abad XIX

Top PDF abad XIX:

Sosialisme Utopian Abad XIX

Sosialisme Utopian Abad XIX

yang cintai-damai, yang berbeda-beda di antara mereka sendiri hanya dalam langkah-langkah yang diperlukan untuk merekonsiliasikan kepentingan-kepentingan semua klas masyarakat. Hampir semua peletak dasar yang cinta-damai dari sistem-sistem sosialis menghasilkan rencananya sendiri dalam menjamin kepentingan-kepentingan klas bermilik. Fourier, misalnya, merekomendasikan agar produk kerja didistribusikan sedemikian rupa dalam masyarakat masa depan hingga memberikan lima-per-duabelas (bagian) kepada rakyat pekerja, kepada kaum kapitalis empat-per-duabelas, dan, akhirnya, kepada para wakil bakat-bakat tiga-per-duabelas dari kumpulan produk itu. Semua rencana distribusi Utopian secara damai itu tanpa kecuali memberikan konsesi-konsesi tertentu pada kaum kapitalis; jika tidak maka kepentingan-kepentingan klas bermilik itu tidak akan terjamin, dengan demikian menghilangkan semua harapan akan suatu pemecahan secara damai atas permasalah sosial itu. Kepentingan-kepentingan kaum kapitalis–dan kaum kaya pada umumnya–hanya bisa diabaikan oleh kaum sosialis yang tidak takut melepaskan harapan itu, yaitu oleh mereka yang lebih memilih metode aksi revolusioner . Metode ini lebih dipilih oleh kaum Babeuf menjelang akhir abad XVIII; kaum sosialis Perancis abad XIX yang dipengaruhi oleh kaum Babeuf juga cenderung menggunakannya. Mereka yang bekerja dengan gaya ini dan tidak menganggap perlu untuk menyelamatkan kepentingan-kepentingan kaum kaya secara terang-terangan menganggap diri mereka sebagai kaum revolusioner, tetapi juga sebagai komunis. Pada umumnya, selama seluruh periode yang didiskusikan itu, perbedaan dalam konsep- konsep Perancis mengenai sosialisme dan komunisme terletak pada kenyataan bahwa, dalam proyek-proyek mereka untuk bagan sosial masa depan, kaum sosialis itu mempertimbangkan suatu ketidak- samaan tertentu–dan kadang-kadang ketidak-samaan sangat besar– dalam pemilikan kekayaan, sedangkan ini ditolak oleh kaum komunis.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Pelabuhan Air Bangis Sumatera Barat Pada Abad XIX Hingga  Awal Abad XX

Pelabuhan Air Bangis Sumatera Barat Pada Abad XIX Hingga Awal Abad XX

Kajian mengenai sejarah pelabuhan Air Bangis sudah pernah ada sebelumnya. Informasi mengenai sejarah pelabuhan Air Bangis ditulis dalam Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang oleh suatu tim di bawah M. Nur dkk., Dinamika Pelabuhan Air Bangis dalam Lintasan Sejarah Lokal Pasaman Barat (2004). Buku ini menggambarkan dinamika Pelabuhan Air Bangis secara luas yang dimulai dari asal-usul pelabuhan dan penduduk Air Bangis, Pelabuhan Air Bangis pada masa kolonial Belanda hingga Air Bangis dewasa ini. Buku ini mencoba mengambarkan peranan Pelabuhan Air Bangis pada abad XIX hingga kontemporer di Pantai Barat Pasaman yang dilihat dari perdagangan dan dinamikanya. Meskipun lingkup permasalahan buku ini hampir sama dengan fokus penelitian penulis, namun buku ini tidak menjawab isu yang penulis bahas. Buku ini tidak melihat perkembangan Pelabuhan Air Bangis dalam aspek perdagangan dan pelayaran pada abad XIX secara mendalam, padahal pada kurun waktu inilah masa kejayaan pelabuhan tersebut. Penulisan buku ini juga kurang kronologis, sehingga menyulitkan pembaca memahami inti permasalahan. Meskipun demikian buku karya M. Nur dkk. ini penulis jadikan sebagai acuan awal dalam memahami Pelabuhan Air Bangis dan sebagai perbandingan dalam menulis dan meneliti.
Baca lebih lanjut

