Drilling and Blasting

Top PDF Drilling and Blasting:

Analisis dan penerapan hirarc pada aktivitas drilling dan blasting di pt. Telen orbit prima site Buhut Kalimantan Tengah mateus

Analisis dan penerapan hirarc pada aktivitas drilling dan blasting di pt. Telen orbit prima site Buhut Kalimantan Tengah mateus

melaksanakan kontrol yang telah ditetapkan. Penerapan langkah-langkah pengendalian tersebut harus dilakukan agar bahaya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja tidak terjadi di PT. Telen Orbit Prima site Buhut khususnya pada aktivitas drilling dan blasting. Penerapan pengendalian tersebut ditetapkan pelaksanaannya oleh Kepala Departemen Produksi dan sosialisasi serta implementasi prosedur/ instruksi/ standard untuk mengontrol aspek penting, melaksanakan program yang telah disusun sesuai objective & targetnya (Prosedur Indentifikasi Bahaya dan Dampak Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Dalam penerapan pengendalian tersebut harus juga melibatkan karyawan dengan menerapkan, memantau dan pengukuran dari penerapan pengendalian bahaya dengan cara memberi saran kepada supervisor maupun ke departemen SHD sebagai pemantau pelaksanaan yang telah ditetapkan tersebut.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

BLASTING DESIGN DEVELOPMENT AREA DECLINE CIBITUNG AND CIKONENG UNDERGROUND MINE PT CIBALIUNG SUMBERDAYA BANTEN

BLASTING DESIGN DEVELOPMENT AREA DECLINE CIBITUNG AND CIKONENG UNDERGROUND MINE PT CIBALIUNG SUMBERDAYA BANTEN

Standard drilling and blasting patterns for development areas have been established by the Quality Control Department of PT CSD. However, the standard is made in the absence of blasting design and is not adapted to a specific rock mass classification, so it is intended for application to the overall mass of the rock. Because the mass of the development area has unequal classes at each point, it is necessary to design the blast according to the class and rock mass characteristics in order to make the blasting more efficient.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

A brief history of the development of blasting and the modern theory of rock breaking

A brief history of the development of blasting and the modern theory of rock breaking

Abstract : The article is devoted to the task today to improve the effectiveness of blasting during construction of horizontal and inclined mine excavations. Construction of new and reconstruction of existing mines requires large volume of excavation works, which length can reach tens of kilometers for only one project. Drilling and blasting workings allow not only to break out rocks from a frontal part of an excavation, but also cause an internal effect, which can lead to undesired damage that, in turn, often lead to increased expenses for excavation operations and safety problems for personnel. Calculation methods for blasting and explosion operations is a topical issue in mining industry as they allow to improve characteristics of excavation works and safety of explosion operations. Dozens of scientists offer their design, which reflects the vision of the problem and its solution. There are many methods for calculating the parameters of drilling and blasting, but so far not developed a uniform methodology of calculation, which would encompass all the factors and explained the mechanism of formation of cracks around the explosive charge and the process of breaking rock. The paper presents a novel methodology for calculations for blasting and explosion operations. That methodology comprises various specifics of rock geology and mining engineering during works in horizontal and vertical excavations. In this paper given an algorithm for calculation two main areas of destruction: crushed zone and fracturing zone. In addition, article outlines main aspects of Mining Engineering Development from Antiquity until present days and presents the dynamic of mineral resources.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Metode Pelaksanaan Pembangunan Terowongan Pengelak (Tunnel) Pada Proyek Waduk Bendung Ponorogo - ITS Repository

Metode Pelaksanaan Pembangunan Terowongan Pengelak (Tunnel) Pada Proyek Waduk Bendung Ponorogo - ITS Repository

Pada salah satu proses pembangunan Waduk Bendo adalah pengerjaan Diversion Tunnel (saluran pengelak). Untuk pembangunan Tunnel menurut NATM (New Austrian Tunnels Method)sendiri terdiri dari sepuluh tahapan yaitu : Pekerjaan Tanah, Surveying and Marking, Pekerjaan Pemboran (Drilling), Pekerjaan Pengisian Bahan Peledak (Charging), Pekerjaan Peledakan (Blasting), Pekerjaan Ventilitating, Pekerjaan Pembersihan (Scalling), Pekerjaan Pembuangan Material Hasil Ledakan (Mucking), Pekerjaan Shotcreting (first layer dan second layer), Pemasangan Rockbolt (Porepolling untuk batuan poor rock), Pemasangan Steel rib Frame.
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

