dalam Pengelolaan Sampah

Top PDF dalam Pengelolaan Sampah:

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI DESA MPANAU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI | Lapik | GeoTadulako 9004 29521 1 SM

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI DESA MPANAU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI | Lapik | GeoTadulako 9004 29521 1 SM

Adapun pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Mpanau Kecamatan Sigi Biromaru dapat dilihat dari tanggapan respon yaitu sebanyak 20 responden (43,48%) menyatakan kadang-kadang pemanfaatkan tempat penampungan sampah, disamping itu sebanyak 23 responden (50,00%) menyatakan tidak pernah mengumpulkan sampah secara rutin di rumah, sebanyak 16 responden (34,78%) menyatakan tidak melakukan pemindahan ketempat penampungan sementara, sebanyak 27 responden (58,68%) menyatakan petugas kebersihan tidak melakukan pengangkutan sampah, sebanyak 20 responden (43,48%) menyatakan kadang-kadang melakukan pemilahan sampah yang dibuang antara sampah berupa sisa makanan, plastik, kertas, karton, daunan- daunan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

MODEL PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PENGUATAN SINERGI DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN

MODEL PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PENGUATAN SINERGI DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model peningkatan partisipasi masya- rakat dalam pengelolaan sampah perkotaan, khususnya sampah rumah-tangga. Tahapan penelitian dimulai dengan mengkaji pola pengelolaan sampah perkotaan yang berlaku pada saat ini dengan lokasi percontohan di Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Untuk mengkaji peran para stakeholder terkait, dilakukan pengkajian dan diskusi (focus group) dengan stakeholders untuk mendapatkan input guna penyusunan model penge- lolaan terbaik (best practises) dalam pengelolaan sampah. Pendekatan yang dipakai untuk menyusun model Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat ini adalah pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui peningkatan pastisipasi stake- holdersnya. Model yang telah teruji memerlukan trial and error serta memerlukan waktu sekurang-kurangnya 2 tahun pengamatan dengan percobaan di beberapa lokasi yang berbeda. Kata kunci: partisipasi masyarakat, pemberdayaan, pengelolaan sampah, stakeholder
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

(ABSTRAK)Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Kelurahan Jomblang Kota Semarang (Analisis Sosio Yuridis Pasal 28 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah).

(ABSTRAK)Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Kelurahan Jomblang Kota Semarang (Analisis Sosio Yuridis Pasal 28 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah).

Prianto, Ragil Agus. “ Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Kelurahan Jomblang Kota Semarang (Analisis Sosio Yuridis Pasal 28 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah) ” . Program Studi Ilmu Hukum. Fakultas Hukum. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I : Drs. Suhadi, S.H., M.Si, dan Pembimbing II: Arif Hidayat, S.H.I., M.H. 105 Hal .

2 Baca lebih lajut

MODEL PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PENGUATAN SINERGI DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN

MODEL PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PENGUATAN SINERGI DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model peningkatan partisipasi masya- rakat dalam pengelolaan sampah perkotaan, khususnya sampah rumah-tangga. Tahapan penelitian dimulai dengan mengkaji pola pengelolaan sampah perkotaan yang berlaku pada saat ini dengan lokasi percontohan di Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Untuk mengkaji peran para stakeholder terkait, dilakukan pengkajian dan diskusi (focus group) dengan stakeholders untuk mendapatkan input guna penyusunan model penge- lolaan terbaik (best practises) dalam pengelolaan sampah. Pendekatan yang dipakai untuk menyusun model Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat ini adalah pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowering) melalui peningkatan pastisipasi stake- holdersnya. Model yang telah teruji memerlukan trial and error serta memerlukan waktu sekurang-kurangnya 2 tahun pengamatan dengan percobaan di beberapa lokasi yang berbeda. Kata kunci: partisipasi masyarakat, pemberdayaan, pengelolaan sampah, stakeholder
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Di Kota Medan

Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Di Kota Medan

Metode ramp merupakan teknik gabungan dari kedua metode di atas. Prinsipnya adalah bahwa penaburan lapisan tanah dilakukan setiap hari dengan tebal lapisan sekitar 15 cm di atas tumpukan sampah. Setelah lokasi sanitary landfill yang terdahulu stabil, lokasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana jalur hijau (pertamanan), lapangan olahraga, tempat rekreasi, tempat parkir, dan sebagainya (Kusnoputranto, 1986)

