Batak mandailing

Top PDF Batak mandailing:

Status Sosial Ekonomi Dan Persepsi Terhadap Nilai Anak Laki ? Laki Dalam Keluarga Batak ? Mandailing

Status Sosial Ekonomi Dan Persepsi Terhadap Nilai Anak Laki ? Laki Dalam Keluarga Batak ? Mandailing

Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada pergeseran pandangan mengenai anak laki-laki. Anak laki-laki yang sebelumnya lebih diutamakan daripada anak perempuan (seperti dalam bidang pendidikan, pembagian tugas di rumah, kegiatan ekstra kurikuler, ataupun kegiatan adat), kini cenderung dianggap sama. Pergeseran pandangan ini pula dilihat dalam hal pembagian harta warisan. Menurut adat Batak - Mandailing, anak perempuan tidak mendapat hak waris. Namun, temuan penelitian menunjukkan, bahwa sebagian besar responden akan memberikan warisan yang sama, baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan. Tampaknya, ketiadaan anak laki-laki dalam sebuah keluarga Batak Mandailing, bukan lagi merupakan masalah besar. Walaupun ,menurut adat anak lelaki ditetapkan sebagai penerus marga, anggapan bahwa keberlanjutan keturunan i tu semata-mata ditentukan oleh adanya anak lelaki, cenderung tidak lagi terllu dominan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

DAFTAR ISI - Kajian Yuridis Pelaksanaan Warisan Pada Masyarakat Adat Batak Mandailing Di Padang Lawas

DAFTAR ISI - Kajian Yuridis Pelaksanaan Warisan Pada Masyarakat Adat Batak Mandailing Di Padang Lawas

Metode penelitian yang dipakai adalah metode penilitian hukum empiris, karena penelitian empiris merupakan penelitian tentang hukum yang hidup di masyarakat, yang diterapkan atau dilaksanakan oleh anggota masyarakat, permasalahan yang diteliti menyangkut praktek nyata yang dilakukan masyarakat adat batak Mandailing di Padang Lawas terhadap pelaksanaan warisan. Sedangkan pendekatan yang dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan yuridis empiris, yakni pendekatan kenyataan hukum masyarakat dengan mempelajari fenomena sosial dalam masyarakat yang tampak aspek hukumnya, mengingat permasalahan utama yang diteliti dan dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) identifikasi terhadap hukum waris yang hidup dalam masyarakat Mandailing di Kabupaten Padang Lawas, 2) pelaksanaan pembagian harta warisan yang berlaku pada masyrakat Mandailing di Kabupaten Padang Lawas, 3)
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

MAKNA TUTUR DALAM MANGUPA-NGUPA PADA PERKAWINAN ADAT BATAK MANDAILING DI KECAMATAN MEDAN DENAI.

MAKNA TUTUR DALAM MANGUPA-NGUPA PADA PERKAWINAN ADAT BATAK MANDAILING DI KECAMATAN MEDAN DENAI.

Pembatasan masalah dilakukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian, agar tidak terjadi kesalahan dalam masalah yang diteliti, Mengingat luasnya cakupan makna tuturanpada pesta perkawinan Batak Mandailing,dan banyaknya tahapan yang terjadi pada perkawinan Mandailing, sehingga untuk memfokuskan penelitian penulis membatasi masalah hanya pada “makna tutur (lokusi, ilokusi, perlokusi) dalam mangupa-ngupa pada perkawinan adatBatak Mandailing yaitu khusus pada upacara adat, pada satu pesta perkawinan Batak Mandailing.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PERKAWINAN SEMARGA MASYARAKAT BATAK MANDAILING MIGRAN DI YOGYAKARTA

PERKAWINAN SEMARGA MASYARAKAT BATAK MANDAILING MIGRAN DI YOGYAKARTA

Kedua, teori berantai, pendekatan antropologis dalam migrasi mengacu pada suatu hubungan kekerabatan. Proses migrasi tersebut tidak terlepas dari kaitannya dengan eksistensi keluarga atau teman yang telah lebih dahulu tinggal di daerah tujuan. Migran pemula sebagai pionir ini akan menarik penduduk dari daerah asal yang mengakibatkan timbulnya pola migrasi berantai. 1 Migrasi berantai ini banyak terdapat 3 di Indonesia terutama migrasi penduduk pada suku Batak Mandailing misalnya, mereka bermigrasi ke Yogyakarta dengan berbagai faktor, di antaranya faktor yang dominan adalah faktor pendidikan. Disisi lain secara umum seseorang bermigrasi erat kaitannya dengan faktor pendidikan. Penduduk yang meninggalkan daerah asalnya pernah duduk di bangku sekolah. Hal demikian juga dirumuskan penelitian Sahota di
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PEWARISAN ADAT PADA MASYARAKAT BATAK MANDAILING YANG MELAKUKAN PERKAWINAN DENGAN MASYARAKAT PENDATANG (MINANGKABAU) DI KECAMATAN PANYABUNGAN DIHUBUNGKAN DENGAN HUKUM PEWARISAN ADAT BATAK.

