Cekaman Suhu Rendah

Top PDF Cekaman Suhu Rendah:

PENGARUH CEKAMAN SUHU RENDAH TERHADAP TANAMAN

PENGARUH CEKAMAN SUHU RENDAH TERHADAP TANAMAN

Pengaruh cekaman suhu rendah terhadap pembentukan gametofit betina Suhu rendah mengurangi fusi carpel pada tomat (Lazano et al. 1998). Pada buncis, viabilitas bakal biji terganggu oleh suhu rendah yang ekstrim (15/0°C, siang/malam), memperlambat pematangan bakal biji, penurunan ukuran bakal biji sebesar 10-28% dan meningkatkan aborsi embrio (Srinivasan et al. 1999). Pada padi, masa anthesis awal (<3 hari) relatif toleran dingin, tapi setelah 5 hari menyebabkan pengurangan kesuburan gabah secara drastis (Pereira da Cruz et al, 2006). Hal ini menurut Jiang et al. (2002) mungkin sebagai akibat dari kemandulan bunga. Srinivasan et al. (1999) mengemukakan stres dingin pada buncis mengurangi ukuran ovarium dan style, meningkatkan jarak antara antera dan stigma, mengurangi anther dehiscence dan menyebabkan bertumpuknya serbuk sari pada stigma. Akibatnya, transfer serbuk sari ke stigma berkurang, sehingga membatasi kesuburan. Cekaman suhu rendah pada padi meningkatkan sterilitas akibat terganggunya perkembangan kotak sari dan serbuk sari selain itu juga terjadi kegagalan proses penyerbukkan (Limbongan et al., 2009)
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pembentukan Varietas Padi Sawah Dataran Tinggi Toleran Cekaman Suhu Rendah

Pembentukan Varietas Padi Sawah Dataran Tinggi Toleran Cekaman Suhu Rendah

Cekaman suhu rendah menjadi masalah utama bagi pertumbuhan tanaman padi di dataran tinggi. Genotipe dari subspesies japonica memiliki tingkat toleransi suhu rendah lebih baik dibandingkan dengan genotipe dari subspesies indica. Padi yang banyak ditanam di Indonesia adalah genotipe subspecies indica. Toleransi tanaman padi terhadap suhu rendah merupakan karakter yang penting, yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pemuliaan tanaman pada dataran tinggi. Varietas lokal yang toleran suhu rendah diantaranya Sarinah, Pulu’ Mandoti, Pinjan dan Lambau. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah melepas beberapa varietas unggul yang sesuai untuk ekosistem dataran tinggi (>700 m dpl), yaitu Batang Piaman, Inpari 26, Inpari 27 dan Inpari 28 Kerinci. Pemuliaan padi sawah untuk memperoleh genotipe toleran suhu rendah dianjurkan untuk lebih diintensifkan dengan cara memanfaatkan varietas lokal, varietas introduksi, pembuatan persilangan dan pemanfaatan bioteknologi agar meningkatkan peluang diperolehnya varietas toleran suhu rendah. Dalam pembentukan varietas unggul padi sawah dataran tinggi disarankan pada karakter vigor bibit baik, tinggi tanaman sedang, eksersi malai sempurna, pembungaan seragam, dan fertilitas malai tinggi. Varietas padi yang toleran cekaman suhu rendah dan berdaya hasil tinggi akan menguntungkan petani. Penelitian dasar tentang proses fisiologi toleran suhu rendah telah banyak dilakukan dan dapat dimanfaatkan dalam penyusunan program pemuliaan padi toleran suhu rendah lebih lanjut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pewarisan Sifat Toleransi Padi Sawah (Oryza sativa L) Terhadap Cekaman Suhu Rendah Inheritance of Low Temperature Stress Tolerance in Lowland Rice (Oryza sativa L)

Pewarisan Sifat Toleransi Padi Sawah (Oryza sativa L) Terhadap Cekaman Suhu Rendah Inheritance of Low Temperature Stress Tolerance in Lowland Rice (Oryza sativa L)

