dan Disposisi Matematis

Top PDF dan Disposisi Matematis:

PENERAPAN MODEL PENEMUAN TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SERTA HUBUNGANNYA TERHADAP DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMK Asep Suryana NPM. 158060047 UNPAS (email: asurazwer@gmail.com) H. Bana. G. Kartasasmita, P

PENERAPAN MODEL PENEMUAN TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SERTA HUBUNGANNYA TERHADAP DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMK Asep Suryana NPM. 158060047 UNPAS (email: asurazwer@gmail.com) H. Bana. G. Kartasasmita, P

Penerapan model penemuan terbimbing untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, pemecahan masalah matematis serta hubungannya terhadap disposisi siswa SMK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan komponen-komponen pembelajaran agar dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta hubungannya terhadap disposisi matematis siswa SMK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Mixed Method (Metode Campuran) tipe The Embedded Design dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMKN 2 Bandung. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan komunikasi, pemecahan masalah matematis dan disposisi matematis siswa yang mendapat pembelajaran penemuan terbimbing lebih baik dari pada siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori. Terdapat korelasi antara kemampuan komunikasi, pemecahan masalah matematis dan disposisi matematis pada pembelajaran penemuan terbimbing.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Makalah 12 LSM April 2010  Asosiasi KPMM dan Disposisi Matematis

Makalah 12 LSM April 2010 Asosiasi KPMM dan Disposisi Matematis

Dari hasil analisis data memang menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis tidak berasosiasi dengan disposisi matematis. Namun, dapat dipahami bahwa bila terdapat dua siswa yang mempunyai potensi matematis yang sama, tetapi memiliki disposisi matematis berbeda, diduga kuat bahwa kedua siswa tersebut akan memiliki kemampuan atau kompetensi yang berbeda. Siswa yang memiliki disposisi tinggi akan lebih gigih, tekun, dan berminat untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Hal ini menjadikan siswa tersebut memiliki pengetahuan lebih dibandingkan siswa yang tidak menunjukkan perilaku demikian. Selanjutnya pengetahuan lebih itu akan berimplikasi pada terbentuknya kompetensi atau kemampuan matematis, termasuk kemampuan pemecahan masalah matematis. Dengan demikian jelas bahwa disposisi matematis memang merupakan prasyarat yang menunjang kemampuan masalah matematis.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN PEMBUKTIAN MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS ANTARA SISWA YANG BELAJAR MELALUISTRATEGI THINK-TALK-WRITEDENGAN SISWA YANG BELAJAR MELALUI EKSPOSITORI : Studi Komparatif pada Salah Satu SMA di Bandung.

KEMAMPUAN PEMBUKTIAN MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS ANTARA SISWA YANG BELAJAR MELALUISTRATEGI THINK-TALK-WRITEDENGAN SISWA YANG BELAJAR MELALUI EKSPOSITORI : Studi Komparatif pada Salah Satu SMA di Bandung.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemberian alasan pada bukti, kemampuan mengonstruksi bukti matematis dan disposisi matematis antara siswa yang belajar melalui strategi think-talk-write dan siswa yang belajar melalui ekspositori, serta untuk mengetahui ada atau tidaknya asosiasi antara: a) kemampuan pemberian alasan pada bukti matematis dan kemampuan mengonstruksi bukti matematis; b) kemampuan pemberian alasan pada bukti matematis dengan disposisi matematis; c) kemampuan mengonstruksi bukti matematis dengan disposisi matematis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi-Eksperimen, dengan sampel penelitian adalah 2 kelas siswa kelas X yang diambil dari populasi siswa SMA kelas X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemberian alasan pada bukti matematis dan mengonstruksi bukti matematis antara siswa yang belajar melalui strategi pembelajaran think-talk-write dengan siswa yang belajar melalui ekspositori; disposisi matematis siswa yang belajar melalui strategi pembelajaran think-talk-write tidak lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar melalui ekspositori; tidak terdapat asosiasi antara kemampuan mengonstruksi bukti matematis dengan kemampuan pemberian alasan pada bukti matematis; tidak terdapat asosiasi antara kemampuan pemberian alasan dalam pembuktian matematis dengan disposisi matematis; dan terdapat asosiasi negatif antara kemampuan mengonstruksi bukti dengan disposisi matematis.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Meningkatkan Kemampuan Pemahaman, Komunikasi, dan Disposisi Matematis Siswa melalui Pendekatan Kontekstual.

