candida albicans

Top PDF candida albicans:

Pengaruh Pemakaian Bahan Pembersih Enzim Dan Energi Microwave Terhadap Jumlah Candida Albicans Pada Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

Pengaruh Pemakaian Bahan Pembersih Enzim Dan Energi Microwave Terhadap Jumlah Candida Albicans Pada Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

Polident juga efektif dalam membunuh Candida albicans disebabkan karena komposisi dari Polident mengandung bahan-bahan kimia yang berperan aktif dalam menghilangkan musin, deposit berat kalkulus pada gigitiruan, menyebabkan penurunan jumlah plak gigitiruan dan mengurangi pembentukan plak baru serta memberikan aksi antibakteri dan antijamur sehingga memiliki efek antimikroba yang lebih kuat. 14,29,33 Hal ini tidak dimiliki oleh energi microwave karena mekanisme kerja microwave pada umumnya hanya terbatas pada efek termal yang dapat membunuh mikroorganisme seperti Candida albicans dan karena metode desinfeksi microwave yang digunakan, dimana sampel direndam dalam air saat dilakukan pemaparan dengan energi microwave menyebabkan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan microwave tidak secara langsung membunuh Candida albicans tetapi gelombang elektromagnetik tersebut berinteraksi terlebih dahulu dengan medium air sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membunuh Candida albicans dibandingkan dengan bahan pembersih enzim. 34 Hal ini disebabkan karena pemanasan selektif oleh energi microwave tergantung pada komposisi kemis sel mikroba dan volume serta komposisi cairan medium disekitarnya. Efektivitas desinfeksi dengan energi microwave juga dipengaruhi oleh lamanya waktu desinfeksi, intensitas pemakaian microwave, tipe mikroorganisme yang berkolonisasi pada gigitiruan, dan besar daya microwave yang digunakan. 7,27,35
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Pada umumnya, penyakit ini sering ditemukan pada orang yang berusia lanjut dimana sistem imun mengalami penurunan, serta pada pemakai gigi tiruan yang tidak dilepas dan dibersihkan. 13-16 Oral candidiasis yang berhubungan dengan pemakaian gigi tiruan disebut chronic atrophic candidiasis atau yang lebih dikenal dengan Denture Stomatitis (DS). 13,16,18,19 Insidensi terjadinya DS yaitu 65-70% dari pemakai gigi tiruan. 13,18 Penelitian Bhat dkk (2013) di India mengemukakan dari 55 orang pemakai gigi tiruan penuh, 27 orang (50%) diantaranya menderita DS. Dari 27 orang penderita tersebut, 13 orang (48%) diantaranya positif Candida albicans . 19 Penelitian Monroy dkk (2005) di Meksiko mengemukakan dari 50 orang penderita DS, pada membran mukosa penderita ditemukan Candida albicans 51,4%, Staphylococcus aureus 52,4%, dan Streptococcus mutans 67,6%, sedangkan pada gigi tiruan penderita ditemukan Candida albicans 66,7%, serta Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans masing-masing 49,5%. 20
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

10. Penelitian Rahmawati, Al-Anwary, dan Sasongkowati pada tahun 2012 di Surabaya, Indonesia menunjukkan ada pengaruh pemberian infusa jintan hitam terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dengan nilai KHM adalah 20% dan KBM adalah 40%. (Rahmawati A, Al-Anwary N, Sasongkowati R, 2012)

17 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

20. Baena-Monroy T, Moreno-Maldonado V, Franco-Martinez F, Aldape-Barrios B, Quindos G, Sanchez-Vargas LO. Candida albicans, Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans colonization in patients wearing dental prosthesis. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2005; 10: E27-8.