Pembentukan atau perbaikan varietas padi sawah yang beradaptasi pada daerah dataran tinggi yang memiliki cekaman suhu rendah dapat dilakukan dengan merakit keragaman genetik karakter toleransi terhadap cekaman suhu rendah di dalam populasi genotipe yang akan diperbaiki atau dibentuk. IRRI (1986) melaporkan bahwa sekitar 7 juta hektare padi sawah ditanam di dataran tinggi dengan cekaman suhu rendah di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pewarisan sifat toleransi terhadap cekaman suhu rendah telah banyak dilaporkan pada tanaman padi (Sakai, 1946; Sawada, 1978; Nishiyama, 1992; Pereira et al., 1997) namun hasilnya tidak konsisten.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perkembangan Mikrospora dan Induksi Pembelahan Sporofitik pada Kultur Antera Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

Perkembangan Mikrospora dan Induksi Pembelahan Sporofitik pada Kultur Antera Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

mikrospora hidup pada 7 HSK dengan perlakuan cekaman suhu tinggi lebih rendah daripada kontrol. Sedangkan penurunan persentase mikrospora hidup pada 14 sampai dengan 28 HSK terutama disebabkan oleh efek keracunan sukrosa karena kultur pada hari ke-8 dipindahkan pada media dengan sumber karbon sukrosa. Cekaman suhu tinggi (32-33ºC) untuk kultur antera atau mikrospora pada beberapa spesies seperti Brassica napus (Ferrie 2003) dan Nicotiana tabacum (Touraev & Heberle-Bors 2003), dapat membelokkan jalur gametofitik ke sporofitik. Menurut Maraschin et al. (2005) senyawa yang berperan dalam pembelokkan jalur gametofitik ke sporofitik adalah heat shock protein yang terinduksi oleh adanya suhu tinggi. Pada penelitian ini perlakuan cekaman dengan suhu tinggi yang dikombinasikan dengan sumber karbon sukrosa, maltosa dan manitol tidak dapat menginduksi pembelahan sporofitik yang merupakan langkah awal induksi androgenesis kelapa sawit. Perlakuan cekaman suhu rendah (4-9ºC) yang dikombinasikan dengan sumber karbon maltosa seperti pada penelitian cabai (Supena et al. 2006) ataupun praperlakuan suhu dingin (4ºC) pada kuncup bunga seperti pada Barley (Kruczkowska et al. 2002) kemungkinan dapat dijadikan alternatif dalam induksi androgenesis kelapa sawit.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Respon Padi Terhadap Suhu Rendah Fisiolo

Respon Padi Terhadap Suhu Rendah Fisiolo

Padi masih menjadi primadona pangan utama bagi masyarakat Indonesia, walaupun upaya diversifikasi pangan sudah mulai dilakukan di sejumlah daerah. Masalah perluasan konversi lahan sentra produksi padi menjadi sektor non pertanian menggeser pusat lumbung padi ke daerah suboptimal. Saat ini program pemuliaan padi mulai melirik lahan dataran tinggi disamping tipe lahan marjinal lainnya untuk pengembangan padi selanjutnya. Tantangan yang timbul kemudian adalah mencari genotipe padi unggul toleran suhu rendah disamping ketahanannya terhadap penyakit blast. Selama ini seleksi untuk karakter suhu rendah difokuskan pada fase pembungaan. Sebab, tahap pembentukan malai padi adalah fase kritis terhadap cekaman suhu rendah. Namun demikian, terobosan untuk melakukan seleksi pada tahap pertumbuhan yang lebih awal, seperti tahap benih, penting dilakukan. Melakukan seleksi pada tahap ini akan mengurangi luas lahan yang diperlukan untuk seleksi tanaman padi, dibandingkan bila hanya melakukan seleksi setelah tanaman berbunga. Hanya tanaman yang dapat berkecambah dan tumbuh baik pada kondisi suhu rendah yang kemudian diseleksi untuk mengetahui umur berbunga dan produktivitasnya. Terkait seleksi untuk tahap benih, alat thermogradientbar dapat dijadikan pilihan. Alat ini memiliki rentang suhu yang lebar, yakni 2 o – 45 o C, dengan
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Respon Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) terhadap Cekaman Suhu Tinggi

Respon Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) terhadap Cekaman Suhu Tinggi