Meningkatkan Kemampuan Pemahaman, Komunikasi, dan Disposisi Matematis Siswa melalui Pendekatan Kontekstual.

Selain pendekatan dan strategi yang akan diterapkan, serta kemampuan pemahaman, komunikasi, dan disposisi matematis yang akan diteliti, terdapat hal lain yang harus diperhatikan dalam pembelajaran, yaitu kemampuan awal matematika. Hal ini disebabkan karena matematika merupakan ilmu yang memiliki keterkaitan antara satu konsep dan konsep lainnya, sehingga siswa diharapkan mampu mengaitkan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya, sehingga pembelajaran yang terjadi menjadi bermakna. Seperti yang diungkapkan oleh Ausubel (Ruseffendi, 2006: 172) belajar bermakna adalah belajar yang untuk memahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih mengerti.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

View of ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PADA MATERI ALJABAR SMP BERDASARKAN DISPOSISI MATEMATIS

View of ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PADA MATERI ALJABAR SMP BERDASARKAN DISPOSISI MATEMATIS

Disposisi matematis merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan belajar siswa. Siswa memerlukan disposisi yang akan menjadikan mereka gigih menghadapi masalah yang lebih menantang dan mengembangkan kebiasaan baik pada pembelajaran matematika. Menurut Widjajanti (2011: 3) berpendapat bahwa seorang peserta didik yang mempunyai disposisi produktif yang tinggi cenderung akan mampu mengembangkan kecakapan matematis mereka dalam hal pemahaman konseptual, kelancaran prosedural, kompetensi strategis, dan penalaran adaptif. Kemudian Wardani (2009: 15) mendefinisikan disposisi matematis adalah ketertarikan dan apresiasi terhadap matematika yaitu kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dengan positif, termasuk kepercayaan diri, keingitahuan, ketekunan, antusias dalam belajar, gigih menghadapi permasalahan, fleksibel bersedia berbagi dengan orang lain, reflektif dalam kegiatan matematis.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas X Semester Genap MAN 1 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2015/2016)

EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas X Semester Genap MAN 1 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2015/2016)

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas model problem based learning ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa. Penelitian ini menggunakan design post test only control group. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAN 1 Bandarlampung tahun pelajaran 2015/2016 yang diambil 2 kelas sebagai sampel melalui teknik purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif. Instrumen penelitian yang digunakan ialah instrument tes untuk melihat kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang terdiri dari soal post test dan instrument non tes untuk melihat disposisi matematis siswa yang terdiri dari angket disposisi matematis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa model problem based learning efektif ditinjau dari pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA KELAS VII PADA MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER MATERI SEGIEMPAT

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA KELAS VII PADA MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER MATERI SEGIEMPAT

Kesulitan dalam mengkomunikasikan solusi dari permasalahan matematika dan minat siswa terhadap matematika menjadi permasalahan SMP Negeri 4 Ungaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika, diperoleh keterangan bahwa pada dasarnya sebagian besar siswa tidak memahami konsep serta kemampuan siswa akan komunikasi dan disposisi matematis siswa masih tergolong kurang. Hal ini dapat dilihat dari (1) siswa ketika diberikan kesempatan bertanya siswa tidak bertanya, namun ketika diberikan soal latihan siswa kebingungan dalam menentukan solusi; (2) siswa belum bisa mengkomunikasikan solusi permasalahan matematika secara tertulis dengan benar; (3) siswa tidak mampu melakukan komunikasi antar siswa saat mengerjakan tugas kelompok, siswa cenderung mengerjakan sendiri kemudian teman yang lain mengikuti saja.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS, BERPIKIR ALJABAR, DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK.

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS, BERPIKIR ALJABAR, DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK.

5. Disposisi matematis adalah keinginan, kesadaran, dan dedikasi yang kuat pada diri siswa untuk belajar matematika dan melaksanakan berbagai kegiatan matematika. Pengukuran disposisi matematis siswa dilakukan melalui pengisian angket skala disposisi matematis pada aspek: (1) percayaan diri dalam menyelesaikan masalah matematika, (2) gigih dan tekun dalam melakukan penyelesaian tugas-tugas matematika; (3) fleksibel dan terbuka dalam melakukan eksplorasi ide-ide matematis dan mencoba berbagai metode untuk memecahkan masalah matematika; (4) memiliki minat dan rasa ingin tahu dalam mengerjakan tugas-tugas matematika; (5) melakukan monitoring dan refleksi terhdap proses berpikir dan hasil kerja matematika; (6) menghargai kegunaan matematika, baik peranan matematika dalam bidang ilmu lain maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DIKAJI DARI TINGKAT DISPOSISI MATEMATIS DI MADRASAH ALIYAH

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DIKAJI DARI TINGKAT DISPOSISI MATEMATIS DI MADRASAH ALIYAH

Dari Grafik 6 dapat dilihat bahwa untuk indikator memperinci (elaboration), siswa dengan disposisi matematis tinggi memperoleh rata-rata skor 2,2; siswa dengan disposisi matematis sedang memperoleh rata-rata skor 1,9; dan siswa dengan disposisi matematis rendah memperoleh rata-rata skor 1. Dari fakta tersebut ternyata siswa dengan disposisi matematis tinggi memiliki rata-rata skor yang lebih baik daripada disposisi matematis sedang dan rendah. Jika dibandingkan dengan Grafik 5, terdapat perbedaan yang fluktuatif antara rata-rata skor memperinci siswa dengan rata-rata skor berpikir orisinil. Dilihat dari deskripsi jawaban yang diberikan oleh siswa, diketahui bahwa penyebab terjadinya perbedaan tersebut adalah kemampuan memperinci siswa dalam menguraikan gagasan-gagasan baru masih rendah. Banyak siswa yang memberikan jawaban dengan menggunakan cara yang baru, namun tidak dapat menjelaskannya dengan rinci. Hal ini yang menyebabkan untuk indikator berpikir orisinil siswa tersebut sudah baik, namun dari indikator memperinci justru sebaliknya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

DISPOSISI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING

DISPOSISI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING

Disposisi matematis (mathematical disposition) menurut Kilpatrick, Swafford, dan Findell (dalam Sumarmo, 2010) adalah sikap produktif atau sikap positif serta kebiasaan untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang logis, berguna, dan berfaedah. Dalam konteks matematika, disposisi matematis (mathematical disposition) berkaitan dengan bagaimana siswa memandang dan menyelesaikan masalah; apakah percaya diri, tekun, berminat, dan berpikir fleksibel untuk mengeksplorasi berbagai alternatif strategi penyelesaian masalah. Disposisi juga berkaitan dengan kecenderungan siswa untuk merefleksi pemikiran mereka sendiri (NCTM, 2000). Belajar matematika tidak hanya mempelajari konsep, prosedur, dan aplikasi, namun juga termasuk mengembangkan disposisi terhadap matematika dan mengapresiasi matematika sebagai alat bantu yang ampuh untuk memahami situasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN UNTUK MENGUKUR DISPOSISI MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH

PENGEMBANGAN INSTRUMEN UNTUK MENGUKUR DISPOSISI MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH

Instrumen untuk mengukur disposisi matematis siswa dianalisis secara kualitatif oleh 5 panelis yang terdiri dari pakar dibidang matematika, bahasa, dan psikologi, serta dua guru matematika untuk mengukur validitas isi. Berdarkan hasil penilaian validitas instrumen oleh panelis diperoleh 45 butir diputuskan valid dengan indeks kesesuaian lebih besar dari 0,60 dengan catatan revisi untuk beberapa butir pernyataan. Validitas instrumen oleh panelis diperoleh dengan indeks kesesuaian lebih besar dari 0,60 hal ini dikarenakan dari kelima panelis rata-rata memberikan penliaian dari 45 pernyataan dengan nilai 4 dan 5 yaitu sesuai dan sangat sesuai walaupun dengan catatan direvisi dan jika paling rendah panelis memberikan nilai 3 yaitu cukup sesuai namun hanya terdapat beberapa panelis yang memberikan nilai 3. Interpretasi terhadap nilai validitas yang digunakan berdasarkan kriteria Nurgana (dalam Jihad dan Haris, 2013 : 180). Adapun pernyataan yang direvisi adalah pernyataan nomor 13, 30, 39, 26, 20, 32, 10, 2, 33, 43, 14, 28, 29, 4, 44, 27, 5, 24. Dan pernyataan 35 pindah dari indikator 5.2 ke indikator 5.1.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PESISIR TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMP | Karya Tulis Ilmiah

PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PESISIR TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMP | Karya Tulis Ilmiah

Kemampuan komunikasi matematis siswa SMP secara umum masih tergolong rendah. Masalah ini disebabkan kurangnya pembelajaran yang mengaitkan materi matematika di sekolah dengan masalah kontekstual khususnya konteks pesisir. Untuk itu, perlu adanya pembelajaran yang dapat menyadarkan siswa dalam mengkomunikasikan masalah-masalah pesisir di lingkungannya. Hal ini dilakukan untuk mencegah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang disebabkan pengetahuan yang terbatas dalam mengembangkan sumber daya pesisir yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis (KKM) dan disposisi matematis (DM) siswa melalui penerapan pembelajaran kontekstual pesisir (PKP). Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan KKM dan DM siswa yang mendapat PKP memperoleh peningkatan yang secara signifkan lebih tinggi daripada siswa yang mendapat PKV. Peningkatan KKM siswa yang mendapat PKP berada kategori sedang, akan tetapi, DM siswa berada kategori rendah. Berdasarkan analisis terhadap data observasi dan wawancara menunjukkan bahwa PKP dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERANAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS

PERANAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS

Sesuai dengan SKL kurikulum 2013, pada pembelajaran matematika peserta didik tidak sekedar belajar pengetahuan kognitif, namun dia diharapkan memiliki sikap kritis dan cermat, obyektif dan terbuka, menghargai keindahan matematika, serta rasa ingin tahu, berfikir dan bertindak kreatif, serta senang belajar matematika. Sikap dan kebiasaan berfikir seperti itu pada hakikatnya akan membentuk dan menumbuhkan disposisi matematis yaitu keinginan, kesadaran dan dedikasi yang kuat pada diri peserta didik untuk belajar matematika dan melaksanakan berbagai kegiatan matematika (Sumarmo, 2013).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Menumbuhkan Kemampuan Disposisi Matematis Melalui PBL-Team Teaching

Menumbuhkan Kemampuan Disposisi Matematis Melalui PBL-Team Teaching

Instrumen yang digunakan berupa angket berisikan skala disposisi matematis. Sebelum dan setelah penelitian, siswa diberi angket disposisi Matematis. Skala disposisi matematis yang digunakan memuat 7 indikator yakni (1) percaya diri, (2) fleksibel, (3) gigih, (4) berminat, memiliki keingintahuan dan daya cipta, (5) refleksi, (6) menghargai aplikasi matematika, dan (7) mengapresiasi peran matematika menurut NCTM (Choridah, 2013). Skala disposisi yang digunakan terdiri dari 30 item dengan empat pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS) (Clason & Dormody, 1994) (Boone & Boone, 2012). Sebelum angket digunakan, angket divalidasi untuk mengukur validitas isi. Aspek yang diukur meliputi kesesuaian pernyataan dengan aspek disposisi, kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa menengah atas (usia 15 – 19 tahun), kejelasan soal ditinjau dari segi bahasa atau redaksional, dan kejelasan sajian atau penampilan. Sebelum skala disposisi digunakan, terlebih dahulu diujicobakan pada 43 siswa yang bukan kelompok sampel untuk menguji keterbacaan. Perhitungan skor item disposisi selanjutnya dilakukan dengan program Microsoft Office Excel 2007. Hasil dan Pembahasan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1402976 Chapter1

T MTK 1402976 Chapter1

Visi pembelajaran matematika menurut Sumarmo (2013, hlm.77) yaitu: (1) mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep dan ide matematika yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah matematika dan ilmu pengetahuan lainnya, (2) mengembangkan kemampuan bernalar, berfikir sistematik, kritis dan cermat, menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa keindahan terhadap keteraturan sifat matematika, mengembangkan sikap objektif dan terbuka yang diperlukan dalam menghadapi masa depan. Sikap belajar yang dikembangkan sesuai visi pembelajaran matematika secara akumulatif akan menumbuhkan disposisi matematis siswa. Dari beberapa definisi tersebut maka sudah selayaknya siswa perlu memiliki dan mengembangkan disposisi matematis agar selalu berpikir positif untuk mempelajari dan mengimplementasikan matematika, yang diharapkan akan berdampak pada proses pembelajaran dan hasil belajar yang lebih optimal sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1201459 Chapter3

