Bahan bakar padat

Top PDF Bahan bakar padat:

STUDI EKSPERIMENTAL KOMPOSISI BAHAN BAKAR PADAT DARI LIMBAH KULIT PISANG RAJA DENGAN TEKNOLOGI HYDROTHERMAL

STUDI EKSPERIMENTAL KOMPOSISI BAHAN BAKAR PADAT DARI LIMBAH KULIT PISANG RAJA DENGAN TEKNOLOGI HYDROTHERMAL

Hasil penelitian menunjukkan variasi suhu pada Hydrothermal menyebabkan peningkatan nilai kalori dan karbon tetap secara signifikan, pada kadar air, kandungan volatil, dan kadar abu menurun secara signifikan. Waktu tunggu yang digunakan juga mempengaruhi komposisi bahan bakar padat tetapi tidak terlalu signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji kalor optimal dengan suhu 220 o C, waktu tunggu 60 menit adalah 4272,5927 kal / gr. Nilai kalori terendah adalah pada material awal yang belum diberi perlakuan Hydrothermal yaitu 2.956,5407 kal / gr. Hasil dari kadar air menurun sebesar 2,63%, kadar volatil mencapai 56,8651%, dan kadar abu mencapai 3,2679%. Untuk kandungan karbon yang melekat dengan perlakuan Hydrothermal meningkat menjadi 37.237%. Dari penelitian ini telah diteliti, nilai kadar air, kadar volatil, kadar abu, dan kadar fix carbon menunjukkan hasil yang memenuhi standar ASTM, sehingga dapat dinyatakan layak untuk menjadi bahan bakar padat yang setara dengan batubara sub bituminus.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Bahan Bakar Padat 47

Bahan Bakar Padat 47

Yang dibicarakan umumnya batubara, meskipun ada beberapa industri menggunakan kayu seperti genting. Industri kelapa sawit menggunakan tempurung kelapa. Bahan bakar padat umumnya terjadi karena proses alami selama berjuta-juta tahun yang lalu dan umumnya mengandung C, H, O, N, S, P dan yang pokok C, H, O, S.

13 Baca lebih lajut

Studi Pemanfaatan Limbah Pembuatan Minyak Bintaro sebagai Bahan Bakar Padat

Studi Pemanfaatan Limbah Pembuatan Minyak Bintaro sebagai Bahan Bakar Padat

Bintaro (Cerbera manghas L.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Ekstraksi minyak ini menghasilkan daging buah bintaro dan bungkil biji yang juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan bakar padat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi daging buah dan bungkil biji bintaro sebagai bahan bakar padat melalui pembakaran langsung dan densifikasi. Hasil penelitian menunjukkan pembakaran daging buah bintaro menghasilkan api warna merah, asap sedikit. Briket bungkil yang dihasilkan menunjukkan nilai kalor berkisar antara 8340-16342 kJ/kg dengan keteguhan tekan 0.600-0.867 kg/cm 2 dan kerapatan 0.96-1.18 g/cm 3 . Briket dengan kadar perekat 5% memberikan hasil yang terbaik dilihat dari keteguhan tekan dan kerapatannya. Pembakaran briket bungkil bintaro menghasilkan api berwarna merah, asap putih dan banyak serta bau yang menyengat. Briket bintaro layak digunakan untuk energi untuk memasak pada rumah tangga pedesaan dan industri kecil. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri briket bintaro layak dijalankan dengan nilai NPV positif sebesar Rp 13, 147,041, net B/C sebesar 2.55 dan IRR sebesar 19%/tahun.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

PEMBUATAN ETHANOL GEL SEBAGAI BAHAN BAKAR PADAT ALTERNATIF

PEMBUATAN ETHANOL GEL SEBAGAI BAHAN BAKAR PADAT ALTERNATIF

Bahan bakar padat parafin selama ini telah banyak digunakan oleh tentara yang sedang bertugas di hutan, para pencinta alam, dan untuk keperluan pesta. Bentuknya yang ringkas sangat bermanfaat digunakan dalam kondisi darurat. Tetapi dalam penggunaannya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan karena parafin mempunyai beberapa kekurangan dan akibat buruk dalam penggunaannya. Parafin bersumber dari minyak bumi sehingga tidak terbaharukan, menimbulkan jelaga selama pembakaran serta menimbulkan emisi gas beracun. Etanol yang merupakan salah satu jenis bahan bakar berpeluang untuk dijadikan bahan bakar padat alternatif (ethanol gel), karena pada pembakaran tidak menimbulkan jelaga, tidak menimbulkan emisi gas beracun dan yang paling penting adalah sifatnya yang terbarukan. Fase padat diinginkan agar etanol tersebut tidak mudah tumpah dan lebih aman dalam penggunaannya.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

LARORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN ETHANOL GEL SEBAGAI BAHAN BAKAR PADAT ALTERNATIF

LARORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN ETHANOL GEL SEBAGAI BAHAN BAKAR PADAT ALTERNATIF

Parafin merupakan bahan bakar padat yang seringkali digunakan oleh para tentara yang sedang bertugas di hutan - hutan dan para pencinta alam pun sering kali menggunakannya sebagai bahan bakar. Bentuknya yang sangat ringkas sangat bermanfaat digunakan dalam kondisi darurat. Nama lain parafin jika di luar negeri disebut Hexamine Solid Fuel Tablets. Beberapa negara dijual dengan nama ESBIT, (Erich Schumm Brennstoff In Tabletten - Erich Schumm fuel in tablets). Parafin sangat praktis dibawa dalam perjalanan, tidak ada resiko tumpah diransel atau dalam kemasan. Selain itu parafin sangat mudah didapatkan di supermarket, toko peralatan outdoor dan juga terdapat di toko penjual seragam TNI/ Polri. Aplikasi parafin juga dipakai oleh agent catering untuk menghangatkan makanan. Tetapi parafin juga mempunyai beberapa kekurangan dan akibat buruk dalam penggunaannya. Parafin bersumber dari minyak bumi sehingga tidak terbaharukan, menimbulkan jelaga selama pembakaran serta menimbulkan emisi gas beracun. Selain itu, bau hasil pembakaran parafin cukup kuat dan menyengat. Karena itu banyak yang tidak suka memasukan parafin kedalam tas akibat bau parafin.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BIOBRIKET CAMPURAN BOTTOM ASH DAN BIOMASSA MELALUI PROSES KARBONISASI SEBAGAI BAHAN BAKAR PADAT

KARAKTERISASI BIOBRIKET CAMPURAN BOTTOM ASH DAN BIOMASSA MELALUI PROSES KARBONISASI SEBAGAI BAHAN BAKAR PADAT

Kadar abu erat kaitannya dengan inorganik atau garam dalam bahan bakar, abu yang berlebihan pada bahan bakar briket dapat menyebabkan pengendapan kotoran pada peralatan pembakaran serta pencemaran udara. Gambar 7. Menunjukkan peningkatan kadar abu untuk semua komposisi campuran bottom ash dan biomassa. Biomassa arang cangkang kopi mengalami kenaikan rata-rata 11,09%, biomassa arang cangkang kapuk naik rata-rata 9,13% dan arang tempurung kelapa naik rata- rata 11,4%. Nilai kadar abu biobriket menunjukkan nilai linearitas, dimana penambahan biomassa sangat mempengaruhi penambahan prosen kadar abu yang terbentuk. Pengujian kadar air terhadap komposisi bahan baku briket sebagaimana ditunjukkan pada gambar 8. Air yang terkandung dalam bahan bakar padat terdiri dari:
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kajian Eksperimental Pengaruh Pengurangan Kadar Air Terhadap Nilai Kalor Pada Bahan Bakar Padat

Kajian Eksperimental Pengaruh Pengurangan Kadar Air Terhadap Nilai Kalor Pada Bahan Bakar Padat