PELAKSANAAN PEWARISAN ADAT PADA MASYARAKAT BATAK MANDAILING YANG MELAKUKAN PERKAWINAN DENGAN MASYARAKAT PENDATANG (MINANGKABAU) DI KECAMATAN PANYABUNGAN DIHUBUNGKAN DENGAN HUKUM PEWARISAN ADAT BATAK.

Perkawinan adat adalah perkawinan yang bukan saja sebagai perikatan perdata, tetapi juga merupakan perikatan adat dan sekaligus perikatan kekerabatan dan ketetanggaan. Terjadinya suatu ikatan perkawinan bukan hanya membawa akibat terhadap hubungan hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami isteri, harta bersama, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan kekeluargaan, kekerabatan, upacara- upacara adat dan keagamaan, serta adat istiadat kewarisan. Di kecamatan Panyabungan terjadi perkawinan antara masyarakat Batak Mandailing dengan masayarakat pendatang (Minangkabau). Dari perkawinan antara dua adat yang berbeda ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pelaksanaan sistem pewarisan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kajian Yuridis Pelaksanaan Warisan Pada  Masyarakat Adat Batak Mandailing Di Padang Lawas

Kajian Yuridis Pelaksanaan Warisan Pada Masyarakat Adat Batak Mandailing Di Padang Lawas

Pada umumnya bagian para ahli waris masih berdasarkan hukum adat walaupun ada bagian ahli waris berdasarkan hukum waris Islam, ayah dan ibu belum termasuk ahli waris utama. Cara pembagian harta warisan pada umumnya langsung melaksanakan musyawarah. Dalam hukum waris adat, keturunan darah ayah sebagai titik tolak untuk menelusuri orang- orang pewaris. Hubungan keluarga terdekat dan jenis kelamin laki-laki merupakan golongan yang utama untuk mendapatkan hak waris terhadap harta benda, sehingga golongan anak laki-laki beserta turunannya menurut garis vertikal adalah menjadi golongan yang utama. Prinsip hukum waris adat Batak Mandailing adalah hanya pihak laki-laki saja yang dijadikan sebagai ahli waris, sedangkan pihak perempuan tidak dianggap sebagai ahli waris, kalaupun ia dapat itu sifatnya sebagai pemberian rasa kasih sayang dari saudara laki-lakinya. Akibat dari pengaruh perkembangan zaman yang menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan tidak lagi banyak dilakukan hukum adat Batak Mandailing tersebut karena sudah merantau dan berpendidikan. Perkembangan ini sangat berpengaruh terhadap semua anak termasuk anak perempuan dalam hal warisan. Sehingga adanya persamaan gender dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Pembagian warisan dalam masyarakat adat Batak Mandailing saat ini sudah mengikuti kemauan dari orang yang ingin memberikan warisan. Tetapi bagaimanapun juga dia akan menghargai asal usul leluhurnya.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

ANALISIS BAHASA TUTURAN DALAM MANGUPA PADA PERKAWINAN BATAK MANDAILING.

ANALISIS BAHASA TUTURAN DALAM MANGUPA PADA PERKAWINAN BATAK MANDAILING.

Dalam masyarakat Mandailing, terdapat suatu upacara adat (ritual) yang dinamakan Mangupa. Seperti kebudayaan lainnya, Mangupa merupakan salah satu adat yang penting bagi suku Batak Mandailing. Melalui adat Mangupa, suku Mandailing menunjukkan eksistensinya dalam masyarakat. Selain itu, melaui upacara Mangupa, suku Mandailing juga memperkenalkan dirinya ke suku lain di luar suku mereka. Dengan adanya adat tersebut, masyarakat di luar suku bahkan masyarakat didalam suku itu sendiri dapat mengetahui falsafah hidup yang dianut oleh suku tersebut.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Ukuran Lengkung Gigi Rahang  Atas dan Rahang Bawah pada Mahasiswa Suku Batak Mandailing di FKG USU