T MTK 1201459 Chapter3

Sebelum skala disposisi ini diterapkan, dilakukan uji validitas expert . Dalam hal ini yang bertindak sebagai evaluator adalah 4 orang dosen. Tahap pertama, skala disposisi matematis ini divalidasi oleh 2 orang dosen dan 1 orang ahli bahasa untuk memperoleh gambaran apakah pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam skala disposisi matematis dapat dipahami oleh siswa Sekolah Menengah Pertama. Dari hasil uji validitas teoritik, tersebut terdapat beberapa item yang kurang ringkas dan tepat dari segi bahasa, sehingga pembimbing menyarankan peneliti untuk memperbaiki dan membuang beberapa item skala disposisi matematis sebelum diujicobakan kepada siswa agar layak untuk digunakan pada uji tahap kedua.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1201459 Abstract

T MTK 1201459 Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji masalah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa sebelum dan setelah memperoleh pembelajaran the firing line dan konvensional, serta melihat disposisi matematis setelah pembelajaran the firing line . Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan desain kelompok kontrol non-ekuivalen dan populasi siswa kelas VIII di SMPN 7 Padang. Sampel terdiri dari dua kelas yang dipilih secara purporsif yaitu kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional dan kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran the firing line . Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini ialah instrumen tes kemampuan komunikasi matematis dan skala disposisi matematis. Analisis data yang digunakan adalah uji perbedaan rataan dua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran the firing line lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, (2) disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran the firing line berbeda dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1308093 Abstract

T MTK 1308093 Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan kemampuan komunikasi dan disposisi matematis siswa SMP melalui model pembelajaran Deeper Learning Cycle (DELC) . Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung, dengan mengambil dua kelas sebagai sampel menggunakan teknik purposive sampling dari 10 kelas yang tersedia. Adapun sampelnya, yaitu sebanyak 35 siswa kelas eksperimen dan 35 siswa kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran dengan mengikuti model Deeper Learning Cycle (DELC) dan kelas kontrol mengikuti model ekspositori. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretes dan postes untuk kemampuan komunikasi dan disposisi matematis siswa. Untuk melihat peningkatan kemampuan komunikasi dan disposisi matematis siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, digunakan independent sample t-test, dan Mann- Whitney dengan taraf signifikansi 0,05, setelah prasyarat pengujian terpenuhi. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 22,sedangkan analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis serta pencapaian disposisi matematis siswa yang mengikuti pembelajaran model Deeper Learning Cycle (DELC) lebih baik dari kelas kontrol. Terdapat asosiasi yang sedang antara pencapaian postes kemampuan komunikasi dan disposisi matematis siswa. Analisis data skala sikap disposisi matematis menunjukkan bahwa secara umum siswa memiliki respon positif dengan mengikuti model pembelajaran Deeper Learning Cycle (DELC).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI MEA DALAM MENINGKATKAN REPRESENTASI DAN DISPOSISI MATEMATIKA SISWA SMA DITINJAU DARI KAM EKO SUSILO Guru SMA Negeri 1 Soreang Kabupaten Bandung Email: ekosoesilo@yahoo.com ABSTRAK - IMPLEMENTASI MODEL ELICITING ACTIVITIES DALAM MENINGKATKAN K

IMPLEMENTASI MEA DALAM MENINGKATKAN REPRESENTASI DAN DISPOSISI MATEMATIKA SISWA SMA DITINJAU DARI KAM EKO SUSILO Guru SMA Negeri 1 Soreang Kabupaten Bandung Email: ekosoesilo@yahoo.com ABSTRAK - IMPLEMENTASI MODEL ELICITING ACTIVITIES DALAM MENINGKATKAN K

Tingkat disposisi matematis siswa dengan pembelajaran model eliciting activities lebih baik daripada siswa dengan pembelajaran konvensional. Hal ini disebabkan dari hasil angket, wawancara dan pengamatan disimpulkan bahwa siswa menilai pembelajaran model eliciting activities membuat mereka lebih tertarik pada matematika, adanya diskusi membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang sulit waktu pembelajaran di kelas, karena saling bertukar ide, pendapat atau gagasan dengan siswa lain mereka menjadi merasa tidak malu untuk bertanya kepada teman. Disposisi matematis siswa menurut Kilpatrick et al. (2001: 131) merupakan faktor utama dalam menentukan kesuksesan belajar matematika siswa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...