Bukti Rekaman CCTV

Top PDF Bukti Rekaman CCTV:

PENGGUNAAN ALAT BUKTI REKAMAN CCTV (CLOSED CIRCUIT TELEVISION) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA

PENGGUNAAN ALAT BUKTI REKAMAN CCTV (CLOSED CIRCUIT TELEVISION) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA

2. Faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan penggunaan alat bukti rekaman CCTV (Closed Circuit Television) dalam proses peradilan pidana yang pertama adalah faktor hukumnya sendiri disini kendala hukum bersumber dari penggunaan rekaman CCTV tidak dimasukkan dalam alat bukti yang sah didalam KUHAP sehingga penggunaan rekaman CCTV hanya menjadi alat bukti pendukung bagi para hakim untuk menimbang putusan yang akan diberikan. Presepsi atau cara pandang yang berbeda akan mengakibatkan berbeda pula pemikiran yang akan diterima seseorang. Norma yang menjadi legalistik positivistik tidak jelas. Adanya nuansa kasus-kasus tertentu. Secara tidak langsung terjadi pengkategorian antara kasus per kasus karena adanya kepentingan politis atau bahkan kasus konvensional. Selain itu juga Faktor sarana dan fasilitas yang mendukung. Karena rekaman CCTV tidak lepas dari adanya kekurangan dan keterbatasan yang menjadi kendala bagi penyidik dalam mengungkap terjadinya tindak pidana. Kendala yang kadang menjadi masalah berdasarkan hasil peneltian adalah hasil rekaman rekaman CCTV telah mengalami editing. Editing adalah proses pengurangan atau penambahan terhadap data hasil rekaman rekaman CCTV yang dilakukan oleh pihak pelaku tindak pidana maupun korban. selanjutnya hasil dari rekaman rekaman CCTV kurang jelas hal ini diakibatkan dari kualitas Kamera rekaman CCTV itu
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Adapun masalah hukum yang timbul adalah bagaimana pengaturan mengenai alat bukti dan alat bukti elektronik dalam hukum acara pidana di Indonesia, bagaimana kekuatan pembuktian rekaman CCTV dalam penyelesaian tindak pidana korupsi, dan bagaimana kedudukan atau keadaan sebenarnya dari alat bukti rekaman CCTV sebagai alat bukti dalam tindak pidana korupsi setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan mengumpulkan bahan hukum (primer, sekunder, dan tersier) melalui studi kepustakaan (library research). Bahan hukum utama yang dikaji adalah Putusan MK No. 20/PUU-XIV/2016 bertanggal 07 September 2016 dan peraturan yang terkait dengan permasalahan dalam skripsi ini yaitu UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE, UU No. 20 Tahun 2001 jo. UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tipikor dan peraturan lainnya. Untuk mendukung bahan hukum tersebut, juga dipergunakan bahan hukum sekunder dan tersier berupa buku, jurnal, internet, kamus, dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Hasil dari penelitian ini berupa kesimpulan bahwa, pertama, Di Indonesia, pengaturan tentang alat bukti dalam hukum acara pidana tidak hanya terdapat di dalam KUHAP, melainkan juga diatur dalam beberapa peraturan perundang- undangan yakni pengaturan alat bukti elektronik. Kedua, kekuatan alat bukti rekaman CCTV dalam penyelesaian tindak pidana korupsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan yang ketiga adalah bahwa kedudukan atau keadaan sebenarnya rekaman CCTV sebagai alat bukti dalam tindak pidana korupsi setelah keluarnya Putusan MK No. 20/PUU-XIV/2016 harus memenuhi beberapa ketentuan sehingga bukan merupakan intersepsi atau penyadapan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Hasil dari penelitian ini berupa kesimpulan bahwa, pertama, Di Indonesia, pengaturan tentang alat bukti dalam hukum acara pidana tidak hanya terdapat di dalam KUHAP, melainkan juga diatur dalam beberapa peraturan perundang- undangan yakni pengaturan alat bukti elektronik. Kedua, kekuatan alat bukti rekaman CCTV dalam penyelesaian tindak pidana korupsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan yang ketiga adalah bahwa kedudukan atau keadaan sebenarnya rekaman CCTV sebagai alat bukti dalam tindak pidana korupsi setelah keluarnya Putusan MK No. 20/PUU-XIV/2016 harus memenuhi beberapa ketentuan sehingga bukan merupakan intersepsi atau penyadapan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Kedudukan Rekaman CCTV Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Korupsi Setelah Keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20 PUU-XIV 2016