Karakterisasi fisiologis tanaman yang mengalami kekeringan, cekaman suhu tinggi atau kombinasi dari kekeringan dan suhu tinggi mengungkapkan bahwa kombinasi cekaman memiliki beberapa aspek unik, menggabungkan respirasi tinggi dengan fotosintesis rendah, menutupnya stomata dan suhu daun yang tinggi (Rizhsky et al. 2002; Mittler 2006). Penguraian pati yang dilakukan bersama dengan produksi energi dalam mitokondria menjadi peran kunci bagi tanaman dalam metabolisme tanaman untuk mengatasi cekaman selama kombinasi kekeringan dan suhuh tinggi. Pengaruh suhu tinggi pada karakter fisiologi gandum dapat dilihat pada menurunnya berat kering daun per tanaman secara signifikan yang disebabkan oleh tingginya suhu tajuk atau akar tanaman (38 ºC). Selain itu, hal ini juga dapat meningkatkan kandungan klorofil, dan mengurangi luas daun per tanaman (Tahir et al. 2009).
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Studi Perilaku Ayam Broiler Berbasis Liputan Visual dalam Kandang Tertutup

Studi Perilaku Ayam Broiler Berbasis Liputan Visual dalam Kandang Tertutup

Pada grafik tersebut, terlihat adanya hubungan positif antara intensitas cahaya yang diberikan, terhadap perilaku lokomosi yang terjadi. Kecenderungan menurun terlihat pada grafik pengaruh intensitas cahaya terhadap lokomosi pada kondisi S2K2, yaitu saat suhu tinggi dan kebisingan tinggi. Pada kondisi tersebut, terjadi penurunan aktivitas lokomosi seiring dengan peningkatan intensitas cahaya. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya suhu yang menyebabkan persentase lokomosi menurun., seperti yang telah dijabarkan pada grafik sebelumnya. Cahaya merangsang pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol tingkah laku dan mengatur ritme harian (Olanrewaju et al., 2006). Menurut Renden et al(1996), intensitas cahaya yang lebih rendah akan menurunkan aktivitas lokomosi dan berdiri ayam. Sebaliknya, intensitas cahaya yang tinggi, akan mengurangi aktivitas istirahat pada ayam. Sifat ini dimanfaatkan peternak untuk mengantisipasi adanya kemungkinan terjadinya kanibalisme akibat agresivitas ayam yang tinggi karena pengaruh tingginya intensitas cahaya dengan cara mengatur agar intensitas cahaya yang diberikan tidak lebih dari 5 lux.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

UJIAN NASIONAL FISIKA SMA TO2IPA1

UJIAN NASIONAL FISIKA SMA TO2IPA1

Pada grafik P-V mesin Carnot berikut diketahui reservoir suhu tinggi 600 K dan suhu rendah 400 K, Jika usaha yang dilakukan mesin adalah W, maka kalor yang dikeluarkan pada suhu rendah a[r]

8 Baca lebih lajut

05. Materi Thermodinamika 13 www uny ac id

05. Materi Thermodinamika 13 www uny ac id

- Kalor dapat mengalir dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah, dapatkah kalor mengalir dari suhu rendah ke suhu tinggi  HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA BELUM DA[r]

283 Baca lebih lajut

Respon Fisiologi Dan Morfologi Tanaman Terung (Solanum Melongena) Terhadap Cekaman Suhu Tinggi

Respon Fisiologi Dan Morfologi Tanaman Terung (Solanum Melongena) Terhadap Cekaman Suhu Tinggi

Indeks kepekaan terhadap cekaman suhu tinggi banyak digunakan dalam menentukan genotipe yang mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan tercekam suhu tinggi. Pendekatan yang sama telah digunakan oleh peneliti lain untuk mengidentifikasi toleransi terhadap cekaman suhu tinggi pada tanaman kentang (Handayani et al. 2013b) dan gandum (Altuhaish 2014). Berdasarkan uji korelasi antar peubah menunjukkan laju fotosintesis dan jumlah buah per tanaman berkorelasi dengan semua peubah yang lain. Selain itu, peubah viabilitas polen berkorelasi dengan 11 peubah dari 16 peubah yang diamati (Lampiran 5). Oleh karena itu ketiga peubah digunakan untuk menentukan nilai HSI. Berdasarkan nilai HSI dari laju fotosintesis, viabilitas polen dan jumlah buah per tanaman mengelompokkan genotipe 080 dan 081 sebagai genotipe moderat toleran dengan nilai HSI yang lebih rendah dibandingkan dengan 4 genotipe yang lain (Tabel 12). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa 2 genotipe tersebut mampu beradaptasi lebih baik pada kondisi tercekam suhu tinggi dibandingkan dengan 4 genotipe lain.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Respon Morfologi, Fisiologi Dan Komponen Hasil Beberapa Varietas Padi Terhadap Cekaman Suhu Tinggi

