EKONOMI HIJAU (GREEN ECONOMY)

Top PDF EKONOMI HIJAU (GREEN ECONOMY):

Konsep Ekonomi Hijau Green Economic dala

Konsep Ekonomi Hijau Green Economic dala

Yudhoyono dalam berbagai pertemuan internasional terkaitan penyelamatan lingkungan dan sumber daya alam, belumlah cukup. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana implementasinya dalam hukum positif Indonesia, yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Dengan demikian, konsep ekonomi hijau (green economy) harus menjadi paradigma dalam pengaturan dan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam. Hal ini dikarenakan pembangunan ekonomi nasional masih memanfaatkan sumber daya alam sebagai sumber utama dalam rangka meningkatkan pendapatan negara melalui pajak, retribusi ataupun bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam seperti migas, tambang, perkebunan, kehutanan dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

workshop Ekonomi hijau di unpad

workshop Ekonomi hijau di unpad

beberapa istilah: keberlanjutan (sustainability), hijau (green), ramah lingkungan (environmental friendly), dan sebagainya. Begitupun dengan masalah perekonomian yang mengalami perkembangan, yaitu Ekonomi Hijau (Green Economy) yang merupakan salah satu yang pertumbuhan pendapatan dan lapangan kerjanya didorong oleh investasi publik dan swasta yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan polusi, meningkatkan energi dan efisiensi sumber daya, serta mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem.

9 Baca lebih lajut

Paradigma Ekonomi Hijau Green Economic d

Paradigma Ekonomi Hijau Green Economic d

Syarat adanya peraturan yang terkait dengan peran dan partisipasi masyarakat lokal dan masyarakat adat yang terkena dampak, peraturan tentang penataan pertanahan di kawasan hutan, serta pembentukan kelembagaan khusus yang menangani ekonomi hijau (green economy) merupakan hal yang sangat mendesak dirumuskan. Baik Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut UU PPLH) sebagai undang-undang yang menjadi landasan utama dalam pengaturan lingkungan, maupun Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, tidak memberikan batasan pengertian baik mengenai ekonomi hijau (green economy) maupun ekonomi lingkungan itu sendiri. Dalam ketentuan Pasal 1 angka (33) UU PPLH ditegaskan bahwa instrumen ekonomi lingkungan adalah seperangkat kebijakan ekonomi untuk mendorong Pemerintah, pemerintah daerah atau setiap orang ke arah pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengertian tersebut tentunya tidak memadai untuk ditafsirkan bahwa kebijakan ekonomi tersebut dalam konteks ekonomi hijau, karena hanya mengarah kepada isu pelestarian fungsi lingkungan saja, belum mengarah pada isu kesejahteraan dan keadilan sosial sebagai isu utama dalam ekonomi hijau. Namun dalam konteks penafsiran hukum yang memperluas (extensif interpretatie) maka pemahaman isu pelestarian fungsi lingkungan harus dimaknai termasuk juga isu kesejahteraan dan isu keadilan sosial 14 . Untuk itu perlu difikirkan upaya-
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEBERHASILAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU DALAM RESTORASI DAN KONSERVASI TERUMBU KARANG DI PEMUTERAN BALI SEBAGAI DAYA TARIK EKOWISATA.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEBERHASILAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU DALAM RESTORASI DAN KONSERVASI TERUMBU KARANG DI PEMUTERAN BALI SEBAGAI DAYA TARIK EKOWISATA.