Hasil dari penelitian ini berupa kesimpulan bahwa, pertama, Di Indonesia, pengaturan tentang alat bukti dalam hukum acara pidana tidak hanya terdapat di dalam KUHAP, melainkan juga diatur dalam beberapa peraturan perundang- undangan yakni pengaturan alat bukti elektronik. Kedua, kekuatan alat bukti rekaman CCTV dalam penyelesaian tindak pidana korupsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan yang ketiga adalah bahwa kedudukan atau keadaan sebenarnya rekaman CCTV sebagai alat bukti dalam tindak pidana korupsi setelah keluarnya Putusan MK No. 20/PUU-XIV/2016 harus memenuhi beberapa ketentuan sehingga bukan merupakan intersepsi atau penyadapan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PERSPEKTIF PENERAPAN E-TILANG DENGAN MENGGUNAKAN REKAMAN CCTV (CLOSSED CIRCUIT TELEVISION) (Studi Kasus di Wilayah Bandar Lampung)

PERSPEKTIF PENERAPAN E-TILANG DENGAN MENGGUNAKAN REKAMAN CCTV (CLOSSED CIRCUIT TELEVISION) (Studi Kasus di Wilayah Bandar Lampung)

Sistem transportasi merupakan hal yang krusial dalam menentukan keefektifan suatu kota. Banyak sekali kasus pelanggaran lalu lintas di jalan raya yang dilakukan oleh pemakai jalan yang cenderung mengakibatkan timbulnya kecelakaan dan kemacetan lalu lintas yang semakin meningkat. Pelanggaran lalu lintas mayoritas berupa pelanggaran dalam hal marka, rambu lalu lintas dan lampu pengatur lalu lintas seperti larangan berhenti, parkir di tempat-tempat tertentu, menerobos lampu merah, tanpa surat dan kelengkapan kendaraan, dan lain -lain. Dengan proses pelayanan lebih cepat dari tilang konvensional, E- tilang merupakan proses tilang dengan memanfaatkan teknologi yang diharapkan seluruh proses tilang akan lebih efisien dan efektif. Penggunaan alat bukti rekaman CCTV dalam proses E-tilang ini masih belum menyeluruh di Indonesia. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Perspektif Penerapan E-tilang menggunakan Rekaman CCTV (Studi Kasus Di Wilayah Bandar Lampung).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN - ANALISIS EKSISTENSI CLOSED CIRCUIT TELEVISION (CCTV) PADA PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA UMUM

I. PENDAHULUAN - ANALISIS EKSISTENSI CLOSED CIRCUIT TELEVISION (CCTV) PADA PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA UMUM

Menurut Eva Mayanti 17 sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, telah terdapat pertanyaan hukum mengenai kedudukan dari informasi elektronik dan dokumen elektronik dalam hukum acara pidana di Indonesia. Jika kita menganalisis ketentuan Pasal 5 ayat (2) UUITE, di situ dikatakan bahwa keduanya merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku. Tidak ada penjelasan yang sah mengenai apa yang dimaksud dengan perluasan tersebut sehingga timbul pertanyaan apakah perluasan tersebut dimaknai sebagai penambahan alat bukti atau merupakan bagian dari alat bukti yang telah ada. Dalam Pasal 184 KUHAP terdapat lima alat bukti yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa dan jika perluasan tersebut dimaknai penambahan maka alat bukti dalam hukum acara pidana di Indonesia secara umum menjadi lebih dari lima. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah informasi elektronik dan data elektronik tersebut dapat dijadikan dasar sebagai alat bukti petunjuk bagi Majelis Hakim. Kemudian apabila perluasan tersebut dimaknai sebagai bagian dari alat bukti yang telah ada maka alat bukti dalam hukum pidana secara umum tetap lima, namun baik informasi elektronik dan dokumen elektronik tersebut dapat dimasukkan dalam alat bukti petunjuk atau alat bukti surat.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

