Angka Bebas Jentik

Top PDF Angka Bebas Jentik:

Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Penghuni Rumah terhadap Peraturan Daerah Kota Semarang tentang Pengendalian Penyakit DBD dengan Angka Bebas Jentik (Studi Kasus pada Uji coba Peraturan Daerah di RW II Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Sema

Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Penghuni Rumah terhadap Peraturan Daerah Kota Semarang tentang Pengendalian Penyakit DBD dengan Angka Bebas Jentik (Studi Kasus pada Uji coba Peraturan Daerah di RW II Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Sema

Latar belakang dalam penelitian ini adalah adanya uji coba peraturan daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Sukorejo yang dilakukan pemerintah Kota Semarang untuk meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap penghuni rumah terhadap peraturan daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 dengan ABJ.

1 Baca lebih lajut

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK

Pendekatan spasial dengan penggunaan SIG penting untuk dilakukan karena dengan menggunakan analisis dalam SIG dapat diketahui kepadatan penduduk dan jentik dengan kekerapan atau angka kasus DBD (Achmadi, 2012:20). Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh M. R., Naim, et al (2014:31) menunjukkan hasil bahwa jarak rata-rata kasus dengan kasus DBD lainnya yaitu kurang dari 55 meter dengan pola cluster terkonsentrasi pada dua area, memiliki nilai ANN sebesar 0, 264, dan menjelaskan bahwa area dengan pola cluster tersebut terjadi pada area dengan populasi yang tinggi di Seremban. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian dengan judul “Analisis Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Angka Bebas Jentik”. Pada penelitian ini untuk mengetahui pola penyebaran kejadian DBD berdasarkan angka bebas jentik dan buffer zone kejadian DBD berdasarkan angka bebas jentik.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN KADER JUMANTIK DALAM UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ROWOSARI

FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN KADER JUMANTIK DALAM UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ROWOSARI

Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan utama masyarakat Internasional. Hasil angka bebas jentik di Kecamatan Tembalang masih dibawah standar (< 95%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi peran kader jumantik dalam upaya peningkatan angka bebas jentik di wilayah kerja Puskesmas rowosari. Jenis penelitian adalah analitik dengan metode survei ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan melibatkan 85 sebagai sampel secara proporsional random sampling.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dibutuhkan untuk menurunkan angka penderita DBD. PSN adalah Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan angka bebas jentik (ABJ) dan menurunkan angka penderita demam berdarah di lingkungan masyarakat. Juru pemantau jentik atau Jumantik memiliki peranan penting dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk dan meningkatkan angka bebas jentik di suatu wilayah dalam rangka mewujudkan angka bebas DBD.

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN DENGAN CAKUPAN ANGKA BEBAS JENTIK PADA PETUGAS DBD PUSKESMAS KOTA SEMARANG TAHUN 2010 - UDiNus Repository

HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN DENGAN CAKUPAN ANGKA BEBAS JENTIK PADA PETUGAS DBD PUSKESMAS KOTA SEMARANG TAHUN 2010 - UDiNus Repository

Indikator pencapaian program DBD salah satunya adalah Angka Bebas Jentik. Dalam rangka mencapai tujuan diperlukan adanya manajemen program DBD yang baik diantaranya adalah fungsi manajemen perencanaan. pelaksanaan dan penilaian program. Tanpa adanya perencanaan yang baik dan pelaksanaan dan penilaian kegiatan maka tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai karena ketiganya saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan fungsi manajemen petugas DBD Puskesmas dengan cakupan angka bebas jentik program pemberantasan demam berdarah dengue (P2DBD) di Kota Semarang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PEMETAAN KEJADIAN DBD BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK DAN JENIS INFEKSI VIRUS DENGUE Agus Putra Murdani

PEMETAAN KEJADIAN DBD BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK DAN JENIS INFEKSI VIRUS DENGUE Agus Putra Murdani