Temuan penelitian Suryadiarta dan Setiawan (2014) mengenai implementasi ekonomi hijau di Pemuteran masih menyisakan permasalahan besar yaitu, walaupun semua sumberdaya tersedia, tidak secara otomatis menjamin keberhasilan implementasi program. Pada program sejenis di Filipina misalnya, Fabinyi (2010) melaporkan bahwa terjadi kegagalan karena adanya kompetisi antara kegiatan pariwisata dan kegiatan nelayan setempat karena tidak adanya integrasi program yang melibatkan masyarakat lokal sehingga keduanya saling melemahkan. Faktanya implementasi ekonomi hijau di sektor pariwisata dengan basis pengembangan ekowisata terumbu karang sangat memerlukan informasi akurat mengenai faktor- faktor substantif dari pilar ekonomi hijau yang secara signiikan berpengaruh terhadap keberhasilan program sebagai daya tarik ekowisata di Pemuteran Bali. Di Samping itu, pilar ekonomi hijau ini akan semakin mudah diimplementasikan jika adanya aspek pendukungnya. Kedua hal tersebut menjadi justiikasi kuat bagi penulisan hasil penelitian ini. Prinsip-prinsip ekonomi hijau ini di sektor pariwisata didekati melalui pengembangan pariwisata hijau (green tourism) yang salah satunya diwujudkan melalui ekowisata (ecotourism).
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Green Ekonomi dan Bisnis 1

Green Ekonomi dan Bisnis 1

Program Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.

7 Baca lebih lajut

Index of /enm/images/dokumen

Index of /enm/images/dokumen

ARAH KEBIJAKAN EKONOMI HIJAU GREEN ECONOMY • Orientasi jangka panjang • Prinsip 3 tiga pilar pembangunan • Bertumpu pada daya dukung dan • daya tampung lingkungan EKONOMI HIJAU GREEN[r]

8 Baca lebih lajut

Potret Lingkungan Hidup di Indonesia

Potret Lingkungan Hidup di Indonesia

Prasyarat Ekonomi Hijau dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan: Konsisten dengan hukum internasional; Menghargai kedaulatan nasional dari suatu negara at[r]

29 Baca lebih lajut

Pembangunan Berkelanjutan di era  (1)

Pembangunan Berkelanjutan di era (1)

Konferensi internasional ini mempunyai tiga tujuan, yaitu mengamankan pembaharuan komitmen politik untuk pembangunan berkelanjutan, menilai kemajuan dan pelaksanaan pada pertemuan sebelumnya, dan menangani sebuah tantangan yang baru. Dua tema utama pada konferensi internasional ini pertama, bagaimana membentuk ekonomi hijau untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan, termasuk mendukung penuh pada Negara berkembang yang mengizinkan dalam mencari cara pada prinsip ramah lingkungan pengembangan Negara. Kedua, bagaimana meningkatkan koordinasi internasional untuk pembangunan berkelanjutan dengan membangun kerangka kerja institusi. (Wikipedia, 2012)
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU KECAMATAN JEPARA DI KABUPATEN JEPARA

EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU KECAMATAN JEPARA DI KABUPATEN JEPARA

Dari observasi yang telah dilakukan, kondisi jalur hijau jalan Ratu Kalinyamatan belum sesuai dengan Peraturan Pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum (2010) tentang jalur hijau jalan. Di sepanjang jalan tersebut sama sekali tidak di tanaman tepi jalan. Jenis tanaman yang sebaiknya dijadikan sebagai pengisi di sepanjang ruas jalan Ratu Kalinyamatan adalah Angsana sebagai tanaman peneduh dan Teh- tehan sebagai pembatas dengan jarak tanam rapat. Tanaman angsana mempunyai fungsi sebagai peneduh, karena mempunyai tajuk yang lebar, batang yang kuat, dan bermassa daun padat. Selain itu, tanaman Angsana juga dapat menyerap polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Tanaman Teh-tehan mempunyai fungsi sebagai peredam kebisingan yang disebabkan oleh kendaraan bermotor.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