BAB II DASAR TEORI DRILLING

BAB II DASAR TEORI DRILLING

garis sumbu mata pahat terhadap benda kerja. Gerak ini menentukan ketebalan dari chips yang dihasilkan. Gerakan ini dilakukan oleh pahat yang bergerak secara linear. Gerak potong menentukan kecepatan potong alat pahat. Gerakan ini dilakukan oleh pahat yang bergerak secara rotasional. Gerakan yang bersamaan antara gerak potong dan gerak makan akan menghasilkan lubang pada benda kerja. Sisi pahat drilling berbentuk spiral, yang berfungsi untuk mengalirkan geram-geram. Terdapat beberapa proses yang dapat dilakukan pada mesin gurdi yaitu :
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Ocean Drilling Report Brief Final

Ocean Drilling Report Brief Final

Committee on The Review of the Scientiic Accomplishments and Assessment of the Potential for Future Transformative Discoveries with U.S.-Supported Scientiic Ocean Drilling: Robert A. Duce (Co-Chair), Texas A&M University; Arthur Goldstein (Co-Chair), Bridgewater State University, Massachusetts; Subir K. Banerjee, University of Minnesota; William B. Curry, Woods Hole Oceanographic Institution; Magnus Friberg, Swedish Research Council, Stockholm; Julie A. Huber, Marine Biological Laboratory, Woods Hole, Massachusetts; Michael E. Jackson, UNAVCO, Inc., Boulder, Colorado; Keith K. Millheim, Strategic Worldwide LLC, The Woodlands, Texas; Samuel Mukasa, University of New Hampshire; Timothy Naish, Victoria University of Wellington, New Zealand; Paul E. Olsen, Columbia University, Palisades, New York; Lori L. Summa, ExxonMobil Upstream Research Company, Houston, Texas; Anne M. Tréhu, Oregon State University; Deborah Glickson (Senior Program Oficer), Elizabeth Eide (Senior Program Oficer), Jeremy Justice (Senior Program Assistant, until July 2011), Lauren Harding (Program Assistant, from August 2011), Ian Brosnan (Mirzayan Science and Technology Fellow, Winter 2010), National Research Council.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Drilling Of Aero Composite Material.

Drilling Of Aero Composite Material.

To reduce the defect of aero composite material during drilling process, it is essential to determine the factors, elements, methods and the drill bit features for the drilling operation. It involves many aspects such as the spindle speed rate, feed rate, drill diameter, specific cutting pressure, the thrust force, torque, drill temperature, tool design parameters and the influence of tool wear.

24 Baca lebih lajut

powermate drilling pin sleeve brochure

powermate drilling pin sleeve brochure

• Reverse service – receptacle assembled with plug interior and plug assembled with receptacle interior. Used in applications where plug is energized to feed normally de-energized receptacle. Interiors are field interchangeable using only a screwdriver. (* excludes 150 and 200A)

12 Baca lebih lajut

View of PERHITUNGAN TRAJECTORY PADA DIRECTIONAL DRILLING SUMUR GEOTHERMAL AL2 DI PT. PERTAMINA DRILLING SERVICE INDONESIA

View of PERHITUNGAN TRAJECTORY PADA DIRECTIONAL DRILLING SUMUR GEOTHERMAL AL2 DI PT. PERTAMINA DRILLING SERVICE INDONESIA

Design Trajectory merupak an langk ah awal sebelum dilak ukannya pemboran berarah atau sebagai acuan untuk pelaksanaan program pemboran, dari penentuan azimuth, sudut inklinasi, penentuan Kick Of Point, dan penentuan panjang total lintasan yang dipredik si dari perhitungan dan analisa formasi. Sehingga saat operasi pemboran berlangsung d riller mampu meminimalisir k esalahan yang akan dibuat k arena ada proyek si sebagai acuan. Dalam penentuan parameter parameter yang ak an dicari, metode radius k elengk ungan digunakan dalam perhitungan manual design trajectory ini, dimana hasil yang didapat dari penentuan KOP adalah 200 mTVD dengan ink linasi sebesar 40.33 o dan azimuth yang diperoleh sebesar N 239.98 o E. Model lintasan pemboran ini menggunakan tipe Build and Hold k arena nilai R adalah 859.87 meter yang lebih k ecil dari panjang displacement horizontal sepanjang 1620 meter. Pembelajaran serta pemahaman mengenai design trajectory pada lok asi Hululais AL-2, Rig PDSI #43.3/AB1500.E ak an membahas perhitungan design dari lintasan pemboran dari surface hingga target sumur yang telah ditentuk an demi berlangsungnya operasi pemboran di Hululais.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN  Analisis Semiotika terhadap Foto Kemal Jufri “Wrath of The Fire Mountain” dalam World Press Photo 2011.

