan daerah yang ada saat ini mencerminkan adanya kebijakan pengendalian peraturan daerah. Executive review merupakan kewenangan pemerintah untuk mengontrol sistem pemerintahannya, sedangkan judicial review merupakan hak masyarakat untuk mengontrol peraturan daerah yang dibuat oleh pemerintah daerah.
Sementara dalam pelaksanaan uji materi, kendala yang dihadapi antara lain mekanisme yang menyulitkan masyarakat untuk mengajukan uji materi peraturan daerah. Kementerian Dalam Negeri harus melibatkan pemerintah provinsi dalam pengawasan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai mekanisme pengawasan berjenjang yang telah disusun; Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan harus mengatur peran masyarakat dalam penilaian peraturan daerah dengan mengatur hak masyarakat untuk mengajukan pengaduan atau permohonan terhadap rancangan peraturan daerah atau peraturan daerah yang dianggap bermasalah.
Mengatur mekanisme pemeriksaan permohonan peninjauan kembali peraturan daerah dengan melibatkan pemeriksaan terhadap pemohon dan termohon, ahli dan dilakukan di pengadilan terbuka; DPR dan pemerintah hendaknya memasukkan materi peraturan mengenai kewenangan pengujian peraturan daerah oleh Mahkamah Agung dalam pengujian peraturan daerah, khususnya mengenai hubungan antara putusan peninjauan kembali dengan pembatalan peraturan daerah oleh pemerintah. Salah satu materi yang direvisi adalah soal batas waktu pengajuan peninjauan kembali. Perma ini tidak lagi membatasi jangka waktu pengajuan uji materi terhadap suatu peraturan daerah.
LSM harus meningkatkan perannya dalam mengembangkan pemahaman dan pendampingan masyarakat untuk mengadvokasi revisi peraturan daerah dan rancangan peraturan daerah melalui penggunaan mekanisme judicial review dan executive review; Kabul Alasan mengajukan uji materi adalah penyerahan perkara pelayanan sosial bagi pasien miskin/tidak mampu dan korban wabah ke rumah sakit perseroan terbatas bertentangan dengan Pasal 28 H & 34 UUD 1945, Pasal 7 UU No.