bond strength

Top PDF bond strength:

Effects of Several Synthesis Conditions on Bond Strength of Plywood Adhered with Natural Rubber Latex – Styrene Adhesive

Effects of Several Synthesis Conditions on Bond Strength of Plywood Adhered with Natural Rubber Latex – Styrene Adhesive

This report discusses the effects of synthesis conditions on bond strength of plywood adhered with natural rubber latex - styrene adhesive. Synthesis variables observed were catalyst (with and without catalyst), pre-stirring (0 and 3 hours) and heating time (1 and 2 hours). Three-ply plywood samples were prepared from Albizia (Paraserianthes falcataria) and Red meranti (Shorea, sp.) veneers and their gluability were evaluated in accordance to Indonesian Standard (SNI 01-2704-1992). The results revealed that synthesis conditions (i.e. catalyst, pre-stirring and heating time) did not significantly influence the bond strength of plywood. Natural rubber latex – styrene adhesive is very appropriate as adhesive for Red meranti plywood. Nevertheless, it can be used as limited interior application for Albizia plywood. An addition of 10% phenol formaldehyde (PF) in natural rubber latex - styrene adhesive slightly improved the exterior type bond strength of Red meranti plywood.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

COMPARISON OF THE SHEAR BOND STRENGTH OF REBONDED MECHANICALLY RETENTIVE CERAMIC BRACKETS WHICH WERE CLEANED BY TWO DIFFERENT METHODS.

COMPARISON OF THE SHEAR BOND STRENGTH OF REBONDED MECHANICALLY RETENTIVE CERAMIC BRACKETS WHICH WERE CLEANED BY TWO DIFFERENT METHODS.

The result of this experiment showed that shear bond strength of rebonded ceramic brackets which were cleaned by second method was higher than those by first menthod, and had significant differences ( p<0,01 ). Although the bond strength of rebounded ceramic brackets which were cleaned by first method was lower than the ones using second method, they were still above the clinical standard for intra oral retention. The bond failure location of rebounded ceramic brackets both by first method and second method after shear bond strength were test, show no significant differences ( p>0,05 ). The bond failure location of rebounded mechanically retentive ceramic brackets which cleaned by method I were mostly happen in the adhesive ( 86,7%), and on the method II all the failure happen in the adhesive ( 100% ).
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Perbandingan Tensile Bond Strength Antara Resin Komposit Berbasis Methacrylate Dan Silorane Dengan Menggunakan Sistem Adhesif Yang Berbeda Pada Restorasi Klas I Insisivus

Perbandingan Tensile Bond Strength Antara Resin Komposit Berbasis Methacrylate Dan Silorane Dengan Menggunakan Sistem Adhesif Yang Berbeda Pada Restorasi Klas I Insisivus

pada bahan restorasi resin komposit. 4,5,6 Kontraksi polimerisasi pada resin komposit mengakibatkan terbentuk celah (gap) yang dapat mengurangi kerapatan tepi dan timbulnya rasa sakit setelah penumpatan, terjadinya karies sekunder dan tidak didapatnya titik kontak. 5 Tekanan pengerutan yang terjadi selama polimerisasi merupakan suatu faktor yang mempengaruhi perlekatan bahan komposit ke gigi. Sensi et al. (2004) menyatakan bahwa tekanan pengerutan resin komposit selama polimerisasi akan menghasilkan kekuatan yang bersaing dengan kekuatan perlekatan, sehingga dapat mengganggu perlekatan terhadap dinding kavitas. 7 Dalam penelitiannya, Elizabeth et al (2007) menyatakan bahwa terdapat korelasi antara kekuatan perlekatan dengan celah mikro pada restorasi resin komposit. Hal ini terlihat dari hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa makin tinggi nilai tensile bond strength, makin sedikit celah mikro yang ada.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Kekuatan Tarik Perlekatan (Tensile Bond Strength) Antara Dentin Dan Komposit Resin Dengan Memakai Bahan Adhesif Yang Berbeda

Kekuatan Tarik Perlekatan (Tensile Bond Strength) Antara Dentin Dan Komposit Resin Dengan Memakai Bahan Adhesif Yang Berbeda

Suci Wulan Dhani : Kekuatan Tarik Perlekatan Tensile Bond Strength Antara Dentin Dan Komposit Resin Dengan Memakai Bahan Adhesif Yang Berbeda, 2005... Suci Wulan Dhani : Kekuatan Tarik P[r]

76 Baca lebih lajut

Perbedaan Pengaruh Waktu Pengeringan Bahan Adhesif Terhadap Shear Bond Strength Restorasi Klas I Resin Komposit

