Dampak pemberian MP-ASI Dini

Top PDF Dampak pemberian MP-ASI Dini:

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DINI DI POSYANDU RW II NOTOPRAJAN NGAMPILAN YOGYAKARTA TAHUN 2010 - DIGILIB UNISAYOGYA

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DINI DI POSYANDU RW II NOTOPRAJAN NGAMPILAN YOGYAKARTA TAHUN 2010 - DIGILIB UNISAYOGYA

Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah seorang kader Posyandu, kader tersebut mengatakan bahwa pada tahun 2007 pernah ada penyuluhan tentang ASI Eksklusif oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas akan tetapi penyuluhan tersebut hanya menjelaskan tentang pengertian ASI Eksklusif, komponen penting yang terdapat dalam ASI, penyuluhan tersebut kurang menjelaskan secara teperinci tentang bahaya kesehatan yang akan timbul jika bayi diberikan makanan pendamping ASI yang terlalu dini. Melihat permasalahan tersebut peneliti merasa terdorong untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan Ibu menyusui tentang dampak pemberian MP-ASI dini di Posyandu RW II Notoprajan Ngampilan Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI), UMUR PERTAMA PEMBERIAN DAN  Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI, Umur Pertama Pemberian dan Kesesuaian Porsi MP-ASI dengan Status Gizi Bayi Usia 7-12Bulan di Kecamatan J

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI), UMUR PERTAMA PEMBERIAN DAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI, Umur Pertama Pemberian dan Kesesuaian Porsi MP-ASI dengan Status Gizi Bayi Usia 7-12Bulan di Kecamatan J

Menurut Pudjiadi (2000), pemberian MP-ASI terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu, tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian MP- ASI sebelum waktunya lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, akan memberikan dampak negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi. Sedangkan menurut Adisasmito (2008), bayi yang terlambat mendapatkan MP-ASI akan memicu terjadinya gizi kurang. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah sering kali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi karena ketidaktahuan sang ibu.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan antara Karakteristik Ibu dan Perilaku Ibu dengan Riwayat Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Dini di wilayah Puskemas Atinggola Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2014 | Ibrahim | JIKMU 7445 14638 1 SM

Hubungan antara Karakteristik Ibu dan Perilaku Ibu dengan Riwayat Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Dini di wilayah Puskemas Atinggola Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2014 | Ibrahim | JIKMU 7445 14638 1 SM

Makanan pendamping ASI adalah makanan yang mengandung gizi, diberikan pada anak usia 6 – 24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizinya. Pemberian makanan pendamping ASI secara tepat sangat dipengaruhi oleh perilaku ibu yang memiliki bayi. Namun masih banyak ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan, yang mana dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan bayi seperti diare dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi. Pemberian MP-ASI ataupun makanan yang tidak tepat dapat mengakibatkan anak menderita kurang gizi. Fenomena gagal tumbuh atau growth faltering pada anak mulai terjadi pada usia 4-6 bulan ketika bayi diberi makanan tambahan dan terus memburuk hingga usian18-24 bulan. Kekurangan gizi memberi kontribusi 2/3 kematian balita. Dua pertiga kematian tersebut terkait dengan praktik pemberian makan yang tidak tepat pada bayi dan anak usia dini (Anonimous, 2013)
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WAKTU PEMBERIAN MP ASI PADA BAYI USIA 6-9 BULAN DI KELURAHAN SOROSUTAN KOTA YOGYAKARTA 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WAKTU PEMBERIAN MP ASI PADA BAYI USIA 6-9 BULAN DI KELURAHAN SOROSUTAN KOTA YOGYAKARTA 2016

Latar Belakang : Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 menyatakan 84,7% bayi di Indonesia sudah mendapat makanan pendamping ASI pada usia kurang dari enam bulan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai makanan pendamping ASI dan dampaknya apabila diberikan terlalu dini. Akibat pemberian MP ASI yang tidak tepat pada bayi dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius, seperti timbulnya penyakit tetanus neonatorum dan sepsis, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare, pneumonia, campak, TB, obesitas dan alergi makanan (Nastiti N dkk, 2008).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PERBEDAAN POLA PEMEBRIAN MP-ASI ANTARA BALITASTUNTING DAN NON-STUNTING DI KELURAHAN KARTASURA KECAMATAN  Perbedaan Pola Pemberian MP-ASI Antara Balita Stunting Dan Non-Stunting Di Kelurahan Kartasura Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo.

PERBEDAAN POLA PEMEBRIAN MP-ASI ANTARA BALITASTUNTING DAN NON-STUNTING DI KELURAHAN KARTASURA KECAMATAN Perbedaan Pola Pemberian MP-ASI Antara Balita Stunting Dan Non-Stunting Di Kelurahan Kartasura Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo.

(lembik) pada balita stunting dan non-stunting sama yaitu sebesar 74,3%, sedangkan pada usia 12-24 bulan (bentuk padat) pada balita stunting lebih tinggi yaitu 57,1% dibandingkan pada balita non- stunting yang hanya 22,9%. Berdasarkan hasil wawancara, ibu yang masih memberikan MP-ASI dalam bentuk lembik saat usia lebih dari 12 bulan diakrenakan pertumbuhan gigi yang terlambat, namun berangsur-angsur mulai diperkenalkan dengan MP-ASI berbentuk padat. Pemberian makanan padat atau tambahan terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi, bahkan hal ini akan mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan yaitu sebesar 42,2 %. Secara statistik hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, ada hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif (p value=0,017 ), pemberian MP ASI (p value=0,027), kebiasaan cuci tangan (p value=0,010), dan penggunaan jamban (p value=0,046) dengan kejadian diare pada anak. Tidak ada hubungan signifikan kebersihan botol susu (p value=0,161), pengolahan air bersih (p value=1,000), dan efektifitas penyuluhan kesehatan (p value=0,326) dengan kejadian diare pada anak.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Conclusion of this research is there is significant relation between of exclusive breastfeeding, MP ASI, hand-washing habits and the use of latrine with diarrhea incidence in children aged 6-24 months. Suggestions of this research by giving intensive and sustained counseling by health workers about the factors associated with diarrhea outbreak, to raise awareness for the public to change the bad habits that can cause diarrhea disease in children under five years.

1 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI BAYI USIA <6 BULAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI BAYI USIA <6 BULAN

Pemberian makanan pendamping ASI, merupakan bentuk perilaku dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan balita sesuai usianya. Pemberian MP-ASI pada bayi sesuai standar lebih dari 6 bulan di UPTD Puskesmas Sumberjaya tahun 2015 sebesar 33,3% belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian makanan pendamping ASI bayi usia <6 bulan pada ibu batita di UPTD Puskesmas Sumberjaya Kabupaten Majalengka Tahun 2016.Penelitian ini menggunakan metode analytic dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini seluruh ibu dan bayi usia 6-24 bulan sebanyak 145 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 59 respoonden yang diambil menggunakan teknik accidental random sampling. Data yang digunakan adalah data primer diambil menggunakan instrumen kuesioner. Analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square (α = 0,05). Hasil penelitian diketahui bahwa lebih dari setengahnya perilaku pemberian makanan pendamping ASI dini (66,1%), kurang dari setengahnya pengetahuan kurang (47,5%), lebih dari setengahnya tidak bekerja (52,5%), kurang dari setengahnya pendapatan rendah (35,6%). Disimpulkan ada hubungan antara pengetahuan ( ρ = 0,045), pekerjaan ( ρ =0,027), dan pendapatan ( ρ =0,038) dengan perilaku pemberian makanan pendamping ASI bayi usia <6 bulan pada ibu batita di UPTD Puskesmas Sumberjaya Kabupaten Majalengka Tahun 2016. Saran diajukan bagi petugas kesehatan agar meningkatkan cakupan pemberian MP-ASI pada bayi usia >6 bulan melalui promosi dan sosialisasi MP-ASI dengan kader posyandu, dan mengembangkan media KIE. Bagi ibu agar memberikan ASI eksklusif dengan pemberian MP-ASI saat bayi 6 bulan, aktif mengikuti penyuluhan, tetap memberikan ASI saat bekerja, dan menghindari pemberian susu formula untuk meningkatkan gizi bayi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Perbedaan Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan yang Diberi ASI Eksklusif dan Tidak Diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016