 Kelas XII SMA IPA Sejarah 3 Sh Musthofa

Kelas XII SMA IPA Sejarah 3 Sh Musthofa

Perkembangan Revolusi Hijau di Indonesia mengalami pasang surut karena faktor alam ataupun kerusakan ekologi. Hal ini tentu saja memengaruhi persediaan beras nasional. Pada tahun 1972, produksi beras Indonesia terancam oleh musim kering yang panjang. Usaha peningkatan produksi beras nasional sekali lagi terganggu karena serangan hama dengan mencakup wilayah yang sangat luas pada tahun 1977. Produksi pangan mengalami kenaikan ketika program intensifikasi khusus (insus) dilaksanakan pada tahun 1980. Hasilnya, Indonesia mampu mencapai tingkat swasembada beras dan berhenti meng- impor beras pada tahun 1984. Padahal, pada tahun 1977 dan 1979 Indonesia merupakan pengimpor beras terbesar di dunia. Selain memanfaatkan jenis padi baru yang unggul, peningkatan produksi beras di Indonesia didukung oleh penggunaan pupuk kimia, mekanisasi pengolahan tanah, pola tanam, pengem- bangan teknologi pascapanen, penggunaan bahan kimia untuk membasmi hama pengganggu, pencetakan sawah baru, dan perbaikan serta pembangunan sarana dan prasarana irigasi. Selain kebijakan intensifikasi, Indonesia juga melakukan pencetakan sawah baru. Sampai tahun 1985, sudah terdapat 4,23 juta hektar sawah beririgasi terutama di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat dibandingkan sekitar 1,8 juta hektar pada tahun 1964. Selama empat pelita, telah dibangun dan diperbaiki sekitar 8,3 juta hektar sawah beririgasi.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

1202323 Kelas 12 SMA IPA Sej

1202323 Kelas 12 SMA IPA Sej

Pasca PD II terjadilah perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet yang melahirkan Perang Dingin (Cold War) yang disebut juga sebagai ‘perang urat syaraf’. Perang Dingin adalah suasana internasional yang penuh ketegangan dan bermusuhan akibat konflik ideologi antara Blok Barat (liberal kapitalis) pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur (sosialis komunis) pimpinan Uni Soviet yang berkembang setelah Perang Dunia II berakhir. Dampak yang terjadi akibat Perang Dunia II sangat luas dan kompleks, baik menyangkut aspek politik, ekonomi, sosial, maupun kebudayaan. Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berperan besar dalam mengakhiri Perang Dunia II tampil sebagai kekuatan dunia. Karena merasa paling kuat dalam segala hal, kedua negara itu saling berusaha memperluas pengaruh ke seluruh negara di dunia. Tujuannya adalah mereka ingin menjadi nomor satu dan menjadi penguasa tunggal dunia. Untuk tujuan tersebut, mereka melakukan segala hal, tetapi keduanya belum pernah secara langsung berhadapan dalam perang terbuka. Persaingan dua kekuatan adidaya dunia tersebut menimbulkan Perang Dingin. a. Penyebab Terjadinya Perang Dingin
Baca lebih lanjut

188 Baca lebih lajut

Analisis Program Kompensasi Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt. Indolakto Jl. Raya Medan Km 11.5 Tanjung Morawa

Analisis Program Kompensasi Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt. Indolakto Jl. Raya Medan Km 11.5 Tanjung Morawa

Permata Hijau Group PHG Cabang Sosa Sumatera Utara”, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.. Jurnal Yensy, Nurul Astuty.[r]

2 Baca lebih lajut

Analisis Nilai Sosial Ekonomi Konservasi Satwaliar pada Ruang Terbuka Hijau di Kota Medan

Analisis Nilai Sosial Ekonomi Konservasi Satwaliar pada Ruang Terbuka Hijau di Kota Medan

1. Bagi pihak institusi pendidikan, bermanfaat sebagai bahan referensi untuk kajian penelitian yang berhubungan dengan nilai ekonomi kawasan berdasarkan metode biaya perjalanan (Travel Cost Methode) dan metode kesediaan membayar (Willingnes to pay).

4 Baca lebih lajut

sma12sej IPA Sejarah ShMusthofa b

sma12sej IPA Sejarah ShMusthofa b

Pasca PD II terjadilah perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet yang melahirkan Perang Dingin (Cold War) yang disebut juga sebagai ‘perang urat syaraf’. Perang Dingin adalah suasana internasional yang penuh ketegangan dan bermusuhan akibat konflik ideologi antara Blok Barat (liberal kapitalis) pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur (sosialis komunis) pimpinan Uni Soviet yang berkembang setelah Perang Dunia II berakhir. Dampak yang terjadi akibat Perang Dunia II sangat luas dan kompleks, baik menyangkut aspek politik, ekonomi, sosial, maupun kebudayaan. Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berperan besar dalam mengakhiri Perang Dunia II tampil sebagai kekuatan dunia. Karena merasa paling kuat dalam segala hal, kedua negara itu saling berusaha memperluas pengaruh ke seluruh negara di dunia. Tujuannya adalah mereka ingin menjadi nomor satu dan menjadi penguasa tunggal dunia. Untuk tujuan tersebut, mereka melakukan segala hal, tetapi keduanya belum pernah secara langsung berhadapan dalam perang terbuka. Persaingan dua kekuatan adidaya dunia tersebut menimbulkan Perang Dingin. a. Penyebab Terjadinya Perang Dingin
Baca lebih lanjut

188 Baca lebih lajut

Analisis Nilai Sosial Ekonomi Konservasi Satwaliar pada Ruang Terbuka Hijau di Kota Medan

Analisis Nilai Sosial Ekonomi Konservasi Satwaliar pada Ruang Terbuka Hijau di Kota Medan

Area konservasi ex-situ rusa di USU tidak hanya memiliki fungsi konservasi saja. Fungsi lainnya yang terdapat di area konservasi ini adalah fungsi ekologis, fungsi estetika, dan fungsi edukasi. Fungsi ekologis dan fungsi estetika pada area ini selain pada keunikan satwanya, terdapat juga pada taman yang dibangun di sekitar area penangkaran dengan desain taman yang terdiri dari jenis tanaman berkayu mengelilingi penangkaran dan beberapa joglo, serta air pancur di tengah area. Menurut Defriza (2015), penanggung jawab dalam proses perencaan Program Kerja Rektor pada Program USU Asri dibawah pengawasan Rektor, bahwa USU membutuhkan ruang publik yang dapat digunakan oleh para mahasiswa USU khususnya untuk beraktivitas di ruang terbuka seperti ruang terbuka hijau yang berada di halaman kampus, sehingga pembaharuan area konservasi ex-situ rusa di USU dibuat dengan konsep ruang terbuka asri yang memiiki fungsi ruang terbuka hijau yaitu ruang terbuka yang bermanfaat bagi individu atau kelompok untuk melakukan aktifitasnya dan sebagai wadah untuk makhluk lainnya seperti satwa dan tumbuhan untuk hidup dan berkembang secara alami.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Perkembangan Masyarakat Indonesia pada M (1)

Perkembangan Masyarakat Indonesia pada M (1)

Perkembangan Revolusi Hijau di Indonesia mengalami pasang surut karena faktor alam ataupun kerusakan ekologi. Hal ini tentu saja memengaruhi persediaan beras nasional. Pada tahun 1972, produksi beras Indonesia terancam oleh musim kering yang panjang. Usaha peningkatan produksi beras nasional sekali lagi terganggu karena serangan hama dengan mencakup wilayah yang sangat luas pada tahun 1977. Produksi pangan mengalami kenaikan ketika program intensifikasi khusus (insus) dilaksanakan pada tahun 1980. Hasilnya, Indonesia mampu mencapai tingkat swasembada beras dan berhenti meng- impor beras pada tahun 1984. Padahal, pada tahun 1977 dan 1979 Indonesia merupakan pengimpor beras terbesar di dunia. Selain memanfaatkan jenis padi baru yang unggul, peningkatan produksi beras di Indonesia didukung oleh penggunaan pupuk kimia, mekanisasi pengolahan tanah, pola tanam, pengem- bangan teknologi pascapanen, penggunaan bahan kimia untuk membasmi hama pengganggu, pencetakan sawah baru, dan perbaikan serta pembangunan sarana dan prasarana irigasi. Selain kebijakan intensifikasi, Indonesia juga melakukan pencetakan sawah baru. Sampai tahun 1985, sudah terdapat 4,23 juta hektar sawah beririgasi terutama di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat dibandingkan sekitar 1,8 juta hektar pada tahun 1964. Selama empat pelita, telah dibangun dan diperbaiki sekitar 8,3 juta hektar sawah beririgasi.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects