Efek Testosteron Undekanoat Terhadap Fungsi Reproduksi Jantan

Top PDF Efek Testosteron Undekanoat Terhadap Fungsi Reproduksi Jantan:

Pemberian Kadar L-Arginine Dan Testosteron Undekanoat Oral Meningkatkan Nitric Oxide Plasma Pada Tikus Wistar Jantan Yang Di Orchiectomy.

Pemberian Kadar L-Arginine Dan Testosteron Undekanoat Oral Meningkatkan Nitric Oxide Plasma Pada Tikus Wistar Jantan Yang Di Orchiectomy.

Dalam proses penuaan terjadi penurunan level hormon, salah satunya yaitu hormon testosteron yang berperan penting dalam fungsi reproduksi dan seksual. Hormon testosteron dapat bekerja pada organ sasaran melalui Androgen Receptor (AR) dan efektor intrasel. AR merupakan salah satu protein yang berikatan dengan DNA dengan mengatur transkripsi gen. Testosteron yang berikatan dengan AR mempengaruhi fungsi endotel melalui neuron Non Adrenergic Non Cholinergic yang melepaskan NO, kemudian meningkatkan kadar cyclic Guanosine Mono Phosphate yang menyebabkan relaksasi otot polos arteri kavernosa serta meningkatkan aliran darah penis. Pada pembuluh darah, dalam keadaan normal NO dihasilkan oleh Nitric Oxide Synthase (NOS). L – Arginin merupakan prekursor dalam sintesis NO yang dilakukan oleh NOS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberian L – Arginin dan testosteron undekanoat oral terhadap peningkatan kadar NO pada tikus wistar jantan orchidectomy.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

PEMBERIAN L ARGININ DAN TESTOSTERON UNDEKANOAT ORAL MENINGKATKAN NITRIC OXIDE PADA TIKUS (Rattus norvegicus) WISTAR JANTAN ORCHIDECTOMY

PEMBERIAN L ARGININ DAN TESTOSTERON UNDEKANOAT ORAL MENINGKATKAN NITRIC OXIDE PADA TIKUS (Rattus norvegicus) WISTAR JANTAN ORCHIDECTOMY

Dalam proses penuaan terjadi penurunan level hormon, salah satunya yaitu hormon testosteron yang berperan penting dalam fungsi reproduksi dan seksual. Hormon testosteron dapat bekerja pada organ sasaran melalui Androgen Receptor (AR) dan efektor intrasel. AR merupakan salah satu protein yang berikatan dengan DNA dengan mengatur transkripsi gen. Testosteron yang berikatan dengan AR mempengaruhi fungsi endotel melalui neuron Non Adrenergic Non Cholinergic yang melepaskan NO, kemudian meningkatkan kadar cyclic Guanosine Mono Phosphate yang menyebabkan relaksasi otot polos arteri kavernosa serta meningkatkan aliran darah penis. Pada pembuluh darah, dalam keadaan normal NO dihasilkan oleh Nitric Oxide Synthase (NOS). L – Arginin merupakan prekursor dalam sintesis NO yang dilakukan oleh NOS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberian L – Arginin dan testosteron undekanoat oral terhadap peningkatan kadar NO pada tikus wistar jantan orchidectomy.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Pengaruh Hormon Testosteron Undekanoat (TU) Dan Medroksiprogesteron Asetat (MPA) Terhadap Konsentrasi Spermatozoa dan Histologi Spermatogenesis Tikus Jantan (Rattus Novergicus L) Galur Sprague Dawley

Pengaruh Hormon Testosteron Undekanoat (TU) Dan Medroksiprogesteron Asetat (MPA) Terhadap Konsentrasi Spermatozoa dan Histologi Spermatogenesis Tikus Jantan (Rattus Novergicus L) Galur Sprague Dawley

