Bahan ajar

Top PDF Bahan ajar:

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SEJARAH LOKAL BERBASIS NILAI-NILAI SULAM KERAWANG GAYO UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER BANGSA SISWA KELAS XI SMA NEGERI DI KABUPATEN BENER MERIAH.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SEJARAH LOKAL BERBASIS NILAI-NILAI SULAM KERAWANG GAYO UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER BANGSA SISWA KELAS XI SMA NEGERI DI KABUPATEN BENER MERIAH.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) menganalisis bagaimana kondisi bahan ajar sejarah; (2) mendeskripsikan pengembangan bahan ajar sejarah lokal berbasis nilai-nilai sulam kerawang gayo guna meningkatkan karakter bangsa siswa; dan (3) mendeskripsikan keefektifan bahan ajar sejarah lokal berbasis nilai-nilai sulam kerawang gayo dalam meningkatkan karakter bangsa siswa.

24 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI BAGI SISWA SMK PADA MATERI MATRIKS

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI BAGI SISWA SMK PADA MATERI MATRIKS

Bahan ajar merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu pembelajaran. Tanpa kehadiran bahan ajar, mustahil tujuan pembelajaran akan tercapai dan kompetensi dasar dikuasai peserta didik. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa bahan ajar adalah hal pokok yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Bahan ajar digunakan untuk tujuan dan maksud tertentu. Hal ini dikarenakan bahan ajar memiliki karakteristik tertentu. Oleh karena itu, perlu dipahami cara- cara penggunaan masing-masing bahan ajar, sehingga dapat dioptimalkan pemanfaatan bahan ajar maupun kegiatan pembelajaran itu sendiri. Anderson (Prastowo, 2011), dalam bukunya yang berjudul Selecting and Developing Media for Instruction, menerangkan bahwa penggunaan bahan ajar dalam proses
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Ajar 2.1.1 Pengertian Bahan Ajar

10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Ajar 2.1.1 Pengertian Bahan Ajar

Kata interaktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung arti bersifat saling melakukan aksi atau saling aktif. Bahan ajar interaktif dapat dimaknai sebagai bahan ajar yang bersifat aktif, artinya didesain agar dapat melakukan perintah balik kepada pengguna untuk melakukan suatu aktivitas. Bahan ajar interaktif tidak seperti bahan ajar cetak atau model (maket) yang hanya pasif dan tidak bisa melakukan kendali terhadap penggunanya. Pengguna bahan ajar interaktif akan terlibat aksi dua arah dengan bahan ajar yang sedang dipelajari (Prastowo, 2015: 328-329).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN DAN BAHAN AJAR BERBASIS PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SMP KELAS VIII DI KOTA MEDAN.

PENGEMBANGAN INSTRUMEN DAN BAHAN AJAR BERBASIS PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SMP KELAS VIII DI KOTA MEDAN.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) menyusun instrumen yang tepat untuk mengukur kemampuan koneksi matematis, 2) menyusun bahan ajar berbasis pendekatan pembelajaran SAVI yang tepat memenuhi kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan, 3) mengetahui ketuntasan kemampuan koneksi matematis siswa setelah menggunakan bahan ajar berbasis pendekatan pembelajaran SAVI, dan 4) mengetahui kendala dalam pengembangan bajan ajar berbasis pendekatan pembelajaran SAVI. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (research and development), produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah buku pegangan guru, buku siswa lembar mari beraktivitas, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan instrumen-instrumen seperti instrumen pengamatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, observasi aktivitas siswa, angket respon siswa dan guru, pedoman wawancara dan pengamatan sikap siswa. Pengembangan instrumen dan bahan ajar berbasis pendekatan pembelajaran SAVI ini menggunakan model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel dan Semmel. Yang meliputi proses tahapan define, desaign, develop, dan disseminate. Namun dalam penelitian ini pengembangan bahan ajar berbasis pendekatan pembelajaran SAVI ini dibatasai hanya pada tahap develop, atau dimodifikasi menjadi 3-D. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 27 Medan dan kelas VIII-1 SMP Negeri 17 Medan. Dari hasil uji coba lapangan I dan uji coba lapangan II diperoleh: 1) bahan ajar yang memenuhi kriteria kevalidan dengan predikat sangat valid, 2) bahan ajar yang praktis berdasakan hasil revisi dari tim ahli, hasil observasi pada saat proses pembelajaran dan hasil wawancara, serta 3) memenuhi kriteria keefektifan berdasarkan hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, pencapaian persentase waktu ideal, hasil tes kemampuan koneksi matematis memenuhi ketuntasan, dan dari hasil angket respon guru dan siswa.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TERPADU MELALUI LESSON STUDY PADA MATERI BAHAN KIMIA TAMBAHAN UNTUK MAKANAN