4 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Tahap pertama dalam proses infeksi Candida albicans ke tubuh hewan atau manusia adalah tahap adhesi atau perlekatan. 28,33 Kemampuan Candida albicans melekat pada sel pejamu merupakan tahap penting dalam pembentukan koloni dan penyerangan atau invasi ke sel pejamu. Dinding sel merupakan bagian sel dari Candida albicans yang pertama berinteraksi dengan sel pejamu. 33 Interaksi antara mikroorganisme dan sel pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel mikroorganisme, adhesin dan reseptor. Manan dan manoprotein merupakan molekul- molekul Candida albicans yang mempunyai aktifitas adhesif. Kitin, komponen kecil yang terdapat dalam dinding sel juga berperan dalam aktifitas adhesif. 28
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Anti Candida albicans activity and brine

Anti Candida albicans activity and brine

The time-killing profile of Candida albicans with 0.5 MIC, MIC and 2 MIC concentrations over time was plotted to assess the fungicidal ef- fect. The latex B-serum was added to an aliquot of 25 ml of potato dextrose broth (PDB; Difco, Detroit, MI, USA) at 37ºC in an amount which would achieve the concentration of 0 mg/ml (control) and the above mentioned MIC concen- trations after the addition of the inoculums. Lat- er, a solution of 1 ml inoculums was added to all MIC concentrations. Immediately after the addi- tion of the inoculums, 100 µl of culture from each was inoculated onto a potato dextrose agar
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Jintan hitam mempunyai efek fungistatis dan fungisidal. Hal ini disebabkan adanya senyawa berupa timokuinon, timol, dan karvakrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa konsentrasi Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak jintan hitam terhadap Candida albicans denture stomatitis dan Candida albicans (ATCC ® 10231 ™ ), serta untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efek ekstrak jintan hitam terhadap kedua jenis fungi tersebut. Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan post-test control group design . Sampel yang digunakan biakan Candida albicans yang diisolasi dari denture stomatitis dan Candida albicans (ATCC ® 10231 ™ ), jumlah sampel masing-masing satu biakan fungi. Pengujian efek ekstrak jintan hitam terhadap Candida albicans dilakukan dengan metode dilusi untuk mendapatkan berbagai konsentrasi ekstrak, kemudian ditambahkan suspensi fungi setiap konsentrasi, dan dilakukan pengamatan dan pengulangan tiga kali. Hasil penelitian rata-rata nilai KHM dan KBM ekstrak jintan hitam terhadap Candida albicans denture stomatitis masing-masing 50,00 ± 0,00 %, sedangkan KHM dan KBM terhadap Candida albicans (ATCC ® 10231 ™ ) masing-masing 4,17 ± 1,80 % dan 9,38 ± 5,41 %. Hasil uji T tidak berpasangan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara nilai KHM dan KBM dari ekstrak jintan hitam terhadap kedua jenis fungi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan ekstrak jintan hitam lebih efektif terhadap Candida albicans (ATCC ® 10231 ™ ) bila dibandingkan dengan Candida albicans denture stomatitis .
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Penderita DS merupakan pengunjung Instalasi Penyakit Mulut FKG USU, dan dibawa ke Departemen Biologi Oral FKG USU untuk dilakukan pengambilan data dengan menggunakan lembar kuesioner. Penderita yang berhasil diambil datanya berjumlah empat orang. Dari lembar kuesioner, diperoleh data penderita berupa usia kronologis penderita pada penelitian ini adalah 55-70 tahun dengan jenis kelamin perempuan, lama pemakaian gigi tiruan 5-10 tahun, frekuensi membuka gigi tiruan 1- 2 kali sehari, dan tipe DS yang diderita yaitu Newton’s type I dan Newton’s type II . Penderita yang memenuhi kriteria dilakukan isolasi pada daerah yang terkena DS. Hasil isolasi tersebut kemudian dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi FK USU untuk identifikasi fungi Candida albicans .
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Aktivitas Anti-Candida Yoghurt Kedelai Terhadap Candida albicans in vitro.

Aktivitas Anti-Candida Yoghurt Kedelai Terhadap Candida albicans in vitro.

Result It is found that the number of Candida albicans colonies in the tube containing soy milk, 5%, 10%, and 15% soy yoghurt are >10 5 CFU/ml. Nevertheless, the density of colonies in 5%, 10 %, and 15% soy yoghurt is lower in compare to the density colonies in soy milk. Whereas, the colonies size in the tubes containing soy yoghurt is smaller than in the tubes containing soy milk.

20 Baca lebih lajut

Aktivitas Antifungi Air Perasan Lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Candida albicans Secara in Vitro.

Aktivitas Antifungi Air Perasan Lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Candida albicans Secara in Vitro.

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik sungguhan. Metode yang digunakan adalah disc diffusion dengan meletakkan cakram berisi bahan uji yaitu air perasan umbi, daun dan kombinasi umbi dan daun lobak (Raphanus sativus L.) dalam berbagai konsentrasi pada medium Sabouraud Dextrose Agar yang diinokulasikan jamur Candida albicans. Hasil yang menjadi tolak ukur dari penelitian ini adalah ukuran zona inhibisi yang terbentuk pada Sabouraud Dextrose Agar.

19 Baca lebih lajut

PEMERIKSAAN Candida albicans DALAM URINE PADA WANITA LANSIA

PEMERIKSAAN Candida albicans DALAM URINE PADA WANITA LANSIA

KARYA TULIS ILMIAH PEMERIKSAAN Candida albicans DALAM URINE PADA WANITA LANSIA Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Analis Kesehatan Pada Program Studi D3 Analis Kesehatan Fakultas I[r]

17 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Sebelumnya - Uji daya antimikroba dalam ekstrak daun ceremai (phyllanthus acidus l) terhadap pertumbuhan candida albicans - Digital Library IAIN Palangka Raya

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Sebelumnya - Uji daya antimikroba dalam ekstrak daun ceremai (phyllanthus acidus l) terhadap pertumbuhan candida albicans - Digital Library IAIN Palangka Raya

Ciri-ciri mikroskopis Candida albicans adalah berbentuk bulat telur, berkelompok, satu-satu atau berderet. Candida albicans dapat membentuk pseudomiselia, yaitu sel yang memanjang dan membentuk blastospora, yaitu spora bulat pada bagian ujung sel. Candida albicans membentuk klamidospora, yaitu sel yang membesar dan berdinding tebal. Jika dibiakkan pada serum manusia atau hewan dan diinkubasikan pada suhu kamar selama 3-5 jam, Candida albicans akan membentuk germ tube, yaitu tunas menonjol panjang yang keluar dari sel. 19
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH EKSTRAK ETANOL TANAMAN SARANG SEMUT Pengaruh Ekstrak Etanol Tanaman Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Candida Albicans (In Vitro).

PENGARUH EKSTRAK ETANOL TANAMAN SARANG SEMUT Pengaruh Ekstrak Etanol Tanaman Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Candida Albicans (In Vitro).

Candida merupakan mikroorganisme penyebab penyakit candidiasis oral. Penyebab utamanya adalah candida albicans. Obat untuk menyembuhkan candidiasis oral adalah nistatin. Namun saat ini masyarakat banyak menggunakan tanaman herbal untuk terapi kesehatan. Salah satunya menggunakan tanaman sarang semut (Myrmecodia tuberosa) untuk terapi candidiasis oral. Tanaman ini mengandung flavonoid, tanin dan polifenol berfungsi sebagai agen antifungi. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh ekstrak etanol tanaman sarang semut (Myrmecodia tuberosa) dalam menghambat pertumbuhan candida albicans dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak sarang semut (Myrmecodia tuberosa) yang mempunya efek setara (pengaruh yang tidak signifikan) terhadap nistatin dalam menghambat pertumbuhan candida albicans. Metode penelitian ini dengan cara mengukur diameter zona hambat pertumbuhan candida albicans pada cawan petri. Cawan petri diberi sumuran untuk ditetesi aquades sebagai kontrol negatif, nistatin sebagai kontrol positif dan ekstrak etanol tanaman sarang semut konsentrasi 10%, 20%, 40%, 80%. Pengukuran dilakukan dengan slinding caliper digital setelah candida albicans di inkubasi selama 24 jam pada cawan petri. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona hambat terbesar ke terkecil adalah pemberian nistatin,, pemberian ekstrak etanol tanaman sarang semut (Myrmecodia tuberosa) konsentrasi 80%, 40%, 20%, 10%. Konsentrasi terbesar dalam menghambat pertumbuhan candida albicans adalah konsentrasi 80% dan tidak ada konsentrasi ekstrak etanol tanaman sarang semut (Myrmecodia tuberosa) yang mempunyai efek setara dengan Nistatin.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Perendaman Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Dalam Ekstrak Kayu Manis Terhadap Jumlah Candida albicans

