Batagak Pangulu

Top PDF Batagak Pangulu:

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Chapter III VIII

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Chapter III VIII

Tema teks pidato adat batagak pangulu adalah mengukuhkan atau mersmikan gelar kebesaran penghulu di Minangkabau. Pengukuhan gelar penghulu ini bertujuan untuk membesarkan gelar penghulu tersebut di nagari agar mempunyai kedudukan yang sama dengan penghulu-penghulu yang sudah dikukuhkan sebelumnya sehingga dia sudah bisa dibawa sehilir semudik untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak nagari. Penghulu yang belum dikukuhkan kedudukannya masih lemah di nagari seperti dikatakan duduknya belum sama rendah tegaknya belum sama tinggi. Misalnya, di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat tempat penelitian yang penulis lakukan ini penghulu atau niniak mamak yang belum dikukuhkan (1) belum bisa belum bisa memberikan pendapat, masukan, dan saran ketika rapat di balai adat atau di Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam membicarakan masalah anak nagari; (2) Kalau ada upacara batagak pangulu atau malewakan gala pengulu dia diundang oleh dubalang tanpa pakai tepak 23 dan ketika hadir diacara tersebut dia hanya memakai pakaian biasa dan pakai peci; (3) Kalau ada upacara batagak panglu atau malewakan gala pangulu di rumah gadang tempat duduknya juga dibedakan; dan (4) Mereka tidak bisa menjadi pengurus inti di kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN). Selama
Baca lebih lanjut

166 Baca lebih lajut

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

One of the traditional ceremonies and rituals in Minangkabau is batagak pangulu. The objective of this study is to figure out and to analyze the performance of batagak pangulu in Minangkabau, to analyze text, co-text, and context, to find out the meaning and function of the local wisdom, and to create a model of revitalization. Emic method was used in this research. Participant observations and interviews were applied as the technique of data collection as well as qualitative data analysis. The research findings were; the performance of batagak pangulu was classified into traditional events, ceremonial, and entertainment.The results from textual analysis proved that there were differences in the treatment of customary rules and in the traditional leader who has not been inaugurated as a penghulu. The meaning of batagak pangulu for Minangkabau people were to strengthen or to legitimize the presence of penghulu in Minangkabau, and to declarethe soko (title) bequeathed to the nephew, mean while its function was (1) as a validation institution and traditional institutions of Minangkabau, (2) as coercive and supervisory norms that must be adhered to the members (3) as a projection system, a reflection of wishful thinking of Minangkabausociety, (4) as a means of child education, and (5) as a pride in the community.The values and norms of batagak pangulu were a logical value, the ethics value, and the aesthetic value; and the norms were the norms of religion, norms of decency, the norms of obscenity, the norms of habits, and the norms of customary legal.The local wisdom of batagak pangulu were: mutual cooperation, deliberation and consensus, peace and conflict resolution, politeness, truth and justice, commitments, harmony, gender management, and social solidarity. The revitalization of batagak pangulu was the management of either in Nagari Piobang or in other nagari. A good management for the sustainability of batagak pangulu in Nagari Piobang in Minangkabau was conducted by the deliberation and mutual cooperation. For other nagari,it was conducted through tourism-culture, the show of batagak pangulu on television, seminar, counselling, and news letters.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Isman, Muhammad. 2014. “The Minangkabau’Tradition of Batagak Pangulu, Local Wisdom, and Model of Inheritance”. Dalam Proceding International Conference Empowering Local Wisdom in Support of Nation Identities. Medan: Program Studi Linguistik FIB USU dan Balai Bahasa Sumatera Utara.

