Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Top PDF Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan:

Undangan untuk kepala sekolah

Undangan untuk kepala sekolah

Dengan ini kami beritahukan bahwa Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI) mendapat mandat dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi untuk merumuskan kurikulum program sarjana (S1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Berdasarkan hal tersebut di atas kami mohon Bapak/ Ibu Kepala Sekolah berkenan mendelegasikan guru PKn/PPKn untuk mengikuti kegiatan tersebut sebagai peserta. Adapun kegiatan akan dilaksanakan pada:

2 Baca lebih lajut

Asosiasi PPKn Indonesia | Semiloka Nasional Pembahasan Kurikulum S1 PPKn berorientasi KKNI

Asosiasi PPKn Indonesia | Semiloka Nasional Pembahasan Kurikulum S1 PPKn berorientasi KKNI

Dengan ini kami beritahukan bahwa Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI) mendapat mandat dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi untuk merumuskan kurikulum program sarjana (S1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Berdasarkan hal tersebut di atas kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr untuk hadir pada:

2 Baca lebih lajut

Undangan Semnas Kurikulum 20132

Undangan Semnas Kurikulum 20132

Dalam rangka menyukseskan persiapan dan pelaksanaan kurikulum 2013, Kami dari Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (AP3KnI) Jawa Tengah bekerjasama dengan MGMP PPKn se-eks Karesidenan Surakarta akan menyelenggarakan seminar nasional “Model dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran PPKn”. Untuk itu kami mengundang bpk/ibu untuk hadir atau mengirim perwakilan pada:

2 Baca lebih lajut

Asosiasi PPKn Indonesia | Semiloka Nasional Pembahasan Kurikulum S1 PPKn berorientasi KKNI

Asosiasi PPKn Indonesia | Semiloka Nasional Pembahasan Kurikulum S1 PPKn berorientasi KKNI

Dengan ini kami beritahukan bahwa Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI) mendapat mandat dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi untuk merumuskan kurikulum program sarjana (S1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Berdasarkan hal tersebut di atas kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr untuk hadir pada:

1 Baca lebih lajut

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn)

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn)

Pembelajaran PPKn dirancang sebagai wahana untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 (The 21 st Century Skills) agar para guru PPKn menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola dan mengembangkan pembelajarannya. Silabus PPKn di SMA/MA/SMK/MAK disusun dengan format dan penyajian/penulisan yang sederhana agar mudah dipahami dan dilaksanakan guru dengan tetap mempertimbangkan tata urutan (sequence) materi dan kompetensinya. Prinsip penyusunan silabus antara lain mudah diajarkan/dikelola oleh guru (teachable); mudah dipelajari oleh siswa (learnable); terukur pencapaiannya (measurable assessable), dan bermakna untuk dipelajari (worth to learn) sebagai bekal untuk kehidupan dan kelanjutan pendidikan siswa.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PANCASILA SEB (2)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PANCASILA SEB (2)

kemerdekaan dan kedaulatan nasional. Pancasila juga mengakui dan menjamin kebhinekaan kita sebagai rakyat indonesia dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus melaksanakan pembangunan nasional sebagai upaya berkelanjutan mencapai tujuan nasional negara Republik Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara. Tujuan nasional sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di wujudkan melalui pelaksanaan penyelenggaran negara yang berkedaulatan rakyat dan demokratis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penyelenggaran negara dilaksanakan melalui pembangunan nasional dalam segala aspek kehidupan bangsa oleh penyelenggara negara bersama segenap rakyat Indonesia di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PEMBINAAN KARAKTER KEWARGANEGARAAN MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN.

PEMBINAAN KARAKTER KEWARGANEGARAAN MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN.

