Angka Bebas Jentik

Top PDF Angka Bebas Jentik:

PEMBENTUKAN MAWAS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) Siska Yunita Arsula

PEMBENTUKAN MAWAS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) Siska Yunita Arsula

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pelaksanaan program pengendalian DBD. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pemantauan jentik rutin oleh jumantik dari kalangan ibu rumah tangga tidak berjalan optimal, sehingga dilakukan intervensi kepada remaja sebagai jumantik secara kelompok dan bergilir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pembentukan MAWAS DBD (Remaja Waspada DBD) terhadap Angka Bebas Jentik di RW II Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Jenis penelitian ini adalah pre- experimental design dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest design. Cara pengambilan sampel adalah stratified random sampling. Jumlah sampel sebanyak 117 remaja. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembentukan MAWAS DBD di RW II Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Masyarakat yang bertugas untuk PJR harus berjalan optimal agar warga termotivasi untuk melakukan PSN. Dinas kesehatan dan puskesmas juga diharapkan membuat kebijakan program pengendalian DBD yang melibatkan peran serta masyarakat.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN KADER JUMANTIK DALAM UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ROWOSARI

FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN KADER JUMANTIK DALAM UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ROWOSARI

Dari hasil pemantauan jentik di Kecamatan Tembalang pada tahun 2013 hasil ABJ sebesar 74,4%, sedangkan pada tahun 2014 sebesar 80,52%. Meskipun ABJ tersebut mengalami peningkatan, namun di Kecamatan Tembalang sebaran ABJ masih dibawah standar (< 95%). Tinggi rendahnya ABJ DBD di suatu daerah tergantung pada peran serta masyarakat dalam pelaksanaan PSN. Keberhasilan kegiatan PSN DBD dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi (Depkes RI, 2010:2). Sehingga pentingnya ABJ ini dapat dijadikan tolak ukur dan bahan evaluasi untuk permasalahan dan penanggulangan masalah penyakit DBD di suatu daerah. Menurut Imawati (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi angka bebas jentik (ABJ) adalah kebiasaan PSN DBD, keberadaan kontainer didalam rumah dan keberadaan sampah padat di sekitar rumah. Perilaku masyarakat dalam menampung air untuk kegiatan rumah tangga tidak hanya pada satu tempat dan tidak sering membersihkan tempat penampungan air akan memungkinkan nyamuk aedes aegypti memiliki peluang yang besar untuk bertelur ditempat tersebut.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat dengan taraf kepercayaan 95%, diperoleh hasil uji statistik bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian DBD berdasarkan tingkat puskesmas (p=0,754) dan pada periode Januari-Desember (p=0,105), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara angka bebas jentik dengan kejadian DBD berdasarkan tingkat puskemas (p=0,619) dan periode Januari-Desember (p=0,800).

15 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Karakteristik Juru Pemantau Jentik (jumantik) dengan Status Angka Bebas Jentik (ABJ) DI Kelurahan Wonotingal Wilayah Kerja Puskesmas Kagok Tahun 2014.

Hubungan Antara Karakteristik Juru Pemantau Jentik (jumantik) dengan Status Angka Bebas Jentik (ABJ) DI Kelurahan Wonotingal Wilayah Kerja Puskesmas Kagok Tahun 2014.

mengalami peningkatan pada tahun 2012 sebanyak 69 kasus, pada tahun 2013 kembali menurun dimana jumlah kasus DBD sebanyak 48 kasus (3)(4) . Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi masalah DBD tetapi sampai saat ini DBD masih menjadi masalah utama di Kota Semarang. Selain itu adanya iklim yang tidak stabil dan curah hujan yang cukup banyak pada musim penghujan, sehingga banyak sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang cukup potensial, juga didukung dengan tidak maksimalnya kegiatan PSN di masyarakat. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur pada keberadaan vektor yaitu dengan mengukur Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi (4) .
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Pada tahun 2015 kelurahan Kayu Putih menduduki tiga tertinggi penderita DBD yaitu sebanyak 42 kasus dan masih ditemukan 10 tempat yang positif sebagai container jentik nyamuk Aedes aegypti namum setelah dilakukan PSN secara rutin dan efektif oleh kader jumantik, maka penderita DBD turun menjadi 18 Kasus. Untuk itu peneliti ingin mengetahui bagaimana peran jumantik terhadap program PSN dan Angka Bebas Jentik di kelurahan Kayu Putih, kecamatan Pulogadung kota adminstrasi Jakarta Timur tahun 2017.