184 Baca lebih lajut

g v plekhanov sosialisme utopian abad xix

g v plekhanov sosialisme utopian abad xix

yang cintai-damai, yang berbeda-beda di antara mereka sendiri hanya dalam langkah-langkah yang diperlukan untuk merekonsiliasikan kepentingan-kepentingan semua klas masyarakat. Hampir semua peletak dasar yang cinta-damai dari sistem-sistem sosialis menghasilkan rencananya sendiri dalam menjamin kepentingan-kepentingan klas bermilik. Fourier, misalnya, merekomendasikan agar produk kerja didistribusikan sedemikian rupa dalam masyarakat masa depan hingga memberikan lima-per-duabelas (bagian) kepada rakyat pekerja, kepada kaum kapitalis empat-per-duabelas, dan, akhirnya, kepada para wakil bakat-bakat tiga-per-duabelas dari kumpulan produk itu. Semua rencana distribusi Utopian secara damai itu tanpa kecuali memberikan konsesi-konsesi tertentu pada kaum kapitalis; jika tidak maka kepentingan-kepentingan klas bermilik itu tidak akan terjamin, dengan demikian menghilangkan semua harapan akan suatu pemecahan secara damai atas permasalah sosial itu. Kepentingan-kepentingan kaum kapitalis–dan kaum kaya pada umumnya–hanya bisa diabaikan oleh kaum sosialis yang tidak takut melepaskan harapan itu, yaitu oleh mereka yang lebih memilih metode aksi revolusioner . Metode ini lebih dipilih oleh kaum Babeuf menjelang akhir abad XVIII; kaum sosialis Perancis abad XIX yang dipengaruhi oleh kaum Babeuf juga cenderung menggunakannya. Mereka yang bekerja dengan gaya ini dan tidak menganggap perlu untuk menyelamatkan kepentingan-kepentingan kaum kaya secara terang-terangan menganggap diri mereka sebagai kaum revolusioner, tetapi juga sebagai komunis. Pada umumnya, selama seluruh periode yang didiskusikan itu, perbedaan dalam konsep- konsep Perancis mengenai sosialisme dan komunisme terletak pada kenyataan bahwa, dalam proyek-proyek mereka untuk bagan sosial masa depan, kaum sosialis itu mempertimbangkan suatu ketidak- samaan tertentu–dan kadang-kadang ketidak-samaan sangat besar– dalam pemilikan kekayaan, sedangkan ini ditolak oleh kaum komunis.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

SOSIAL ANTARA ETNIS CINA DENGAN ETNIS JAWA DI SURAKARTA AKHIR ABAD XIX AWAL ABAD XX

SOSIAL ANTARA ETNIS CINA DENGAN ETNIS JAWA DI SURAKARTA AKHIR ABAD XIX AWAL ABAD XX

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan : (1) Kondisi Kota Surakarta periode akhir abad XIX hingga awal abad XX, (2) Latar belakang terjadinya integrasi sosial antara etnis Cina dengan etnis Jawa di Surakarta akhir abad XIX hingga awal abad XX, (3) Saluran proses integrasi sosial antara etnis Cina dengan etnis Jawa di Surakarta akhir abad XIX hingga awal abad XX, (4) Dampak terjadinya integrasi sosial antara etnis Cina dengan etnis Jawa di Surakarta akhir abad XIX hingga awal abad XX.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Percaturan Otoritas Ulama dan Raja Banjar pada Abad XIX - IDR UIN Antasari Banjarmasin

Percaturan Otoritas Ulama dan Raja Banjar pada Abad XIX - IDR UIN Antasari Banjarmasin

