Digital Image Watermarking

Top PDF Digital Image Watermarking:

Design of LDPC Decoder Based On FPGA in Digital Image Watermarking Technology

Design of LDPC Decoder Based On FPGA in Digital Image Watermarking Technology

A digital image watermarking system is researched in this paper. This system is made up of 4 parts: the LDPC code encoding, watermark embedding, watermark extraction and watermark image display. The system software is realized by the mixed programming with MATLAB and Qt at first. It could get real-time input data for the LDPC decoder. The hardware of the LDPC decoder is primarily implemented by FPGA in digital image watermarking system. And the serial port is used to make the output data of decoder back to computer for verification. Through the results of system test, the Modelsim time simulation diagram is given. And the watermark image compared with the original image is got. They are almost the same. This digital image watermarking system has a certain practical value.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Digital Image Watermarking Algorithm Using the Intermediate Frequency

Digital Image Watermarking Algorithm Using the Intermediate Frequency

Digital image watermarking is a process of embedding a piece of digital content (image) into the original image and also it protects digital content from illegal manipulations. The hidden watermark should be inseparable from the host image and robust enough to resist any manipulations while preserving the image quality [1]. Watermarking adds the additional requirement of robustness. An ideal watermarking system would embed an amount of information that could not be removed or altered without making the cover object entirely unusable [2]. So, watermarking is mainly to prevent illegal copy or claims the ownership of digital media. It is a measure of immunity of watermark against attempts to image modification and manipulation like compression, filtering, rotation, collision attacks, resizing, cropping, etc [3]. In order to minimize the damage of the original image and enhance the robustness, a kind of algorithm has been proposed based on the image being layered. At present, the wavelet decomposition method is the most familiar method based on this kind of algorithm [4-6].
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Aplikasi Teknik Adaptive Digital Image Watermarking Untuk Proteksi Hak Cipta Citra Digital

Aplikasi Teknik Adaptive Digital Image Watermarking Untuk Proteksi Hak Cipta Citra Digital

Seiring dengan semakin meluasnya jaringan multimedia, maka proses pengiriman dan pengaksesan dari data digital juga semakin mudah. Dengan adanya kemudahan ini menyebabkan mudahnya duplikasi data yang berimbas pada pemalsuan dan plagiat terhadap data digital. Hal ini menyebabkan penyalahgunaan dan pelanggaran hak cipta. Dalam mengatasi hal ini, telah banyak dikembangkan metode-metode yang digunakan untuk melindungi karya-karya cipta digital. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknik watermarking. Watermarking yang menggunakan teknik thresholding pada digital watermarking memiliki problema dimana harus dipilih sebuah nilai threshold yang cocok. Proses pemilihan nilai threshold yang cocok ini relatif susah. Dengan menggunakan metode Adaptive Digital Image Watermarking, citra yang disisipkan tidak akan dapat dideteksi secara kasat mata dan tidak membutuhkan penentuan nilai threshold. Pada pengujian yang dilakukan terhadap citra watermark, citra yang disisipkan masih dapat diekstrak walaupun dilakukan perubahan contrast dan brightness ataupun kompresi pada kualitas minimal 60%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

DIGITAL IMAGE WATERMARKING MENGGUNAKAN METODE IMAGE BLENDING - UDiNus Repository IKA MAULINA Preview

DIGITAL IMAGE WATERMARKING MENGGUNAKAN METODE IMAGE BLENDING - UDiNus Repository IKA MAULINA Preview

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena hanya dengan limpahan nikmat dan kasih sayang-Nya, laporan tugas akhir yang berjudul “DIGITAL IMAGE WATERMARKING MENGGUNAKAN METODE IMAGE BLENDING“ dapat penulis selesaikan sesuai dengan rencana karena dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin berterimakasih kepada :

22 Baca lebih lajut

View of DIGITAL IMAGE WATERMARKING (DIW) MENGGUNAKAN WAVELET TRANSFORM DOMAIN

View of DIGITAL IMAGE WATERMARKING (DIW) MENGGUNAKAN WAVELET TRANSFORM DOMAIN

5. Citra watermarking yang dikenai proses filter median ini, akan mengalami penurunan kualitas saat menggunakan blok [5 5] dan seterusnya, seiring dengan meningkatnya besar blok. Watermark yang disisipkan akan semakin hilang karakternya satu per satu. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan panjang karakter tidak lebih dari 13 karakter.

