Aktivitas Spesifik

Top PDF Aktivitas Spesifik:

Perbandingan Aktivitas Spesifik Ekstrak Kasar Enzim Bromelin Buah nanas yang Diisolasi dengan Beberapa Jenis Garam Pengendap.

Perbandingan Aktivitas Spesifik Ekstrak Kasar Enzim Bromelin Buah nanas yang Diisolasi dengan Beberapa Jenis Garam Pengendap.

Semakin tinggi aktivitas spesifik menunjukkan semakin banyak jumlah enzim bromelin yang berhasil diendapkan dibandingkan protein lain pada tingkat kejenuhan tertentu (isolat yang diperoleh semakin murni). Variasi tingkat kejenuhan garam pada proses pengendapan enzim bromelin buah nanas dilakukan untuk mengetahui kemampuan garam dalam mengendapkan protein enzim agar diperoleh jumlah enzim yang optimal yang kemudian dilihat dari nilai aktivitas spesifik yang diperoleh. Data nilai aktivitas spesifik pada hasil pengendapan oleh tiap garam disajikan pada Tabel 3 dan grafik perbandingan aktivitas spesifik ekstrak kasar enzim bromelin buah nanas hasil pengendapan (NH 4 ) 2 SO 4 , NaCl dan garam
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Bab VI - Bab 6 Menganalisis Keterampilan Gerak Aktivitas Spesifik Senam Lantai

Bab VI - Bab 6 Menganalisis Keterampilan Gerak Aktivitas Spesifik Senam Lantai

Sikap kalian selama mengikuti pelajaran aktivitas senam ketangkasan loncat kangkang dan loncat jongkok akan dinilai melalui observasi sikap/perilaku yang meliputi sportivitas, tanggungjawab, toleransi, disiplin, dan kerjasama yang dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik.

8 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI ENZIM ORGANOFOSFAT HIDROLASE DARI Pseudomonas putida PADA SUBSTRAT DIAZINON DAN MALATHION Anik Sri Wijaya, Sasangka Prasetyawan, Anna Roosdiana

KARAKTERISASI ENZIM ORGANOFOSFAT HIDROLASE DARI Pseudomonas putida PADA SUBSTRAT DIAZINON DAN MALATHION Anik Sri Wijaya, Sasangka Prasetyawan, Anna Roosdiana

Penentuan aktivitas spesifik enzim dilakukan setelah pemurnian dan dialisis pada enzim OPH. Aktivitas spesifik dapat diperoleh setelah menghitung aktivitas enzim dan kadar proteinnya, dinyatakan dalam satuan U/ mg. Penentuan dilakukan dengan cara mengukur jumlah senyawa pereduksi yang dihasilkan dari reaksi hidrolisis substrat organofosfat. Enzim yang telah dimurnikan ditentukan aktivitas spesfifiknya dengan cara, diambil 2 mL masing- masing substrat diazinon dan malathion yang telah dilarutkan dengan buffer tris asetat pH (7,5; 8; 8,5; 9; 9,5). Ditambahkan 0,1 mL enzim hasil pemurniaan dengan tingkat kejenuhan 0-45% serta 45-65%. Diinkubasi selama 30 menit, kemudian diukur absorbansi pada panjang gelombang maksimum substrat diazinon 247 nm dan malathion 221 nm.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PURIFIKASI PARSIAL DAN KARAKTERISASI ENZIM KATEPSIN DARI IKAN BANDENG (Chanos Chanos Forskall)

PURIFIKASI PARSIAL DAN KARAKTERISASI ENZIM KATEPSIN DARI IKAN BANDENG (Chanos Chanos Forskall)