Medroksiprogesteron Asetat (MPA) adalah suatu progesteron sintetik yang memiliki efek kerja panjang (long acting) di dalam tubuh bila diberikan secara intramuskular. Penggunaan progesteron pada pria didasari oleh prinsip kerja yang sama pada wanita, yaitu menekan sekresi gonadotropin hipofisis yang menghambat produksi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) melalui umpan balik negatif dan selanjutnya akan menekan spermatogenesis sehingga dapat digunakan sebagai kontarsepsi pria. Pada pria progesteron dihasilkan oleh testis dan kelenjar adrenal testis sebagai hasil antara biosintesis androgen testis dan kortiko steroid meskipun dalam jumlah relatif sedikit (Moeloek, 1991).
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

EFEK ISOFLAVON KEDELAI (Glycine max) TERHADAP KADAR TESTOSTERON DAN BERAT VESIKULA SEMINALIS TIKUS JANTAN Sprague dawley

EFEK ISOFLAVON KEDELAI (Glycine max) TERHADAP KADAR TESTOSTERON DAN BERAT VESIKULA SEMINALIS TIKUS JANTAN Sprague dawley

Sprague Dawley berumur 3-4 bulan sebanyak 24 ekor dan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan. Pelaksanaan Penelitian Ekstrak kedelai diberikan secara oral dengan dosis 2,52 mg, 3,78 mg dan 5,04 mg selama 48 hari. Hari ke 49 tikus dikorbankan dengan cara dislokasi leher, kemudian diambil darah dari jantung. Selanjutnya darah di sentrifus 5000 rpm. Cairan bening yang merupakan serum darah kemudian dianalisis untuk mengetahui kadar hormon testosteron dengan metode ECLIA. Selain itu assesoris organ reproduksi yaitu vesikula seminalis diambil dan dibersihkan dalam larutan NaCl 0,9% sampai lemak yang menempel pada organ tersebut hilang, kemudian dikeringkan dengan kertas saring dan di timbang dengan timbangan analitik sartorius dengan ketelitian 0,001g.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Efek Isoflavon Kedelai (Glycine Max) Terhadap Kadar Testosteron Berat Vesikula Seminalis Tikus Jantan Sprague Dawley

Efek Isoflavon Kedelai (Glycine Max) Terhadap Kadar Testosteron Berat Vesikula Seminalis Tikus Jantan Sprague Dawley

Analisa data hasil eksperimental in vivo diatas membuktikan bahwa ada pengaruh signifikan pemberian isoflavon kedelai (Glycine max) terhadap kadar hormon testosteron dalam darah tikus jantan Sprague Dawley. Peneliti lain juga menyatakan bahwa kadar hormon testosteron mengalami penurunan sesuai dengan makin tinggi dosis isoflavon yang diberikan pada tikus (Wahyuni, 2012). Hal ini disebabkan senyawa isoflavon bersifat estrogen like dan juga bersifat antiandrogenik. Artinya Isoflavon dapat bekerja dengan cara meniru kerja estrogen, sehingga isoflavon dapat berikatan dengan reseptor estrogen pada hipofisis anterior. Menurunnya konsentrasi hormon testosteron yang disebabkan pemberian estrogen dapat terjadi karena penghambatan terhadap fungsi hipofisa (Parrott & Davies, 1979).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Antifertilitas Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) dan Reversibilitas Fungsi Reproduksi Pada Tikus (Rattus norvegicus) Jantan

Antifertilitas Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) dan Reversibilitas Fungsi Reproduksi Pada Tikus (Rattus norvegicus) Jantan

Kekhawatiran terjadinya penurunan libido merupakan salah satu hambatan penggunaan kontrasepsi pada pria, sehinggga pengembangan kontrasepsi pria yang efektif, aman dan dapat diterima merupakan tantangan. Hasil penelitian ini menunjukkan pula bahwa pemberian pegagan sampai dosis 450 mg/kg BB tidak menurunkan kadar testosteron sampai di bawah batas normal, yang menunjukkan bahwa pemberian pegagan tidak menurunkan libido tikus jantan. Kondisi ini memberikan harapan apabila pegagan digunakan sebagai bahan kontrasepsi untuk pria. Hasil penelitian ini juga menghilangkan kekhawatiran para pria terhadap penurunan libido, sehingga di masa yang akan datang diharapkan pegagan dapat dikembangkan menjadi bahan kontrasepsi efektif untuk pria yang aman dan dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini mengingat bahwa supaya dapat digunakan oleh pria, kontrasepsi jangan berpengaruh terhadap libido dan fungsi seksual serta harus reversibel. Pengembangan metode kontrasepsi pria dapat memberikan keuntungan sosial dan kesehatan masyarakat yang besar. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan diantaranya: penahanan produksi sperma, mengganggu pematangan dan atau fungsi sperma, dan gangguan transport sperma (Wu 1996;
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Pemulihan Spermatozoa Mencit (Mus musculus L.) dengan Vitamin C setelah Pemberian Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica papaya L.) dan Testosteron Undekanoat (TU).

