Distribusi pasien berdasarkan penggunaan jenis antihipertensi

Top PDF Distribusi pasien berdasarkan penggunaan jenis antihipertensi:

Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi

Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi

Tuloli,T.S, et al., 2021; Indonesian Journal of Pharmacetical Education (e-Journal); 1(3): 127-135 134 didapatkan sebanyak 71 pasien dengan persentase 77% yang dianalisis adalah tepat dosis sedangkan tidak tepat dosis sebanyak 21 pasien dengan persentase 23%. Ketidaksesuaian ini disebabkan karena ketidaktepatan dalam pemberian terapi obat dan indikasi terhadap pasien dengan kategori hipertensi grade 1.Contoh kasusnya yaitu ny.HK yang diberikan obat amlodipin dengan dosis 10 mg lama pemberian 1x1 dengan kategori hipertense grade 1 dengan umur lansia yang seharusnya diberikan dosis awal 2,5 mgsebanyak 1 kali sehari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eka Kartika Utari, dkk (2018) yaitu pemberian dosis obat yang tidak sesuai standar, dapat memberikan dampak yang luas bagi pasien. Bila dosis obat yang tertera pada resep tidak tepat/tidak sesuai standar, maka pasien tersebut gagal mendapatkan pengobatan yang benar terkait penyakitnya. Hal ini dapat menimbulkan komplikasi berkaitan dengan penyakit tersebut [15].
Show more

9 Read more

Persistensi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan

Persistensi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan

Persistensi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi sangat diperlukan mengingat hasil utama terapi hipertensi adalah mencegah keja- dian penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, dan stroke yang beru- jung pada kematian. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis ter- api dan jenis obat antihipertensi terhadap persistensi. Penelitian ini meng- gunakan desain studi kohort retrospektif dan menggunakan sumber data sekunder pasien hipertensi rawat jalan peserta asuransi kesehatan PT Askes di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Metode pengukuran per- sistensi adalah metode the gaps between refill dengan tenggang waktu pengambilan obat selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat, Kaplan-Meier, dan Cox regression. Jumlah subjek yang ikut dalam penelitian ini adalah 304 pasien hipertensi yang menggunakan obat anti- hipertensi pertama kali (tanggal indeks diagnosis 1 Juli 2007 hingga 31 Desember 2008). Setelah pengamatan 4,5 tahun, hampir separuh subjek yang mendapat monoterapi (57,6%) dan kombinasi terapi (53,8%) tidak persisten menggunakan obat antihipertensi. Ketidakpersistenan penggu- naan obat antihipertensi lebih besar pada kelompok monoterapi daripada kelompok kombinasi, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan (RR = 0,94; 95% CI = 0,73 _ 1,21). Penggunakan diuretik (85,7%) dan kombinasi obat diuretik + ACE inhibitor (84,6%) cenderung tidak persisten dibandingkan subjek yang menggunakan ACE inhibitor (58,4%). Perbedaan ini bermak- na secara statistik (RR = 1,47; 95% CI = 1,05 _ 2,01 dan RR = 1,45; 95% CI = 1,10 _ 1,91). Persistensi dipengaruhi oleh jenis obat antihipertensi yang digunakan, yaitu ACE inhibitor.
Show more

