diabetic wound

Top PDF diabetic wound:

Optimasi konsentrasi Polyvinyl Pyrrolidone K30 (PVP K30) sebagai Polimer Hydrocolloid Matrix Diabetic Wound Healing dengan bahan aktif Ibuprofen

Optimasi konsentrasi Polyvinyl Pyrrolidone K30 (PVP K30) sebagai Polimer Hydrocolloid Matrix Diabetic Wound Healing dengan bahan aktif Ibuprofen

Hydrocolloid matrix ibuprofen has characteristics that compatible with diabetic wound healing. The purpose of this study was optimizing concentration of PVP K30 in hydrocolloid matrix ibuprofen as a diabetic wound healing. Three variations concentration PVP K30 (1,5%, 2%, and 2,5%) were formulated into hydrocolloid matrix. Optimizing concentration through several assay, including physical assay such as organoleptic, sterility test, weight uniformity, thickness test, percentage of moisture content and moisture absorption, pH solution of matrix and folding endurance, chemical assay such as uniformity of drug content and drug release for 6 hours, irritability, and stability. The activity and histopathology of selected optimum formula, was then tested. The results showed that concentration of PVP K30 affect the physical and chemical properties of matrix. The optimum formula with 2% of PVP K30 producing flexible hydrocolloid matrix with percentage of moisture content 5,90% and moisture absorption 6,30%. The optimum formula also has a good uniformity in weight and drug content, with percentages of CV, respectively are 4,50% and 4,82%. The dissolution efficiency was 92,60%, which is, 108,50% ibuprofen was released during 6 hours. Hydrocolloid matrix optimum shows the velocity of diabetic wound healing activity for 14 days and was significantly different to the control.
Baca lebih lanjut

143 Baca lebih lajut

Optimasi kadar ibuprofen dalam sediaan hidrogel sebagai diabetic wound healing pada luka tikus diabetes.

Optimasi kadar ibuprofen dalam sediaan hidrogel sebagai diabetic wound healing pada luka tikus diabetes.

Increased level of MMP-9 in the diabetic wound can degrade extracellular matrix thus inhibiting the wound healing process. This caused 23,5% of patients with diabetic foot ulcers should be amputated. Ibuprofen is thought could accelerate wound healing in diabetics. The aim of the study "Optimization of Ibuprofen’s Level in Hydrogel Preparation as Diabetic Wound Healing on Diabetic Rat’s Wound" is to determine the optimal concentration of ibuprofen in the preparation of hydrogel as diabetic wound healing that can accelerate wound healing in diabetic rats. Blood glucose level of rats induced with alloxan as diabetic inductor was measured by GOD-PAP (Glucose Oxidase – Phenol Aminoantipiryn Peroxidase) method. The active substance ibuprofen which has been formulated in a hydrogel, applied every 12 hours in rats’ excision wounds until the wounds are closed and wound closure percentages of rats are obtained. After wound had closed, rats will be euthanized by injection of 100 mg/kg ketamine to refer histopathological test on the skin structure of the scars. Statictical analysis has shown there is no significant difference in wound healing time inter-wounds of control group as well as diabetic group. Histology assay has shown that the optimal concentration of ibuprofen which can accelerate wound healing with the best quality is 1,25%.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Formulasi sediaan Gel Anhidrat Diabetic Wound Healing dengan zat aktif Piroxicam

Formulasi sediaan Gel Anhidrat Diabetic Wound Healing dengan zat aktif Piroxicam

Enam ekor tikus ditimbang, tiga ekor tikus diinjeksi aloksan monohidrat secara intraperitonial dengan dosis 150 mg/kgBB, 48 jam setelah induksi dilihat kadar gula darah tikus (Pirbalouti et al ., 2010). Tiga ekor tikus yang kadar gula darahnya di atas 250 mg/dl dan tiga ekor tikus lainnya sebagai kontrol tikus tanpa diabetes. Tikus diberi olesan krim depilatory pada bagian punggungnya dan didiamkan selama 5 menit, kemudian dibilas dengan kapas basah (air bersih), hingga tampak kulit punggungnya. Tikus dibiarkan selama 48 jam. Tikus diberi anestesi melalui injeksi i.m. ketamin 0,5 mL/kgBB dibagian paha dan ditunggu hingga tikus tertidur. Kulit punggung tikus dibasahi dengan etanol 70% (Divadi, 2015) dan melakukan luka secara eksisi menggunakan biopsy punch dengan diameter 3 mm (DiPietro, 2003). Sebanyak 0,1 mL formula optimum gel anhidrat diabetic wound dioleskan pada luka menggunakan spuit tanpa jarum suntiknya dan pemberian sediaan dilakukan tiap 12 jam hingga luka menutup. Tikus di eutanasia dengan inhalasi kloroform teknis, kemudian kulit punggung diambil dengan ukuran 2x2 cm dan disimpan dalam pot berisi formalin 10%. Kemudian dimonitor dan area luka dihitung (Divadi, 2015).
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