7 Baca lebih lajut

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

awal acara pasambahan dimulai. Juru sambah dari tuan rumah menyapa semua tamu satu pe rsatu dengan menyebut gelar adatnya. Hal ini sebagai tanda bahwa semua tamu dihargai oleh tuan rumah. Sesudah itu barulah juru sambah tuan rumah memulai sambutannya, menyampaikan maksud dan tujuan kepada para tamu. Kedua, nilai musyawarah, segala sesuatu yang dilakukan dan diputuskan selalu dimusyawarahkan terlebih dahulu. Juru sambah yang akan tampil ditentukan terlebih dahulu melalui musyawarah. Demikian pula jawaban yang akan disampaikan oleh juru sambah dimusyawarahkan terlebih dahulu. Ketiga, nilai ketelitian dan kecermatan, dalam hal ini juru sambah dalam upacara pasambahan itu harus teliti dan cermat mendengarkan apa yang diucapkan oleh juru sambah lawan bicaranya. Keempat, terungkap dalam upacara pasambahan adalah nilai budaya ketaatan dan kepatuhan terhadap adat yang berlaku. Dalam upacara pasambahan itu segala sesuatu yang akan dilakukan ditanyakan dulu, adakah sesuai dengan adat yang berlaku. Salah satu syarat pokok permintaan dapat disetujui adalah permintaan itu sesuai dengan aturan adat yang berlaku. Begitu juga dengan adat batagak pangulu, tata cara sambah- manyambah juga mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku di nagari masing- masing.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

One of the traditional ceremonies and rituals in Minangkabau is batagak pangulu. The objective of this study is to figure out and to analyze the performance of batagak pangulu in Minangkabau, to analyze text, co-text, and context, to find out the meaning and function of the local wisdom, and to create a model of revitalization. Emic method was used in this research. Participant observations and interviews were applied as the technique of data collection as well as qualitative data analysis. The research findings were; the performance of batagak pangulu was classified into traditional events, ceremonial, and entertainment.The results from textual analysis proved that there were differences in the treatment of customary rules and in the traditional leader who has not been inaugurated as a penghulu. The meaning of batagak pangulu for Minangkabau people were to strengthen or to legitimize the presence of penghulu in Minangkabau, and to declarethe soko (title) bequeathed to the nephew, mean while its function was (1) as a validation institution and traditional institutions of Minangkabau, (2) as coercive and supervisory norms that must be adhered to the members (3) as a projection system, a reflection of wishful thinking of Minangkabausociety, (4) as a means of child education, and (5) as a pride in the community.The values and norms of batagak pangulu were a logical value, the ethics value, and the aesthetic value; and the norms were the norms of religion, norms of decency, the norms of obscenity, the norms of habits, and the norms of customary legal.The local wisdom of batagak pangulu were: mutual cooperation, deliberation and consensus, peace and conflict resolution, politeness, truth and justice, commitments, harmony, gender management, and social solidarity. The revitalization of batagak pangulu was the management of either in Nagari Piobang or in other nagari. A good management for the sustainability of batagak pangulu in Nagari Piobang in Minangkabau was conducted by the deliberation and mutual cooperation. For other nagari , it was conducted through tourism-culture, the show of batagak pangulu on television, seminar, counselling, and news letters.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

lakukan 10 perlu dicontoh oleh nagari-nagari lain karena penyembelihan satu ekor kerbau bisa untuk 16 orang penghulu dan dengan kaum yang berbeda-beda pula terkecuali penghulu (datuk) pucuk tetap menyembelih satu ekor kerbau untuk satu orang. Dengan cara seperti ini kendala biaya yang sangat besar dapat diatasi dan ditanggulangi secara bersama-sama. Dengan demikian, tradisi batagak pangulu ini tetap berjalan walaupun ada perubahan-perubahan tergantung pada kesepakatan ninik mamak (penghulu-penghulu) di nagari yang bersangkutan.

