DI/TII

Top PDF DI/TII:

DILEMA MASYARAKAT SUMEDANG TERHADAP KEHADIRAN GERAKAN DI/TII TAHUN 1950-1962.

DILEMA MASYARAKAT SUMEDANG TERHADAP KEHADIRAN GERAKAN DI/TII TAHUN 1950-1962.

Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Suhri yang berumur 92 tahun, namun ingatannya masih kuat terhadap kejadian-kejadian yang terjadi ketika serangan gerakan DI/TII. Bapak Suhri dulunya seorang OKD (Organisasi Keamanan Desa). Beliau merupakan anggota OKD yang ikut berjuang dalam mempertahankan Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang dari serangan gerakan DI/TII. Narasumber tersebut merupakan sumber primer dalam penelitian ini karena merupakan sumber yang sezaman dengan apa yang sedang diteliti serta merupakan tokoh yang berperan penting pada saat kehadiran gerakan DI/TII di Sumedang. Jika dihubungkan dengan yang dimaksud dengan kritik eksternal yaitu sumber yang diklasifikasikan harus otentik dalam artian berada dalam periode yang sezaman dengan apa yang diteliti yaitu tokoh yang berperan pada saat kehadiran gerakan DI/TII di Sumedang. Otentik yang dimaksud disini ialah bahwa sumber tersebut dapat melaporkan dengan benar mengenai sesuatu subjek yang tampaknya benar. Dalam hal ini peneliti mencoba untuk menghubungkan Arsip Laporan PDM Sumedang, Jawa Barat dengan hasil wawancara dengan Bapak Suhri. Sumber tersebut menurut peneliti dapat dipertanggungjawabkan keasliannnya karena meskipun hanya salinan dari dokumen asli, tetapi dokumen yang didapatkan oleh peneliti ketika mengunjungi Dinas Kesejarah TNI AD itu merupakan foto copian dari aslinya, namun tidak ada pengurangan ataupun penambahan yang terdapat di dalam dokumen tersebut.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

PERANAN TEUKU ILYAS LEUBE DALAM DI/TII ACEH TENGAH (1953-1962).

PERANAN TEUKU ILYAS LEUBE DALAM DI/TII ACEH TENGAH (1953-1962).

- Teuku Ilyas Leube menjadi salah satu panglima yang ditakuti, ia terhitung orang nomer dua di aceh setelah Dawud Beureueh. kesetiaanya kepada Berueueh membuat ia di takuti musuh dan disegani para sahabat. Dia merupakan tokoh DI/TII terakhir yang turun gunung setelah rekan-rekannya yang lain berdamai dengan Jakarta.

24 Baca lebih lajut

3.1 Menganalisis upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Mendeskripsikan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia Menjelaskan

3.1 Menganalisis upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Mendeskripsikan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia Menjelaskan

Gerombolan DI/TII ini tidak hanya di Jawa Barat akan tetapi di Jawa Tengah juga muncul pemberontakan yang didalangi oleh DI/ TII. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah di bawah pimpinan Amir Fatah yang bergerak di daerah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. dan Moh. Mahfudh Abdul Rachman (Kiai Sumolangu). Untuk menumpas pemberontakan ini pada bulan Januari 1950 pemerintah melakukan operasi kilat yang disebut “Gerakan Banteng Negara” (GBN) di bawah Letnan Kolonel Sarbini (selanjut-nya diganti Letnan Kolonel M. Bachrun dan kemudian oleh Letnan Kolonel A. Yani). Gerakan operasi ini dengan pasukan “Banteng Raiders.” Sementara itu di daerah Kebumen muncul pemberontakan yang merupakan bagian dari DI/ TII, yakni dilakukan oleh “Angkatan Umat Islam (AUI)” yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahudz Abdurachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu. Untuk menumpas pemberontakan ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

gerakan separatisme DI TII latar belakan

gerakan separatisme DI TII latar belakan

Selain itu, di Kebumen muncul pemberontakan DI/TII yang dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Somalangu. Kedua gerakan ini bergabung dengan DI/TII Jawa Barat, pimpinan Kartosiwiryo. Pemberontakan di Jawa Tengah ini menjadi semakin kuat setelah Batalion 624 pada Desember 1951 membelot dan

