Acara dan tradisi

Top PDF Acara dan tradisi:

TRADISI JAWA DALAM ACARA PERNIKAHAN DI DESA DUKUHBANGSA KECAMATAN JATINEGARA KABUPATEN TEGAL TAHUN 1990-2013

TRADISI JAWA DALAM ACARA PERNIKAHAN DI DESA DUKUHBANGSA KECAMATAN JATINEGARA KABUPATEN TEGAL TAHUN 1990-2013

Atas nikmat sehat yang telah Allah SWT berikan, penulis telah menyelesaikan skripsi berjudul Tradisi Jawa Dalam Acara Pernikahan Di Desa Dukuhbangsa Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal Tahun 1990 - 2013. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada program studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

14 Baca lebih lajut

PERAN TRADISI BERBALAS PANTUN DALAM ACARA PESTA PERKAWINAN MASYARAKAT MELAYU DI DESA LALANG KEC.TANJUNG PURA.

PERAN TRADISI BERBALAS PANTUN DALAM ACARA PESTA PERKAWINAN MASYARAKAT MELAYU DI DESA LALANG KEC.TANJUNG PURA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantun dalam kehidupan orang melayu adalah sebagai sarana untuk menyampaikan psan-pesan moralyang sarat berisi nilai-nilai luhur agama,budaya dan norma-norma dodial masyarakat.melalui pantun nilai-nilai luhur itu disebarluaskan ketengah-tengah masyarakat.diwariskan kepada anak cucunya.nilai-nilai simbolikyang terkandung dalam pantun adalah nilai agama,adat istiadat,yang biasa dilakukan,nilai sosial dan budi pekerti.aspek lainnya yang dapat dilihat adalah nilai estetika,keoptimisan,ramah,sifat terbuka.sedangkan pantun yang digunakan dalam acara pesta perkawinan masyarakat suku melayu melambangkan bahwa perkawinan adalah sesuatu yang sakral.suku melayu sangat menjunjung tinggi adat istiadat,biasanya pantun nasihat di selipkan dalam pembicaraan pada saat pinang-meminang,antar belanja ataupun antar tanda,pembuka dan penutup pintu ataupun dalam khutbah nasihat nikah.pantun nasihat sangat populer dan dimanfaatkan dengan baik oleh warga masyarakat untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka.demi tegaknya nilai moral dan radat resam melayu dalam kehidupan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

TRADISI MALAMANG DALAM PROSESI ACARA MAULID NABI SAW DI PARIAMAN

TRADISI MALAMANG DALAM PROSESI ACARA MAULID NABI SAW DI PARIAMAN

Dalam merealisasikan konsep pengkarya memakai gerak murni yang distilisasikan dari perilaku masyarakat Pariaman ketika tradisi malamang berlangsung. Karya ini ditarikan oleh 20 orang penari, 10 orang penari lokal (daerah) dan 10 orang penari dari kampus ISI Padangpanjang, dengan memakai properti jamba, bambu dan kain sarung, sedangkan setting pada karya ini yaitu tempat pembakaran lamang dan palanta untuk orang makan bajamba. Tipe yang dipakai dalam karya tari ini adalah tipe murni dan tema budaya. Ritual Maulid Nabi diin- terpretasikan dalam garapan karya tari baru. Musik pengiring bertolak dari gandang tasa, beberapa vokal dikiah, salawaik dulang, dan bambu yang menjadi alat musik pukul. Properti yang digunakan berupa bambu yang meng- gambarkan lamang dan jamba.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TRADISI MAPPASORO BAGI MASYARAKAT DESA BARUGARIATTANG KECAMATAN BULUKUMPA KABUPATEN BULUKUMBA

TRADISI MAPPASORO BAGI MASYARAKAT DESA BARUGARIATTANG KECAMATAN BULUKUMPA KABUPATEN BULUKUMBA

Tradisi mappasoro pada acara kematian di bulukumpa, yang pada mulanya atau sebelum masuknya Islam adalah merupakan sebuah pemberian imbalan jasa atas bantuan orang-orang pengetahuan agamanya tinggi atau mendalam dan mengetahui seluk beluk tentang pengurusan jenazah. Pemberian atau pappasoro tersebut berupa pakaian, makanan dan terkadang berupa uang saja, yang diantar kerumah sandro ’ (orang yang dianggap pintar )yang telah membantunya mengurusi atau meringankan beban ahli mayat yang telah ditimpa musibah kematian diantara mereka. Jadi “mappasoro” pada asal mulanya bukan suatu pemberian yang sifatnya wajib sebagaimana yang dipercayai dan di yakini oleh sebagian besar penduduk kecamatan Bulukumpa pada saat itu, namun setelah islam masuk, tradisi mappasoro adalah merupakan suatu pemberian yang bernilai sedekah secara ikhlas kepada pegawai syara’. Akan tetapi lama kelamaan amalan tersebut dianggap oleh sebagian masyarakat adalah suatu amalan yang wajib di tunaikan bagi setiap mereka yang telah di timpa suatu musibah kematian 33
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Kajian Organologis Gendang Indung Dan Gendang Anak Buatan Bapak Baji Sembiring Pelawi Di Desa Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo

Kajian Organologis Gendang Indung Dan Gendang Anak Buatan Bapak Baji Sembiring Pelawi Di Desa Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo

Kemampuan bermusik beliau sudah semakin baik dan bagus, terbukti dari beberapa acara yang pernah diikutinya seperti pada tahun 1992 beliau bermain pada acara kampanye Golkar, dan pada tahun 1993 sampai 2002 beliau menetap di kota Medan dan tetap jadi pemain musik tradisi Karo dan dipanggil untuk main di acara pesta tahunan, nampeken tulan-tulan,pernikahan maupun orang meninggal, di daerah Tanah Karo, Deli Serdang dan Langkat. Pada Oktober 2004, beliau mendapat undangan untuk main di acara tour keliling Pertunjukan Seni Tradisi Sumatera Utara di Eropa dan di acara tersebut beliau bermain sarune.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Tradisi "Saeyyang Pattudduq" di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar (Studi Unsur-Unsur Kebudayaan Islam) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Tradisi "Saeyyang Pattudduq" di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar (Studi Unsur-Unsur Kebudayaan Islam) - Repositori UIN Alauddin Makassar

(laki- laki atau perempuan) telah selesai/menamatkan bacaan Qur’annya, artinya ia sudah bisa membaca dan menulis aksar a Qur’an maka ia dipandang sudah pantas untuk diikutkan acara khataman dalam sebuah acara Mappatammaq. Acara mappatammaq ini biasanya akan melibatkan sejumlah antara lain sebagai berikut : 1) ada satu atau lebih orang (biasanya anak-anak) laki-laki atau perempuan yang akan ditamatkan karena ia/meraka sudah dapat membaca Al Quran dengan lancar, 2) ada semacam panitia, 3) ada tim satu atau lebih parrawana (penabuh rebana), 4) ada saeyyang pattuqduq, 5) ada tersedia pesarung (pendamping/pengaman), 6) ada tersedia pesaweang (yaitu seorang perempuan tengah baya atau agak tua umurnya) untuk mendampingi orang/anak yang telah khatam bacaan Qurannya (messawe), 7) ada pakkalindaqdaq (orang yang mengumandangkan pantun/syair Mandar pada saat arak-arakan messawe diadakan.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

TRADISI MAKHAP DALAM PERKAWINAN ADAT PADA MASYARAKAT LAMPUNG SAIBATIN DI PEKON PENGGAWA V ULU KECAMATAN KARYA PENGGAWA KABUPATEN PESISIR BARAT

TRADISI MAKHAP DALAM PERKAWINAN ADAT PADA MASYARAKAT LAMPUNG SAIBATIN DI PEKON PENGGAWA V ULU KECAMATAN KARYA PENGGAWA KABUPATEN PESISIR BARAT

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah faktor-faktor penyebab perubahan bantuan dalam tradisi makhap dalam acara perkawinan? Tujuannya adalah untuk mengetahui apa sajakah faktor-faktor penyebab perubahan bantuan dalam tradisi makhap dalam acara perkawinan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yakni wawancara, observasi, dokumentasi dan kepustakaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode struktural fungsional, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan bantuan dalam tradisi makhap terdiri dari faktor internal (dari dalam) dan faktor eksternal (dari luar). Faktor internal terdiri dari faktor ekonomi dan faktor waktu. Masyarakat merasa akan lebih efektif apabila bantuan dalam tradisi makhap diberikan dalam bentuk uang yang diamplopkan. Faktor eksternal antara lain adanya pengaruh kebiasaan makhap di pekon lain dan faktor pendidikan. Adanya pendidikan serta melihat dan mengamati kebiasaan makhap dari pekon lain membuat pola pikir masyarakat lebih fleksibel terhadap suatu tradisi.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

