Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

Top PDF Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI CEREBRO VASKULAR ACCIDENT DENGAN BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF DI RUANG HCU RSUD BANGIL PASURUAN

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI CEREBRO VASKULAR ACCIDENT DENGAN BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF DI RUANG HCU RSUD BANGIL PASURUAN

Cerebro Vaskuler Accident atau yang biasa dikenal oleh masyarakat sebagai stroke merupakan tersumbatnya atau terhentinya aliran darah yang menuju ke otak. CVA menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi di Indonesia, dikarenakan serangannya yang cepat, mendadak, bahkan dapat menyebabkan kematian. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan klien Cerebro Vaskuler Accident dengan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif.

97 Baca lebih lajut

Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Masalah Gangguaan Istirahat dan Tidur di RSUD dr. Pirngadi Medan

Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Masalah Gangguaan Istirahat dan Tidur di RSUD dr. Pirngadi Medan

Diagnosa keperawata ketiga bersihan jalan napas tidak efektif dengan data subjektif klien mengatakan sesak bila beraktivitas, batuk berdarah disertai darah dan data objek batuk berdahak bercampur darah, terdengar ronchi basah pada dada kiri dan kanan, frekuensi napas 30x/mnt, dan ritme tidak teratur. Maka dilakukan tindakan keperawatan yaitu mengkaji bersihan jalana napas klien, menyediakan alat suction dalam kondisi baik, melatih pernapasan dalam dan batuk efektif, memberikan pendidikan kesehatan (efek merokok, alkohol, menghindari alergi, latihan bernapas), memposisikan pasien dengan posisi fowler. Masalah bersihan jalan napas klien sudah teratasi.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Contoh Makalah Askep (Asuhan Keperawatan) TB Paru   Gangguan Sistem Pernafasan

Contoh Makalah Askep (Asuhan Keperawatan) TB Paru Gangguan Sistem Pernafasan

2. Setelah dilakukan pengkajian dan analisa kasus muncul lima diagnosa pada pasien yaitu bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret dan sekret kental, nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru dan batuk menetap, risiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan adanya infeksi kuman tuberkulosis, gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak napas dan batuk, intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan dan inadekuat oksigen untuk beraktivitas Semua diagnosa yang muncul dalam kasus sesuai dengan teori.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan ISPA.

Upaya Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan ISPA.

Dari intervensi yang penulis rencanakan semua di implementasikan, tidak ada yang tidak dilakukan. Implementasi yang keluarga dapat lakukan dirumah salah satunya melakukan batuk efektif. Cara melakukan batuk efektif yaitu pertama menganjurkan pasien minum air hangat kemudian menginstrusikan pasien untuk menarik napas melalui hidung dengan mulut tetap tertutup. Selama menarik napas hitung 1-3. Setelah itu anjurkan pasien menghembuskan udara lewat mulut secara perlahan. lakukan sampai 3 kali, pada tarik napas yang ketiga menganjurkan pasien untuk membatukan dengan kuat pada saat mengeluarkan udara. Tindakan ini dilakukan untuk mengeluarkan sputum. Kemudian berikan pasien air putih (Hidayat dan Musrifatul, 2015). Apabila anak belum mampu melakukan batuk efektif anak dapat diposisikan kaki lebih tinggi dari kepala dengan cara posisi kaki diganjal dengan bantal untuk memudahkan mengeluarkan dahak Harden, (2009). Berdasarkan panduan dari Sigalingging ini di dukung oleh penelitian Mardiono, (2013) yang berjudul “Pengaruh Latihan Batuk Efektif Terhadap Frekuensi Pernapasan Pasien TB Paru Di Instalasi Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit Pelabuhan Palembang Tahun 2013” menunjukan bahwa latihan batuk efektif berpengaruh terhadap pasien yang mengalami gangguan pada saluran pernapasan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Anak dengan ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut) mempunyai gejala yang ringan biasanya diawali dengan demam, batuk, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan (Irianto, 2015). Anak bayi dan balita tidak dapat mengatur bersihan jalan napas secara memadai sehingga anak bayi dan balita dengan ISPA bila tidak segera ditangani anak bayi dan balita akan tidak efektif bersihan jalan napasnya. anak bayi dan balita yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas beresiko tinggi untuk sesak napas dan meninggal. anak bayi dan balita sebaiknya memberikan oksigen sesuai kebutuhan anak, di tingkatkan asupan makanan anak, mengoreksi ketidakseimbangan asam basa dan elektrolit sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi kejadian hipertermi, ketidakefektifan bersihan jalan napas, pola napas tidak efektif, resiko tinggi infeksi, intoleransi aktifitas (NANDA, 2015)
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Keluarga Tn.B Dengan Tuberkulosis Paru Di Sukoharjo.