5 Baca lebih lajut

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Tehadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik Memeriksa tempat – tempat penampungan air didalam maupun diluar rumah, tempat –tempat yang dapat te[r]

16 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3 M plus (menguras, menutup dan mengubur) plus menabur larvasida, penyebaran ikan pada tempat penampungan air, penggerakan juru pemantau jentik (jumantik) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga. Angka Bebas Jentik (ABJ) digunakan sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru.
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Program PSN DBD dan PJB dilakukan oleh setiap wilayah puskesmas yang ada di Kota Medan, namun hingga saat ini kasus demam berdarah dengue yang ada di Kota Medan masih tinggi. Maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) pada periode Januari-Desember 2012 di Kota Medan.

4 Baca lebih lajut

this PDF file STATUS ANGKA BEBAS JENTIK KOTA BANDA ACEH SEBAGAI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE TAHUN 2014 | Yulidar | BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan 1 SM

this PDF file STATUS ANGKA BEBAS JENTIK KOTA BANDA ACEH SEBAGAI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE TAHUN 2014 | Yulidar | BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan 1 SM

Bila kita merujuk pada angka bebas jentik di Kota Banda Aceh (47,33%) yang masih dibawah angka standar nasional (≥ 95%), ini menampakkan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada masyarakat yang dijadikan lokasi pengamatan atau survei belum maksimal. Apabila kesadaran masyarakat untuk PHBS belum dipahami dan dilaksanakn, maka diduga Kota Banda Aceh akan terus menjadi wilayah yang berpotensi sebagai daerah beresiko tinggi penularan demam berdarah dengue pada tahun- tahun berikutnya .

5 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Persentase Angka Bebas Jentik dengan kejadian DBD Menurut di Tingkat Puskesmas di Kota Medan Tahun 2012 Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std.. Statistic df Sig[r]

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN DENGAN CAKUPAN ANGKA BEBAS JENTIK PADA PETUGAS DBD PUSKESMAS KOTA SEMARANG TAHUN 2010 - UDiNus Repository

HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN DENGAN CAKUPAN ANGKA BEBAS JENTIK PADA PETUGAS DBD PUSKESMAS KOTA SEMARANG TAHUN 2010 - UDiNus Repository

Indikator pencapaian program DBD salah satunya adalah Angka Bebas Jentik. Dalam rangka mencapai tujuan diperlukan adanya manajemen program DBD yang baik diantaranya adalah fungsi manajemen perencanaan. pelaksanaan dan penilaian program. Tanpa adanya perencanaan yang baik dan pelaksanaan dan penilaian kegiatan maka tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai karena ketiganya saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan fungsi manajemen petugas DBD Puskesmas dengan cakupan angka bebas jentik program pemberantasan demam berdarah dengue (P2DBD) di Kota Semarang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PEMETAAN KEJADIAN DBD BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK DAN JENIS INFEKSI VIRUS DENGUE Agus Putra Murdani

PEMETAAN KEJADIAN DBD BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK DAN JENIS INFEKSI VIRUS DENGUE Agus Putra Murdani

