berpikir kreatif matematis

Top PDF berpikir kreatif matematis:

PROSES BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA

PROSES BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif matematis siswa laki- laki dan perempuan berdasarkan pengetahuan awal tinggi dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Pengungkapan proses berpikir kreatif ini dilakukan di kelas VIII SMP. Peneliti mengambil sampel siswa laki-laki dan perempuan dengan pengetahuan awal tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan materi yang digunakan adalah materi lingkaran. Data yang digunakan adalah dokumentasi, wawancara dan hasil tes. Validasi data adalah dengan triangulasi teknik yaitu menyesuaikan data yang diperoleh berdasarkan teknik yang digunakan. Indikator proses yang digunakan adalah menurut Torrance yaitu: 1) siswa mampu memahami soal; 2) siswa mampu membuat hipotesis; 3) siswa mampu menguji hipotesis; 4) siswa mampu retest atau evaluasi; 5) siswa mampu mengkomunikasikan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki dan perempuan dengan pengetahuan awal tinggi mampu melakukan kelima proses berpikir kreatif, hanya saja memiliki sedikit perbedaan pada proses memahami dan proses evaluasi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Inkuiri Model Alberta.

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Inkuiri Model Alberta.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi serta disposisi berpikir kreatif matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis adalah pembelajaran inkuiri model Alberta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis serta disposisi berpikir kreatif matematis sebagai akibat dari pembelajaran Inkuiri model Alberta. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua model pembelajaran yaitu inkuiri model Alberta dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah salah satu SMP Negeri di kota Bandung, sekolah ini berjarak 3 km dari pusat kota (Gedung Sate). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh kelas VII D dan VII E. Untuk kepentingan analisis masing-masing kelas penelitian dikategorikan menurut kemampuan awal matematis (KAM; tinggi, sedang, rendah). Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi, skala disposisi berpikir kreatif matematis dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji-t, uji Mann-Whitney, dan analisis deskriptif. Analisis data ditinjau berdasarkan data keseluruhan dan kategori KAM. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan: 1) pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 2) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta dan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan kategori KAM (tinggi, sedang, rendah); 3) pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 4) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta dan pembelajaran konvensional berdasarkan kategori KAM (tinggi, sedang, rendah); 5) Disposisi berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 6) Terdapat asosiasi antara kemampuan berpikir kreatif dengan kemampuan komunikasi matematis siswa, namun antara kemampuan dengan disposisi berpikir kreatif matematis siswa tidak terdapat asosiasi.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS UNTUK SISWA SMP

PENGEMBANGAN INSTRUMEN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS UNTUK SISWA SMP

ABSTRAK. Seiring dengan diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dibutuhkan sumber daya manusia yang kreatif. Hal ini dapat dimulai dengan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Matematika adalah salah satu pelajaran yang menjadi pondasi dalam berbagai ilmu pengetahuan, oleh karena itu berpikir kreatif matematis dapat mulai ditumbuhkan pada siswa. Makalah ini menyajikan tentang pengembangan instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMP. Pengembangan instrumen ini merupakan salah satu langkah dari penelitian yang dilakukan oleh penulis. Instrumen yang dibuat harus valid dan reliabel agar kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian yang dilakukan bisa digunakan dengan baik. Langkah-langkah pengembangan instrumen meliputi: (1) studi literatur mengenai kemampuan berpikir kreatif matematis; (2) membuat kisi-kisi berdasarkan kurikulum, bahan ajar, indikator kemampuan berpikir kreatif matematis, karakteristik pembelajaran yang digunakan, karakteristik dan kemampuan siswa; (3) penyusunan butir tes; (4) validasi muka, isi dan empirik; (6) uji coba; (7) analisis hasil uji coba. Setelah dianalisis maka diperoleh hasil berupa seperangkat instrumen tes berpikir kreatif matematis yang valid dan reliabel, untuk siswa SMP yang terdiri dari 4 butir soal.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STRATEGI BRAIN- BASED LEARNING UNTUK MENGINGAT KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SERTA MENURUNKAN KECEMASAN MATEMATIS SISWA SMP.