T1__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tradisi Suran Sendang Sidukun dan Nilai GotongRoyong pada Masyarakat Desa Trajiecamatan Parakanabupaten Temanggung: Kajian AntropologiSosiologi T1  BAB II

T1__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tradisi Suran Sendang Sidukun dan Nilai GotongRoyong pada Masyarakat Desa Trajiecamatan Parakanabupaten Temanggung: Kajian AntropologiSosiologi T1 BAB II

Bersesaji merupakan perbuatan untuk menyajikan makanan, benda-benda dan sebagainnya kepada roh-roh nenek moyang atau makhluk halus lain, dengan tujuan supaya acara tersebut bisa berjalan dengan lancar. Sesaji ini merupakan sarana dan prasarana yang penting dalam upacara tradisi yang erat hubungannya dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat tentang adanya roh-roh halus.

11 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

pemilik acara dan juga ikut serta menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Kemudian tolong menolong dalam sistem kekerabantan ini, kalau ada keluarga yang tidak mampu, untuk biaya berobat, melahirkan, dalam aktivitas ini keluarga ikut serta memberi dana secara suka rela atau pinjaman agar orang tersebut dapat menutupi biaya yang dibutuhkan.

14 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Makna Tradisi Lamporan Bagi Masyarakat Desa Kunden di Kabupaten Blora T1 152009023 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Makna Tradisi Lamporan Bagi Masyarakat Desa Kunden di Kabupaten Blora T1 152009023 BAB V

59 Dalam tradisi lamporan ini, gotong- royong nampak sebelum acara dimulai, yaitu saat para panitia bergotong- royong mempersiapkan segala keperluan dari menata tempat hingga mempersiapkan panggung hiburan dari atraksi barongan Sekar Joyo bersama dengan jasa sewa panggung.

3 Baca lebih lajut

CORAK GEMEINSCHAFT PUNGUAN PARSAHUTAON DOS ROHA DALAM RELASI SOSIAL MASYARAKAT BATAK PERANTAUAN DI TEGAL

CORAK GEMEINSCHAFT PUNGUAN PARSAHUTAON DOS ROHA DALAM RELASI SOSIAL MASYARAKAT BATAK PERANTAUAN DI TEGAL

Acara kematian adalah acara yang juga sangat melibatkan Punguan Parsahutaon Dos Roha. Pada tradisi suku Batak ketika ada yang meninggal maka anggota punguan wajib membantu keluarga yang sedang berduka dalam mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan dalam acara kematian seperti; menyiapkan peti mati, mengabarkan kepada masyarakat Batak lainnya yang tidak tergabung dalam Punguan Parsahutaon Dos Roha, anggota Punguan Parsahutaon Dos Roha yang tempat tinggalnya paling dekat dengan rumah yang sedang berduka maka rumah anggota itu akan dijadikan tempat berkumpulnya anggota lain dan memiliki kewajiban menyediakan rumahnya sebagai tempat memasak hidangan untuk para pelayat yang akan datang dibantu dengan anggota lainnya. Hal ini juga sesuai dengan penuturan Ibu Herny H.S (30) berikut ini :
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

104227 AKJ 2010 01 13 Keakraban Melalui Family Gathering

104227 AKJ 2010 01 13 Keakraban Melalui Family Gathering

mengadakan acara temu keluarga besar // keakraban mungkin salah satu aktivitas sosial yang paling mudah // Sebagai sebuah tradisi / kumpul bersama bersama keluarga dalam suatu tempat / sampai hari ini masih anda temui dimana-mana // tidak hanya para pelaku institusi atau usaha / pihak komunitas pun sering melakukan kegiatan family gathering / sebagai ajang kumpul-kumpul maupun mempererat silaturahmi //

1 Baca lebih lajut

ASPEK NILAI-NILAI SOSIAL PADA TRADISI BERSIH DESA JULUNGAN (Studi Kasus Pada Pelaksanaan Tradisi Bersih Desa Julungan di desa Kalisoro  Aspek Nilai-Nilai Sosial Pada Tradisi Bersih Desa Julungan (Studi Kasus Pada Pelaksanaan Tradisi Bersih Desa Julungan d

ASPEK NILAI-NILAI SOSIAL PADA TRADISI BERSIH DESA JULUNGAN (Studi Kasus Pada Pelaksanaan Tradisi Bersih Desa Julungan di desa Kalisoro Aspek Nilai-Nilai Sosial Pada Tradisi Bersih Desa Julungan (Studi Kasus Pada Pelaksanaan Tradisi Bersih Desa Julungan d

