asas equality before the law

Top PDF asas equality before the law:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Implementasi Asas Equality Before The Law Terhadap Narapidana Dalam Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Sragen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Implementasi Asas Equality Before The Law Terhadap Narapidana Dalam Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Sragen

Ironisnya dalam praktek hukum di Indonesia masih diskriminatif, equality before the law tidak diterapkan secara equal bahkan sering kali diabaikan, kepentingan kelompok tertentu lebih dikedepankan dibandingkan kepentingan publik. Penerapan dari asas equality before the law dilaksanakan oleh aparat penegak hukum, salah satunya yaitu Lembaga Pemasyarakatan. Pelaksanaan pidana penjara dengan sistem pemasyarakatan memang merupakan bagian dari satu rangkaian penegakan hukum pidana atau bagian dari rangkaian sistem peradilan pidana (criminal justice system) di Indonesia (Romli Atmasasmita, 1995: 157). Di dalam pasal 5 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan menyatakan bahwa : Sistem pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas pengayoman, persamaan perlakukan dan pelayanan, pendidikan, pembimbingan, penghormatan harkat dan martabat manusia, kehilangan kemerdekaan adalah salah satu derita serta terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang- orang tertentu. Salah satu asas diatas yakni asas persamaan perlakuan dan pelayanan inilah yang menjadi wujud berlakunya asas equality before the law di dalam lembaga pemasyarakatan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS PERBANDINGAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN DAN PELAKU KEJAHATAN DIDASARKAN ATAS ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW SKRIPSI

TINJAUAN YURIDIS PERBANDINGAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN DAN PELAKU KEJAHATAN DIDASARKAN ATAS ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW SKRIPSI

Wujud penghormatan hak asasi manusia dalam hukum pidana, hal ini bisa kita lihat dari perlindungan hukum yang diberikan oleh hukum pidana tersebut atas diri pelaku kejahatan dan korban kejahatan dalam beberapa ketentuan perundang- undangan yang berlaku. Perlindungan hukum yg diberikan oleh Negara baik kepada korban dan pelaku kejahatan harus didasarkan atas asas equality before the law atau asas persamaaan dalam hukum. Akan tetapi masalahnya hak-hak dari para pihak dalam peristiwa pidana tersebut seringkali tidak dipenuhi oleh aparat penegak hukum. Dalam kasus Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional, Jaksa meminta penyidik menambahkan BAP dengan ketentuan pasal 27 dan pasal 45 UU ITE dan Jaksa menjerat Prita dengan pasal tersebut sementara dalam kenyataannya penambahan pasal tersebut tidak dibuat langsung dalam BAP tapi hanya dibuat dibagian sampul BAP penyidik tersebut. Demikian juga terhadap korban pelecehan seksual sekarang ini. Banyak pemberitaan yang melanggar privasi dari korban sehingga korban bisa terganggu dalam hal psikis. Adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap korban kejahatan menurut UU Nomor 13 tahun 2006, bagaimana perlindungan hukum yang diberikan kepada pelaku kejahatan menurut KUHAP, dan bagaimana perbandingan perlindungan korban dan pelaku kejahatan didasarkan pada asas equality before the law.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A WIROGUNAN YOGYAKARTA.

PENDAHULUAN IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A WIROGUNAN YOGYAKARTA.

Seringkali Lembaga Pemasyarakatan ini disalah gunakan oleh aparat penegak hukum itu sendiri, sehingga asas Equality Before The Law diabaikan begitu saja, tanpa melihat dampak yang terjadi sebagai contoh terungkapnya sel wanita yang sangat mencengangkan publik yaitu penjara saja bisa dibuat taman rekreasi karena bisa mengajak anak, cucu, keluarga untuk masuk kedalam ruang penjara, bahkan perabot untuk momong cucupun bisa dibawa

14 Baca lebih lajut

ANALISIS IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DALAM PENEGAKAN HUKUM (Studi Kasus Hate Speech di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang)

ANALISIS IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DALAM PENEGAKAN HUKUM (Studi Kasus Hate Speech di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang)

