Anak Jalanan

Top PDF Anak Jalanan:

HARGA DIRI ANAK JALANAN

HARGA DIRI ANAK JALANAN

Koq kamu itu ga… mmm… bangga ga jadi anak jalanan? Kalo aku sih bangga ya ga…bangga ya iya…ga ya iya? Bangga dalam hal apa…ga kenapa? Kalo aku sih bangganya kenapa…aku bisa mengerti dunia anak-anak jalanan itu, kayak apa suatu aku membanggakan ya bisa masuk ke dunia mereka…ternyata gini kehidupan mereka…sulit banget gitu aja… (YN, 462-471) Kamu bangga ga sih jadi anak jalanan sebenarnya? Kalo bagi aku sih terus terang aja, kalo orang ngomong orang, aku anak jalanan ya tetap bangga aja…tapi kalo aku, ya tentang aku di jalanan ga…ga bangga…kalo aku di bilang orang sih…oooh kamu anak jalanan…tetep bangga aja kan…memang benar-benar kenyataannya… (BN,563-576) Bangga ga, atau merasa gimana? Eee…….. emang rasa nya di bis atau di jalan gitu? Heeh…heeh…Ya ga lah…Ga…itu kenapa? Hah…Ya kenapa ga? Ya, karena…ya mau bangga apa, sedangkan, orang-or-
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Profil Aktifitas Belajar Anak Jalanan Di MI Tarbiyatul Islamiyah Jakarta

Profil Aktifitas Belajar Anak Jalanan Di MI Tarbiyatul Islamiyah Jakarta

Berdasarkan tabel diatas presepsi terhadap masa depan mereka (anak jalanan) terhadap alternative jawaban yang sudah disediakan, penulis menjabarkan prosentase yang paling tinggi (36,4%) diperoleh jawaban no.d yaitu siswa (anak jalanan) berusaha giat belajar untuk memperbaiki masa depan mereka untuk mau hidup lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan prosentase dibawahnya (27,3%) dimiliki oleh dua (2) jawaban bernomor b bahwa siswa beranggapan masa depan merupakan hal yang tidak bisa ia pikirkan sendiri, sedangkan no.e berbeda dengan nomor b bahwa siswa (anak jalanan) justru berpikir akan masa depannya sehingga ia ingin bekerja kelak dewasa bisa lebih baik dari orangtuanya sekarang. Lain lagi dengan no.c ia berpikir bahwa masa depan sudah ditentukan oleh nasib, jika nasib mujur maka didapatkan masa depan cemerlang sebaliknya jika nasib kurang beruntung atau mereka menyebutnya nasib „apes‟ maka, masa depan mereka tentu saja masa depan suram hal inilah siswa (anak jalanan) pasrah akan nasib mereka.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Advokasi SKA-PKPA (Sanggar Kreativitas Anak – Pusat Kajian dan Perlindungan Anak) Dalam Penanggulangan Kekerasan Pada Anak Jalanan

Advokasi SKA-PKPA (Sanggar Kreativitas Anak – Pusat Kajian dan Perlindungan Anak) Dalam Penanggulangan Kekerasan Pada Anak Jalanan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 menyebutkan terdapat 154.861 jiwa anak jalanan di Indonesia. Kemudian, pada tahun 2009 meningkat menjadi sebanyak 230.000 anak jalanan. Tahun 2010 jumlah anak jalanan di Indonesia diperkirakan mencapai 200.000 anak dan tahun 2012 menjadi 230.000 anak. Jika dilihat dari data tersebut, pada tahun 2010 anak jalanan yang ada di Indonesia mengalami penurunan, namun kembali meningkat di tahun 2012. Itu artinya, jumlah anak jalanan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sama halnya dengan kota Medan, yang juga menghadapi permasalahan anak jalanan dan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, menyatakan pada tahun 2008 jumlah anak jalanan di kota Medan ada 663 anak dan menjelang akhir tahun 2009 mencapai 500-an anak. Sedangkan pada tahun 2011 jumlah anak jalanan meningkat menjadi 745 anak, dan pada tahun 2012 jumlah anak jalanan meningkat menjadi 837 anak. Jumlah ini juga diprediksi akan meningkat karena faktor ekonomi keluarga yang semakin hari menjadi semakin buruk. Kementerian Sosial RI pernah menegaskan bahwa akhir tahun 2014 Indonesia akan bebas dari masalah anak jalanan, dan sejak tahun 2011 Kementerian Sosial RI telah melakukan penanganan sekitar 80 persen anak jalanan. Namun kenyataannya, sampai saat ini masih banyak dijumpai anak jalanan di persimpangan jalan maupun tempat-tempat umum lainnya. Ada beberapa lokasi di kota Medan yang sering dijadikan anak jalanan sebagai tempat untuk beraktivitas yaitu sekitar Terminal Terpadu Amplas, Terminal Pinang Baris, Simpang Sei Sikambing, Simpang Ramayana-Katamso, Simpang Pos, Titi Kuning/Simpang Tritura, Krakatau/Cemara, dan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pola Komunikasi Komunitas Peduli Anak Jalanan dan Anak Jalanan.