Perbedaan Pengaruh Waktu Pengeringan Bahan Adhesif Terhadap Shear Bond Strength Restorasi Klas I Resin Komposit

Agitasi yang lemah dari bahan adhesif dapat meningkatkan difusi ke dentin yang terdemineralisasi, terutama bahan adhesif dengan viskositas yang lebih tinggi. Agitasi yang kuat harus dihindari karena solvent yang tersisa akan berperan sebagai penghambat dan memberi efek buruk pada perlekatan. 28 IIjima et al menyatakan bahwa bertambahnya waktu aplikasi dan agitasi tidak menambah shear bond strength secara signifikan. Miyazaki et al cit IIjima et al meneliti shear bond strength pada enamel jika self-etching bonding diaplikasikan dengan dan tanpa agitasi, dan melaporkan bahwa kekuatan perlekatan ke enamel bertambah dengan agitasi pada Imperva Fluorobond, MacBond II dan Unifil Bond. Tetapi, tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan untuk Clearfil SE Bond. 29 Shah et al menyatakan bahwa agitasi tidak menambah shear bond strength secara signifikan pada enamel yang kering tapi memberikan pengaruh pada dentin yang basah. 30 Bianco et al menyatakan bahwa pada dentin yang kering kekuatan perlekatan paling tinggi didapatkan ketika dilakukan agitasi yang kuat pada dentin. Ketika dentin dalam keadaan lembab, agitasi yang lemah dan kuat menghasilkan kekuatan perlekatan yang tinggi. 31
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Perbedaan  Shear  Bond  Strength  Bahan   Adhesif Konvensional Dengan Self-Etching Primer/Adhesive  Pada  Bonding Breket   Ortodonti

Perbedaan Shear Bond Strength Bahan Adhesif Konvensional Dengan Self-Etching Primer/Adhesive Pada Bonding Breket Ortodonti

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Chamda et al (1996) yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada shear bond strength yang dicapai melalui sistem chemically-cured (Concise) dengan light-cured (Transbond) dengan interval 10 menit, 60 menit dan 24 jam. 31 Andreasen et al (1984) cit. Wang et al (1992) juga melaporkan shear bond strength bahan adhesif light-cured (Heliosit) dengan lama penyinaran 40 detik sama dengan chemically-cured (Concise), sedangkan lama penyinaran 20 detik dilaporkan bond strength lebih rendah daripada bahan adhesif chemically-cured. Bahan adhesif light-cured Transbond pada aplikasi klinis dianjurkan dilakukan penyinaran selama 40 detik. Hal ini memperlihatkan bahwa pada teknik direct bonding, material komposit dapat terjadi polimerisasi di bawah basis breket metal (ketebalan basis breket berkisar 0,75 mm – 2,1 mm) karena penyinaran (illumination) langsung dari sisi-sisi yang berbeda dan oleh transillumination karena struktur gigi akan meneruskan visible light. 30 Polimerisasi akan cepat terjadi ketika disinari visible light yang disebut “command set”, karena adanya photosensitizer yang sangat peka terhadap sinar halogen sehingga photosensitizer akan bereaksi dengan amine membentuk radikal bebas yang memulai proses polimerisasi. Reaksi pengerasan selapis tipis komposit di bawah breket akan cepat terjadi akibat penyinaran sehingga mengurangi terperangkap oksigen. Sealing sekeliling breket lebih baik pada sistem light-cured daripada chemically-cured. 28-30
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Pengaruh Bahan Pemutih Gigi Hidrogen Peroksida 35% Terhadap Shear Bond Strength Resin Komposit dengan Bahan Adhesif Total Etch ( Penelitian In Vitro)

Pengaruh Bahan Pemutih Gigi Hidrogen Peroksida 35% Terhadap Shear Bond Strength Resin Komposit dengan Bahan Adhesif Total Etch ( Penelitian In Vitro)

Variabel Penelitian - Variabel Bebas - Waktu aplikasi bahan adhesif sesudah dilakukan bleaching : - 1 hari - 7 hari - Variabel Tergantung Shear bond strength antara resin komposit [r]

71 Baca lebih lajut

Perbedaan Tensile Bond Strength pada Resin Komposit Nanohybrid Menggunakan Sistem Adhesif Total-Etch dan Self-Etch pada Restorasi Klas I (Penelitian In Vitro)

Perbedaan Tensile Bond Strength pada Resin Komposit Nanohybrid Menggunakan Sistem Adhesif Total-Etch dan Self-Etch pada Restorasi Klas I (Penelitian In Vitro)

terbentuknya gap masih menjadi masalah. Pemilihan sistem adhesif juga harus menjadi perhatian utama untuk melihat kekuatan perlekatan suatu bahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tensile bond strength resin komposit nanohybrid dengan menggunakan sistem adhesif total-etch dan self-etch pada restorasi klas I.

