AGAMA LOKAL

Top PDF AGAMA LOKAL:

Kebijakan Negara Terhadap Agama Lokal “Towani Tolotang” di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan | Hasse | Jurnal Studi Pemerintahan: Journal of Government and Politics 183 1202 1 PB

Kebijakan Negara Terhadap Agama Lokal “Towani Tolotang” di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan | Hasse | Jurnal Studi Pemerintahan: Journal of Government and Politics 183 1202 1 PB

Keterbukaan agama Towani Tolotang dengan dunia luar membawa dampak yang positif bagi keberlangsungannya. Keterisolasian dan marginalisasi Towani Tolotang baik dari segi ekonomi, pendidikan, politik, sosial, budaya, dan sebagainya tereduksi oleh kemampuannya memposisikan dan menempatkan diri pada ranah yang proporsional di tengah perubahan sosial yang terjadi. Towani Tolotang tidak lagi selalu dipandang sebagai komunitas yang eksklusif tetapi komunitas yang sangat inklusif karena telah membuka diri dengan pergaulan yang lebih luas. Perubahan pola hubungan yang terjadi akibat terbukanya akses komunikasi di antara Towani Tolotang dan Muslim merupakan kesempatan untuk tercapainya pengakuan dari masing-masing kelompok terhadap yang lain. Tawaran enam agama di satu sisi merupakan pembatasan negara yang sangat jelas terhadap eksistensi agama-agama lokal. Dengan enam agama yang wajib dipilih, berdampak langsung pada konsistensi sikap agama- agama lokal untuk terus bertahan. Namun di sisi lain, tawaran seperti ini harus pula dipahami sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap keberlangsungan kehidupan warga negara. Dalam konstitusi sangat jelas digariskan bahwa negara berkewajiban mewujudkan kehidupan yang tertib. Salah satu upaya negara untuk mewujudkan amanah tersebut adalah dengan melakukan penataan-penataan yang bersifat menyeluruh dalam segala sektor termasuk agama meskipun perlu ditinjau kembali untuk memastikan efektivitas penataan ditempuh.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

58160 ID spiritualitas agama lokal studi ajaran s

58160 ID spiritualitas agama lokal studi ajaran s

Ajaran Sunda wiwitan Madrais, merupakan salah satu agama Lokal yang masih tersisa hingga saat ini. Ajarannya mendasarkan kepada kepercayaan atau ajaran Sunda Kuno yang dikenal dengan Pikukuh Tilu. Dalam ajaran Pikukuh tilu ini tersusun ajaran hubungan Trilogis, yakni hubungan antara Tuhan, manusia dan Alam. Disamping itu dengan melihat konsep ajaran Sunda wiwitan Madrais ini, anggapan bahwa ajaran Kuno nenek moyang, khususnya Ajaran Sunda Wiwitan, bangsa Indonesia masih menganut paham animisme, tertolak. Ajaran Sunda Wiwitan bahkan tidak hanya memiliki konsep monotheisme, namun sudah memiliki ajaran yang lengkap, yang tidak hanya mengatur hubungan antara Manusia dengan Tuhan, tetapi juga mencakup Hubungan Manusia dengan Manusia, dan manusia dengan Alam.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENAKLUKAN NEGARA ATAS AGAMA LOKAL

PENAKLUKAN NEGARA ATAS AGAMA LOKAL

Penaklukan negara terhadap agama lokal dapat dilihat setidaknya dalam dua kecenderungan. Pertama, negara dengan penataan yang dilakukan menunjukkan bahwa ia telah melaksanakan tanggungjawabnya untuk mengatur kehidupan warganya secara lebih baik sehingga berada pada tata aturan kehidupan yang ‘teratur dan kondusif’, meskipun hal tersebut merupakan bagian penting dari sebuah proyek penaklukan. Dikatakan demikian karena keberadaan agama-agama lokal sering disangkut-pautkan dengan ‘penodaan terhadap agama’ sehingga sering menimbulkan gejolak di antara penganut agama khususnya penganut agama resmi. Meskipun, bagi penulis, hal tersebut berlebihan karena agama-agama lokal (penganut) menjalankan ajaran-ajarannya hampir tidak pernah bersinggungan dengan penganut agama lain (resmi). Justru yang terjadi selama ini, dalam banyak kasus, adalah penganut agama resmilah yang mengusik keberadaan agama lokal dengan mengajukan berbagai stigma terhadap para penganutnya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

GLOBALISASI DAN RESPONS AGAMA LOKAL

GLOBALISASI DAN RESPONS AGAMA LOKAL

Baik kebijakan negara maupun anggapan penganut agama mayoritas, menyempitkan ruang gerak agama lokal. Akibatnya, penganut agama lokal tidak bisa mengekpresikan keyakinan dengan leluasa seperti halnya penganut agama-agama lain. Hal ini merupakan dampak dari pengakuan negara yang hanya menguntungkan agama-agama mayoritas. Alternatif yang menjadi tawaran negara terhadap agama lokal adalah memilih salah satu dari keenam agama tersebut sebagai tempat merger atau afiliasi. Selanjutnya, terjadilah konversi secara struktural besar-besaran di kalangan penganut agama lokal. Penganut ajaran Tengger di Jawa memilih bergabung dengan Hindu-Budha. Kaharingan di Kalimantan memilih Hindu sebagai induknya. Aluk Todolo di Toraja Sulawesi Selatan memilih Protestan sebagai agama formalnya. Ammatoa memilih Islam dan Towani Tolotang memilih Hindu sebagai pengisi kolom agama dalam KTP-nya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Memahami Kedudukan Agama agama Lokal di

Memahami Kedudukan Agama agama Lokal di

yang transenden sehingga mereka menuntut eksistensi mereka juga harus diakui secara resmi. Oleh karena tuntutan tersebut Soekarno menerima dengan tangan terbuka bahwa mengenai iman dan kepercayaan, termasuk dalam Hak Asasi Manusia (HAM) sehingga setiap orang bebas untuk menentukan agamanya masing tanpa ikut campur orang lain. Soekarno menyadari bahwa walaupun agama-agama lokal tidak disebutkan secara gamblang dalam daftar agama-agama resmi negara, namun toh ia mengakui bahwa agama-agama tersebut ‘ada’ karena setiap orang pasti memiliki konsep (begreep) ketuhanan yang berebeda beda. 7
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

DINAMIKA HUBUNGAN ISLAM DAN AGAMA LOKAL DI INDONESIA

DINAMIKA HUBUNGAN ISLAM DAN AGAMA LOKAL DI INDONESIA

payung konstitusi negara yang hanya mengakui enam agama, maka agama selain keenam agama tersebut harus memilih salah satu agama sebagai induk 8 sehingga tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali memilih salah satu dari enam agama itu. Dengan kondisi seperti ini, maka agama lokal seperti Towani Tolotang harus memilih salah satu dari enam agama tersebut. Dalam legalitas formal keaga- maan, penganut Towani Tolotang pun men- cantumkan Hindu sebagai agama formalnya sehingga memiliki hak sebagaimana penganut agama-agama lain. Segala bentuk kepentingan administratif pun kemudian menggunana Hindu sebagai agamanya. Pada satu sisi, hal ini memberikan ‗perlindungan‘ kepada Towa - ni Tolotang karena memiliki hak dan kewa- jiban yang sama dengan pemeluk agama- agama lain seperti Islam, Kristen, dan lainnya. Namun demikian, dalam praktiknya mere- ka tetap saja pada komitmen awal yakni menjaga dan melestarikan Towani Tolotang yang telah diwarisinya secara turun-temurun hingga saat ini. Bagi mereka, meninggalkan Towani Tolotang sama artinya ‗mengkhianati‘ leluhur. Leluhur sendiri dalam kepercayaan Towani Tolotang memiliki posisi yang sangat penting, karena leluhur inilah yang diyakini sebagai pembawa dan penyampai ajaran tersebut. Tentu saja, pilihan ini dapat dimak- nai sebagai sebuah bentuk kepatuhan dan ketaatan yang tinggi terhadap ajaran. Akan tetapi, kondisi ini juga memperlihatkan ada- nya resistensi yang ditunjukkan oleh mereka, yang juga diarahkan pada kebijakan negara yang dianggap diskriminatif. 9
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Strategi Bertahan Kelompok Agama Lokal

Strategi Bertahan Kelompok Agama Lokal

akhlak, sebab jika Islam hanya direduksi menjadi perdebatan ikih, betapa keringnya Islam. Kalau melihat jauh ke dalam perkembangan dan perdebatan pemikiran keagamaan, khususnya di Indonesia, upaya untuk mendekatkan aspek tasawuf dengan syariah (dalam artian ikih) sudah ada, di tengah arus pemikiran ekstrim lainnya, baik yang hanya mengunggulkan dimensi ikih maupun yang hanya mengunggulkan dimensi tasawuf. Di sinilah letak relevansi buku Hosen ini; menyajikan isu yang sangat penting di dalam pemikiran Islam dengan format tanya-jawab yang populer. Memang, buku-buku keagamaan dengan metode tanya-jawab (question and answer) ini di Indonesia bukanlah fenomena yang baru. Beberapa penulis dan ulama juga pernah menempuh jalan ini. Sebut saja misalnya, M. Quraish Shihab (2008) pernah juga menulis sebuah buku yang berisi tanya jawab tentang soal-soal agama, bahkan menjadi buku yang beberapa kali dicetak. Tidak kurang dalam buku tersebut, Shihab menjawab 1001 soal keislaman. Dari kalangan ulama ‘tradisional’ juga ada yang memunculkan karya dengan model tanya-jawab seperti ini. Misalnya, K.H.M. Sjai’i Hadzami (1982) yang menuliskan 100 masalah agama dengan judul Taudhih al-Adilllah. Buku ini juga mengalami beberapa kali cetak bahkan segmen pembacanya hingga sampai ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bahkan, beberapa majelis ta’lim di wilayah Jakarta masih menggunakan buku ini sebagai bahan pengajian. Jadi, model-model penyusunan buku seperti ini mempunyai segmen pembaca yang banyak, sebab ia dapat menjangkau semua lapisan pembaca, apalagi disampaikan dengan bahasa yang populer
Baca lebih lanjut

210 Baca lebih lajut

Dinamika Agama Lokal di Indonesia Islam

Dinamika Agama Lokal di Indonesia Islam

luarnya,  baik  organsiasi  keagamaan  maupun  Pemerintah  Daerah.  Komunitas  Marapu  ini  akhirnya  secara  formal  tidak  memiliki  posisi  tawar  yang  dapat  membela  kepentingan  komunitasnya.  Kasus  kewajiban  siswa  untuk  memiliki  surat  babtis  agar  dapat  bersekolah  adalah  bentuk  tekanan  resmi  yang  berusaha  meminggirkan  komunitas  agama  Marapu  sebagai kelompok keagamaan yang mestinya berhak membina  anak‐anaknya  dan  sekaligus  dapat  bersekolah  milik  pemerintah maupun swasta. Peran Pemerintah Daerah sendiri  terhadap  komunitas  Marapu  juga  terlihat  ambivalen,  karena  di  satu  sisi  dipertahankan  tradisi‐tradisinya,  tetapi  sebagai  komunitas  diabaikan.  Bahkan  sarasehan  tentang  eksistensi  komunitas  Marapu  yang  pernah  dilakukan  di  Waikabubak  tahun  2006,  agar  Pemerintah  Daerah  memfasilitasi  pendirian  Lembaga  Adat  bagi  komunitas  Marapu  ternyata  tidak  dilaksanakan  sampai  hari  ini,  sehingga  komunitas  Marapu  tetap  menjadi  komunitas  pinggiran  dalam  kontelasi  berbagai  bidang.  Dengan  tidak  adanya  lembaga  adat,  maka  para  rato  rumatta  di  semua  klan  tetap  merupakan  pemimpin  lokal  dalam  kabisu‐kabisunya  sendiri. Jadi  pendirian  lembaga  adat  saja  tidak  dilakukan  apalagi  mendirikan  ormas  keagamaan  seperti  umat  agama  lain  yang  dilayani  oleh  pemerintah,  seperti  Islam,  Kristen,  Katolik,  Hindu,  Buddha  dan  Khonghucu.(diolah  dari  hasil  wawancara  dengan  Lele  Dapa  Wole,  Rato  Rumatta,  dan  Daniel  Mesa  Kallo,  25  –  27  April  2013). 
Baca lebih lanjut

327 Baca lebih lajut

EKSKLUSI SOSIAL TERHADAP PENGANUT AGAMA LOKAL DI KABUPATEN CILACAP

EKSKLUSI SOSIAL TERHADAP PENGANUT AGAMA LOKAL DI KABUPATEN CILACAP

Ketiga, HPK dilembagakan untuk membedakan dengan masyarakat yang berkeyakinan terhadap agama mainstream. Melalui pembedaan ini, proses kontrol dan pengawasan relatif menjadi lebih mudah. HPK akan terlokalisir pada wilayah atau isu tertentu yang apabila terjadi persoalan misalnya terorisme yang cenderung didientifikasikan menjadi sempalan gerakan Islam, maka HPK dengan sekian banyak penganutnya terposisikan sebagai kelompok luar. Sebaliknya ketika ada persoalan yang terkait dengan misalnya isu tentang perilaku “musyrik” atau hal-hal mistis lainnya maka kelompok HPK menjadi salah satu yang menjadi sumber informasinya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

IDENTITAS-IDENTITAS TEOLOGIS KRISTEN PROTESTAN INDONESIA PASCA ORDE BARU Sebuah Pemetaan Awal

IDENTITAS-IDENTITAS TEOLOGIS KRISTEN PROTESTAN INDONESIA PASCA ORDE BARU Sebuah Pemetaan Awal

salah satu penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia. Selain itu, kita tidak mungkin memahami identitas Kristen Protestan (di) Indonesia, tanpa memerhatikan secara sungguh-sungguh identitas kristologis sebagai penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia dalam menghayati prinsip umum Protestantisme kedua, yaitu: sola gratia. Di samping itu ajaran tentang keesaan Allah yang bersifat trinitaris telah juga menjadi salah satu penanda identitas Kristen Protestan (di) Indonesia. Di masa lampau ketiga penanda identitas ini sering kali dipandang sebagai identitas pembeda untuk “menyangkal” kebenaran-kebenaran teologis dan soteriologis pada agama-agama lokal dan Islam. Tetapi, hasil penelitian penulis memperlihatkan bahwa perkembangan pemikiran teologis Kristen Protestan (di) Indonesia pasca Orde Baru semakin terbuka terhadap dan dialogis dengan keyakinan-keyakinan teologis dan soteriologis agama-agama lokal dan Islam. Sekalipun harus diakui bahwa dalam hal identitas trinitaris masih membutuhkan waktu untuk memasuki dialog dengan keyakinan teologis agama-agama lokal dan Islam.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

RELASI KUASA DALAM PENGUBAHAN BUDAYA KOMUNITAS,

RELASI KUASA DALAM PENGUBAHAN BUDAYA KOMUNITAS,

Terlepas dari perbedaan tersebut, dalam konteks keagamaan Wong Sikep, sinkretisme itu terjadi dalam dua hal yaitu konsep doktrin dan ritual-upacara. Di bidang ketuhanan, agama Adam lebih mirip dengan Islam karena konsep wihdatul wujud yang berkembang dalam sufisme Islam. Selain itu dalam agama lokal ini juga memiliki ajaran tentang reinkarnasi dan karma sebagaimana yang terdapat dalam agama Hindu dan Budha. Sementara nilai-nilai Jawa termaktub dalam pandon urip yaitu berkaitan dengan etika pribadi dan sosial seperti ajaran tentang larangan iri-dengki, mencuri, dan lainnya. Ajaran ini memang ditemukan juga atau paralel dengan ajaran agama-agama global. Dalam aspek ritual dan upacara, penganut agama Adam di Baturejo mengambil dari tradisi yang ada dalam muslim setempat seperti ’bodo kupat’ dan sunatan. Dalam hal ini mereka mengadopsi nama-nama dari ritual dan upacaranya, sedangkan niat atau motifnya berbeda, serta tata-cara dan isinya disesuaikan dengan keadaan mereka sendiri yang sering juga ada kesamaan dengan yang dilaksanakan umat Islam setempat. Niatnya tidak sebagaimana yang diniatkan umat Islam, misalnya dalam sunatan mereka mengerjakannya sekedar untuk meniru hal-
Baca lebih lanjut

356 Baca lebih lajut

ARBI MULYA SIRAIT FITA NAFISA RIFDAH ASTRI OKTIA D RUMPOKO SETYO JATMIKO

ARBI MULYA SIRAIT FITA NAFISA RIFDAH ASTRI OKTIA D RUMPOKO SETYO JATMIKO

Relasi yang baik antara kepercayaan lokal dan negara bukan berarti berlangsung tanpa tantangan. Modernitas merupakan ancaman bagi kepercayaan lokal yang dapat mempengaruhi relasinya dengan pemerintah. Perkembangan teknologi yang menguasai bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial yang dibawa oleh orang “luar” kepercayaan lokal dapat menjadi faktor yang mempengaruhi eksistensi kepercayaan lokal. Dalam bidang pendidikan misalnya, pengetahuan-pengetahuan baru yang mereka dapat dari lembaga pendidikan menjadikan pola pikir para penganut kepercayaan lokal lebih terbuka dalam menerima modernitas. Generasi muda yang mulai mengenal dunia luar tentu menginginkan adanya inovasi dari kepercayaan lokal tersebut, bahkan akulturasi budaya. Jika dilihat penjelasan mengenai pengaruh dari faktor pendidikan terhadap eksistensi agama lokal di atas, maka faktor ekonomi sebagai ancaman eksistensi agama lokal memainkan peran yang signifikan. Sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mengolah sumber daya alam mengharuskan para penganutkepercayaan mencari pengetahuan-pengetahuan yang mendukung eksplorasi sumber daya alam melalui lembaga-lembaga pendidikan. Pendidikan dan faktor ekonomi akan mengubah tatanan sosial baik dalam hubungan antar individu dalam komunitas kepercayaaan lokal tersebut maupun di luar komunitas.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP UPACARA PASOLA

KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP UPACARA PASOLA

pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kabupaten SBD mempunyai ritus Pasola yang sangat khas dengan muatan sejarah yang sudah mentradisi. Pasola adalah suatu upacara yang dilakukan untuk menyambut permulaan penanaman padi di daerah Sumba Bara Daya. Penanggalan pelaksanaan upacara ini ditentukan oleh rato (tokoh adat yang berwewenang). Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (Agama lokal masyarakat Sumba). 3 Upacara

10 Baca lebih lajut

Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia

Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia

Angin segar dan harapan itu muncul karena dalam praktik selama ini, istilah agama yang diakui dan tidak diakui negara ternyata benar-benar dianut oleh aparat pemerintah dan oleh sebagian masyarakat. Penerapan istilah agama yang diakui dan tidak diakui oleh negara ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi terhadap para pemeluk agama lokal, para penghayat kepercayaan dan para pemeluk agama-agama lain di luar enam agama yang diakui oleh negara. Bahkan dua jam sebelum presiden berpidato dalam peringatan hari raya Imlek itu, pemukiman jamaah Ahmadiyah di Lombok Barat dirusak dan dibakar massa sehingga enam rumah hangus dan 17 unit rumah lainnya rusak berat, sementara aparat tak berkutik sedikitpun untuk berupaya melindungi mereka. Lebih runyam lagi, sehari setelah presiden berpidato, sejumlah massa melakukan demonstrasi menentang keberadaan gurdwara, tempat ibadah agama Sikh, di jalan Karang Mulya, Kecamatan Karang Tengah, kabupaten Tangerang, Jawa Barat. Alasannya, pengelola rumah ibadah itu tidak meminta ijin kepada masyarakat sekitar, padahal, Tommy Singh, ketua Yayasan Dharma Khalsa pengelola gurdwara mengaku telah meminta ijin kepada RW setempat dan mengantongi 120 tanda tangan persetujuan dari warga sekitar. Selama ini ibadah yang dilakukan oleh pemeluk agama Sikh di gurdwara itu juga tidak pernah mengganggu warga. Anehnya, aparat pemerintah seperti Lurah dan Camat setempat, serta kantor Departemen Agama kota Tangerang justru memberikan dukungan terhadap demonstrasi anti gurdwara tersebut. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

MP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta email: tendy.chaskey yahoo.co.uk Abstract: Agama Djawa Soenda (ADS)( Djawa Soenda religion)

MP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta email: tendy.chaskey yahoo.co.uk Abstract: Agama Djawa Soenda (ADS)( Djawa Soenda religion)

Melihat uraian tersebut kajian akan difokuskan pada relasi Islam dengan agama lokal dalam konteks perubahan sosial. Pembatasan waktu dilakukan hanya pada masa kepemimpinan Pangeran Tedjabuana yang dimulai sejak tahun 1939 hingga 1964. Pada masa Tedjabuana, perubahan sosial terjadi dengan sangat cepat dan meliputi hal-hal yang mendasar, termasuk di antaranya adalah aspek keagamaan yang memang seringkali menimbulkan polemik serta konflik di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, hampir setiap konflik yang berhubungan dengan ADS, selalu melibatkan para pemeluk agama Islam di dalam pusarannya, seperti saat ADS harus berhadapan dengan golongan Islam radikal para pengikut DI-TII Kartosuwiryo dan golongan Islam fundamentalis. Meskipun konflik dalam dua kasus yang berbeda ini tidak banyak memakan korban, namun cukup untuk membuat ADS tidak dapat berkembang lagi.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Reproduksi Budaya Lokal Melalui Tradisi

Reproduksi Budaya Lokal Melalui Tradisi

Rasulan memiliki sejarah panjang yang melekat di dalam masyarakatnya sehingga keberadaannya dipertahankan. Rasulan dilangsungkan oleh keluarga yang merupakan institusi terkecil dalam masyarakat. Dengan tetap dipraktikan di dalam masyarakat, maka masyarakatnya dapat mengidentifikasi keberadaannya yaitu terlihat dari terseleksinya nilai dan makna. Selain itu, di dalam pelaksanaannya terdapat kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi ini dapat terlihat dari setiap pelaksanaannya yang dikenal dengan istilah kondangan. Kondangan merupakan salah satu bentuk pemberian uang maupun makanan pokok (beras) kepada keluarga yang melangsungkan rasulan. Tradisi rasulan juga merupakan suatu bentuk pendidikan informal bagi masyarakat Tempel Kulon. Di mana, pada kelangsungannya terdapat nilai agama dan budaya lokal. Nilai agama dan budaya lokal ini yang kemudian akan terserap oleh masyarakat melalui praktik-praktik kebudayaan yang terus-menerus dilangsungkan oleh masyarakat setempat.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI MUATAN LOKAL SDI HIDAYATULLAH BANYUMANIK SEMARANG TAHUN 2006

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI MUATAN LOKAL SDI HIDAYATULLAH BANYUMANIK SEMARANG TAHUN 2006

Untuk lebih mengakualisasikan pelajaran Akhlak yang sudah diterima, maka SD memanfaatkan keberadaan Kantin sebagai sarana pendidikan Akhlak, terutama dalam ha! adab makan dan kejujuran. Karena namanya anak mempunyai karakteristik sendiri- sendiri, ada yang makan dengan duduk, berdiri, sambil bermain dan sebagainya. Ada juga kemungkinan ada anak yang tidak membayar atas apa yang telah dimakan. Oleh karena itu kantin yang disertai dan dibimbing oleh guru, akan memberikan panutan kepada anak didik supaya berperilaku sebagaimana yang dicontohkan oleh guru pembimbing yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

THE INFLUENCE ON EDUCATIONAL IMPLEMENTATION AGAINST RELIGIOUS BEHAVIOR OF SENIOR HIGH SCHOOL SMA STUDENT: UNDER RELIGIOUS FOUNDATION

THE INFLUENCE ON EDUCATIONAL IMPLEMENTATION AGAINST RELIGIOUS BEHAVIOR OF SENIOR HIGH SCHOOL SMA STUDENT: UNDER RELIGIOUS FOUNDATION

Dengan demikian, yang dimaksudkan dalam penelitian ini terhadap konsep: 1) implementasi adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga dimaksudkan menyediakan sarana untuk membuat sesuatu dan memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap sesama. Van Meter dalam Subarsono (2006:100) mengartikan implementasi sebagai tindakan-tindakan oleh individu publik dan swasta (atau kelompok) yang diarahkan pada prestasi tujuan yang ditetapkan dalam keputusan kebijakan sebelumnya; 2) pendidikan agama adalah meliputi pendidikan agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu; 2) sekolah di bawah yayasan keagamaan yang dimaksud adalah sekolah- sekolah yang pengelolaannya di bawah yayasan yang mengatasnamakan salah satu agama sebagai landasan visi misinya; 3) perilaku yang dimaksud adalah perilaku yang berhubungan dengan religiusitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; dan 4) peserta didik yang dimaksud adalah peserta didik SMA yang bersekolah pada sekolah di bawah yayasan keagamaan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TESIS  Hubungan Agama Dan Budaya Lokal (Kajian Sekaten di Masjid Agung Surakarta).

TESIS Hubungan Agama Dan Budaya Lokal (Kajian Sekaten di Masjid Agung Surakarta).

Pluralitas budaya, tradisi dan agama adalah suatu keniscayaan dalam hidup, setiap orang atau komunitas pasti mempunyai perbedaan sekaligus persamaan. Namun jika kondisi tersebut tidak dipahami dengan sikap toleran dan saling menghormati, maka akan cenderung memunculkan konflik bahkan kekerasan (violence) dalam masyarakat.

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects