bulu babi

Top PDF bulu babi:

Studi Biologi Bulu Babi Echinoidea Diper

Studi Biologi Bulu Babi Echinoidea Diper

Sumberdaya perikanan di Pulau Bintan antara lain jenis-jenis ikan, moluska, alga, crustacea, coral, echiodermata. Salah satu jenis echiodermata yang belum dimanfaatkan secara maksimal di perairan Pulau Bintan adalah bulu babi yang hidup di ekosistem terumbu karang ini memiliki nilai jual tinggi karena gonad atau telurnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang bergizi tinggi.Bulu babi banyak ditemukan di semua lautan, biota ini biasanya dapat hidup menyendiri maupun berkelompok dan biasanya hidup pada subtrat yang keras, yakni batu-batuan atau terumbu karang dan hanya sebagian kecil yang menghuni substrat pasir dan lumpur, karena pada kondisi demikian kaki tabung sulit untuk mendapatkan tempat melekat. Bulu babi banyak ditemukan disekitar perairan Bintan khususnya di perairan Teluk Dalam Desa Malang Rapat. Namun belum adanya pemanfaatan bulu babi oleh masyarakat nelayan pulau Bintan, dikarenakan kurangnya data dan informasi tentang bulu babi. Keterbatasan informasi menjadikan masyarakat Bintan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KELIMPAHAN DAN POLA PENYEBARAN BULU BABI (ECHINOIDEA) DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PANTAI PASIR PUTIH, SITUBONDO.

KELIMPAHAN DAN POLA PENYEBARAN BULU BABI (ECHINOIDEA) DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PANTAI PASIR PUTIH, SITUBONDO.

stasiun transek permanen yang akan diambil datanya. Setelah itu, dilakukan pengambilan data berupa pemotretan bawah air, sudut pengambilan foto tegak lurus terhadap dasar substrat. Luas area bidang pemotretan adalah 1 m 2 . Pengamatan dan penghitungan bulu babi dimulai dari meter ke 0 pada bagian sebelah kiri garis transek sebagai plot 1, dilanjutkan dengan pada meter ke 1 pada bagian sebelah kanan garis transek sebagai plot 2, dan seterusnya hingga akhir transek.

12 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat T2 422012114 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat T2 422012114 BAB IV

Kelimpahan jenis D. setosum dan D. antillarum banyak ditemukan pada habitat terumbu karang, hal ini disebabkan terumbu karang sebagai tempat berlindung dan penyedia sumber makanan bagi bulu babi jenis ini. Bulu babi jenis ini berperan dalam rantai makanan, sebagai pemakan detritus dan sebagai herbivore ( Birkeland 1989 dalam Yusron 2006).

5 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat T2 422012114 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat T2 422012114 BAB V

Bulu babi yang ditemukan di lokasi penelitian Pulau Saonek Kabupaten Raja Ampat terdiri dari 3 jenis yaitu Deadema setosum, D.. Antillarum, dan Echinometra Mathaei B.[r]

1 Baca lebih lajut

SKRIPSI   KELIMPAHAN DAN POLA PENYEBARAN BULU BABI (ECHINOIDEA) DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PANTAI PASIR PUTIH, SITUBONDO.

SKRIPSI KELIMPAHAN DAN POLA PENYEBARAN BULU BABI (ECHINOIDEA) DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PANTAI PASIR PUTIH, SITUBONDO.