13 Baca lebih lajut

Pengaruh Bahan Pemutih Gigi Hidrogen Peroksida 35% Terhadap Shear Bond Strength Resin Komposit dengan Bahan Adhesif Total Etch ( Penelitian In Vitro)

Pengaruh Bahan Pemutih Gigi Hidrogen Peroksida 35% Terhadap Shear Bond Strength Resin Komposit dengan Bahan Adhesif Total Etch ( Penelitian In Vitro)

Prosedur bleaching adalah salah satu perawatan yang sering dilakukan saat ini. Bahan bleaching tidak hanya memberi efek kepada gigi melainkan juga pada restorasi yang terdapat pada gigi yang dibleaching tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh jenis bahan pemutih gigi hidrogen peroksida 35% terhadap shear bond strength resin komposit nanofil.

14 Baca lebih lajut

6 experimental study mortar joint bond strength autoclaved aerated concrete masonry prism

6 experimental study mortar joint bond strength autoclaved aerated concrete masonry prism

Especially about bond strength of thin bed mortar, Modulus of Elasticity, shear strength, compressive strength, flexural strength, and so on. This research intends to test the reliability of autoclaved aerated concrete masonry prism using thin bed mortar and ordinary mortar, the scope of test conducted on shear test of the mortar joint and splitting tensile test Experimental Study of Mortar Joint Bond Strength of Autoclaved

6 Baca lebih lajut

KAJIAN KUAT LEKAT TULANGAN BAMBU TAKIKAN DAN TULANGAN BAJA POLOS PADA BETON NORMAL DENGAN VARIASI JENIS BAMBU Study of Bond Strength Notched Bamboo Reinforcement and Plain Steel Reinforcement in Normal Concrete with Various Types of Bamboo.

KAJIAN KUAT LEKAT TULANGAN BAMBU TAKIKAN DAN TULANGAN BAJA POLOS PADA BETON NORMAL DENGAN VARIASI JENIS BAMBU Study of Bond Strength Notched Bamboo Reinforcement and Plain Steel Reinforcement in Normal Concrete with Various Types of Bamboo.

Suryanto, 2013. Study of Bond Strength Notched Bamboo Reinforcement and Plain Steel Reinforcement in Normal Concrete with Various Types of Bamboo. Skripsi. Civil Engineering Department, Engineering Faculty, Sebelas Maret University.

15 Baca lebih lajut

Pengaruh Stress Decreasing Resin (SDR) Sebagai Basis Restorasi Klas II dengan Sistem Adhesif Self-Etch One-Step Terhadap Tensile Bond Strength

Pengaruh Stress Decreasing Resin (SDR) Sebagai Basis Restorasi Klas II dengan Sistem Adhesif Self-Etch One-Step Terhadap Tensile Bond Strength

Sistem adhesif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perlekatan restorasi pada dentin. Dewasa ini sistem self-etch telah menjadi pilihan bagi para dokter gigi, hal ini dikarenakan sistem adhesif self-etch memiliki beberapa kelebihan antara lain relatif mudah dalam penggunaan, hemat waktu dalam pengaplikasian, memiliki pH yang tidak terlalu rendah yaitu sekitar 1,8-2,5 serta memiliki kekuatan ikatan 18-25 Mpa. 14-15 Bahan adhesif self-etch mengandung monomer asam yang digabungkan dengan monomer hidrofilik sehingga etsa dan primer bekerja secara simultan. Sistem adhesif self-etch menggunakan asam primer untuk memodifikasi smear layer, sehingga dapat mengurangi atau bahkan mencegah sensitivitas setelah perawatan yang menjadi kelemahan resin komposit, hal ini juga akan meningkatkan tensile bond strength pada restorasi dan dentin. 16-18
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Effects of Steel and Polypropylene Fiber Addition on Interface Bond Strength between Normal Concrete Substrate and SCC Topping

Effects of Steel and Polypropylene Fiber Addition on Interface Bond Strength between Normal Concrete Substrate and SCC Topping

Abstract: Based on facts that the composite action in semi-precast and strengthened structural system depends on the bond strength of the interface between concrete faces of different ages, this preliminary research is aimed to investigate effects of mixed polypropylene (PPF) and steel fiber (SF) addition on the hardened properties of Self-Compacting Concrete (SCC) and its bond strength when used as topping layer on normal concrete substrate. Effects of hybrid fiber addition on the hardened properties of SCC were investigated based on the compressive, splitting tensile and flexural strength of concrete specimens which is tested in 28 days of age. In the next step, the tensile and shear strength of the interface were evaluated using indirect splitting tensile and bi-surface shear test method. In this research, fiber addition were prepared using 1 kg/m 3 PPF and various SF addition ranging from 15 kg/m 3 , 20 kg/m 3 , 25 kg/m 3 and 30 kg/m 3 . Test results indicate that hybrid fiber addition does not affect the compressive strength significantly but it leads positive improvement to the splitting tensile and flexural strength of hardened SCC and also improve the bond strength between SCC and normal concrete. Hybrid fiber addition of 1 kg/m 3 PPF which is combined with 20 kg/m 3 SF can be suggested as optimum composition for Hybrid Fiber Reinforced Self-Compacting Concrete (HyFRSCC) that will be used as topping or overlay material based on its hardened properties and interface strength.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

this PDF file The shear bond strength of reconditioned sapphire bracket after rebonding with sandblasting zirconia | Pitriani | Padjadjaran Journal of Dentistry 1 PB

this PDF file The shear bond strength of reconditioned sapphire bracket after rebonding with sandblasting zirconia | Pitriani | Padjadjaran Journal of Dentistry 1 PB

The etching may dissolve the debris on the surface of the bracket base, in Figure 5 of the base surface of the bracket after cleaner etching. This condition will increase the surface energy so that it can optimise the bond between the silane with adhesive and bracket. The bond formed is a siloxane bond (Si-O-Si), which was the functional group on the silane binds with the adhesive material, and the inorganic group binds to the bracket. Thus, despite the low shear bond strength of group II, it still achieved a clinically acceptable standard of 6-8 MPa.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

A Study on the Effect of Different Interconnection Materials (Wire and Bond Pad) on Ball Bond Strength after Temperature Cycle Stress.

A Study on the Effect of Different Interconnection Materials (Wire and Bond Pad) on Ball Bond Strength after Temperature Cycle Stress.

Compared with the Au-Al system, there is very little void formation in the Cu-Al system [14] Cu-Al intermetallic compound (IMC) growth rate is significantly less than the Au-Al intermetallic growth rate [18]. This is because an atom of copper has a large size mislift with aluminum and lower electronegativity compared to an atom of aluminum [29]. The growth rate is more than an order of magnitude slower than gold. At time zero, the wire pull and ball shear strength of copper wires are considerable higher than for corresponding gold wires although the Cu-Al intermetallic compounds are extremely thin [2]. The thin Cu-Al IMC at the bonding interface results in better bond strength and smaller electrical resistance [31].
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh diameter tulangan terhadap kuat lekat (Bond Strength) beton geopolimer - ITS Repository

Pengaruh diameter tulangan terhadap kuat lekat (Bond Strength) beton geopolimer - ITS Repository

Nuroji (2004) melakukan penelitian studi eksperimental lekatan antara beton dan tulangan pada penggunaan tulangan polos dan tulangan ulir, dalam penelitian nya membahas mengenai persamaan yang digunakan untuk menghitung kekuatan lekatan (bond strength) antara beton dan tulangan. Selain itu pola keretakan antara beton dan tulangan pada pengggunaan tulangan polos dan ulir menjadi konsentrasi dalam penelitian nay. Hasil penelitian menujukkan keruntuhan dari hasil pull out test pada tulangan ulr adalah splitting failure, dimana hal ini membuktikan bahwa bond pada tulangan ulir sangat didominasi oleh interlooking antara rib tulangan dan matrix beton disekitarnya. Sedangkan keruntuhan dari hasil pull out test pada tulangan polos adalah keruntuhan slip. Selain pola keruntuhan yang terjadi, hasil penelitian menujukkan kurva hubungan bond-slip untuk tulangan polos terjad slip yang jauh lebih kecil dibanding dengan puncak kurva hubungan bond-slip pada tulangan ulir. Hal ini terjadi dikarenakan mekanisme lekatan pada tulangan polos hanya dibentuk oleh adhesi dan friksi. Sedangkan pada tulangan ulir, mekanisme interlocking masih bekerja sampai mencapai beban maksimum meski adhesi telah hilang, bond menurun akibat splitting failure dan selanjutnya bond hanya dibebankan pada friksi.
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