Formulasi sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif ibuprofen

Formulasi sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif ibuprofen

Senyawa anti-inflamasi diketahui mampu mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes . Penelitian “Formulasi Sediaan Gel Anhidrat Diabetic Wound Healing dengan Zat Aktif Ibuprofen” bertujuan untuk mengetahui formula optimum sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif ibuprofen. Ibuprofen yang diformulasikan sebagai gel anhidrat diduga mampu mempercepat penyembuhan luka bagi penderita diabetes. Penambahan propilen glikol dalam formula ditujukan untuk meningkatkan pelepasan obat dari sediaan. Sifat fisik yaitu organoleptis, pH, daya sebar, homogenitas, viskositas dan pelepasan obat dari gel anhidrat diuji untuk melihat kesesuaian dengan parameter sifat fisik yang telah ditetapkan. Pelepasan obat diuji dengan menggunakan Franz Diffusion Cell dan dilanjutkan uji stabilitas dengan menggunakan cycle test untuk melihat ada tidaknya perubahan sifat fisik dari gel. Data viskositas dan daya sebar dianalisis menggunakan ANOVA. Gel dengan pelepasan obat terbaik akan diaplikasikan pada luka eksisi pada tikus diabetes terinduksi aloksan. Hasil uji statistika menunjukan tidak ada perbedaan bermakna pada viskositas dan daya sebar dari masing-masing formula pada semua siklus uji stabilitas. Hasil uji pelepasan obat menunjukan bahwa gel anhidrat dengan kadar propilen glikol 50% memberikan pelepasan terbesar. Hasil uji aktivitas penyembuhan luka pada tikus dan uji histopatologi menunjukan gel ini mampu mempercepat penyembuhan luka diabetes.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

Optimasi kadar piroksikam dalam sediaan hidrogel sebagai diabetic wound healing pada luka tikus diabetes.

Optimasi kadar piroksikam dalam sediaan hidrogel sebagai diabetic wound healing pada luka tikus diabetes.

Pada luka pasien diabetes, dapat terjadi peningkatan MMP-9 yang menghambat penyembuhan luka. Hal ini menyebabkan 23,5% penderita ulkus kaki diabetes harus mengalami amputasi. Piroksikam diduga adalah suatu zat aktif yang dapat mempercepat penyembuhan luka pada tikus diabetes. Penelitian “Optimasi Kadar Piroksikam dalam Sediaan Hidrogel sebagai Diabetic Wound Healing pada Luka Tikus Diabetes” memiliki tujuan untuk mengetahui konsentrasi efektif piroksikam dalam sediaan hidrogel untuk penyembuhan luka diabetes pada tikus galur Wistar. Zat aktif piroksikam diformulasikan ke dalam sediaan hidrogel. Tikus diinduksi aloksan sebagai induktor diabetes dan glukosa darah tikus diukur menggunakan metode Gucose Oxidase Phenol Aminoantipytin Peroxidase. Tikus diabetes diberikan luka eksisi dan akan diaplikasikan sediaan hidrogel piroksikam setiap 12 jam hingga luka menutup dan didapatkan persentase penutupan luka pada tikus. Tikus yang lukanya sudah tertutup akan dieutanasia dengan injeksi ketamin dosis letal untuk melihat secara mikroskopis struktur kulit dari bekas luka tersebut. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada waktu penyembuhan antarluka pada kelompok tikus normal maupun kelompok tikus diabetes. Tetapi secara uji histopatologi, formula piroksikam 5% terbukti dapat menyembuhkan luka dengan kualitas yang baik.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

Formulasi sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif ibuprofen.

Formulasi sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif ibuprofen.

