daerah pinggiran kota

Top PDF daerah pinggiran kota:

SELF-DETERMINATION THEORY (SDT) OF MOTIVATION PADA GURU SEKOLAH DASAR DI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG - Unika Repository

SELF-DETERMINATION THEORY (SDT) OF MOTIVATION PADA GURU SEKOLAH DASAR DI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG - Unika Repository

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui self-determination theory (SDT) of motivation guru sekolah dasar di daerah pinggiran kota Semarang dari Ryan & Deci. Motivasi ekstrinsik meliputi regulasi eksternal, introyeksi, identifikasi dan integrasi. Motivasi intrinsik meliputi minat, kesukacitaan bekerja dan kepuasan. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga guru sekolah dasar yang berada di daerah pinggiran dengan lama mengajar lebih dari lima tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara bebas terpimpin ditambah dengan observasi terhadap ketiga subjek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari ketiga subjek memiliki motivasi awal dan motivasi bertahan yang berbeda-beda. Motivasi ekstrinsik dan intrinsik memiliki nilai yang sama. Motivasi awal SR adalah introyeksi yang merupakan motivasi ekstrinsik dalam hal memperoleh pengakuan dari orang lain. Motivasi awal RD terbentuk dari dalam diri (minat) sejak kecil ingin menjadi guru. Motivasi awal SP terbentuk dari keinginan ayah agar ia menjadi guru, hal tersebut termasuk motivasi ekstrinsik identifikasi. Motivasi bertahan SR yang muncul adalah intrinsik (kepuasan) mempunyai tekad kuat sebagai alumni ia merasa mempunyai kewajiban memajukan siswa di daerah tersebut. Motivasi bertahan RD tetap mengajar di daerah pinggiran yaitu karena adanya nilai penting penghargaan (regulasi eksternal) berupa urusan kepegawaian tetap lancar jika mengajar di sekolah tersebut. Motivasi bertahan SP juga berupa motivasi ekstrinsik (regulasi eksternal) muncul karena ia merupakan guru pelopor dari sekolah tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

POTENSI PENGURANGAN PENGGUNAAN KENDARAAN PRIBADI DI DAERAH PINGGIRAN KOTA PALEMBANG MELALUI INTEGRASI JARINGAN FEEDER DENGAN BRT

POTENSI PENGURANGAN PENGGUNAAN KENDARAAN PRIBADI DI DAERAH PINGGIRAN KOTA PALEMBANG MELALUI INTEGRASI JARINGAN FEEDER DENGAN BRT

kawasan juga sangat tinggi dimana sudah terlihat indikasi pengembangan fasilitas dan pusat kegiatan baru pada wilayah pinggiran. Sama halnya seperti yang terlihat pada Kecamatan Alang- Alang Lebar yang dikategorikan wilayah pinggiran di Kota Palembang. Kecamatan Alang-alang lebar telah dilewati oleh BRT karena pada kecamatan ini telah beroperasi halte BRT. Namun, indikasi pengguna kendaraan pribadi masih tinggi di wilayah pinggiran (Joni, 2013). Dari permasalahan diatas, dibutuhkan sebuah konsep penanganan yang dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di wilayah pinggiran Kota Palembang. Terkait dengan perkembangan kepadatan Kota Palembang dan kebutuhan akan transportasi maka diungkapkan oleh Tamin (2000), integrasi transportasi publik merupakan solusi paling rasional untuk mengatasi permasalahan transportasi perkotaan. Selain itu, konsep integrasi angkutan umum di Kota Palembang juga dapat diterapkan di wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa yang sudah seharusnya memiliki sistem transportasi publik yang efisien (Potter dan Skinner, 2000; Murray, 2001; Warpani, 2002; Ibrahim, 2003; Hull, 2005; Preston, 2010; Santos et al, 2010. Hal ini juga didukung strategi dan kebijakan pengembangan transportasi pada RPJMD Kota Palembang 2013-2018 untuk mengintegrasikan angkutan umum di Kota Palembang, begitu pula seperti yang disampaikan oleh Kepala Dishub Kota Palembang, Masripin (2011) tentang arahan penggunaan feeder di tahun 2016 dan penggunanaan angkutan kota di wilayah pinggiran Kota Palembang Tahun 2016.
Baca lebih lanjut

429 Baca lebih lajut

FUNGSI MUNCAK DALAM AKTIVITAS BURU BABI (Studi Kasus: Aktivitas Buru Babi Di Beberapa Daerah Pinggiran Kota Padang).