Gambar 7 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas spesifik katepsin Konsentrasi substrat itu akan menjadi cukup tinggi pada suatu titik tertentu sehingga semua sisi aktif pada semua molekul enzim sudah ditempati oleh substrat, segera setelah produk meninggalkan sisi aktif, molekul substrat yang lain akan masuk. Pada konsentrasi substrat seperti ini, enzim dikatakan mengalami kejenuhan, dan laju reaksi ditentukan oleh kecepatan sisi aktif mengubah substrat menjadi produk. Satu-satunya cara untuk meningkatkan produktivitas ketika suatu enzim telah jenuh ialah menambahkan lebih banyak lagi enzim (Champbell 2002). (5) Bobot molekul
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PURIFIKASI PARSIAL DAN KARAKTERISASI ENZIM KITINASE DARI CAIRAN DIGESTIVE GLAND Achatina fulica SKRIPSI

PURIFIKASI PARSIAL DAN KARAKTERISASI ENZIM KITINASE DARI CAIRAN DIGESTIVE GLAND Achatina fulica SKRIPSI

Suatu enzim yang diambil dari alam masih bercampur dengan pengotor lain. Untuk mengurangi atau menghilangkan pengotor tersebut melalui cara pemurnian. Pemurnian dilakukan untuk meningkatkan aktivitas spesifik dari suatu enzim. Aseton merupakan salah satu pelarut organik yang biasa digunakan dalam pemurnian enzim. Di samping pelarut organik, pemurnian juga dapat dilakukan dengan fraksinasi dengan amonium sulfat. Kelebihan fraksinasi aseton dibanding dengan fraksinasi amonium sulfat adalah tidak perlu adanya perlakuan yang rumit untuk menghilangkan garam yang tersisa. Dalam hal ini, fraksinasi aseton dilakukan pada suhu -20 o C (Thermo Fisher Scientific, 2009).
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Pemurnian Ekstraseluler Hyaluronidase Streptococcus agalactiae (Streptokokus Grup B ).

Pemurnian Ekstraseluler Hyaluronidase Streptococcus agalactiae (Streptokokus Grup B ).

Hyaluronidase SGB hasil pengendapan 45% amonium sulfat digunakan untuk pemurnian tahap selanjutnya. Pengaruh garam mineral dan kelebihan amonium sulfat dalam enzim dihilangkan dengan menggunakan metoda dialisa. Proses penghilangan garam (desalting) menggunakan metoda dialisa dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama (kurang lebih 60 menit) untuk menghindari terjadinya penurunan aktivitas hyaluronidase. Hasil yang diperoleh menunjukkan aktivitas hyaluronidase sebesar 0,0732 U/ml dan kadar proteinnya 5,67 mg/ml, hal ini berarti terjadi penurunan aktivitas spesifik hyaluronidase sebesar 4% dari hasil pengendapan 45% amonium sulfat.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM AMILASE DARI ACTINOMYCETES ISOLAT LUMPUR HUTAN BAKAU

ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM AMILASE DARI ACTINOMYCETES ISOLAT LUMPUR HUTAN BAKAU

Pada penelitian ini enzim amilase diisolasi dari isolat actinomycetes yang berasal dari lumpur hutan bakau, Pantai Teluk Lampung. Isolat terpilih yang mempunyai aktivitas amilolitik terbesar yaitu isolat ANLd-2b-3. Penelitan ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi enzim amilase yang ditumbuhkan pada mineral salt medium. Enzim amilase yang dikeluarkan oleh actinomycetes diisolasi dengan sentrifugasi, kemudian ekstrak kasar enzim tersebut dimurnikan dengan pengendapan terfraksi menggunakan amonium sulfat dan dilanjutkan dengan dialisis. Aktivitas enzim amilase ditentukan dengan Metode Mendels dan kadar protein ditentukan dengan Metode Lowry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan actinomycetes menghasilkan enzim amilase dengan aktivitas tertinggi pada waktu 120 jam dan pada pH 7. Isolasi enzim amilase dari isolat actinomycetes meningkatkan aktivitas enzim, berturut-turut dari aktivitas unit sebesar 1,4 U/mL, dengan aktivitas spesifik 5,4 U/mg pada ekstrak kasar enzim menjadi aktivitas unit sebesar 2,6 U/mL, dan aktivitas spesifik 7,4 U/mg pada fraksi amonium sulfat, dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi yaitu 1,37 kali lebih murni dibandingkan ekstrak kasar enzim. Hasil karakterisasi terhadap enzim amilase hasil pemurnian memberikan nilai optimum pada suhu 50 o C, pH 7 dan waktu inkubasi 30 menit. Perhitungan kinetika reaksi enzim amilase menunjukkan harga K M sebesar 3,15 mg mL -1 dan V maks sebesar 30,6 mol
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   Analisis Penggunaan Antibiotik Pada Penyakit Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Evidence Based Medicine (Ebm) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Periode Januari –Juni 2013.