STRATEGI BRAIN- BASED LEARNING UNTUK MENGINGAT KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SERTA MENURUNKAN KECEMASAN MATEMATIS SISWA SMP.

Strategi tersebut dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasah kemampuan berpikir matematis khususnya berpikir kritis dan berpikir kreatif matematis. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang menantang, jaringan sel-sel otak akan terkoneksi satu sama lain sehingga akan semakin merangsang kemampuan berpikir siswa, yang selanjutnya akan semakin besar pula pemaknaan yang diperoleh selama pembelajaran. Melalui lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, siswa dapat memupuk kepercayaan dirinya sehingga dapat mengatasi kecemasan dalam belajar matematika. Tantangan berupa masalah dan tugas-tugas matematika yang bervariasi dapat mendorong siswa untuk belajar mengidentifikasi persoalan, mengidentifikasi hubungan antar elemen, membuat kesimpulan, mengambil keputusan, hingga membentuk pola pikir baru (kreatifitas) dan membuat interpretasi asli (Orlich, dkk, dalam Abdurrahman & Sintawati, 2013), yang kesemuanya merupakan ciri khas pemikir kritis dan kreatif. Dengan menerapkan pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan otak diharapkan dapat menstimulasi proses kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif matematis siswa, karena revolusi belajar dimulai dari otak (Abdurrahman & Sintawati, 2013).
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Implementasi Pendekatan Pembelajaran Open Ended terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa T1 202009096 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Implementasi Pendekatan Pembelajaran Open Ended terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa T1 202009096 BAB V

pembelajaran open ended terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Hasil peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis akibat pendekatan pembelajaran open ended juga terlihat melalui kenaikan kemampuan berpikir kreatif matematis dengan pendekatan pembelajaran open ended pada siswa kelas VII A sebesar 0,11 dan penurunan kemampuan berpikir kreatif matematis dengan pendekatan pembelajaran konvensional pada kelas VII B sebesar -0,15. Hasil posttest juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa kelas VII A dan VIIB mempunyai tingkat kemampuan berpikir pada taraf kemampuan berpikir kreatif matematis sedang. Implementasi pendekatan pembelajaran open ended juga mengoptimalkan partisipasi siswa dalam pembelajaran, seperti menemukan solusi masalah terbuka, melakukan diskusi bersama anggota kelompok dan mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA KELAS VII F SMP NEGERI 1 REMBANG

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA KELAS VII F SMP NEGERI 1 REMBANG

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Rembang pada materi perbandingan. Penelitian ini menggunakan model Miles and Huberman yang meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan (verification/conclusion drawing). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dikelompokan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok tinggi, sedang, dan rendah. Dari setiap kelompok, diambil masing-masing 3 siswa untuk dijadikan sumber data. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa kelompok tinggi mampu menguasai maksimal 3 indikator berpikir kreatif matematis yaitu berpikir lancar, berpikir orisinal, dan berpikir terperinci. Siswa kelompok sedang mampu menguasai maksimal 3 indikator berpikir kreatif matematis yaitu berpikir lancar, berpikir orisinal, dan berpikir terperinci. Namun, kemampuan berpikir terperinci dari kelompok tinggi lebih baik daripada kelompok sedang. Selanjutnya, siswa kelompok rendah hanya mampu menguasai maksimal 2 indikator berpikir kreatif matematis yaitu berpikir orisinal dan berpikir terperinci.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Strategi Heuristik Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa

Pengaruh Strategi Heuristik Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh strategi heuristik terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Penelitian ini dilakukan di SMP PGRI 1 Ciputat Tahun Ajaran 2013/2014. Metode yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan desain penelitian Randomized Subjects Post- test Only Control Group Design, yang melibatkan 80 siswa sebagai sampel. Penentuan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Pengambilan data menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kreatif matematis berbentuk essay. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan strategi heuristik lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan strategi konvensional. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan strategi heuristik adalah sebesar 69,90 dan nilai rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan strategi konvensional adalah sebesar 59,25 (t hitung = 2,86 dan t tabel = 1,67). Kesimpulan
Baca lebih lanjut

205 Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP

Namun pada kenyataannya, kemampuan berpikir kreatif matematis yang merupakan salah satu tujuan pendidikan tersebut belum tercapai dengan maksimal. Salah satu penelitian Fardah yang menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa tingkat sekolah dasar dan menengah masih dalam kategori rendah, yaitu sebesar 46,67%. 11 Penelitian ini mengukur kemampuan berpikir kreatif menggunakan tes open-ended yang dirancang sehingga dapat menggambarkan proses berpikir kreatif dengan lebih jelas. Contohnya dalam mengerjakan soal ditekankan pada banyaknya jawaban benar dan banyaknya strategi yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah, kemampuan ini merupakan bagian dari indikator keluwesan. Namun
Baca lebih lanjut

135 Baca lebih lajut

DESKRIPSI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP NEGERI 1 REMBANG DITINJAU DARI CREATIVE PERSONALITY

DESKRIPSI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP NEGERI 1 REMBANG DITINJAU DARI CREATIVE PERSONALITY

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa ditinjau dari creative personality (kepribadian kreatif) pada materi lingkaran. Penelitian ini menggunakan matode penelitian deskriptif kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Rembang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Pemilihan subyek dalam penelitian ini menggunakan angket creative personality (kepribadian kreatif) dengan mengambil 3 siswa untuk kelompok kepribadian kreatif tinggi, sedang dan rendah. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan (verification). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok siswa kepribadian kreatif tinggi mampu menguasai empat indikator kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yaitu berpikir lancar (fluent thinking), berpikir luwes (flexible thinking), berpikir orisinil (original thinking), keterampilan mengelaborasi (elaboration ability). Kelompok siswa kepribadian kreatif sedang mampu menguasai dua indikator kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu berpikir lancar (fluent thinking) dan keterampilan mengelaborasi (elaboration ability). Sedangkan kelompok siswa dengan kepribadian kreatif rendah juga mampu menguasai dua indikator kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu berpikir orisinil (original thinking) dan keterampilan mengelaborasi (elaboration ability).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA

Beberapa ahli telah mengembangkan instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis, seperti Balka dan Torrance (Silver, 1997). Balka mengembangkan instrumen Creative Ability Mathematical Test (CAMT) dan Torrence mengembangkan instrumen Torrance Test of Creative Thinking (TTCT). Kedua instrumen ini berupa tugas membuat soal matematika berdasarkan informasi yang terdapat pada soal terkait situasi sehari-hari yang diberikan. Tes ini mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis, yaitu kelancaran, keluwesan, dan kebaruan. Aspek kelancaran berkaitan dengan banyaknya per- tanyaan relevan. Aspek keluwesan berkaitan dengan banyaknya ragam atau jenis pertanyaan. Sedangkan aspek kebaruan berkaitan dengan keunikan atau seberapa jarang suatu jenis pertanyaan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF BERDASARKAN GAYA BELAJAR SISWA PADA MODEL KNISLEY MATERI PELUANG DI SMP N 1 JUWANA

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF BERDASARKAN GAYA BELAJAR SISWA PADA MODEL KNISLEY MATERI PELUANG DI SMP N 1 JUWANA