Penelitian tentang kelimpahan ikan, moluska dan bentos pada daerah terumbu karang sudah banyak dilakukan, tetapi dalam kenyataannya belum banyak yang meneliti tentang kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi seperti di Pantai Pasir Putih, Situbondo. Pantai Pasir Putih di Situbondo merupakan salah satu tujuan wisata utama di Jawa Timur. Keadaan ini mampu mengganggu daya dukung lingkungan terhadap organisme laut seperti bulu babi. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi di ekosistem terumbu karang perairan Pantai Pasir Putih, Situbondo. Penelitian ini dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili daerah Pantai Pasir Putih, Situbondo yaitu: Watu Lawang sebagai stasiun 1, Karang Mayit – Teluk Pelita sebagai stasiun 2 dan Watu Pon – Pon sebagai stasiun 3. Pengambilan data menggunakan metode transek kuadrat. Setiap stasiun memiliki lima transek dengan panjang dan jarak antar transek 100 m. Bidang observasi sepanjang transek menggunakan petak ukur dengan luas 1 m 2 . Selanjutnya kelimpahan dan pola penyebaran dicari menggunakan data bulu babi yang ditemukan. Bulu babi yang diperoleh dari penelitian ini adalah Diadema setosum, Echinothrix calamaris duri putih dan Echinothrix calamaris duri coklat belang. Telah di temukan pada stasiun 1, D. setosum merupakan spesies yang melimpah dengan densitas 0,10 ind/m 2 , kelimpahan relatif 60,976% dan pola penyebaran seragam, sedangkan E. calamaris duri putih dan E. calamaris duri coklat belang memiliki densitas secara berturut turut sebesar 0,04 ind/m 2 dan 0,03 ind/m 2 , kelimpahan relatif secara berturut turut sebesar 23,171% dan 15,854% serta pola penyebaran keduanya mengelompok. Stasiun 2, D. setosum juga merupakan spesies yang melimpah dengan densitas 0,11 ind/m 2 , kelimpahan relatif 69,136% dan pola penyebaran seragam, sedangkan E. calamaris duri putih dan E. calamaris duri coklat belang memiliki densitas secara berturut turut sebesar 0,02 ind/m 2 dan 0,03 ind/m 2 , kelimpahan relatif secara berturut turut sebesar 13,580% dan 17,284% serta pola penyebaran keduanya mengelompok. Stasiun 3, D. setosum juga merupakan spesies yang melimpah dengan densitas 0,07 ind/m 2 , kelimpahan relatif 45,333% dan pola penyebaran seragam, sedangkan E. calamaris duri putih dan E. calamaris duri coklat belang memiliki densitas secara berturut turut sebesar 0,04 ind/m 2 dan 0,04 ind/m 2 , kelimpahan relatif secara berturut turut sebesar 25,333% dan 29,333% serta pola penyebaran keduanya mengelompok.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB I

Distrik Misool Utara memiliki jenis pantai yang beragam yaitu pantai berpasir, pantai kerikil dan pantai berlumpur dengan hamparan padang lamun. Hamparan ini menutupi beberapa bagian pantainya. Keberadaan lamun di lokasi ini menyebabkan beberapa organisme hidup berasosiasi dengan jenis- jenis lamun tersebut, termasuk bulu babi Tripneustes gratilla.

4 Baca lebih lajut

Struktur dan Sebaran Komunitas Bulu Babi (Echinoidea) di Habitat Lamun Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura

Struktur dan Sebaran Komunitas Bulu Babi (Echinoidea) di Habitat Lamun Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura

Siklus hidup dari bulu babi diawali dengan terjadinya pembuahan yang terjadi diluar tubuh. Induk jantan membuahi telur-telur dari induk betina. Telur bulu babi dibungkus dengan semacam gelatinous yang biasa disebut dengan jelly coat (Guidice, 1986). Setelah itu terbentuklah embrio, dimana embrio ini akan membelah dengan frekuensi yang sangat tinggi. Setelah mencapai tahap embrio terus masuk fase morula dan embrio muda disebut blastula. Selama 10 jam setelah terbuahi sejak fase blastula, maka embrio tersebut mulai aktif berenang. Setelah itu muncullah anakan bulu babi (Gambar 2), bulu babi sudah dapat dikatakan telah menjadi anakan bila sudah terdapat tentakel-tentakel, duri-duri dan pediselaria (Czihak, 1971).
Baca lebih lanjut

163 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB IV

Tingginya kelimpahan bulu babi T. gratilla di stasiun 2 diduga berhubungan dengan ketersediaan makanan yang cukup dan jenis-jenis lamun yang ada. Ketersediaan makanan yang cukup ini ditandai dengan tingginya kerapatan jenis lamunnya. Menurut Azis (1994), bulu babi sering ditemukan didaerah padang lamun campuran karena tergantung kepada berbagai jenis lamun. Selain itu, tingginya kelimpahan juga diduga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan yang disukai oleh hewan ini. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Lawrence (1975 dalam Azis 1994), bahwa bulu babi T. gratilla cenderung menyukai lamun dari marga Thalassia dan Syringodium.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian - Studi keanekaragaman teripang (Holothuridae) dan bulu babi (Echinoidae) di perairan Pantai Desa Sungai Bakau Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat - Digital Library IAIN Palangka Raya

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian - Studi keanekaragaman teripang (Holothuridae) dan bulu babi (Echinoidae) di perairan Pantai Desa Sungai Bakau Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat - Digital Library IAIN Palangka Raya

Berdasarkan gambaran mengenai jumlah plot diperoleh 53 plot yang terbagi dalam 3 titik lokasi sampling yaitu stasiun 1 sebanyak 15 plot, lokasi stasiun 2 sebanyak 15 plot, dan lokasi stasiun 3 sebanyak 23 plot. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu pasang surut dengan pola pasut dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan waktu yang berbeda. 5 Pengambilan sampel berdasarkan jenis teripang dan bulu babi yang ada di pesisir Sungai Bakau Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat.