Pola Komunikasi Komunitas Peduli Anak Jalanan dan Anak Jalanan.

Annisa Rahmawati, 210110110215, 2015, Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Jatinangor. Pola Komunikasi Komunitas Peduli Anak Jalanan dan Anak Jalanan. Dr. Atwar Bajari, M.Si., selaku pembimbing utama dan H. Hadi Suprapto Arifin, Drs., M.Si., selaku pembimbing pendamping.

Baca lebih lajut

MEKANISME PERTAHANAN EGO PADA ANAK JALANAN

MEKANISME PERTAHANAN EGO PADA ANAK JALANAN

Hal-hal tersebut juga semakin diperkuat oleh penelitian yang telah ada sebelumnya terkait dengan permasalahan yang menimpa anak jalanan, yaitu bahwa hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan. Beberapa permasalahan yang mengancam anak jalanan, antara lain: kekerasan yang dilakukan oleh anak jalanan lain, komunitas dewasa, Satpol PP, bahkan kekerasan seksual, penggunaan pil, alkohol dan rokok, serta penyakit-penyakit menular seperti HIV atau AIDS. Anak jalanan berada dalam kondisi yang tidak memiliki masa depan jelas dan tidak jarang menjadi masalah bagi banyak pihak, seperti: keluarga, masyarakat, dan negara (Wijayanti, 2010).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN  Hubungan Pengetahuan, Paparan Informasi, Dan Pengaruh Teman Dengan Perilaku Seksual Anak Jalanan Di Surakarta.

BAB 1 PENDAHULUAN Hubungan Pengetahuan, Paparan Informasi, Dan Pengaruh Teman Dengan Perilaku Seksual Anak Jalanan Di Surakarta.

Jumlah anak jalanan di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dapat diketahui dari perbandingan anak jalanan pada tahun 2008 dan 2009. Pada tahun 2008 berjumlah 109.454 jiwa dan anak terlantar 2.250.152 jiwa (Depsos RI, 2008). Pada tahun 2009 pertumbuhan anak jalanan yang rawan terhadap kasus keterlantaran berjumlah 3.488.309 jiwa (Depsos RI, 2009). Sedangkan berdasarkan data dari provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2008 terdapat anak jalanan sebanyak 9.770 jiwa (Depsos RI, 2008).

7 Baca lebih lajut

USAHA TRANSFORMASI ANAK JALANAN KELUAR DARI POSISI ANAK JALANAN: Studi Perilaku Sosial Anak Jalanan Di Provinsi Banten.

USAHA TRANSFORMASI ANAK JALANAN KELUAR DARI POSISI ANAK JALANAN: Studi Perilaku Sosial Anak Jalanan Di Provinsi Banten.

2002 tentang Perlindungan Anak secara tegas menyebutkan, negara wajib melindungi anak dalam situasi darurat. "Anak-anak di jalanan merupakan situasi darurat yang harus segera diselamatkan dari jalanan oleh pemerintah, Pembiaran oleh pemerintah termasuk pelanggaran dan pengingkaran terhadap Undang- Undang, "kata Komisioner KPAI M Ihsan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (13/7/2013). KPAI mencatat, Indonesia memiliki 230 ribu anak terlantar dari total 4,8 juta anak dan khusus di DKI Jakarta terdapat 13 ribu anak jalanan. "Bahkan, menjelang Lebaran, anak jalanan meningkat 60 hingga 80 persen, khususnya Jakarta," imbuhnya. Ada bahaya yang dapat diderita bagi anak-anak yang turun ke jalanan. Mereka bisa terkena gangguan pernapasan dan kesehatan, narkoba, menghisap lem, penyimpangan perilaku, kekerasan, perkosaan, sodomi, seks bebas, kriminal, dan berbagai permasalahan lainnya. Oleh karena itu, KPAI meminta pemerintah merespons fenomena anak jalanan. Setidaknya ada delapan langkah yang disampaikan KPAI dalam mengatasi atau menangani keberadaaan meningkatnya anak jalanan yang bisa dilakukan atau diupayakan oleh pemerintah (http//www.kompas.com).
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

