dan M

Top PDF dan M:

Sistem antrian M/G/I, M/M/I dan M/D/I

Sistem antrian M/G/I, M/M/I dan M/D/I

Sekarang kita perhatikan sistem antrian M/G/1 dalam keadaan steady-state dengan variasi sebagai berikut. Server bekerja secara kontinu selama setidaknya ada satu costumer di sistem. Ketika server telah menyelesaikan pelayanan terhadap costumer dan menemukan sistem kosong, maka server akan pergi keluar sistem untuk suatu panjang waktu yang disebut dengan waktu libur server. Di akhir waktu liburnya, server kembali ke sistem dan bersiap untuk memulai melayani costumer kembali, jika ada, yang sampai selama waktu libur server. Jika di akhir waktu liburnya server mengetahui bahwa tidak ada costumer yang menunggu, maka server akan segera mengambil waktu libur kembali dan berlanjut terus sampai server menemukan setidaknya ada satu costumer yang sedang menunggu ketika server kembali dari waktu liburnya.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG  HOTEL M & M YOGYAKARTA  PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL M & M YOGYAKARTA.

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL M & M YOGYAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL M & M YOGYAKARTA.

Perencanaan struktur bangunan terutama bangunan gedung bertingkat tinggi memerlukan suatu analisis struktur yang mengarah pada perencanaan bangunan tahan gempa. Dalam tugas akhir ini, penulis mempelajari bagaimana merancang elemen-elemen struktur pada bangunan Hotel M & M Yogyakarta agar gedung tersebut mampu mendukung beban-beban yang bekerja.

15 Baca lebih lajut

PENDEKATAN ANTRIAN M M C DALAM PERENCANA

PENDEKATAN ANTRIAN M M C DALAM PERENCANA

Algoritma penerapan teknik shojinka dalam perencanaan kebutuhan tenaga kerja di sistem layanan bersifat stokastik dengan pendekatan model antrian M/M/c terdiri dari 3 langkah. Sistem layanan usaha “X” dengan waktu antar kedatangan rata-rata sebesar 1,43 menit dan waktu pelayanan rata-rata sebesar 7,24 menit, membutuhkan 8 orang tenaga kerja untuk ditugaskan sebagai petugas layanan agar mampu memberikan pelayanan yang memadai dengan tingkat pelayanan sebesar 98,2064% dan panjang antrian yang masih dapat ditoleransi sebanyak 4 orang.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

CQLC3 Ix nm £ m m

CQLC3 Ix nm £ m m

Otto a ta fo p a ccata Hfaiergo Baqpfefftti caftt arere «*£ * Itid - lc ld t o dao o « c cs d l pegs q ste % t o W lm iEa tn l c&Leh fcrit o c a* t o t t&st Jcxb Min fcxaSlai « e c te « y a oEnJueetflfc# lo reaa a tte Jo n E3%cm t d o tta fcitifcosnceai ys2c csetttftel cs *ifl totsaronai crcac*- fess* e £ s borfcci cw s x iid fesrta p a d n ix tta «ff«S tacfipb edaldi bs &cs os&a ctdtx&a tatt^Safc# 0£ln fccgtoaga tare &o t fticte a cdo laV M l cxfSai t&Bcgftdbax* cdta fe ytis a-tis a eSafe terocbcfc t&S& t t o c » - tsfflcd fearta pcsdxcgt&cn caeqs tBsapoj te s te p s &g z &c i i t o ftteasio 1 <fteh bdlosxc» dart s lltQ# c te fliya arafera utea e^u&m>» peres j« » daari ( Alta . J ^ a fed le d dsat ess&ft brritrtrerf poydLttnA* cqp a M ia Sedtaasga yvoQ conn c=S»t± 25 J d icte s , t&t&di <Sc*i cbSsi fibkU* Delta t e l *n i kk&* toafta&y hsrfca pcnlrec&cn araac tossy a* hs&a i& tss+t life W tflfth jraos besfedx c s jcrl ciqya^ t o tsxfctifcp feo&a ciH i •
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Manusia sebagai M Individu dan M sosial

Manusia sebagai M Individu dan M sosial

Membaca, mendengar, dan menyimak bagaimana mereka diperlakukan oleh pemilik perusahaan mulai dari sistem perekrutan, penyekapan di pabrik, harus menikmati fasilitas yang jauh dari layak,[r]

8 Baca lebih lajut

M ENGGUNAKAN M ETODE

M ENGGUNAKAN M ETODE

'$ Masih terdapat kekurangan dalam penelitian ini sehingga perlu pengembangan agar menjadi lebih baik lagi, untuk penelitian lebih lanjut seperti, sistem presensi yang dibangun dapat me[r]

8 Baca lebih lajut

M E M B U A T  F O R M

M E M B U A T F O R M

Komponen pendukung yang diperlukan bisa berupa inputan teks dan bisa juga berupa tombol eksekusi dan biasanya disajikan dalam bentuk formulir... Dasar Penggunaan Formulir 1 Didalam [r]

17 Baca lebih lajut

Persebaran Syzygium endemik Jawa

Persebaran Syzygium endemik Jawa

Sinonim: Eugenia suringariana Koord. & Valeton Perawakannya berupa pohon, tinggi 5-20 m. Perbungaannya di ujung, sangat pendek; bunga 3-7, menempel. Buah beri, berbentuk membulat sampai membulat telur. Tumbuh di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa Barat, dijumpai di daerah Priangan, Cianjur, Jampang Wetan, Takoka (Nama daerah: “Koppo”, “Koppo Lalay”) pada ketinggian 1200 m dpl. Selain itu dijumpai di Ciwidei (Nama daerah : “Ki tales”) pada ketinggian 1300 m dpl. dan Bogor (hutan komplek Nanggung, G. Menapa) pada ketinggian 500 m dpl. Di Banyumas, Banjarnegara, Singomerto, di lahan hutan G. Kapal di Pandanarum (Nama daerah: “? Blagbag”) pada ketinggian 900 m dpl. Berbunga mulai bulan Juli- Desember. Kayunya untuk bangunan rumah (Haron, et al.,1995). Jenis ini telah dikonservasi secara ex-situ di Kebun Raya Bogor (Rismita et al. 2010)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Impact of land conversion policy in sago as an effort for implementation of the Paddy Field Development Program in the West Halmahera District, North Maluku

Impact of land conversion policy in sago as an effort for implementation of the Paddy Field Development Program in the West Halmahera District, North Maluku

Hasil analisis usahatani padi sawah yang dilakukan menunjukan bahwa luas lahan rata-rata adalah 0,27 ha atau 2.700 m 2 , dengan produksi rata-rata 400 kg atau setara dengan 1,482 kg/Ha. Rata-rata pendapatan usahatani padi sawah dengan luas lahan 0,27 hektar sebesar Rp. 3,157,000,-dengan keuntungan bersih sebesar Rp. 1,960,333,- Usahatani padi masih layak untuk dilakukan karena nilai R/C ratio = 4,75 (Lebih besar dari 1), artinya bahwa dengan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.1,000, penerimaan yang diperoleh petani sebesar Rp. 4,750. Hasil perhitungan menunjukan bahwa usahatani padi sawah seluas 0,27 ha mengalami break event jika penerimaan sebesar Rp. 363.929 per petak atau Rp. 1,347,900 per hektar , produksi 36,39 kg per musim atau 134,79 per hektar. Sementara sagu, layak dengan perbandingan 52,08 artinya bahwa mengeluarkan biaya sebesar Rp. 1000, penerimaan yang diperoleh sebesar Rp. 52,008. Titik impas atau BEP penerimaan tanaman sagu sebesar Rp 310,163 per hektar dan produksi sebesar 62,03 kg. Artinya bahwa semakin banyak hasil produksi, semakin rendah nilai harga jual dan semakin lama proses mencapai BEP, namun semakin mudah untuk mengikat konsumen. Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin tinggi nilai jual barang dan semakin cepat untuk mencapai BEP. Dari hasil produksi BEP di daerah penelitian, menunjukkan bahwa padi sawah lebih kecil nilai BEP produksinya sehingga lebih mudah untuk mengikat konsumen, berbeda dengan tanaman sagu BEP produksinya lebih besar. Pergeseran nilai konsumsi di masyarakat, yang lebih cenderung mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok, dan sagu hanya sebagai makanan pokok sampingan, merupakan salah satu faktor pendorong petani di Kabupaten Halmahera Barat lebih memilih untuk berusahatani padi sawah. Akan tetapi mengkonsumsi sagu oleh masyarakat tidak dapat dihilangkan begitu saja atau tersubtitusi dengan keberadaan pangan lain, karena sagu yang diolah menjadi popeda oleh masyarakat, merupakan makanan khas yang tidak dapat ditinggalkan, karena itu merupakan kebiasaan masyarakat Maluku Utara pada umumnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kemampuan jamur melarutkan senyawa posfat