Ukuran Lengkung Gigi Rahang Atas dan Rahang Bawah pada Mahasiswa Suku Batak Mandailing di FKG USU

Penduduk Indonesia sebagian besar didominasi oleh ras Paleomongoloid atau ras Melayu. Ras Melayu ini kemudian dibedakan atas Proto-Melayu dan Deutro- Melayu. Yang termasuk Proto-Melayu adalah Batak, Gayo, Sasak, dan Toraja.Yang termasuk Deutro-Melayu adalah keturunan Aceh, Minangkabau, Sumatera Pesisir, Rejang Lebong, Lampung, Jawa, Madura, Bali, Bugis, Manado pesisir, Sunda kecil timur dan Melayu. 11 Suku Batak yang termasuk bagian dari ras Proto-Melayu merupakan suku terbesar yang menempati Sumatera Utara yang terdiri atas enam sub- group, yaitu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Suku Batak Mandailing merupakan salah satu dari sub-grup suku Batak yang lebih banyak ditemui di FKG USU daripada subgroup lainnya.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Status Sosial Ekonomi Dan Persepsi Terhadap Nilai Anak Laki-Laki Dalam Keluarga Batak-Mandailing...

Status Sosial Ekonomi Dan Persepsi Terhadap Nilai Anak Laki-Laki Dalam Keluarga Batak-Mandailing...

P e n e l i t i a n i n i b e r t u j u a n u n t u k m e l i h a t p e r u b a h a n persepsi mengenai nilai anak laki-laki dalam keluarga B a t a k - M a n d a i l i n g d i K o t a m a d y a M e d a n , s e r t a s e j a u h m a n a Status Sosial Ekonomi memp engaruhi persepsi terhadap nilai a n a k l a k i - l a k i t e r s e b u t . P e n e l i t i a n d i l a k u k a n p a d a d u a k e c a m a t a n d i k o t a M e d a n , y a i t u k e c a m a t a n M e d a n B a r u d a n k e c a m a t a n M e d a n T e m b u n g . K e c a m a t a n M e d a n B a r u d i h u n i o l e h mayoritas masyarakat Batak - Mandailing dengan status s o s i a l e k o n o m i r e l a t i f t i n g g i , s e d a n g k a n k e c a m a t a n M e d a n T e m b u n g d i h u n i o l e h m a y o r i t a s m a s y a r a k a t Batak-M a n d a i l i n g d e n g a n s t a t u s s o s i a l e k o n o m i r e l a t i f r e n d a h . D a r i m a s i n g - m a s i n g k e c a m a t a n i t u d i a m b i l 2 k e l u r a h a n untuk diteliti.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Beberapa Perubahan Bunyi Proto-Austronesia dalam Bahasa Batak Mandailing dan Bahasa Batak Toba

Beberapa Perubahan Bunyi Proto-Austronesia dalam Bahasa Batak Mandailing dan Bahasa Batak Toba

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dalam bentuk tulisan disebut juga data skunder (Fernandez, 1996: 28) dan lisan disebut juga data primer (Fernandez, 1996: 28) merupakan terjemahan daftar Swadesh dan Holle ke dalam bahasa Toba dan Mandailing. Data tertulis diperoleh dengan cara merujuk kepada informan secara langsung. Selain itu data lisan ini juga diperoleh dari kamus dan buku-buku Bahasa Batak Toba dan Batak Mandailing yang relevan, sedangkan data dalam bentuk lisan diperoleh dari hasil perekaman terhadap kata-kata yang telah disediakan. Perekaman dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam mengenali jenis fonem yang digunakan dalam masing-masing bahasa dan mempermudah peneliti untuk mengecek data tertulis untuk menguatkan kesahihan data yang ada. 3.4 Prosedur Pengumpulan dan Perekaman Data
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

Ukuran Lengkung Gigi Rahang Atas dan Rahang Bawah pada Mahasiswa Suku Batak Mandailing di FKG USU

Ukuran Lengkung Gigi Rahang Atas dan Rahang Bawah pada Mahasiswa Suku Batak Mandailing di FKG USU

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Rehulina Ginting, drg., Msi., selaku Ketua Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan selaku pembimbing [r]

12 Baca lebih lajut

Kaitan Antara Hunian dan Peradaban Manus

Kaitan Antara Hunian dan Peradaban Manus

Rumah suku batak Mandailing berbentuk panggung dan mengenal pembagian rumah menjadi 3 yaitu banua parginjang (atas) yang merupakan tempat suci, banua partonga (tengah) yang merupakan alam manusia dan banua partoru (bawah) sebagai tempat kotor. Bagi mereka secara vertikal semakin keatas (pada rumah) semakin suci dan semakin kebawah semakin kotor/nista.

8 Baca lebih lajut

BENTUK PENYAJIAN GONDANG DUA DALAM ACARA PESTA PERNIKAHAN ADAT MANDAILING DI KELURAHAN BANDAR SELAMAT KECAMATAN MEDAN TEMBUNG.

BENTUK PENYAJIAN GONDANG DUA DALAM ACARA PESTA PERNIKAHAN ADAT MANDAILING DI KELURAHAN BANDAR SELAMAT KECAMATAN MEDAN TEMBUNG.

gondang sambilan mempunyai perbedaan yang sangat mencolok. Dimana gondang dua lebih praktis dan lebih murah dalam hal biaya dari pada gondang sambilan. Sehingga untuk masyarakat ekonomi menengah lebih memilih musik gondang dua dalam acara adatnya dari pada gondang sambilan. Namun akibat adanya pengaruh musik modern seperti keyboard yang lebih murah lagi daripada gondang dua, maka penggunaan gondang dua ini semakin jarang dimainkan baik dalam acara pernikahan atau pertunjukan kesenian. Sedangkan gondang dua merupakan salah satu ikon musik budaya Batak Mandailing yang harus dijaga keberadaannya. Suku Batak Mandailing yang mayoritas masyarakatnya adalah umat Muslim sering memakai ansamble gondang dua ini dalam acara – acara adat seperti acara tunangan ataupun upacara pernikahan.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Kalimat Imperatif Upacara Mangompoi Jabu Etnik Batak Toba : Kajian Tindak Tutur

Kalimat Imperatif Upacara Mangompoi Jabu Etnik Batak Toba : Kajian Tindak Tutur

Batak Toba merupakan salah satu sub suku etnik adat Batak, disamping terdapat sub suku lainnya, yaitu Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Salah satu yang menjadi ciri pembeda antara puak atau sub etnis diatas adalah bahasa dan letak geografisnya.

6 Baca lebih lajut

Pakaian Adat Pada Pesta Perkawinan Masyarakat Mandailing Sebagai Atraksi Wisata Di Tapanuli Selatan

Pakaian Adat Pada Pesta Perkawinan Masyarakat Mandailing Sebagai Atraksi Wisata Di Tapanuli Selatan

Pakaian adat merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh negara Indonesia, pakaian adat atau yang biasa disebut pakaian tradisional dari masing- masing provinsi ini memiliki suatu cerita yang berbeda-beda pula. Pakaian adat etnik di Indonesia mempunyai adat-istiadat masing-masing, namun dalam beberapa hal mempunyai kekhususan yang berbeda-beda. Salah satu pakaian adat batak Mandailing dapat dijadikan sebagai atraksi wisata, yaitu pakaian adat Mandailing dapat dikemas dengan baik dan yang bisa dikenakan oleh para wisatawan yang datang, sama dengan halnya di Bali dan Sumatera Barat pakaian adat dikenakan para wisatawan yang berkunjung. Dengan dijadikannya sebagai atraksi wisata sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat setempat menjaga dan melestarikan kebudayaan di Tapanuli Selatan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

SIKAP ETNIK MANDAILING DALAM MEMANDANG PENCANTUMAN KATA BATAK DI DEPAN KATA MANDAILING TERHADAP IDENTITASNYA PADA MASA KINI.

SIKAP ETNIK MANDAILING DALAM MEMANDANG PENCANTUMAN KATA BATAK DI DEPAN KATA MANDAILING TERHADAP IDENTITASNYA PADA MASA KINI.

Hingga saat sekarang ini, isu tentang Mandailing bukan sebagai etnik Batak dan merupakan bagian dari etnik Batak masih sering diperdebatkan dan dipermasalahkan oleh banyak kalangan. Perdebatan atau pembahasan tersebut berlangsung dipersoalan mengenai identitas orang Mandailing sebagai salah satu sub etnik Batak disatu sisi dan di sisi lain secara tegas pula menolak dikaitkan sebagai bagian dari sub etnis Batak. Seperti diketahui para ahli membagi etnik Batak menjadi enam sub etnik Batak yakni, “Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Toba, Batak Dairi, Batak Angkola dan Batak Mandailing (Castles, L ,2001:3). Kemudian masing masing pihak yang berdebat di dalam permasalahan itu tentunya saling mengajukan alasan, referensi dan berbagai informasi yang dimiliki oleh masing-masing yang berlainan pendapat dalam debat atau diskusi tersebut. Referensi dan informasi yang dipunyai dan diajukan tersebut dapat berupa, mitologi, cerita turun temurun, stambuk dari “tarombo” (silsilah asal usul). Referensi yang diajukan oleh masing-masing pihak pun dipertahankan dengan kukuh oleh kedua belah pihak yang berdiskusi, debat hingga terkadang dapat memanas menjadi pertengkaran. Dan yang paling menarik didalam literatur ada didapati orang-orang Mandailing dengan tegas menolak identitas dirinya sebagai Batak, “lebih gamblang lagi, orang Mandailing bahkan tidak mengaku dirinya Batak” (Castles, 2001:xxiv).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Perkembangan Tenun Ulos di Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan 1980-2006

Perkembangan Tenun Ulos di Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan 1980-2006

Penduduk asli wilayah Tapanuli Selatan memiliki dua jenis suku sesuai dengan daerahnya yaitu Batak Mandailing yang mendiami daerah Mandailing, yang berbatasan dengan Sumatera Barat dan suku Batak Angkola, yang mendiami daerah bagian utara Kabupaten Tapanuli Selatan seperti Sipirok. Kedua suku ini yaitu Batak Mandailing dan Angkola menempati sebagian besar dari keseluruhan wilayah Tapanuli Selatan sejak masa tradisional sampai pada saat sekarang ini.

16 Baca lebih lajut

S ING 1100764 Bibliography

S ING 1100764 Bibliography

Lita Rizki Fauziah, 2015 LANGUAGE INTERFERENCE OF BATAK ANGKOLA-MANDAILING LANGUAGE TOINDONESIAN: A CASESTUDY Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu REFERE[r]

6 Baca lebih lajut

Contoh Soal UTS Kelas 4 SD Tema 7 Semester urikulum 2013 Revisi 2017 2018

Contoh Soal UTS Kelas 4 SD Tema 7 Semester urikulum 2013 Revisi 2017 2018

Bahasa yang digunakan orang Batak adalah bahasa Batak dan sebagian orang menggunakan bahasa Melayu.Penutur bahasa Batak di setiap daerah memiliki logat yang berbeda-beda.Orang Karo menggunakan logat Karo, Orang Pakpak menggunakan logat Pakpak, dan orang Simalungun menggunakan logat Simalungun.Tari Tor-Tor dan Serampang Dua Belas adalah kesenian suku Batak.Adapun alat musik tradisionalnya berupa gong dan saga-saga.Kain ulos merupakan hasil kerajinan tenun suku Batak.Kain ini sering digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti upacara perkawinan, kematian, maupun menyambut tamu.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

CERITA RAKYAT BATAK 27 TENTANG MIGRASI ORANG BATAK KE TANAH GAYO DI KECAMATAN BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH.

CERITA RAKYAT BATAK 27 TENTANG MIGRASI ORANG BATAK KE TANAH GAYO DI KECAMATAN BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH.

Tanah Gayo meliputi pusat pegunungan Bukit Barisan bagian Utara yang merupakan dataran tinggi dengan ketinggian diatas 1.000 meter diatas permukaan laut. Wilayahnya terpotong-potong oleh punggung-punggung bukit. Punggung- punggung bukit dimaksud merupakan hulu-hulu sungai besar dan penting, seperti Sungai Peusangan, Meulaboh, Jambu Aye/Jemer, Tripa, Temiang, dan Sungai Perlak dengan beberapa anak sungainya. Jajaran bukit barisan yang membentang disebelah Utara merupakan batas alam yang memisahkan Tanah Gayo dengan pesisir Aceh bagian Utara. Kemudian dibagian Barat melengkung dibagian hulu Sungai Senangan, arah ke Timur Bur Ni Alas, dan Bur Ni Serbe Langit yang langsung berbatasan dengan Tanah Alas dan Tanah Batak. Secara tradisional, wilayah Tanah Gayo terbagi atas empat bagian yaitu Wilayah Lut Tawar, Wilayah Deret, (daerah jambu aye), Wilayah Gayo Lues dan Gayo Tanyo serta Wilayah Serbe Jadi (Hurgroje, 1996 : 2-7).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Show all 2808 documents...