8 Baca lebih lajut

DILEMA MASYARAKAT SUMEDANG TERHADAP KEHADIRAN GERAKAN DI TII TAHUN 1950-1962 - repository UPI S SEJ 1002245 Title

DILEMA MASYARAKAT SUMEDANG TERHADAP KEHADIRAN GERAKAN DI TII TAHUN 1950-1962 - repository UPI S SEJ 1002245 Title

Rival Buari Hidayat, 2015 DILEMA MASYARAKAT SUMEDANG TERHADAP KEHADIRAN GERAKAN DI/TII TAHUN 1950-1962 Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu D[r]

3 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ini selalu dianggap sebagai sebuah gerakan pemberontakan yang ingin mendirikan Negara dalam Negara. Namun sebuah fakta menarik muncul, bahwa DI/TII diproklamasikan pada 1949 di Jawa Barat, dimana pada waktu akibat perjanjian Renville yang disepakati oleh Indonesia dan Belanda menyatakan bahwa Jawa Barat bukanlah bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia dan bahkan saat itu pusat pemerintahan terpaksa dipindahkan ke Jogjakarta.

11 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI/TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI/TII 1949-1962)

Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI- POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Internet : http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Politik diakses pada 28 Juli 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Sosial diakses pada 28 Juli 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/[r]

3 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Kartosoewirjo melihat dalam sistem sosial politik yang sedang terjadi dimana Indonesia sedang dijajah Belanda, apapun kerjasama yang dilakukan oleh Belanda hanyalah bentuk untuk memat[r]

23 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

The conclution of this research is Darul Islam and Indonesian Islamic Army movement is a political movement that goals to founded an Islamic State in Indonesia and Kartosoewirjo will b[r]

2 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan politik bisa saja berfokus pada satu masalah atau dari serangkaian isu permasalahan yang ada, bisa juga berfokus pada kolektivitas kegelisahan bersama dari kelompok sosial.1 [r]

25 Baca lebih lajut

Gerakan Radikal Islam di Indonesia

Gerakan Radikal Islam di Indonesia

DI/TII Darul Islam/Tentara Islam Indonesia Negara Islam Indonesia disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik ya[r]

5 Baca lebih lajut

S SEJ 1002245 Abstract

S SEJ 1002245 Abstract

This thesis is titled The Dile a of “u eda g People towards the Prese e o f DI/TII Movement in 1950- 9 . The ai pro le whi h is studied i this thesis is How the Reaction of Sumedang People when DI/TII Movement Spread in 1950- 9 . These ai problems are divided into three research questions, namely (1) The background of the emergence of DI/TII Movement at Sumedang in 1950-1962, (2) How the reaction of Sumedang people towards the presence of DI/TII Movement in 1950-1962, (3) How the influence of DI/TII Movement towards Sumedang people in 1950-1962. The aim of this study is to Explain the background about the emergence of DI/TII Movement at Sumedang in 1950-1962, Explaining the reaction of Sumedang people towards the presence of DI/TII Movement in 1950-1962, Describing the influence of DI/TII Movement towards the condition of Sumedang people in 1960-1962, and explaining the ending of DI/TII Movement in Sumedang. Method which is used is historical method. To deepen this analysis, the researcher uses interdisciplinary approach through study towards oral source, files, and previous researches. The background of DI/TII Movement presence at “u eda g i 9 ’s was o ly the egi i g fro the purpose of the e erge e of DI/TII Movement, namely, the emergence of NII in West Java which was led by Kartosuwiryo. The presence of DI/TII Movement disturbed the Sumedang people because they often forced Sumedang people to pay taxes and allowances, if they did not pay, the DI/TII would do violence acts towards Sumedang people such as burnt people houses. Such situation triggered reaction from Sumedang people, among others, many Sumedang people who rejected the presence of DI/TII movement and some who supported DI/TII movement. The rejection by Sumedang people because the activities which were conducted by DI/TII Movement arouse restlessness among Sumedang people. Many of them who had to flee to safer places because they were afraid to be attacked by DI/TII or because they did not have house anymore because their houses had been burnt by DI/TII. Others chose to support DI/TII because several reasons, among others, they were afraid that they would be killed by DI/TII if they did not join DI/TII by giving information about Sumedang people condition which they visited, and there were also who chose to join DI/TII because they felt disappointed towards Sumedang people who did not choose them to be the Head of the Village. The presence of DI/TII Movement gave influence towards the condition of social, peacefulness and also economy of Sumedang people. Such conditions were also felt by Sumedang people until 1962 when DI/TII leader with his followers were captured which made their influence weakened and gradually the condition of Sumedang people was back to normal.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MAKALAH TRAGEDI PERGERAKAN NASIONAL INDO