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia, dengan daerah terjangkit yang semakin meluas dan angka kesakitan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, bahkan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). IR DBD di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 sebesar 29,42 per 100.000 penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kejadian DBD dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) dan jenis virus dengue berdasarkan pemetaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional-analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Sampel adalah pasien yang datang berobat ke puskesmas dengan gejala demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas berlangsung selama 3-5 hari dan disertai dengan 2 atau lebih tanda- tanda : mual, muntah, bintik perdarahan, nyeri sendi yang berada di wilayah Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 yaitu sebesar 27 pasien.Pengambilam sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dengan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan Kejadian DBD dengan p-value 1,000 yang berarti p-value> 0,05.Infeksi primer maupun infeksi sekunder sebagian besar terjadi di daerah dengan ABJ < 95%.Kesimpulan dari penelitian ini bahwasuatu daerah akan terbebas dari kejadian DBD apabila didukung daerah di sekitarnya juga terbebas dari jentik. Disarankan untuk memberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan secara serempak dan berkesinambungan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH PELATIHAN PEMANTUAN JENTIK MANDIRI TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI DESA SOKARAJA TENGAH KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

PENGARUH PELATIHAN PEMANTUAN JENTIK MANDIRI TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI DESA SOKARAJA TENGAH KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

Hasil: Hasil statistik menunjukkan rata-rata umur responden adalah 38,8 tahun. Responden sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 31 (88,6%), pendidikan SMP sebanyak 21 (60,0%) dan pekerjaan petani sebanyak 13 (37,1%). RT yang paling banyak ditemukan jentik pada pemeriksaan pertama adalah RT 01 sebesar 45% dan yang paling sedikit adalah RT 03 dan 04 yaitu sebesar 56%. Angka bebas jentik yang terbanyak adalah RT 02 sebesar 83% dan paling sedikit adalah RT 03 dan 04 sebesar 100%. Uji paired t test diperoleh nilai p 0,001, artinya ada pengaruh pelatihan jentik mandiri terhadap angka bebas jentik.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Karakteristik Juru Pemantau Jentik (jumantik) dengan Status Angka Bebas Jentik (ABJ) DI Kelurahan Wonotingal Wilayah Kerja Puskesmas Kagok Tahun 2014.

Hubungan Antara Karakteristik Juru Pemantau Jentik (jumantik) dengan Status Angka Bebas Jentik (ABJ) DI Kelurahan Wonotingal Wilayah Kerja Puskesmas Kagok Tahun 2014.

Berdasarkan data ABJ kota semarang tahun 2013 kelurahan wonotingal merupakan kelurahan dengan status ABJ paling rendah se-kota semarang yaitu sebanyak 23,12% dari 186 gedung (rumah) yang diperiksa ada sebanyak 143 gedung yang positif jentik sehingga belum mencapai target nasional (≥ 95%) yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan pemecahan masalah yaitu dengan adanya peran serta dari jumantik yang diharapkan dapat meningkatkan Status Angka Bebas Jentik (ABJ) diwilayah ini.

11 Baca lebih lajut

this PDF file STATUS ANGKA BEBAS JENTIK KOTA BANDA ACEH SEBAGAI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE TAHUN 2014 | Yulidar | BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan 1 SM

this PDF file STATUS ANGKA BEBAS JENTIK KOTA BANDA ACEH SEBAGAI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE TAHUN 2014 | Yulidar | BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan 1 SM

Keberhasilan kegiatan PSN dapat diukur dengan meningkatnya angka bebas jentik (ABJ). Data peningkatan ABJ diperoleh dari pemeriksaan jentik secara berkala (PJB). Agar daerah pemukiman aman dari ancaman penyakit DBD maka ABJ harus diupayakan terus- menerus sampai waktu tak tertentu dengan kegiatan PSN yang berkesinambungan. Selain itu, angka bebas jentik juga merupakan indikator perilaku hidup bersih sehat(PHBS) yang baik dalam satu lingkungan. Angka bebas jentik akan dapat dikategorikan baik jika dapat mencapai 95%. Karena hal ini dapat diartikan secara sederhana bahwa jika dari 100 rumah warga yang di survei, maksimal 5 rumah yang hanya didapatkan jentik [3].
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Peran Jumantik Terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung Kota Adminstrasi Jakarta Timur Tahun 2017

Partisipasi PSN memiliki pengaruh yang bermakna dengan penerapan jentik nyamuk. Data hasil analisis bivariat menunjukkan nilai RP= 3,103 (95%CI=1,869-5,149) dengan nilai p= 0,0001. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan masyarakat yang memiliki tingkat partisipasi rendah terhadap PSN terdapat penerapan jentik nyamuk sebesar 3,103 kali dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki partisipasi tinggi terhadap PSN. Dengan demikian maka tingkat partisipasi PSN memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penerapan jentik nyamuk (Setyobudi, 2011).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Periode Januari-Desember Tahun 2012 Di Kota Medan

Program PSN DBD dan PJB dilakukan oleh setiap wilayah puskesmas yang ada di Kota Medan, namun hingga saat ini kasus demam berdarah dengue yang ada di Kota Medan masih tinggi. Maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) pada periode Januari-Desember 2012 di Kota Medan.