MODEL ACQUISISI REKAMAN SUARA DI AUDIO FORENSIK

MODEL ACQUISISI REKAMAN SUARA DI AUDIO FORENSIK

Pemanfaatan suara untuk identifikasi identitas individu telah banyak diterapkan oleh pihak kepolisian ataupun penegak hukum lainnya [10]. Untuk menggunakan rekaman suara sebagai bukti perlu terlebih dahulu dilakukan pengolahan data rekaman suara, proses ini dilakukan dengan menggunakan suatu metode ilmiah agar rekaman bukti tersebut dapat diterima sebagai alat bukti di pengadilan yang tak terbantahkan[7]. Metode ilmiah yang digunakan untuk proses analisis data adalah pengolahan sinyal (signal processing) dan bidang ilmu terkait lainnya, proses tersebut dikenal sebagai audio forensik. Untuk tahapan dari audio forensik terdiri atas proses pengumpulan data (acquisisi), analisis fitur atau ciri, evaluasi dan menyajikan hasil akhir dalam bentuk reporting untuk digunakan sebagai alat bukti [11][12].
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KEKUATAN HUKUM PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA TERORISME.

KEKUATAN HUKUM PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA TERORISME.

Prosedur sistem perbankan modern saat ini seluruhnya menggunakan komputer sebagai petugas yang secara otomatis mendebet rekening nasabah atau secara otomatis menambahkan bunga atas dana nasabah.seluruh proses ini di catat oleh komputer dan disimpan dalam bentuk file.dengan demikian,seluruh proses pembuktian kasus-kasus perbankan dalam kaitannya dengan dana nasabah sangatlah mustahil didasarkan pada dokumen yang aslinya yang berbentuk kertas. Kalaupun ada dokumen berbentuk kertas maka itu hanyalah cetakan file komputer pada bank yang bersangkutan. Dengan diterimanya rekening koran tersebut sebagai alat bukti surat maka hal ini dapat menjadi dasar bagi penyidik untuk mengunakan cetakan filekomputer sebagai alat bukti surat.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

KEKUATAN HUKUM PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA TERORISME.

KEKUATAN HUKUM PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA TERORISME.

Prosedur sistem perbankan modern saat ini seluruhnya menggunakan komputer sebagai petugas yang secara otomatis mendebet rekening nasabah atau secara otomatis menambahkan bunga atas dana nasabah.seluruh proses ini di catat oleh komputer dan disimpan dalam bentuk file.dengan demikian,seluruh proses pembuktian kasus-kasus perbankan dalam kaitannya dengan dana nasabah sangatlah mustahil didasarkan pada dokumen yang aslinya yang berbentuk kertas. Kalaupun ada dokumen berbentuk kertas maka itu hanyalah cetakan file komputer pada bank yang bersangkutan. Dengan diterimanya rekening koran tersebut sebagai alat bukti surat maka hal ini dapat menjadi dasar bagi penyidik untuk mengunakan cetakan filekomputer sebagai alat bukti surat.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter Chapter III V

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter Chapter III V

Bab ini membahas hasil yang didapatkan dari implementasi metode Median Filter untuk melakukan peningkatan kualitas video hasil rekaman Closed Circuit Television(CCTV) dan pengujian sistem sesuai dengan analisis perancangan yang telah dibahas pada Bab 3.