Asas equality before the law diwujudkan dalam sistem peradilan pidana. Tetapi fakta hari ini menunjukkan banyaknya permasalahan hukum yang mulai menggerogoti asas-asas tersebut sehingga proses penegakan hukum pun mulai berjalan tidak efektif. Adanya pembedaan perlakuan oleh pengadilan (Hakim) terhadap bentuk penahananbagi terdakwa menjadi bukti asas equality before the law tak lagi menjadi pengawal sistem peradilan pidana untuk menegakkan hukum. Sesuai dengan asas equality before the law, hakim harus bertindak seimbang dalam memipin sidang di pengadilan dan dengan pertimbangan asas ini maka prinsip kesamaan di depan hukum dengan serta merta juga akan terpenuhi, bagaimana kedudukan semua subjek hukum mendapat perlakuan yang sama tanpa ada diskriminasi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

SKRIPSI IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW  DI DALAM  IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A WIROGUNAN YOGYAKARTA.

SKRIPSI IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A WIROGUNAN YOGYAKARTA.

Dengan mengucapkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan dan kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum/ skripsi ini dengan judul : Implementasi Asas Equality Before The Law di dalam lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Wirogunan Yogyakarta.

12 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Perbandingan Perlindungan Hukum Terhadap Korban dan Pelaku Kejahatan Didasarkan Atas Asas Equality Before The Law

Tinjauan Yuridis Perbandingan Perlindungan Hukum Terhadap Korban dan Pelaku Kejahatan Didasarkan Atas Asas Equality Before The Law

Wujud penghormatan hak asasi manusia dalam hukum pidana, hal ini bisa kita lihat dari perlindungan hukum yang diberikan oleh hukum pidana tersebut atas diri pelaku kejahatan dan korban kejahatan dalam beberapa ketentuan perundang- undangan yang berlaku. Perlindungan hukum yg diberikan oleh Negara baik kepada korban dan pelaku kejahatan harus didasarkan atas asas equality before the law atau asas persamaaan dalam hukum. Akan tetapi masalahnya hak-hak dari para pihak dalam peristiwa pidana tersebut seringkali tidak dipenuhi oleh aparat penegak hukum. Dalam kasus Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional, Jaksa meminta penyidik menambahkan BAP dengan ketentuan pasal 27 dan pasal 45 UU ITE dan Jaksa menjerat Prita dengan pasal tersebut sementara dalam kenyataannya penambahan pasal tersebut tidak dibuat langsung dalam BAP tapi hanya dibuat dibagian sampul BAP penyidik tersebut. Demikian juga terhadap korban pelecehan seksual sekarang ini. Banyak pemberitaan yang melanggar privasi dari korban sehingga korban bisa terganggu dalam hal psikis. Adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap korban kejahatan menurut UU Nomor 13 tahun 2006, bagaimana perlindungan hukum yang diberikan kepada pelaku kejahatan menurut KUHAP, dan bagaimana perbandingan perlindungan korban dan pelaku kejahatan didasarkan pada asas equality before the law.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

PENUTUP  IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A WIROGUNAN YOGYAKARTA.

PENUTUP IMPLEMENTASI ASAS EQUALITY BEFORE THE LAW DI DALAM LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A WIROGUNAN YOGYAKARTA.

1. Implementasi asas equality before the law di dalam lembaga pemasyarakatan kelas II A Wirogunan Yogyakarta, ternyata belum dapat sepenuhnya diterapkan karena masih ada perbedaan perlakuan yang dilakukan oleh oknum petugas kepada Narapidana. Sebagai contoh saat kunjungan keluarga mereka yang mampu memberikan uang pelican dapat bertemu dengan Narapidana secara bebas tanpa dibatasi oleh hari dan waktu.

6 Baca lebih lajut

Social System Development In Anticipating Unpredictable Occurrence And Poverty Alleviation.

Social System Development In Anticipating Unpredictable Occurrence And Poverty Alleviation.