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TERPADU MELALUI LESSON STUDY PADA MATERI BAHAN KIMIA TAMBAHAN UNTUK MAKANAN

Perbedaan skor yang terakhir adalah aspek evaluasi, skor tiga pada validasi tahap I dan skor empat pada validasi tahap II. Kenaikan skor dipengaruhi oleh adanya saran yang diberikan oleh validator ketika menilai bahan ajar IPA terpadu materi bahan kimia tambahan untuk makanan. Validator I memberikan saran untuk menambahkan evalusi pada bahan ajar sehingga mampu menambah wawasan dan meningkatkan keaktifan siswa. Berdasarkan saran tersebut, maka penulis melakukan perbaikan terhadap bahan ajar. Perbaikan yang dilakukan penulis adalah menambah evalusi berupa kegiatan pratikum. Perbaikan ini sesuai dengan pernyataan Qomari (2008) yaitu evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran dengan adanya evaluasi mampu meningkatkan pemahaman siswa.
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS KONTEKS CAPUNG UNTUK MELATIHKAN LITERASI SAINS SISWA SD

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS KONTEKS CAPUNG UNTUK MELATIHKAN LITERASI SAINS SISWA SD

Konteks capung dipilih juga disesuaikan dengan kurikulum 2013 di kelas 4. Pemilihan tema ini jika dikategorisasikan menurut tahapan yang harus ditempuh dalam pembuatan bahan ajar menurut Anwar (2010) termasuk pada tahapan seleksi. Tahapan selanjutnya adalah strukturisasi berupa pengembangan indikator dari Kompetensi Dasar. Strukturisasi juga dilakukan dengan membuat cakupan materi pada bahan ajar dengan menyusun proposisi mikro yang selanjutnya dibuat struktur makro. Tahapan selanjutnya adalah karakterisasi untuk menentukan konsep yang lebih sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa kemudian kesulitan perlahan ditingkatkan agar motivasi siswa perlahan dibangun Anwar (2010).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Bahan Ajar IPS Bahan Ajar IPS

Bahan Ajar IPS Bahan Ajar IPS

IPS juga sebaiknya menjadi training dalam mempersiapkan peserta didik agar memiliki keahlian untuk menjadi warga negara yang baik (Barth, 1990: 24). Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka pemilihan bahan ajar harus didasarkan pada kondisi riil yang ada di dalam masyarakat. Dengan demikian peserta didik memahami permasalahan yang ada di masyarakat masa sekarang dan yang akan datang sehingga ia mempunyai ketrampilan dan kecakapan untuk mengatasinya.

4 Baca lebih lajut

PENYIAPAN BAHAN AJAR

PENYIAPAN BAHAN AJAR

• Segala bentuk bahan yang digunakan untuk Segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam mela ‐ ksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas ksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis

Baca lebih lajut

LEMBAR KERJA 1 Kelompok Model Pembelajar

LEMBAR KERJA 1 Kelompok Model Pembelajar

c. Bahan Ajar pandang dengar (Audiovisual), yang sering dengan bahan ajar pandang yakni segala sesuatu yang sering dikenal dengan bahan ajar pandang yaitu sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak secara sekuensial.