4 Baca lebih lajut

STUDI ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DAN INDEKS OVITRAP DI PERUM PONDOK BARU PERMAI DESA BULAKREJO KABUPATEN SUKOHARJO Tri Puji Kurniawan

STUDI ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) DAN INDEKS OVITRAP DI PERUM PONDOK BARU PERMAI DESA BULAKREJO KABUPATEN SUKOHARJO Tri Puji Kurniawan

Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah, terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Data penderita DBD pada UPT Puskesmas Sukoharjo tahun 2014 Sebanyak 22 kasus dengan IR 0,08% dan tahun 2015 sebanyak 26 kasus IR 0,05%. Data tersebut yang paling tinggi kasusnya berada pada Desa Bulakrejo 18 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk pemantauan jentik nyamuk dengan metode visual dan menganalisis Nilai ABJ di Perum Pondok Baru Permai Bulakrejo Sukoharjo. Penelitian ini bersifat Survey Analitik rancangan yang digunakan dengan survei Cross Sectional. Pengumpulan sampel dilakukan dengan cara memantau keberadaan jentik dan pemasangan ovitrap untuk mengetahui indeks ovitrap dan nilai ABJ pada 100 rumah di Perum Pondok Baru Permai Bulakrejo Sukoharjo kemudian dihitung untuk ABJ nya. Dengan indikator amannya 95%. Hasil Kepadatan Jentik dengan cara pemantauan jentik metode visual nyamuk dengan perhitungan container index didapatkan hasil sebesar 15%, Nilai Angka Bebas jentik sebesar 85% dan indeks ovitrap sebesar 100% di Perum Pondok Baru Permai Desa Bulakrejo Kabupaten Sukoharjo.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBENTUKAN MAWAS DBD TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI RW II DESA KARANGGONDANG KECAMATAN MLONGGO KABUPATEN JEPARA

PENGARUH PEMBENTUKAN MAWAS DBD TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI RW II DESA KARANGGONDANG KECAMATAN MLONGGO KABUPATEN JEPARA

awalnya tidak tahu menjadi tahu, awalnya tidak mengerti menjadi mengerti. Informasi sangat penting untuk menambah pengetahuan atau wawasan seseorang yang kemudian akan berpengaruh terhadap sikap dan terwujud dalam sebuah tindakan. Pada era globalisasi ini, informasi merupakan hal yang sangat penting demi meningkatkan pengetahuan dan perspektif terhadap dunia luar atau lingkungan. Begitu juga halnya dengan informasi kesehatan yang diperoleh melalui penyuluhan kesehatan sangat dibutuhkan agar kondisi kesehatan individu dapat dipertahankan. Penyuluhan kesehatan sangatlah penting untuk mengurangi angka penyebaran penyakit, kesakitan, dan kematian, dalam hal ini adalah penyakit demam berdarah dengue. Kurangnya informasi tentang DBD, membuat masyarakat rentan terhadap bahaya penyakit tersebut. Upaya untuk menghindari keadaan sakit, masyarakat diharapkan mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatannya dan mencegah supaya tidak terserang DBD (Fitriani, 2011).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN KEPADATAN PENDUDUK DAN ANGKA BEBAS JENTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU TAHUN 2015

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN KEPADATAN PENDUDUK DAN ANGKA BEBAS JENTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU TAHUN 2015

