Akulturasi budaya

Top PDF Akulturasi budaya:

makalah hasil akulturasi budaya indonesi

makalah hasil akulturasi budaya indonesi

Namun, bukan berarti kebudayaan asing tersebut diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia waktu itu, setiap budaya yang masuk mengalami proses penyesuaian dengan budaya asli di Nusantara. Bentuk akulturasi budaya Hindu-Buddha adalah dalam bentuk seni bangunan, seni rupa dan seni ukir, seni pertunjukkan, seni sastra dan aksara, sistem kepercayaan, dan sistem pemerintahan.

8 Baca lebih lajut

Akulturasi Budaya Etnis Dayak dan Bali d

Akulturasi Budaya Etnis Dayak dan Bali d

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, akulturasi budaya antara etnis Dayak dan etnis Bali terjadi melalui interaksi sosial antara keduanya baik interaksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok masyarakat maupun antara kedua kelompok masyarakatnya. Interaksi sosial tersebut terjadi melalui kegiatan perkawinan antara etnis Dayak dan Bali, pada saat terjadi peristiwa duka dimana ada warga yang meninggal dunia ataupun peristiwa yang membahagiakan seperti acara pernikahan. Pada saat pelaksanaan prosesi kematian atau perkawinan, mereka berbaur dan saling tolong menolong dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan tersebut. Salah satu contohnya pada saat persiapan dan pelaksanaan upacara perkawinan ataupun upacara kematian/Ngaben, mereka bergotong royong mempersiapan peralatan serta segala kebutuhan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Dalam tahap persiapan dan pelaksanaan kegiatan tersebut, selain menggunakan ruang-ruang mikro didalam rumah tempat pelaksanaan kegiatan juga memanfaatkan ruang luar seperti halaman depan dan halaman samping, jalan bahkan ruang luar yang terletak diantara rumah tersebut dengan rumah tetangga (Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

AKULTURASI BUDAYA YANG MASIH ADA HINGGA

AKULTURASI BUDAYA YANG MASIH ADA HINGGA

Budaya sangat melekat pada masyarakat Indonesia. Budaya adalah sebagian besar hasil pemersatu masyarakat, sebagai ilmu turun temurun dari nenek moyang, sebagai pembagian keanekaragaman yang ada dalam lingkup masyarakat tertentu dan budaya adalah Indonesia. Alasan saya memilih budaya di tempat kelahiran saya adalah selain memberikan wacana kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga budaya sendiri yaitu, memberikan wacana bahwa Kota Semarang yang dikenal dengan kota besar atau metropolitan seperti Jakarta, masih mempunyai suatu perayaan adat yang tidak pernah lupa dan masih dapat dijumpai sampai sekarang, perayaan ini menandai awal Bulan Suci Ramadhan. Semarang memiliki budaya yang sangat kental. Salah satunya tradisi adat dari Semarang adalah perayaan tradisi Dugderan. Dari tradisi tersebut, kita dapat melihat percampuran seluruh budaya yang ada di Semarang. Perpaduan budaya tersebut dapat kita lihat pada “warak endog”, adalah boneka binatang raksasa yang merupakan mitologis yang digambarkan sebagai symbol akulturasi budaya di Semarang. Bagian-bagian tubuhnya terdiri dari kepala naga (china), badan buraq (arab), kaki kambing (jawa). Kata warak berasal dari bahasa arab “wara I” yang artinya suci. Sedangkan edog (telur) merupakan symbol pahala yang diterima manusia setelah menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendok bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di hari lebaran.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PERILAKU KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI ANTAR BUDAYA (Studi Deskriptif Kualitatif tentang perilaku komunikasi dalam akulturasi budaya antar etnis Jawa dan etnis Madura di kab Sampang Madura)

PERILAKU KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI ANTAR BUDAYA (Studi Deskriptif Kualitatif tentang perilaku komunikasi dalam akulturasi budaya antar etnis Jawa dan etnis Madura di kab Sampang Madura)

Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai orang yang tinggal dikawasan Sampang Madura, terdapat beberapa suku pendatang yang tinggal di daerah ini diantaranya adalah Jawa, Arab, Cina, dan pendatang lainnya. Masyarakat Jawa adalah pendatang terbanyak yang bermigrasi ke pulau madura karena pulau Madura memang berbatasan langsung dengan pulau Jawa, salah satu contoh akulturasi budaya yang terjadi khususnya didaerah Sampang yang diakibatkan masuknya budaya Jawa terlihat pada penggunaan selingan bahasa Jawa dalam percakapan antar suku, dan berdasarkan pengalaman peneliti pula
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN BUDAYA ISLAM PADA BANGUNAN MASJID AGUNG DEMAK

AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN BUDAYA ISLAM PADA BANGUNAN MASJID AGUNG DEMAK

menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN BUDAYA ISLAM PADA BANGUNAN MASJID AGUNG DEMAK” ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

18 Baca lebih lajut

Aspek Adaptasi dan Akulturasi Budaya di

Aspek Adaptasi dan Akulturasi Budaya di

(2011) seperti dikutip oleh Wiradnyana (2014: 119), bahwa nilai-nilai tersebut merupakan produk kebudayaan yang sangat sulit berubah. Kondisi tersebut menjadikan nilai-nilai yang ada pada masa lalu merupakan dasar dari nilai-nilai yang ada pada masa sesudahnya. Sistem nilai tersebut memiliki subsistem yang terdapat dalam berbagai unsur budaya, salah satu di antaranya budaya materi. Di dalam budaya materi tersebut memiliki makna tertentu bagi masyarakat pendukungnya dan makna-makna yang ada dalam benda budaya itu berkaitan dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat serta berkaitan dengan unsur-unsur budayanya (Wiradnyana, 2014: 119-153). Di samping itu, dalam kebudayaan materi juga mencerminkan pranata dan gagasan yang terkandung di dalamnya (Chaksana, 2006: 5). Berlatar pada kerangka pikir tersebut di atas permasalahan yang muncul terkait dengan keberadaan Situs Bumi Rongsok adalah aspek-aspek arkeologis yang berkaitan dengan adaptasi dan akulturasi budaya yang pernah berlangsung di situs tersebut. Hal ini perlu diungkap karena, lokasi Situs Bumi Rongsok berada di suatu lahan perbukitan dekat dengan aliran sungai atau danau, berbatasan langsung dengan hutan, dan situs juga menyimpan bangunan kubur berundak-undak dari batu. Pemilihan lahan dengan kondisi alam demikian menurut Soejono (1992:195) biasanya merupakan lahan yang pernah ditempati oleh masyarakat prasejarah. Sementara menurut masyarakat setempat, situs tersebut disebut-sebut sebagai makom seorang penyiar agama Islam.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pemba

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pemba

Akulturasi budaya dalam arti penyesuaian antar budaya dalam konteks Yogyakarta lebih tepat dimaknai ke arah multikulturalisme dengan alasan pluralitas yang kompleks dan berfungsi peran pemerintah sebagai perekat keragaman. Pembauran bukan berarti peleburan, namun saling menjaga eksistensi dan kerjasama antar entitas berbeda demi mencapai tujuan bersama. Akulturasi menghadapi tantangan terutama dari aspek ideologis seperti merebaknya gerakan radikal keagamaan dan gerakan trans-nasional yang menggerogoti nasionalisme dari dalam. Meskipun secara kultural warga Yogyakarta cukup memiliki daya tangkal, namun penguatan akulturasi tetap perlu dilakukan. Membuka luas ruang publik, memperkaya agenda multikultural, dan memperkuat aspek edukasi diyakini menjadi bagian dari strategi penguatan akluturasi budaya untuk mempercepat pembauran kebangsaan di Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

BENTUK KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI BUDAYA DI SAMARINDA (Studi Pada Masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar di Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda) M. Syaikhu Nuris1 Abstrak - Index of /site/wp-content/uploads/2013/05

BENTUK KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI BUDAYA DI SAMARINDA (Studi Pada Masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar di Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda) M. Syaikhu Nuris1 Abstrak - Index of /site/wp-content/uploads/2013/05

budaya yang dikenal individu dengan budaya asing dapat menyebabkan individu sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, demikian halnya dengan masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar ini. Bagaimana fenomena yang akan mereka alami ketika keluar dari suatu budaya ke budaya lain sebagai reaksi ketika berpindah dan hidup dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka serta bagaimana upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi perbedaan budaya yang dirasakan menuju suatu adaptasi yang baik dan komunikasi antarbudaya yang efektif. Banyak hal yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri, seperti variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi, yakni faktor personal (intrapersona), seperti karakteristik personal, motivasi individu, persepsi individu, pengetahuan individu dan pengalaman sebelumnya, selain itu juga dipengaruhi oleh keterampilan (kecakapan) komunikasi individu dalam komunikasi sosial (antarpersonal) serta suasana lingkungan komunikasi budaya baru tersebut (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 141-144). Manusia yang memasuki suatu lingkungan baru mungkin akan menghadapi banyak hal yang berbeda seperti cara berpakaian, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda. Tetapi ternyata budaya tidak hanya meliputi cara berpakaian maupun bahasa yang digunakan, namun budaya juga meliputi etika, nilai, konsep keadilan, perilaku, hubungan pria wanita, konsep kebersihan, gaya belajar, gaya hidup, motivasi bekerja, ketertiban lalulintas, kebiasaan dan sebagainya (Mulyana dan Rahkmat, 2005: 97). Namun dalam penelitian ini, peneliti membatasi bentuk komunikasi dalam akulturasi budaya di Samarinda, dalam hal ini masyarakat yang bertempat tinggal di Kelurahan Pelita. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Bentuk Komunikasi Dalam Akulturasi Budaya di Samarinda, Studi pada Masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar di Kelurahan Pelita Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda”. Rumusan Masalah
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid d

Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid d

Masjid Gang Bengkok dan Masjid Al – Osmani merupakan dua buah bangunan masjid tua di Kota Medan. Nilai seja rah yang dimiliki kedua bangunan masjid ini sangat besar sehingga kedua bangunan masjid ini dikatakan sebagai ikon bangunan masjid di Kota Medan. Selain dari nilai sejarah dari kedua bangunan masjid tersebut, arsitektur bangunan Masjid Gang Bengkok dan Masjid Al – Osmani ya ng memiliki akulturasi budaya antara budaya setempat yakni Melayu dan budaya asing juga menjadi pusat perhatian yang menarik untuk dikemukakan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi secara deskriptif bagaimana bentuk bagian – bagian bangunan masjid dan ornamen yang terdapat pada kedua bangunan masjid. Data ya ng diperlukan didapatkan melalui observasi dan studi dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi budaya apa saja yang terdapat pada bangunan masjid dan bagaimana bentuk dari akulturasi budaya tersebut. Hal ini dapat diketahui melalui bentuk bangunan dan ornamen – ornamen dekoratif yang terdapat pada bangunan masjid. Dari hasil karakteristik bentuk dan struktur dari masing – masing bangunan masjid selanjutnya dilakukan perbandingan yang mengidentifikasi perbedaan bentuk bangunan yang dilihat dari segi elemen pembentuk bangunan masjid.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ISLAM DAN AKULTURASI BUDAYA LOKAL DI IND

ISLAM DAN AKULTURASI BUDAYA LOKAL DI IND

Kita lihat juga bahwa budaya Persia; budaya yang pernah jaya dan saat Islam masuk; ia sedang menyusut, adalah memiliki pengaruh yang demikian dalam, luas, dinamis dan kreatif terhadap perkembangan peradaban Islam. Lihat saja al-Ghazali, meskipun ia kebanyakan menulis dalam bahasa Arab sesuai konvesi besar kesarjanaan saat itu, ia juga menulis beberapa buku dalam bahasa Persi. Lebih dari itu, dalam menjabarkan berbagai ide dan argumennya, dalam menandaskan mutlaknya nilai keadilan ditegakkan oleh para penguasa, ia menyebut sebagai contoh pemimpin yang adil itu tidak hanya Nabi saw dan para khalifah bijaksana khususnya Umar bin Khattab, tetapi juga Annushirwan, seorang raja Persia dari dinasti Sasan. 19
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

6 Akulturasi Budaya Bangunan Masjid Tua

6 Akulturasi Budaya Bangunan Masjid Tua

Adapun pertimbangan menggunakan atap tumpang; pertama pertimbangan ekologi, bahwa dengan atap tumpang dapat memu- dahkan air turun bila hujan dan sambungan atapnya bisa berfungsi sebagai ventilasi untuk menyuplai udara ke dalam ruangan masjid apabila hari panas. Hal tersebut sesuai dengan iklim yang ada di daerah tropis yakni musim hujan dan musim kemarau. Kedua, pada masa Hindu-Buddha, bangunan berbentuk meru dianggap sebagai bangunan suci tempat para dewa. Bentuknya kemudian diadopsi pada bangunan masjid dan merupakan faktor penting untuk menimbulkan daya tarik bagi mereka yang melakukan peralihan agama Hindu-Buddha ke Islam, sehingga tidak terjadi gegar budaya 37
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Akulturasi Budaya Bangunan Masjid Kaliwu