PENYESUAIAN SOSIAL ANAK JALANAN

PENYESUAIAN SOSIAL ANAK JALANAN

sepenuhnya dapat dilakukan oleh anak-anak jalanan meskipun sebagian kecil dari mereka ada yang belum bisa sepenuhnya melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan sekitarnya. Penyesuaian sosial anak-anak jalanan juga dipengaruhi oleh penerimaan lingkungan sosialnya baik keluarga, teman di tempat berkerja, teman di sekolah, dan masyarakat sekitarnya, serta penerimaan terhadap dirinya sendiri baik menyangkut statusnya sebagai anak jalanan maupun pekerjaannya sebagai pengamen ataupun sebagai penjual koran, dan pekerjaan anak jalanan yang lainnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Makalah dan Tentang Anak Jalanan

Makalah dan Tentang Anak Jalanan

Rumah singgah sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut .rumah singgah didefnisikan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka. Rumah singgah merupakan proses non formal yang memberikan suasana pusat resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma di masyarakat. Tujuan dibentuknya rumah singgah adalah resosialisasi yaitu membentuk kembali sikap dan prilaku anak yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan memberikan pendidikan dini untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif. Dalam resosialisasi kepada anak jalanan, para tutor menggunakan prinsip perkawanan dan kesejajaran. Meskipun mereka anak-anak, pengalaman dijalanan telah membuat mereka matang. Resosialisasi menghindari pola instruksi dan memberikan masukan-masukan terus- menerus dimana anak sebagai objek. Anak jalana ditempatkan sebagai subjek atas perubahan yang akan terjadi pada dirinya.prinsip yang berlaku adalah para tutor dengan anak jalanan berdiskusi untuk
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Konsep Diri Anak Jalanan (Kasus Anak Jalanan di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat)

Konsep Diri Anak Jalanan (Kasus Anak Jalanan di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat)

Isu kesejahteraan anak terus mendapat perhatian masyarakat dunia. Mulai dari permasalahan buruh anak, peradilan anak, pelecehan seksual pada anak, dan anak jalanan. Hal tersebut juga dicerminkan dari banyaknya dokumen Internasional yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak anak seperti Resolusi MU-PBB 1988; Convention On The Right Of The Child, Resolusi Komisi HAM PBB 1991;The Special Rapporteur On The Sale Of Children, Child Prostitution And Child Pornography dan lainnya (Tauran, 2000). Salah satu isu kesejahteraan anak yang terus berkembang menjadi perhatian dunia adalah masalah anak jalanan. Laporan Dunia tentang Situasi Anak, menyebutkan bahwa terdapat 30 juta anak tinggal dan menjaga diri mereka sendiri di jalan. Di Asia, saat ini paling tidak terdapat sekitar 20 juta anak jalanan. Jumlah tersebut diramalkan akan meningkat dua kali lipat pada 30 tahun mendatang (Childhope, 1991 dalam Tauran, 2000).
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

BAB II DESKRIPSI PROYEK - Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Jalanan (Green Architechture)

BAB II DESKRIPSI PROYEK - Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Jalanan (Green Architechture)

Pada perkembangan berikutnya, pendampingan PKPA dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu berbasis penjangkauan anak-anak di jalanan (street base), berbasis penjangkauan kegiatan melalui Unit Pusat pengembangan Kreatifitas (institusional base) dan berbasis penjangkauan keluarga anak jalanan (family base). Sejak berdiri pada 21 Oktober 1996, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) telah menjalin kerjasama dan mendapat dukungan dari sejumlah lembaga lembaga dan negara donor. Berikut ini lembaga-lembaga pendukung dan program PKPA yang mendapat dukungan kerjasama khusus program PKPA sejak memasuki tahun 2005:
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Jalanan (Green Architechture)

Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Jalanan (Green Architechture)

Pekerjaan anak jalanan beraneka ragam, dari menjadi tukang semir sepatu, penjual asongan, pengamen sampai menjadi pengemis. Banyak faktor yang kemudian diidentifikasikan sebagai penyebab tumbuhnya anak jalanan. Parsudi Suparlan berpendapat bahwa adanya orang gelandangan di kota bukanlah semata- mata karena berkembangnya sebuah kota, tetapi justru karena tekanantekanan ekonomi dan rasa tidak aman sebagian warga desa yang kemudian terpaksa harus mencari tempat yang diduga dapat memberikan kesempatan bagi suatu kehidupan yang lebih baik di kota (Parsudi Suparlan, 1984 : 36 ).
Baca lebih lanjut