PENDAHULUAN Analisis Penggunaan Antibiotik Pada Penyakit Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Evidence Based Medicine (Ebm) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Periode Januari –Juni 2013.

Antibiotik banyak digunakan dalam terapi terutama sebagai obat maka harus mempunyai syarat-syarat antibiotik yang baik. Sifat-sifat yang dikehendaki untuk antibiotik yang baik antara lain : (a) aktivitas spesifik yang tinggi sehingga hanya sejumlah yang kecil yang diperlukan untuk menghambat infeksi organisme; (b) peredaran dalam tubuh cukup cepat dan ekskresi setelah waktu tertentu; (c) jarang terjadi efek samping yang tidak dikehendaki dan efek ini harus terpulihkan; (d) potensi antibakteri yang cukup sehingga mikrorganisme yang resisten tidak akan terbentuk selama pengobatan; (e) kesesuaian yang memungkinkan penggunaan dalam berbagai bentuk sediaan, termasuk pemberian secara oral; (f) stabil secara kimia pada waktu diproses menjadi produk yang murni dan dalam bentuk sediaan; (g) ketersediaannya dengan harga yang cukup rendah (Foye, 1995).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Potentiality of Mixed Cellulolytic Microbes of Termite Extract, Elephant Feces Solution and Buffalo Rumen Fluid - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Potentiality of Mixed Cellulolytic Microbes of Termite Extract, Elephant Feces Solution and Buffalo Rumen Fluid - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Berdasarkan bahan yang didegradasi, mikrobia selulolitik yang ada di dalam saluran pencernaan rayap, gajah, kerbau, dan sapi tentunya masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, misalnya ada yang mempunyai aktivitas CMC-ase tinggi, tetapi aktivitas eksoglukanase maupun β-glukosidasenya rendah, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian apabila mikrobia selulolitik yang berasal dari ekstrak rayap, larutan feses gajah, dan cairan rumen kerbau digabungkan, maka akan terjadi suatu keseimbangan sistem enzim selulase yang baru. Keseimbangan yang baru ini diharapkan lebih baik daripada sebelum digabungkan. Dengan alasan inilah, maka penelitian ini menarik untuk dilakukan karena apabila hasil penggabungan mikrobia selulolitik dari ekstrak rayap, larutan feses gajah, dan cairan rumen kerbau dapat menghasilkan aktivitas spesifik CMC-ase yang lebih tinggi daripada sebelum digabungkan, maka mikrobia selulolitik campuran ini berpotensi untuk diinokulasikan ke rumen ternak sapi untuk meningkatkan kecernaan serat pakan sehingga performan sapi dapat meningkat. Seperti yang dilaporkan Morgavi et al. (2000), terdapat hubungan sinergis antara enzim yang diproduksi oleh mikrobia organisme rumen sapi dan enzim eksogenous yang diproduksi oleh fungi aerobik T. Longibrachiatum dalam mendegradasi selulosa. Colombatto et al. (2003) melaporkan bahwa aktivitas enzim CMC-ase dapat meningkat dengan penambahan enzim yang disekresikan oleh Tricho- derma reesei yang mempunyai aktivitas utama xilanase dan selulase.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Aktivitas Antibakteri dan Bioautografi Fraksi Semipolar Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Terhadap Klebsiella Pneumoniae dan Staphylococcus Epidermidis.

PENDAHULUAN Aktivitas Antibakteri dan Bioautografi Fraksi Semipolar Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Terhadap Klebsiella Pneumoniae dan Staphylococcus Epidermidis.

Bioautografi merupakan metode yang spesifik untuk mendeteksi bercak pada kromatogram hasil KLT yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri, antifungi, dan antivirus yang ada di dalam ekstrak tumbuhan (Zweig dan Whittaker, 1971). Bioautografi merupakan metode yang spesifik untuk mendeteksi bercak pada lempeng hasil KLT yang memiliki aktivitas antibakteri, antifungi, dan antivirus, sehingga mendekatkan metode separasi dengan uji biologis. Keuntungan metode ini adalah sifatnya yang efisien untuk mendeteksi adanya senyawa antimikroba karena letak bercak dapat ditentukan walaupun berada dalam campuran yang kompleks sehingga memungkinkan untuk isolasi senyawa aktif tersebut. Kerugiannya adalah metode ini tidak dapat digunakan untuk menentukan Kadar Hambat Minimum dan Kadar Bunuh Minimum (Pratiwi, 2008). Ada dua macam metode bioautografi, yaitu:
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Sifat dan Ketersediaan Data

Pemanfaatan Sifat dan Ketersediaan Data

Keberagaman wilayah kabupaten/kota diikuti beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya mengestimasi emisi karbon dengan baik. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1) ketersediaan data yang beragam baik sifat dan jumlahnya, belum tentu sesuai dengan inputan model IPCC, 2) jenis dan satuan data yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik pengembangan wilayah, dan 3) pola kegiatan tiap wilayah sehingga karakteristik emisi berbeda-beda. Keberagaman ini menjadi hambatan bagi upaya pemerintah dalam perhitungan dan mendukung program dunia memetakan dan mengelola emisi karbon. Pada penelitian ini ditawarkan metode alternatif yang lebih sederhana dalam perhitungan emisi sesuai data-data yang tersedia dan karakteristik pengembangan wilayah kabupaten/kota, menggunakan emisi spesifik. Karakteristik kabupaten/kota diklusterkan menjadi 1) pengembangan industri, 2) pengembangan wisata/pendidikan, 3) pengembangan pertanian, dan 4) pengembangan pesisir/perikanan. Secara prinsip metode ini menghasilkan emisi spesifik (ES) dari setiap kluster setiap aktivitas (industri, transportasi, dan permukiman) perkapita. Emisi spesifik (ES) tersebut dihitung dari inventarisasi emisi total di setiap contoh katrakteristik kabupaten/kota sesuai metode IPCC, dan kemudian dinyatakan dalam satuan perkapita. Nilai-nilai ES ini yang digunakan lebih lanjut sebagai acuan menghitung emisi kabupaten/kota yang berkarakteristik sama berdasarkan jumlah penduduk pertahun. Hasil penelitian adalah nilai ES yang dapat digunakan sebagai acuan perhitungan emisi kota 1) untuk Perdagangan/Jasa sebesar 0.58 tCO 2 /orang.tahun, 2) Pariwisata/Pendidikan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pakaian Adat pada Pesta Perkawinan Masyarakat Sumando Pesisir Sebagai Atraksi Wisata di Kabupaten Tapanuli Tengah

Pakaian Adat pada Pesta Perkawinan Masyarakat Sumando Pesisir Sebagai Atraksi Wisata di Kabupaten Tapanuli Tengah

dan aspek substansial, yaitu sebuah aktivitas manusia. Dilihat dari sisi kelembagaannya, pariwisata merupakan lembaga yang dibentuk sebagai upaya manusia memenuhi kebutuhan rekreatifnya. Sebagai sebuah lembaga, pariwisata dapat dilihat dari sisi manajemennya, yakni bagaimana perkembangannya, mulai dari direncanakan, dikelola, sampai dipasarkan pada pembeli yakni wisatawan. (Wardiyanta, 2006 : 49)

13 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Dektransukrase dari Isolat Bakteri Batang Tebu

Isolasi dan Karakterisasi Dektransukrase dari Isolat Bakteri Batang Tebu

Uji pengaruh pH terhadap aktivitas dekstransukrase telah diukur pada perbedaan pH bufer saat inkubasi enzim. pH bufer yang dilakukan adalah antara pH sampai dengan selang Pada perbedaan pH diharapkan pH optimum. Hasil penelitian pengaruh pH terhadap aktivitas enzim dekstransukrase dapat dilihat pada Gambar 3.