8 Baca lebih lajut

A Robust Digital Image Watermarking against Salt and Pepper using Sudoku

A Robust Digital Image Watermarking against Salt and Pepper using Sudoku

In this paper, a novel watermarking scheme based on Sudoku‟s permutation property is proposed, which embed watermark pieces into a host image in a precise and organized pattern. This pattern information significantly improves detection of the watermarks. The proposed watermarking scheme was tested with natural photo images taken from standard image libraries. Watermarked images were attacked with the Salt n Pepper noise as high as possible. The 81 tiles 9x9 Sudoku configuration were completely able to resist up to 78% noise density before it went down to 97% recovery at 80% noise density. A 256 tiles-16x16 configuration may further improve the detection performance due to the availability of
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Watermarking Citra Digital Menggunakan Teknik full Counterpropagation Neural Network (FCNN) - Digital Image Watermarking Using Full Counterpropagation Neural Network (FCNN) Technique.

Watermarking Citra Digital Menggunakan Teknik full Counterpropagation Neural Network (FCNN) - Digital Image Watermarking Using Full Counterpropagation Neural Network (FCNN) Technique.

Pada Tugas Akhir ini direalisasikan watermarking citra digital dengan menggunakan teknik Full Counterpropagation Neural Network (FCNN). Citra host akan dipisah menjadi 3 channel warna yaitu R (Red), G (Green), dan B (Blue). Tiap channel warna dari citra host disisipkan security bit dalam domain DCT untuk meningkatkan keamanan. Kemudian citra watermark (citra biner) disisipkan pada channel R, G, dan B yang sudah disisipi security bit menggunakan teknik Full Counterpropagation Neural Network.

17 Baca lebih lajut

DIGITAL IMAGE WATERMARKING (DIW) YANG TAHAN TERHADAP TRANSFORMASI GEOMETRIS DIGITAL IMAGE WATERMARKING (DIW) ROBUST TO GEOMETRIC TRANSFORMATIONS

DIGITAL IMAGE WATERMARKING (DIW) YANG TAHAN TERHADAP TRANSFORMASI GEOMETRIS DIGITAL IMAGE WATERMARKING (DIW) ROBUST TO GEOMETRIC TRANSFORMATIONS

Beberapa citra yang dihasilkan dari proses editing Adobe Photoshop dirubah nilai map-nya dari citra warna ke citra grayscale, menggunakan program Matlab dengan memberikan nilai RGB sebagai berikut: R(red)=0,2290, G(green)=0,5870, dan B(blue)=0,1140.Citra grayscale dalam Matlab dengan bentuk nilai matriks. Citra dengan ukuran 256 x 256 piksel adalah bentuk matrik dengan ukuran 256 baris x 256 kolom. Sedangkan data teks berupa kumpulan huruf karakter dari a hingga z, 0 – 9, dan beberapa bentuk tanda baca yang umum digunakan serta spasi. Karakter yang dipilih selanjutnya diubah dalam untaian huruf biner 0 dan 1, dengan pengkodean satu karakter digantikan oleh 6 bit. Citra asli diurai dengan wavelet transform yang menghasilkan nilai aproksimasi dan 3 detail (vertikal, horisontal, dan diagonal). Selanjutnya dalam wavelet transform ini disisipkan data mark dan data pengaman, inilah sesungguhnya yang dinamakan proses watermarking seperti yang terlihat pada Gambar 2.1.(a). Setelah bergabung menjadi satu, kemudian disimpan untuk dijadikan sebagai hasil akhir watermarking. Dihitung nilai korelasi antara citra asli dengan citra watermarking. Bila perubahan yang terjadi tidak begitu kelihatan pada penampilannya, maka dikatakan proses watermarking berhasil dilakukan. Setelah penggabungan ini berhasil dilakukan, selanjutnya dilakukan proses kebalikan dengan mengurai kembali gambar yang disisipkan dalam citra watermarking untuk memperoleh kembali data mark yang disisipkan, yang terlihat pada Gambar 2.1.(b).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

38588895 Aplikasi Watermarking Citra Digital Pada Mobile Device Menggunakan J2ME

38588895 Aplikasi Watermarking Citra Digital Pada Mobile Device Menggunakan J2ME

Penulis menggunakan PSNR untuk membandingkan hasil citra sebelum dan sesudah diwatermark. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mobile device memiliki kemampuan untuk melakukan proses digital image wateramarking pada sebuah citra yang diambil dari fitur kameranya tanpa menurunkan kualitas dari citra tersebut. Selain itu, implementasi dari digital image watermarking pada mobile device ini memiliki keterbatasan dalam melakukan proses algoritma penyisipan watermark dan ekstrasi atau deteksi watermark dari citra yang dihasikannya dikarenakan keterbatasan melakukan komputasi dan kapasitas memori dari mobile device tersebut. Kata Kunci : Watermarking, citra digital, J2ME, moble device, ekstraksi/deteksi, Marza .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Watermarking Citra Digital Menggunakan GHM Multiwavelet Transform dan Discrete Cosine Transform (DCT).

Watermarking Citra Digital Menggunakan GHM Multiwavelet Transform dan Discrete Cosine Transform (DCT).