Respon Morfologi, Fisiologi Dan Komponen Hasil Beberapa Varietas Padi Terhadap Cekaman Suhu Tinggi

Pengukuran suhu udara dan suhu tanah dilakukan dengan menggunakan alat thermo recorder (TR-71U, TandD, Japan). Alat ini merekam suhu setiap 30 menit. Suhu rata-rata harian diperoleh dari rata-rata suhu udara dan suhu tanah pada pukul 00:00 sampai dengan 23:30 selama periode perlakuan. Suhu maksimum diperoleh dari suhu rata-rata harian tertinggi dan suhu minimum diperoleh dari suhu rata-rata harian terendah selama periode perlakuan. Tanaman mendapat perlakuan suhu tinggi pada umur 56 sampai dengan 130 HSS (hari setelah semai). Benih padi disemai pada tray persemaian selama 14 hari. Polibag yang digunakan berukuran 35 cm x 40 cm dengan volume media tanam 7 l/polibag. Tanah untuk media tanam merupakan tanah top soil yang sudah dihaluskan kemudian ditambahkan dengan pupuk kandang dengan perbandingan 5:1. Polibag yang sudah berisi media tanam digenangi oleh air selama 4 hari supaya terbentuk lumpur. Penanaman padi dilakukan dengan menanamkan satu bibit padi ke dalam polibag. Setiap unit percobaan terdiri atas 6 tanaman yang disusun di dalam bak tanam berukuran 2.0 m x 1.8 m x 0.3 m. Padi ditanam dengan sistem sawah yaitu menjaga permukaan air sampai 2 cm di atas media tanam.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Mekanisme adaptasi kedelai (Glycine max (L) Merrill) terhadap cekaman intensitas cahaya rendah

Mekanisme adaptasi kedelai (Glycine max (L) Merrill) terhadap cekaman intensitas cahaya rendah

Perubahan karakter struktur daun, terutama pada peningkatan kandungan klorofil daun baik pada genotipe toleran maupun peka mengarah kepada mekanisme penghindaran. Perubahan karakter daun sebagai respon terhadap cekaman intensitas cahaya rendah tidak berbeda nyata antar kelompok ketahanan kecuali ketebalan daun. Ketebalan daun pada kelompok toleran mengalami penurunan lebih besar secara nyata dibanding kelompok peka. Variabel ini bisa menjadi penciri bagi ketahanan terhadap intensitas cahaya rendah. Dengan berdasarkan variabel ketebalan daun maka kelompok toleran memiliki perubahan karakter daun yang lebih besar dalam rangka mekanisme penghindaran lebih baik terhadap defisit cahaya. Perbedaan nyata banyak terjadi bila perbandingan dilakukan antara Ceneng (toleran) dan Godek (peka). Karena itu Ceneng dan Godek bisa digunakan untuk studi mekanisme adaptasi terhadap intensitas cahaya rendah. Ceneng juga bisa digunakan sebagai sumber gen toleran naungan.
Baca lebih lanjut

311 Baca lebih lajut

Mekanisme adaptasi kedelai (Glycine max (L) Merrill) terhadap cekaman intensitas cahaya rendah

Mekanisme adaptasi kedelai (Glycine max (L) Merrill) terhadap cekaman intensitas cahaya rendah

Kedelai ( Glycine max (L) Merrill) adalah salah satu tanaman sumber pangan penting di Indonesia. Beberapa makanan populer di Indonesia seperti tahu, tempe, tauco, dan kecap menggunakan biji kedelai sebagai bahan bakunya. Kandungan protein kedelai cukup tinggi, yaitu 40 persen, sedangkan beras hanya 9 persen. Keunggulan lainnya bisa dilihat pada kandungan asam amino esensialnya. Jumlah asam amino lisin yang rendah pada beras ternyata sangat tinggi pada kedelai. Kandungan lisin pada beras 253 mg/100 g, sedangkan pada kedelai 2300 mg/100 g (Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, 1995). Karena itu kedelai diharapkan dapat memperbaiki level gizi sebagian besar penduduk Indonesia dan beberapa negara Asia (Chomchalow dan Laosuwan, 1993). Penduduk miskin yng sulit memperoleh protein hewani bisa memenuhi kebutuhan gizi dari protein nabati kedelai.
Baca lebih lanjut

154 Baca lebih lajut

PERANAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN VITAMIN C DAN VITAMIN E DALAM MEMPERBAIKI RESPON FISIOLOGIS AYAM BROILER YANG MENGALAMI STRES PANAS.

PERANAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN VITAMIN C DAN VITAMIN E DALAM MEMPERBAIKI RESPON FISIOLOGIS AYAM BROILER YANG MENGALAMI STRES PANAS.

faktor sebagai penyebab terjadinya cekaman panas (Yunianto et al ., 1997) sehingga menyebabkan problem yang serius bagi perkembangan dan pertumbuhan ayam, terhadap konsumsi pakan dan percepatan pertumbuhan akibat adanya gangguan metabolisme dalam tubuh. Penelitian Harlova et al . (2002) menunjukkan bahwa cekaman panas pada ayam broiler (suhu siang hari 35 - 40 °C dan malam hari 28 - 30 °C), nyata menurunkan jumlah eritrosit, leukosit, konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit darah ayam broiler umur 1 minggu.

7 Baca lebih lajut

Perbandingan Status Hematologis Ayam Kedu Pasca Tetas Pada Ketinggian Tempat Berbeda - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Perbandingan Status Hematologis Ayam Kedu Pasca Tetas Pada Ketinggian Tempat Berbeda - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Ayam kedu fase starter merupakan periode ayam berumur 1 hari sampai 4 minggu. Fase starter merupakan fase ayam dalam proses pembentukan kekebalan tubuh dan masa awal pertumbuhan semua organ tubuh (Fadilah, 2005). Anak ayam atau day old chick (DOC) yang baru menetas belum mampu beradaptasi dengan suhu lingkungan karena sistem pengaturan panas dalam tubuh belum sempurna (Suprijatna, 2005). Anak ayam memiliki bulu yang belum tumbuh secara sempurna sehingga dalam menjaga temperatur tubuhnya biasanya membutuhkan panas tubuh sang induk atau panas dari brooder (Rasyaf, 2008). Alat pemanas atau brooder digunakan sampai anak ayam berumur 1-2 minggu, tergantung dari kecepatan pertumbuhan bulunya dan keadaan lingkungan (Kartasudjana dan Suprijatna, 2010).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

 M01444

M01444

Stres pada tanaman yang disebabkan karena salinitas, kekeringan, suhu, oksigen dan keracunan logam berat merupakan alasan utama penurunan hasil pertanian (Rai dan Takabe, 2005). Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman (Mubiyanto, 1997). Lahan yang tidak mampu memberi kecukupan air bagi tanaman merupakan lahan yang kering, dimana lahan kering dapat berdampak juga pada salinitas tanah. Salinitas dapat disebabkan karena akumulasi NaCl pada tanah yang terjadi terus menerus, misalnya pada tanah sepanjang pantai yang saat air pasang mengalami genangan. Ketika air surut, NaCl dari air laut akan tertinggal di tanah sehingga NaCl akan terakumulasi dan menyebabkan tanah menjadi salin. Penyebab tanah salin yang lain adalah curah hujan yang rendah pada suatu wilayah. Menyebabkan kandungan NaCl tanah tidak dapat terlarut dan tercuci dan akhirnya terakumulasi pada tanah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

The Expression of Heat Shock Protein 70 and Glutathione Peroxidase Gene with Selenium Supplementation and Its Effect on Productivity of Broiler in Tropical Environment.

The Expression of Heat Shock Protein 70 and Glutathione Peroxidase Gene with Selenium Supplementation and Its Effect on Productivity of Broiler in Tropical Environment.

2007) dan ekspresi HSP70 ini paling banyak terdapat pada jaringan saraf/otak (Tanguay et al. 1993; Bodega et al. 2002). Hasil ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Guerreiro (2004) bahwa ekspresi gen HSP70 memiliki 3 sampai 4 kali lebih tinggi tingkat ekspresi pada otak dibandingkan dengan jaringan hati pada broiler yang terkena stres panas. Gen HSP70 ini bertanggung jawab atas bahaya panas dan hanya berfungsi dalam kondisi stres (Tamzil et al. 2013). Produksi HSP70 di dalam tubuh menggunakan segala nutrien yang masih ada di dalam tubuh dan bertindak sebagai last defender dengan berperan menjadi protektor bagi protein yang sensitif terhadap suhu tinggi dan melindunginya dari after effect seperti proses degradasi maupun denaturasi sehingga mencegah protein rusak baik sementara maupun permanen yang selanjutnya mempengaruhi kelangsungan hidup ternak tersebut (Surai 2003; Etches et al. 2008; Noor dan Seminar 2009).
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Respon termoregulasi dan tingkah laku bernaung sapi perah dara peranakan fries holland pada energi ransum yang berbeda

Respon termoregulasi dan tingkah laku bernaung sapi perah dara peranakan fries holland pada energi ransum yang berbeda

Pada penelitian ini, juga dilakukan pengamatan frekuensi defekasi, urinasi, tingkah laku agonistik dan allelomimetik. Frekuensi defekasi 5.3-5.6 kali dan urinasi untuk A dan B 6.4 kali, C 5.9 kali dan D 6.9 kali. Hasil yang diperoleh tersebut dari pengaruh perlakuan pakan yaitu hampir seragam dengan rentang selama 6 jam pengamatan. Tingkah laku agonistik dan allelomimetik pada penelitian ini, tidak terekspresikan secara jelas atau frekuensinya rendah karena kebutuhan pakan terpenuhi serta naungan yang cukup luas. Abeni (2000) menyatakan bahwa defekasi merupakan salah satu upaya ternak untuk mengatur proses keseimbangan tubuh dengan cara membuang feses, yaitu salah satu produk sisa organ pencernaan setelah pakan yang dikonsumsi didegradasikan dan diserap atau tidak mengalami proses apapun yang akhirnya dikeluarkan dari dalam tubuh. jumlah urin yang dikeluarkan tergantung pada jumlah air yang masuk ke dalam tubuh ternak yang berasal dari makanan hijauan dan konsentrat, selain itu suhu lingkungan pada sapi yang bekerja berat akan mempengaruhi jumlah urin yang dikeluarkan oleh seekor sapi. Selain itu, pengamatan tingkah laku bernaung dilakukan selama 6 jam di area penggembalaan. Hasil yang diperoleh disajikan pada Tabel 18.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

 M01222

M01222

Stres pada tanaman yang disebabkan karena salinitas, kekeringan, suhu, oksigen dan keracunan logam berat merupakan alasan utama penurunan hasil pertanian (Rai dan Takabe, 2005). Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman (Mubiyanto, 1997). Lahan yang tidak mampu memberi kecukupan air bagi tanaman merupakan lahan yang kering, dimana lahan kering dapat berdampak juga pada salinitas tanah. Salinitas dapat disebabkan karena akumulasi NaCl pada tanah yang terjadi terus menerus, misalnya pada tanah sepanjang pantai yang saat air pasang mengalami genangan. Ketika air surut, NaCl dari air laut akan tertinggal di tanah sehingga NaCl akan terakumulasi dan menyebabkan tanah menjadi salin. Penyebab tanah salin yang lain adalah curah hujan yang rendah pada suatu wilayah. Menyebabkan kandungan NaCl tanah tidak dapat terlarut dan tercuci dan akhirnya terakumulasi pada tanah.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perbaikan karakter agronomi dan adaptasi terhadap cekaman kekeringan pada kedelai melalui iradiasi sinar gamma dosis rendah

Perbaikan karakter agronomi dan adaptasi terhadap cekaman kekeringan pada kedelai melalui iradiasi sinar gamma dosis rendah

kekeringan salah satunya dengan cara bertahan pada potensial air jaringan yang rendah serta menjaga tekanan turgor tanaman melalui osmotic adjustment (suatu proses yang menginduksi akumulasi bahan-bahan terlarut atau solut, seperti gula), sehingga tanaman mampu mentoleransi kondisi cekaman tersebut (Mitra 2001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan ketersediaan air pada 40 % KL mempengaruhi penurunan kandungan air dalam jaringan tanaman. Untuk dapat bertahan pada ketersediaan air yang rendah, masing-masing varietas yang diuji beradaptasi dengan mengakumulasi bahan-bahan terlarut seperti kandungan gula pada kondisi cekaman tersebut. Secara umum tanaman akan mengalami penurunan potensi osmosis yang merupakan tanggap tanaman untuk bertahan terhadap cekaman kekeringan yang terjadi pada galur toleran maupun peka, seperti yang terjadi pada genotipe tanaman kedelai peka Bragg dan toleran Pb1 yang mendapat cekaman kekeringan pada awal pengisian biji (R 5 ) selama 10 hari,
Baca lebih lanjut

168 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...