Pemulihan Spermatozoa Mencit (Mus musculus L.) dengan Vitamin C setelah Pemberian Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica papaya L.) dan Testosteron Undekanoat (TU).

Keberhasilan penerapan kontrasepsi untuk wanita bukan berarti pria tidak ambil bagian dalam program KB dengan salah satu alat kontrasepsi yang efektif untuk kaum pria (Satriyasa &Pangkahila, 2010). Secara garis besar kerja obat kontrasepsi/KB terhadap sistem reproduksi pada pria dapat digolongkan berdasarkan tiga lokasi yakni, pretestikuler, testikuler, dan protestikuler. Cara protestikuler adalah cara yang dapat menghambat pematangan spermatozoa setelah berada dalam epididimis, diperkirakan ekstrak biji pepaya dapat sebagai pengatur fertilitas atau kesuburan secara postestikuler yang potensial pada tikus jantan, karena ekstrak tersebut memiliki efek membunuh spermatozoa matang di epididimis (Chinoy, 1985 dalam Amir, 1992).
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Pengaruh Gangguan Tidur Terhadap Kadar Hormon Testosteron dan Jumlah Spermatozoa pada Tikus Jantan Wistar

Pengaruh Gangguan Tidur Terhadap Kadar Hormon Testosteron dan Jumlah Spermatozoa pada Tikus Jantan Wistar

Perubahan globalisasi ternyata memberikan efek pada infertilitas selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2010 hampir 50 juta pasangan diseluruh dunia tidak dapat hamil setelah lima tahun menikah. 1 Infertilitas didefinisikan sebagai hilangnya kemampuan pasangan untuk hamil dan melahirkan anak. Pasangan diduga mengalami infertilitas jika tidak terjadi kehamilan setelah berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur dalam waktu satu tahun. 2 Ada dua faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi yaitu faktor endogen meliputi tahap intra seluler, seluler jaringan, organobiologik dan faktor luar meliputi lingkungan, pola hidup dan gaya hidup. 3
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Gangguan Tidur Terhadap Kadar Hormon Testosteron dan Jumlah Spermatozoa pada Tikus Jantan Wistar

Pengaruh Gangguan Tidur Terhadap Kadar Hormon Testosteron dan Jumlah Spermatozoa pada Tikus Jantan Wistar

Perubahan globalisasi ternyata memberikan efek pada infertilitas selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2010 hampir 50 juta pasangan diseluruh dunia tidak dapat hamil setelah lima tahun menikah. 1 Infertilitas didefinisikan sebagai hilangnya kemampuan pasangan untuk hamil dan melahirkan anak. Pasangan diduga mengalami infertilitas jika tidak terjadi kehamilan setelah berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur dalam waktu satu tahun. 2 Ada dua faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi yaitu faktor endogen meliputi tahap intra seluler, seluler jaringan, organobiologik dan faktor luar meliputi lingkungan, pola hidup dan gaya hidup. 3
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ULTRASTRUKTUR HEPAR MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK AIR BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) dan TESTOSTERON UNDEKANOAT (TU) SKRIPSI GUSTIKA MARYATI 070805013

ULTRASTRUKTUR HEPAR MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK AIR BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) dan TESTOSTERON UNDEKANOAT (TU) SKRIPSI GUSTIKA MARYATI 070805013

