budidaya padi organik

Top PDF budidaya padi organik:

Peran Kontak Tani dalam Budidaya Padi Organik di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar - UNS Institutional Repository

Peran Kontak Tani dalam Budidaya Padi Organik di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar - UNS Institutional Repository

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji budidaya padi organik, peran kontak tani dalam budidaya padi organik, mengkaji hubungan antara peran kontak tani dengan budidaya padi organik serta mengkaji apakah terdapat perbedaan peran kontak tani menurut petani berdasarkan pendididkan petani, luas lahan petani dan lingkungan petani. Peran kontak tani meliputi peran sebagai pemimpin, teladan, pendidik, penggerak dan rekan penyuluh. Anjuran budidaya padi organik meliputi lahan dan pengolahan lahan, benih, sumber air, pengelolaan kesuburan tanah, pemeliharaan tanaman dan pengendalian OPT serta panen dan pasca panen. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode sensus dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden dari 2 kelompok tani yang diteliti. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan Uji Beda U Mann Whitney.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

SIKAP PETANI TERHADAP BUDIDAYA PADI ORGANIK DI KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO

SIKAP PETANI TERHADAP BUDIDAYA PADI ORGANIK DI KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO

Petani saat ini dihadapkan pada permasalahan produktivitas padi yang cenderung menurun dari waktu ke waktu akibat banyaknya penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Departemen Pertanian secara aktif mencari teknologi lain yang dapat membantu peningkatan produksi padi yang ramah lingkungan yaitu Program Sekolah Lapang Pertanian Organik (SLPO). Dalam memasyarakatkan pertanian organik, penyuluh di Kabupaten Sukoharjo mengembangkan teknologi pertanian organik penerapanya dilakukan dengan Sekolah Lapang Pertanian Organik (SLPO). Sekolah Lapang Pertanian Organik (SLPO) merupakan bentuk sekolah yang seluruh proses belajar mengajarnya dilakukan di lapangan, dilaksanakan di lahan petani peserta dalam upaya peningkatan produksi padi nasional. SLPO menjadikan petani peserta sebagai murid dan pemandu lapang sebagai guru. Namun pada sekolah lapang tidak dibedakan antara guru dan murid, karena aspek kekeluargaan lebih diutamakan, sehingga antara guru dan murid saling memberi pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Peningkatan produktivitas padi dengan pertanian organik merupakan salah satu strategi yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap produksi padi nasional. Program Go Organik 2010 diharapkan bukan hanya mampu meningkatkan produk pertanian namun juga meningkatkan kelestrian alam, sekaligus langkah bijaksana menyikapi langkanya pupuk kimia. Dalam budidaya padi organik telah teruji kemampuannya meningkatkan produktivitas padi antara 8 ton sampai 10 ton per hektar. Jaringan Kelompok Tani Organik (JARPETO) di Sukoharjo adalah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang pertanian organik. Jika jaringan sudah semakin kuat dan mencakup seluruh nusantara Indonesia bisa mencapai swasembada beras.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

IbM Budidaya Padi Organik Metode Sri dengan Pengelolaan Hama Ramah Lingkungan.

IbM Budidaya Padi Organik Metode Sri dengan Pengelolaan Hama Ramah Lingkungan.

Kegiatan ini menggandeng dua Mitra, yaitu Mitra 1 Kelompok Tani Albertus untuk Budidaya Padi Organik Metode SRI dengan Pengelolaan Hama Ramah Lingkungan, Mitra 2 Kelompok Tani PSE untuk pembuatan Pupuk Kompos Super. Mitra 2 sebagai produsen pupuk organic diharapka nmampu untuk memasok produksinya kepada Mitra 1 secara berkesinambungan. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) Mampu memproduksi beras organic dan pupuk kompos super secara mandiri, (2) Mampu meningkatkan pendapatan petani anggota, (3) Sebagai proyek percontohan bagi petani di sekitarnya, (4) Mewujudkan pertanian berkelanjutan terutama melalui budidaya padi organik metode SRI dan pengendalian hama ramah lingkungan, (5) Memproduksi beras yang aman dikonsumsi bebas residu pestisida dan logam berat, (6) Mampu mengemas beras dan pupuk organic super dengan kemasan standar, (7) Mampu menganalisis secara ekonomi untung rugi.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

View of Adopsi Inovasi Budidaya Padi Organik Pada Petani Di Kelompok Appoli (Aliansi Petani Padi Organik Boyolali)