Sebenarnya ada dua macam nilai pembakaran, yakni nilai pembakaran tinggi atau bruto dan nilai pembakaran rendah atau netto. Perbedaan antara kedua nilai pembakaran ini pada dasarnya sama dengan panas laten penguapan dari uap air yang terdapat dalam hasil gas buang ketika bahan bakar dibakar dengan udara kering. Selain berasal dari pembakaran hidrogen, uap air yang terbentuk pada proses pembakaran dapat berasal dari kandungan air yang memang sudah ada dalam bahan bakar (moisture). Panas laten pengkondensasian uap air pada tekanan parsial 20 kN/m 2 (tekanan yang umum timbul pada gas buang motor bakar) adalah 2400 kJ/kg. HHV dan LHV merupakan panas laten dari sejumlah uap air yang terjadi dari hasil pembakaran bahan bakar bersangkutan, bila pembakaran memakai udara kering. Perbedaan anatra nilai pembakaran tinggi dan rendah dihitung dengan cara pendekatan berdasarkan rumus berikut ini yang dapat dipakai untuk sebarang bahan bakar dalam basis massa (1, hal : 46)
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

PRODUKSI BAHAN BAKAR PADAT DAN BAHAN BAKAR GEL BERBASIS BIOETANOL.

PRODUKSI BAHAN BAKAR PADAT DAN BAHAN BAKAR GEL BERBASIS BIOETANOL.

Biueianol dapat dipeigunakan sebagai bahan bakar aliernatif m emiliki behcrapa kcunggulan yaitu m am pu m enurunkan emisi C O ; hingga 18 %, bioetanol m erupakan bahan bakar yang tidak beracun dan cukup ram ah hngkungan serta dihasilkan melalui proses yang cukup sederhana yaitu i n ^ l u i proses tcrinentasi m enggunakan niikrobia tertentu. Bioetanol sebagai bahan bakar m em iliki nilai ok:an lebih linggi dari bensin schingga dapat m engganlikan fungsi aditif seperti j ' \ 3 til tertiary butyl ether (M TBE) yang m enghasilkan tim bal (Pb) pads saat pembaburan, Di Indonesia, m inyak bioethanol sangat potential untuk diolah dan dikem bangkan karena bahan bakunya m erupakan jenis tanam an yang banyak tum buh di negara ini dan sangat dikenal m asyarakat. Tum buhan yang putensial untuk m enghasilkan bioetanol adalah tanam an yang m em iliki kadar karbohidrat tinggi atau selulosa, scpciti: tebu, nira, sorguin. uhi kayu, garut, ubi kayu, sagu, jagung, jeram i, bonggol jagung, dan kayu.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

PENGARUH CAMPURAN LIMA JENIS BIOMASSA DENGAN BATUBARA DALAM PEMBUATAN BRIKET BIOCOAL TERHADAP SIFAT FISIK DAN LAJU PEMBAKARAN

PENGARUH CAMPURAN LIMA JENIS BIOMASSA DENGAN BATUBARA DALAM PEMBUATAN BRIKET BIOCOAL TERHADAP SIFAT FISIK DAN LAJU PEMBAKARAN

Briket batubara adalah bahan bakar padat dengan bentuk dan ukuran tertentu, yang tersusun dari butiran batubara halus dengan sedikit bahan campuran seperti tanah liat dan tapioka, yang telah mengalami proses pemampatan dengan daya tekan tertentu, agar bahan bakar tersebut lebih mudah ditangani dan menghasilkan nilai tambah dalam pemanfaatannya. Bahan baku briket batubara terdiri dari 82% batubara, 15% tanah liat dan 4% tapioka. Tanah liat selain berfungsi sebagai penguat briket juga berfungsi sebagai stabilisator panas sedangkan tapioka berfungsi sebagai perekat untuk memudahkan pencetakan.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

tugas tengah semester Utilitas Energi

tugas tengah semester Utilitas Energi

Boiler dapat dibagai menjadi beberapa jenis berdasarkan bahan bakar yang digunakan, berdasarkan mekanisme fluida, berdasarkan tekanan, dan berdasarkan sirkulasi. Berdasarkan bahan bakar yang digunakan boiler dibagi menjadi 3 jenis yaitu boiler bahan bakar padat, misalnya boiler yang digunakan pada industri penghasil gula dari tebu. Bahan bakar yang digunakan berupa bahan tebu. Bahan tebu merupakan bahan sampingan dari proses pengolahan tebu menjadi gula pasir. Kedua yaitu boiler bahan bakar cair, misalnya boiler yang digunakan pada industri penghasil gula, bahan bakar yang digunakan berupa bahan bakar solar. Ketiga boiler berbahan bakar gas. Gas yang digunakan dapat berupa LPG. Keempat, yaitu boiler listrik dimana boiler jenis ini
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Tongkol Jagung Dan Limbah Teh Sebagai Bahan Briket Arang