Perubahan ini menyebabkan pengaruh yang besar bagi sistem politik dan pemerintahan, karena sejak itu golongan bangsawan yang sangat kaya raya kadang lebih berkuasa daripada raja. Para bangsawan atau para Pangeran Raja bertingkah laku terhadap rakyatnya dengan menganggap dirinya sebagai raja, yang mempunyai kekuasaan absolut dalam wilayahnya. Para Pangeran juga mempunyai pengaruh besar dalam perundingan-perundingan perdagangan dan kadang-kadang kepentingan para pangeran ini lebih menonjol daripada kepentingan politik negara. Bagi pedagang luar negeri terutama bangsa Belanda, kekuasaan absolut dari golongan aristokrasi ini sangat merugikan mereka. Dan itu pula sebabnya Belanda tidak dapat memperoleh hak monopoli lada dalam kontrak yang dibuat saat itu. Dewan Mahkota (the Royal Council) yang terdiri dari keluarga raja. Golongan aristokrat, para pejabat tinggi, pegawai rendahan seperti para Kyai mempunyai kekuasaan besar untuk menentukan situasi politik, ekonomi dan perdagangan negara. Raja tidak dapat melakukan suatu tindakan atau langkah tanpa izin atau persetujuan Dewan Mahkota terutama yang menyangkut pembicaraan dengan pedagang-pedagang asing. Seperti dengan para pedagang Cina, Siam, Johore, Jawa, Palembang, Portugis, Inggris dan Belanda. Komoditi perdagangan terdiri dari emas, permata, lada, cengkeh, pala, camphor kulit buaya, mutiara, rotan, besi dan gelang, benda-benda perselin, bergs, morphin, garam, gula, tawas, pakaian dan sebagainya. Aktifitas pelayaran dan perdagangan Banjar dalam abad ke 17 melintasi sampai Cochin China dan Aceh. Aktifitas pelayaran dan perdagangan ini dibiayai dengan modal dari golongan penguasa (therolling class).
Baca lebih lanjut

240 Baca lebih lajut

Monetisasi dan Perubahan Sosial Ekonomi Masyarrakat Jawa Abad XIX | Utami | Jurnal Sejarah dan Budaya 1554 3730 1 SM

Monetisasi dan Perubahan Sosial Ekonomi Masyarrakat Jawa Abad XIX | Utami | Jurnal Sejarah dan Budaya 1554 3730 1 SM

Kebijakan ekonomi Hindia Belanda pada abad XIX merupakan hasil dari perdebatan panjang di Belanda. Segera setelah Belanda mendapatkan kembali Hindia Belanda dari tangan Inggris, berbagai pihak di Belanda terlibat dalam serangkaian perdebatan mengenai kebi- jakan ekonomi yang akan diterapkan di koloni itu. Kaum liberal menginginkan ekonomi bebas diterapkan di Hindia Belanda, modal Barat harus didukung untuk berinvestasi dalam pertanian skala besar, rakyat harus bebas membeli dan menjual tanah, dan sistem kuno kepe- milikan komunal harus dihapuskan (Vlekke, 2008:308). Sementara itu go- longan konservatif berpendapat bahwa hal itu hanya akan merugikan rakyat Hindia Belanda karena mereka tak akan mampu bersaing dengan pengusaha Barat sehingga besar kemungkinannya mereka akan kehi- langan tanah, bahkan terusir dari tanahnya sendiri.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

DESKRIPSI HINTERLAND KARESIDENAN TEGAL ABAD XIX - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) 23 artikel P Alam

DESKRIPSI HINTERLAND KARESIDENAN TEGAL ABAD XIX - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) 23 artikel P Alam