Perbedaan Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan yang Diberi ASI Eksklusif dan Tidak Diberi ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Tembung Kota Medan Tahun 2016

Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan dan merupakan cairan berwarna putih kekuning- kuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin dan karoten yang terdapat di dalamnya. Terdapat juga antimikrobial faktor antara lain antibodi terhadap bakteri dan virus, faktor resisten terhadap stafilokokus, immunoglobulin memberikan mekanisme pertahanan yang efektif terhadap bakteri dan virus dan bila bergabung dengan komplemen dan lisozim merupakan suatu antibakterial yang langsung terhadap E.Coli. Faktor lisozim dan komplemen ini adalah suatu antibakterial non spesifik yang mengatur pertumbuhan flora usus.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada Bayi dan Baduta (6– 24 Bulan) di Puskesmas Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2016

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada Bayi dan Baduta (6– 24 Bulan) di Puskesmas Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2016

Masa bayi antara usia 6 – 24 bulan merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, masa ini merupakan kesempatan yang baik bagi orang tua untuk mengupayakan tumbuh kembang anak secara optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk mencapai hal tersebut adalah melalui pola asuh makan yang baik dan benar yang diberikan kepada anak (Mutiara dan Ruslianti, 2013). Usia 6 sampai 24 bulan merupakan periode kritis pertumbuhan balita, karena pada umur tersebut anak sudah memerlukan MP-ASI yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Hasil penelitian multi-center yang dilakukan UNICEF menunjukkan bahwa MP- ASI yang dibuat di rumah dapat memenuhi lebih dari 50% kebutuhan energi, cukup protein, rendah zat gizi mikro dan vitamin 30% Zn dan Fe, 50% Vitamin A (Kemenkes RI, 2012).
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Evaluasi program pelaksanaan kelas ibu balita di wilayah kerja dinas kesehatan kabupaten banjarnegara Evaluation of the toddler mother class implementation program in the work area of the banjarnegara district health

Evaluasi program pelaksanaan kelas ibu balita di wilayah kerja dinas kesehatan kabupaten banjarnegara Evaluation of the toddler mother class implementation program in the work area of the banjarnegara district health

Pemberian ASI Eksklusif pada bayi sebesar 50,47% dan yang tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 49,53%. ASI bermanfaat khususnya bagi bayi untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, menjadikan bayi lebih sehat, cerdas dan bisa menyesuaikan diri. Ibu yang memberikan imunisasi pada anak balitanya sesuai dengan umurnya yaitu sejumlah 99,07%. Pemberian imunisasi ini dilakukan pada balita umur 0-1 tahun. Jenis imunisasi HB 0 diberikan umur 0-7 hari, BCG, polio 1 diberikan umur 1 bulan, DPT/HB 1, polio 2 diberikan umur 2 bulan, DPT/HB 2, polio 3 diberikan umur 3 bulan, DPT/HB 3, polio 4 diberikan umur 4 bulan, campak diberikan umur 9 bulan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENYULUHAN MP ASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN IBU DALAM PEMBERIAN MP ASI DI PUSKESMAS SAMIGALUH I

PENGARUH PENYULUHAN MP ASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN IBU DALAM PEMBERIAN MP ASI DI PUSKESMAS SAMIGALUH I

Simpulan Hasil Penelitian dan Saran: Ada pengaruh penyuluhan MP ASI terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam pemberian MP ASI hal ini ditunjukan dari hasil uji statistik dengan wilcoxon signed ranks test diperoleh p value sebesar 0,000 dimana nilai p value < 0,05. Diharapkan ibu hamil patuh mengkonsumsi tablet Fe, melihat pentingnya mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan serta akibat yang dapat ditimbulkan bila tidak dikonsumsi secara tepat.