Pemanfaatan Tongkol Jagung Dan Limbah Teh Sebagai Bahan Briket Arang

Bahan bakar adalah istilah populer media untuk menyalakan api. Bahan bakar dapat bersifat alami (ditemukan langsung dari alam), tetapi juga bersifat buatan (diolah dengan teknologi maju).Bahan bakar alami misalnya kayu bakar, batubara dan minyak bumi.Bahan bakar buatan misalnya gas alam cair dan listrik.Sebenarnya, listrik tidak dapat disebut sebagai bahan bakar karena langsung menghasilkan panas. Panas inilah yang sebenarnya yang dibutuhkan manusia dari proses pembakaran, disamping cahaya akibat nyalanya (Ismun, 1993).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga

Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga

Bahan bakar di dalam tangki penyimpanan bahan bakar dipompakan ke dalam tanki penyimpanan sementara namun sebelumnya disaring terlebih dahulu. Kemudian disimpan di dalam tangki penyimpanan sementara (daily tank). Jika bahan bakar adalah bahan bakar minyak (BBM) maka bahan bakar dari daily tank dipompakan ke Pengabut (nozzel), di sini bahan bakar dinaikan temperaturnya hingga manjadi kabut. Sedangkan jika bahan bakar adalah bahan bakar gas (BBG) maka dari daily tank dipompakan ke convertion kit (pengatur tekanan gas) untuk diatur
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Studi Pengujian Karakteristik Gasifikasi Berbahan Limbah Gerajen Glugu Dengan Variasi Kecepatan Udara.

PENDAHULUAN Studi Pengujian Karakteristik Gasifikasi Berbahan Limbah Gerajen Glugu Dengan Variasi Kecepatan Udara.

Khususnya di Indonesia, jumlah konsumsi bahan bakar baik minyak bumi maupun gas alam kian tahun semakin meningkat. Fakta yang ada, dengan penggunaan bahan bakar yang secara terus menerus tentu saja akan mengakibatkan ketersediaan akan semakin menipis dan juga akan ada kemungkinan terjadinya kelangkaan, bahkan mungkin bisa terjadi ketersediaan bahan bakar itu habis ka rena pemakaian tidak seimbang dengan ketersediaan yang ada.Oleh sebab itu, perlu adanya suatu energi alternatif untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar tersebut. Energi alternatif yang dapat dikembangkan sebagai pengganti bahan bakaryang nantinya dapat memecahkan masalah tersebut adalah pemanfaatan limbah biomassa.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Kajian Study Perbandingan Performansi Mesin Otto Satu Silinder Menggunakan Alat Catalytic Converter Dengan Bahan Bakar Pertamax dan Campuran Pertamax-Serbuk Kapur Barus

Kajian Study Perbandingan Performansi Mesin Otto Satu Silinder Menggunakan Alat Catalytic Converter Dengan Bahan Bakar Pertamax dan Campuran Pertamax-Serbuk Kapur Barus

2.7.3 Kapur Barus sebagai Zat Adiktif untuk Meningkatkan Angka Oktan Kapur barus (naftalena) adalah salah satu komponen yang termasuk benzena aromatik hidrokarbon, tetapi tidak termasuk polisiklik. Naftalena memiliki kemiripan sifat yang memungkinkannya menjadi aditif bensin untuk meningkatkan angka oktan. Sifat-sifat tersebut antara lain: sifat pembakaran yang baik, mudah menguap sehingga tidak meninggalkan getah padat pada bagian- bagian mesin. Penggunaan Naftalena sebagai aditif memang belum terkenal karena masih dalam tahap penelitian. Sampai saat ini memang belum diketahui akibat buruk penggunaan naftalena terhadap lingkungan dan kesehatan, namun ia relatif aman untuk digunakan. Satu molekul napthalena merupakan perpaduan dari sepasang cincin benzena. Naftalena merupakan salah satu jenis hidrokarbon polisiklik aromatik .
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PEMBUATAN DAN PENGUJIAN KOMPOR BIOMASSA DENGAN PRINSIP GASIFIKASI