6 Read more

Persistensi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan

Persistensi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan

Persistensi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi sangat diperlukan mengingat hasil utama terapi hipertensi adalah mencegah keja- dian penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, dan stroke yang beru- jung pada kematian. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis ter- api dan jenis obat antihipertensi terhadap persistensi. Penelitian ini meng- gunakan desain studi kohort retrospektif dan menggunakan sumber data sekunder pasien hipertensi rawat jalan peserta asuransi kesehatan PT Askes di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Metode pengukuran per- sistensi adalah metode the gaps between refill dengan tenggang waktu pengambilan obat selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat, Kaplan-Meier, dan Cox regression. Jumlah subjek yang ikut dalam penelitian ini adalah 304 pasien hipertensi yang menggunakan obat anti- hipertensi pertama kali (tanggal indeks diagnosis 1 Juli 2007 hingga 31 Desember 2008). Setelah pengamatan 4,5 tahun, hampir separuh subjek yang mendapat monoterapi (57,6%) dan kombinasi terapi (53,8%) tidak persisten menggunakan obat antihipertensi. Ketidakpersistenan penggu- naan obat antihipertensi lebih besar pada kelompok monoterapi daripada kelompok kombinasi, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan (RR = 0,94; 95% CI = 0,73 _ 1,21). Penggunakan diuretik (85,7%) dan kombinasi obat diuretik + ACE inhibitor (84,6%) cenderung tidak persisten dibandingkan subjek yang menggunakan ACE inhibitor (58,4%). Perbedaan ini bermak- na secara statistik (RR = 1,47; 95% CI = 1,05 _ 2,01 dan RR = 1,45; 95% CI = 1,10 _ 1,91). Persistensi dipengaruhi oleh jenis obat antihipertensi yang digunakan, yaitu ACE inhibitor.
Show more

6 Read more

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. vitamin ataupun herbal yang digunakan oleh pasien. 1. Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. vitamin ataupun herbal yang digunakan oleh pasien. 1. Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

karena efek samping dari glibenklamid yang dikonsumsi oleh pasien itu sendiri yang mengakibatkan hipoglikemik. Mekanisme kerja dari glibenklamid adalah dengan merangsang pelepasan insulin sel β pankreas dan bereaksi ekstra pankreatik dengan menurunkan kadar glukagon serum dan meningkatkan aksi insulin pada jaringan (Nugroho, 2011). Tanda- tanda yang muncul pada saat hipoglikemik antara lain berkeringat, gemetar, muka pucat, jantung berdebar, pusing dan merasa lapar. Untuk mengatasi hipoglikemik ringan dumana pasien masih sadar cukup diberikan gula atau minuman yang mengandung gula (Katzung, 2004). Sedangkan pada 5 pasien yang mengalami diare ketika mengkonsumsi metformin ini dikarenakan dari efek samping dari metformin itu sendiri. Pentingnya memberikan edukasi kepada pasien tentang efek samping dari glibenklamid supaya pasien dapat mengatasi hipoglikemik dengan segera, salah satu contohnya adalah dengan konseling.
Show more

11 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI DAN KEPATUHAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH  EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI DAN KEPATUHAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT DAERAH SURAKARTA PERIODE SEPTEMBER- OKTOBER TAHUN 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI DAN KEPATUHAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI DAN KEPATUHAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT DAERAH SURAKARTA PERIODE SEPTEMBER- OKTOBER TAHUN 2010.

Tabel 4. Karakteristik Pasien Hipertensi Rawat Jalan di Rumah Sakit Daerah Surakarta Ditinjau dari Jenis Kelamin Periode September- Oktober Tahun 2010 ............................................................................24 Tabel 5. Karakteristik Pasien Hipertensi Rawat Jalan di Rumah Sakit

17 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP  DI RUMAH SAKIT “X” SUKOHARJO  Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Sukoharjo Tahun 2013.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” SUKOHARJO Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Sukoharjo Tahun 2013.

ABSTRAK Penyakit dengan kondisi dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal biasa disebut Hipertensi. Penggunaan obat perlu dievaluasi untuk menilai kerasionalitasan suatu terapi serta untuk mencapai keberhasilan pengobatan dan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan obat antihipertensi di Rumah Sakit “X” Sukoharjo tahun 2013. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan metode deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medik dan resep dokter pada pasien hipertensi rawat inap. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel yang diambil memenuhi kriteria inklusi pasien hipertensi. Sampel berjumlah 100 sampel, jumlah tersebut merupakan ketersediaan dari pihak Rumah Sakit memberikan 100 sampel saja. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jenis golongan obat antihipertensi yang paling sering digunakan ada 2 obat yaitu Captopril sebanyak 67 peresepan (20,14%) dan Furosemid sebanyak 39 peresepan (34,7%). Penggunaan obat antihipertensi tepat indikasi 100%, tepat obat 76%, tepat dosis 100%, dan tepat pasien 94%.
Show more

11 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD SUKOHARJO TAHUN 2013  Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Sukoharjo Tahun 2013.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD SUKOHARJO TAHUN 2013 Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Sukoharjo Tahun 2013.