7 Baca lebih lajut

PENGARUH BEBERAPA FAKTOR PADA MEDIUM KULTUR TERHADAP PRODUKSI ENZIM CGT-ase DARI BAKTERI AMILOLITIK ISOLAT LOKAL LTi-21-3

PENGARUH BEBERAPA FAKTOR PADA MEDIUM KULTUR TERHADAP PRODUKSI ENZIM CGT-ase DARI BAKTERI AMILOLITIK ISOLAT LOKAL LTi-21-3

Mikroorganisme merupakan sumber yang potensial sebagai bahan baku untuk produksi enzim. Saat ini, enzim dalam bentuk hasil isolasi maupun langsung dari mikroorganisme dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri. Enzim merupakan protein fungsional yang dapat berikatan dengan suatu substrat spesifik untuk mengkatalisasi reaksi biokimia menjadi suatu senyawa baru yang disebut produk. Pada penelitian ini, digunakan bakteri amilolitik isolat lokal LTi-21-3 yang telah berhasil diisolasi oleh peneliti sebelumnya, yang merupakan bakteri penghasil enzim CGT-ase. Enzim CGT-ase yaitu enzim ekstraseluler yang dapat mengubah pati menjadi siklodekstrin. Optimasi produksi enzim CGT-ase ini dilakukan dengan cara memvariasikan: sumber karbon (pati soluble, pati jagung, pati ubi jalar, pati sagu, dan penambahan maltosa), sumber nitrogen (ekstrak ragi, urea dan NH 4 Cl), sumber ion logam (CuSO 4 , ZnSO 4 , FeSO 4 dan CaCl 2 ) dan
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

UN10F14 HK0102a 802 SOP Pencairan Dana Kegiatan

UN10F14 HK0102a 802 SOP Pencairan Dana Kegiatan

3. Atau aktivitas yang dilakukan untuk menggali atau memperkaya potensi dalam rangka peningkatan mutu SDM seperti kegiatan penelitian, studi banding, presentasi dan publikasi karya ilmiah ataupun kepesertaan kegiatan dalam kejuaraan-kejuaraan di kalangan kemahasiswaan.

6 Baca lebih lajut

Purifikasi Parsial Dan Karakterisasi β-Galaktosidase Dari Isolat Bakteri Asam Laktat (BAL) Strain B134

Purifikasi Parsial Dan Karakterisasi β-Galaktosidase Dari Isolat Bakteri Asam Laktat (BAL) Strain B134

Intoleransi laktosa merupakan salah satu kasus yang sering terjadi pada bayi, orang dewasa, maupun manula. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan β - galaktosidase pada saluran pencernaan. Salah satu solusinya adalah konsumsi β - galaktosidase dari sumber lain. Isolat BAL strain B134 merupakan salah satu sumber yang menghasil kan β -galaktosidase. Produksi β -galaktosidase tertinggi tercapai saat inokulum 2% ditumbuhkan dalam media MRS yang mengandung 2% laktosa, pH media 5, dan waktu inkubasi 24 jam pada suhu 37ºC. Purifikasi parsial β -galaktosidase menghasilkan kemurnian 3.131 kali, rendemen 3.206%, dan aktivitas spesifik sebesar 45.828 U/mg. Aktivitas tertinggi β -galaktosidase tercapai pada pH 6 dan suhu 45ºC. Aktivitas β -galaktosidase stabil pada pH 4.5 dan suhu 30ºC. Kation Co 2+ , Zn 2+ , Mn 2+ , Mg 2+ pada konsentrasi 0.1 M bersifat aktivator terhadap aktivitas β -galatosidase sedangkan Ca 2+ , Cu 2+ , dan Hg 2+ pada konsentrasi 0.1 M menghambat aktivitas β -galaktosidase. Nilai Km dan Vmaks dari β -galaktosidase sebesar 3.934 mM dan 3.278 µmol/menit.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

STRATEGI COPING KORBAN BULLYING VERBAL PADA SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA.