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Keluarga Tn.B Dengan Tuberkulosis Paru Di Sukoharjo.

Rencana keperawatan dilakukan untuk diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada Ny.S keluarga Tn.B berhubungan dengan ketidakmmapuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit adalah menurut Murwani (2011), intervensi yang harus dilakukan pada pasien dengan tuberculosis adalah mengeluarkan sputum yang menghambat bersihan jalan nafas dengan cara: posisi postural drainage dan pembatukan, inhalasi, dan memberikan obat untuk mengencerkan lendir. Berdasarkan teori tersebut maka penulis akan mengajarkan teknik batuk efektif pada Ny.S dan kelaurga, menurut (Apriyadi,2013) batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan bena, dimana klien dapat menghemat energy sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara maksimal. Batuk efektif adalah batuk yang dilakukan dengan sengaja, namun dibandingkan dengan batuk biasa yang bersifat respon reflek tubuh terhadap benda asing yang masuk dalam saliuran pernafasan, batuk efektif dilakukan dengan gerakan yang terencana atau dilatihkan sebelumnya. Gerakan batuk ini terjadi atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah terutama untuk melindungi paru-paru. Berdasarkan landasan teori tersebut maka penulis membuat rencana intervensi untuk mengajarkan teknik batuk efektif pada Ny.S dan juga pada keluarganya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Tuberkulosis Paru.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Tuberkulosis Paru.

jalan nafas, bunyi ini menyerupai bunyi menelan air ketika seseorang menghirup udara lewat sedotan yang ujungnya berada didasar minumannya (Tao & Kendall, 2013). Ibu pasien mengatakan terkadang pasien kesulitan bernafas karena batuk dan tidak bisa mengeluarkan dahak. Akibat pengeluaran dahak yang tidak lancar maka akan mengakibatkan penumpukan mukus yang dapat membuat perlengketan pada jalan nafas sehingga jalan nafas menjadi tidak efektif dan menyebabkan timbulnya sesak nafas (Nugroho, 2011). Sesak nafas dapat mengakibatkan distribusi oksigen menjadi terhambat. Oksigen memiliki peran yang penting dalam tubuh, kekurangan oksigen dapat menyebabkan metabolisme menjadi tidak sempurna. Kondisi hipoksia atau kurangnya suplai oksigen kedalam sel akan menyebabkan perubahan dalam sistem saraf pusat, terutama pada sel otak. Hipoksia akut dapat menyebabkan gangguan terhadap penilaian, gangguan motorik dan gejala klinis seperti kelelahan, pusing, apatis, gangguan konsentrasi, respon atau reaksi yang lambat, dan kapasitas kerja akan menurun (Indriawati, 2015). d) jantung dan sirkulasi : tidak ada pembesaran pada jantung. e) abdomen : bentuk abdomen simetris, tidak ada pembesaran hati. f) ekstrimitas atas dan bawah : bentuk ekstrimitas atas simetris, benuk ekstrimitas bawah simetris, tidak ada batasan dalam pergerakan.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Modalitas Penatalaksanaan Gangguan Pernapasan

Modalitas Penatalaksanaan Gangguan Pernapasan

Tujuan batuk efektif adalah meningkatkan mobilisasi sekresi dan mencegah risiko tinggi retensi sekresi (pneumonia, atelektasi, dan demam). Pemberian latihan batuk efektif dilaksanakan terutama pada klien dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan napas dan masalah risiko tinggi infeksi saluran pernapasan bawah yang berhubungan dengan akumulasi sekret pada jalan napas yang sering disebabkan oleh kemampuan batuk yang menurun atau adanya nyeri setelah pembedahan thoraks atau pembedahan abdomen bagian atas sehingga klien merasa malas atau takut melakukan batuk.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAPAS Di RUANG MELATI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL PASURUAN

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAPAS Di RUANG MELATI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL PASURUAN