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN Analisis Semiotika terhadap Foto Kemal Jufri “Wrath of The Fire Mountain” dalam World Press Photo 2011.

Yogyakarta, Java, Indonsia Dead farm animals lie covered in ash, in Argomulyo village. Mount Merapi, in Central Java, Indonesia, erupted in late October, blasting hot rock and volcanic ash a kilometers and a half into the air, in what was said to be its largest erupstion since the 1870s. Days after the initial eruption came an even bigger blast, releasing pytoclastic flows – fast-moving currents of gas that can reach 1.000°C – which wipped out surronding villages, even killing people outside the denoted danger zones. Merapi is one of the most active over 100 volvanoes in the archipelago but is known usually for non-explosive, slow eruptions. Over 350.000 people were evacuated frim the area around Merapi, and 353 people were killed in a spate of volcanic activity that lasted over a month. 47
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

The Effect Of Cutting Parameter To The Hole Diameter Accuracy Of Aisi D2 Tool Steel In Drilling Process.

The Effect Of Cutting Parameter To The Hole Diameter Accuracy Of Aisi D2 Tool Steel In Drilling Process.

cutting parameters which are cutting speed and feed rate and also cutting configurations consist of tool diameter, material and geometry. For this project, spindle speed, feed rate, and type of drill bit had been choose as the parameters that need to be observe. The drilling process will be conducted by three axis CNC milling machine. Using this machine, it will be more precise and easier to set the value of the selected parameter. The types of the drilling tool use are High Speed Steel (HSS) coated with Titanium Nitride (TiN), HSS coated with Titanium Carbon Nitride (TiCN) and HSS uncoated. The diameter for each of the cutting tool is 10mm. There will be presence of coolant during the drilling process.Coolants generally perform three major functions: cooling, lubrication, cleaning and are usually oil orwater based. Oil based coolants are often said to offer superiorlubricity, longer fluid life, improved surface finish, higher stockremoval rate and extended tool life(Mohan, et al., 2008). The coolant type use in this project is Fuchs Lubricants ECOCOOL 6210 IT.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL DRILLING TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL KELAS VIII MTs AL-HUDA BANDUNG TULUNGAGUNG TAHUN AJARAN 2016 2017 - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL DRILLING TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL KELAS VIII MTs AL-HUDA BANDUNG TULUNGAGUNG TAHUN AJARAN 2016 2017 - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Purnamasari, Nelly Indriastuti. 2014. Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Snowball Drilling dan Peer Tutoring Snowball Drilling Pada Materi Pokok Tabung, Kerucut, dan Bola Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Se-Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2013/2014. (Surakarta:Thesis tidak diterbitkan)

4 Baca lebih lajut

images file

images file

Roda Drilling 140303-000002 Jakarta Selatan Sugijanto corporate@rodadrilling.com 2.04.01 Pemboran/Drilling Nusantara 2.04.02 Pekerjaan Ulang & Perawatan Sumur / Workover & Well Sevice [r]

2 Baca lebih lajut

EX-TURNING, DRILLING-CHAMFERING, DAN THREADING DI PT.ABC MENGGUNAKAN JARINGAN KOMUNIKASI WIRELESS INTEGRATED AUTOMATION SYSTEM AND SUPERVISORY CONTROL AND DATA ACQUISITION (SCADA) OF EX-TURNING, DRILLING-CHAMFERING, AND THREADING WORK STATION AT PT.ABC US

EX-TURNING, DRILLING-CHAMFERING, DAN THREADING DI PT.ABC MENGGUNAKAN JARINGAN KOMUNIKASI WIRELESS INTEGRATED AUTOMATION SYSTEM AND SUPERVISORY CONTROL AND DATA ACQUISITION (SCADA) OF EX-TURNING, DRILLING-CHAMFERING, AND THREADING WORK STATION AT PT.ABC US

Stasiun kerja Threading merupakan stasiun kerja ke-3 dalam sistem kerja pemrosesan Arm Stay K25 RH. Sistem kerja stasiun Threading diawali dengan masuknya material dari stasiun kerja Drilling-Chamfering kedalam selongsong jalur feeder yang selanjutnya akan didorong oleh bantuan silinder feeder hingga material berada diantara dua cetakan silinder berulir. Setelah material berada pada posisi sempurna yang ditandai oleh posisi silinder pada kondisi minimum (silinder diposisikan terbalik), maka spinddle akan mulai memutar kedua cetakan silinder hingga satu siklus putaran yang ditandai oleh sensor. Proses akan terus berulang apabila terdapat material yang masuk.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Improvement of drill geometry for drilling CFRP composite.

Improvement of drill geometry for drilling CFRP composite.

There are several common problems associated with drilling carbon fibre composite such as delamination, excessive tool wear, melting and softening of the matrix, fibre pull-outs and scorching of the surface usually reported as the biggest concerns. Delamination usually occurs when the last plies of the material do not withstand the force exerted by the drill bit‘s chisel edge. In addition, the chip produced during drilling of carbon fibre composites is in the form of abrasive dry dust. The ineffective extraction of the chip is one of the major reasons for high tool wear rates. Tool wear is also related to delamination, as the force necessary to cut the material increases with tool wear. Figure 1 show the defects when drilling CFRP composite. Generally, the holes performances are directly related with the drill geometry.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESMENT AND DETERMINING CONTROL (HIRADC) DI AREA DRILLING PT. GEMALA KEMPA DAYA JAKARTA.

IMPLEMENTASI HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESMENT AND DETERMINING CONTROL (HIRADC) DI AREA DRILLING PT. GEMALA KEMPA DAYA JAKARTA.

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak kelimpahan rahmat, hidayah serta kenikmatan yang tidak terhingga nilainya sehingga penulis dapat mengerjakan dan menyelesaikan laporan tugas akhir dengan judul “ Implementasi Hazard Identification Risk Assesment and Determining Control (HIRADC) di area Drilling PT. Gemala Kempa Daya Jakarta ”.

11 Baca lebih lajut

Autonomous Maintenance Programme For Drilling Machine.

Autonomous Maintenance Programme For Drilling Machine.

Chapter two describes all about maintenance. The discussion starts with the introduction to maintenance, which is including the definition of maintenance, the importance of maintenance and also the various types of maintenance. Moreover, the TPM and the AM is discussed.

24 Baca lebih lajut

PERANCANGAN MESIN PEMBERSIH UNTUK PART I

PERANCANGAN MESIN PEMBERSIH UNTUK PART I

Perencanaan mesin ini menggunakan gun sand blasting sebagai pengganti dari pompa sebagai penggabung udara bertekanan dan alpha cleaner pemindah. Gun yang direncanakan terdapat dua nozzle sebagai peningkat tekanan, sedangkan ukuran dari nozzle yang direncanakan seperti pada tabel 2 berikut :

11 Baca lebih lajut

ANALISA BIAYA OPERASIONAL ALAT PEMECAH BATU (STONE CRUSHER) (Studi Kasus Unit Crushing Plant PT. Hutama Karya Cab. VB Jawa Timur).

ANALISA BIAYA OPERASIONAL ALAT PEMECAH BATU (STONE CRUSHER) (Studi Kasus Unit Crushing Plant PT. Hutama Karya Cab. VB Jawa Timur).

Pada proyek konstruksi, agregat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, misalnya untuk bangunan seperti gedung dan jembatan, selain itu juga digunakan dalam pembuatan jalan, seperti pada dasar jalan atau pada permukaan perkerasan jalan. Pada campuran aspal yang digunakan untuk pembuatan jalan dapat berupa pasir dan kerikil. Kerikil yang digunakan dalam pembuatan campuran aspal pada umumnya berasal dari batuan yang ukurannya besar yang ada di sungai, batu gunung hasil ledakan (blasting) sehingga perlu dilakukan pengolahan terhadap batuan tersebut untuk mendapatkan gradasi dan bentuk butir yang diinginkan. Guna mendapatkan kerikil atau batuan pecah yang sesuai dengan ukuran yang diharapkan, maka diperlukan suatu alat untuk pemecah batu (stone crusher). Dalam pekerjaan konstruksi, stone crusher berfungsi untuk mendapatkan butir–butir batu dalam jumlah serta perbandingan yang direncanakan. Proporsi atau perbandingan jumlah berat butir-butir batu yang tersusun menurut besar butirnya itu yang disebut dengan agregat. Didalam proses pembuatan agregat dari butir–butir batu yang besar tersebut biasanya dilakukan pemecahan–pemecahan lebih dari sekali (bertahap).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Studi Pengaruh Gerak Semi-submersible Drilling Rig dengan Variasi Pre-tension Mooring Line terhadap Keamanan Drilling Riser

Studi Pengaruh Gerak Semi-submersible Drilling Rig dengan Variasi Pre-tension Mooring Line terhadap Keamanan Drilling Riser

Dengan melihat semua parameter, dimana tegangan yang terjadi pada drilling riser masih melebihi kriteria pada pre- tension 400kN – 1200kN, maka besar batasan pre-tension mooring line yang direkomendasikan agar operasi pengeboran dapat berjalan dengan aman di lingkungan laut Natuna adalah minimal sebesar 1600 kN.

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...