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD yaitu faktor host, lingkungan terdiri atas kondisi geografi (ketinggian tempat, curah hujan, angin, kelembaban, serta musim) dan kondisi demografi (kepadatan penduduk, mobilitas, perilaku masyarakat, dan sosial ekonomi penduduk), dan agent (Zulkoni, 2011:149). Morbiditas dan mortalitas infeksi virus Dengue juga dipengaruhi oleh kepadatan vektor nyamuk (Irianto, 2014:150). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada Februari 2015, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu. Upaya yang dilakukan diantaranya pelaksanaan penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan jentik nyamuk, pelaksanaan fogging, gerakan 3M plus, dan sosialisasi tentang DBD kepada masyarakat, tetapi angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu masih menunjukkan jumlah kasus yang tinggi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MODEL ONE HOME ONE JUMANTIK (OHOJu) SEBAGAI PENGEMBANGAN JUMANTIK MANDIRI DALAM UPAYA PENINGKATAN SELF RELIANCE DAN ANGKA BEBAS JENTIK DI KELURAHAN KARANGREJO KOTA SEMARANG

MODEL ONE HOME ONE JUMANTIK (OHOJu) SEBAGAI PENGEMBANGAN JUMANTIK MANDIRI DALAM UPAYA PENINGKATAN SELF RELIANCE DAN ANGKA BEBAS JENTIK DI KELURAHAN KARANGREJO KOTA SEMARANG

“OHOJu” atau One Home One Jumantik merupakan suatu model pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan dari konsep self jumantik. Self jumantik merupakan juru pemantau jentik yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat untuk melindungi wilayahnya dari jentik nyamuk demam berdarah, dengan teknik dasar 3M plus, yaitu menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas, dan adapun yang dimaksud dengan plus adalah bentuk kegiatan seperti menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, menanam tanaman pengusir nyamuk, memelihara ikan yang dapat memakan jentik nyamuk, dan menghindari daerah gelap di dalam rumah agar tidak ditempati nyamuk dengan mengatur ventilasi dan pencahayaan. Dengan adanya “OHOJu” , diharapkan setiap rumah memiliki satu kader yang akan selalu memantau jentik nyamuk di rumahnya sendiri, serta dapat meningkatkan self reliance dari masyarakat di Kelurahan Karangrejo.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DENGUE OLEH KADER KESEHATAN TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK.

PENGARUH PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DENGUE OLEH KADER KESEHATAN TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK.

Kegiatan PJB bertujuan memantau adanya jentik nyamuk yang dilakukan di rumah dan tempat umum guna mengetahui keadaan populasi jentik nyamuk penular penyakit DBD. Keberhasilan pelaksanaan PJB ditinjau dari nilai ABJ. Nilai ABJ adalah prosentase rumah atau TTU yang tidak ditemukan jentik, yaitu dengan membandingkan jumlah rumah atau bangunan yang tidak ditemukan jentik dibagi jumlah rumah yang diperiksa (Depkes, 1999). Nilai ABJ di Desa Kragilan ditunjukkan dengan nilai rata-rata ABJ di rumah-rumah yang dipantau, dimana sebagian besar yaitu 60 kader (78%) memiliki nilai ABJ 95% atau lebih dan sisanya 17 kader (22%) memiliki nilai ABJ kurang dari 95%. Kondisi ini menunjukkan bahwa Desa Kragilan merupakan daerah yang bebas dari resiko untuk terjadinya epidemi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hasyimi (2004), nilai ABJ yang relatif rendah (kurang dari 95%) memperbesar peluang terjadinya transmisi virus DBD.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMBENTUKAN MAWAS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) Siska Yunita Arsula

PEMBENTUKAN MAWAS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) Siska Yunita Arsula

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pelaksanaan program pengendalian DBD. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pemantauan jentik rutin oleh jumantik dari kalangan ibu rumah tangga tidak berjalan optimal, sehingga dilakukan intervensi kepada remaja sebagai jumantik secara kelompok dan bergilir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pembentukan MAWAS DBD (Remaja Waspada DBD) terhadap Angka Bebas Jentik di RW II Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Jenis penelitian ini adalah pre- experimental design dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest design. Cara pengambilan sampel adalah stratified random sampling. Jumlah sampel sebanyak 117 remaja. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembentukan MAWAS DBD di RW II Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Masyarakat yang bertugas untuk PJR harus berjalan optimal agar warga termotivasi untuk melakukan PSN. Dinas kesehatan dan puskesmas juga diharapkan membuat kebijakan program pengendalian DBD yang melibatkan peran serta masyarakat.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK DEMAM BERDARAH DENGUE (ABJ DBD) MELALUI PENGGERAKAN JURU PEMANTAU JENTIK (JUMANTIK) DI RW I KELURAHAN DANYANG KECAMATAN PURWODADI KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2012

UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK DEMAM BERDARAH DENGUE (ABJ DBD) MELALUI PENGGERAKAN JURU PEMANTAU JENTIK (JUMANTIK) DI RW I KELURAHAN DANYANG KECAMATAN PURWODADI KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2012

Nyamuk Aedes aegypti yang aktif pada siang hari biasanya meletakkan telur dan berbiak pada tempat-tempat penampungan air bersih atau air hujan seperti bak mandi, tangki penampungan air, vas bunga (di rumah, sekolah, kantor, atau perkuburan), kaleng-kaleng atau kantung-kantung plastik bekas, di atas lantai gedung terbuka, talang rumah, bambu pagar, kulit-kulit buah seperti kulit buah rambutan, tempurung kelapa, ban-ban bekas, dan semua bentuk kontainer yang dapat menampung air bersih. Jentik-jentik nyamuk dapat terlihat berenang naik turun di tempat-tempat penampungan air tersebut (Dantje T. Sembel, 2009: 53). 2.1.2.4 Perilaku Nyamuk Aedes aegypti
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Modifikasi Ovitrap terhadap Kepadatan Nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Siopat Suhu Kota Pematang Siantar

Pengaruh Modifikasi Ovitrap terhadap Kepadatan Nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Siopat Suhu Kota Pematang Siantar

Hal ini disebabkan dengan memakai ovitrap pengendalian terhadap nyamuk Aedes aegypti dapat membantu dalam menurunkan container yang positif ada jentik. Keadaan ini sesuai dengan pendapat Sayono (2008) yaitu salah satu cara pengendalian nyamuk Aedes aegypti yang berhasil menurunkan densitas vektor adalah penggunaan perangkap telur (ovitrap). Tetapi ovitrap tanpa atraktan hanya bias menurunkan Container Index (CI) saja tetapi tidak untuk House Index (HI) dan Angka Bebas jentik (ABJ). Hal ini memungkinkan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti akan bertambah. Hal ini sesuai dengan Sari (2012) yang mengutip dari WHO, kepadatan nyamuk dikatakan tinggi dan berisiko tinggi untuk penularan DBD jika HI dan CI ≥5% serta nilai BI ≥20%. Sedangkan ABJ menurut standar nasional adalah ≥ 95%. Tingginya kepadatan populasi nyamuk akan mempengaruhi distribusi penyebaran penyakit DBD.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbedaan Indeks Entomologi Pemantauan Jumantik Dewasa dan Jumantik Anak di Dusun Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Perbedaan Indeks Entomologi Pemantauan Jumantik Dewasa dan Jumantik Anak di Dusun Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi permasalahan di Indonesia. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dapat membantu menurunkan kepadatan vektor. Pelaksanaan PSN di monitoring dengan menggerakkan kader juru pemantau jentik (jumantik) di masyarakat. Di Mejing Kidul pemantauan dilakukan oleh anak anak sejak tahun 2012. Penelitian ini ingin membandingkan perbedaan indeks entomologi hasil pemantauan jumantik dewasa dan pemantauan jumantik anak di dusun Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Penelitian ini merupakan penelitan observasional analitik dengan desain crossectional. Populasi dalam studi adalah masyarakat di Dusun Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Penelitian ini menggunakan total sampel data sekunder. Data dianalisis menggunakan uji independent T tes dan regresi linier. Berdasarkan hasil penelitian, nilai House index (HI), Container index (CI), Breteau index (BI) dan Angka Bebas Jentik hasil pemantauan jumantik dewasa 14,99%, 6,92%, 19,01 dan 85,01%. House index(HI), Container index (CI), Breteau index (BI) dan angka bebas jentik hasil pemantauan jumantik anak 21,35%, 11,39%, 27,89 dan 78,65%. Hasil analisis statistik menggunakan uji T tes menunjukkan House index (HI) p-value 0,009, Container index (CI) p-value 0,028, Breteau Index (BI) p-value 0,038 dan Angka Bebas Jentik p-value = 0,009. Hasil tersebut menunjukan ada perbedaan rata-rata indeks entomologi hasil pemantauan jumantik dewasa dan pemantauan jumantik anak. Terdapat perbedaan rata-rata HI, CI, BI dan angka bebas jentik yang dipantau jumantik dewasa dan anak-anak.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...