PEMBUATAN DAN PENGUJIAN KOMPOR BIOMASSA DENGAN PRINSIP GASIFIKASI

Selama ini Indonesia telah dikenal sebagai salah satu negara OPEC, organisasi penghasil minyak dunia. Sejak tahun 2003 Indonesia telah berubah menjadi negara pengimpor minyak. Harga bahan bakar tambang dunia yang meningkat pesat berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak di Indonesia, sedangkan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia masih tertinggal dan masih banyak masyarakat kurang mampu. Menurut data statistik Indonesia tahun 2007, warga kurang mampu Indonesia sebanyak 37,163 juta penduduk dan di Lampung khususnya ada sekitar 1,661 juta penduduk kurang mampu. Untuk mengantisipasi kelangkaan minyak dan gas bumi serta ketidak mampuan untuk membeli bagi warga kurang mampu diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah didapat.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Pengaruh Magnetasi Bahan Bakar dan Penggunaan Katalitik Terhadap Emisi Gas Buang, Temperatur Air Pendingin dan Oli Pada Mesin Diesel Satu Silinder

Pengaruh Magnetasi Bahan Bakar dan Penggunaan Katalitik Terhadap Emisi Gas Buang, Temperatur Air Pendingin dan Oli Pada Mesin Diesel Satu Silinder

Tingginya emisi yang dihasilkan oleh mesin diesel yang berakibat buruk terhadap lingkungan adalah hal yang melatar belakangi timbulnya pengujian ini. Untuk itu, penting dilakukan magnetasi sebelum bahan bakar memasuki ruang bakar dan penambahan katalitik pada knalpot. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh magnetasi bahan bakar dan katalitik konverter terhadap penurunan kadar emisi gas buang. Magnetasi bahan bakar dilakukan pada saluran (selang) bahan bakar sebelum bahan bakar memasuki ruang bakar dan pemasangan magnet pada saluran bahan bakar dipasang setelah saringan bahan bakar, sedekat mungkin dengan ruang bakar. Sedangkan katalitik dipasang pada saluran gas buang (knalpot berkatalitik). Data diperoleh langsung dari pembacaan alat ukur emisi gas buang (CO, HC, Opasitas), temperatur air pendingin dan temperatur oli yang kemudian hasilnya dijabarkan dalam bentuk tabel dan grafik. Temperatur air mengalami kenaikan pada saat katalitik konverter digunakan. Hal ini disebabkan oleh gas buang yang keluar melalui katalitik sedikit terhambat sebelum emisi dibuang kelingkungan, akibat penyaringan dan sekat-sekat yang ada dalam knalpot berkatalitik. Magnetasi bahan bakar dengan menggunakan magnet EV-1 yang memiliki gauss sebesar 2500, dapat mengurangi emisi rata-rata diatas 15- 20% dibanding tidak memakai magnet dan penambahan katalitik pada saluran buang (knalpot).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limbah Padat Pulp Untuk Bahan Baku Pembuatan Keramik Berpori Yang Diaplikasikan Sebagai Filter Gas Buang Kendaraan Bermotor Dengan Bahan Bakar Premium

Pemanfaatan Limbah Padat Pulp Untuk Bahan Baku Pembuatan Keramik Berpori Yang Diaplikasikan Sebagai Filter Gas Buang Kendaraan Bermotor Dengan Bahan Bakar Premium