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini sangat memungkinkan untuk meneliti fokus permasalahan yang akan peneliti teliti secara mendalam. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu Pembinaan Karakter Kewarganegaraan melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP Negeri 3 Majalengka yang membutuhkan sejumlah data lapangan yang sifatnya aktual dan konseptual yang pada akhirnya peneliti berusaha menggambarkan hasil penelitian atau fenomena-fenomena yang diteliti kedalam bentuk uraian-uraian. Disamping itu, pendekatan kualitatif mempunyai adaptabilitas yang tinggi sehingga memungkinkan peneliti senantiasa menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah-ubah yang dihadapi selama penelitian.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

IF   RPS Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

IF RPS Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

BidangKajian : Penjelasan Rencana Pembelajaran Semester matakuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pancasila dan Sejarah Perjuangan Bangsa, Pancasila Sebagai Landasan Idiil Bangsa Indonesia dan Sebagai Sumber Hukum dan Hak Asasi Manusia, Nilai -nilai sila Pancasila: Pengamalan dan Penghayatannya, Hak dan Kewajiban Sebagai Warga Negara, Demokrasi Pancasila, Jiwa dan Semangat Nasionalisme.

14 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PANCASILA SEB (1)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PANCASILA SEB (1)

Semua negara di dunia mengusahakan setiap warga negaranya memahami benar tentang dasar negaranya, sehingga kewarganegaraan menjadi efektif, (yaitu tahu dan mentaati semua hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka dalam hidup bermasyarakat bangsa dan bernegara) bahkan diharapkan mereka yang memperoleh pendidikan tinggi, sebagai calon-calon pemimpin bangsa, mampu mengidentifikasi- menganalisis-membuat kesimpulan serta solusi atas berbagai permaalahan yang muncul dalam hidup bermasyarakat bangsa dan bernegara. Pemahaman itu diupayakan melalui pendidikan, apakah melalui sekolah-sekolah, atau pendidikan di luar sekolah, atau melalui kedua jalur itu. Lebih jauh lagi, melalui pendidikan kewarganegaraan dapat ditumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan negara di kalangan para pesertanya. karean itulah pendidikan kewarganegaraan akan menjadi identitas nasional yang akan menjadi ciri suatu bangsa dan menjadi suatu kebanggaan pada setiap warga negara itu sendiri .
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

MKS 103 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

MKS 103 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

LO.1 Bertakwa kepada Tuhan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan agama, serta memiliki rasa tanggung jawab kepada bangsa dan negara dengan memberikan kontribusi sesuai dengan bidang keahliannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila, dan mampu menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.

46 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN    Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Berbasis Karakter Di MTS N Klaten.

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Berbasis Karakter Di MTS N Klaten.

Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah dalam keluarga. Ada keterkaitan yang sangat erat antara pendidikan dan karakter, antara lain bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak (karakter) serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

16 Baca lebih lajut

KARAKTER PROFETIK PERILAKU SEHARI-HARI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN  Karakter Profetik Perilaku Sehari-Hari Pada Mahasiswa Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

KARAKTER PROFETIK PERILAKU SEHARI-HARI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Karakter Profetik Perilaku Sehari-Hari Pada Mahasiswa Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Nabi Muhammad SAW adalah pencerminan dari nilai-nilai luhur di dalam Al Qur’an. Apa yang disampaikan beliau baik yang tercantum dalam Al Qur’an dan As Sunnah tidak hanya berupa aturan-aturan abstrak, tetapi merupakan ajaran yang konkret yang harus dimplementasikan. Karakter perilaku yang sesuai dengan yang diteladankan oleh Rasulullah SAW inilah yang disebut dengan karakter profetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kecenderungan mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam meneladani perilaku profetik Rasulullah sehari-hari. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Data penelitian ini dikumpulkan melalui informan, tempat dan peristiwa berlangsungnya aktifitas karakter profetik perilaku nsehari-hari di kampus. Penelitin ini menggunakan dua macam trianggulasi yaitu teknik pengumpulan data dan sumber data. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui metode observasi dengan check list . Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model analisis interaktif yang meliputi; pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah mendeskripsikan karakter profetik perilaku sehari-hari pada mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraa di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kesimpulan penelitian ini yaitu implementasi meneladani perilaku Rasulullah SAW sehari-hari pada mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang meliputi perilaku baik cara makan, minum, berpakaian, berbicara dan berkomunikasi sosial tingkat kecenderungan karakter profetik perilaku sehari-hari tertetak pada tingkat sedang: (1) Cara makan mahasiswa sudah ada yang sesuai dengan I’tiba Nabi saw. namun cenderung masih jarang d i lakukan sesuai dengan yang telah di ajarkan oleh Nabi SAW. (2) Cara minum mahsiswa masih belum I’tiba Nabi SAW sebagian besar mahasiswa cenderung masih kadang-kadang yang sudah sesuai dengan perilaku cara minum yang telah dicontohkan Nabi SAW. (3) Tingkat kecenderunagan cara berpakaian yang sesuai dengan ajaran Nabi SAW masih rendah karena lebih dominan kadang-kadang. (4) Cara berbicara mahasiswa sudah ada yang sesuai dengan cara berbicara Nabi SAW meskipun intensitasnya belum banyak, sebagian mahasiswa sudah ada yang sering melakukannya dan sebagian lagi kadang-kadang. (5) Cara berkomunikasi sosialnya mahasiswa sudah sesuai dengan cara berkomunikasi sosial Nabi SAW meskipun masih ada sebagian kecil yang masih kadang-kadang.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (4)