14 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat T2 422012114 BAB II

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat T2 422012114 BAB II

lempengan yang menyatu membentuk kotak seperti cangkang keras pada tempat hidupnya. Bulu babi memiliki 10 deret lempeng lipat dua dengan lima pasang lubang untuk kaki tabung yang ramping keluar melalui cangkang ( Romimohtarto. et.all. 2009).

8 Baca lebih lajut

Komunitas Bulu Babi (Echonoidea) di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai dan Pulau Setan Sumatera Barat Indra Junaidi Zakaria

Komunitas Bulu Babi (Echonoidea) di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai dan Pulau Setan Sumatera Barat Indra Junaidi Zakaria

Bulu babi (Sea Urchin) merupakan salah satu potensi sumberdaya perikanan yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia. Masyarakat Jepang sangat mengemari produk bulu babi terutama telur atau gonadnya. Telur bulu babi terasa lembut dan lezat serta mempunyai nilai gizi yang tinggi. Produk ini dikenal dengan ―uni‖ mempunyai harga jual yang sangat mahal. Untuk satu kilogram uni harganya berkisar antara 50 sampai 500 US dolar, yang dinilai dari kualitas telur, terutama warna dan tektur. Bulu babi tidak hanya disukai oleh masyarakat Jepang, juga dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Tipologi Komunitas Lamun kaitannya dengan Populasi Bulu Babi di Pulau Hatta, Kepulauan Banda, Maluku

Tipologi Komunitas Lamun kaitannya dengan Populasi Bulu Babi di Pulau Hatta, Kepulauan Banda, Maluku

Studi mengenai berbagai aspek ekologi bulu babi telah dilakukan di berbagai tempat di dunia, antara lain studi ekologi komunitas: Echinoidea (McClanahan et al. 1994; Jeng 1998; McClanahan 1998; Larrain et al. 1999; Chao 2000; Paulay 2003; Putchakam & Soncaeng 2004; Lessios 2005), Echinometra mathaei (McClanahan 1995), dan Echinometra viridis (McClanahan 1999); struktur komunitas: Echinoidea (McClanahan & Shafir 1990; Andrew & McDiarmid 1991; Levitan 1992; McClanahan et al. 1996;), Diadema antillarum (Carpenter 1990a, 1990b), dan Echinometra mathaei (Kessing 1992; Prince 1995); ekologi tingkah laku: Echinoidea (Shulman 1990; Ikuo et al. 1999), Strongylocentrotus droebachiensis (Bernstein et al. 1981; Mann et al. 1984; Scheibling & Hamm 1991; Russell 1998), Strongylocentrotus purpuratus (Edwards & Ebert 1991), Paracentrotus lividus (Barnes & Cook 2001), Echinometra mathaei (Black et al. 1982; Black et al. 1984; Neill 1988), Diadema antillarum (Levitan 1991), dan Heliocidaris erythrogramma (Constable 1993); dan studi aktivitas makan: Echinoidea (Valentine & Kenneth 1991; Macia 2000; Alcovero & Mariani 2002), Echinometra mathaei (Hart & Chia 1990), Lytechinus variegatus (Greenway 1995), dan Evechinus chloroticus (Barker et al. 1998).
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

KANDUNGAN NUTRISI DAN PEMANFAATAN GONAD BULU BABI (Echinothrixs calamaris) DALAM PEMBUATAN KUE BLUDER

KANDUNGAN NUTRISI DAN PEMANFAATAN GONAD BULU BABI (Echinothrixs calamaris) DALAM PEMBUATAN KUE BLUDER