The problems above could not be solved only by government but all components should be involved. There are two strategies approaches to solve the problems, they are macro and micro strategies. The macro strategies are to develop the economic growth, early warning system, and social security system. The micro strategy, especially at the local level, is to strengthening social system. Social system can be described by intercommunity relationship (in or out of community) that would make good foundation to build social cohesion, economic relationship, reward and punishment in the community, and so on. Therefore, the social system can be the first instrument to prevent from unpredictable occurrence and poverty alleviation. The basic of social system are community based development.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hukum dan Stratifikasi Sosial dan

Hukum dan Stratifikasi Sosial dan

Keadilan adalah milik setiap orang. Setiap orang berhak merasakan sebuah keadilan termasuk juga keadilan hukum. Sebagaimana juga yang terdapat dalam sebuah asas hukum yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum (equality before the law). Hukum tidak memandang kaya atau miskinnya seseorang. Setiap orang baik kaya ataupun miskin punya hak yang sama untuk merasakan keadilan hukum. Namun, pada kenyataanya, tidak demikian. Terkadang terkesan bahwa hukum lebih berpihak pada kaum strata atas. Lapisan kelas atas masih dianggap sebagai personifikasi dari sebuah struktur dalam masyarakat. Termasuk juga struktur hukumnya. Yang menentukan hukum adalah kaum kalangan atas dan kaum strata bawah dianggap sebagai alat struktur dan pelaksana dari struktur.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Terhadap Pemberian Remisi Kepada Narapidana Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Dikaitkan Dengan Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

Tinjauan Yuridis Terhadap Pemberian Remisi Kepada Narapidana Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Dikaitkan Dengan Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

Berkaitan dengan hak remisi ini dalam perkembangannya menuai pro dan kontra. Pihak pro menyatakan bahwa remisi sebagai hak narapidana bekerja sejalan dengan konsep Ticket of Leave (penjara sistem Irlandia) dimana pembinaan dalam Pemasyarakatan berorientasi mengedepankan kesadaran pribadi Narapidana untuk berbenah diri sehingga remisi merupakan bentuk reward atas prestasi kesadaran pribadi tersebut. Pihak yang kontra menyatakan bahwa hal ini sangat tidak efektif karena akan cenderung kepada disparitas pemidanaan terutama yang berpotensi memunculkan stigma unequally before the law, hal ini terutama disoroti pada Extraordinary crime, ditambah lagi dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan diman di dalamnya terdapat kebijakan moratorium remisi (tentang pengetatan remisi terhadap narapidana tindak pidana luar biasa) pada tanggal 12 November 2012. 10
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Tinjauan Yuridis Terhadap Pemberian Remisi Kepada Narapidana Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Dikaitkan Dengan Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Tinjauan Yuridis Terhadap Pemberian Remisi Kepada Narapidana Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Dikaitkan Dengan Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

Berkaitan dengan hak remisi ini dalam perkembangannya menuai pro dan kontra. Pihak pro menyatakan bahwa remisi sebagai hak narapidana bekerja sejalan dengan konsep Ticket of Leave (penjara sistem Irlandia) dimana pembinaan dalam Pemasyarakatan berorientasi mengedepankan kesadaran pribadi Narapidana untuk berbenah diri sehingga remisi merupakan bentuk reward atas prestasi kesadaran pribadi tersebut. Pihak yang kontra menyatakan bahwa hal ini sangat tidak efektif karena akan cenderung kepada disparitas pemidanaan terutama yang berpotensi memunculkan stigma unequally before the law, hal ini terutama disoroti pada Extraordinary crime, ditambah lagi dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan diman di dalamnya terdapat kebijakan moratorium remisi (tentang pengetatan remisi terhadap narapidana tindak pidana luar biasa) pada tanggal 12 November 2012. 10
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Putusan Pengadilan Agama Sebelum Dan Sesudah Berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989

Putusan Pengadilan Agama Sebelum Dan Sesudah Berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989

decision, and able to give sense of justice to the people who seek justice, especially about inheritance and gift decisions, Like that also presentation of the bailiff so Islamic Court decision is more strong, authority and powerful. The obstacles about execution of Islamic Court decision before validity the Law Number 7 of 1989 is caused giving back of the decision which is strengthened too late, but at last it can be overcome after made some approaches. But after, validity the Law Number 7 of 1989 there is not bailiff, so the execution is done in ex opicio way by the clerk or acting bailiff, the legislative and executive sides to omit choice of law especially for Moslems' inheritance cases.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Asas Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Dalam Asuransi Syari''ah

Asas Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Dalam Asuransi Syari''ah