13 Baca lebih lajut

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Tradisi Batagak Pangulu di Minangkabau: Studi di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota

melakukan interaksi secara aktif anak kamanakan dengan sesama pangulu dan niniak mamak yang berdomisili baik di daerah maupun di rantau melalui komunikasi yang intensif dan persuasif serta melakukan musyawarah secara konsisten untuk memecahkan berbagai persoalan dalam hidup bamamak, bakamanakan, bermasyarakat, dan banagari. Hal inilah yang perlu dikembangkan dalam rangka revitalisasi bernagari serta menbgaggali potensi nagari yang selama ini yang belum sempat dilakukan secara optimal. Seyogyanya setiap penghulu dan niniak mamak yang ada dalam nagari secara aktif berpartisipasi merumuskan langkah-langkah strategis dengan potensi nagari dan anak kamanakan sehingga dapat dibangun sinergisitas dalam nagari.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Sambutan Bupati Batagak Pangulu 2014 Palembayan

Sambutan Bupati Batagak Pangulu 2014 Palembayan

Dalam sambuatan ini disampaikan beberapa hal yang strategis dengan melihat situasi yang berkembang dewasa ini sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada beberapa hal [r]

10 Baca lebih lajut

IMPLIKATUR PASAMBAHAN DALAM BATAGAK GALA DI KANAGARIAN PAUH V.

IMPLIKATUR PASAMBAHAN DALAM BATAGAK GALA DI KANAGARIAN PAUH V.

yang menggunakan bahasa Minangkabau sebagai alat komunikasi yakninya kegiatan pasambahan. Pasambahan salah satu kegiatan berbahasa yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau dalam berkomunikasi baik secara formal maupun tidak formal. Pasambahan adalah kegiatan penyampaian maksud dari tujuan pembicaraan yang hendak disampaikan. Dalam pasambahan, diperlukan kemahiran dalam bertutur. Pasambahan sering digunakan dalam upacara adat seperti (a) perkawinan, (b) upacara kematian, dan (c) upacara batagak pangulu.

9 Baca lebih lajut

BAB II DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN A. Kabupaten Simalungun - Relasi Kekuasaan Kepala Daerah Dengan Kepala Desa (Melihat Good Governance Kepala Desa Nagori Dolok Huluan, Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun)

BAB II DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN A. Kabupaten Simalungun - Relasi Kekuasaan Kepala Daerah Dengan Kepala Desa (Melihat Good Governance Kepala Desa Nagori Dolok Huluan, Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun)

perundang undangan, namun berasal dari asal usul dan adat istiadat desa sendiri yang dikembangakan dan dipelihara oleh penduduk desa. Hal ini lah yang membuat nama desa atau wilayah kesatuan terkecil berbeda beda di beberapa tempat demikian juga nama kepala desa nya. Untuk daerah Kabupaten simalungun nama desa diberi identitas dengan Nagori dan kepala desa menjadi Pangulu Nagori.

30 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN ETNOBOTANI UPACARA ADAT BATAGAK PANGHULU MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT.

PERBANDINGAN ETNOBOTANI UPACARA ADAT BATAGAK PANGHULU MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT.

2. Daerah Kayu Tanam dan Pariaman Utara memiliki indeks kesamaan tertinggi dengan nilai 96 % dan kesamaan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat pada upacara adat batagak panghulu, ternyata tidak hanya dipengaruhi atas keberadaan keanekaragaman hayati yang ada, akan tetapi karena ketentuan yang telah dibuat dan disepakati dalam aturan adat lah yang menyebabkan masyarakat menggunakan tumbuhan tersebut, walau pun tidak ditemukan dilokasi mereka tinggal.

11 Baca lebih lajut

Ringkasan - Nilai-Nilai Budaya Minangkabau dalam Pasambahan Batagak Panghulu: Implikatur dan Pola Percakapan Bahasa Adat (Suatu Kajian Pragmatik).

Ringkasan - Nilai-Nilai Budaya Minangkabau dalam Pasambahan Batagak Panghulu: Implikatur dan Pola Percakapan Bahasa Adat (Suatu Kajian Pragmatik).

alamiah dan terikat nilai budaya lokalPendekatan ini disebut ethnography of communication yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman tentang pandangan dan nilai-nilai dalam masyarakat Minangkabau yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku berbahasa masyarakatnya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik rekam dan observasi peristiwa tutur Pasambahan Batagak Penghulu. Data dianalisis dengan teknik padan pragmatik yang melibatkan konteks lingual dan konteks non-lingual.