Hati merupakan organ yang memiliki fungsi sebagai detoksifikasi toksin. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak air biji pepaya (Carica papaya L.) dan Testosteron Undekanoat (TU) terhadap ultrastruktur hati mencit (Mus musculus L.) telah dilakukan di Laboratorium Struktur Hewan Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 kelompok kontrol dan 5 kelompok perlakuan, jumlah mencit masing-masing 5 ekor, dengan perlakuan lama waktu pajanan selama 24 minggu. Penyuntikan TU 0,25mg/0,1ml/ekor/mencit jantan interval waktu 6 minggu sekali secara intramuskular dan pemberian ekstrak biji pepaya 30mg/0,5ml/ekor/mencit jantan setiap hari secara oral. Setiap 6 minggu sekali mencit dibunuh dengan cara dislokasi leher, kemudian dibuat preparat hati dengan metode blok parafin dan pewarnaan hematoksilin-eosin. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan nyata antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, nekrosis ditemukan pada setiap minggu pengamatan (p<0,05) dan steatosis ditemukan pada minggu ke 6 dan minggu ke 18 (p<0,05), sedangkan degenerasi hidrofik hanya pada pengamatan minggu ke 12 dan minggu ke 18. Namun pengamatan morfologi tidak berpengaruh nyata (p>0,05).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Optimasi formulasi mikroemulsi sediaan hormon testosteron undekanoat

Optimasi formulasi mikroemulsi sediaan hormon testosteron undekanoat

berfungsi sebagai fase diam dengan ukuran 10x3 cm. Kemudian menyiapkan fase gerak yang berisi campuran ACN dan MeOH dengan perbandingan 69:31 lalu dijenuhkan. Menyiapkan sampel dan baku pembanding yang akan ditotolkan. Sampel diambil dari mikroemulsi yang telah berisi zat aktif testosteron undekanoat. Baku pembanding diambil dari sediaan yang telah beredar yaitu Nebido dan hormon testosteron undekanoat. Mengambil sebanyak 80µ l mikroemulsi yang berisi zat aktif testosteron undekanoat lalu ditambahkan dengan 500µ l ACN lalu disentrifuge. Menotolkan sampel dan baku pembanding dengan menggunakan pipa kapiler. Usahakan spot yang terbentuk sekecil mungkin. Jika diperlukan penotolan dapat dilakukan lebih dari 1 kali, tunggu sampai spot kering sebelum dilakukan penotolan berikutnya. Memasukkan lempeng ke dalam becker yang berisi fase gerak. Lalu becker ditutup dengan kaca arloji atau aluminium foil dan biarkan komponen memisah.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Efektivitas Kontrasepsi Hormonal Pria Yang Menggunakan Kombinasi Testosteron Undekanoat Dan Noretisteron Enantat

Efektivitas Kontrasepsi Hormonal Pria Yang Menggunakan Kombinasi Testosteron Undekanoat Dan Noretisteron Enantat

Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan 20155 Abstrak Penelitian tentang pencarian kontrasepsi pria masih terus dilakukan. Kurangnya jenis kontrasepsi dan masih belum efektifnya bahan kontrasepsi pria, membuat para pria kurang berminat menjadi akseptor Keluarga Berencana (KB). Testosteron undekanoat yang dikombinasikan dengan noretisteron enantat merupakan salah satu bahan kontrasepsi yang termasuk sedang diteliti. Namun sampai sekarang masih belum ada kontrasepsi pria yang siap diaplikasikan. Oleh sebab itu perlu adanya masih perlu digalakkan penelitian tentang kontrasepsi pria baik secara molekuler sampai dapat diaplikasikan pada manusia sebagai salah satu jawaban dalam mengatur jumlah penduduk dunia yang saat ini tumbuh dengan cepat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS KONTRASEPSI HORMONAL PRIA YANG MENGGUNAKAN KOMBINASI TESTOSTERON UNDEKANOAT DAN NORETISTERON ENANTAT