H a s i l p e n e l i t i a n m e n u n j u k k a n b a h w a l a n d a s a n f i l o s o f i s d a l a m b e r m u a m a l a h , termasuk juga asuransi syariah adalah didasarkan pada nilai-nilai ketauhidan Keadilan atau Keseimbangan, Kebebasan, dan Pertanggungjawaban. Dan filosofis dari asuransi syariah adalah didasarkan pada nilai-nilai semangat tolong menolong, bekerjasama dan proteksi terhadap peristiwa y ang me mb awa kerug ian . Asas-asas perlindungan hukum terhadap nasabah dalam asuransi syariah dalam konteks syariah yaitu asas saling bertanggung jawab, asas saling membantu dan bekerja sama, asas saling melindungi berbagai kesusahan, asas m e n g h i n d a r i u n s u r g h a r a r , m a i s i r d a n r i b a . B e n t u k p e n e r a p a n a s a s - a s a s s y a r i a h berhubungan dengan asas perlindungan hukum terhadap nasabah dalam asuransi syariah umumnya dan asuransi takaful khususnya adalah dari perjanjian atau polis asuransi dan s y ar a t u mu m p o l i s y a ng d ik e lu a rk a n ol c h A su r a n si T a k a ful Ke l u a rg a s end i ri , k a r ena m e n u a n g k a n n y a d a l a m p e r j a n j i a n a t a u p o l i s , s e h i n g g a a t u r a n s y a r i a h t e r s e b u t d a p a t mengikat kepada pihak dan nasabah mendapatkan perlindungan hukum, karena “Semua p e r j a n j i a n y a n g d i b u a t s e c a r a s a h b e r l a k u s e b a g a i u n d a n g - u n d a n g b a g i m e r e k a y a n g membuatnya” (KUHPerdata Pasal 1338).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Ethnicity and educational policies in Ma

Ethnicity and educational policies in Ma

The 1959 Constitution of Brunei basically recognises the Sultan as the absolute ruler of the semi- independent nation. The British continued to control defence and foreign affairs in the interim period between limited self-government in 1959 and full independence in 1984. The 1959 Constitution provided for the establishment of a partially elected legislative body to assist and advise the Sultan. Unfortunately, the opposition political party – Partai Rakyat Brunei – initiated an unsuccessful rebellion in 1962, ostensibly to fully assert the people’s mandate. The Brunei Rebellion was swiftly crushed by the British Army. Immediately after that, the Sultan declared emergency rule and dissolved the legislative assembly. Under emergency rule, civil law was suspended and the Sultan ruled by decree. Until today, the emergency declaration has not been rescinded. The legislative assembly of Brunei was finally restored in 2004. Unlike in 1959, when some members of the legislative council were elected, all members of the legislative council are now appointed by the Sultan. The unelected legislative assembly serves only as an advisory body to assist the absolute sovereign monarch of Brunei. The present ruler, Sultan Hassanal Bolkiah, is the 29 th Sultan of Brunei.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

A RESEARCH NOTE: THE IMPACT OF ACCOUNTING METHODS ON THE QUALITY OF EARNINGS | Suwardjono | Journal of Indonesian Economy and Business 6625 11404 1 PB

A RESEARCH NOTE: THE IMPACT OF ACCOUNTING METHODS ON THE QUALITY OF EARNINGS | Suwardjono | Journal of Indonesian Economy and Business 6625 11404 1 PB

Bandyopadhyay (1994) addresses the earnings quality issue by examining whether SE and FC earnings are priced differently by the market during 1982-1990 period. He finds that the pooled cross-sectional earnings response coefficients (ERCs) of SE firms are greater than those of FC firms over the entire sample period. Using The Value Line predictive measure, he shows that his SE and FC sample firms do differ in terms of earnings predictability. The mean SE earnings predictability is statistically greater than the mean FC earnings predictability at  = 0,05. The overall results suggest that the quality of SE earnings is superior to FC earnings. The findings support the early FASB’s argument that SE earnings are more useful to the market. Using cross-sectional regression, Suwardjono (2003) [hereafter SWD1] supports this finding. On the other hand, Duchac and Douthett (1995) examine how the choice between FC and SE methods of accounting affects the value relevance of earnings in the oil and gas industry. By estimating book valuation models and using data from COMPUSTAT for the years 1982-1990, they measure the strength of the association between annual security returns and earnings levels. Their results show that the association is statistically stronger (significant at  = 0,05) for FC firms than for SE firms in periods of declining oil prices and reduced exploration activities (1986-1990). The results support the argument advanced by Pincus (1993) that an accounting method (in this case FC) is chosen to reflect managers’ private information and expectations about the economic prospects of their firms. In other words, managers should have discretion to choose SE or FC to reflect managers’ private information and expectation about the firms’ prospects.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Testing the Equality of Covariance Opera