Pada   masa   terjadi   pertempuran   antara   Mataram     dengan Madura   awal   abad   ke­17   kompeni   mendapat   kesukaran     untuk memperoleh   beras     dari   bandar­bandar   Mataram   karena   semua perahu   Mataram   digunakan   untuk   keperluan   perang.   Untuk mengatasinya maka Kompeni Batavia terpaksa mengirimkan   kapal­ kapalnya ke Tegal, Demak, Jepara, dan Kendal untuk mengangkut beras. Pada awal abad ke­18 kota Tegal juga memainkan peran yang sangat   penting.   Dimana   pada   saat   itu   Kompeni   berusaha memperkuat   pertahanan   Tegal   agar   tidak   jatuh   ke   tangan Mangkubumi. Pertahanan Kompeni terhadap Tegal itu dengan tujuan untuk mempekuat pertahanan kota dalam menghadapi penyerangan dari Pangeran Mangkubumi pada masa Perang Giyanti. Pertahanan yang  dilakukan   Belanda  dengan   cara  mendatangkan  pasukan   dari Madura dan Surabaya sebanyak  2000 orang.  
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Gerakan Samin melawan kolonialisme Belanda: perlawanan petani kawasan hutan di Blora (abad XIX-XX).

Gerakan Samin melawan kolonialisme Belanda: perlawanan petani kawasan hutan di Blora (abad XIX-XX).

Keinginan pemerintah Belanda untuk menguasai pulau Jawa tetap menjadi tujuan mereka. Mereka melihat bahwa pulau Jawa memiliki potensi sumber daya alam dan manusia yang dapat dimanfaatkan. Salah satu daerah yang dilirik oleh pemerintah Belanda adalah kabupaten Blora yang kaya akan hasil hutan berupa kayu jati. Pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan kayu jati di daerah jajahannya untuk pembuatan kapal serta arsitektur. Mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kayu jati yang berlimpah, termasuk diantaranya dengan penebangan hutan milik rakyat, maupun perampasan secara paksa. Terkait potensi kayu jati di Jawa serta pengurangan luasan hutan akibat eksploitasi VOC, Dirk van Hogendrop (pegawai VOC) abad ke-18 yang dikutip Raffles dalam bukunya The History of Java menyebutkan bahwa:
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

BARUANG KA NU NGARORA: REPRESENTASI PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT SUNDA ABAD XIX

BARUANG KA NU NGARORA: REPRESENTASI PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT SUNDA ABAD XIX

itu, antara lain dapat diketahui sebagai berikut: (1) munculnya genre baru di dalam sastra Sunda, yaitu novel yang dapat menampung berbagai ide dan permasalahan yang muncul di masyarakat sebagai akibat adanya po litik pemerintah kolonial yang menda tangkan karya karya sastra Barat dalam bentuk terjemahan; dan (2) munculnya modernitas yang di dalam novel ditandai dengan judul novel yang tidak memakai nama tokoh yang terlibat di dalam cerita, munculnya struktur novel seperti latar, tokoh, dan alur secara realis yang jelas menyebutkan nama, tempat, dan bahasa yang digunakan di dalam novel yang menggunakan bahasa sehari hari. Kehi dupan sosial budaya lainnya yang terjadi di masyarakat Sunda pada abad ke 19 yang tergambarkan di dalam novel ada lah adanya atau penanaman kopi secara besar besaran yang dijalan kan oleh pemerintah kolonial.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

SAMIN DAN KEHUTANAN ABAD XIX

SAMIN DAN KEHUTANAN ABAD XIX

Ketika kekuatan ekonomi VOC ambruk di akhir abad XVIII akibat korupsi yang merajalela dan kebijakan keuangan yang ceroboh dalam membayar para pemegang saham rata-rata 18 persen setahun, daerah-daerah yang dikuasai VOC kemudian ditempatkan di bawah kekuasaan langsung Pemerintah Belanda. 1 Kebangkrutan VOC menyadarkan kaum liberal Belanda bahwa monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC tidak mendatangkan kemajuan di negeri jajahan. Untuk mengatasi hal tersebut, Dirk van Hogendorp pada tahun 1799 mengusulkan agar kedudukan bupati dan penguasa daerah lainnya diatur kembali. Pemilikan atau penguasaan tanah sebagai sumber pemerasan dicabut dan tanah dikembalikan kepada rakyat. Sejak saat itu, pajak hasil bumi dan uang kepala diberlakukan. Rakyat diberi keleluasaan untuk menanam jenis-jenis tanaman perkebunan.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Menelusuri Akar Konflik Antaretnik | Arkanudin | MediaTor (Jurnal Komunikasi)