Penyakit Tuberkulosis paru (TB paru) masih menjadi masalah kesehatan di dunia (Amin & Bahar, 2009). TB paru menjadi penyebab kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua kelompok umur serta penyebab kematian nomer satu dari golongan penyakit infeksi pernapasan (Departemen Kesehatan, 2007). Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala sistemik, gejala respiratorik antara lain batuk dan sesak nafas (Andra & Yessie, 2013). Reaksi infeksi membentuk kavitas dan merusak parenkim paru yang menyebabkan edema trakeat atau faringeal, peningkatan produksi sekret, pecahnya pembuluh darah jalan nafas yang berakibat munculnya batuk produktif, batuk darah, sesak napas dan penurunan kemampuan batuk efektif sehingga mengakibatkan ketidakefektifan bersihan jalan napas (Muttaqin, 2008).
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

lain: suara napas tambahan, sianosis, dispnea, sputum daam jumlah yang berlebih, batuk yang tidak efektif, gelisah, mata terbuka lebar. Sedangkan faktor berhubungannya yaitu: bisa dari lingkungan, obstruksi jalan napas yang berupa spasme jalan napas, mukus dalam jumlah yang berebihan, eksudat dalam alveoli, materi asing dalam jalan napas, adanya jalan napas buatan, sekresi yang tertahan/sisa sekresi, sekresi dalam bronki (NANDA, 2012). Dari analisa data yang sudah disebutkan diatas maka data-data yang menujang untuk ditegakkan nya diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan napas yaitu data subjektif: An.Z batuk, pilek dan panas, hidung pasien terasa tersumbat, tenggorokan terasa sakit. Data objektif pasien tampak batuk, pasien tampak rewel, tampak ada pengeluaran sekret dari hidung, sekret cair agak kental, tidak terdapat tarikan dnding dada, tidak ada bunyi suara napas tambahan. Tanda-tanda vital nadi 100x/menit, pernapasan 28x/menit, dan suhu 37,9 o C, maka dari itu. Tujuan dan kriteria hasil dari diagnosa keperawatan diatas yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali kunjungan diharapkan bersihan jalan napas efektif dengan kriteria hasil: mampu bernapas dengan mudah, menunjukkan jalan napas yang paten (tidak ada suara napas abnormal), mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan napas (NANDA, 2013).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BRONKOPNEUMONIA DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAPAS (Studi Kasus di Ruang Seruni Rumah Sakit Umum Daerah, Jombang)

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BRONKOPNEUMONIA DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAPAS (Studi Kasus di Ruang Seruni Rumah Sakit Umum Daerah, Jombang)

Bronkopneumonia terjadi akibat masuknya jamur, virus, dan bakteri ke paru-paru yang mengakibatkan terjadinya infeksi parenkim paru melalui proses respirasi. Salah satu tanda dari reaksi infeksi ini adalah dengan meningkatnya produksi sputum. Obstruksi jalan nafas disebabkan oleh banyaknya produksi sputum sehingga bersihan jalan nafas menjadi tidak efektif. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas menjadi masalah utama yang selalu muncul pada pasien bronkopneumonia. Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret juga merupakan kendala yang sering dijumpai pada anak usia bayi sampai dengan pra sekolah. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut reflek batuk masih sangat lemah. Apabila masalah bersihan jalan napas ini tidak ditangani secara cepat maka dapat menimbulkan masalah yang lebih berat saperti pasien akan mengalami sesak yang hebat bahkan bisa menimbulkan kematian.
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH  Asuhan Keperawatan Pada An. F Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Asma Bronchiale Di Ruang Edelweiss Rsud Pandanarang Boyolali.

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Asuhan Keperawatan Pada An. F Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Asma Bronchiale Di Ruang Edelweiss Rsud Pandanarang Boyolali.

1. Setelah melakukan asuhan keperawatan pada An. F selama tiga hari dan melakukan pengkajian kembali baik secara teoritis maupun secara tinjauan kasus didapatkan kesimpulan sebagai berikut: Setelah dilakukan pengkajian dan analisa kasus muncul tiga diagnosa pada pasien. Diagnosa yang muncul antara lain Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkospasme, Gangguan bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan respons alergenik dan inflamasi pada percabangan bronchial, Ansietas berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernapasan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Diagnosa keperawatan yang muncul yaitu bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret berlebih. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yaitu ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas (NANDA, 2015). Dari pengkajian yang dilakukan didapatkan hasil terdapat perubahan jalan nafas dan bunyi nafas, saat dilakukan pengkajian didapatkan data subjektif ibu pasien mengatakan batuk berdahak dan sputum tidak bisa keluar, sesak nafas setelah beraktivitas, flu. Data obyektif: terlihat ekspirasi memanjang, pasien terlihat batuk, respiration rate 34 x/menit, pasien tampak rewel. Dari masalah diatas maka diagnosa keperawatan yang muncul yaitu ketidakbersihan jalan nafas berhubungan dengan secret berlebih yaitu dengan memperbaiki pernafasan dengan batasan karakteristik antara lain: sputum dalam jumlah yang berlebih, batuk yang tidak efektif. Sedangkan faktor berhubungan yaitu dari bisa dari lingkungan, nafas yang berupa secret berlebih, secret di bronki, eksudat di alveoli dan adanya benda asing yang menyumbat di jalan nafas (Nanda, 2015). Tujuan dan kriteria hasil dari diagnosa keperawatan diatas yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali kunjungan diharapkan pernafasan kembali efektif dengan kriteria hasil: mampu bernapas dengan mudah, frekuensi kedalaman bernapas kembali normal, mempertahankan jalan napas paten. (NANDA, 2013)
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ASMA BRONCHIALE DI BANGSAL  Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Asma Bronchiale Di Bangsal Bougenville III RSUD Pandan Arang Boyolali.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ASMA BRONCHIALE DI BANGSAL Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Asma Bronchiale Di Bangsal Bougenville III RSUD Pandan Arang Boyolali.