Kemampuan jamur melarutkan senyawa posfat

Jamur Penicillium sp. R7.5 dan Aspergillus niger NK merupakan jamur hasil isolasi dari tanah mangrove dan tanah kering. Kedua jamur ini akan digunakan untuk pembuatan pupuk hayati jamur untuk pertanian di daerah pantai atau daerah pasang surut. Kedua daerah tersebut mempunyai lahan mengandung salinitas tinggi dan bersifat alkalin sehingga tidak subur. Kedua jamur di atas ditumbuhkan pada media mengandung air laut dengan konsentrasi 0, 25, 50, 75 dan 100% atau dengan salinitas 1,2; 14,2; 19,8; 27,7; 44,5 dS/m. Setelah diinkubasi selama tiga hari pada suhu ruang ternyata kedua jamur tersebut dapat tumbuh pada semua media. Pada media dengan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Struktur dan komposisi vegetasi agroforestri tembawang di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Struktur dan komposisi vegetasi agroforestri tembawang di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Penelitian dilakukan melalui pengamatan vegetasi dan wawancara terhadap pengelola tembawang. Pengamatan vegetasi penyusun tembawang dilakukan hanya terhadap pohon dengan membuat petak cuplikan (10 m x 10 m) sebanyak10 ulangan. Semua pohon berdiameter ≥ 10 cm dalam petak contoh diinventarisir di ukur keliling batangnya. Identifikasi spesies pohon menggunakan nama ilmiah maupun nama lokal yang dilakukan langsung dilapangan, sedangkan untuk spesies yang tidak dikenal dilakukan pengumpulan contoh herbarium yang selanjutnya diidentifikasi di Herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Bogor. Untuk mengetahui manfaat tembawang bagi masyarakat dilakukan wawancara terstruktur dengan menggunakan kuisioner.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Selection of F2 population soybean derived from crosses between whitefly-tolerant soybean lines with Grobogan varieties

Selection of F2 population soybean derived from crosses between whitefly-tolerant soybean lines with Grobogan varieties