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Upacara bersih desa Julungan adalah upacara adat yang dilaksanakan di desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Adanya Tradisi bersih desa Julungan bermula ketika kyai Honggodito hilang dan tidak kembali dalam bertapa selama 40 hari, berhubung kyai Honggodito lahir di hari selasa kliwon wuku julung, maka setiap 7 bulan sekali di hari selasa kliwon wuku julung oleh masyarakat desa Kalisoro diadakan acara bersih desa Julungan. Aspek nilai sosial pada tradisi Julungan dapat dilihat dari prosesi atau pelaksanaan tradisi Julungan adalah sebagai acara yang menggambarkan falsafah kehidupan gotong royong penduduk desa Kalisoro dan sifat kebersamaan yang dimiliki sebagai sebuah bentuk ucapan syukur yang ditujukan dengan cara terus memperingati dan terus melestarikan dari suatu hal yang pernah terjadi atau pernah dirasakan, dalam pelaksanaan tradisi Julungan masyarakat antusias untuk mengikuti berbagai prosesi yang dilaksanakan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam

Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam

Tradisi tahlilan merupakan aplikasi dari ritual keagamaan yang sangat memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan, tradisi tahilan ini memang suatu bentuk kesadaran kolektif dalam sebuah masyarakat yang diyakini masyarakat Tanah Abang ataupun masyarakat daerah secara turun-temurun. Tradisi tahlilan merupakan aktifitas masyarakat yang dilaksanakan pada khusunya disaan warga mengalami musibah kematian umunya ataupun acara-acara pada setiap menyambut hari Jumat sering terdengar di masjid-masjid membacakan tahlilan dan maulid Nabi yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa keyakinannya yang tinggi terhadap ajaran Islam, karena acara tersebut mempunyai makna yang dalam menyangkut pada dimensi agama Islam yaitu syariat dan hakikat, sebagaimana dikutip dalam wawancara saya kepada al Ustadz Hasan Maulani, S.Pd sebagai tokoh masyarakat di daerah Tanah Abang.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Perubahan Fungsi Boru Dalam Struktur Kekerabatan Batak Toba Pada Acara Pesta Adat

Perubahan Fungsi Boru Dalam Struktur Kekerabatan Batak Toba Pada Acara Pesta Adat

Wawancara dalam penelitian ini merupakan hal yang sangat penting dalam memperoleh informasi yang diperlukan guna kelengkapan data penelitian. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam. Wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh sebanyak mungkin data tentang bagaimana dialektika yang terjadi antara budaya lokal masyarakat Batak Toba dengan budaya global yang mengarah pada terjadinya perubahan dalam tradisi marhobas pada pesta adat Batak. 16 Wawancara dilakukan dengan menggunakan alat tulis untuk mencatat hasil wawancara dalam hal menghindari terjadinya kelupaan data yang diperoleh dalam menulis hasil laporan. Wawancara mendalam dilakukan dengan beberapa tokoh adat yang berada di desa Simanungkalit. Penulis mengetahui siapa-siapa saja orang yang mengerti akan adat Batak Toba. Penulis juga melakukan
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Anggit Gilang Fajari Bab I

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Anggit Gilang Fajari Bab I

Tradisi pengaruh dari Jawa tidak hanya pada saat acara-acara biasa saja melainkan juga pada saat acara yang sakral seperti pernikahan, pernikahan dalam adat Jawa merupakan pengaruh dari keraton Surakarta dan Yogyakarta, pengaruh ini menyebar hingga ke penjuru tanah air, proses dalam pernikahan adat Jawa berbeda-beda tergantung dengan tradisi upacara dari keraton mana yang dipakai dalam upacara pernikahan, masyarakat Jawa cenderung selalu menggunakannya karena merupakan bagian dari identitas sebagai masyarakat Jawa yang masih mempertahankan kearifan tradisi peninggalan nenek moyang suku bangsa Jawa tradisi Jawa dalam pernikahan juga masih dipertahankan di tengah-tengah masyarakat Desa Dukuhbangsa, dimana desa ini merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal, letak desa ini strategis karena akses jalan menuju ke pasar maupun kota sangat mudah, desa ini mayoritas penduduknya beragama Islam, mata pencaharian dari sebagian besar masyarakatnya adalah masih mengandalkan pertanian sebagai cara untuk memperoleh penghasilan, sebagai desa yang cukup berkembang dalam bidang pertanian membuat keadaan sosial dan pemikiran masyarakatnya juga semakin maju, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan terutama para generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, juga karena faktor perkembangan zaman yang mengharuskan sebagian masyarakat merantau di kota-kota besar sehingga masyarakat banyak terpengaruh oleh pemikiran dari dunia luar, meskipun demikian masyarakat Dukuhbangsa masih mempertahankan tradisi Jawa terutama dalam pernikahan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Tradisi Nasi Hadap-Hadapan Pada Upacara Adat Perkawinan Melayu Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara : Kajian Makna Dan Fungsi