7 Baca lebih lajut

POLA ASUH MAKAN PADA BALITA DENGAN STATUS GIZI KURANG DI JAWA TIMUR, JAWA TENGAH DAN KALIMANTAN TENGAH, TAHUN 2011 (Feeding Pattern for Under Five Children with Malnutrition Status in East Java, West Java, and Central Kalimantan, Year 2011)

POLA ASUH MAKAN PADA BALITA DENGAN STATUS GIZI KURANG DI JAWA TIMUR, JAWA TENGAH DAN KALIMANTAN TENGAH, TAHUN 2011 (Feeding Pattern for Under Five Children with Malnutrition Status in East Java, West Java, and Central Kalimantan, Year 2011)

Kebiasaan makan di masing-masing daerah ternyata sebagian besar ibu balita BGM mempunyai kebiasaan memberikan makanan seadanya dan belum memperhatikan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh balita. Jika keadaan ini berlangsung terus menerus maka balita akan kekurangan zat gizi terutama protein dan lemak yang sangat dibutuhkan balita pada usia tersebut, sehingga dapat menghambat pertumbuhan balita dan akhirnya menjadi pendek- sangat pendek (stunting). Oleh karena itu mayoritas ibu balita mengharapkan adanya penyuluhan tentang kesehatan dan gizi juga pengobatan, serta bantuan yang berupa makanan bergizi dan pemberian multi vitamin. Sebagian ibu balita merasa belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang gizi dari petugas kesehatan. Para ibu balita berharap mendapat penyuluhan tentang cara pemberian makan yang benar baik kepada balita maupun kepada pengasuhnya, sehingga mereka mengerti cara memberikan makanan yang bergizi, bervariasi, berimbang dan aman.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI), UMUR PERTAMA PEMBERIAN DAN  Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI, Umur Pertama Pemberian dan Kesesuaian Porsi MP-ASI dengan Status Gizi Bayi Usia 7-12Bulan di Kecamatan J

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI), UMUR PERTAMA PEMBERIAN DAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI, Umur Pertama Pemberian dan Kesesuaian Porsi MP-ASI dengan Status Gizi Bayi Usia 7-12Bulan di Kecamatan J

Pendahuluan : Pemberian MP-ASI harus dimulai setelah bayi berusia 6 bulan. Seorang ibu yang memiliki tingkat pengetahuan kurang akan menyebabkan permasalahan pemberian MP-ASI pada bayinya yaitu pemberian terlalu dini, pemberian terlambat, frekuensi dan porsi yang tidak sesuai umur.

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN JENIS ASUPAN MAKANAN PENDAMPING ASI DOMINAN DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 6 – 24 BULAN

HUBUNGAN JENIS ASUPAN MAKANAN PENDAMPING ASI DOMINAN DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 6 – 24 BULAN

Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, Global Strategy for Infant and Young Child Feeding dari WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan, yaitu memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih. (Almatsier, 2001; LINKAGE, 2004). Peranan MP-ASI sama sekali bukan untuk menggantikan ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI. (Krisnatuti dan Yenrina, 2008).
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI DENGAN PERILAKU PEMBERIAN MP-ASI DAN STATUS GIZI PADA BADUTA USIA 6-24 BULAN  Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Mp-Asi Dengan Perilaku Pemberian MP-ASI Dan Status Gizi Pada Baduta Usia 6-24 Bulan Di Kelurahan Kestala

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI DENGAN PERILAKU PEMBERIAN MP-ASI DAN STATUS GIZI PADA BADUTA USIA 6-24 BULAN Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Mp-Asi Dengan Perilaku Pemberian MP-ASI Dan Status Gizi Pada Baduta Usia 6-24 Bulan Di Kelurahan Kestala

Salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi status gizi seseorang adalah lingkungan fisik seperti cuaca, iklim, kondisi tanah, sistem bercocok tanam, dan kesehatan lingkungan atau sanitasi lingkungan (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007). Sanitasi lingkungan sangat terkait dengan ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, jenis lantai rumah serta kebersihan peralatan makan pada setiap keluarga. (Soekirman, 2000). C. MP-ASI