INTISARI Penyakit dengan kondisi dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal biasa disebut Hipertensi. Penggunaan obat perlu dievaluasi untuk menilai kerasionalitasan suatu terapi serta untuk mencapai keberhasilan pengobatan dan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan obat antihipertensi di RSUD Sukoharjo tahun 2013. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan metode deskriptif.

12 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI KOMPLIKASI   evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan hipertensi komplikasi di rumah sakit umum daerah dr. moewardi tahun 2014.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI KOMPLIKASI evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan hipertensi komplikasi di rumah sakit umum daerah dr. moewardi tahun 2014.

Definisi Operasional Definisi operasional penelitian yang dilakukan meliputi: 1. Evaluasi dilakukan berdasarkan tepat pasien, tepat dosis, tepat obat, pada penggunaan obat pasien hipertensi komplikasi sesuai dengan standar yang digunakan yaitu Seventh Report Of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII 2003), Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach (Dipiro et al., 2008), British National Formulary 2009, Drug Dosing in Critically III Patients with Renal Failure 2000 dan Informatorium Obat Nasional Indonesia.
Show more

16 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI KOMPLIKASI DI RUMAH  evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan hipertensi komplikasi di rumah sakit umum daerah dr. moewardi tahun 2014.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI KOMPLIKASI DI RUMAH evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan hipertensi komplikasi di rumah sakit umum daerah dr. moewardi tahun 2014.

Penderita Hipertensi dengan Komplikasi di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2014 ........................ 20 Tabel 8. Distribusi Penggunaan Obat Antihipertensi Tunggal dan Kombinasi Pada Penderita Hipertensi dengan Komplikasi di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2014 ............................................................................................... 20 Tabel 9. Distribusi Tepat Obat Antihipertensi Pada Penderita

13 Read more

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas               Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Berdasarkan jenis kelamin tekanan darah akhir perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki tetapi secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa tekanan darah akhir pada pasien yang berpendidikan SD dan Sarjana masih lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain dan tekanan darah akhir yang paling rendah pada pasien yang berpendidikan SMA. Tetapi perbedaan tekanan darah akhir berdasarkan tingkat pendidikan tidak berbeda secara signifikan ,manakala berdasarkan pekerjaan juga dapat dilihat bahwa tekanan darah akhir pada pasien ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada yang lainnya dan tekanan darah akhir yang paling rendah pada pasien yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta tetapi secara keseluruhan tidak terdapat perbedaaan yang signifikan terhadap tekanan darah pasien. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa semua jenis demografi tidak berpengaruh dalam terapi pengobatan.
Show more

76 Read more

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Berdasarkan hasil profil penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin sebanyak 40 (48%) obat dan hasil analisis 63 pasien dari keseluruhan kategori, yang tergolong MAI rendah 45 (71,5%) pasien dan MAI sedang 18 (28,5%) pasien. Dari penelitian ini didapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian peresepan dengan hasil terapi antihipertensi di Empat Puskesmas Kota Medan.

14 Read more

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Berdasarkan hasil profil penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin sebanyak 40 (48%) obat dan hasil analisis 63 pasien dari keseluruhan kategori, yang tergolong MAI rendah 45 (71,5%) pasien dan MAI sedang 18 (28,5%) pasien. Dari penelitian ini didapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian peresepan dengan hasil terapi antihipertensi di Empat Puskesmas Kota Medan.

2 Read more

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Ketidakrasionalan penggunaan obat juga dapat menyebabkan medication error. Medication error adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan, pasien atau konsumen, dan seharusnya dapat dicegah (Cohean, dkk., 1991). Kejadian medication error terdapat empat fase, salah satunya adalah fase prescribing (penulisan resep) (Ariani, 2005). Hal ini berkaitan dengan faktor yang menentukan keputusan dokter dalam meresepkan obat. Penggunaan obat yang tidak rasional dapat kita lihat dalam bentuk pemberian dosis yang berlebihan (overprescribing) atau tidak memadai (underprescribing), penggunaan banyak jenis obat yang sebenarnya tidak diperlukan (polifarmasi), menggunakan obat yang lebih toksik padahal ada yang lebih aman, penggunaan obat yang tidak sesuai dengan rutenya dan memberikan beberapa obat yang berinteraksi. Bentuk lain ketidakrasionalan pengobatan adalah extravagant prescribing, kebiasaan meresepkan obat mahal padahal tersedia obat yang sama efektifnya dan lebih murah, baik dalam kelompok yang sama atau berbeda kelompok (Sadikin, 2011). 2.6 Medication Appropriateness Index
Show more