Baca lebih lajut

SEBAB DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

SEBAB DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

Di era perubahan iklim ini Pemerintah Indonesia harus berusaha keras untuk menyusun rancangan pembangunan daerah dengan ingkat emisi gas rumah kaca (GRK) yang rendah, dengan jalan mengendalikan deforestasi dan degradasi hutan. Tingkat keberhasilan dari upaya tersebut akan meningkat bila ada keterlibatan berbagai lapisan masyarakat, untuk itu ingkat pengetahuan dan ketrampilan masyarakat tentang cara menaksir emisi GRK perlu ditambah melalui pelibatan dalam pelaihan-pelaihan dan meningkatkan ketersediaan bahan ajar.

Baca lebih lajut

KEBERADAAN SASTRA DLM BUKU AJAR BAHASA I

KEBERADAAN SASTRA DLM BUKU AJAR BAHASA I

orang Abang Becak” karya Anita, dimuat dalam majalah Jakarta, Jakarta (1985); (4) “Pak Guru” karya Ashadi, siswa kelas 6 SD Muhammadiyah Pepe, Bantul, Yogyakarta, dimuat dalam majalah Ga- totkaca, 20 November 1981; (5) “Kopi untuk Ayah” karya Andrian Adi (Jambi), dimuat dalam majalah Bobo, 10 Februari 1994; dan (6) “Sajak Petani” karya Lisa Cahyapratiwi (Tanjungkarang, Lampung). Secara umum dapat dikatakan bahwa dilihat dari bobotnya puisi- puisi yang dipergunakan sebagai bahan ajar bagi siswa SD kelas 6 telah sesuai pula dengan tingkat pengalaman dan perkembangan jiwa anak seusia kelas 6. Oleh karena buku ajar tersebut merupakan buku wajib bagi siswa SD di seluruh Indonesia, tema-tema puisi yang di- sajikannya pun disesuaikan dengan kondisi lingkungan keseharian sebagian besar anak Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa makna yang terkandung di dalam puisi-puisi tersebut dengan mudah dapat dipahami mereka (siswa). Apalagi, dengan maksud un- tuk membantu memperlancar pemahaman (apresiasi) dan pengem- bangan imajinasi mereka (siswa), puisi-puisi itu juga disertai dengan gambar. Misalnya, di samping puisi berjudul “Pak Pos” terdapat gam- bar mengenai Pak Pos sedang mengendarai sepeda yang di bagian belakang sepedanya terdapat tas bertuliskan “pos giro” (hlm. 14); atau di bawah puisi berjudul “Doa Seorang Abang Becak” terdapat gambar Abang Becak beserta becaknya (hlm. 62); atau di bawah puisi berjudul “Sajak Petani” terdapat gambar seorang petani dengan cangkul di pundaknya sedang berjalan di pematang (hendak pulang) (hlm. 125).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) PADA MATERI GEOMETRI UNTUK SISWA SMA KELAS X.

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) PADA MATERI GEOMETRI UNTUK SISWA SMA KELAS X.

Pendidikan saat ini merupakan komponen yang sangat penting dalam hidup setiap manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, negara Indonesia menginginkan perkembangan mutu pendidikan yang lebih baik. Untuk mewujudkan perkembangan mutu pendidikan yang baik, haruslah ditunjang dengan guru yang kompeten di bidangnya, bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dan mencakup semua komponen bahan ajar, metode dan model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam proses pembelajaran serta sumber belajar dan fasilitas belajar yang memadai. Akan tetapi pada kenyataannya, pembelajaran matematika yang biasanya diterapkan di sekolah masih bersifat teacher centered, siswa bersifat pasif dan hanya menerima apa yang guru berikan melalui penjelasan guru ataupun siswa hanya berlatih mengerjakan soal latihan yang terdapat pada bahan ajar yang sudah disediakan. Hal itu yang menjadikan siswa belum mampu berpikir kreatif untuk menyelesaikan masalahnya karena siswa hanya mengerjakan soal latihan sesuai dengan contoh yang telah ada.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Artikel Jurnal SP Agusmanto Hutauruk