17 Baca lebih lajut

GAMBARAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MEMBERIKAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS PIPIN HERIYANTI YOGYAKARTA

GAMBARAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MEMBERIKAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS PIPIN HERIYANTI YOGYAKARTA

Kebanyakan ibu yang mulai memberikan makanan kepada bayinya mengalami sindrom ASI kurang. Wisnuwardhani (2006) menjelaskan bahwa sindrom ASI kurang adalah keadaan di mana ibu merasa bahwa ASI- nya kurang, dengan berbagai alasan yang menurut ibu merupakan tanda tersebut, misalnya ASI berubah kekentalannya, bayi lebih sering minta disusui, bayi minta disusui pada malam hari, bayi lebih cepat selesai menyusu dibanding sebelumnya dan keadaan payudara kecil,.

8 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH  Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Mp-Asi Dengan Ketepatan Waktu Pemberian Mp-Asi Dan Status Gizi Balita Usia 6-24 Bulan Di Posyandu Permata Desa Baki Pandeyan Kabupaten Sukoharjo.

KARYA TULIS ILMIAH Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Mp-Asi Dengan Ketepatan Waktu Pemberian Mp-Asi Dan Status Gizi Balita Usia 6-24 Bulan Di Posyandu Permata Desa Baki Pandeyan Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan laporan langsung dari Bidan Desa Baki bulan Desember 2011, balita usia 6-24 bulan dengan status gizi buruk 0,82% dan balita status gizi kurang 2,90%. Praktek pemberian MP-ASI di lingkungan Posyandu Permata masih 83,6% ibu memberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan

18 Baca lebih lajut

ARTIKEL ILMIAH  Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Mp-Asi Dengan Ketepatan Waktu Pemberian Mp-Asi Dan Status Gizi Balita Usia 6-24 Bulan Di Posyandu Permata Desa Baki Pandeyan Kabupaten Sukoharjo.

ARTIKEL ILMIAH Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Mp-Asi Dengan Ketepatan Waktu Pemberian Mp-Asi Dan Status Gizi Balita Usia 6-24 Bulan Di Posyandu Permata Desa Baki Pandeyan Kabupaten Sukoharjo.

Practice of MP-ASI providing (breastfeeding) in setting of Posyandu Permata was 83.6% of mothers giving MP-ASI before their children achieved 6 months old. Purpose of the research is to know correlation between mother’s knowledge about MP-ASI and appropriate timing of MP-ASI providing and nutritional status of 6-24 months old young children of Posyandu Permata of Baki Village, Pandeyan, Sukoharjo Regency. The research is an observational one with cross-sectional design. Number of respondents is 57 mothers. Data is taken by using questionnaire and then, the data is analyzed by using correlational test of chi-square. Results of the research were: (1) knowledge of mothers about MP- ASI can be categorized as high (73.68%; (2) appropriate timing of MP-ASI providing was not correct (59.65%); (3) nutritional status of the young children can be categorized as good (80.70%). Conclusion of the research indicates that there is correlation between mother’s knowledge about MP -ASI and appropriate timing of MP-ASI providing, there is no correlation between appropriate timing of MP-ASI providing and nutritional status of young children, and there is no mother’s knowledge about MP -ASI and nutritional status of young children. Key words: Knowledge, MP-ASI, appropriate timing of MP-ASI providing,
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

97 GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI KELURAHAN KUTO BATU KOTA PALEMBANG Rizki Nurmaliani1 , Fatmalina Febry2 , Rini Mutahar2

97 GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI KELURAHAN KUTO BATU KOTA PALEMBANG Rizki Nurmaliani1 , Fatmalina Febry2 , Rini Mutahar2

Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang pemberian MP-ASI akan lebih tahu keuntungan dan kerugian apabila MP-ASI diberikan dengan cara yang baik atau tidak dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan yang kurang. Hal ini akan lebih mendorong ibu untuk memberikan MP-ASI secara benar dan tepat kepada anaknya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2008) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu terhadap cara pemberian MP-ASI.

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...