EFEKTIVITAS KONTRASEPSI HORMONAL PRIA YANG MENGGUNAKAN KOMBINASI TESTOSTERON UNDEKANOAT DAN NORETISTERON ENANTAT

Pendekatan kontrasepsi hormonal pria didasari pada penekanan gonadotropin sehingga mendorong terjadinya penekanan spermatogenesis. Studi ini pada mulanya didasari pada injeksi mingguan testosteron enantat (TE) dengan pencapaian 75% azoospermia pada orang Kaukasia dan ±100% pada semua relawan Cina. Untuk peningkatan efikasi, TE dikombinasikan dengan bahan-bahan yang berbeda. Diantaranya adalah antagonis GnRH, siproteron asetat, desogestrel, dan noretisteron enantat (NET-EN) (Kamischke et al., 2001). Kebanyakan regimen ini memerlukan injeksi intramuskular mingguan atau dua mingguan dari TE, meskipun akhirnya tidak cocok apabila diaplikasikan untuk jangka panjang. Percobaan Kinniburgh et al., (2001), menunjukkan penekanan yang cukup baik terhadap spermatogenesis dengan pemberian Desogestrel (DSG) yang dikombinasikan dengan implan testosteron (T).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Optimasi Formula Mikroemulsi Testosteron Undekanoat (TU) dengan Kekuatan Sediaan yang Optimum pada Penggunaan Injeksi Intramuskular

Optimasi Formula Mikroemulsi Testosteron Undekanoat (TU) dengan Kekuatan Sediaan yang Optimum pada Penggunaan Injeksi Intramuskular

Mikroemulsi dipilih sebagai pembawa testosteron undekanoat dalam rangka mencari formula alternatif injeksi intramuskular TU. Pada penelitian ini perbandingan campuran minyak (isopropil miristat : minyak jarak : benzil bezoat) untuk meningkatkan solubilisasi testosteron undekanoat diinvestigasi. Selanjutnya, dibuat sediaan mikroemulsi dengan berbagai komposisi minyak, air dan surfaktan dengan perbandingan campuran minyak (20 : 8 : 41) lalu dimasukan ke dalam diagram fase pseudoterner. Formula yang paling stabil dievaluasi meliputi cycling test, uji sentrifugasi, uji pH dan uji ukuran partikel serta dilakukan uji difusi dan dibandingkan dengan sediaan kosolvensi yang beredar di pasaran. Uji difusi menggunakan sel difusi Franz dengan membran otot tikus galur Sprague dawley bagaian biceps femoris serta kompartemen reseptor berisi phosphate buffer saline pH 7,4. Hasil evaluasi menunjukan sediaan mikroemulsi terpilih adalah formula J yang terdiri dari fase air 3% air dan surfaktan (Tween 80) 28%, serta campuran fase minyak 69% memberikan stabilitas fisik yang baik dengan range pH 6-7 dan ukuran partikel 90,1 nm. Setelah 8 jam pengujian difusi didapatkan Persen TU terpenetrasi pada mikroemulsi dan kosolvensi yang beredar dipasaran secara berturut – turut adalah 1,026 % ; 2,698% dan fluks secara berturut-turut yait u 63,95 μg/cm 2 .jam ; 170,476 μg/cm 2 .jam. Dari hasil uji difusi secara in vitro menunjukan mikroemulsi mempunyai penetrasi yang lebih rendah dibandingkan dengan sediaan kosolvensi yang beredar di pasaran.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Optimasi Uji Difusi Kombinasi Testosteron Undekanoat (TU)

dan Medroksi Progesteron Asetat (MPA) dalam Sediaan

Mikroemulsi

Optimasi Uji Difusi Kombinasi Testosteron Undekanoat (TU) dan Medroksi Progesteron Asetat (MPA) dalam Sediaan Mikroemulsi

(MPA) dalam sediaan mikroemulsi yang telah dilakukan belum menunjukkan profil difusi yang op- timal. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi medium difusi dan kinetika pelepasan sediaan mikroemulsi TU dan MPA. Parameter yang dioptimasi dalam penelitian ini adalah medium difusi yaitu menggunakan medium NaCl fisiologis, phosphate buffer saline (PBS) dan isopropanol-air (1:9). Pengujian difusi dilakukan dengan menggunakan alat Franz Diffusion Cell dan otot paha tikus jantan Sprague-Dawley sebagai membran difusi yang dilakukan selama 18 jam. Hasil uji difusi dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) pada kondisi optimum dengan fase gerak metanol- asetonitril (90:10), kolom C 18 , laju alir 1,2 ml/menit, volume injeksi 20 μl dan menggunakan detek- tor UV-Vis pada panjang gelombang 243 nm. Hasil analisis menunjukkan medium difusi yang paling optimum adalah isopropanol-air (1:9). Kinetika pelepasan sediaan tersebut mengikuti kinetika orde nol dengan nilai r = 0,9913 untuk TU dan nilai r = 0,9777 untuk MPA.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Optimasi Uji Difusi Kombinasi Testosteron Undekanoat (TU) dan Medroksi Progesteron Asetat (MPA) dalam Sediaan Mikroemulsi

Optimasi Uji Difusi Kombinasi Testosteron Undekanoat (TU) dan Medroksi Progesteron Asetat (MPA) dalam Sediaan Mikroemulsi

ABSTRAK: Uji difusi kombinasi testosteron undekanoat (TU) dan medroksi progesteron asetat (MPA) dalam sediaan mikroemulsi yang telah dilakukan belum menunjukkan profil difusi yang op- timal. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi medium difusi dan kinetika pelepasan sediaan mikroemulsi TU dan MPA. Parameter yang dioptimasi dalam penelitian ini adalah medium difusi yaitu menggunakan medium NaCl fisiologis, phosphate buffer saline (PBS) dan isopropanol-air (1:9). Pengujian difusi dilakukan dengan menggunakan alat Franz Diffusion Cell dan otot paha tikus jantan Sprague-Dawley sebagai membran difusi yang dilakukan selama 18 jam. Hasil uji difusi dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) pada kondisi optimum dengan fase gerak metanol- asetonitril (90:10), kolom C 18 , laju alir 1,2 ml/menit, volume injeksi 20 μl dan menggunakan detek- tor UV-Vis pada panjang gelombang 243 nm. Hasil analisis menunjukkan medium difusi yang paling optimum adalah isopropanol-air (1:9). Kinetika pelepasan sediaan tersebut mengikuti kinetika orde nol dengan nilai r = 0,9913 untuk TU dan nilai r = 0,9777 untuk MPA.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PENYUNTIKAN KOMBINASI TESTOSTERON UNDEKANOAT DAN DEPOT MEDROKSI PROGESTERON ASETAT TERHADAP KONSENTRASI SPERMATOZOA TESTIS TIKUS (Rattus sp.

PENGARUH PENYUNTIKAN KOMBINASI TESTOSTERON UNDEKANOAT DAN DEPOT MEDROKSI PROGESTERON ASETAT TERHADAP KONSENTRASI SPERMATOZOA TESTIS TIKUS (Rattus sp.

E-mail: rismadefi@unri.ac.id , rismadefi@yahoo.co.id ABSTRAK Salah satu penyebab terjadinya penghambatan spermatogenesis sehingga menjadikan pria normal menjadi azoospermia adalah pemberian testosteron secara intramuskular dan oral. Azoospermia terjadi karena terhambatnya perkembangan sel germinal karena penekanan hormon testosteron sebagai akibat adanya mekanisme umpan balik negatif poros hipotalamus hipofisis testis. Berdasarkan hal tersebut diduga penyuntikan TU+DMPA menyebabkan azoospermia. Penelitian ini menggunakan tikus (Rattus sp.) jantan strain Sprague-Dawley dengan beberapa kondisi perlakuan penyuntikan kombinasi TU+DMPA. Masing-masing perlakuan disertai dengan kontrolnya. TU diberikan dengan dosis 2,5 mg setiap 6 minggu sekali sedangkan DMPA 1,25 mg setiap 12 minggu. Dari hasil penelitian didapatkan konsentrasi spermatozoa tikus pada tiap kelompok perlakuan yaitu: pada K0 (praperlakuan) 152,87±10,91 jt/mL dan kontrol 153,33±4,81 jt/mL. Pada K1 (minggu ke-6) turun menjadi 117,93±13,88 jt/mL dan kontrol 159,27±41,31 jt/mL. Pada K2 (minggu ke-12) turun lagi menjadi 47,20±45,42 jt/mL dan kontrol 211,44±41,55 jt/mL. Pada K3 (minggu ke-18) mengalami penurunan konsentrasi menjadi 6,67±15,94 jt/mL dan kontrol 120,47±15,94 jt/mL. Dan pada K4 (minggu ke-24) konsentrasi turun hingga mencapai 0,87±1,76 jt/mL (mendekati azoospermia) dan kontrol 116,00±6,84 jt/mL. Pada penelitian ini terdapat adanya perbedaan yang signifikan antara kelima kelompok perlakuan yang diuji (K0, K1, K2, K3 dan K4) (p<0,05).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Studi  Testosteron Plasma, Kuantitas Dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Kombinasi Hormon Testosteron Undekanoat (Tu) Dan Ekstrak Air Biji Blustru (Luffa Aegyptica Roxb.)