FUNGSI MUNCAK DALAM AKTIVITAS BURU BABI (Studi Kasus: Aktivitas Buru Babi Di Beberapa Daerah Pinggiran Kota Padang).

Ramayanti (2007; 1) mengatakan bahwa berburu babi sebenarnya hampir terdapat pada semua masyarakat yang tinggal di pedesaan yang berbatasan langsung dengan daerah areal hutan. Seperti misalnya Suku "Bena" di pulau Flores. Kegiatan berburu babi yang mereka lakukan disebut dengan "Gabo". Masyarakat suku Kubu yang masih hidup di Bukit Dua Belas Provinsi Jambi juga melakukan hal yang sama, mereka memburu babi dengan cara menjerat atau memanah. Tujuan dan fungsi berburu babi bagi masyarakat tersebut adalah untuk dikonsumsi. Sedangkan pada masyarakat Minangkabau tujuan dan fungsinya bukan untuk dikonsumsi melainkan untuk membantu para petani memberantas babi yang dianggap sebagai hama, kemudian bagi sebagian kalangan berburu babi adalah hobi.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Program Srawung Praja di RRI Surakarta Dalam Perspektif Sosio Legal.

PENDAHULUAN Program Srawung Praja di RRI Surakarta Dalam Perspektif Sosio Legal.

Dengan wilayah yang cukup luas dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, dan lebih dari 65% penduduk tinggal di daerah pinggiran kota, sebagian besar masyarakat kota Surakarta sulit mengakses informasi dari pihak pemerintah kota Surakarta, hal ini yang menyebabkan macetnya komunikasi antara warga masyarakat kota Surakarta dengan Elit Pemerintahan. Kemacetan informasi dari pihak pemerintah kepada masyarakat semakin parah dengan ketidakberdayaan warga untuk menyampaikan segala bentuk aspirasi dari kelompok masyarakat terutama masalah-masalah yang berkembang ditengah-tengah kehidupan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Berkembangnya daerah pinggiran ini jelas memiliki dampak terhadap sistem transportasi kota. Sebaran dan pergerakan yang dilakukan oleh penduduk daerah pinggiran berpotensi untuk menimbulkan keruwetan pada transportasi Kota Semarang pada nantinya karena mereka cenderung tetap melakukan perjalanan kedaerah pusat Kota Semarang dimana pusat ekonomi, pekerjaan, hiburan, dan pendidikan berada sedangkan kita ketahui semakin lama perjalanan yang ditempuh semakin besar pula bebannya pada sistem transportasi. Dalam penelitian ini diharapkan penulis mampu mengidentifikasi perilaku pergerakan penduduk daerah pinggiran Kota Semarang melalui penyebaran kuesioner sehingga dapat dilihat apa dan bagaimana sebenarnya peran penduduk daerah pinggiran pada sistem transportasi kota.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

TINGKAT PEMENUHAN DAN AKSESIBILITAS FASILITAS SOSIAL DI KECAMATAN SEMARANG SELATAN DAN KECAMATAN GENUK - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