View of Adopsi Inovasi Budidaya Padi Organik Pada Petani Di Kelompok Appoli (Aliansi Petani Padi Organik Boyolali)

Tahap-tahap yang dilakukan oleh para petani dalam adopsi dan inovasi adalah tahap Pengetahuan yaitu Informasi mengenai jenis benih varietas lokal yang diperkenalkan oleh tim penyuluh pertanian kepada petani dengan memperkenalkan benih varietas lokal yang akan dibudidayakan dengan cara turun temurun dan tidak hilang baik rasa, bentuk dan produksinya dan dapat dipakai untuk benih lagi; Tahap persuasi yaitu tahap yang dilakukan pada saat mengikuti sekolah lapang. Saat itulah petani mampu merasakan manfaat sehingga mempertimbangkan pentingnya inovasi yang kan dilakukan; Tahap difusi (Pengambilan Keputusan) adalah tahap yang akan menentukan para petani untuk dalam pengambilan keputusan apakah menggunakan ataupun menolak adopsi difusi inovasi APPOLI. Sehingga pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan sebelum membuat keputusan adalah dengan melakukan proses komunikasi antara satu dengan yang lainnya; Tahap Konfirmasi yaitu tahap dimana para petani berbagi pengalaman kepada para petani yang tidak menjalankanadopsi inovasi padi organic. Petani yang sudah menjalankan akan menjelaskan keuntungan-keuntungan yang diperolehnya; Tahap Adopsi Petani APPOLI dalam melakukan tahap yang dilakukan oleh para petani yang tergolong pada adaptor pada keberhasilan kelompok tertentu yang telah berhasil karena sifat petani hanya ingin meniru.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Komparasi Usahatani Padi Sawah Berdasarkan Budidaya Nonorganik, Semiorganik, dan Organik (Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kec. Perbaungan, Kab. Serdang Bedagai)

II. TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Komparasi Usahatani Padi Sawah Berdasarkan Budidaya Nonorganik, Semiorganik, dan Organik (Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kec. Perbaungan, Kab. Serdang Bedagai)

Ciri utama budidaya padi organik adalah tidak menggunakan pupuk kimia. Seluruh pupuk yang digunakan sepenuhnya berupa pupuk organik, mulai dari pemupukan awal atau dasar hingga pemupukan susulan. Pupuk tersebut dapat berbentuk padat yang diaplikasikan lewat akar, seperti pupuk kandang, pupuk hijauan, kompos, dan humus maupun cair yang diaplikasikan lewat daun, seperti pupuk kandang cair dan biogas. Selain itu, pada budidaya padi organik penggunaan pestisida kimia sama sekali tidak dibenarkan dalam pemberantasan hama dan penyakit. Pemberantasan hama dan penyakit padi organik perlu dilakukan secara terpadu antara teknik budidaya, biologis, fisik (perangkap atau umpan), dan kimia dengan menggunakan pestisida organik (Andoko, 2010).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI PADA KELOMPOK TANI SRI MAKMUR DALAM BUDIDAYA PADI ORGANIK DI DESA SUKOREJO KECAMATAN SAMBIREJO KEBUPATAN SRAGEN

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI PADA KELOMPOK TANI SRI MAKMUR DALAM BUDIDAYA PADI ORGANIK DI DESA SUKOREJO KECAMATAN SAMBIREJO KEBUPATAN SRAGEN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI PADA KELOMPOK TANI SRI MAKMUR DALAM BUDIDAYA PADI ORGANIK DI DESA SUKOREJO, KECAMATAN SAMBIREJO, KABUPATEN SRAGEN. 2016. MURNI SHINTA DEWI (Skripsi dibimbing oleh Dr. Ir. Indardi, M.Si dan Dr. Ir. Widodo, MP). ”.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil anggota kelompok tani, untuk mengetahui tingkat penerapan teknologi budidaya padi organik dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan teknologi budidaya padi organik.Teknik pengambilan sample dilakukan dengan teknik survey yakni mengambil sebagian anggota kelompok tani Sri Makmur. Penentuan penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling.Hasil penelitian ini menuntukkan bahwa profil anggota kelompok tani Sri Makmur terdiri dari umur, tingkat pendidikan, pendapatan, dan luas lahan.Tingkat penerapan teknologi budidaya padi organik dalam kategori tinggi, karena petani sudah menerapkan budidaya padi organik sesuai dengan standar INOFICE.Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan teknologi budidaya padi organik pendidikan non formal, lama usaha tani, dan tingkat kosmopolitan. Pendidikan non formal mempengaruhi tingkat penerapan budidaya padi organik, karena petani yang aktif dalam mengikuti pendidikan non formal maka pengetahuan dalam budidaya padi organik bertambah,. Lama usaha tani padi organik juga mempengaruhi tingkat penerapan budidaya padi organik, karena semakin lama budidaya padi organik maka pengalamannya semakin banyak. Tingkat kosmopolitan tidak mempengaruhi tingkat penerapan budidaya padi organik, karena pemerintah sering melakukan penyuluhan dan pelatihan di dalam kelompok tani.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