Pin hole design affect shear bond strength of adhesive bridge

Pin hole design affect shear bond strength of adhesive bridge

Kuat rekat geser ataushear bond strength adalah kekuatan yang tercatat saat suatu benda terlepas dari ikatannya,oleh suatu gaya yang menarik atau sejajar dengan perekatannya. 7 Pembebanan gaya dilakukan dengan menggunakan Instron Universal Testing Machine (Model 1195, Instron Corp.Canton, Mass) dengan kecepatan 0,5 mm/menit. Kuat rekat geser merupakan hasil bagi dari besar gaya (F) terhadap luas perekatan yang diuji (A). = F.A -1

5 Baca lebih lajut

Perbandingan  Shear  Bond  Strength Antara  Breket Dengan  Mesh Base Dan  Retention Groove Base

Perbandingan Shear Bond Strength Antara Breket Dengan Mesh Base Dan Retention Groove Base

Nowadays there are so many types of orthodontic brackets that are available in the market. The adhesion of metal brackets is obtained with mechanic interlock between bracket base-adhesive resin-enamel. Orthodontic manufacturers are constantly introducing various styles of metal attachment bases designed to improve the mechanical retention of the attachment to the resin system. Metal bracket bases can be classified into two principal groups : brackets with soldered base and brackets with integral base. Integral base bracket can be divided into mesh base bracket and retention groove base bracket. The aim of this in vitro study was to compare the shear bond strength of brackets with mesh base and brackets with retention groove base.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

EFFECTS OF PVA FIBER ON BOND STRENGTH IMPROVEMENT IN GEOPOLYMER CONCRETE

EFFECTS OF PVA FIBER ON BOND STRENGTH IMPROVEMENT IN GEOPOLYMER CONCRETE

Kefiyalew Zerfu is Master student in Structural Engineering at Civil Engineering Department, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Since September 2015. Kefiyalew was born in Ethiopia, on 01 June 1990. He received his BSc. Degree in Civil and Environmental engineering from Addis Ababa Institute of Technology, in 2013. Immediately after graduation, he got a vacancy position as Assistant Lecturer form Ethiopian Ministry of Education. He was assigned to work as fulltime academic staff in Civil and Environmental Engineering department at Jimma Institute of Technology, Ethiopia. After one year work experience as an assistant lecturer, Kefiyalew got scholarship for his master degree program from Indonesian Government in June 2013. Under this scholarship scheme, he took Bahasa Indonesia class for eight months earlier to master program. After completing Bahasa Indonesia class, he started his master degree study in structural engineering in civil engineering department, September 2015. Parallel to his study, Kefiyalew has been engaged in geopolymer concrete research with Dr.Eng. Januarti Jaya Ekaputri, in which he have developed a key research skill. His master thesis entitled “Effects of PVA fiber in bond strength improvement in geopolymer concrete” was also part of geopolymer concrete research.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Perbedaan Tensile Bond Strength Resin Komposit Berbasis Silorane dengan Menggunakan Sistem Adhesif yang Berbeda pada Restorasi Klas I

Perbedaan Tensile Bond Strength Resin Komposit Berbasis Silorane dengan Menggunakan Sistem Adhesif yang Berbeda pada Restorasi Klas I

Sistem adhesif yang berkembang saat ini sudah mencapai generasi ke-7. Dewasa ini, sistem adhesif self-etch telah menjadi pilihan bagi para dokter gigi. Hal ini dikarenakan sistem adhesif self-etch memiliki beberapa kelebihan antara lain, relatif mudah dalam penggunaannya, dapat mengurangi sensitivitas post-operative dibandingkan dengan sistem adhesif total-etch. 11 Sistem adhesif resin komposit silorane adalah sistem adhesif Silorane System Adhesive (self-etch two step). Sistem adhesif dari resin komposit silorane dirancang khusus sesuai dengan komponen matriks silorane karena resin komposit berbasis silorane ini memiliki komponen matriks yang berbeda dengan methacrylate. Sistem adhesif resin komposit silorane adalah sistem adhesif Silorane System Adhesive (self-etch two step). 5 Prachi Joshi et al (2008) menyatakan bahwa silorane merupakan resin komposit yang pertama dengan tingkat pengerutannya kurang dari 1%, kuat dan tahan lama, daya serap air yang rendah, silorane diindikasikan untuk kavitas klas I dan II posterior dengan sistem adhesif self-etch untuk mendapatkan tensile bond strength yang baik.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Show all 1871 documents...