MAKALAH TRAGEDI PERGERAKAN NASIONAL INDO

berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak diantara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati oleh pasukan TNI.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Rangkuman Sejarah BAB 1 Konflik dan Perg

Rangkuman Sejarah BAB 1 Konflik dan Perg

Selain pemberontakan DI/TII di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemberontakan DI/TII ini juga terjadi di Sulawesi Selatan yang di pimpin oleh Kahar Muzakar, organisasi yang sudah di dirikan sejak tahun 1951 tersebut baru bisa di runtuhkan oleh pemerintah pada Tahun 1965. Untuk menumpas organisasi tersebut di butuhkan banyak biaya, tenaga, dan waktu karena kondisi medan yang sangat sulit. Meski demikian, para pemberontak DI/TII sangat menguasai area tersebut. Selain itu, para pemberontak memanfaatkan rasa kesukuan yang berkembang di kalangan masyarakat untuk melawan pemerintah dalam menumpas organisasi DI/TII tersebut. Setelah pemerintahan Republik Indonesia mengadakan operasi penumpasan DI/TII bersama anggota Tentara Republik Indonesia. Barulah seorang Kahar Muzakar tertangkap dan di tembak oleh pasukan TNI pada tanggal 3 Februari 1965.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

THE BAND OF ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR Biographical Sketch of Rebelious Leaders of Islamic State- Indonesian Islamic Army (DITII) of Sulawesi Muhammad Hasbi

THE BAND OF ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR Biographical Sketch of Rebelious Leaders of Islamic State- Indonesian Islamic Army (DITII) of Sulawesi Muhammad Hasbi

The affiliation was grounded by compulsion. After some times he spent in the forest he did not feel any affinity to the DI/TII cause. As a practicing sufi mystic, his activity in the forest beside teaching was performing supplication and meditation. This certainly was different with the outlook of Islam practiced by Abdul Qahhar Mudzakkar and DI/TII personnel who tended to be modernists and orthodox. In short, there was wide gap between the tendency in understanding and applying Islam. This situation was different from the experience of Ag. Abdurrahman Ambo Dalle who at the end were able to make compromises of his ideals although he was a traditionalist Sunni cleric. Sheikh Abdus Shamad did not enjoy living in the forest, though all he needed was supplied by DI/TII. Openly expressing his displeasure and willingness to leave was an impossible thing, because he was prepared to affiliate at the beginning albeit reluctantly. Therefore, he took his own decision to escape the troops tried to retrieve Syekh Abdus Shamad after realizing that the Syekh had been escaped. However, they failed to find him and finally they gave up searching him and return to their position.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Bab 1 Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi bangsa