Development of Premium Quality Rice as a Strategy to Increase Rice Farmers’ Income: Case Study on Development of Organic Rice in Klaten Regency, Central Java

Development of Premium Quality Rice as a Strategy to Increase Rice Farmers’ Income: Case Study on Development of Organic Rice in Klaten Regency, Central Java

Padi atau beras organik adalah padi atau beras yang dihasilkan dari pertanian organik. Pertanian organik di banyak tempat dikenal dengan istilah yang berbeda- beda. Ada yang menyebut sebagai pertanian lestari, pertanian ramah lingkungan, dan sistem pertanian berkelanjutan. Sutanto (2002) mendefinisikan pertanian organik sebagai suatu sistem produksi pertanian yang berasaskan daur ulang secara hayati. Menurut para pakar pertanian Barat, sistem pertanian organik merupakan ”hukum pengembalian (law of return)” yang berarti suatu sistem yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberikan makanan pada tanaman. Filosofi yang melandasi pertanian organik adalah mengembangkan prinsip-prinsip memberikan makanan pada tanah yang selanjutnya tanah menyediakan makanan untuk tanaman ( feeding the soil that feeds the plants) dan bukan memberi makanan langsung pada tanaman. Sistem pertanian organik adalah sistem produksi holistis dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kajian Dampak Sosial Ekonomi Budidaya Padi Sri Bagi Petani Dan Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

Kajian Dampak Sosial Ekonomi Budidaya Padi Sri Bagi Petani Dan Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

MOL adalah ramuan dari bahan organik yang ada disekitar petani. Bahan- bahan MOL berbeda-beda tergantung adanya bahan dan tujuan dari pembuatannya. MOL bisa sebagai katalisator dalam pembusukan pupuk kompos dan sebagai pupuk organik cair. Bahan-bahan untuk campuran kompos tidak harus itu saja tetapi disesuaikan dengan bahan yang ada. Sambil menunggu proses pembuatan pupuk kompos selama dua minggu, tanah dibajak menggunakan kerbau atau traktor. Kerbau atau traktor tersebut disewa dari petani lain atau dari kelompok tani.Semua responden mengatakan bahwa pengolahan tanah dengan menggunakan kerbau hasilnya lebih baik dibanding menggunakan traktor, karena tanah akan dibolak-balik dan ukuran tanahnya tidak terlalu kecil, sedangkan menggunakan traktor ukurannya terlalu kecil atau hancur sehingga kalau kering akan keras. Benamkan pupuk organik yaitu pupuk kompos (jerami, dll) dan pupuk kandang 5-10 ton/ha. Air macak-macak supaya pupuk tidak hanyut. Pengolahan Tanah Kedua, yaitu tanah dicangkul halus atau digaru atau ditraktor, diratakan/digarok, air tetap macak-macak/tidak diairi, endapkan semalam kemudian digarit. Lahan siap untuk ditanam.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Risiko Usahatani Padi Organik dan Non Organik (Studi Kasus : Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Analisis Risiko Usahatani Padi Organik dan Non Organik (Studi Kasus : Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara produksi padi organik dan padi non organik. Baik padi organik dan padi non organik mengalami fluktuasi produksi dalam 5 tahun terakhir. Produksi yang mengalami penurunan drastis pada padi organik adalah tahun 2012 – 2013, hal ini disebabkan oleh luas lahan padi yang menurun mengakibatkan luas panen turun dan produktivitas padi organik tahun terakhir hanya mencapai 4,14 ton/ha. Produksi padi organik mengalami penurunan, sedangkan peoduksi padi non organik meningkat pada tahun terakhir diakibatkan oleh risiko padi organik yang sangat tinggi. Selain luas lahan dan produksi yang mengalami penurunan, bahkan jumlah petani dalam 5 tahun terakhir juga menurun. Berikut adalah data perkembangan jumlah petani padi organik dan non organik di Desa Lubuk Bayas :
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Makalah Dies 52 HF 2015 M. Yazid