Senyawa anti-inflamasi diketahui mampu mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes. Penelitian “Formulasi Sediaan Gel Anhidrat Diabetic Wound Healing dengan Zat Aktif Ibuprofen” bertujuan untuk mengetahui formula optimum sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif ibuprofen. Ibuprofen yang diformulasikan sebagai gel anhidrat diduga mampu mempercepat penyembuhan luka bagi penderita diabetes. Penambahan propilen glikol dalam formula ditujukan untuk meningkatkan pelepasan obat dari sediaan. Sifat fisik yaitu organoleptis, pH, daya sebar, homogenitas, viskositas dan pelepasan obat dari gel anhidrat diuji untuk melihat kesesuaian dengan parameter sifat fisik yang telah ditetapkan. Pelepasan obat diuji dengan menggunakan Franz Diffusion Cell dan dilanjutkan uji stabilitas dengan menggunakan cycle test untuk melihat ada tidaknya perubahan sifat fisik dari gel. Data viskositas dan daya sebar dianalisis menggunakan ANOVA. Gel dengan pelepasan obat terbaik akan diaplikasikan pada luka eksisi pada tikus diabetes terinduksi aloksan. Hasil uji statistika menunjukan tidak ada perbedaan bermakna pada viskositas dan daya sebar dari masing-masing formula pada semua siklus uji stabilitas. Hasil uji pelepasan obat menunjukan bahwa gel anhidrat dengan kadar propilen glikol 50% memberikan pelepasan terbesar. Hasil uji aktivitas penyembuhan luka pada tikus dan uji histopatologi menunjukan gel ini mampu mempercepat penyembuhan luka diabetes.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

The Provision of Different Vibration Frequency to Accelerate Diabetic Wound Healing

The Provision of Different Vibration Frequency to Accelerate Diabetic Wound Healing

Studies have revealed that diabetic wound healing can be accelerated using the vibration therapy of 47 Hz. However, no strong evidence compelled the use of different vibration rates. Thus, this experimental study aimed to examine the effect of different vibration frequencies towards diabetic wound healing. Five groups of white rats were injected using Alloxan Monohydrate within ten minutes before the vibration therapy. The dosage was given categorized as 40 Hz (low), 106 Hz (moderate), 200 Hz (high) and 300 Hz (very high). Control group was created without given vibration therapy. Wound status was evaluated using the presence of necrotic tissues, size, inflammation, and reepithelization where Hematoxicilin and Eosin color-based were used to analyse the histological presentation. Using ANOVA and Tukey test, it was found that the necrotic tissues and the intended inflammation have less developed among low vibration group compared to others. Reepithelization and wound size reduction most experienced by the lower group, but the worst damaged occupied by the highest vibration group. It is suggested that lower vibration frequency enabled to accelerate the wound care healing, but a high-frequency rate can disturb or damage the injured tissues.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam.

Optimasi konsentrasi Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam.

Peningkatan enzim MMP-9 secara berlebihan pada penderita diabetes mellitus menjadi penyebab utama terjadinya komplikasi ulkus kaki diabetik. Piroksikam memiliki aktivitas penghambatan enzim MMP-9 diduga mampu mempercepat penyembuhan ulkus kaki diabetik. Hydrocolloid dressing direkomendasikan untuk pengobatan ulkus kaki diabetik. HPMC digunakan sebagai polimer untuk mengontrol pelepasan zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC yang optimal sebagai polimer hydrocolloid diabetic wound healing matrix. Karakteristik fisikokimia dievaluasi. Formula optimal diaplikasikan setiap 24 jam pada luka eksisi tikus jantan terinduksi dan tidak terinduksi aloksan. Persen penutupan luka dihitung hingga 100% dan dilanjutkan uji histopatologi. Hasil evaluasi sediaan dan penutupan luka dianalisis menggunakan software R pada taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan analisis statistik, F2 adalah formula optimal karena memiliki DE 360 paling besar
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam

Optimasi konsentrasi Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam

Peningkatan enzim MMP-9 secara berlebihan pada penderita diabetes mellitus menjadi penyebab utama terjadinya komplikasi ulkus kaki diabetik. Piroksikam memiliki aktivitas penghambatan enzim MMP-9 diduga mampu mempercepat penyembuhan ulkus kaki diabetik. Hydrocolloid dressing direkomendasikan untuk pengobatan ulkus kaki diabetik. HPMC digunakan sebagai polimer untuk mengontrol pelepasan zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC yang optimal sebagai polimer hydrocolloid diabetic wound healing matrix . Karakteristik fisikokimia dievaluasi. Formula optimal diaplikasikan setiap 24 jam pada luka eksisi tikus jantan terinduksi dan tidak terinduksi aloksan. Persen penutupan luka dihitung hingga 100% dan dilanjutkan uji histopatologi. Hasil evaluasi sediaan dan penutupan luka dianalisis menggunakan software R pada taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan analisis statistik, F2 adalah formula optimal karena memiliki DE 360 paling besar
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan bahan aktif ibuprofen.