Menelusuri Akar Konflik Antaretnik | Arkanudin | MediaTor (Jurnal Komunikasi)

Etnik Madura yang ada di Kalimantan Barat adalah pendatang yang berasal dari Bangkalan Madura akhir abad XIX, dan baru menetap di daerah ini sekitar tahun 1920, dengan maksud untuk mencari lahan-lahan yang lebih subur dibandingkan dengan daerah asalnya di pulau Madura (Achadiyat,1989:51). Berdasarkan hasil penelitian Sudagung (1983), kedatangan orang Madura ke Kalimantan Barat berlangsung dua periode. Periode pertama, etnik Madura masuk ke Kalimantan Barat, diperkirakan antara tahun 1902- 1942 dari Bangkalan dengan menggunakan perahu layar tradisional, mendarat di Kerajaan Sukadana (Kabupaten Ketapang) pada tahun 1902, kemudian ke kota Pontianak pada tahun 1910, dan pada tahun 1930 ke Kabupaten Sambas. Ketiga daerah ini mudah dijangkau karena bisa langsung dilayari dari Pulau Madura. Motivasi utama mereka datang adalah untuk berdagang dan mencari kerja.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

REVOLUSI INDUSTRI  pertanian di (2)

REVOLUSI INDUSTRI pertanian di (2)

mendorong Duke of Brigewater untuk mengali saluran-saluran yang dapat digunakan sebagai sarana angkutan air. Hal ini segera diikuti oleh pengusaha lain sehingga dalam waktu yang relatif singkatjaringan saluran yang silang menyilang didaratan Inggris telah meliputi ratusan mil. Awal abad XIX dilakukan percobaan-percobaan dengan kapal-kapal yang digerakkan oleh tenaga mesin uap dengan hasil yang cukup memuaskan. Pada tahun 1820-an, kereta api pertama dicobakan dengan hasil yang memuaskan pula. George Stephenson (1781-1848) berhasil menemukan lokomotif yang digerakkan oleh tenaga uap dengan kecepatan 29 mil/jam dari daerah Liverpool ke Manchester mengalahkan kecepatan kereta uap sebelumnya yang memiliki kecepatan 5 mil/jam. Pemakaian transportasi dengan menggunakan lokomotif temuan Stepehenson ini mendorong para usahawan untuk memperluas jaringan kereta api di Inggris. Kereta api memiliki fungsi penting sebagai sarana darat karena tidak hanya untuk membawa para penumpang tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkut barang. Maka, dibuatlah jalan-jalan kereta api di pusat-pusat industri seperti yang terdapat di Birmingham, Manchester, Leeds, dan Shaeffied, dan kemudian
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BAGIAN 1 PENGANTAR PERKEMBANGAN ARSITEKTUR MODERN

BAGIAN 1 PENGANTAR PERKEMBANGAN ARSITEKTUR MODERN

Pada abad XIX, meskipun unsur dan bentuk klasik masih mendominasi banyak bangunan, konsep dasarnya sudah tidak diterapkan lagi. Masa berakhirnya arsitektur klasik terjadi sejak revolusi industri di Inggris, sehingga menimbulkan revolusi sosial-ekonomi, tidak hanya melanda Eropa tetapi seluruh dunia.

3 Baca lebih lajut

Eclectic atau eklektik berasal dari bahasa Yunani = “eklegein”, artinya memilih

Eclectic atau eklektik berasal dari bahasa Yunani = “eklegein”, artinya memilih

 Ciri Umum dari gaya arsitektur yang melanda dunia pada akhir abad XIX dan awal abad XX ini adalah asimetris, kubis, atau semua sisi (depan samping dan belakang) dalam komposisi dan kesatuan bentuk, elemen bangunan jendela, dinding, atap, dan lain-lain menyatu dalam komposisi bangunan.

40 Baca lebih lajut

Asal Mula Bilangan Nol

Asal Mula Bilangan Nol

nama bilangan prima Mersenne (Mersenne Prime). Cara penentuannya pun belum sempurna karena diantaranya terdapat beberapa prima semu. Sampai abad XIX, masih banyak matematikawan yang beranggapan bahwa 1 adalah bilangan prima, dari defnisi bilangan prima adalah bilangan yang habis dibagi 1 dan bilangan itu sendiri tanpa membatasi jumlah pembagi. Pada abad XIX, Legendre dan Gauss membuat sebuah konjektural untuk menghitung banyaknya bilangan prima yang kurang dari atau sama dengan suatu bilangan dan dibuktikan pada tahun 1896 dan berganti nama menjadi Teorema Bilangan Prima (Prime Number Theorem). Sebelumnya pada tahun 1859, Riemann juga mencoba membuktikan konjektural tersebut menggunakan fungsi zeta.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS WACANA IKLAN ROKOK ABAD KE XIX DALAM SITUS advertisingtimes.fr DENGAN PENDEKATAN MIKRO DAN MAKROSRTUKTURAL.

ANALISIS WACANA IKLAN ROKOK ABAD KE XIX DALAM SITUS advertisingtimes.fr DENGAN PENDEKATAN MIKRO DAN MAKROSRTUKTURAL.

Seiring berkembangannya teknologi, banyak bermunculan produk- produk rokok di seluruh dunia. Iklan rokok pertama kali dipublikasikan pada tahun 1800. Bentuk awal rokok telah dibuktikan di Amerika Tengah pada abad ke-9 dalam bentuk alang-alang dan tabung rokok. Tembakau dan obat- obatan psikoaktif yang terdapat pada rokok sering digunakan untuk berbagai ritual keagamaan oleh suku Maya pada masa itu untuk menggambarkan pemimpin ritual. Cerutu adalah metode yang paling umum dari merokok yang sering digunakan di Karibia, Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan. Pada tahun 1830, rokok telah sampai di Prancis dengan nama cigarette. Prancis mulai memproduksi rokok pada tahun 1845 (www.sejarah-rokok-dari-abad- 19.com).
Baca lebih lanjut

186 Baca lebih lajut

BERBAGAI PANDANGAN ASAL BANGSA DAN BAHAS (1)

BERBAGAI PANDANGAN ASAL BANGSA DAN BAHAS (1)

Sneddon (1992) menjelaskan adanya dua macam linguistik komparatif. Pertama, perbandingan tipologis untuk menemukan kesemestaan bahasa, dan kedua linguistik historis (komparatif) yaitu perbandingan yang bertujuan untuk menentukan hubungan kekerabatan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Secara lebih rinci Keraf (1984: 23-24) menjelaskan ruang lingkup kajian linguistik historis sebagai berikut: (1) mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya; (2) mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada dewasa ini kepada bahasa-bahasa proto atau bahasa-bahasa yang menurunkan bahasa-bahasa modern; (3) mengadakan pengelompokan bahasa-bahasa yang termasuk dalam satu rumpun bahasa; dan (4) berusaha menemukan pusat-pusat penyebaran/negeri asal (homeland/center of grativity) bahasa proto dari bahasa kerabat dan menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi. Dengan mendasarkan pada pandangan tersebut, apa yang sudah dilakukan oleh para pakar dari Barat pada abad XVIII-XIX merupakan upaya menerapkan linguistik historis dalam rangka menemukan negeri asal (homeland) bangsa dan bahasa Nusantara. Pendapat mereka tentang asal bangsa dan bahasa Nusantara dipaparkan sebagai berikut.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