Makalah Dies 52 HF 2015 M. Yazid

Usahatani padi organik telah menunjukkan perkembangan yang positif, tetapi masih terdapat hambatan-hambatan yang harus diatasi diantaranya adalah padi organik baru berkembang di Indonesia, luas tanam dan produksinya relatif kecil, pertumbuhan pasar produk pertanian organik masih lambat. Konsumen produk organik masih terbatas pada orang-orang yang memiliki keperdulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan. Petani belum banyak yang beminat untuk bertani organik. Keengganan tersebut terutama masih belum jelasnya pasar produk pertanian organik. Kurangnya pemahaman para petani terhadap sistem pertanian organik. Pertanian organik sering dipahami sebatas pada praktek pertanian yang tidak menggunakan pupuk anorganik dan pestisida. Organisasi di tingkat petani merupakan kunci penting dalam budidaya pertanian organik. Hal ini terkait dengan masalah penyuluhan dan sertifikasi. Indikator hambatan usahtanai padi semoiorganik dan organik tersebut terdiri dari aspek pengenalan dan keputusan. Hambatan usahatani padi semiorganik dan padi organik dapat dilihat pada Tabel 2.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BUDIDAYA PADI ORGANIK

BUDIDAYA PADI ORGANIK

Ada dua pengertian untuk menjelaskan apa itu padi organik. Pengertian tersebut dapat ditinjau dari aspek manajemen kelembagaan dan aspek budidaya. Secara umum, ditinjau dari aspek manajemen, orang mengenal istilah padi organik jika padi tersebut ditetapkan oleh sebuah lembaga yang memberikan jaminan kepastian bahwa padi tersebut dibudidayakan secara organik. Jadi walaupun sebuah komoditas pertanian telah dibudidayakan secara organik, tetapi belum mendapatkan jaminan dari lembaga sertifikasi, maka komoditas tersebut belum dapat dikatakan produk organik (Anonim, 2015).
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Karakter Morfofisiologi Tanaman dan Fisikokimia Beras dengan Berbagai Dosis Pemupukan Organik dan Hayati pada Budidaya Padi Organik

Karakter Morfofisiologi Tanaman dan Fisikokimia Beras dengan Berbagai Dosis Pemupukan Organik dan Hayati pada Budidaya Padi Organik

39 Dipti et al. (2002) rendemen beras kepala yang baik adalah minimal 70%. Karakter fisikokimia yang lain seperti nisbah penyerapan air dan kriteria suhu gelatinisasi juga tidak dipengaruhi oleh pemupukan organik. Suhu gelatinisasi merupakan suatu kisaran suhu dimana granula pati mulai mengembang secara permanen dalam air panas bersamaan dengan hilangnya bentuk kristal dari pati tersebut (Wibowo et al. 2009). Rata-rata kriteria suhu gelatinisasi adalah 6, yaitu beras yang diujikan memiliki suhu gelatinisasi rendah atau kurang dari 70 0 C, sedangkan nisbah penyerapan air (NPA) adalah 481-553 % atau 4-5 kali lipat. Umur simpan nasi secara statistik juga tidak berbeda nyata akibat perlakuan pupuk organik dan hayati dan berkisar memiliki umur simpan nasi antara 24-26 jam. Uji organoleptik menunjukkan bahwa semua perlakuan memiliki nilai 1.8- 2.0 yang berarti bahwa semua perlakuan menyebabkan beras memiliki rasa yang sangat pulen. Kepulenan nasi lebih dipengaruhi oleh varietas karena sesuai deskripsi varietas mentik wangi (Lampiran 4) memiliki sifat nasi yang pulen.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DESA PERTANIAN ORGANIK PADI 2016

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DESA PERTANIAN ORGANIK PADI 2016

16 dan atau diketahui oleh Petugas Lapangan/Penyuluh, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Dinas Pertanian Provinsi dan atau BPTP setempat. Selanjutnya untuk penggunaan jenis pupuk, pestisida, agensia hayati dan MOL serta dosis yang akan digunakan di lapangan disesuaikan dengan rekomendasi dan kondisi di masing-masing daerah (spesifik lokasi), dan guna menunjang kinerja UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik) dalam menghasilkan pupuk organik atau pupuk organik produksi petani (in situ) dengan memanfaatkan bahan baku di sekitar lokasi, dapat digunakan sepanjang mutunya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan harga sesuai HET.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis beban kerja pada budidaya padi sawah: studi komparasi antara metode konvensional dan organik