Testing the Equality of Covariance Opera

The paper is organized as follows. Section 2 introduce the notation and review some basic concepts which are used in later sections. Section 3 introduces the test statistics for the two sample problem. Its asymptotic distribution under the null hypothesis is established in Section 3.1 while a bootstrap test is described in Section 3.2. An important issue is to describe the set of alternatives that the proposed statistic is able to detect. For that purpose, the asymptotic distribution under a set of contiguous alternatives based on the functional common principal component model is studied in Section 3.3. Finally, an extension to several populations is provided in Section 4. Proofs are relegated to the Appendix.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Tindakan Penyadapan Badan Intelijen Negara   Terhadap Orang Yang Sebagai Permulaan Diduga Melakukan Kegiatan Terorisme

Tindakan Penyadapan Badan Intelijen Negara Terhadap Orang Yang Sebagai Permulaan Diduga Melakukan Kegiatan Terorisme

Universal Declaration of Human Right (UDHR) dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa setiap orang memiliki hak-hak yang sama (all human beings are equal in rights). Dilihat dari pasal ini, maka yang diduga melakukan terorisme itu sama dengan warga sipil yang mana terhadap warga sipil sebelum ditentukan kesalahannya terlebih dulu dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum yang tetap. Pasal 1 UDHR ini selanjutnya dikonkritisasikan dalam persamaan kedudukan dihadapan hukum (equality before the law) dalam pasal 7 serta asas praduga tak bersalah (presumption of inocence) pada pasal 11 ayat 1 UDHR. Ketentuan pasal 7 UDHR antara lain menegaskan setiap orang adalah sama di hadapan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa perbedaan ( all men are equal before the law and are entitled without any discrimination to equal protection of the law). 45
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Tentang Peran Lembaga Bantuan Hukum Dalam Penanganan Kasus Hukum Perdata (Studi pada Lembaga Bantuan Hukum di Surakarta).

PENDAHULUAN Tinjauan Tentang Peran Lembaga Bantuan Hukum Dalam Penanganan Kasus Hukum Perdata (Studi pada Lembaga Bantuan Hukum di Surakarta).

Sekarang ini Indonesia telah meratifikasi kovenan Internasional tentang hak- hak sipil dan politik (Kovenan Hak-hak Sipil – Internasional Covenant on Civil and Political Right ), dalam pasal 16 serta Pasal 26 Konvensi itu menjamin akan persamaan kedudukan didepan hukum ( equality before the law ). Semua orang berhak atas perlindungan dari hukum serta harus dihindarkan adanya diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik berbeda, nasional atau asal-muasal kebangsaan, kekayaan, kelahiran atau status yang lainnya. 3
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENEGAKAN HUKUM OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) KEHUTANAN TERHADAP TINDAK PIDANA PENGERJAAN KAWASAN HUTAN SECARA TIDAK SAH di PROVINSI LAMPUNG

PENEGAKAN HUKUM OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) KEHUTANAN TERHADAP TINDAK PIDANA PENGERJAAN KAWASAN HUTAN SECARA TIDAK SAH di PROVINSI LAMPUNG

Menurut Romli Atmasasmita 37 , sistem peradilan pidana merupakan suatu jaringan (network) peradilan yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana utamanya, baik hukum pidana materil, hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana, namun demikian kelembagaan substansial ini harus dilihat dalam kerangka atau konteks sosial. Sifatnya yang terlalu formal apabila dilandasi hanya untuk kepentingan hukum saja akan membawa bencana berupa ketidakadilan, dengan demikian apa yang dikatakan sebagai precise justice, maka ukuran-ukuran yang bersifat materiil, yang nyata-nyata dilandasi oleh asas-asas keadilan yang bersifat umum benar-benar harus diperhatikan dalam penegakan hukum.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUKUM ACARA PIDANA

HUKUM ACARA PIDANA

Asas tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan, karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya,

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...