TINGKAT PEMENUHAN DAN AKSESIBILITAS FASILITAS SOSIAL DI KECAMATAN SEMARANG SELATAN DAN KECAMATAN GENUK - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian tentang tingkat pemenuhan kebutuhan fasilitas sosial dan aksesibilitas menuju fasilitas tersebut. Wilayah penelitian yang diambil adalah Kecamatan Genuk yang merepresentasikan daerah pinggiran Kota Semarang dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang rendah dan ketersediaan fasilitas sosial yang minim serta Kecamatan Semarang Selatan yang merupakan kawasan pusat kota dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang cukup tinggi dan memiliki ketersediaan fasilitas sosial yang memadai. Metode pendekatan penelitian adalah metode Triangulasi dengan pendekatan Sequantial Explanatory Strategy yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan untuk mendapatkan persepsi masyarakat terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan fasilitas sosial dan akses menuju fasilitas tersebut sehingga kondisi yang ada pada wilayah studi dapat diteliti oleh peneliti secara lebih mendalam. Metode kuantitatif digunakan pada saat proses analisis untuk mendapatkan hasil penelitian yang ilmiah dengan menggunakan teknik analisis pembobotan yang dilakukan terhadap persepsi yang didapatkan dari masyarakat.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

LUBANG RESAPAN BIOPORI SEBAGAI SALAH SATU USAHA MENGURANGI TERJADINYA LIMPASAN PADA PERUMAHAN FAJAR INDAH PERMATA2, KARANGANYAR.

LUBANG RESAPAN BIOPORI SEBAGAI SALAH SATU USAHA MENGURANGI TERJADINYA LIMPASAN PADA PERUMAHAN FAJAR INDAH PERMATA2, KARANGANYAR.

perumahan di sekitar kota Surakarta yang letaknya tidak jauh dari akses ke kota Surakarta. Perumahan Fajar indah permata 2 adalah salah satu wujud perubahan tata guna lahan yang tidak hanya terjadi di kota Surakarta tetapi telah meluas ke daerah pinggiran kota Surakarta, perumahan yang terletak di kelurahan Baturan Colomadu Karanganyar ini termasuk perumahan yang cukup besar, mayoritas penduduk yang tinggal di Perumahan Fajar indah Permata 2 ini adalah penduduk yang setiap harinya melakukan aktivitas di kota Surakarta. Dengan adanya perubahan tata guna lahan yang terjadi belakangan ini Sehingga mengurangi daerah resapan air dan mengakibatkan tingginya limpasan bila terjadi hujan. Pada dasarnya kecamatan Colomadu Karanganyar ini dapat dikategorikan memiliki curah hujan yang cukup tinggi yang berdampak bertambahnya debit limpasan air hujan. Konsep drainase konvensional dimana air hujan dialirkan secepatnya, saat ini kurang sesuai untuk diterapkan. Mengingat semakin semakin berkurangnya daerah resapan air hujan akibat perubahan tata guna lahan yang terjadi, maka konsep drainase yang berkelanjutan menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk menjaga kelestarian alam terutama air tanah.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

ONE ROOM LIVING – PENGENALAN DESAIN

ONE ROOM LIVING – PENGENALAN DESAIN

Garden apartemen : • Ketinggian bangunan antara 2 – 3 lantai • Tiap unit hunian memiliki teras dan balkon tersendiri • Umumnya terdapat pada daerah pinggiran kota dengan kepadatan pen[r]

27 Baca lebih lajut

PROSES URBANISASI DI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR

PROSES URBANISASI DI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR

ruang yang mirip seperti halnya permunculan pusat kegiatan utama atau primair (primary business district) dan kemudian diikuti oleh bertambah banyaknya gedung-gedung bertingkat pada bagian ini. Secara transeksional, kota besar akan ditandai oleh gedung-gedung bertingkat banyak di pinggir pusat kota sebagai the primary business district, kemudian dikelilingi oleh daerah permukiman (settlement zone), kemudian terlihat permunculan pusat kegiatan sekundair (secondary business distrct) dengan perluasan vertical yang masih sedikit. Makin besar dan luas kotanya akan memicu pemunculan pusat kegiatan tertiair (tertiary business district) dan begitu seterusnya. Sementara itu untuk kegiatan jasa seperti perkantoran, pendidikan dan kegiatan sejenis lainnya tidak menunjukkan pola tertentu. Namun searah dengan makin langkanya lahan kosong, beberapa kegiatan tersebut juga cenderung melakukan perluasan spasial secara vertical. Beberapa Negara telah menengarai bahwa perkembangan spasila horizontal sentrifugal yang tidak terkendali akan berakibat negatif terhadap pemakian energi dan nateri dalam bentuk pemborosan energi dan materi karena luasnya wilayah kota, sehingga perluasan spasial vertical dianggap sebagai salah satu cara mengantisipasi perkembangan kota-kota modern masa depan dan sekaligus menghindarkan diri dari pemborosan energi materi dan sumber daya termasuk sumber daya pertanian di daerah pinggiran kota.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Perbedaan penguasaan kosakata antara anak-anak TK Kanisius Wirobrajan, Yogyakarta dan anak-anak TK Kanisius Klepu, Minggir, Sleman Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository

Perbedaan penguasaan kosakata antara anak-anak TK Kanisius Wirobrajan, Yogyakarta dan anak-anak TK Kanisius Klepu, Minggir, Sleman Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository

Penelitian yang dilakukan oleh Sarwadi terwujud dalam buku yang berjudul Penelitian Kosakata bahasa Indonesia Murid Kelas VI Sekolah Dasar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang berangka tahun 1981. Hasil penelitian ini adalah: (a) letak sekolah pada umumnya berpengaruh terhadap penguasaan kosakata murid, terutama perbedaan letak sekolah antara daerah kota dan daerah luarnya. Sedangkan perbedaan letak sekolah antara daerah pinggiran kota (semi kota) dan daerah pedesaan (rural) dalam hal penguasaan kosakata bahasa Indonesia murid kelas kurang berpengaruh, (b) rata-rata penguasaan kosakata bahasa Indonesia murid kelas VI SD di Jawa Tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta ditemukan lebih dari 5000 kata, (c) pengaruh bahasa daerah (Jawa) tampak pada penguasaan kosakata yang berupa kata dasar, kata jadian, dan kata ulang, (d) kosakata yang paling banyak dikuasai murid adalah kata benda, kata kerja, dan jenis kata lain.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengelolaan Penilaian Sikap Sosial dalam Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa di Kelas II SDN Bayan No 216 Surakarta.

PENDAHULUAN Pengelolaan Penilaian Sikap Sosial dalam Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa di Kelas II SDN Bayan No 216 Surakarta.

Sebagai sekolah di daerah pinggiran kota Surakarta pembentukan sikap siswa atau karakter siswa melalui penilaian sikap sosial sangat penting sekali karena siswa SD masih berada pada tahap perkembangan dan pembentukan karakter.Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dan sentral dalam menanamkan, mentransformasikan dan menumbuh kembangkan karakter positif siswa serta mengubah watak yang tidak baik, terutama dalam pembentukan sikap sosial.

6 Baca lebih lajut

MORFOLOGI PERUMAHAN TERENCANA DI PINGGIRAN KOTA BANJARMASIN

MORFOLOGI PERUMAHAN TERENCANA DI PINGGIRAN KOTA BANJARMASIN

Dari ketiga analisis peta dalam tabel 3, ter- lihat bahwa pola pengembangan perumahan terencana di daerah pinggiran kota Banjarmasin merupakan konsekuensi dari arahan kebijakan RURTK yang melihat adanya potensi lahan ko- song atau lahan pertanian di daerah pinggiran yang bisa dikembangkan menjadi daerah per- mukiman baru. Karena batasan geografis dan kepadatan penduduk pemekaran kota tidak me- ngarah secara merata ke semua arah sebagai mana pola pertumbuhan kota yang konsentris atau memajang sepanjang koridor jalan utama. Tetapi lebih pada pola pertumbuhan perembet- an yang meloncat (leaf frog development) di- mana Banjarmasin Utara, Timur dan Selatan mengalami pemekaran morfologi kota terbesar secara berurutan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STUDI KINERJA PELAYANAN SISTEM ANGKUTAN KERETA REL LISTRIK JABODETABEK - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