37 Baca lebih lajut

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015

Tabulasi Silang Pengelolaan Sampah Organik dengan Rata-rata jumlah sampah yang Dikelola dalam 7 hari Rata-rata jumlah sampah yg dikelola dalam 7 hari Total 2 3 4 Pengelolaan Sampah[r]

16 Baca lebih lajut

PROPOSAL PENANGANAN SAMPAH DAN PENYELAMA

PROPOSAL PENANGANAN SAMPAH DAN PENYELAMA

Dengan terbatasnya lahan untuk pemerosesan, serta makin banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh sebuah kota, maka idea pengelolaan sampah bersama dari daerah yang saling berdekatan atau beskala regional, makin banyak mendapat perhatian di Indonesia. Konsep pertama yang muncul adalah berasal dari Denpasar dan sekitarnya, dengan konsep pengelolaan sampah bersama antara Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten GIanyar dan Kabupaten Tabanan atau SARBAGITA. Berdasarkan Peraturan Bersama antara Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan, nomor 660.2/2868/Sekret; nomor 840.B tahun 2000; nomor 658.1/3367/Ek; nomor 390.B tahun 2000 tanggal 24 Juli 2000, tentang Pokok-Pokok Kerjasama Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan dalam Pengelolaan Sampah antara Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan, ditetapkan 4 (empat) program pokok atau disebut program strategis yang mencakup:
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA dan

PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA dan

Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sampah harus memiliki landasan kuat agar sampah yang dihasilkan dapat dikelola dengan baik. Kebijakan dapat dilakukan meliputi penurunan senyawa beracun yang terkandung dalam sampah sejak pada tingkat produksi, minimalisasi jumlah sampah, peningkatan daur ulang sampah, pembuangan sampah yang masih memiliki nilai energi dikurangi secara signifikan, dan pencemaran lingkungan dicegah sedini mungkin. Berdasarkan landasan tersebut, kebijaksanaan pengelolaan sampah antara lain meliputi pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri, pengelolaan sampah dengan menggunakan sanitary landfill yang sesuai dengan ketentuan standar lingkungan, dan pengembangan teknologi tinggi pengolahan sampah untuk sumber energi.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

View of The LIFE CYCLE INVENTORY FOR SUSTAINABLE SUSTAINABLE MANAGEMENT IN PEKANBARU CITY

View of The LIFE CYCLE INVENTORY FOR SUSTAINABLE SUSTAINABLE MANAGEMENT IN PEKANBARU CITY

Berdasarkan identifikasi sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi dapat membuat pengelolaan sampah yang ada di Kota Pekanbaru menjadi lebih berkelanjutan, hal ini diperlihatkan dari penambahan usia layan TPA Muara Fajar 2. Adapun konsep yang diterapkan dalam pengelolaan sampah yang terintegrasi untuk mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan ini dibuat dengan memperhatikan beberapa hal, diantaranya mengoptimalkan daur hidup sampah melalui recovery energy and materials di unit pengolahan sampah seperti bank sampah, kompos, TPST – 3R, dan RDF, melakukan sosialisasi dan pelatihan secara aktif kepada masyarakat Kota Pekanbaru, mengajak kerja sama pemulung/pengepul dalam pengurangan sampah, khususnya dalam hal pemilahan dan pengangkutan dengan sistem MOU dan door to door, dan memberlakukan sistem pay as you throw (biaya retribusi didasarkan volume timbulan sampah per rumah tangga) kepada masyarakat dengan dilandasi MOU, sosialisasi dan edukasi, mengoptimalkan sistem sanitary landfill di TPA Muara Fajar 2 dalam kegiatan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Pengelolaan Sampah Dan Partisipasi Pedagang Untuk Menciptakan Lingkungan Bersih   Di Basement Pasar Petisah Kota Medan   Tahun 2012

Pelaksanaan Pengelolaan Sampah Dan Partisipasi Pedagang Untuk Menciptakan Lingkungan Bersih Di Basement Pasar Petisah Kota Medan Tahun 2012

dinilai tidak berhasil. Untuk itu diperlukan faktor eksternal yang nantinya akan mendukung partisipasi tersebut. Partisipasi pedagang dalam pengelolaan sampah meliputi kebiasaan mengumpulkan sampah dagangan, menegur orang membuang sampah sembarangan, memberikan gagasan untuk kegiatan kebersihan, kehadiran pada rapat/pertemuan untuk membicaran masalah kebersihan, membayar retribusi sampah pasar, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kondisi kebersihan sampah di tempat berusaha, menyediakan tempat sampah sementara sendiri, bersama pedagang lain bekerjasama mengatasi masalah sampah, dan melakukan evaluasi bersama terhadap kebersihan di lingkungan sekitar mereka. (Zulkarnaini, 2009)
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

KEEFEKTIVAN PENGELOLAAN SAMPAH KOTA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN DI KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2008

KEEFEKTIVAN PENGELOLAAN SAMPAH KOTA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN DI KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2008

pegumpulan sampah. Adanya struktur organisi yang baik di dalam pengelolaan sampah seperti bagian penimbangan sampah, bagian penentu lokasi pembuangan sampah baru, bagian pemilahan sampah yang dilakukan pemulung, bagian pengukur air lindian, bagian pembuatan kompos, dan ada bagian pengatur hewan sapi yang digembalakan di sana. Pembagian tersebut sangat membantu pengelolaan sampah yang akan dijadikan bahan-bahan lain yang akan dimanfaatkan oleh manusia. ataupun bahan-bahan yang dimusnahkan, sehingga dengan demikian kondisi kualitas lingkungan baik itu udara air maupun tanah yang berada disekitarnya belum terpengaruh oleh sampah di Kajen. Sebagai bukti kondisi air sumur penduduk di bawah tempat penimbunan sampah tidak tercemar atau di bawah baku mutu ketentuan yang telah ditetapkan. Pencemaran udara dan bau hanya terjadi di dalam kompleks penimbunan sampah akhir. Ini hanya terjadi pada musim hujan. Pencemaran tanah akibat air lindian tidak terjadi, karena formasi batuan yang ada di bawah tempat penimbunan sampah bersifat kebal dan kedap air. Hanya kualitas kesehatan terpengaruh karena adanya lalat. Atas dasar hal tersebut di atas maka kualitas lingkungan di daerah TPA memiliki kualitas yang stabil artinya tidak mengalami penurunan.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

Alternatif Pengelolaan Sampah Padat Kota Berdasarkan Kajian Analisis Penggunaan Biaya Energi (Studi Kasus Di Kota Bogor, Jawa Barat)

Alternatif Pengelolaan Sampah Padat Kota Berdasarkan Kajian Analisis Penggunaan Biaya Energi (Studi Kasus Di Kota Bogor, Jawa Barat)

Pembuangan (penimbunan) sampah adalah menempatkan sampah pada suatu tempat yang rendah, kemudian menimbunnya dengan tanah. Menurut Ismawati (2001) di dalam Mustika (2006) penanganan sampah dengan cara pembakaran mengakibatkan kerugian-kerugian antara lain membangkitkan pencemaran, mengancam kesehatan masyarakat, memberi beban finansial yang cukup berat bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi insinerator, menguras sumber daya finansial masyarakat setempat, memboroskan energi dan sumber daya material, mengganggu dinamika pembangunan ekonomi setempat, meremehkan upaya minimisasi sampah dan pendekatan-pendekatan rasional dalam pengelolaan sampah, memiliki pengalaman operasional bermasalah di negara-negara industri, sering kali melepaskan polusi ke udara yang melebihi standar/baku mutu, menghasilkan abu yang beracun dan berbahaya dan dapat terancam bangkrut apabila jumlah tonase sampah yang disetorkan kurang dari perkiraan awal.
Baca lebih lanjut

148 Baca lebih lajut

PENGETAHUAN, SIKAP DAN PENDIDIKAN DENGAN PERILAKU PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN BENER KECAMATAN TEGALREJO YOGYAKARTA - Repository Universitas Ahmad Dahlan

PENGETAHUAN, SIKAP DAN PENDIDIKAN DENGAN PERILAKU PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN BENER KECAMATAN TEGALREJO YOGYAKARTA - Repository Universitas Ahmad Dahlan

untuk menigkatkan pengetahuan dan merubah sikap, sehingga responden yang memiliki pendidikan yang tinggi memiliki perilaku yang baik dalam pengelolaan sampah. Tetapi pendidikan yang tinggi tidak menjamin perilaku pengelolaan sampahnya baik, hal ini diperikirakan karena kurangnya kesadaran akan pengelolaan sampah, malas dan tidak mau kerepotan dengan permasalahan sampah. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga 4 .
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

100 Perencanaan Strategis Pengelolaan Sampah (Pengelolaan Sampah di Kota Jayapura)

100 Perencanaan Strategis Pengelolaan Sampah (Pengelolaan Sampah di Kota Jayapura)

Mencermati aspek permasalahan dalam pengelolaan sampah, untuk itu upaya- upaya yang harus dilakukan antara lain meliputi pemantapan kebijakan persampahan, penanganan sampah regional, memacu kearifan masyarakat terhadap fenomena persampahan, dan peningkatan teknologi ramah lingkungan. Permasalahan sampah perkotaan di Indonesia, telah muncul sejak dekade tahun 1990-an. Meski demikian, kebijakan strategis yang telah ditetapkan oleh pemerintah baru pada tahapan yang erat kaitannya dengan aspek teknis, yaitu: melakukan pengurangan timbulan sampah dengan menerapkan konsep 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle), dengan harapan pada tahun 2025 tercapai "zero waste" (BSN, 1992). Padahal pada saat sekarang diperlukan kebijakan yang handal sebagai payung baik di tingkat pusat maupun daerah keterkaitannya dengan penanganan persampahan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya perubahan yang mendasar dalam pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan. Sesuai dengan Pasal 19 Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2008 tersebut, pengelolaan sampah dibagi dalam dua kegiatan pokok, yaitu pengurangan sampah dan penanganan sampah. Pasal 20 menguraikan tiga aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan pengurangan sampah, yaitu pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah. Ketiga kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan yang disebut 3R (reduce, reuse, recycle). Dalam Pasal 22 diuraikan lima aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan penanganan sampah yang meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

OPTIMALISASI PERENCANAAN PENGELOLAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) BERBASIS MASYARAKAT SECARA MANDIRI SEBAGAI UPAYA KONSERVASI LINGKUNGAN

OPTIMALISASI PERENCANAAN PENGELOLAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) BERBASIS MASYARAKAT SECARA MANDIRI SEBAGAI UPAYA KONSERVASI LINGKUNGAN

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam pengelolaan sampah, sehingga keberadaannya sangat diperlukan. Namun demikian, semakin berkembangnya suatu daerah yang artinya kebutuhan lahan sebagai penunjang aktivitas manusia semakin tinggi menyebabkan fungsi lahan diberbagai daerah pun mulai banyak berubah. Hal ini berakibat sulitnya mendapatkan lahan TPA terutama di daerah perkotaan karena terbatasnya lahan yang tersedia. Kondisi ini membuat penambahan lahan untuk TPS menjadi suatu hal yang mahal, selain itu juga masyarakat cenderung menolak kehadiran TPA di wilayahnya karena keberadaan sampah di TPA lebih sering menimbulkan masalah bagi masyarakat sekitarnya dan mencemari lingkungan (air, tanah dan udara).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT RT 13 SERANGAN KELURAHAN NOTOPRAJAN KECAMATAN NGAMPILAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh Penyuluhan Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Terhadap

PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT RT 13 SERANGAN KELURAHAN NOTOPRAJAN KECAMATAN NGAMPILAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh Penyuluhan Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Terhadap

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 7 November 2009 terhadap masyarakat Rt 13 Serangan Kelurahan Notoprajan Kecamatan Ngampilan Yogyakarta yang terdiri dari 60 rumah dan rata- rata masyarakat berpendidikan SD, sehingga banyak yang belum mengetahui tentang cara pengelolaan sampah yang baik, khususnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga. 60 rumah tersebut hampir semuanya membuang sampah, khususnya sampah rumah tangga disungai, sehingga menyebabkan pencemaran air dan menimbulkan bau yang tidak sedap, disamping itu sampah juga mengganggu pemandangan disekitar lingkungan tersebut.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Kajian Pengelolaan Sampah di Kawasan Perkotaan Lahomi Kabupaten Nias Barat