128 Baca lebih lajut

Peran LSM humus dalam pemberdayaan anak jalanan di wilayah Pasar Proyek Bekasi Timur

Peran LSM humus dalam pemberdayaan anak jalanan di wilayah Pasar Proyek Bekasi Timur

Berawal dari sekelompok mahasiswa jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang melakukan kegiatan sosial di wilayah Pinggir Kali Bekasi daerah Pasar Proyek Bekasi Timur sebagai program kerja dari KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada tahun 2002. Kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) itu sendiri berlangsung selama satu bulan. Setelah program KKN (Kuliah Kerja Nyata) selesai dilakukan beberapa orang mahasiswa melanjutkan diskusinya mengenai Komunitas Pinggir Kali, Pasar Proyek Bekasi Timur dengan kerangka pengembangan komunitas (community development). Akhirnya diskusi berujung pada keputusan untuk terus melanjutkan kegiatan sosial secara independent, dengan program utama pendidikan dasar bagi anak-anak jalanan. Untuk melengkapi keutuhan program, tujuh orang mahasiswa bersepakat menjadi sukarelawan dan bergabung dalam sebuah kelompok kecil yang bernama HUMUS (Himpunan Masyarakat Untuk Solidaritas). 1
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

PROPOSAL Gambaran Perilaku Seksual Anak Jalanan di Kota Semarang

PROPOSAL Gambaran Perilaku Seksual Anak Jalanan di Kota Semarang

Manusia perlu melakukan kegiatan berfikir yang mengandalkan pikiran untuk dapat memahami dan menjelaskan apa yang dialaminya. Kegiatan utama pikiran dalam mencari pengetahuan adalah penalaran. Penalaran merupakan proses pemikiran untuk dapat menarik kesimpulan dari hal-hal yang sebelumnnya telah diketahui. Pikiran anak jalanan di usia remaja tergolong masih labil karena pada usia remaja masih dalam tahap pencarian identitas diri maka dari itu remaja masih bisa mudah terpengaruh terhadap sesuatu, hal tersebut dapat mempengaruhi cara berpikir dan penalaran pada anak jalanan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KONSEP DIRI ANAK JALANAN  Konsep Diri Anak Jalanan.

KONSEP DIRI ANAK JALANAN Konsep Diri Anak Jalanan.

Berdasarkan data yang didapatkan anak jalanan memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tua, selain itu anak jalanan merasa tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua, serta orang tua sering memukul ketika anak jalanan melakukan kesalahan. Anak jalananan juga tidak terbuka dengan anggota keluarga yang lain dan merasa dimusuhi, hal tersebut berdampak pada pembentukan konsep diri anak jalanan. Seperti yang dikemukakan oleh Syam (2012) sering kali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif atau lingkungan yang kurang mendukung cenderung memiliki konsep diri negatif. Kondisi ini disebabkan sikap orang tua yang suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan dan suka marah-marah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

TINGKAT PERLINDUNGAN ANAK JALANAN DI KOTA BOGOR

TINGKAT PERLINDUNGAN ANAK JALANAN DI KOTA BOGOR

Perlindungan anak jalanan sangat dibutuhkan seperti halnya perlindungan anak pada umumnya sebagaimana diatur didalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan anak. Anak Jalanan sangat memerlukan hakhaknya dapat terpenuhi seperti pada anak-anak yang lain . Fenomena mengenai anak jalanan yang belum bisa untuk sekolah banyak dan marak terjadi dibeberapa daerah. Sedangkan pendidikan sangat diperlukan bagi anak. Bukan hanya pendidikan , namun kesehatan maupun fasilitas lainnya yang dapat membantu anak jalanan tersebut dan sebagai penunjang tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa. Sehingga kami sangat tertarik untuk meneliti mengenai tingkat perlindungan anak jalanan di Kota Bogor ditinjau berdasarkan Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang perlindungan anak jalanan. Dan Kami ingin meneliti apakah Kota Bogor sudah memberikan perlindungan terhadap anak jalanan seperti yang diamatkan dalam Undang-Undang Nomor 35 perlindungan anak sebagai wujud implementasi daripada mengatur terhadap perlindungan anak dan juga seperti yang diamanatkan didalam Undang- Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 bahwa anak jalanan dipelihara oleh Negara. Dimana perlindungan anak jalanan sangat perlu diperhatikan serta kota layak anak juga sangat dibutuhkan guna membangun kota yang melindungi dan memenuhi hak-hak anak pada umumnya.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Faktor Dominan Penyebab Anak Menjadi Anak Jalanan di Kota Binjai

Faktor Dominan Penyebab Anak Menjadi Anak Jalanan di Kota Binjai

Data dari informan utama ketiga berasal dari anak jalanan yang bernama Iwan Hardi, Iwan merupakan seorang anak jalanan yang tergolong kedalam children of the street yaitu anakanak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan sudah tidak memiliki hubungan atau memutuskan hubungan deegan orang tua atau keluarganya, Iwan sudah tidak memiliki lagi hubungan dengan orang tua dan keluarganya sejak 4 tahun yang lalu. Iwan menjadi anak jalanan pada tahun 2009 sejak usia 11 tahun hingga kini usia Iwan 17 tahun maka kurang lebih Iwan sudah hidup menjadi anak jalanan selama 6 tahun. Awal mula Iwan turun ke jalanan menjadi anak jalanan karena disuruh oleh orang tuanya mencari dana tambahan, keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu membuat orang tuanya menyuruh Iwan bekerja di jalanan mencari uang, awalnya Iwan bekerja dengan berdagang asongan setelah Ia pulang dari sekolah. Lama menjadi anak jalanan membuat Iwan merasa nyaman ketika Ia berada di jalanan karena tidak perlu melihat keadaan didalam rumahnya yang tidak harmonis, hingga pada tahun 2011 orang tua Iwan bercerai dan sejak itu Ia memilih memutuskan hubungan dengan orang tuanya.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

Lima Anak Jalanan Penopang Kehidupan Keluarga: Bekerja Sebagai Pengamen, Pengemis, dan Pemulung di Kota Medan

Lima Anak Jalanan Penopang Kehidupan Keluarga: Bekerja Sebagai Pengamen, Pengemis, dan Pemulung di Kota Medan

Fenomena yang muncul di perkotaan seiring dengan berbagai permasalahan pembangunan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah munculnya anak-anak jalanan. Kota Medan yang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara yang memiliki daya tarik yang lebih besar dan perkembangan kota yang lebih cepat dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya juga menghadapi fenomena ini. Mereka banyak telihat di perempatan jalan, pusat perbelanjaan atau pasar, terminal bus, taman kota dan tempat pembuangan sampah. Mereka biasanya berkerja sebagai penjual makanan ringan, penjual koran, penyemir sepatu, pengamen, pemulung, dan pengemis. Penelitian ini dilakukan di lokasi-lokasi yang menjadi aktivitas para anak jalanan yaitu Simpang Pos, Terminal Amplas, dan di kawasan Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini juga dilakukan di tempat tinggal para anak jalanan, yaitu di Kecamatan Medan Johor, Medan Polonia, dan Medan Perjuangan. Metode dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif dengan metode Life History. Sehingga informan dalam penelitian ini juga melibatkan para orang tua dari anak jalanan yang menjadi informan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, partisipasi observasi, dan studi pustaka.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KONSEP DIRI ANAK JALANAN  Konsep Diri Anak Jalanan.

KONSEP DIRI ANAK JALANAN Konsep Diri Anak Jalanan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri yang dimiliki anak jalanan dan faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri anak jalanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian ini dipilih seraca purposive sampling dengan teknik pengambilan sampel secara snowball sampling . Informan penelitian berjumlah 10 orang. Data dianalisis secara tematik. Hasil penelitian ini menemukan bahwa anak jalanan memiliki konsep diri yang negatif. Hal tersebut dilihat dari aspek penilaian diri yaitu pesimis, iri, gagal, malu dengan penampilan dan merasa tubuh tidak terawat. Aspek penilaian sosial, yaitu merasa orang yang tidak berguna, tidak mempunyai sopan santun, membuat malu, tidak dipercayai orang lain, dinilai negatif orang lain, dinilai tidak baik, menjelekan nama keluarga. Anak jalanan menerima penilaian orang lain terhadap dirinya namun terkadang anak jalanan akan memukul orang yang menghina dirinya jika dirasa sudah keterlaluan. Aspek citra diri yaitu anak jalanan memiliki cita-cita yang tidak realistis, merasa banyak kekurangan, bodoh, memiliki IQ rendah, orang tua kekurangan, merasa malu dengan keadaan orang tua dan tidak disayangi dan diperhatikan orang tua. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri anak jalanan adalah keluarga, dukungan sosial, status sosial ekonomi dan kelompok rujukan. Konsep diri yang dimiliki anak jalanan akan mempengaruhi sikap dan perilaku terhadap hubungan interpersonal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...