Pengaruh Perendaman Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Dalam Ekstrak Kayu Manis Terhadap Jumlah Candida albicans

melakukan penelitian tentang potensi antijamur ekstrak kayu manis terhadap Candida albicans secara in vitro. Peneliti membandingkan keefektifitasan konsentrasi ekstrak kayu manis dari 10-100% dengan fulcunazole sebagai kontrol positif dalam mempengaruhi pertumbuhan Candida albicans. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa dengan konsentrasi ekstrak kayu manis 10% sudah dapat membentuk zona hambat sebesar 7,17mm dan zona hambat terus meningkat sampai percobaan pada konsentrasi ekstrak kayu manis 100% yaitu sebesar 21,5mm. Meskipun konsentrasi ekstrak kayu manis 10-100% efektif dalam menghambat Candida albicans, namun keefektifitasannya masih dibawah bila dibandingkan dengan fulcunazole yang membentuk zona hambat sebesar 27,67mm. 21 Christian, dkk (2013) melakukan perendaman basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak kayu manis 20%, 30%, 40%, dan 50% selama 8 jam. Hasilnya rerata jumlah blastopora Candida albicans pada konsentrasi 20% yaitu 385,76x10 2 CFU/ml, pada konsentrasi 30% yaitu 259,73x10 2 CFU/ml, pada konsentrasi 40% yaitu 77,4x10 2 CFU/ml, dan pada konsentrasi 50% yaitu 13,5x10 2 CFU/ml. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak kayu manis 50% dapat digunakan sebagai bahan alternatif pembersih gigitiruan. 14
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN FILTRAT CABE RAWIT (Capsicum frutescens L) DALAM BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP ZONA HAMBAT JAMUR PENYEBAB SARIAWAN (Candida albicans) SECARA IN-VITRO

PENGARUH PEMBERIAN FILTRAT CABE RAWIT (Capsicum frutescens L) DALAM BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP ZONA HAMBAT JAMUR PENYEBAB SARIAWAN (Candida albicans) SECARA IN-VITRO

dipweroleh of Poli Husk Hospital of dr. Soetomo Surabaya, this research sampel is mushroom of Candida albicans which is insulation of patient of sprue which is disuspensikan and compared to Condensation of Mc Farland 0,5. This research consist of 8 treatment that is concentration 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% and 100%, and use positive control of Nystatin as comparator among treatment. Execution done/conducted by in Inwrought Laboratory is Doctor University of Muhammadiyah Unlucky on 15 August - 31 August 2007.

1 Baca lebih lajut

Perbandingan Efektivitas Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata K Schum) dan Lengkuas Putih (Alpinia Galanga) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Secara In Vitro

Perbandingan Efektivitas Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata K Schum) dan Lengkuas Putih (Alpinia Galanga) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Secara In Vitro

membuktikan bahwa tanaman-tanaman tersebut dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. 4 Jika pada penelitian lain telah dilakukan uji efektivitas ekstrak lengkuas terhadap Candida albicans, pada penelitian ini akan dilakukan analisis perbedaan pengaruh pemberian ekstrak lengkuas merah dan ekstrak lengkuas putih terhadap Candida albicans yaitu dengan pemberiankonsentrasi bertahap sampai diketahui kadar konsentrasi yang dapat mempengaruhi dan menghambat pertumbuhan Candida albicans. Maka dari itu penulis berkeinginan melakukan penelitian yang berjudul Perbandingan efektivitas ekstrak Lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) dan lengkuas putih(Alpinia galanga L.) terhadap Pertumbuhan Jamur Candida albicans secara in vitro.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans DAN DAYA BUNUH Candida albicans EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum l.) GROWTH INHIBITION OF Candida albicans AND POWER KILL Candida albicans EXTRACT BASIL LEAVE Antonius Komang De Ornay, Herlambang Prehananto, Am

DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans DAN DAYA BUNUH Candida albicans EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum l.) GROWTH INHIBITION OF Candida albicans AND POWER KILL Candida albicans EXTRACT BASIL LEAVE Antonius Komang De Ornay, Herlambang Prehananto, Am