Tradisi Nasi Hadap-Hadapan Pada Upacara Adat Perkawinan Melayu Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara : Kajian Makna Dan Fungsi

Nasi hadap-hadapan dimakan dalam adat resam Melayu. Bagi masyarakat Melayu nasi hadap-hadapan beserta perencahnya seperti manisan dan kue kue, yaitu kebiasaan/tradisi yang sudah membudaya sejak dahulu sampai saat ini. Nasi hadap-hadapan ini sangat berperan penting dalam adat perkawinan karena tradisi ini hanya dilakukan hanya pada upacara perkawinan saja, yaitu setelah tepung tawar berakhir maka masuklah tradisi nasi hadap- hadapan. Acara tidak akan sempurna apabila dalam acara tersebut tidak ada tradisi nasi hadap-hadapan dalam upacara adat perkawinan dan Melayu tidak bisa dipisahkan dengan tradisi nasi hadap-hadapan dalam upacara adat perkawinan karena ini sebagai kelengkapan adat dan juga sebagai simbol dari suku itu sendiri, karena nasi hadap-hadapan memiliki sejuta pesan ketika disampaikan pada orang lain.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HASIL PENELITIAN  Aspek nilai pendidikan budaya dan karakteristik masyarakat dalam pelaksanaan tradisi upacara adat susuk wangan studi kasus di Desa Setren Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri.

HASIL PENELITIAN Aspek nilai pendidikan budaya dan karakteristik masyarakat dalam pelaksanaan tradisi upacara adat susuk wangan studi kasus di Desa Setren Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri.

Acara adat tradisional tradisi kebudayaan susuk wangan sekarang ini mampu menghadirkan warga masyarakat dan pengunjung yang luar biasa banyaknya.Upacara adat tersebut dilaksanakan oleh warga masyarakat desa setempat yang didukung oleh pemerintah Kabupaten Wonogiri.Dengan adanya acara ritual tradisi kebudayaan susuk wangan tersebut menjadikan warga masyarakat Desa Setren bertambah lebih bersemangat dan lebih percaya diri serta meyakini bahwa Desa Setren mempunyai potensi alam yang luar biasa.Terlihat indah karena Desa Setren mempunyai kondisi alam yang masih asli, utuh, banyak tanaman langka, banyak marga satwa yang perlu dilestarikan.Beriklim sejuk, karena udara bersih masih alami di ketinggian kurang lebih 1.500m diatas permukaan laut.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

T1__BAB V Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pergeseran Makna Seni Tari Prajuritan di Desa Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Salatiga T1  BAB V

T1__BAB V Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pergeseran Makna Seni Tari Prajuritan di Desa Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Salatiga T1 BAB V

2. Tradisi Saparan ikut dikaitkan dalam pentingnya tari Prajuritan ini, karena tari prajuritan ini merupakan hiburan pokok yang harus ditampilkan pada saat acara saparan atau merti desa di desa Tegalrejo. Selain sebagai hiburan tari prajuritan ini merupakan syarat persembahan untuk menghormati leluhur nenek moyang yang sangat menyukai tarian ini.

3 Baca lebih lajut

BOOK I Wayan S, Eka Putri P Komunikasi Ritual

BOOK I Wayan S, Eka Putri P Komunikasi Ritual

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami ketika suatu kelompok masyarakat telah mewariskan simbol-simbol dan norma-norma secara turun temurun, maka berarti kelompok tersebut telah memiliki identitas budaya. Demikian juga halnya dengan tradisi perang topat, dari hasil wawancara dengan beberapa informan menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan tradisi yang telah diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh masyarakat Lingsar khususnya etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali beragama Hindu sehingga menjadi ciri budaya dari orang Lombok khususnya masyarakat Lingsar. Dapat dikatakan bahwa hal ini sebagai usaha atau perjuangan untuk memepertahankan serta melestarikan tradisi sebagai simbol identitas budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tradisi perang topat ini termasuk pada bentuk identitas budaya. Ciri budaya ini jugalah yang kemudian memiliki peran tertentu dalam interaksi orang Sasak dengan orang Bali yang berbeda latar belakang agama dan budaya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...