Abstrak. Sulistyo A. 2015. Seleksi kedelai populasi F2 hasil persilangan antara galur kedelai toleran kutu kebul dengan varietas Grobogan. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1: 1142-1146. Budidaya tanaman kedelai (Glycine max) di Indonesia sering menghadapi gangguan karena serangan hama, salah satunya adalah kutu kebul (Bemisia tabaci). Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Di Indonesia belum tersedia varietas unggul kedelai yang khusus dirakit dengan ketahanan terhadap kutu kebul. Galur-galur kedelai toleran kutu kebul yang ada di Balitkabi (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi), masih perlu perbaikan karakter komponen hasil. Varietas Grobogan merupakan kedelai lokal dari Jawa Tengah yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional dengan keunggulan umur genjah, biji besar dan daya hasil tinggi. Persilangan antara galur-galur kedelai toleran kutu kebul dengan Grobogan diharapkan akan diperoleh varietas kedelai toleran kutu kebul, berumur genjah, berbiji besar dan berdaya hasil tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi populasi F2 hasil persilangan antara galur-galur kedelai toleran kutu kebul dengan varietas Grobogan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Muneng, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur sejak bulan April s.d. Juni 2014. Materi genetik yang digunakan adalah 75 galur F2 hasil persilangan antara galur kedelai toleran kutu kebul (IAC-100/Kaba-8, IAC-100/Burangrang-54, dan IAC-100/Kaba-14) dengan varietas Grobogan. Tiga genotipe kedelai digunakan sebagai pembanding, yaitu varietas gema sebagai cek umur genjah dan biji sedang, varietas Grobogan sebagai cek umur genjah dan biji besar, dan galur IAC-100/Kaba-8 sebagai cek toleran kutu kebul. Seluruh materi genetik tersebut ditanam secara barisan tunggal sepanjang 4.5 m, dan ditempatkan ke dalam lima blok berbeda menggunakan rancangan augmented design. Pengamatan meliputi intensitas kerusakan daun, umur masak polong, jumlah polong isi, dan bobot 100 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman intensitas kerusakan daun, umur masak polong, jumlah polong, dan bobot 100 biji di antara 75 galur F2 yang diseleksi. Hasil seleksi diperoleh dua galur tahan berumur genjah dan berbiji besar, tiga galur tahan berumur sedang dan berbiji besar, 16 galur agak tahan berumur genjah dan berbiji besar, serta 20 galur agak tahan berumur sedang dan berbiji besar.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

The yield capacity of yellow srikandi maize variety at different SL-PTT locations in Central Sulawesi

The yield capacity of yellow srikandi maize variety at different SL-PTT locations in Central Sulawesi

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi produktivitas varietas srikandi kuning paling rendah, yaitu 2,80 t/ha pipilan kering. Hal ini disebabkan tingginya serangan hawar daun (>70%). Penyakit hawar daun (R. solani) dapat bertahan pada sisa bahan organik di lapang dan menurunkan hasil sebesar 90%, terutama pada varietas peka (Rahamma 1999; Pakki dan Muis, 2007). Selain itu, ketinggian tempat juga berpengaruh, dimana desa Bobo berada pada ketinggian 688 m dpl, berbeda dengan sembilan desa lainnya. Di desa Bubung, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai produktivitasnya juga rendah, yaitu 3,20 t/ha. Penyebabnya serangan penggerek batang 40% dan bulai 70%. Burhanuddin dan Pakki (1999) melaporkan bahwa penyakit bulai dapat menurunkan hasil jagung sebesar 87%. Semakin awal tanaman terinfeksi semakin besar kehilangan hasil yang diakibatkan oleh penyakit tersebut. Dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa tingkat ketahanan beberapa varietas unggul jagung nasional terhadap penyakit bulai cukup beragam dan masih banyak di antaranya yang tertular atau rentan (Azrai dan Kasim 2005; Azrai 2006). Hal inimenunjukkan bahwa tingkat
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

The ability Bacillus licheniformis to produce α-amylase enzyme

The ability Bacillus licheniformis to produce α-amylase enzyme

Sebanyak 0,5 ml larutan enzim ditambahkan ke dalam 0,5 ml substrat pati terlarut dengan konsentrasi yang tertinggi aktivitasnya dalam 0,05 M larutan bufer glisin- NaOH pH 8, kemudian diinkubasikan pada suhu 40 o C selama 10 menit. Produk yang terbentuk berupa gula reduksi (glukosa) diukur dengan metoda Bernfeld (1995) menggunakan asam 3,5 dinitrosalisilat (DNS) dan konsentrasinya dikonversikan dengan standar glukosa (Kiran et al. 2005). Satu unit aktivitas α-amilase adalah banyaknya enzim yang dapat menghasilkan gula reduksi sebanyak 1μmol per menit per ml larutan enzim pada kondisi pengujian yang dilakukan. Pengujian dilakukan 2 kali ulangan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Jeruju (Acanthus ilicifolius): Biji, perkecambahan dan potensinya