STUDI KINERJA PELAYANAN SISTEM ANGKUTAN KERETA REL LISTRIK JABODETABEK - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Perkembangan jumlah penduduk perkotaan serta kebutuhan kehidupan yang semakin meningkat dalam berbagai aspek telah mengakibatkan meningkatnya kegiatan penduduk perkotaan. Pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan maupun kegiatannya dapat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan ruang perkotaan yang besar. Meningkatnya kebutuhan ruang untuk tempat tinggal akan mengambil ruang di daerah pinggiran kota atau wilayah belakang (hinterland) karena ketersediaan ruang di dalam kota yang tetap dan terbatas. Daerah hinterland ini tumbuh secara sporadis dan memencar namun masih tetap berhubungan dengan pusat kota besar (kota induk) melalui jaringan transportasi darat kota (Yunus, 2000). Teori diatas yang dikemukakan oleh Yunus menggambarkan sebuah kota besar yang tidak mampu lagi menampung banyaknya jumlah penduduk yang ada di kota tersebut.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

POLA PERGERAKAN KOMUTER BERDASARKAN PELAYANAN SARANA ANGKUTAN UMUM DI KOTA BARU BUMI SERPONG DAMAI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

POLA PERGERAKAN KOMUTER BERDASARKAN PELAYANAN SARANA ANGKUTAN UMUM DI KOTA BARU BUMI SERPONG DAMAI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk perkotaan serta meningkatnya tuntutan kebutuhan kehidupan dalam aspek-aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi telah mengakibatkan kegiatan penduduk perkotaan yang beragam. Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan maupun kegiatannya yang telah mengakibatkan tingginya kebutuhan ruang perkotaan. Oleh karena ketersediaan ruang di dalam kota tetap dan terbatas, maka peningkatan kebutuhan ruang untuk tempat tinggal selalu akan mengambil ruang di daerah pinggiran kota. (Yunus, 2000). Teori di atas yang dikemukakan oleh Yunus menggambarkan sebuah kota besar yang tidak mampu lagi menampung banyaknya jumlah penduduk yang ada di kota tersebut.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

IEUPNYK 11

IEUPNYK 11

Suburban  Perpindahan penduduk dari kota maupun desa ke daerah pinggiran kota yang sering disebut dengan suburban, seperti halnya urbanisasi yang oleh kebanyakan masyarakat di defini[r]

18 Baca lebih lajut

Perumahan Tepi Air Banda Aceh (Arsitektur Tepi Air)

Perumahan Tepi Air Banda Aceh (Arsitektur Tepi Air)

Pengembangan dan pembenahan sebuah kota sekarang ini tidak hanya berfokus pada daerah pusat kota saja, hal ini disebabkan tanah kosong di pusat perkotaan sudah mulai langkah dan tinggi harganya. Disamping itu, pengembangan dan pembenahan kota menyebabkan daerah pinggiran kota akan menjadi daerah yang akan diperrebutkan, apalagi daerah tersebut terdapat potensi untuk investasi. Ditambahkan dengan pembenahan kota maka kota tersebut akan bersolek menjadi sebuah kota yan mempunyai image, cirri khas dan daya tarik tersendiri, baik untuk menarik investor ataupun wisatawan. Dengan dengan demikian, penduduk kota tersebut akan bangga memiliki kota unik tersebut, yang mana akan memberi motivasi kepada penduduk kota tersebut untuk turut menjaga dan melestarikan kotanya.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

Pilihan Lokasi Perumahan di Pinggiran Kota Yogyakarta

Pilihan Lokasi Perumahan di Pinggiran Kota Yogyakarta

Pendekatan market walapun dikritik (karena terlalu berbau ekonomi, mengabaikan aspek sosial dan karakter pembeli), lebih bisa menjelaskan fenomena pilihan rumah, dengan bukti bukti empiris perkembangan kota-kota di Amerika [1]. Dapat diterimanya market teori bukan karena atribut akses dan ruang yang penting, melainkan hubungan antara dua variabel tersebut, yang menggambarkan proses tawar menawar (trade off). Beberapa pertimbangan diperlukan untuk penyesuaian teori trade-off, dalam kaitannya dengan realitas kehidupan perkotaan [1], antara lain:
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KONSEP PENGEMBANGAN ANGKUTAN UMUM YANG H