Analisis beban kerja pada budidaya padi sawah: studi komparasi antara metode konvensional dan organik

Pada pekerjaan pemupukan, perbedaan konsumsi energi kerja antara metode organik dengan konvensional tidak signifikan. Perbedaan jenis pupuk dimana pada pupuk kimia berbentuk serbuk granular sedangkan pupuk organik berbentuk sedikit membongkah, turut mempengaruhi jumlah massa pupuk yang ditebar. Pada sawah dengan metode budidaya organik, pupuk organik diberikan dengan dosis 3 ton/ha atau 15 kg/50 m 2 (luas petak pengambilan data) sedangkan pupuk kimia yang ditebar di sawah dengam metode konvensional sebanyak 600 kg/ha atau 3 kg/50 m 2 (luas petak pengambilan data). Dari hasil ini terlihat bahwa pemupukan antara metode organik dan konvensional, dimana berat pupuk organik enam kali lebih berat dari pemupukan metode konvensional di lahan tidak signifikan berpengaruh pada besar nilai konsumsi energi kerja. Pada dasarnya energi kerja yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemupukan terdiri dari energi untuk berjalan di lahan, mengangkat beban, dan menebar pupuk. Perbedaan berat pupuk yang dibawa dan ditebar pekerja tidak direspon signifikan dikarenakan perbedaan berat pupuk masih dapat disesuaikan oleh tubuh subjek. Perbedaan yang rendah antara nilai konsumsi energi kerja kedua metode budidaya mengindikasikan bahwa metode kerja dan volume kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap konsumsi energi kerja pemupukan. Berapapun tingginya dosis pemupukan, subjek tetap membawa dan menebar pupuk sesuai kapasitas yang mampu dibawanya. Pada pemupukan metode organik perlu diminimalisir dampak bahaya biologis (biological hazard) yang mungkin timbul dan menjadi bahaya laten bagi subjek. Penggunaan sarung tangan dinilai tepat untuk meminimalisir dampak tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MACAM TEKNIK BUDIDAYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) | Ningsih | AGROLAND 8191 26910 1 PB

MACAM TEKNIK BUDIDAYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) | Ningsih | AGROLAND 8191 26910 1 PB

anorganik, perlakuan B2 dan B3 dengan memakai sistem tanam intensifikasi padi aerob berbasis organik dengan pemberian pupuk organik dan anorganik diduga mampu menyediakan unsur hara dan kebutuhan air serta kondisi lingkungan yang optimal sesuai dengan kebutuhan tanaman padi. Pemberian pupuk pada tanaman baik berupa pupuk anorganik (B1) maupun kombinasi pupuk organik limbah jerami padi dan anorganik (B2 dan B3) yang diberikan mampu memberikan tambahan unsur hara di dalam tanah serta memperbaiki sifat tanah, sehingga pertumbuhan tanaman padi dalam pembentukan panjang tanaman menjadi lebih baik. Faesal (2011), penerapan sistem budidaya tanaman padi yang tepat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Dijelaskan oleh Premono dan Widayati (2000), penambahan unsur hara tanaman dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemupukan yang tepat dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman (Goldsworthydan Fisher, 1996). Disebutkan oleh Faesal (2011), untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik maka syarat utama adalah tanaman harus mendapatkan zat makanan yang cukup selama pertumbuhannya. Bern, (1991), menjelaskan bahwa pertumbuhan tanaman ditentukan oleh jumlah unsur hara yang tersedia dalam jumlah yang minimum. Hasil analisis ragam pengamatan jumlah anakan tanaman menunjukkan pengaruh tidak nyata pada umur 20, 30 dan 50 hst. Pengaruh perlakuan pada umur 40 dan 60 hst menunjukkan pengaruh nyata.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Karbon Organik Tanah dan Emisi Karbon dari Budidaya Padi dengan Pupuk Organik Berbeda

Karbon Organik Tanah dan Emisi Karbon dari Budidaya Padi dengan Pupuk Organik Berbeda