Digital Image Watermarking adalah salah satu teknik penyembunyian data berupa kode untuk mengidentifikasi kepemilikan dari suatu citra. Citra ber- watermark yang dihasilkan dari proses watermarking diharapkan akan tidak berbeda jauh secara visual dengan citra digital asalnya. Hal ini disebabkan karena pengubahan dari citra digital asal ke citra ber-watermark hanya berpengaruh sedikit terhadap perubahan warna dari citra digital, sehingga sistem penglihatan manusia tidak dapat mempersepsi perubahan tersebut [1] . Hal ini bisa mengurangi pembajakan dengan penghapusan watermark.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Steganografi dan Watermarking pada Citra Digital

Steganografi dan Watermarking pada Citra Digital

Watermarking sudah ada sejak 700 tahun yang lalu. Pada akhir abad 13, pabrik kertas di Fabriano, Italia, membuat kertas yang diberi watermark atau tanda-air dengan cara menekan bentuk cetakan gambar atau tulisan pada kertas yang baru setengah jadi. Ketika kertas dikeringkan terbentuklah suatu kertas yang ber- watermark. Kertas ini biasanya digunakan oleh seniman atau sastrawan untuk menulis karya mereka. Kertas yang sudah dibubuhi tanda-air tersebut sekalius dijadikan identifikasi bahwa karya seni di atasnya adalah milik mereka [HEN03].

Baca lebih lajut

7. Steganografi dan Watermarking

7. Steganografi dan Watermarking

• Salah satu cara untuk melindungi hak milik intelektual atas produk multimedia (gambar/foto, audio, teks, video) adalah dengan menyisipkan informasi ke dalam data multimedia tersebut dengan teknik digital watermarking. Informasi yang disisipkan ke dalam data multimedia disebut watermark, dan watermark dapat dianggap sebagai sidik digital (digital signature ) atau stempel digital dari pemilik yang sah atas produk multimedia tersebut.

28 Baca lebih lajut

Bab 13 Steganografi dan Watermarking

Bab 13 Steganografi dan Watermarking

Penyembunyian data dilakukan dengan mengganti bit-bit data di dalam segmen citra dengan bit-bit data rahasia. Hingga saat ini sudah banyak dikemukakan oleh para ilmuwan metode-metode penyembunyian data. Metode yang paling sederhana adalah metode modifikasi LSB (Least Significant Bit Modification). Pada susunan bit di dalam sebuah byte (1 byte = 8 bit), ada bit yang paling berarti (most significant bit atau MSB) dan bit yang paling kurang berarti (least significant bit atau LSB). Sebagai ilustrasi, di bawah ini dijelaskan metode modifikasi LSB untuk menyisipkan watermark pada citra (gambar) digital.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Image quality improvement is a process of image processing, which is needed to improve the quality of image that has been damaged and deteriorated due to some disturbances, the one of which is watermark. Watermark is a copyright, it can be a visible watermark. The process of embedding this watermark will get disruption in the image, generally the intensity variation of pixels those are not correlated with the pixels neighbor, applied directly to the image pixels so visually interference is easily seen by the eyes because those are looked different from the pixel neighbors, and the process of embedding watermark has the disadvantage like decreasing quality of the image. Therefore this has a goal to improve the image quality that has been embedded visible watermark by using the Image Averaging. Where in this study will make the process Image Averaging the pixel area which has a visible watermark with a size of 200 x 100 pixels and a size of 250 x 150 pixels. Then the process of calculating the value of Mean Square Error (MSE) and Peak Signal to Noise Ratio (PSNR) with a running time that counts the time during the process as a comparison parameter in the image results. A decrease in image quality when embedded visible watermark evidenced by the large value of MSE and the small value of PSNR to the image without visible watermark. Then obtained shrinking MSE value and growing PSNR value after the process improvement by using Image Averaging has been done. Image Averaging method perform is better on improve area pixel image with a size of 200 x 100 pixels with the smallest MSE value obtained is 1.9050 and the largest PSNR value is 4.5331 dB.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Staffsite STMIK PPKIA Pradnya Paramita

Staffsite STMIK PPKIA Pradnya Paramita

Salah satu cara untuk melindungi hak cipta multimedia (gambar/foto, suara, teks, video) adalah dengan menyisipkan informasi ke dalam data multimedia tersebut dengan teknik watermarking. Informasi yang disisipkan ke dalam data multimedia disebut watermark, dan watermark dapat dianggap sebagai sidik digital (digital signature) atau stempel digital dari pemilik yang sah atas produk multimedia tersebut.

Baca lebih lajut

OPTIMASI AUDIO WATERMARKING BERBASIS LIFTING WAVELET TRANSFORM DENGAN TEKNIK M-ARY MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA OPTIMIZATION BASED ON AUDIO WATERMARKING LIFTING WAVELET TRANSFORM WITH M-ARY TECHNIQUE USING GENERIC ALGORITHM Gella Aradea Putri1 , Gelar B

OPTIMASI AUDIO WATERMARKING BERBASIS LIFTING WAVELET TRANSFORM DENGAN TEKNIK M-ARY MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA OPTIMIZATION BASED ON AUDIO WATERMARKING LIFTING WAVELET TRANSFORM WITH M-ARY TECHNIQUE USING GENERIC ALGORITHM Gella Aradea Putri1 , Gelar B

Proses penyisipan informasi pada sistem digital audio watermarking pada umunya terdiri dari dua modul, watermark embedding dan watermark extractor. Pada modul embedding terjadi proses penyisipan informasi berupa data digital ke dalam file audio host dengan teknik tertentu, hasilnya berupa watermarked audio yang telah berisikan informasi digital didalamnya. Untuk mengambil kembali informasi yang telah disisipkan ke dalam watermark audio dilakukan dengan menggunakan modul ekstraksi. Pada proses ekstraksi perancangan sistem lebih sulit dibandingkan pada proses embedding (penyisipan), karena watermark audio yang didapat bisa jadi telah mendapatkan watermarking attack oleh pihak tertentu untuk mengambil karya digital yang sudah tersebar di dunia maya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Perbaikan kualitas citra ( image enhancement ) adalah suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara. Cara-cara yang bisa dilakukan misalnya dengan fungsi transformasi, operasi matematis, pemfilteran, dan lain-lain. Tujuan utama dari peningkatan kualitas citra adalah untuk memproses citra sehingga citra yang dihasilkan lebih baik daripada citra aslinya untuk aplikasi tertentu. (Sutoyo & Mulyanto, 2009).

16 Baca lebih lajut

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Manfaat penelitian ini adalah menghasilkan suatu perangkat lunak ( software ) yang dapat menghasilkan citra hasil dari citra yang sudah ditanamkan visible watermark , perangkat lunak ini juga akan membandingkan kualitas hasil perbaikan sebuah citra dari citra aslinya. Sedangkan manfaat bagi penulis adalah untuk mengetahui hasil yang optimal dalam perbaikan kualitas citra digital hasil Anti Watermarking menggunakan Metode Image Averaging .

5 Baca lebih lajut

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Analisis dan Implementasi Anti Watermarking untuk Memperbaiki Kualitas Citra Digital Dengan Menggunakan Metode Image Averaging

Image quality improvement is a process of image processing, which is needed to improve the quality of image that has been damaged and deteriorated due to some disturbances, the one of which is watermark. Watermark is a copyright, it can be a visible watermark. The process of embedding this watermark will get disruption in the image, generally the intensity variation of pixels those are not correlated with the pixels neighbor, applied directly to the image pixels so visually interference is easily seen by the eyes because those are looked different from the pixel neighbors, and the process of embedding watermark has the disadvantage like decreasing quality of the image. Therefore this has a goal to improve the image quality that has been embedded visible watermark by using the Image Averaging. Where in this study will make the process Image Averaging the pixel area which has a visible watermark with a size of 200 x 100 pixels and a size of 250 x 150 pixels. Then the process of calculating the value of Mean Square Error (MSE) and Peak Signal to Noise Ratio (PSNR) with a running time that counts the time during the process as a comparison parameter in the image results. A decrease in image quality when embedded visible watermark evidenced by the large value of MSE and the small value of PSNR to the image without visible watermark. Then obtained shrinking MSE value and growing PSNR value after the process improvement by using Image Averaging has been done. Image Averaging method perform is better on improve area pixel image with a size of 200 x 100 pixels with the smallest MSE value obtained is 1.9050 and the largest PSNR value is 4.5331 dB.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI METODE SINGULAR VALUE DECOMPOTITION UNTUK WATERMARKING PADA CITRA DIGITAL.

IMPLEMENTASI METODE SINGULAR VALUE DECOMPOTITION UNTUK WATERMARKING PADA CITRA DIGITAL.

In this paper, a robust watermarking scheme based on SVD is proposed. The watermark image is embedded in both D and U matrices. Since, the same watermark is embedded twice in the same image, the rate of watermark survival is high. Robustness is achieved by using the Dither quantization for D matrix and altering coefficients of U matrix. The quality of the watermarked image is good in terms of perceptibility and PSNR (43.11dB). This method is superior to Chung et al. method in terms of both PSNR and robustness (low BER & high NC). The proposed algorithm is shown to be robust to JPEG2000 compression, JPEG compression, rotation, scaling, cropping, median filtering, low pass filtering, row- column copying, row-column blanking, bit plane removal, salt and pepper noise and gamma correction. This indicates that an embedded watermark is still recoverable even after the common image processing operations on the watermarked image and hence highly suitable for the copyright protection.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...