Penelitian ini bertujuan menentukan nutrisi, komposisi asam lemak, dan pengaruh komposisi telur ayam dan gonad bulu babi terhadap mutu kue bluder. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu karakterisasi bahan baku, formulasi, dan karakterisasi kue bluder. Gonad bulu babi Echinothrix calamaris segar memiliki karakteristik sebagai berikut: kadar air 69,47%, abu 0,75%, lemak 9,02%, protein 18,46%, energi 164,22 kkal, miristat 11,89%, palmitat 25,63%, stearat 3,83%, palmitoleat 6,63%, oleat 7,87%, linolelaidat 2,63%, linolenat 6,35%, dan arakhidonat 10,38%. Proporsi telur ayam dan gonad bulu babi sangat berpengaruh terhadap mutu kue bluder dengan kadar air (21,70-27,17)%, protein (4,59-5,02)%, lemak (17,68-29,30)%, abu (0,67- 0,91)%, karbohidrat (38,61-50,62)%, dan energi (376,48- 437,9) kkal. Semua formula dapat diterima, tetapi formula yang paling disukai perbandingan telur ayam dan gonad 2:1.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

STUDI KEANEKARAGAMAN TERIPANG (HOLOTHURIDAE) DAN BULU BABI (ECHINOIDAE) DI PERAIRAN PANTAI DESA SUNGAI BAKAU KECAMATAN KUMAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

STUDI KEANEKARAGAMAN TERIPANG (HOLOTHURIDAE) DAN BULU BABI (ECHINOIDAE) DI PERAIRAN PANTAI DESA SUNGAI BAKAU KECAMATAN KUMAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

Dengan ini saya menyatakan bahwa, skripsi dengan judul “ STUDI KEANEKARAGAMAN TERIPANG ( HOLOTHURIDAE ) DAN BULU BABI ( ECHINOIDEA ) DI PERAIRAN PANTAI DESA SUNGAI BAKAU KECAMATAN KUMAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT” , adalah benar karya saya sendiri dan bukan hasil jiplakan dari karya orang lain dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan.

25 Baca lebih lajut

EFEK PERLAKUAN LOGAM BERAT KADMIUM TERHADAP APOPTOSIS MELALUI AKTIVASI CASPASE-3 BULU BABI Deadema setosum: APLIKASI BIOMONITORING PENCEMARAN DI PERAIRAN LAUT (Effect of Cadmium Heavy Metal Treatment Toward Apoptosis Through Caspase-3 Activation of Sea) |

EFEK PERLAKUAN LOGAM BERAT KADMIUM TERHADAP APOPTOSIS MELALUI AKTIVASI CASPASE-3 BULU BABI Deadema setosum: APLIKASI BIOMONITORING PENCEMARAN DI PERAIRAN LAUT (Effect of Cadmium Heavy Metal Treatment Toward Apoptosis Through Caspase-3 Activation of Sea) |

Kadmium dikenal sebagai logam berat non esensial bagi tubuh, sehingga dengan kadar rendah dapat menyebabkan karsinogenik, teratogenik, dan mutagenik pada berbagai jenis hewan (Pal, 2006). Bulu babi dikenal sebagai biota perairan yang sangat sensitif terhadap polutan logam (Russo dkk., 2003; Soualili dkk., 2008), dan imbasnya banyak penelitian tentang akumulasi logam berat kadmium di lingkungan perairan dan berbagai organ, dan tahapan perkembangan embrio dan dewasa pada berbagai biota perairan telah dilakukan selama beberapa dekade. Deadema setosum dan Paracentrotus lividus telah digunakan sebagai bioindikator untuk mengevaluasi kontaminasi logam berat pada terumbu karang di Indo-Pasific dan Mediterania (Warnau dkk., 1995; Flammang dkk., 1997). Temara dkk. (1998) memberikan gambaran terkait dengan penentuan status tingkat pencemaran dengan indikator berat kering Asterias rubens. Bielmyer dkk. (2005) dalam penelitiannya menggunakan dua tahap perkembangan D. antillarum tahap embrio dan dewasa sebagai bioindikator logam berat dan menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap logam berat Cu pada level kontaminasi yang rendah. Rumahlatu (2011) juga melaporkan bahwa D. setosum merupakan spesies bioindikator pencemaran lingkungan perairan dan dapat digunakan sebagai spesies biomonitoring logam berat kadmium di perairan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB V

Kesimpulan dan Saran A.Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Dari ketiga stasiun pengamatan diketahui bahwa kelimpahan bulu babi Tripneust[r]