Studi Testosteron Plasma, Kuantitas Dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Kombinasi Hormon Testosteron Undekanoat (Tu) Dan Ekstrak Air Biji Blustru (Luffa Aegyptica Roxb.)

balik negatif ke hipofisis anterior, yaitu tidak melepaskan FSH dan LH. Penurunan kadar LH menyebabkan gangguan terhadap sekresi testosteron oleh sel Leydig. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Ashok dan Meenakshi (2004) dalam Elfira et al, (2010), terhadap tikus putih yang diberi ekstrak kunyit (Curcuma longa L.), kandungan flavonoid pada kunyit dapat menyebabkan terganggunya sekresi hormon testosteron. Sehingga dengan adanya penurunan sekresi hormon testosteron akan mengakibatkan kelangsungan hidup spermatozoa di dalam epididimis mengalami penurunan. Terganggunya permeabilitas membran sperma oleh senyawa alkaloid yang terkandung pada rimpang temu putih juga dapat menyebabkan penurunan spermatozoa yang hidup, yang berakibat mengganggu transpor nutrien yang diperlukan spermatozoa untuk daya tahan hidupnya . S ehingga pemberian ekstrak temu putih selama 35 hari dapat menyebabkan terjadinya penurunan motilitas dan viabilitas spermatozoa mencit.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Ultrastruktur Hepar Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica Papaya L.) Dan Testosteron Undekanoat (Tu)

Ultrastruktur Hepar Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica Papaya L.) Dan Testosteron Undekanoat (Tu)

aquadest dan kemudian preparat dimasukkkan berturut-turut ke dalam alkohol 30, 40, 50, 60, 70, 80, dan 96%, alkohol absolut, dikeringkan dengan kertas tisu, selanjutnya preparat d[r]

24 Baca lebih lajut

Ultrastruktur Hepar Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica Papaya L.) Dan Testosteron Undekanoat (Tu)

Ultrastruktur Hepar Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica Papaya L.) Dan Testosteron Undekanoat (Tu)

kelurahan kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan Komplek Adam Malik kota Madya Medan, Sumatera Utara. Biji pepaya kemudian dicuci dan dikeringkan dengan inkubator pada suhu 50°C sampai kering (kadar air 20%). Biji yang telah kering dihaluskan dengan diblender dan diayak dengan ayakan tepung sehingga didapatkan 300 g bubuk halus biji pepaya. Diambil sebanyak 300 g yang telah halus kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang telah diisi air, selanjutnya dilakukan perebusan hingga mendidih, setelah mendidih air perebusan disaring dengan kertas saring hingga diperoleh hasil dan residu. Residu yang diperoleh direbus kembali hingga diperoleh hasil dan residunya lagi, begitu seterusnya sampai residu tidak dapat dipergunakan kembali. Hasil rebusan dipanaskan hingga diperoleh reindaimen sampai berwarna coklat tua dan kental 30 g. Reindaimen yang diperoleh selanjutnya dilarutkan kembali dengan aquabidestilata steril 500ml sesuai dengan kebutuhan penelitian. Kemudian diberikan secara oral dengan dosis 30 mg/0,5 ml/hari mencit jantan.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...