14 Read more

Kajian Penggunaan Antihipertensi dan Potensi Interaksi Obat Pada Pengobatan Pasien Hipertensi Dengan Komplikasi

Kajian Penggunaan Antihipertensi dan Potensi Interaksi Obat Pada Pengobatan Pasien Hipertensi Dengan Komplikasi

pemberian dosis. Dosis obat perlu diukur berdasarkan fungsi ginjal, semakin buruk fungsi ginjal akan semakin buruk rendah pula dosis yang dibutuhkan, untuk itu pemeriksaan fungsi ginjal sangat penting. Pemeriksaan yang biasa digunakan sebagai acuan adalah pemeriksaan LFG atau klirens kreatinin (Ashely & Currie 2009). Dalam penelitian ini nilai penggunaan obat berdasarkan tepat pasien didapatkan nilai persentase 100% karena pada semua obat yang diresepkan pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik sesuai dengan keadaan patologi dan fisiologi pasien serta tidak menimbulkan kontraindikasi bagi pasien maupun terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Hal ini karena dokter sudah mengerti benar kondisi pasien dan sudah mempertimbangkan pemberian obat yang tepat untuk pasien. Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak yaitu furosemid kontraindikasi pada pasien gangguan gastrointestinal, pasien koma, hipersensitif terhadap sulfonamid.
Show more

15 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL  Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

Moewardi tahun 2010.Sampel diambil dengan metode purposive sampling dimana sampel ditentukan berdasarkan kriteria inklusi.Evaluasi penggunaan obat dalam penelitian ini meliputi tepat obat, tepat indikasi, tepat pasien dan tepat dosis. Berdasarkan penelitian ini didapat hasil sebagai berikut: Obat antihipertensi yang digunakan pada pasien adalah furosemid (36,13%), hidroklorotiazid (0,84%), captopril (15,13%), lisinopril (0,84%), valsartan (1,68%), irbesartan (0,84%), amlodipin (1,68%), nifedipin (0,84%), nicardipin (0,84%), diltiazem (17,65%), dan clonidin (23,53%). Kategori ketepatan didapat untuk tepat indikasi 100%, untuk tepat obat 84%, tepat pasien 100% dan 42%
Show more

10 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL   Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal di RS “X” tahun 2010. Penelitian merupakan penelitian observational, data diambil secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien dan dianalisa dengan metode deskriptif nonanalitik. Populasi penelitian adalah semua pasien yang didiagnosis menderita hipertensi dengan gagal ginjal di instalasi rawat inap RS “X” tahun 2010. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dimana sampel ditentukan berdasarkan kriteria inklusi. Evaluasi penggunaan obat dalam penelitian ini meliputi tepat obat, tepat indikasi, tepat pasien dan tepat dosis. Dari penelitian ini didapat hasil sebagai berikut: Obat antihipertensi yang digunakan pada pasien adalah furosemid (36,13%), hidroklorotiazid (0,84%), captopril (15,13%), lisinopril (0,84%), valsartan (1,68%), irbesartan (0,84%), amlodipin (1,68%), nifedipin (0,84%), nicardipin (0,84%), diltiazem (17,65%), dan clonidin (23,53%). Kategori ketepatan didapat untuk tepat indikasi 100%, untuk tepat obat 84%, tepat pasien 100% dan 42% ketidaktepatan dosis.
Show more

17 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DI INSTALASI  EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2009.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DI INSTALASI EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2009.