Optimasi konsentrasi Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan bahan aktif ibuprofen.

Hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan polimer hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) dan bahan aktif ibuprofen, berpotensi dapat mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi HPMC optimal dan sifat fisika kimia serta stabilitas dari hydrocolloid matrix ibuprofen. Hydrocolloid matrix ibuprofen dibuat dalam 3 konsentrasi HPMC yaitu 8,75%, 11%, dan 13,25%. Formula optimal dipilih berdasarkan uji yang dilakukan, yaitu: uji sterilitas; sifat fisik yang meliputi organoleptis, keseragaman bobot, ketebalan sediaan, pH larutan sediaan, persentase moisture content dan absorption, dan ketahan pelipatan; sifat kimia yang meliputi keseragaman kandungan obat dan pelepasan obat; iritabilitas serta stabilitas. Formula optimal yang dipilih adalah formula 1 (F1) dimana merupakan sediaan yang memiliki nilai DE 88,86%; CV keseragaman kandungan obat 15,78% dan keseragaman bobot 9,84%; persentase kandungan obat 77,30%; memiliki nilai persentase moisture content 12,36% dan moisture absorption 14,88%; ketebalan 0,5 mm; pH larutan sediaan 6,70; nilai ketahanan pelipatan 25; steril; tidak berwarna, jernih, dan halus; dan stabil secara kimia. Formula optimal yang dipilih kemudian diuji aktivitas dan uji histopatologi. Uji aktivitas dan histopatologi F1 menunjukkan hydrocolloid matrix ibuprofen dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes.
Baca lebih lanjut

129 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi polivinil pirolidon K-30 (PVP K-30) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam.

Optimasi konsentrasi polivinil pirolidon K-30 (PVP K-30) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam.

Hydrocolloid matrix piroksikam dapat menjadi salah satu alternatif pengobatan ulkus kaki diabetik yang dapat menghantarkan obat secara terkontrol, di mana bergantung pada polimer. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi PVP K-30 yang optimal dengan rentang konsentrasi 1,5% - 2,5% sebagai polimer pada formula sediaan hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam. Organoleptis, bobot, ketebalan, moisture content, moisture absorption, pH, ketahanan pelipatan, kandungan obat dan pelepasan obat piroksikam dari matriks selama 6 jam dievaluasi secara statistik menggunakan software R dengan taraf kepercayaan 95%. Formula optimal diaplikasikan pada luka eksisi tikus jantan terinduksi aloksan dan tidak terinduksi, setiap 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan formula PVP 2 dengan konsentrasi PVP K-30 sebesar 2%, dengan kombinasi HPMC konsentrasi 4,5% merupakan formula optimal, di mana memiliki warna merata, homogen, dengan moisture content 5,166%, moisture absorption 8,980%, memiliki DE 360 sebesar 53,87%, serta stabil pada suhu 37 o C dan 45 o C, dan
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi polivinil pirolidon K 30 (PVP K 30) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam

Optimasi konsentrasi polivinil pirolidon K 30 (PVP K 30) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam

Hydrocolloid matrix piroksikam dapat menjadi salah satu alternatif pengobatan ulkus kaki diabetik yang dapat menghantarkan obat secara terkontrol, di mana bergantung pada polimer. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi PVP K-30 yang optimal dengan rentang konsentrasi 1,5% - 2,5% sebagai polimer pada formula sediaan hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan zat aktif piroksikam. Organoleptis, bobot, ketebalan, moisture content , moisture absorption , pH, ketahanan pelipatan, kandungan obat dan pelepasan obat piroksikam dari matriks selama 6 jam dievaluasi secara statistik menggunakan software R dengan taraf kepercayaan 95%. Formula optimal diaplikasikan pada luka eksisi tikus jantan terinduksi aloksan dan tidak terinduksi, setiap 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan formula PVP 2 dengan konsentrasi PVP K-30 sebesar 2%, dengan kombinasi HPMC konsentrasi 4,5% merupakan formula optimal, di mana memiliki warna merata, homogen, dengan moisture content 5,166%, moisture absorption 8,980%, memiliki DE 360 sebesar 53,87%, serta stabil pada suhu 37 o C dan 45 o C, dan
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi Polyvinyl Pyrrolidone K30 (PVP K30) sebagai Polimer Hydrocolloid Matrix Diabetic Wound Healing dengan bahan aktif Ibuprofen.