1993; Hanson & Hanson 1996). Sebesar 43% dari emisi metan ke atmosfer berasal dari lahan basah, yakni 20% dari sawah dan sisanya berasal dari lahan rawa (Wild 1995; Notohadiprawiro 2006). Lahan persawahan Indonesia yang luasnya sekitar 10,9 juta hektar diduga memberi kontribusi sekitar 1% dari total global metan (Setyanto 2006). Emisi metan dari lingkungan akuatik seperti tanah sawah pada dasarnya ditentukan oleh dua proses mikrobial yang berbeda, yaitu produksi metan dan konsumsi metan (Rudd dan Taylor 1980). Pada tanah sawah, metan diproduksi sebagai hasil antara dan hasil akhir dari berbagai proses mikrobial, seperti dekomposisi anaerobik bahan organik oleh bakteri metanogen. Sementara sebagian dari metan yang diproduksi akan dioksidasikan oleh bakteri metanotrof yang bersifat aerobik di lapisan permukaan tanah dan di zona perakaran. Bakteri metanotrof merupakan bakteri yang memanfaatkan CH 4 sebagai donor
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN PADI ORGANIK MET

BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN PADI ORGANIK MET

Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim taman. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.

Baca lebih lajut

Optimasi Dosis Pupuk Organik yang Diaplikasikan dengan Pupuk Hayati pada Budidaya Padi Organik

Optimasi Dosis Pupuk Organik yang Diaplikasikan dengan Pupuk Hayati pada Budidaya Padi Organik

Hasil analisis tanah yang dilakukan setelah panen secara umum menunjukkan terjadinya penurunan C-organik dibandingkan kondisi tanah awal. Penurunan C-organik disebabkan oleh aktivitas organisme tanah yang menggunakan senyawa karbon untuk pembentukan sel-sel tubuhnya dan sebagian lagi dibebaskan dalam bentuk CO 2 selama proses dekomposisi sehingga kadar C- organik menjadi berkurang (Jacob 1992). Nilai pH akhir penelitian lebih rendah dibandingkan pada kondisi awal. Menurut Rigby and Cáceres (2001) penurunan pH tanah dapat terjadi karena dekomposisi bahan organik yang diberikan pada tanah dapat menghasilkan asam-asam organik. Kadar P total secara umum mengalami peningkatan dibandingkan kondisi awal. Menurut Hanifah (2007) bahan organik mampu mengikat koloid dan kation-kation yang dapat memfiksasi P tanah menjadi tersedia bagi tanaman, serta adanya asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik yang mampu melarutkan unsur P dari pengikatnya. Kadar K setelah perlakuan mengalami peningkatan dibandingkan kondisi tanah awal. Menurut Soepartini (1991) pupuk organik dapat meningkatkan kandungan K dalam tanah. Yoshida (1981) mengemukakan bahwa pengaruh padi sawah terhadap pemupukan K umumnya rendah karena kebutuhan K dapat dicukupi dari cadangan mineral K yang berada dalam larutan tanah dan dekomposisi bahan organik.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Analisis Risiko Usahatani Padi Organik Dan Non Organik (Kasus : Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Analisis Risiko Usahatani Padi Organik Dan Non Organik (Kasus : Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Pada Tabel 1 dapat dilihat perbandingan luas lahan dari tahun 2008 – 2013 mengalami fluktuasi. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami penurunan drastis pada luas lahan padi organik dan kenaikan pada luas lahan padi non organik. Ini disebabkan karena terjadinya konversi lahan dari padi organik ke padi non organik yang diakibatkan karena padi organik yang kurang produktif atau tidak optimal hasil produksinya.

Baca lebih lajut

Analisis Komparasi Penggunaan Dan Produktivitas Tenaga Kerja Usahatani Padi Organik Dan Padi Non Organik

Analisis Komparasi Penggunaan Dan Produktivitas Tenaga Kerja Usahatani Padi Organik Dan Padi Non Organik

Dari tabel 3 tersebut dapat dilihat bahwa jumlah petani organik anggota Kelompok Tani Subur lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah petani non organik. Berdasarkan hasil pra survey, menurunnya jumlah petani padi organik anggota Kelompok Tani Subur terjadi karena menurut sebagian petani pekerjaan pada usahatani padi organik sulit, menyita banyak waktu, dan membutuhkan banyak curahan tenaga kerja. Salah satu jenis pekerjaan yang dianggap rumit oleh petani adalah pada proses pembuatan insektisida hayati dari tumbuh-tumbuhan dan kotoran hewan yaitu daun sirih, tembakau, akar pinang muda dan urin sapi melalui proses fermentasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...