Akulturasi Budaya Bangunan Masjid Kaliwu

Adapun pertimbangan menggunakan atap tumpang; pertama pertimbangan ekologi, bahwa dengan atap tumpang dapat memu- dahkan air turun bila hujan dan sambungan atapnya bisa berfungsi sebagai ventilasi untuk menyuplai udara ke dalam ruangan masjid apabila hari panas. Hal tersebut sesuai dengan iklim yang ada di daerah tropis yakni musim hujan dan musim kemarau. Kedua, pada masa Hindu-Buddha, bangunan berbentuk meru dianggap sebagai bangunan suci tempat para dewa. Bentuknya kemudian diadopsi pada bangunan masjid dan merupakan faktor penting untuk menimbulkan daya tarik bagi mereka yang melakukan peralihan agama Hindu-Buddha ke Islam, sehingga tidak terjadi gegar budaya 37 . Tidak seperti masjid lama lainnya, Masjid Kaliwulu memiliki atap tumpang dua. Seperti diungkapkan sebelumnya, penulis lebih cenderung mengkategorikan atap seperti ini gaya bangunan Majapahit atau jawa tradisional.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Fenomenologi Akulturasi Budaya dan Agama - repostain

Fenomenologi Akulturasi Budaya dan Agama - repostain

Visi Pemerintah Kabupaten Pangkep 2005-2010, Pangkep yang unggul, maju, mandiri dan religius”. Visi ini memiliki relevansi dengan kondisi geografis, demografis, sosial budaya masyarakat Pangkep. Untuk membangun Pangkep sesuai dengan visi dan misinya maka pemerintah dalam hal ini pemerintahan Syafruddin- Bau Kemal, melancarkan atau memprogramkan agenda pemerintahannya dengan program cepat yang sekarang ini disebutnya; “SEVEN G”, yang intinya antara lain; Pendidikan gratis, pengobatan di Puskesma dan rawat inap kelas III Rumah Sakit Pangkep secara gratis, KTP gratis, akte kelahiran gratis, Kartu Keluarga gratis, Pelayanan Kartu Kuning secara gratis. Secara khusus, bagi peningkatan dan pembangunan wilayah/dimensi kepulauan, Pemerintahan “SBK” tetap melanjutkan mengangkat pembantu untuk mempercepat pembangunan di tiga kecamatan yang berada di wilayah kepulauan.
Baca lebih lanjut

482 Baca lebih lajut

AKULTURASI BUDAYA LOKAL DAN BUDAYA ISLAM DALAM ADAT PERNIKAHAN MASYARAKAT DESA KALADI KECAMATAN SULI BARAT KABUPATEN LUWU

AKULTURASI BUDAYA LOKAL DAN BUDAYA ISLAM DALAM ADAT PERNIKAHAN MASYARAKAT DESA KALADI KECAMATAN SULI BARAT KABUPATEN LUWU

Budaya adalah dalam bahasa Belanda cultuur, dalam bahasa Inggris culture dan dalam bahasa Arab ialah tsaqafah berasal dari bahasa Latin colere yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan m engubah alam”. Sedangkan kebudayaan adalah semua yang berasal dari hasrat dan gairah di mana yang lebih tinggi dan murni menjadi yang teratas memiliki tujuan praktis dalam hubungan manusia seperti musik, puisi, agama, etik, dan lain-lain. 7 Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, dan kebudayaan adalah hasil dari cipta karsa dan rasa tersebut. Budaya yang teraktualisasi dalam wujud adat mulai dipahami sebagai fenomena alam yang kehadirannya secara umum memberi kontribusi terhadap perilaku manusia, hingga yang berkenaan dengan cara melakukan sesuatu, seperti menjalankan kewajiban agama dan perilaku sosial.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Akulturasi Budaya Bangunan Masjid Tua Cirebon