Artikel Jurnal SP Agusmanto Hutauruk

Dalam metode active learning setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Bahan ajar yang dipergunakan dalam model pembelajaran aktif berbasis bahan ajar harus disesuaikan sesuai dengan kebutuhan sedemikian hingga anak didik yang mempergunakan bahan ajar tersebut terpacu untuk belajar aktif. penerapan desain pembelajaran aktif berbasis bahan ajar supaya memperhatikan struktur bahan ajar yang mendukung dan menciptakan cara untuk membuat mahasiswa aktif melalui bahan ajar yang sudah dipersiapkan tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

D IND 1102645 Chapter3

D IND 1102645 Chapter3

kompetensi lulusan berdasarkan dokumen KL nonrekayasa politeknik dan kompetensi dunia industri berdasarkan wawancara dengan alumni nonrekayasa serta pihak industri pengguna lulusan dan berdasarkan dokumen SK Menakertrans Republik Indonesia sehingga diperoleh profil kompetensi berbahasa Indonesia lulusan nonrekayasa politeknik. Instrumen kedua untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia dan mengujicobakannya baik secara terbatas maupun luas. Instrumen ketiga untuk memperoleh persepsi pengguna dan pakar terhadap bahan ajar hasil penelitian. Instrumen-instrumen tersebut berupa angket, pedoman wawancara, pedoman analisis pustaka dan pedoman observasi pelaksanaan uji coba. Pengujian validitas dan reliabilitas ketiga instrumen tersebut menggunakan pendapat ahli (judgment experts). Digunakannya judgment experts pada pengujian validitas dan reliabilitas instrument karena instrumen dibuat atau dikonstruksi dengan berlandaskan teori-teori kompetensi berbahasa, teori-teori pendidikan kompetensi, dan teori-teori bahan ajar.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENINGKATAN DISIPLIN GURU DALAM MENGUMPULKAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MELALUI SISTEM REWARD DAN PUNISHMENT SMA INS KAYU TANAM Hendrizal SMA INS Kayu Tanam Email. hendrizalgmail.com

PENINGKATAN DISIPLIN GURU DALAM MENGUMPULKAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MELALUI SISTEM REWARD DAN PUNISHMENT SMA INS KAYU TANAM Hendrizal SMA INS Kayu Tanam Email. hendrizalgmail.com

akan menentukan irama saat pembelajaran berlangsung. Ketidaklengkapan perangkat pembelajaran akan dapat menyebabkan kurang efektifnya pembelajaran yang dilakukan karena tidak ada panduan dalam pembelajaran. Misalnya saja, dalam mengajar guru tidak menggunakan RPP, sehingga proses pembelajaran berlangsung tanpa arahan yang jelas dan hanya berdasarkan apa yang diingat oleh guru saja. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20, “perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Maka, berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 tersebut, maka perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran adalah silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilengkapi materi ajar, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Penerapan Metode Pembelajaran make a Match Card dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata pelajaran Fiqh di MTs. Nasyatulkhair Depok

Penerapan Metode Pembelajaran make a Match Card dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata pelajaran Fiqh di MTs. Nasyatulkhair Depok

Kegiatan berikutnya guru minta siswa mempelajari materi yang ada dalam LKS dan buku paket, kemudian meminta siswa untuk membentuk 5 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 5-6 orang siswa, lalu meminta siswa mendiskusikan sub bab materi yang berbeda, setelah itu guru memberikan kartu yang berisi jawaban atau pertanyaan seputar materi ajar, dan meminta sswa untuk mencari pasangan dari kartunya baik jawaban maupun pertanyaan dengan batas waktu yang diberikan (10 menit). Setelah siswa menemukan pasangan kartunya, maka guru meminta siswa untuk maju ke depan kelas bersama pasangan dan kartu yang di milikinya utu dibacakan di depan teman-teman yang lain, sambil di koreksi bersama guru dan siswa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...