KONSEP PENGEMBANGAN ANGKUTAN UMUM YANG H

Jenis armada angkutan yang melayani trayek-trayek tersebut di atas adalah bus (kapasitas 50 tempat duduk), bus sedang (kapasitas 24 tempat duduk), MPU (kapasitas 12 tempat duduk). Bus (DAMRI) melayani trayek-trayek utama. Jumlah armada yang melayani trayek di atas bervariasi mulai dari 4 hingga 281 armada (Trayek Rejomulyo- Kalibanteng). Jumlah armada untuk masing trayek di atas mempresentasikan besarnya permintaan pada trayek yang bersangkutan. Dalam perkembangannya jumlah armada yang beroperasi cenderung menurun. Hal ini diperkirakan banyak disebabkan karena menurunnya jumlah pengguna angkutan umum di Kota Semarang. Kenaikan harga bahan bakar minyak di awal tahun 2007 lalu dan kemudahan-kemudahan untuk memiliki kendaraan sepeda motor menyebabkan menurunnya pengguna angkutan umum. Hal ini terlihat, selain dari menurunnya jumlah kendaraan angkutan umum (Gambar 5) juga berdampak pada pendapatan operator angkutan umum. Penelitian yang dilakukan oleh Arimaya (2007), memperlihatkan bahwa akibat menurunnya permintaan angkutan, jumlah armada pada suatu trayek cenderung berlebihan dan pendapatan operator menurun.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Sutra Altar Jilid 1.pdf

Sutra Altar Jilid 1.pdf

Penjelasan : Karena Hui Neng berasal dari daerah pinggiran selatan yang tidak faham daerah sekitar situ maka ditanyanya, dari jalan mana dapat menempuh muara sungai yang dijawab oleh Patriach, hal mana tidak usah dibuat khawatir karena beliau akan mengantar sendiiri, maka mereka jalan sampai pada pos pemberhentian Chiu Chiang, lalu memerintahkan Hui Neng lekas menaiki perahu, dan Patriach V yang menggayuh, Hui Neng bukan saja berasa tidak pantas kalau Patriach yang menggayuh, tapi selayaknya kalau seseorang belum sadar memang Guru yang menyeberangkan, tapi bilamana seseorang sudah sadar, sudah menjadi selayaknya ia sendiri yang menyeberangkan untuk terlepas dari ikatan tumimbal lahir guna mencapai Nirvana; hal ini sesuai dengan ajaran yang terdapat pada Sutra Intan, bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dapat diseberangkan oleh Buddha, melainkan umat yang berkepentingan sendiri yang menyeberangkannya.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Orientasi Nilai Orangtua Dalam Pendidikan Anak di Usia Dini (Studi Kasus di Yayasan Pendidikan Nasional Putra Sejahtera)

Orientasi Nilai Orangtua Dalam Pendidikan Anak di Usia Dini (Studi Kasus di Yayasan Pendidikan Nasional Putra Sejahtera)

Saat ini lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan serta pengajaran kepada anak sejak usia dini sangatlah mudah ditemukan di daerah perkotaan sedangkan untuk di daerah pinggiran perkotaan masih sangat sulit ditemukan oleh karna minat orangtua dalam memberikan PAUD di daerah pinggiran perkotaan masih relatif kecil terkait dengan kemampuan ekonomi mereka. Serta didukung dengan pasang surut berdirinya PAUD yang terkadang harus tutup sementara karna tidak mendapatkan anak usia dini untuk dididik. Perkembangan secara pesat di daerah perkotaan diakibatkan lembaga ini sekaligus menjadi tempat penitipan anak yang berorientasi mengembangkan pendidikan melalui kreativitas dalam bentuk permainan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...