nasionalisme dan revolusi pengalaman indonesia

nasionalisme dan revolusi pengalaman indonesia

Dengan demikian nampak bahwa dalam kasus revolusi Indonesi, sistem legalitas yang diganti bukan sekedar pemerintah, melainkan sesuatu bentuk kenegaraan di bawah lingkungan Kemaharajaan Jepang dengan negara Republik Indonesia. Pergantian sistem legalitas yang satu dengan yang lain terjadi seketika itu juga dengan adanya proklamasi, tanpa adanya vacum satu hari sebagaimana dikatakan oleh para ahli. Adapun pembukaan UUD 1945 yang meliputi Pancasila sebagai dasar filsafat negara, merupakan satu kelanjutan yang tidak terpisahkan dengan proklamasi. Proklamasi adalah titik kulminasi daripada cita-cita kemerdekaan nasional yang telah hidup di dalam alam pikiran rakyat Indonesia selama berabad-abad dan yang merupakan nilai di dalam kehidupan nasional dan kehidupan kenegaraan kita dewasa ini, karena tanpa kemerdekaan itu maka segala milik nasional kita dewasa ini akan ikut lenyap pula. Karena itulah, semasa perang kemerdekaan yang merupakan komponen fisik-militer dari pada revolusi Indonesia semboyan utamanya adalah “merdeka atau mati”. Pada masa sekarang kemerdekaan itu dirasakan sebagai vanzelfsprekend sebagai sesuatu yang seolah-olah “dengan sendirinya” ada, apalagi oleh generasi muda yang tidak mengalami masa-masa tatkala kemerdekaan itu mendapat ancaman yang sangat besar yang mungkin melenyapkan eksistensinya, andaikata tidak dipertahankan secara mati-matian oleh rakyat bersenjata. 57
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Tittle Perkembangan Arsitektur Klasik Ba

Tittle Perkembangan Arsitektur Klasik Ba

Bangsa Eropa sudah berada pada puncak kepauasan akan modernitas yang telah melanda dunia. Kebanyakan mereka mulai melirik segala sesuatu yang berkesan “back to nature”, “back to beginning”, dan “back to the past”. Bangsa eropa dengan segala hal yang berbau modern dan penuh dengan beragam kerumitan, sehingga lebih memilih kembali ke masa lalu. Mulai dari pakaian, gaya rambut, mobil, musik, dsb. Semua itu telah menjadi trend kembali. Berbeda dengan kebutuhan formal seperti diatas yang hanya mundur beberapa dekade, arsitektur malah mundur beberapa abad. Gaya arsitektur beratus-ratus tahun silam dibangkitkan kembali dengan penerapan elemen unsurnya dalam pembangunan property di Eropa.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Bilangan Prima dan Aplikasinya dalam Bid

Bilangan Prima dan Aplikasinya dalam Bid

Pada abad XX, penggunaan bilangan prima di luar bidang matematika mulai dikembangkan. Pada era 1970-an, ketika konsep kriptografi kunci-publik ditemukan, bilangan prima menjadi salah satu dasar pembuatan kunci algoritma enkripsi seperti RSA. Algoritma RSA diperkenalkan oleh tiga peneliti MIT, yaitu Ron Rivest, Adi Shamir, dan Len Adleman. RSA menggunakan dasar bilangan prima dan aritmatika modulo dalam proses enkripsinya. Kunci enkripsi RSA tidak dirahasiakan dan dapat diketahui oleh umum, namun kunci deskripsinya bersifat rahasia. Untuk menemukan kunci dekripsi, seseorang harus memfaktorkan suatu bilangan komposit menjadi faktor primanya. Proses pemfaktoran ini bukan merupakan hal yang mudah sehingga tingkat keamanan enkripsi dengan RSA cukup tinggi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Show all 1996 documents...