Bab 1 Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi bangsa

Operasi terpadu “Pagar Betis” digelar, dimana tentara pemerintah menyertakan juga masyarakat untuk mengepung tempat-tempat pasukan DI/TII berada. Tujuan taktik ini adalah untuk mempersempit ruang gerak dan memotong arus perbekalan pasukan lawan. Selain itu diadakan pula operasi tempur dengan sasaran langsung basis-basis pasukan DI/TII. Melalui operasi ini pula Kartosuwiryo berhasil ditangkap pada tahun 1962. Ia lalu dijatuhi hukuman mati, yang menandai pula berakhirnya pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo. Di Jawa Tengah, awal kasusnya juga mirip, dimana akibat persetujuan Renville daerah Pekalongan-Brebes-Tegal ditinggalkan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan aparat pemerintahan. Terjadi kevakuman di wilayah ini dan Amir Fatah beserta pasukan Hizbullah yang tidak mau di-TNI-kan segera mengambil alih.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Konflik Kepentingan dalam Perebutan Lahan Pertambangan di Kabupaten Luwu Timur antara Masyarakat Adat To Karunsi'e dengan PT. Vale Indonesia | Munauwarah | The POLITICS : Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin 3023 5790 1 PB

Konflik Kepentingan dalam Perebutan Lahan Pertambangan di Kabupaten Luwu Timur antara Masyarakat Adat To Karunsi'e dengan PT. Vale Indonesia | Munauwarah | The POLITICS : Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin 3023 5790 1 PB

Konflik ini sudah sejak lama terjadi, mulai dari sejak masuknya mereka kembali kedalam wilayah adat mereka karena terusir dari wilayah adatnya akibat pergolakan DI/TII yang terjadi pada [r]

15 Baca lebih lajut

KONSEP JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA (Studi Kasus Aceh Pasca Perjuangan Kemerdekaan)

KONSEP JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA (Studi Kasus Aceh Pasca Perjuangan Kemerdekaan)

Setelah beberapa saat mengalami ma- sa damai dengan selesainya permasalahan antara pemerintah dengan DI/TII, konflik kembali terjadi pada saat Hasan Tiro memproklamasikan kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976.Pemicu Konflik ini adalah kemarahan atas penyelenggaraan Pemerintahan Aceh yang didominasi orang Jawa dan ekploitasi atas kekayaan alam Aceh yang tidak memberikan hasil yang adil bagi masyarakat Aceh.Legitimasi kekuasaan Orde Baru banyak disandarkan pada kemampuan Pemerintah dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi pada angka yang tinggi.Dalam prakteknya, usaha untuk mencapai tingkat pertumbuh- an ekonomi ini mengorbankan aspek ke- adilan dan kurang memerhatikan aspek keberlanjutan.Eksploitasi sumber daya alam yang terjadi secara besar-besaran serta kurang memerhatikan kepentingan masyarkat lokal kemudian menjadi tak terhindarkan. 32
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KONSEP JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA (Studi Kasus Aceh Pasca Perjuangan Kemerdekaan)

KONSEP JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA (Studi Kasus Aceh Pasca Perjuangan Kemerdekaan)

jihad tanpa ada pertanyaan apakah itu termasuk jihad atau tidak, dan tanpa ada- nya pembedaan juga apakah yang berjuang itu orang Aceh ataukah orang Indonesia. semua tertuju pada satu tujuan, yakni mengenyahkan penjajah dari muka bumi. Namun dalam perkembangannya, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dan Aceh menjadi bagian di dalamnya, muncullah beberapa perma- salah. Seperti timbulnya Perlawanan DI/ TII pimpinan Daud Beureueh.Kalau men- dasarkan pada perjuangan jihad, ini juga masih termasuk ke dalamnya, hanya saja kesalahpahaman juga kondisi serta situasi saat itu membuyarkannya.Pada saat itu di Aceh masih terjadi konflik golongan. Per- tentangan lama antara kelompok pemim- pin adat (ulee balang) yang biasa disebut Teuku degan para ulama yang biasa dige- lari Tengku sejak zaman kerajaan, masih menyisakan konflik, 29 dan terus memanan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 8070 documents...