Jeruju (Acanthus ilicifolius): Biji, perkecambahan dan potensinya

Brink 1963). Tumbuhan ini jarang ditemukan di pedalaman. Ketinggian hingga 450 m dpl (Kasahara dan Hemmi 1995). Jenis ini ditemukan dari zona menengah ke hulu muara di pertengahan hingga daerah intertidal (Kovendan dan Murugan 2011). Acanthus ilicifolius lebih memilih daerah dengan masukan air tawar yang tinggi, dan jarang terendam air pasang, tersebar luas dan umum. Ditemukan pada semua jenis tanah, terutama daerah berlumpur sepanjang tepi sungai (Kovendan dan Murugan 2011). Tumbuh pada substrat berlumpur dan berpasir di tepi daratan hutan bakau (Ardli et al. 2011). Pertumbuhan ternaungi, hingga sepenuhnya terbuka (Yudhoyono dan Sukarya 2013), toleran terhadap naungan (Kovendan dan Murugan 2011).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Diversity and distribution of Selaginella in the Province of Yogyakarta Special Region

Diversity and distribution of Selaginella in the Province of Yogyakarta Special Region

The field study was carried out several times in August 2007, May and November 2010, November 2011 and August 2013. All selaginellas were recorded and collected as herbarium specimens as well as living plants for the experimental garden in Wonosobo, Central Java (768 m asl.). Data passport collected along with the specimens were used as a standard for herbarium specimens. Each specimen was distinguished by time of collection and location. Both herbarium specimens and living plants were observed. Specimens of field collection were deposited at the Herbarium Soloense (SO), Sebelas Maret University, Surakarta, Indonesia and selected specimens will be sent to the Herbarium Bogoriense (BO), Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Cibinong- Bogor, Indonesia. Some field studies were also conducted, but only to take photographs, without collecting specimens. From field work, a total of six species was obtained from 16 herbarium specimens collected from eight sites. Observations were also conducted on the collection of Herbarium Bogoriense, which had 600s herbarium sheets of Javan selaginellas, but only five specimens collected from Yogyakarta, that adding one species. Besides, there were also two species whose existence recorded through photographs taken in salak plantation of Turi subdistrict, Sleman (600-800 m asl.), in March 2010, but without collecting herbarium. Therefore, Setyawan et al. (2012, 2013) were used for description.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Effect of seedling height and dosages of urea fertilizer on growth of Stachytarpheta jamaicensis

Effect of seedling height and dosages of urea fertilizer on growth of Stachytarpheta jamaicensis

Pertumbuhan tinggi tanaman hingga akhir pengamatan umur 19 MST terus meningkat (Gambar 1). Pertumbuhan ini masih dapat terus meningkat karena berdasarkan laporan Van Valkenburg dan Bunyapraphatsara (2002), tinggi tanaman S. jamaicensis dapat mencapai 2 m. Pada Gambar 1 menunjukkan bahwa pada perlakuan bibit setinggi 16 cm yang ditanam tanpa dipupuk (T3D0) atau dipupuk dengan dosis tinggi (T3D3) menunjukkan pertumbuhan tinggi paling rendah. Pemberian urea dengan dosis 1,2 g/tanaman dapat menganggu pertumbuhan dan perkembangan akar bibit tanaman muda pada perlakuan ini sehingga pertumbuhan tanaman agak lambat. Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian pupuk urea dosis 1,2 g/tanaman sekaligus pada bibit tanaman setinggi 16 cm yang berdaun 7 helai berdampak pada pengurangan pertumbuhan tanaman dibanding bibit tanaman berukuran lebih tinggi dan memiliki jumlah daun lebih banyak.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Morphological Characterization of Memecylon sp. (Melastomataceae) collected from Nglanggeran Mountain, Gunungkidul

Morphological Characterization of Memecylon sp. (Melastomataceae) collected from Nglanggeran Mountain, Gunungkidul