Kajian Pengelolaan Sampah di Kawasan Perkotaan Lahomi Kabupaten Nias Barat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jumlah timbulan sampah yang berasal dari rumah tangga adalah 0,42 kg/orang/hari dan yang berasal dari non rumah tangga adalah 0,15 kg/orang/hari. Berdasarkan analisa statistik diketahui bahwa antara variabel demografi yaitu pendidikan, pekerjaan, pendapatan terdapat hubungannya terhadap perilaku dan pengetahuan masyarakat. Sedangkan variabel demografi yaitu umur dan perilaku tidak terdapat hubungan terhadap perilaku dan pengetahuan masyarakat. Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah tidak memilah sampah (54 %) dengan alasan utama tidak tersedianya fasilitas pemilahan sampah (46,4 %). Perilaku masyarakat yang dominan dilakukan terhadap sampah yang mudah membusuk (garbage) adalah dijadikan makanan ternak (39,1 %), dibuang sembarangan (24,5 %), dan membuat kompos/pupuk (12,7 %). Perilaku masyarakat yang dominan dilakukan terhadap sampah yang tidak membusuk adalah dibakar (42,7 %), dibuang sembarangan (20,9 %), dan ditimbun/dikubur (15,5 %). Pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah yaitu masyarakat mengetahui pemanfaatan sampah yang mudah membusuk sebagai pupuk/kompos (90 %), mengetahui pengelolaan sampah secara 3 R yaitu tentang reduce (25 %), reuse (32 %), dan recycle (43 %). Masyarakat juga mengetahui bahwa sangat diperlukan tersedianya tempat pembuangan akhir sampah (85 %) dan mengetahui bahwa peran pemerintah daerah belum maksimal dalam pengelolaan sampah (81 %). Disamping itu juga, masyarakat mengetahui bahwa pemerintah telah melakukan penyediaan tong sampah (56 %) dan sosialisasi (44 %) terkait program pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil penelitian dirumuskan bahwa rekomendasi pengelolaan sampah di Kabupaten Nias Barat adalah dengan cara pengurangan sampah, penanganan sampah, pemanfaatan sampah, peningkatan kapasitas, dan kelembagaan, serta pembentukan bank sampah.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGELOLAAN SAMPAH PADAT DI KECAMATAN BANUHAMPU KABUPATEN AGAM

ANALISIS PENGELOLAAN SAMPAH PADAT DI KECAMATAN BANUHAMPU KABUPATEN AGAM

Pencemaran lingkungan menyebabkan meningkatnya penyebaran penyakit, mengurangi estetika lingku­ ngan, dan berdampak pada pemanasan global. Di Kecamatan Banuhampu sebagian besar sampah masih dibuang sembarangan yang berpotensi merusak lingkungan sekitar. Penelitian ini menggunakan pendeka­ tan kualitatif dengan informan penelitian berjumlah 9 orang. Hasil penelitian menunjukkan belum ada­ nya perencanaan khusus dalam pengelolaan sampah karena tidak adanya tempat pengelolaan sampah. Un­ tuk pelaksanaan pengelolaan sampah, di daerah pinggir kota telah terdapat masyarakat yang bekerjasama dengan Kota Bukittinggi dan di daerah pedesaan telah ada masyarakat yang mengelola sampah dengan membuat kompos, tetapi sebagian besar sampah masih dibuang sembarangan. Diperlukan perwakilan BPLH untuk memanajemen pengelolaan sampah di Kecamatan Banuhampu, membuat Peraturan Daerah khusus sampah, pengembangan metode pengelolaan sampah dan sosialisasi kepada masyarakat untuk melaksanakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sehingga jumlah sampah dapat diminimalisir.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

INTERNALISASI KESADARAN EKOLOGIS MELALUI PENGELOLAAN SAMPAH DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR | Purnami | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 9875 21012 1 SM

INTERNALISASI KESADARAN EKOLOGIS MELALUI PENGELOLAAN SAMPAH DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR | Purnami | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 9875 21012 1 SM

Dalam menyikapi masalah persampahan yang ada saat ini, kiranya penting untuk penanaman pengetahuan hingga adanya perubahan perilaku (internalisasi) siswa terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya. Hal ini bertujuan untuk menemukan inovasi proses internalisasi nilai-nilai ekologis yang akan ditanamkan pada diri siswa sekolah dasar. Artinya, pengelolaan sampah harus sudah menjadi perhatian serius pihak sekolah dengan merancang kegiatan-kegiatan yang sifatnya terencana dan berkesinambungan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian integral pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Kesadaran ekologis yang terwujud dalam lingkungan. kebiasaan- kebiasan dalam pengelolaan sampah inilah yang perlu menjadi studi tersendiri. Penelitian awal tentang internalisasi ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan bentuk-bentuk pengelolaan sampah pada diri siswa, perubahan perilaku siswa dalam pengelolaan sampah di lingkungan sekolah serta menemukan strategi yang efektif dalam upaya internalisasi kesadaran ekologis pada diri siswa SD terkait pengelolaan sampah. Luaran dari penelitian ini adalah tersusunnya strategi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah Dasar serta adanya rekomentdasi untuk instansi terkait dalam upaya pengelolaan sampah di sekolah.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...