Akulturasi Budaya Bangunan Masjid Tua Cirebon

Adapun pertimbangan menggunakan atap tumpang; pertama pertimbangan ekologi, bahwa dengan atap tumpang dapat memu- dahkan air turun bila hujan dan sambungan atapnya bisa berfungsi sebagai ventilasi untuk menyuplai udara ke dalam ruangan masjid apabila hari panas. Hal tersebut sesuai dengan iklim yang ada di daerah tropis yakni musim hujan dan musim kemarau. Kedua, pada masa Hindu-Buddha, bangunan berbentuk meru dianggap sebagai bangunan suci tempat para dewa. Bentuknya kemudian diadopsi pada bangunan masjid dan merupakan faktor penting untuk menimbulkan daya tarik bagi mereka yang melakukan peralihan agama Hindu-Buddha ke Islam, sehingga tidak terjadi gegar budaya 37
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PERILAKU KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI ANTAR BUDAYA (Studi Deskriptif Kualitatif tentang perilaku komunikasi dalam akulturasi budaya antar etnis Jawa dan etnis Madura di kab Sampang Madura).

PERILAKU KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI ANTAR BUDAYA (Studi Deskriptif Kualitatif tentang perilaku komunikasi dalam akulturasi budaya antar etnis Jawa dan etnis Madura di kab Sampang Madura).

Bahasa, jelaslah bahwa seseorang yang hidup dalam budaya yang baru “harus menghadapi tantangan terhadap rintangan bahasa, kebiasaan serta praktik yang tidak biasa, dan variasi budaya dalam gaya komunikasi verbal dan non- verbal dalam rangka mencapai pemahaman. Mengutip kesulitan ini, Ralpd Waldo Emerson menuliskan, “ tidak ada orang yang seharusnya bepergian sampai ia mengerti bahasa Negara yang di tujunya. Kalau tidak, ia akan membuat dirinya sendiri menjadi bayi besar – tidak memiliki harapan dan tampak konyol” Masalah ini sering dilihat diantara pengunjung jangka panjang dan imigran di Amerika Serikat yang tidak menguasai bahasa inggris. Mereka mengalami isolasi sosial, dan seperti yang dinyatakan oleh leong dan chou, di paksa “ke dalam lingkungan tidak begitu membutuhkan kemampuan bahasa inggris dan sedikit interaksi interpersonal”
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN BUDAYA ISLAM TERHADAP PERILAKU ANGGOTA PAGUYUBAN GUWA MARIA.

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN BUDAYA ISLAM TERHADAP PERILAKU ANGGOTA PAGUYUBAN GUWA MARIA.

Dari kelima fungsi diatas fungsi yang terahir ini merupakan bentuk fungsi yang berbeda dari fungsi yang lain, karena fungsi tranformatif berarti agama melakukan perubahan dalam masyarakat. Dengan kata lain, agama membuat perubahan bentuk kehidupan masyarakat lama kedalam bentuk kehidupan masyarakat baru. Dalam melakukan perubahan tentu saja agama akan berbenturan dengan nilai-nilai budaya lokal yang telah terlebih dahulu eksis dalam masyarakat. Konsekuensi logis dari pertemuan tersebut salah satu akan terpinggirkan atau ada dialog antara keduanya (D. Hendropuspito, 1993:55) .
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Islam & Budaya Nusantara (Akulturasi Budaya)

Islam & Budaya Nusantara (Akulturasi Budaya)

Dari segi kebiasaan, orang Indonesia kebaanyakan sering melakukan salaman terhadap orang lain ketika bertemu. Budaya berjabat tangan ini pada mulanya dibawa dari bangsa Arab saat melakukan penyebaran agama Islam di Indonesia.Sampai sekarang bersalaman merupakan hal yang sangat penting di Indonesia untuk menunjukkan rasa hormat dan sapa tehadap orang lain. Selain

17 Baca lebih lajut

SOAL SEJARAH KELAS 11 SEMESTER 2

SOAL SEJARAH KELAS 11 SEMESTER 2

36. Di Kerajaan Banten terjadi akulturasi budaya Islam dengan Eropa. Hal tersebut tampak pada a. adanya kentungan pada bangunan masjid b. penggunaan kubah setengah lingkaran c. menara masjid yang mirip mercusuar d. atap masjid berbentuk atap tumpang e. adanya meriam di halaman masjid 37. Perhatikan hal-hal di bawah ini!

5 Baca lebih lajut

S  SEJ 0906003 Appendix (4)

S SEJ 0906003 Appendix (4)

Kelompok2 :Akulturasi budaya Hindu-Budha, Islam dengan budaya lokal Indonesia di bidang pendidikan Kelompok3 :Akulturasi budaya Hindu-Budha, Islam dengan budaya lokal Indonesia di bid[r]

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...