Subjek G-12 dan G-22 memenuhi indikator kefasihan, keluwesan, dan kebaruan dengan sangat baik. Oleh karena itu dapat disimpulkan siswa dengan gaya belajar visual berada pada Tingkat Berpikir Kreatif Matematis Level 4 atau sangat kreatif. Siswa dengan gaya belajar visual mampu menyelesaikan masalah dengan fasih dan lancar serta dapat memberikan beragam jawaban yang benar. Selain itu siswa dengan gaya belajar visual mampu menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda serta mampu meyelesaikan masalah dengan cara yang baru dan dengan pemikiran sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sari (2014) yang menyatakan bahwa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa bergaya belajar visual yaitu dengan membuat pembelajaran dengan menggunakan diagram-diagram atau gambar-gambar yang membuat siswa lebih tertarik sehingga mampu menambah minat belajar siswa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MAT 1201565 table of content

T MAT 1201565 table of content

Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis ..................................... 57 Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis 59 Tabel 4.3 Uji Normalitas Rerata Pretes Kemampuan Berpikir Kreatif

Baca lebih lajut

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DIKAJI DARI TINGKAT DISPOSISI MATEMATIS DI MADRASAH ALIYAH

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DIKAJI DARI TINGKAT DISPOSISI MATEMATIS DI MADRASAH ALIYAH

Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan temuan dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Dalam mengukur disposisi matematis siswa, sebaiknya data hasil lembar angket disposisi matematis wajib ditopang dengan melakukan wawancara disposisi matematis agar disposisi matematis siswa yang diperoleh tidak keliru; (2) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian kualitatif, sebaiknya mempersiapkan diri dengan banyak latihan dalam menggali informasi agar pada saat melakukan wawancara bisa memperoleh data yang mendalam; (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian mengenai kemampuan berpikir kreatif, instrumen soal sebaiknya memberikan kebebasan bagi sisa dalam menjawab; (4) Menggunakan model wawancara klinis dalam melakukan wawancara terhadap siswa; (5) Bagi guru yang mengajar di sekolah, sebaiknya siswa dibiasakan untuk diberikan soal-soal yang menunjang berpikir kreatif siswa.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

T MTK 1302937 Table of content

T MTK 1302937 Table of content

aan Model PBM dalam Pembelajaran ...................................... 114 3. .......................................................................................... Kemamp uan Berpikir Kreatif Matematis Siswa .................................... 118 4. .......................................................................................... Kemamp uan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ............................. 125 5. .......................................................................................... Self-

Baca lebih lajut

Pengaruh Pendekatan Open Ended Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa (Penelitian Quasi Eksperimen di MTs Annajah Jakarta)

Pengaruh Pendekatan Open Ended Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa (Penelitian Quasi Eksperimen di MTs Annajah Jakarta)

Hasil penelitian TIMSS tersebut berkaitan dengan kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal ini dikarenakan pada soal-soal yang diujikan dalam TIMSS ada empat jenis domain kognitif, yaitu (1) mengenal fakta dan prosedur, (2) penalaran, (3) menyelesaikan soal rutin, dan (4) menggunakan konsep. Penalaran erat kaitannya dengan kemampuan berpikir kreatif, sebagaimana Krulik & Rudnick (1995) dalam Tatag Yuli Eko Siswono menyebutkan bahwa penalaran merupakan bagian dari berpikir yang tingkatnya di atas pengingatan (recall). Penalaran dikategorikan dalam berpikir dasar (basic), berpikir kritis (critical) dan berpikir kreatif. Sehingga dapat dikatakan bahwa berpikir kreatif adalah kategori tertinggi dalam penalaran. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satu diantaranya adalah sistem
Baca lebih lanjut

197 Baca lebih lajut

Strategi Brain-based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Matematis serta Menurunkan Kecemasan Matematis Siswa SMP.

Strategi Brain-based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Matematis serta Menurunkan Kecemasan Matematis Siswa SMP.