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (4)

• (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

4 Baca lebih lajut

Asosiasi PPKn Indonesia | Raker & Semnas AP3KnI Menado 16-18 Okt 2014 UNDANGAN AP3KnI

Asosiasi PPKn Indonesia | Raker & Semnas AP3KnI Menado 16-18 Okt 2014 UNDANGAN AP3KnI

Dalam rangkaian kegiatan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI) di Manado-Sulawesi Utara, akan diselenggarakan kegiatan Rapat Kerja AP3KnI dan Seminar Nasional dengan tema “ Penguatan Pendidikan Karakter Melalui PKn dalam Mempersiapkan Generasi Emas Tahun 2045,” dan SUB TEMA: “Pengembangan Kurikulum PPKn (S1, S2, dan S3) Berbasis SNPT dan KKNI” pada:

1 Baca lebih lajut

MUATAN MATERI KEADILAN SERTA PELAKSANAANNYA DALAM  PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN   Muatan Materi Keadilan Serta Pelaksanaannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (Analisis Isi Pada Buku Pendidikan Pancasila Dan Kewarganega

MUATAN MATERI KEADILAN SERTA PELAKSANAANNYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN Muatan Materi Keadilan Serta Pelaksanaannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (Analisis Isi Pada Buku Pendidikan Pancasila Dan Kewarganega

1. Ayahanda (Samiah) dan Ibunda (Resita) tercinta yang tiada henti-hentinya memberikan kasih sayang dan dukungannya baik materiil, motivasi, dan doa sebagai penyemangat untuk anakmu ini sehingga dapat menempuh pendidikan Sarjana. Semoga anakmu ini bisa membahagiakan papah sama mamah.

16 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN PANCASILA and KEWARGANEGARAAN

PENDIDIKAN PANCASILA and KEWARGANEGARAAN

Pamor Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah bangsa yang pernah dikeramatkan dengan sebutan azimat revolusi bangsa, pudar untuk pertama kalinya pada akhir dua dasa warsa setelah proklamasi kemerdekaan. Meredupnya sinar api Pancasila sebagai tuntunan hidup berbangsa dan bernegara bagi jutaan orang, diawali oleh kehendak seorang kepala pemerintahan yang terlalu gandrung kepada persatuan dan kesatuan. Kegandrungan tersebut diwujudkan dalam bentuk membangun kekuasaan yang terpusat, agar dapat menjadi pemimpin bangsa yang dapat menyelesaikan sebuah revolusi perjuangan melawan penjajah (nekolim, neo-kolonialisme) serta ikut menata dunia agar bebas dari penghisapan bangsa atas bangsa dan penghisapan manusia atas manusia (exploitation de nation par nation, exploitation de l‟homme par l‟homme). Namun sayangnya kehendak luhur tersebut dilakukan dengan menabrak dan mengingkari seluruh nilai-nilai dasar Pancasila. Selama kurun waktu berkuasanya pemerintahan orde lama, secara perlahan tetapi pasti virtue (keutamaan) nilai-nilai luhur Pancasila seakan–akan lumat oleh sebuah proses akumulasi kekuasaan yang sangat agresif tanpa mengindahkan cita-cita luhur yang dijadikan alasan untuk membangun kekuasaan itu sendiri.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