44 Baca lebih lajut

03. SOP PENGENDALIAN REKAMAN

03. SOP PENGENDALIAN REKAMAN

Pimpinan dan Jajaran dan KetuaSekretaris KelengkapanPersyaratan/ Waktu Output A Identifikasi Rekaman Mutu 1 Mengidentifikasi semua formulir yang dipakai sebagai bukti proses rekaman mu[r]

5 Baca lebih lajut

Pendeteksian Objek Manusia dan Peningkatan Kualitas Citra pada Video Hasil Rekaman CCTV (Studi Kasus Polrestabes Bandung)

Pendeteksian Objek Manusia dan Peningkatan Kualitas Citra pada Video Hasil Rekaman CCTV (Studi Kasus Polrestabes Bandung)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Pendeteksian Objek Manusia Dan Peningkatan Kualitas Citra Pada Video Hasil Rekaman CCTV (Studi Kasus Polrestabes Bandung) ”. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini banyak mengalami kendala, namun berkat berkah dari Allah SWT dan juga bantuan, bimbingan serta kerjasama dari berbagai pihak sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat di atasi. Penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada:
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter

A Review On Image Denoising Using Wavelet Transform And Median Filter Over AWGN Channel.. International Journal Of Technology Enhancements And Emerging Engineering Research1 4: 44-47.[r]

3 Baca lebih lajut

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter

Closed Circuit Television (CCTV) adalah sistem pengawasan elektronik yang menggunakan kamera video, yang terhubung dengan sirkuit tertutup untuk menangkap, mengumpulkan, merekam, dan menyampaikan informasi visual mengenai status kejadian pada suatu tempat dalam waktu tertentu (Deisman, 2003). Deisman (2003) menjelaskan CCTV diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu CCTV analog dan CCTV digital.

18 Baca lebih lajut

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter

Peningkatan Kualitas Video Hasil Rekaman Closed Circuit Television (CCTV) Menggunakan Median Filter

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap bahan referensi yang telah dikumpulkan sebelumnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai metode yang akan digunakan, yaitu Median Filter dalam menyelesaikan masalah video hasil rekaman CCTV yang berkualitas rendah.

5 Baca lebih lajut

Menetapkan Hukum Berdasarkan Alat Modren

Menetapkan Hukum Berdasarkan Alat Modren

kalau budak dia tidak memiliki tuan, apakah dia dihukum karena indikasi yang kuat tersebut?! Para ulama berselisih dalam masalah ini. Mayoritas ulama berpendapat (pendapat pertama) dia tidak dihukum karena ada kemungkinan dia dipaksa. Namun, pendapat kedua mengatakan: Pada asalnya dia dihukum karena indikasi yang kuat tersebut kecuali apabila dia mengaku dipaksa atau sejenisnya, maka gugurlah hukuman darinya; pendapat inilah yang kuat, sebagaimana ditegaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam as- Siyasah Syar'iyyah hlm. 88 dan muridnya Ibnul Qayyim dalam ath- Thuruq Hukmiyyah hlm. 8. Hal itu berdasarkan ucapan Umar هللا يضر هنع, "Ketahuilah bahwa rajam itu benar-benar ada dalam Kitabullah bagi pezina lelaki yang telah muhshan, demikian juga bagi wanita apabila ada bukti, kehamilan, dan pengakuan." (HR Bukhari: 6830 dan Muslim: 1691). Namun, jika dia mengaku diperkosa maka gugur hukuman darinya. Oleh karenanya, Umar هنع هللا يضر tidak menghukum wanita yang hamil karena zina sebab dia mengaku dipaksa. (Lihat Sunan al-Baihaqi 8/236.)
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

KEKUATAN HUKUM PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA TERORISME SKRIPSI

KEKUATAN HUKUM PENGGUNAAN REKAMAN VIDEO SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENANGANAN TINDAK PIDANA TERORISME SKRIPSI

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai "Anti Teror Act". Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

PP NOMOR 80 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN

PP NOMOR 80 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN

(1) Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang didasarkan atas hasil rekaman peralatan elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf c, Petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Penyidik Pegawai Negeri Sipil di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dapat menerbitkan Surat Tilang.

32 Baca lebih lajut

Show all 8730 documents...