Sebelum kuesioner digunakan sebagai salah satu instrumen dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji validitas isi dan validitas muka dengan meminta pertimbangan dosen pembimbing serta melakukan uji coba terhadap siswa kelas VIII. Pengolahan uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan bantuan software SPSS 22. Hasil uji reliabilitasnya adalah 0,874 dengan kategori sangat tinggi. Untuk uji validasi dari 24 pernyataan yang disusun peneliti, terdapat tiga pernyataan tidak valid sehingga ketiga pernyataan tersebut tidak digunakan sebagai instrumen penelitian. Sementara itu 21 pernyataan lainnya digunakan sebagai instrumen kecemasan matematis dalam penelitian ini. Analisis hasil uji coba instrumen kecemasan matematis dapat dilihat pada tabel 3.14 berikut:
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Pengembangan Kreativitas1 edit Rina

Pengembangan Kreativitas1 edit Rina

Ketika manusia memiliki ide mengembangkan bahan pembuatan mebel misalnya menggunakan rotan atau eceng gondok maka timbul persoalan bagaimana desainnya agar produk mebel kuat dan indah.Disini kembali berpikir kreatif matematis mengambil peran. Berpikir kreatif matematis yang terintegrasi dengan budaya juga dapat muncul pada perilaku yang ekonomis. Konsep hitung matematika melalui program linier untuk menentukan titik kritis sekaligus sebagai pertemuan beberapa variabel dapat menjadi solusi ketika banyak kebutuhan yang harus dipenuhi tetapi dana terbatas. Perhitungan matematika disini menjadi alternatif pemecahan masalah. Manusia muncul kreativitasnya untuk memenuhi kebutuhan dengan dana yang terbatas.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1204654 Table of content

T MTK 1204654 Table of content

Kreatif Matematis ...................................................................... 55 4.2. Skor Rata-rata Hasil Pretes dan Postes ....................................... 57 4.3. Hasil Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa. 61 4.4. Skor Rata-rata Hasil Pretes dan Postes ....................................... 64 4.5. Hasil Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis

Baca lebih lajut

Berpikir Kreatif dan berpikir kreatif

Berpikir Kreatif dan berpikir kreatif

Di era persaingan global seperti sekarang ini, kemampuan untuk berpikir kreatif sangat dibutuhkan setiap orang. Dengan berpikir kreatif, seseorang akan mampu menghasilkan produk baru yang dapat membawa manfaat bagi manusia dan lingkungan. Pada dasarnya, kreatifitaslah yang menjembatani manusia sehingga mampu mengubah dunia hingga menjadi seperti sekarang ini.

Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, BERPIKIR KREATIF MATEMATIS, DAN SELF-CONCEPT SISWA SMP MELALUI METODE RECIPROCAL TEACHING.

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, BERPIKIR KREATIF MATEMATIS, DAN SELF-CONCEPT SISWA SMP MELALUI METODE RECIPROCAL TEACHING.

Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen yang bertujuan untuk menelaah perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif antara siswa yang memperoleh pembelajaran model reciprocal teaching dengan siswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori. Selain itu diungkap pula self-concept siswa terhadap pembelajaran matematika melalui pembelajaran reciprocal teaching. Desain penelitiannya menggunakan kelompok kontrol pretes-postes dengan populasi seluruh siswa SMPN 1 Saketi dan sampel siswa kelas VIIl yang dipilih secara purposive sampling satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas yang lain sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran reciprocal teaching sedangkan kelas kontrol memperoleh pembelajaran ekspositori. Pengumpulan data hasil penelitian menggunakan instrument soal-soal tes kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis yang dianalisis secara kuantitatif. Data skala sikap, observasi aktivitas siswa, dan angket guru dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode reciprocal teaching dapat meningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis siswa yang lebih baik dari pembelajaran ekspositori. Analisis data angket skala sikap siswa. Observasi aktivitas siswa memperlihatkan bahwa sikap siswa positif terhadap pembelajaran matematika, baik terhadap pembelajaran matematika, pembelajaran reciprocal teaching, maupun terhadap soal-soal berfikir kritis dan kreatif matematis siswa.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...