STRATEGI COPING KORBAN BULLYING VERBAL PADA SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA.

Secara umum bullying adalah aktivitas sadar, disengaja dan yang bertujuan untuk melukai atau menanamkan ketakutan melalui ancaman lebih lanjut dan menciptakan teror (Coloroso, 2006: 51). Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja terjadi berulang-ulang untuk menyerang seorang target atau korban yang lemah, mudah dihina dan tidak bisa membela diri sendiri (SEJIWA, 2008: 24). Bullying juga didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok, terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi di mana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan (SEJIWA, 2008: 77). Perilaku bullying muncul dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal muncul dari dalam diri pelaku, seperti karakteristik individu. Selanjutnya, faktor eksternal merupakan faktor yang muncul disebabkan adanya interaksi pelaku dengan lingkungan seperti faktor keluarga dan faktor sekolah (Wahyuni, 2011: 29).
Baca lebih lanjut

162 Baca lebih lajut

Penetapan Kadar Amoksisilin Dalam Kaplet Omemox Secara Spektrofotometer Ultraviolet Di PT. Mutifa Industri Farmasi Medan

Penetapan Kadar Amoksisilin Dalam Kaplet Omemox Secara Spektrofotometer Ultraviolet Di PT. Mutifa Industri Farmasi Medan

Agen-agen antimikroba merupakan sebagian contoh kemajuan yang dramatis pada pengobatan modern. Banyak penyakit infeksi yang dulunya dianggap tidak dapat disembuhkan dan bahkan mematikan kini dapat diobati hanya dengan beberapa pil. Aktivitas obat-obat antimikroba yang luar biasa kuat dan spesifik ini disebabkan oleh kemampuan obat-obat tersebut memilih target yang sangat spesifik dan juga unik bagi mikroorganisme, atau memilih target yang jauh lebih penting bagi mikroorganisme daripada bagi manusia (Katzung, 2004). 1.2 Permasalahan

24 Baca lebih lajut

ED ISAK 18 Bantuan Pemerintah Tidak Ada Relasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi

ED ISAK 18 Bantuan Pemerintah Tidak Ada Relasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi

Dengan diadopsinya IAS 20 Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance menjadi PSAK 61: Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah maka SIC terkait perlu untuk diadopsi melengkapi adopsi IAS 20. Untuk itu Dewan Standar Akuntansi Keuangan memandang perlu untuk mengadopsi SIC 10 Government Assistance—No Specific Relation to OperatingActivities menjadi ISAK 18: Bantuan Pemerintah – Tidak Ada Relasi Spesiik dengan Aktivitas Operasi

9 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI EKSO-XILANASE PUTATIVE REKOMBINAN ASAL Geobacillus thermoleovorans IT-08

KARAKTERISASI EKSO-XILANASE PUTATIVE REKOMBINAN ASAL Geobacillus thermoleovorans IT-08

Produk hidrolisis substrat pNPX (pNP- β -D-xylanopyranoside) dan pNPXX (pNP- β -D- xylobioside) oleh GbtXyl43B dianalisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Produk yang dihasilkan pada reaksi tersebut adalah xilosa, disamping sisa pNPX. Intensitas noda untuk xilosa yang semakin tebal ditunjukkan dengan bertambahnya waktu inkubasi antara pNPX dan GbtXyl43B rekombinan. Hal ini mengkonfirmasikan nilai konsentrasi xilosa yg semakin meningkat dengan meningkatnya waktu inkubasi. Lebih jauh pada pNPXX tidak menunjukkan adanya xilosa ataupun xilobiosa dan spot diatas standar merupakan spot pNPXX (Gambar 5). Hasil analisis KLT menunjukkan GbtXyl43B rekombinan mampu menghidrolisis pNPX menghasilkan xilosa namun tidak demikian dengan pNPXX, mengindikasikan GbtXyl43B adalah β -xilosidase yang mempunyai aktivitas pada ujung non pereduksi yang hanya melepaskan xilosa
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...