Kemudian penulis menyusun intervensi berdasarkan data-data di atas. Menurut Doenges (2005) intervensi yang tepat untuk bersihan jalan napas adalah auskultasi bunyi napas catat adanya bunyi nafas tambahan, kekentalan dan jumlah sputum, atur posisi semi fowler, bantu pasien latihan nafas dalam, ajarkan cara batuk efektif, lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural drainase perkusi dan fibrasi dada, kolaborasi pemberian obat, Nebulizer (via inhalasi), intravena dengan golongan theophyline ethilenodiaminie (aminopilin).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA CAPITIS DERGAN

LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA CAPITIS DERGAN

Kejang terjadi kira-kira 10% dari klien cedera otak akut selama fase akut. Perawat harus membuat persiapan terhadap kemungkinan kejang dengan menyediakan spatel lidah yang diberi bantalan atau jalan nafas oral disamping tempat tidur klien, juga peralatan penghisap. Selama kejang, perawat harus memfokuskan pada upaya mempertahankan, jalan nafas paten dan mencegah cedera lanjut. Salah satunya tindakan medis untuk mengatasi kejang adalah pemberian obat, diazepam merupakan obat yang paling banyak digunakan dan diberikan secara perlahan secara intavena. Hati-hati terhadap efek pada system pernafasan, pantau selama pemberian diazepam, frekuensi dan irama pernafasan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

DEFINISI pada penderita KANKER PARU

DEFINISI pada penderita KANKER PARU

Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia (Robbin & Kumar, 2007).

Baca lebih lajut

KONSEP TEORI KEBUTUHAN dasar manusia

KONSEP TEORI KEBUTUHAN dasar manusia

e) Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh mengeluarkan karbondioksida dengan cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar serta tidak cukupnya penggunaan oksigen yang ditandai dengan adanya nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, atau ketidakseimvangan elektrolit yang dapat terjad akibat atelektasis, lumpuhnya otot- otot pernapasan, depresi pusat pernapasan, peningkatan tahanan jalan udara, penurunan tahanan jaringan paru-paru dan toraks, serta penurunan compliance paru- paru dan toraks. Keadaan demikian dapat menyebabkan hiperkapnea, yaitu retensi karbondioksida dalam tubuh sehingga pCO 2 meningkat (akibat hipoventilasi) dan
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Asuhan Keperawatan pada Tn.J dengan Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar Oksigenasi Di RS. Haji Adam Malik Medan

Asuhan Keperawatan pada Tn.J dengan Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar Oksigenasi Di RS. Haji Adam Malik Medan

Sekitar 25% penderita kanker paru tidak mempunyai gejala dan baru diketahui setelah melakukan pemeriksaan rutin seperti Rongen atau CT-Scan. Gejala awal seperti batuk, napas pendek dan berat, mengi, nyeri dada, dan batuk darah. Bunyi mengi yang terjadi disebabkan oleh penyempitan saluran udara di dalam atau di sekitar tempat tumbuhnya kanker. Penyumbatan bronkus bisa menyebabkan kolaps pada bagian paru- paru yang merupakan percabangan dari bronkus tersebut (atelektasis), akibat lainnya dalah pneumonia dengan gejala berupa batuk, demam, nyeri dada, dan sesak napas. Kanker paru seringkali menyebabkan penimbunan cairan di sekitar paru (efusi fluera). Jika kanker menyebar di dalam paru-paru, bisa terjadi sesak napas hebat, kadar oksigen darah rendah dan gagal jantung (Sastrosudarmo.2010).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...