Perkembangan teknologi di bidang material khususnya material keramik berpori akhir-akhir ini telah banyak digunakan sebagai filter gas buang. Sehubungan dengan tujuan tersebut, telah dilakukan pembuatan keramik berpori berbasis limbah padat pulp yang terdiri dari gugusan grit, dreg dan biosludge. Perbandingan ketiga bahan ini divariasikan dan selanjutnya dicampur dengan bahan baku keramik yaitu kaolin. Pencampuran limbah padat pulp dan kaolin dilakukan beberapa variasi berdasarkan % massa bahan, antara lain: limbah padat pulp berbanding kaolin adalah 100 : 0 ; 90 : 10; 80 : 20; 70: 30; 60 : 40; 50 : 50%. Masing-masing campuran ini diaduk dengan menambah air plastisan secukupnya dengan mixer. Setelah homogen dituang ke dalam cetakan dalam bentuk silinder dengan ukuran tinggi 20 cm, diameter luar 1,5 inci dan diameter dalam 0,63 inci, lalu dikeringkan selama 4 hari. Pembakaran dilakukan dengan furnace pada temperatur 1100 o C yang ditahan selama 2 jam, kemudian didinginkan selama 12 jam. Terhadap sampel-sampel uji dilakukan pengujian secara fisis maupun mekanik. Dari pengujian fisis diperoleh susut massa 17,37 – 32,10%; susut bakar 1,97 – 4,07%; porositas 27,96 – 54,27%; dan densitas 1,14 – 1,20 gr/cm 3 . Sedangkan pengujian mekanik diperoleh : kuat tekan 0,98-69,58 MPa; kuat impak 1,49 x 10 -2 – 4,05 x 10 -2 MPa, dan kekerasan 87-127 Mpa. Sebelum dlakukan pengujian emisi gas, juga dilakukan analisis XRD untuk mengetahui komposisi senyawa kimia, dan diperoleh dari yang paling dominan yaitu : Alumina Silicate, Hidroxide, Al 2 (Si 2 O 5 ) (OH) 4 , Alumina Al 2 O 3 dan Silikon Okside SiO 2 . Untuk
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

FORMULASI BIOETANOL PADAT DENGAN VARIASI GELLING AGENT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG RAMAH LINGKUNGAN

FORMULASI BIOETANOL PADAT DENGAN VARIASI GELLING AGENT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG RAMAH LINGKUNGAN

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jumlah dan jenis zat pemadat yang sesuai agar dihasilkan bioetanol gel yang memiliki bentuk fisik baik dan kalor pembakaran yang tinggi. Pada penelitian ini, digunakan rasio larutan dari beberapa macam zat pemadat diantaranya asam stearate, bentonit, xanthan gum, kalsium asetat, dan karagenan. Rasio larutan untuk bioethanol yang digunakan adalah 85%, 87.5%, 90%, 92.5%, and 95%. Hasil terbaik didapat pada bioethanol padat dengan zat pemadat asam stearate dengan nilai kalor sebesar 3850.87 Kkal/k, Laju pembakaran sebesar 1.41509 gram/menit dan Residu hasil pembakaran sebesar 5%.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Isolator pada Tungku Briket Batubara dengan Variasi Bahan Keramik, Glasswool, Pasir Pantai, dan Batu Padas terhadap Temperatur Pembakaran.

PENDAHULUAN Pengaruh Isolator pada Tungku Briket Batubara dengan Variasi Bahan Keramik, Glasswool, Pasir Pantai, dan Batu Padas terhadap Temperatur Pembakaran.

Penggunaan bahan bakar alternatif untuk pembakaran pada tungku masak telah banyak dilakukan oleh peneliti. Penggunaan bahan bakar fosil seperti batubara masih banyak digunakan, karena bahan bakar ini mudah mudah didapat di indonesia. Batubara memiliki keunggulan dalam tingkat kalori dan waktu pembakaran lebih lama dibandingkan dengan bahan kayu bakar (arang kayu).

4 Baca lebih lajut

Biobriket Limbah Padat Organik Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Biobriket Limbah Padat Organik Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Biobriket adalah biomassa yang dipadatkan agar diperoleh bentuk yang lebih seragam daripada biomassa. Bahan baku biobriket yang digunakan adalah limbah padat organik rumah tangga dan serbuk kayu sengon. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan limbah padat organik sebagai bahan baku biobriket, mengetahui sifat fisis dan kimia serta karakteristik pembakaran biobriket yang dihasilkan, dan menentukan mutu biobriket. Hasil penelitian menunjukkan sifat fisis dan kimia biobriket yang dihasilkan yaitu kadar air 9.46%, kerapatan 0.55 g/cm ³ , kadar abu 9.24%, nilai kalor 4899.17 kal/g, unsur karbon 44.47%, unsur hidrogen 6.02%, unsur oksigen 48.29%, unsur nitrogen 0.99%, dan unsur sulfur 0.2%. Kualitas panas biobriket yang dihasilkan termasuk baik, suhu maksimal bara biobriket mencapai 586˚ C. Mutu biobriket yang dihasilkan sudah cukup baik berdasarkan standar mutu briket arang kayu di Indonesia.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...