Latar Belakang: Candida albicans merupakan mikroorganisme dalam rongga mulut yang akan bersifat patogen ketika jumlahnya berlebih di dalam tubuh. Salah satu tanaman tradisional yang bersifat antifungi yaitu daun kemangi (Ocimum sanctum L.). Daun kemangi memiliki kandungan yaitu flavonoid (0,08%), minyak atsiri (1,76%), alkaloid (4,05%), tanin (2,17%) dan eugenol (0,31%) yang mampu menghambat pertumbuhan serta membunuh Candida albicans. Tujuan: Mengetahui efektivitas ekstrak daun kemangi ( Ocimum sanctum L.) dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh Candida albicans. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian post only grup design dengan 5 perlakuan ekstrak 1 kontrol negatif dan 1 kontrol positif. Daun kemangi dimaserasi dengan etanol 96% kemudian dibuat 5 konsentrasi yaitu 100%; 50%; 25%; 12,5%; dan 6,25%. Suspensi Candida albicans yang telah diinkubasi dengan campuran ekstrak selama 18-24 jam kemudian ditanam pada media SDA. Jumlah koloni yang tumbuh dihitung dengan colony counter. Data dianalisis dengan One Way Anova dan dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD). Hasil: Ekstrak daun kemangi dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans pada konsentrasi 12,5% dan dapat membunuh Candida albicans pada konsentrasi 25%. Simpulan dan saran: Ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum L.) dapat menghambat pertumbuhan dan dapat membunuh Candida albicans . Penelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan untuk mengetahui uji toksisitas ekstrak daun kemangi. Sejarah Artikel :
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Efektivitas Kecap Kedelai Dalam Menghambat Pertumbuhan Candida albicans

Efektivitas Kecap Kedelai Dalam Menghambat Pertumbuhan Candida albicans

Candida albicans is a dimorphic fungus that is normally present in the digestive tract, upper respiratory tract, and genital mucosa. Candida albicans is the most pathogenic species from the other Candida species, and an opportunistic fungus that causes thrush. The rural communities that far from the drug store, clinic, or other health facilities, soy sauce used as an alternative medicine for thrush, because it is easy to find, always available especially at home, smells and tastes good, and do not give pain when used. Soy sauce is an extract from fermented soybeans mixed with other ingredients such as 40% palm sugar (sucrose) 18% - 20% salt, and some other spices to enhance the flavor. The aim of this research is to determine the effectiveness of soy sauce in inhibiting the growth of C. albicans. This experimental study using a concentrations of 100%, 75%, 50% soy sauce, and the contact time of 5, 10, 15 minutes as the variables to see the growth of C. albicans using pour method. This study showed that adding 100% soy sauce of different mark with 5, 10, and 15 minutes contact time gave the colonies growth of 217, 237, and 297 respectively. In addition, the adding of 75% soy sauce growth 125, 158, and 185 colonies. Fifty percent soy sauce growth 110, 130, and 156 colonies. The study indicate that soy sauce is not able to inhibit the growth of C. albicans.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH DEKOK KUNYIT (Curcuma longa Linn.) TERHADAP ZONA HAMBAT Candida albicans SECARA IN VITRO

PENGARUH DEKOK KUNYIT (Curcuma longa Linn.) TERHADAP ZONA HAMBAT Candida albicans SECARA IN VITRO

bermanfaat sebagai obat untuk keputihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh berbagai konsentrasi dekok kunyit (Curcuma longa Linn.) terhadap zona hambat Candida albicans secara in vitro dan untuk mengetahui pada konsentrasi berapa dekok kunyit ( Curcuma longa Linn ) mempunyai zona hambat terbesar pada jamur Candida albicans secara in vitro.

1 Baca lebih lajut

Hubungan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus yang Mengalami Kandidiasis dengan Perubahan Jumlah Koloni Candida albicans Rongga Mulut

Hubungan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus yang Mengalami Kandidiasis dengan Perubahan Jumlah Koloni Candida albicans Rongga Mulut

23. Leepel LA, Hidayat R, Puspitawati R, Bachtiar BM. Efek Penambahan Glukosa pada Saburoud Dextrose Broth Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans (Uji IN VITRO). Indonesian Journal of Dentistry 2009;16(1): 58-63. 24. Hamrun N, Mahardhika A. Jumlah koloni Candida albicans pada pemakai

4 Baca lebih lajut

Show all 736 documents...