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian non eksperimental dengan mengumpulkan data rekam medik secara retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode cluster random sampling. Analisis penggunaan obat dilakukan secara deskriptif dengan menghitung persentase karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin dan usia, serta persentase dari ketepatan indikasi, ketepatan dosis, ketepatan pasien dan ketepatan pemilihan obat. Analisis kerasionalan pengobatan dilakukan dengan membandingkan JNC VII dan BNF edisi Maret tahun 2009.

15 Read more

Prevalensi dan Distribusi Manifestasi Oral Akibat Penggunaan Obat-Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di RSUP H. Adam Malik dan RSU DR. Pirngadi Medan

Prevalensi dan Distribusi Manifestasi Oral Akibat Penggunaan Obat-Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di RSUP H. Adam Malik dan RSU DR. Pirngadi Medan

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN Selamat pagi Bapak/Ibu, Perkenalkan nama saya Annisa Yunita, saat ini saya sedang menjalani pendidikan dokter gigi di Universitas Sumatera Utara. Saya ingin memberitahukan kepada Bapak/Ibu bahwa saya sedang melakukan penelitian dengan judul “Prevalensi dan Distribusi Manifestasi Oral Akibat Penggunaan Obat-Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi DI RSUP H. ADAM MALIK DAN RSU DR. PIRNGADI MEDAN”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelainan-kelainan pada jaringan lunak mulut akibat penggunaan obat antihipertensi ( obat penurun tekanan darah ) yang Bapak/Ibu gunakan. Manfaat dari penelitian ini adalah agar dokter gigi dapat memberikan perawatan yang sebaik-baiknya dari keluhan-keluhan yang Bapak/Ibu rasakan setelah menggunakan obat darah tinggi ataupun kelainan- kelainan pada mulut yang nantinya ditemukan pada saat pemeriksaan, kelainan tersebut dapat berupa air ludah yang berkurang, pembengkakan gusi, ataupun luka pada mulut. Hal ini dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa obat-obatan yang Bapak/Ibu gunakan selain dapat memberikan efek samping pada tubuh juga dapat memberikan efek samping pada mulut.
Show more

75 Read more

TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI  PADA PASIEN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN   Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Instalasi Rawat Jalan Rsud Dr. Moewardi Pada Tahun 2014.

TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Instalasi Rawat Jalan Rsud Dr. Moewardi Pada Tahun 2014.

Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah tinggi merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya. Kepatuhan seorang pasien yang menderita hipertensi tidak hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut peran aktif dan kesediaan pasien untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan serta perubahan gaya hidup sehat yang dianjurkan (Burnier et.al, 2001).

11 Read more

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS SEMPAJA SAMARINDA

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS SEMPAJA SAMARINDA

email: adam@farmasi.unmul.ac.id ABSTRAK Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang meliputi ketepatan obat, ketepatan dosis, dan kepatuhan pasien dalam meminum obat di Puskesmas Sempaja Samarinda periode bulan Juni 2014. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan metode pengumpulan data prospektif yaitu melakukan wawancara menggunakan kuisioner MMAS kepada 32 pasien hipertensi rawat jalan di Puskesmas Sempaja Samarinda.Pola pengobatan hipertensi yang paling sering digunakan di puskesmas Sempaja Samarinda yaitu Captopril dari golongan ACEI, penggunaan obat menunjukkan ketepatan pemilihan obat dan dosis telah sesuai dengan JNC VII dimana Captopril dari golongan ACEI dan Amlodipine dari golongan CCB diberikan tunggal pada pasien hipertensi stage 1, dan dapat dikombinasi untuk pasien hipertensi stage 2.Dengan dosis dan frekuensi pemberian Captopril 25 mg, 2 × 1; Amlodipine 10 mg, 1× 1; Bisoprolol 5 mg, 1 × 1; HCT 25 mg 1 × 1; dan ISDN 30 mg, 3 × 1. Berdasarkan tingkat kepatuhan pasien persentase skor kepatuhan terbanyak yaitu kepatuhan rendah sebesar 50%, kepatuhan sedang sebesar 25 % dan kepatuhan tinggi 25%. Hasil pengujian kepatuhan pasien menggunakan kuesioner MMAS-8menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kepatuhan pasien dalam meminum obat dengan penurunan tekanan darah pasien.
Show more

8 Read more

Show all 10000 documents...