Optimasi konsentrasi Polyvinyl Pyrrolidone K30 (PVP K30) sebagai Polimer Hydrocolloid Matrix Diabetic Wound Healing dengan bahan aktif Ibuprofen.

Hydrocolloid matrix ibuprofen has characteristics that compatible with diabetic wound healing. The purpose of this study was optimizing concentration of PVP K30 in hydrocolloid matrix ibuprofen as a diabetic wound healing. Three variations concentration PVP K30 (1,5%, 2%, and 2,5%) were formulated into hydrocolloid matrix. Optimizing concentration through several assay, including physical assay such as organoleptic, sterility test, weight uniformity, thickness test, percentage of moisture content and moisture absorption, pH solution of matrix and folding endurance, chemical assay such as uniformity of drug content and drug release for 6 hours, irritability, and stability. The activity and histopathology of selected optimum formula, was then tested. The results showed that concentration of PVP K30 affect the physical and chemical properties of matrix. The optimum formula with 2% of PVP K30 producing flexible hydrocolloid matrix with percentage of moisture content 5,90% and moisture absorption 6,30%. The optimum formula also has a good uniformity in weight and drug content, with percentages of CV, respectively are 4,50% and 4,82%. The dissolution efficiency was 92,60%, which is, 108,50% ibuprofen was released during 6 hours. Hydrocolloid matrix optimum shows the velocity of diabetic wound healing activity for 14 days and was significantly different to the control.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Optimasi konsentrasi Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan bahan aktif ibuprofen

Optimasi konsentrasi Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) sebagai polimer hydrocolloid matrix diabetic wound healing dengan bahan aktif ibuprofen

Hydrocolloid matrix diabetic wound healing with hydroxypropyl methylcellulosa (HPMC) as polymer and ibuprofen as active ingredient can potentially accelerate healing in diabetic wound. This study aims to determine the optimal concentration of HPMC and the chemical and physical properties as well as the stability of the hydrocolloid matrix ibuprofen. Hydrocolloid matrix ibuprofen made in 3 HPMC concentration, 8,75%, 11% and 13,25%. Optimal formula selected based on tests conducted, that is: the sterility test; physical properties include organoleptic, weight uniformity, thickness, the pH of matrix solution, the percentage of moisture content and absorption, and folding endurance; chemical properties which include uniformity of drug content and drug release; irritability and stability. The selected optimal formula is Formula 1 (F1) which has DE values 88,86%; CV uniformity of drug content and uniformity of weight 15,78% and 9,84%; the percentage of drug content 77,30%; has a moisture content percentage 12,36% and moisture absorption percentage 14,88%; thickness 0,5 mm; pH of solution 6,70; folding endurance values 25; a sterile hydrocolloid matrix; colorless, clear, and smooth; and chemically stable. The selected optimal formula is then tested the activity and histopathological test. F1 activity and histopathology test showed hydrocolloid matrix ibuprofen can accelerate healing of diabetic wound.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Formulasi sediaan Gel Anhidrat Diabetic Wound Healing dengan zat aktif Piroxicam.

Formulasi sediaan Gel Anhidrat Diabetic Wound Healing dengan zat aktif Piroxicam.

Piroxicam dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan gel sebagai sediaan penyembuh luka berdasarkan sifat fisika kimianya. Pada penelitian ini piroxicam diformulasi dalam bentuk sediaan gel anhidrat dengan basis carbopol dan gliserin, sehingga dapat dengan mudah menghantarkan obat, namun untuk pelepasan obatnya masih kurang optimum. Oleh karena itu, propylene glycol ditambahkan sebagai co-solvent untuk meningkatkan pelepasan obat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui formula optimum sediaan gel anhidrat diabetic wound healing dengan zat aktif piroxicam. Metode yang digunakan pada penelitian ini dalam pembuatan sediaan dilakukan secara aseptis. Untuk uji pelepasan obat menggunakan Franz Diffusion Cell dan formula optimum yang didapat diuji aktivitasnya secara in vivo pada tikus dan kulitnya diuji histopatologi hematoxylin- eosin. Hasil uji pelepasan obat menunjukkan FI memiliki pelepasan yang paling besar dalam waktu 180 menit mencapai 90,28%. Kesimpulan yang didapat ialah dengan jumlah propylene glycol 10%w/w dapat memberikan hasil yang optimum berdasarkan hasil uji pelepasan obatnya.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Amitriptilin, Gabapentin, Dan Pregabalin Terhadap Perubahan Intensitas Nyeri Pada Penderita Nyeri Neuropati Diabetika Dan Neuralgia Trigeminal