1 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Studi keanekaragaman teripang (Holothuridae) dan bulu babi (Echinoidae) di perairan Pantai Desa Sungai Bakau Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat - Digital Library IAIN Palangka Raya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Studi keanekaragaman teripang (Holothuridae) dan bulu babi (Echinoidae) di perairan Pantai Desa Sungai Bakau Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat - Digital Library IAIN Palangka Raya

Bulu babi di Indonesia belum dikenal sebagai bahan makanan yang mengandung nilai gizi yang tinggi, umumnya hanya dinikmati oleh masyarakat di pinggiran pesisir. Namun, jika melihat lebih jauh bulu babi mempunyai nilai komposisi gizi yang lengkap sehingga bulu babi bisa di dimanfaatkan sebagai bahan alternatif pangan. Organ bulu babi yang bisa dimanfaatkan adalah gonad atau telurnya yang mana bagian gonad bulu babi mengandung protein dan mengandung 28 jenis asam amino yang penting untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia, gonad bulu babi juga mengandung vitamin B kompleks, Vitamin A dan Mineral. 6
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

pemanfaatan bulu babi sanur pdf

pemanfaatan bulu babi sanur pdf

Sebagai hewan dengan pergerakan yang sangat terbatas, membuat bulu babi menjadi mudah untuk diburu. Pengambilan bulu babi di alam terus dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya, sehingga rawan untuk terjadi penurunan populasinya. Penurunan stok bulu babi di alam akan semakin cepat jika tingkat eksploitasinya lebih sering dilakukan, karena penambahan individu baru (recruitment) dari populasi tersebut tidak sebanding dengan pengambilan oleh masyarakat. Seperti yang terjadi pada daerah Filipina dan Karibia, populasi bulu babi sempat menurun akibat adanya penangkapan yang berlebihan (Juinio- Menez, Pastor & Bangi 2008, Pena, Oxenford, Christopher, & Johnson, 2010). Oleh karena, itu berbagai informasi perlu dikumpulkan untuk mendasari pola pemanfaatannya agar terus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (Radjab, et al., 2010; Darsono & Sukarno 1993).
Baca lebih lanjut

137 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB II

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Kelimpahan Bulu Babi Tripneustes gratilla di Daerah Padang Lamun, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat T2 422012107 BAB II

Kelimpahan individu suatu spesies dapat diartikan sebagai banyaknya individu tersebut dalam suatu area yang ditempatinya. Dalam suatu ekosistem, kelimpahan bulu babi berhubungan dengan jumlahnya. Bulu babi dikatakan melimpah jika dalam area yang ditempati, jumlahnya individu spesiesnya lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah individu spesies yang lain. Kelimpahan bulu babi ini dipengaruhi oleh kemampuan hewan ini untuk menempati habitatnya yang didukung oleh kondisi lingkungan.

5 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA ANTIBAKTERI DARI BULU BABI

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA ANTIBAKTERI DARI BULU BABI

Hewan-hewan laut tidak terlindungi dari bakteri-bakteri yang toleran terhadap konsentrasi tinggi, jamur, dan virus, yang mungkin saja bersifat patogen terhadap organisme tersebut. Pertahanan dari suatu organisme tergantung dari eisiensi senyawa antimikroba yang dihasilkan untuk dapat melindungi dirinya terhadap infeksi mikroba tersebut (Abubakar et al. 2012). Li et al. (2010) melaporkan bahwa 43% aktivitas antimikroba berasal dari 83 spesies echinodermata yang tidak diidentiikasi yang diperoleh dari pantai barat Baja California dan Teluk California sebesar 58% dari 36 spesies yang tidak diidentiikasi dari Laut Karibia juga menunjukkan aktivitas antimikroba. Bryana et al. (1997) menyatakan bahwa di Teluk Meksiko, 80% dari 22 spesies echinodermata menunjukkan aktivitas antimikroba. Penelitian lainnya yang dilaporkan oleh Haug et al. (2002) menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ditemukan pada bagian tubuh yang berbeda dari green sea urchin dengan menggunakan bakteri uji Vibrio anguillarum serotipe O 2 (FT 1801), Escherichia coli (ATCC 15922) dan Staphylococcus aureus (ATCC 9144) dan Corynebacterium glutamicum (ATCC 13032). Hasil ini menunjukkan bahwa ilum echinodermata salah satunya bulu babi memiliki potensi sebagai antimikroba alami (Uma dan Parvathavarthini 2010).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 2117 documents...