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia, dengan daerah terjangkit yang semakin meluas dan angka kesakitan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, bahkan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). IR DBD di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 sebesar 29,42 per 100.000 penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kejadian DBD dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) dan jenis virus dengue berdasarkan pemetaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional-analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Sampel adalah pasien yang datang berobat ke puskesmas dengan gejala demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas berlangsung selama 3-5 hari dan disertai dengan 2 atau lebih tanda- tanda : mual, muntah, bintik perdarahan, nyeri sendi yang berada di wilayah Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 yaitu sebesar 27 pasien.Pengambilam sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dengan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan Kejadian DBD dengan p-value 1,000 yang berarti p-value> 0,05.Infeksi primer maupun infeksi sekunder sebagian besar terjadi di daerah dengan ABJ < 95%.Kesimpulan dari penelitian ini bahwasuatu daerah akan terbebas dari kejadian DBD apabila didukung daerah di sekitarnya juga terbebas dari jentik. Disarankan untuk memberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan secara serempak dan berkesinambungan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Penghuni Rumah terhadap Peraturan Daerah Kota Semarang tentang Pengendalian Penyakit DBD dengan Angka Bebas Jentik (Studi Kasus pada Uji coba Peraturan Daerah di RW II Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Sema

Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Penghuni Rumah terhadap Peraturan Daerah Kota Semarang tentang Pengendalian Penyakit DBD dengan Angka Bebas Jentik (Studi Kasus pada Uji coba Peraturan Daerah di RW II Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Sema

Latar belakang dalam penelitian ini adalah adanya uji coba peraturan daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Sukorejo yang dilakukan pemerintah Kota Semarang untuk meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap penghuni rumah terhadap peraturan daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 dengan ABJ.

1 Baca lebih lajut

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dibutuhkan untuk menurunkan angka penderita DBD. PSN adalah Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan angka bebas jentik (ABJ) dan menurunkan angka penderita demam berdarah di lingkungan masyarakat. Juru pemantau jentik atau Jumantik memiliki peranan penting dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk dan meningkatkan angka bebas jentik di suatu wilayah dalam rangka mewujudkan angka bebas DBD.

2 Baca lebih lajut

STUDI ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DAN INDEKS OVITRAP DI PERUM PONDOK BARU PERMAI DESA BULAKREJO KABUPATEN SUKOHARJO Tri Puji Kurniawan

STUDI ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DAN INDEKS OVITRAP DI PERUM PONDOK BARU PERMAI DESA BULAKREJO KABUPATEN SUKOHARJO Tri Puji Kurniawan

Untuk mengetahui kepadatan vektor nyamuk pada suatu tempat, diperlukan survei yang meliputi suvei nyamuk, survei jentik, dan survei perangkap telur (ovitrap) (Taviv, 2009). Angka bebas jentik didapatkan hasil sebesar 85%. Artinya, dari ke 15 rumah yang diperiksa tersebut masih terdapat jentik nyamuk. Indikator ABJ yang 95 %, di perum dinyatakan masih di bawah indikator yang mana merupakan faktor risiko untuk terjadinya persebaran

5 Baca lebih lajut

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan, keselamatan, rezeki serta semangat hidup dan kesabaran untuk senantiasa berusaha menyelesaikan tanggung jawab sebagaimana mestinya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Peran Jumantik Tehadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017”. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis Efektifitas Program Gerakan Situbondo Bebas Jentik (Gesit Batik) dalam Meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kabupaten Situbondo Tahun 2014 (The Analysis of Effectiveness of The Situbondo Free-Larva Movement Program in Increasing the Free-Larv

Analisis Efektifitas Program Gerakan Situbondo Bebas Jentik (Gesit Batik) dalam Meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kabupaten Situbondo Tahun 2014 (The Analysis of Effectiveness of The Situbondo Free-Larva Movement Program in Increasing the Free-Larv

Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo memiliki suatu program penanggulangan DBD yaitu Gerakan Situbondo Bebas Jentik (Gesit Batik). Program ini dilaksanakan di tiga kelurahan antara lain Kelurahan Mimbaan, Kelurahan Dawuhan dan Kelurahan Patokan yang bertujuan untuk meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah tersebut yang merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi. Sejak dilaksanakannya program Gesit Batik pada tahun 2013, ABJ di tiga wilayah tersebut belum memenuhi target sebesar 95%. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas dari program Gesit Batik melalui pendekatan sistem berdasarkan aspek input, proses dan output. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan objek penelitian adalah pelaksana program Gesit Batik yang terdiri dari Jumantik desa, guru Sekolah Dasar dan petugas Puskesmas serta petugas Dinas Kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa efektivitas program Gesit Batik di tiga kelurahan termasuk dalam kategori “cukup efektif” dengan nilai 56-75%, sedangkan pelaksanaan Gesit Batik di SD termasuk dalam kategori “kurang efektif” dengan nilai sebesar 28.57%.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu. Upaya yang dilakukan diantaranya pelaksanaan penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan jentik nyamuk, pelaksanaan fogging, gerakan 3M plus, dan sosialisasi tentang DBD kepada masyarakat, tetapi angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu masih menunjukkan jumlah kasus yang tinggi. Pihak Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Puskesmas Kedungmundu menjelaskan bahwa penularan DBD dapat terjadi karena kasus tertular dari kasus lain yang sudah terinfeksi sebelumnya di wilayah sekitarnya. Angka Bebas Jentik (ABJ) yang rendah yaitu kurang dari 95% artinya belum mencapai target nasional selama tahun 2010-2014 berturut-turut di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu Pemantauan yang dilakukan dengan menggunakan tabel serta grafik belum bisa menunjukkan tren dan pola spasial. Berdasarkan informasi tersebut diperlukan upaya sebagai acuan program dalam menentukan kebijakan strategi pengendalian vektor secara efektif dan efisien. Teknik dan metodologi yang dapat digunakan sebagai upaya acuan program yang berfungsi untuk analisis kejadian penyakit di permukaan bumi yaitu analisis spasial (Achmadi, 2012:58). Menurut Cromley dan Mc Lafferty (2002) dalam Achmadi (2012:58), analisis spasial merupakan kemampuan umum untuk menyusun atau mengolah data spasial ke dalam berbagai bentuk yang berbeda sedemikian rupa sehingga mampu menambah atau memberikan arti baru atau arti tambahan. Analisis spasial dapat digunakan untuk melakukan analisis persebaran faktor risiko yang ditularkan oleh binatang nyamuk vektor.Perangkat yang digunakan dalam mengumpulkan, menyimpan, menampilkan, dan menghubungkan data spasial dari fenomena geografis tersebut yaitu Sistem Informasi Geografi (SIG) (Achmadi, 2012:58). SIG dapat digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit DBD yang membutuhkan penanganan khusus dan cepat (Kusumadewi, dkk, 2008:39).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3 M plus (menguras, menutup dan mengubur) plus menabur larvasida, penyebaran ikan pada tempat penampungan air, penggerakan juru pemantau jentik (jumantik) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga. Angka Bebas Jentik (ABJ) digunakan sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENGARUH PELATIHAN PEMANTUAN JENTIK MANDIRI TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI DESA SOKARAJA TENGAH KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

PENGARUH PELATIHAN PEMANTUAN JENTIK MANDIRI TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI DESA SOKARAJA TENGAH KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

Hasil: Hasil statistik menunjukkan rata-rata umur responden adalah 38,8 tahun. Responden sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 31 (88,6%), pendidikan SMP sebanyak 21 (60,0%) dan pekerjaan petani sebanyak 13 (37,1%). RT yang paling banyak ditemukan jentik pada pemeriksaan pertama adalah RT 01 sebesar 45% dan yang paling sedikit adalah RT 03 dan 04 yaitu sebesar 56%. Angka bebas jentik yang terbanyak adalah RT 02 sebesar 83% dan paling sedikit adalah RT 03 dan 04 sebesar 100%. Uji paired t test diperoleh nilai p 0,001, artinya ada pengaruh pelatihan jentik mandiri terhadap angka bebas jentik.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...