3 Baca lebih lajut

ANALISA PERBANDINGAN PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN USAHATANI KENTANG (Solanum tuberosum L.) ANTARA MENGGUNAKAN BENIH KULTUR JARINGAN BERSERTIFIKAT (G4) DENGAN BENIH LOKAL DI KANAGARIAN BATAGAK KECAMATAN SUNGAI PUAR KABUPATEN AGAM.

ANALISA PERBANDINGAN PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN USAHATANI KENTANG (Solanum tuberosum L.) ANTARA MENGGUNAKAN BENIH KULTUR JARINGAN BERSERTIFIKAT (G4) DENGAN BENIH LOKAL DI KANAGARIAN BATAGAK KECAMATAN SUNGAI PUAR KABUPATEN AGAM.

Usahatani kentang hitam batang dengan menggunakan benih kultur jaringan bersertifikat yang dinamakan kentang Varietas Cingkariang dilakukan di Kabupaten Agam, tepatnya di Nagari Batagak Kecamatan Sungai Puar yang merupakan salah satu kecamatan yang memproduksi kentang di Kabupaten Agam (Lampiran 3). Kentang hitam batang ini digunakan sebagai bahan olahan untuk industri keripik kentang, sedangkan daerah sentra produksi tanaman kentang lainnya mengusahakan usahatani kentang varietas granola yang digunakan untuk sayuran.

11 Baca lebih lajut

TAP.COM -   JURNAL PROFETIKA.INDD - JOURNAL-UMS 1833 3802 1 PB

TAP.COM - JURNAL PROFETIKA.INDD - JOURNAL-UMS 1833 3802 1 PB

kisas kethok iku ora manira wenangake, lan manira idine pasah.”20 Pada mulanya yang melaksanakan pengadilan Surambi adalah Abdi Dalem Pangulu dengan dibantu empat orang Ulama Baru kemu[r]

25 Baca lebih lajut

Mengidentifikasi Perbedaan Karakteristik Arsitektur Vernakular Nagari Seribu Rumah Gadang Dan Perubahan Akibat Pengaruh Budaya

Mengidentifikasi Perbedaan Karakteristik Arsitektur Vernakular Nagari Seribu Rumah Gadang Dan Perubahan Akibat Pengaruh Budaya

Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas LANTING Journal of Architecture, Volume 1, Nomer 2, Halaman 68-82.. Rasyid Manggis Dt Rj Pangulu Mi[r]

1 Baca lebih lajut

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

Perlu dilakukan kegiatan pembekalan tentang peran dan fungsi KAN dalam menyelesaikan konflik hukum termasuk hukum pidana, secara kontinu dan di banyak nagari, sehingga konflik yang tim[r]

15 Baca lebih lajut

Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015

Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015

Skripsi ini berjudul “Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015”. Skripsi ini menguraikan bahwa hubungan antara pangulu dan maujana nagori hingga saat ini belum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hubungan antara pangulu dengan maujana nagori sebagai mitra kerja yang memiliki posisi yang sejajar diwarnai dengan praktik-praktik yang kurang harmonis dan cenderung didominasi oleh pangulu. Permasalahan di nagori semakin menumpuk sejak pembentukan maujana nagori dan gamot yang dipilih oleh pangulu sendiri, sehingga dimungkinkan maujana nagori dan gamot menjadi tunduk kepada pangulu. Disamping itu partisipatif dan keterlibatan masyarakat dalam melakukan kritik maupun tindakan protes terhadap pangulu maupun maujana nagori tidak terlihat serta sosial budaya masyarakat masih menerapkan prinsip lama yang sulit hilang, yaitu pola relasi kekuasaan pemerintahan yang mendekati nilai-nilai korupsi, kolusi dan nepotisme.
Baca lebih lanjut

139 Baca lebih lajut

Show all 22 documents...