Pasca Sumpah pemuda, putra/putri Indonesia membentuk sebuah lembaga yang diberi tugas untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, jika Indonesia telah merdeka. Lembaga yang dibentuk diberi nama BPUPKI (dalam bahasa Jepang : Dukuritzu Zyunbi Coosakai) dan telah berhasil merumuskan dasar negara (philosofis gronslag) dan menyusun rancangan UUD. Dasar negara dan UUD ini sangat diperlukan untuk memenuhi persyaratan bagi berdirinya sebuah negara. Hasilnya, sungguh luar biasa yaitu ditengah proses sidang BPUPKI, kelompok perancang UUD membentuk panitia kecil dan mampu menyusun naskah yang kemudian diberi nama Piagam Jakarta. Yakni sebuah naskah yang memuat preambul (pembukaan; yang di dalamnya memuat Pancasila sebagai dasar negara). BPUPKI juga berhasil merancang Batang Tubuh UUD 1945 (berisi XVI Bab, 37 pasal, IV pasal Aturaan Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan). Piagam Jakarta menjadi modal yang sangat penting bagi Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 di mana bangsa Indonesia telah siap untuk menyelenggarakan hidup dan kehidupan bangsa yang merdeka. Pada tanggal 18 Agustus 1945 yaitu sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, PPKI yang dibentuk tanggal 9 Agustus 1945 sebagai pengganti BPUPKI berhasil menetapkan : 1) Pembukaan UUD 1945 yang naskahnya di ambil dari naskah Piagam Jakarta dengan melakukan beberapa perubahan. Seperti : menghilangkan 7 (tujuh) kata yang ada pada alinea IV yakni pada kalimat : “……berdasar pada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” Diganti menjadi : “….Ketuhanan Yang Maha Esa ….” seperti sekarang; 2) Sidang PPKI juga berhasil menetapkan UUD, yang naskahnya dirancang BPUPKI dan 3) Mengangkat Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Negara Republik Indonesia,
Baca lebih lanjut

170 Baca lebih lajut

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (2)

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (2)

Aktualisasi nilai spiritual dalam Pancasila tergambar dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berarti bahwa dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan tidak boleh meninggalkan prinsip keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai ini menunjukkan adanya pengakuan bahwa manusia, terutama penyelenggara negara memiliki keterpautan hubungan dengan Sang Penciptanya. Artinya, di dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara negara tidak hanya dituntut patuh terhadap peraturan yang berkaitan dengan tugasnya, tetapi juga harus dilandasi oleh satu pertanggungjawaban kelak kepada Tuhan di dalam pelaksanaan tugasnya. Hubungan antara manusia dan Tuhan yang tercermin dalam sila pertama tersebut sesungguhnya dapat memberikan rambu-rambu agar tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran, terutama ketika dia harus melakukan korupsi, penyelewengan harta negara, dan perilaku negatif lainnya. Nilai spiritual inilah yang tidak ada dalam doktrin good governance yang selama ini menjadi panduan dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan di
Baca lebih lanjut

266 Baca lebih lajut

Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (3)

Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (3)

Bentuk usaha pembelaan Negara yang pertama adalah pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Ya, anda pasti sudah sangat akrab dengan pendidikan yang satu ini. bagaimana tidak, mata pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan ini, atau yang disingkan PPKn ini merupakan mata kuliah yang setia menemani anda semua dari jaman SD hingga jaman SMA, dan masih bertahan hingga saat ini. apabila ditlisik, mungkin mata pelajaran PPKn ini merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat membosankan, karena anda dituntut untuk menghafal, menghafal, dan menghafal. Berbeda dengan mata pelajaran lain yang memiliki kelas praktek ataupun menuntut kemampuan pemahaman.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (2)

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (2)

mengakibatkan Pancasila sebagai alat yang digunakan untuk mengesahkan suatu kekuasaan dan mengakibatkan Pancasila cenderung menjadi idiologi tertutup. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa pancasila berada di atas dan diluar konstitusi. Pancasila disebut sebagai norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm) dengan menggunakan teori Hans Kelsen dan Hans Nawiasky. Teori Hans Kelsen yang mendapat banyak perhatian adalah hierarki norma hukum dan rantai validitas yang membentuk piramida hukum (stufentheorie). Salah seorang tokoh yang mengembangkan teori tersebut adalah murid Hans Kelsen, yaitu Hans Nawiasky. Teori Nawiaky disebut dengan theorie von stufenufbau der rechtsordnung.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...