Catatan: Memecylon caeruleum Jack ditemukan hidup bersama Pavetta indica, Psychotria sp, Melastoma malabathricum, Ardisia humilis. Tumbuhan ini mudah dikenali oleh pengamat jika dalam keadaan berbunga atau berbuah. Walaupun bunga berukuran kecil dan berada di ketiak daun, warna biru mencolok menjadikan tumbuhan ini menarik diamati. Warna buah merah muda hingga merah juga menjadi faktor ciri pengenal penting tumbuhan ini. Keberadaan Memecylon caeruleum di Gunung Nglanggeran cukup tersebar dibeberapa lokasi tetapi terlokalisir pada tempat-tempat cukup naungan, sela-sela bongkahan bebatuan. Regenerasi tumbuhan ini adalah dengan biji dengan pemencaran disekitar tumbuhan induk. Nama daerah atau nama lokal tumbuhan ini tidak dikenal lagi oleh penduduk sekitar demikian pula manfaatnya. Jika dilakukan penelusuran lebih lanjut, Memecylon caeruleum dan beberapa Memecylon sp lainnya dikenal di Selangor Malaysia dengan nama lokal Nipis Kulit (Hanum et al. 2001), di Sumatera dengan nama lokal Jambu Utan (Widyatmoko et al. 1998). Heim (2015) memaparkan Memecylon caeruleum Jack terdapat di Bali, distribusinya meliputi China, Indo-China, dan wilayah Malesina. Di Malaysia, tumbuhan ini dimanfaatkan bagian akarnya untuk pengobatan dalam perbaikan pospartum. Tumbuhan ini berpotensi antibiotik dan menurunkan kadar gula darah serum dalam uji menggunakan tikus putih. Dalam catatan Flora of China (Flora of China Editorial Committee 2007), distribusi Memecylon caeruleum Jack meliputi hutan yang merata sampai hutan lebat di ketinggian 900–1200 m meliputi wilayah Hainan, Xizang Tenggara, Yunnan, termasuk Kamboja, Indonesia, Vietnam. Sebagai sinonim Memecylon floribundum, dalam catatan Backer dan Bakhuizen v.d. Brink (1963) tumbuhan ini ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bawean, Kepulauan Karimun Jawa, dan Madura. Penulis menemukan tumbuhan ini ada di bukit komplek pemakaman raja-raja di Imogiri Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Species diversity of Selaginella in the Dieng Plateau, Central Java

Species diversity of Selaginella in the Dieng Plateau, Central Java

Abstract. Setyawan AD, Sugiyarto, Widiastuti A. 2015. Species diversity of Selaginella in the Dieng Plateau, Central Java. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1 : 980-986 . Selaginella is a herbaceous plant species that requires a lot of water for growth and fertilization. Therefore, moist and cool habitats are preferred for the cultivation of Selaginella. Dieng Plateau is one of the regions having the highest rainfall in Java. This region is very suitable for the growth of Selaginella due to its moistness. This research was conducted in Dieng Plateau from an altitude of 300 m. up to 2500 m. asl. The field study was conducted from mid of 2007 until the end of 2013. In addition to field study, an observation view of herbarium sheets which are the collection of the Herbarium Bogoriense, Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Cibinong Bogor. Eight species of Selaginella were found, namely: S. aristata, S. ciliaris, S. intermedia, S. involvens, S. opaca, S. ornata, S. plana, and S. remotifolia. Variant of S. ciliarnis that form a compact set was found, the size of the stems and leaves was slimmer and more tapered at the leaf tip. This variant is probably a new species because the species with these characteristics has not been reported. The morphological characteristics of this species are mostly close to S. ciliaris.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Biokontrol larva nyamuk Aedes aegypti menggunakan limbah biji karika (Vasconcellea pubescens)

Biokontrol larva nyamuk Aedes aegypti menggunakan limbah biji karika (Vasconcellea pubescens)

Jumlah kematian larva yang dikenai ekstrak biji karika fraksi n-heksana, etil asetat dan etanol 70% pada paparan 48 jam Gambar 3.. Persamaan garis antara nilai probit dan log konsentras[r]

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...