Perbedaan Efek Amitriptilin, Gabapentin, Dan Pregabalin Terhadap Perubahan Intensitas Nyeri Pada Penderita Nyeri Neuropati Diabetika Dan Neuralgia Trigeminal

Bansal, D., Bhansali, A., Hota, D., Chakrabarti, A., and Dutta, P. 2006. Amitriptyline vs. Pregabalin in painful diabetic neuropathy: a randomized double blind clinical trial. Diabet Med. 26:1019 – 1026 Baron, R., Binder, A., and Wasner, G. 2010. Neuropathic pain : diagnosis,

11 Baca lebih lajut

Perbandingan Kadar Enzim Glutation Peroksidase Pada Penderita Katarak Diabetika dan Non Diabetika

Perbandingan Kadar Enzim Glutation Peroksidase Pada Penderita Katarak Diabetika dan Non Diabetika

Chandrasena, L.G., De Silva, L.D.R., De Silva, K.I., Dissanayaka, P. dan Peiris, H. 2008. Changes in Erythroyite Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) and Reduced Glutathione (GSH) Activities in the Development of Senile and Diabetic CataractsAntioxidant Enzyme in Patient with Cataract. Southeast Asian J Trop Med Public Health, 39 (4): 731-736.

5 Baca lebih lajut

PATTERN DEVELOPMENT OF DIABETIC FOOT BASED ON THE DIABETIC NEUROPATHY SCORE (DNS), DIABETIC NEUROPATHY EXAMINATION(DNE) AND WAGNER CLASSIFICATION

PATTERN DEVELOPMENT OF DIABETIC FOOT BASED ON THE DIABETIC NEUROPATHY SCORE (DNS), DIABETIC NEUROPATHY EXAMINATION(DNE) AND WAGNER CLASSIFICATION

Diabetes mellitus (DM) is one of the major problems for human health in the 21st century. The World Health Organization (WHO) predicts the more increasing number of people with diabetes in various countries including Indonesia. 1,2,3 Since the discovery of insulin, diabetes complications have shifted from acute to chronic complications namely macroangiopathy, microangiopathy and diabetic neuropathy. It contributes to the development of diabetic foot, but the pattern development is still undetermined.

16 Baca lebih lajut

DIABETIC FOOT EXERCISE INDUCED SERUM NEUROTROPHIN-3 IN DIABETIC POLYNEUROPATHY

DIABETIC FOOT EXERCISE INDUCED SERUM NEUROTROPHIN-3 IN DIABETIC POLYNEUROPATHY

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author) 35 For DNS scores, the results revealed a significant improvement in exercise group, from (2.13 + 1.06) into (1.07 + 0.96) p 0.01 and in the control group from (2.18 + 1.01) into (2.18 + 1.01) p 1.00, respectively. Both groups showed significant different results with p 0.01. A significant improvement of DNE values also occurred in the exercise group with a decline, from (3.20 + 2.14) into (1.73 + 1.66) p 0.001, in the control group from (4.41 + 2.71) into (4.53 + 3.01) p 0.543, consecutively. Both groups revealed significant different results with p 0.01. Such improvements were due to muscle contraction in diabetic foot gymnastics causing increased calcium ions, then activated the adenylate cyclase enzyme, hence, the ATP was changed into cAMP. Furthermore, cAMP helped the metabolism process and absorption of extracellular glucose by intra GLUT4 vesicles translocation to move near the membrane surface to transport the extracellular glucose to the cell to be used as energy and to reduce hyperglycemia. Increased cAMP activated cAMP response element- binding protein (CREB) assisting merging damaged fragments of axons and myelin of diabetic neuropathy. Improved blood circulation improved the supply of materials needed for regenerating and repairing axons and myelin. Such mechanism would repair perceptible cell function with improvement of DNS and DNE. 23,
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Olahraga Pada Diabetes Mellitus

Olahraga Pada Diabetes Mellitus

Exercise Prescription for Diabetic Exercise Prescription for DiabeticExercise Prescription for DiabeticExercise Prescription for Diabetic 33//433//444 Gumakan Gumakan sepatusepatu yan[r]

16 Baca lebih lajut

Show all 449 documents...

Related subjects